Posts filed under ‘KATOLIK . RIWAYAT SANTO SANTA (1)’

RIWAYAT SANTO SANTA

Santo santa pembantu yang lazimnya dimohon pertolongannya oleh orang dalam kesuliatan / keadaan tertentu.

Anak sakit keras : Kunigude
Barang yang hilang : Antonius dari Padua, Nikolas
Beban berat : Yudas Tadeus
Buta : Lusia
Cacat perang : Sebastianus
Cuaca buruk : Markus
Fitnahan : Pankrasius, St. Yoanes Nepomuk
Gadis yang ingin menikah : Katarina dari Alexandria, Martin de Porres
Gigitan anjing gila : Hubertus
Gigitan ular berbisa : Hubertus, Paternus, Paulus
Godaan nafsu : Aloisius, Margaretha
Godaan setan : Malaikat Mikael, Patrisius
Godaan setan dalam sakrat maut : Siriakus
Halilintar : Klemens
Hama tikus : Gerud dari Nivelles
Hanyut : Yoanes Nepomuk
Hatinya gelisah : Dionisius dari Paris, Yudas Tadeus

Riwayat Hidup Santo Dionysius

Dionysius a Natitivitate, yang sebelumnya bernama Pierre Berthelot lahir di Honfleur, Perancis pada tahun 1600 sedangkan Redemptus a Cruce, sebelumnya bernama Thomas Rodrgues da Cunha, lahir di Paredes, Spanyol pada tahun 1598. Kata “Redemptus” sendiri dapat diartikan “sebagai yang ditebus”. Keduanya adalah biarawan Karmel dan merupakan martir yang mati di tanah rencong, Aceh, Indonesia pada bulan November 1638 dan diberi gelar sebagai “yang bahagia” atau Beato pada tahun 1900. Pesta Beato Dionysius dan Beato Redemptus dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 1 Desember menurut penanggalan liturgi yang disusun oleh Komisi Liturgi KWI.

Pierre Berthelot adalah anak seorang dokter yang sekaligus bekerja sebagai seorang nakhoda kapal. Sejak umur 12 tahun Pierre mewarisi darah ayahnya sebagai pelaut dan selalu mengikuti ayahnya berlayar. Pada umur 19 tahun, Pierre muda sudah menjadi seorang pelaut yang ulung. Setelah merasa mempunyai cukup pengetahuan dan pengalaman di bidang kelautan, Pierre kemudian memasuki dinas perusahaan dagang Perancis. Pernah pada suatu masa kapal dagang Perancis yang dinaiki Pierre sampai di Indonesia, tepatnya di Banten, namun karena adanya perselisihan dengan VOC, perusahaan dagang Belanda, maka kedua maskapai perdagangan ini melakukan peperangan sampai akhirnya kapal dagang Pierre dibakar. Perlu diketahui hampir seluruh wilayah Indonesia pada saat itu dikuasai oleh VOC yang didukung oleh Pemerintah Belanda. Dalam bidang kelautan, Pierre sangat berpengalaman dalam hal pembuatan peta laut dan dia juga mahir dalam memberikan petunjuk jalan. Pengalamannya sebagai pelaut yang handal membawanya sampai ke Madagaskar bahkan Sulawesi. Setelah itu Pierre bekerja di angkatan laut Portugis di Goa, India.

Walau Pierre sudah mempunyai kedudukan dan berpengalaman sebagai pelaut pada kapal dagang dan di angkatan laut Portugis, tetapi hal ini tidak membuatnya puas. Pierre pada saat itu masih merasakan bahwa hidupnya hampa dan masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ia merasakan ada keresahan dalam dirinya. Hatinya selalu terusik untuk mencari jawaban tersebut. Pierre selalu merenungkan dan mencari apa yang masih kurang dari dirinya dan ia ingin mengetahui dan mencari arti hidup yang sebenarnya bagi dia dan ingin lebih mendalaminya.

Pada tahun 1635, saat berumur 35 tahun, Pierre mendaftarkan diri masuk biara. Ia masuk Biara Karmel di Goa, India. Pada suatu ketika Pemerintah Portugal meminta Pierre yang sudah masuk biara untuk menjadi penunjuk jalan ke Sumatra. Pembesar Karmel pada saat itu setuju dan sekaligus mentahbiskan Pierre menjadi imam. Di biara karmel ini Pierre yang sudah berubah nama menjadi Dionysius a Nativitate bertemu Bruder Redemptus a Cruce, yang adalah bekas tentara Portugis.

Nama Redemptus sebelum masuk di Ordo Karmel adalah Thomas Rodguez da Cunha. Redemptus mempunyai tujuan yang sama dengan Dionysius, yaitu ingin hidup lebih dekat dengan Tuhan. Di dalam biara, pekerjaan Redemptus sangat sederhana, ia harus menjaga pintu biara. Sebagai penjaga pintu Bruder Redemptus adalah seorang biarawan yang bertugas menerima tamu dan selain itu ia juga bekerja sebagai pengajar untuk anak-anak yang tinggal di sekitar biara. Karena begitu besar cintanya kepada Yesus Kristus, Redemptus seringkali tanpa diminta melakukan pekerjaan-pekerjaan berat diluar tugasnya sendiri. Oleh karena itu atasannya kerap melarangnya bekerja di luar batas.

Keutamaan dan Teladan Hidup Beato Dionysius & Beato Redemptus

Ketika Dionysius dan Redemptus yang sudah menjadi frater di Biara Karmel di Goa, India, Raja Goa meminta kepada Kepala Biara untuk menugaskan Dionysius pergi ke Aceh, Indonesia. Saat itu abad ke-17, dan hubungan Kerajaan Goa dengan Kerajaan Aceh sedang tidak baik, sehingga Raja Goa berinisiatif untuk menjalin persahabatan dengan Raja Aceh. Oleh karena Pater Dionysius adalah seorang yang ahli dalam bidang kelautan dan bidang bahasa maka raja meminta Dionysius untuk membantu kerajaan sebagai salah satu tim inti Kerajaan Goa untuk pergi ke Kerajaan Samudera Pasai di Aceh.

Dionysius dan Redemptus adalah pribadi-pribadi yang rendah hati

Sejak menginjak remaja sebagai seorang pelaut yang ulung, Dionysius sudah mewarisi kehidupan keagamaan ayahnya. Dionysius muda sudah mempunyai pribadi yang mengesankan. Ia mempunyai kerendahan hati, kekuatan iman, kemurnian, dan kesediaan untuk berkorban. Demikian juga dengan Redemptus yang selalu dengan rendah hati dan taat menjalankan tugas-tugasnya yang sederhana. Walaupun demikian keduanya menjalankan tugas-tugas yang diembannya dengan penuh syukur. Dionysius tidak malu untuk membersihkan galangan kapal walau nakhoda kapal adalah ayahnya dan demikian juga dengan Redemptus yang menjadi penjaga pintu Biara Karmel. Bagi mereka pekerjaan sekecil apa pun kalau ditujukan untuk kemulian-Nya maka itu akan sangat berarti bagi mereka.

Dionysius dan Redemptus adalah pribadi-pribadi yang berani dan hidup berlandaskan Iman Kristiani

Ketika sudah menjadi biarawan, Dionysius masih beberapa kali menyumbangkan keahliannya untuk Pemerintah Portugal. Biasanya Dionysius membantu di kapal dengan kemahirannya yaitu dengan menggambar peta atau sebagai penunjuk jalan, bahkan kadang-kadang Dionysius mengangkat senjata untuk melawan Kongsi Dagang Belanda di Goa, dan salah satu pertempuran yang pernah dia alami terjadi pada tahun 1636. Dionysius bertemu dengan Redemptus di suatu biara di Goa dan keduanya mempunyai cita-cita yang sama yakni berdua ingin mencari kehidupan yang lebih dekat dengan Tuhan Allah.

Dionysius dan Redemptus sering berpuasa dan mati raga demi meneguhkan niat mereka sebagai tentara Kristus. Pada saat Pater Dionysius ditunjuk menjadi juru bahasa dan pandu laut bagi utusan Kerajaan Goa ke Aceh – Kerajaan Samudra Pasai – maka mengetahui adanya peluang untuk mewartakan karya keselamatan, Bruder Redemptus mengajukan diri untuk menjadi asisten bagi Pater Dionysius. Bagi keduanya pergi diutus ke berbagai tempat untuk mewartakan karya keselamatan sudah tidak menjadi masalah untuk mereka. Pater Dionysius dan Bruder Redemptus sudah tidak lagi memikirkan di mana dan kapan, serta bahaya besar yang akan mereka hadapi. Mereka telah meneladani perbuatan Tuhan Yesus yang tersurat dalam Injil Lukas 9: 58, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Begitu besar keyakinan dan kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus karena bagi mereka berdua Yesus Kristus adalah terang dunia. Seperti ditulis dalam Injil Yohanes 5:12b, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Redemptus yang telah mengajukan diri sebagai asisten bagi Dionysius akhirnya disetujui oleh atasannya yang berada di Biara Karmel, di Goa untuk mendampingi Dionysius pergi ke Aceh. Selain mengadakan dan memulai kunjungan persahabatan bagi Kerajaan Goa, salah satu alasan Redemptus pergi ke Aceh adalah bahwa “dia ingin menjadi seorang martir”. Begitu mulia dan beraninya hati Redemptus di dalam menjalankan misinya. Dia tahu bahwa Tuhan akan bersertanya sampai hayat di kandung badan. Selama perjalanan menuju ke Aceh, pihak Belanda yang telah mulai menjajah Indonesia mengadakan pendekatan kepada Sultan Iskandar Thani dan mengatakan bahwa utusan Kerajaan Goa dan utusan Portugis yang terdiri dari 2 orang biarawan dan 60 orang misi “perdamaian” tersebut datang ke Aceh hendak meng-katolik-kan Kerjaan Samudera Pasai. Hasutan pihak Belanda ini berhasil. Oleh karenanya setelah mereka tiba di Aceh, Pater Dionysius, Bruder Redemptus, dan 60 orang utusan Kerajaan Goa ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Selama sebulan di penjara, Dionysius, Redemptus, dan 60 orang anggota utusan perdamaian dari Kerajaan Goa disiksa. Mereka disiksa agar mau mengingkari iman mereka, iman kepada Yesus Kristus atau iman Katolik. Perjuangan mereka di penjara begitu berat karena siksaan-siksaan yang mereka alami, sampai akhirnya ada beberapa dari anggota utusan yang murtad dan beralih dari agama yang mereka imani, namun yang tetap teguh tetap mengalami siksaan. Mengapa mereka begitu kuat menahan siksaan di penjara? Tidak lain dan tidak bukan karena peneguhan dan pengaruh yang kuat yang diberikan oleh 2 orang rahib dari Biara Karmel ini. Selama di penjara para tawanan ini terus berdoa kepada Tuhan Allah supaya mereka lebih dikuatkan dan tidak beralih dari keyakinan yang mereka imani dan menjadi pengkhianat bagi Kristus.

Setelah satu bulan lamanya akhirnya Sultan Iskandar Thani memberi maklumat hukuman untuk menghukum mati seluruh utusan yang tidak mau pindah dari pengikut Kristus ini. Menurut Dionysius yang ahli bahasa ketika menterjemahkan isi maklumat tersebut kepada para temannya bahwa mereka akan dihukum mati bukan karena berkebangsaan Portugis tetapi karena mereka menganut agama Katolik – pengikut Kristus. Hukuman mati yang akan dilaksanakan adalah membawa seluruh tawanan ke pesisir pantai dan memanah mereka. Sebelum acara hukuman dilaksanakan, Dionysius bersama seluruh tawanan melakukan doa bersama dan mereka memohon kepada Kristus Yesus untuk memaafkan dosa-dosa mereka. Sebagai absolusi terakhir, Dionysius mengeluarkan sebuah salib, dan memberkati teman-temannya satu persatu seraya memberikan semangat kepada mereka untuk tidak mundur karena Kristus Yesus akan memberikan kehidupan kekal kepada mereka dan mereka tidak akan mati dengan sia-sia karena bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk Kristus Yesus yang mereka imani. Akhirnya mereka satu persatu mati ditembus oleh anak panah, termasuk juga Redemptus, dan selama proses hukuman mereka terus mengucapkan nama Yesus. Tuhan memang menjanjikan kehidupan yang lebih hakiki bagi, seperti tertulis di dalam Mazmur 31: 6-9: “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia. Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada Tuhan. Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku, dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.”

Proses hukuman anak panah belum selesai, namun Pater Dionysius belum mati juga, bahkan dia masih dapat memberikan khotbah tentang Kristus Yesus di depan para pengawal kerajaan dan penduduk yang melihat proses hukuman ini. Karena Pater Dionysius tak henti-hentinya berkhotbah maka penduduk makin membencinya, segera pengawal tidak hanya menancapkan tombak dan menghunus pedang untuk membunuh Pater Dionysius, namun seperti ada mujizat karena ada tenaga yang menahan para pengawal sehingga mereka tidak dapat menyentuh Pater Dionysius. Beberapa pengawal akhirnya pergi ke kerajaan untuk memberitahu kepada Raja Iskandar Thani perihal masalah Pater Dionysius dan juga memohon tambahan bantuan. Pater Dionysius mengetahui bahwa Tuhan Yesus Kristus turut campur tangan dalam proses kematiannya, maka dia memohon kepada-Nya untuk dapat mati sebagai martir. Doanya dikabulkan oleh Tuhan, seorang algojo pertama kali memukul kepala Pater Dionysius, kemudian sebuah pedang menebas kepala dan tubuh Pater Dionysius. Seorang martir dari Biara Karmel telah mati dengan tidak sia-sia untuk Kekasih-Nya. “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!” (Mazmur 116: 16) Seluruh mayat para martir termasuk Pater Dionysius dan Bruder Redemptus kemudian dibuang ke laut namun mayat Pater Dionysius setelah dibuang ke laut kembali lagi ke tempat dia dibunuh pertama kali. Mayatnya kemudian dibuang tidak hanya ke laut tetapi juga ke hutan dan tetap saja mayatnya kembali lagi ke tempat dia terakhir menjadi martir. Tuhan Yesus Kristus Maha Besar karena mayat Pater Dionysius juga tidak membusuk bahkan setelah tujuh bulan. Akhirnya mayatnya dimakamkan di Pulau Dien yaitu pulau pembuangan para tawanan sebelum kemudian diangkat kembali dan untuk terakhir kalinya dimakamkan di Goa, India.

Berdasarkan pada pengalaman iman yang kita dapat dari Pater Dionysius dan Bruder Redemptus, maka kita dapat melihat bahwa mereka berdua mengandalkan pada kekuatan Yesus Kristus, kekuatan yang meneguhkan mereka berdua untuk mengatasi tidak hanya pada masalah horizontal, yaitu bagaimana mereka menghadapi hubungan mereka dengan pribadi-pribadi tetapi juga pada masalah vertikal, yaitu bagaimana mereka berdua mengabdi dan meyakini iman Kristiani mereka. Tidak perlu disangkal lagi bahwa Pater Dionysius dan Bruder Redemptus mempunyai karunia-karunia yang membantu mereka dalam mengatasi masalah berkehidupan dan segala hal yang berhubungan dengan kebajikan yang diekspresikan dari kepribadian mereka yang matang, rendah hati, berani membela kebenaran, mau mengampuni, dan besar hati. Renungan singkat dari Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengenai kematian dapat menjadi suatu persembahan yang membuat kemartiran bagi setiap pengikut Kristus Yesus adalah suatu usaha dan pengorbanan yang tidak akan pernah sia-sia: “Dalam hatiku ada ketenangan seperti danau yang teduh atau udara yang cerah; aku tidak mengeluh mengenai kehidupan di dunia ini; hatiku mendambakan air kehidupan kekal. Sebentar lagi maka jiwaku akan meninggalkan bumi, akan berakhirlah masa pembuangannya, akan selesailah perjuangannya. Aku naik ke surga, sampai di tanah air, mendapatkan palma kemenangan! Sebentar lagi aku akan memasuki kediaman para terpilih, aku akan memandang keindahan yang tak pernah ditatap mata manusia, aku akan mendengar lagu selaras yang tak pernah didengar telinga, aku akan merasakan kegembiraan yang tak pernah timbul dalam hati . . . Inilah aku tiba di saat ini. Aku sekuntum bunga yang dipetik Juru Taman sesuka hatiNya. Kita semua adalah bunga yang ditanam di dunia ini dan dipetik Allah pada waktunya: ada yang sedikit lebih dahulu, ada yang kemudian. Suatu hari kita akan bertemu di Firdaus dan merasakan kebahagiaan sejati.” >

Sharing :

* Para martir adalah orang-orang yang mempunyai cinta yang begitu besar kepada Kristus, sehingga rela mati demi Kristus. Bagaimana dengan Anda sendiri, sebesar apakah cinta yang Anda miliki bagi Kristus? Relakah Anda memberikan hidup bagi Kristus? Sharingkanlah dengan teman-teman dalam sel

* Menjadi martir tidak selalu harus dengan darah yang tertumpah, kita dapat juga menjadi martir putih, martir dalam cintakasih. Sudahkah Anda melakukannya? Bagaimana perjuangan Anda untuk menjadi martir? Sharingkanlah pengalaman Anda dalam sel

Oleh : Septo

 

Ternyata riwayat hidup Pastor Ventimiglia sangat menarik. Dengan membaca riwayat hidup itu, kita dapat mempunyai gambaran mengenai sejarah masuknya agama Katolik di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Riwayat hidup itu juga melukiskan bagaimana seseorang menyikapi panggilan yang ia terima, dan menggunakan karunia yang ia peroleh untuk membantu melaksanakan panggilan tersebut. Mgr. Demarteau MSF gembira jika riwayat hidup ini dapat dibaca oleh lebih banyak umat. Selamat membaca !

Extractta dari “Istoria Delle Misioni” De Chierici Regolari TEATINI Tomo Secundo Dell Indie Orientali E. Borneo & s.

Pengantar

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1312 datanglah di pulau Kalimantan seorang Pater Fransiskan yakni P. Olderico de Pordenone. Tidak ada berita yang pasti mengenai tempat di mana beliau berkarya. Tiga ratus tahun kemudian, tepatnya tanggal 2 Pebruari 1688, Pater Antonio Ventimiglia menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Pater Antonio adalah imam pertama dari ordo “Rohaniwan Regulir Penyelenggaraan Ilahi” yang merintis “Misi Borneo”.

Perintis Misi Borneo ini kemudian diangkat oleh Paus Innocentius XII sebagai Vikaris Apostolik pertama untuk seluruh pulau Kalimantan. Sayang sekali bahwa jabatan Vikaris ini tidak dijalani karena beliau sudah meninggal dunia pada tahun 1692.

Untuk memperingati perintis Misi Borneo ini, kami persembahkan tulisan mengenai hidup dan karyanya.

+Mgr. Wilhelmus Johanes Demarteau MSF

Uskup Emeritus Banjarmasin

RIWAYAT HIDUP P. ANTONIO VENTIMIGLIA

1.Putra Bangsawan dari Palermo

Antonino Ventimiglia lahir tahun 1642 sebagai seorang bangsawan di kota Palermo, pulau Sisilia, sebelah selatan semenanjung Italia. Beliau masuk biara St. Yosef milik pater-pater ordo “Rohaniwan regulir Penyelenggaraan Ilahi” yang berpusat di kota Theate, Italia. Oleh karena itu para pater dari ordo ini lebih dikenal dengan nama : “Pater-pater Theatin”.

Antonino kemudian mengikrarkan kaul kekal pada usianya yang masih sangat muda remaja, membulatkan tekad untuk menjadi biarawan. Biarawan yang masih muda ini sangat rindu untuk menjadi misionaris di daerah Timur jauh.

Setelah ditahbiskan imam, Pater Antonino Ventimiglia diutus ke Madrid, Spanyol untuk memimpin Novisiat Biara Theatin St. Maria del Favore.

2. Dari Madrid ke Goa

Tahun 1680, pater Jendral Theatin mengeluarkan edaran berisi tawaran bagi anggota ordo untuk menjadi misionaris di Timur Jauh. Dengan senang hati P. Ventimiglia menerima tawaran ini. Banyak orang termasuk sanak keluarga melarang P. Ventimiglia, akan tetapi beliau tetap pada pendiriannya.

Secara diam-diam P. Ventimiglia menulis surat kepada Paus Innocentius XI memohon restu.

Setelah mendapat restu dari Bapa Suci, beliau berangkat dari Madrid menuju Goa (India) pada tanggal 13 Januari 1683. Kapal yang ditumpangi P. Ventiglia berlabuh di Goa pada tanggal 19 September 1683. Beliau berkarya selama kurang lebih empat tahun di Goa.

3.Dari Goa ke Macao

Setelah empat tahun berkarya di Goa, India, P. Ventimiglia ditunjuk untuk menjadi missionaris di Borneo (Kalimantan). P. Antonino berangkat dari Goa tanggal 5 Mei 1687, dan tiba di Malaka, pelabuhan milik Belanda pada tanggal 12 Juni 1687. Kemudian beliau berangkat lagi ke Macao tanggal 12 Juni, dan tiba di Macao tanggal 13 Juli 1687.

Perjalanan menuju Macao mau tidak mau harus melewati teluk Aynan yang terkenal ganas. Banyak kapal yang tenggelam di teluk ini. Setelah melewati tempat berbahaya ini, P. Antonino boleh bergembira, karena dapat melihat pulau “Santo Yohannes” atau Pulau Sancian. Dipulau inilah Santo Fransiskus Xaverius menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanannya menuju Cina. Pater Vintimiglia ingin sekali singgah di pulau ini namun tidak diperbolehkan.

Tanggal 13 Juli 1687 P. Antonino tiba di Macao bersama dengan teman seperjalannya, Bapak Luigi Francesco Cottigno yang banyak membantu beliau. Untuk sementara beliau menginap di rumah Bapak Luigi.

4. Enam bulan di Macao

Enam bulan lamanya P. Antonino menunggu kapal yang berlayar menuju Borneo. Selama waktu ini P. Antonino mengisinya dengan retret Agung, matiraga dan berpuasa di sebuah tempat yang sepi. Karena kesalehannya, banyak orang Macao datang meminta bantuan, berkat dan bimbingan dari beliau. Dalam kesempatan seperti ini P. Antonino selalu berdoa kepada Santo Kayetanus, pendiri ordo Theatin.

Dalam masa penantian ini, P. Antonino mendengar kabar tentang tanah misi yang akan dikunjungi yakni Borneo. Orang-orang menceritakan bahwa orang-orang di Borneo masih sangat primitif dan masih sangat ganas. Sementara itu seorang uskup dari Perancis yang kebetulan singgah di Macao mengajak P. Ventimiglia untuk berkarya didaerahnya tetapi dengan syarat setiap tahun Pater Ventimiglia harus mencari uang sebesar seratus patache (mata uang Spanyol yang nilainya cukup mahal), sebagai jaminan hidup.

Mendengar kata-kata uskup itu, Pater Ventimiglia terkejut dan menjawab : “Orang yang menjalani tugas perutusan didaerah misi bersandar pada Tuhan demi keselamatan jiwa dan bukan pada hal-hal duniawi”. Kemudian beliau menceritakan semangat ordo Theatin yang hanya mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi kepada Bapak Uskup.

Pater Ventimiglia teringat akan kata-kata St. Agustinus :

“Perfectus servus Christi nihil praetur Christum habet” (= seorang pelayan Kristus yang tulen tidak memiliki apa-apa selain Kristus).

Orang-orang Portugispun melarang keras agar Pater Ventimiglia tidak usah ke Borneo. Mereka khawatir kalau P. Ventimiglia akan membuka misi sambil berdagang di sana. Pihak Portugis pasti akan mengalami kerugian. Nampak lagi motivasi manusia yang hanya mengejar kepentingan duniawi. Bagi mereka tidak ada kesempatan untuk mewartakan keselamatan dan pertobatan kepada bangsa-bangsa.

Selain berita tentang penduduk di Borneo yang masih primitif dan ganas, datang pula berita yang mengejutkan. Semua misionaris yang tidak berasal dari Portugis dilarang untuk berkarya didaerah jajahan Portugis. P.Ventimiglia tidak takut dengan keputusan itu dan beliau bersedia untuk meninggalkan Asia. Maka sambil memegang buku Brevir dan mengenakan salib di leher, Pater Ventimiglia naik ke Kapal. Beliau mau menunjukkan bahwa beliau datang dengan kemiskinan ke Asia ini dan akan kembali dengan kemiskinan pula. Syukurlah bahwa keputusan ini akhirnya tidak terlaksana dan Pater Theatin itu tetap diizinkan untuk berkarya di daerah jajahan Portugis.

5. Undangan dari Tanah Misi (Borneo)

Ketika P. Ventimiglia masih di Macao, tersebarlah berita bahwa Kaisar Jepang yang sangat anti agama Kristen sudah meninggal dan pengganti kaisar itu cukup toleran dengan agama Kristen. Pater Ventimiglia lalu berpikir untuk minta izin pimpinan agar boleh berangkat ke Jepang.

Pada saat yang hampir bersamaan datanglah tawaran dari Banjarmasin dan Sukadana (Kalimantan Barat). Tawaran dari Sukadana ini berupa berita bahwa Raja Sukadana sangat menginginkan kehadiran seorang pastor di wilayah kerajaannya. Berita ini disampaikan oleh seorang ibu yang menerima Pater Ventimiglia sebagai Bapak Pengakuan. Menurut ibu ini, Raja Sukadana berjanji akan mengijinkan Pater itu untuk membangun Gereja dan apa saja yang dikehendakinya.

Pada waktu yang sama datang pula kapal dari Banjarmasin. Dalam kapal itu terdapat pula orang-orang Melayu. Dari merekalah Pater Ventimiglia mendapat berita bahwa Sultan Banjarmasin mau menjalin hubungan dagang dengan orang Portugis. Sultan berjanji untuk membagi tanah kepada orang Portugis guna membangun benteng. Sultan juga mengijinkan orang Portugis datang membawa seorang Pastor.

Berita ini sangat menggembirakan Pater Ventimiglia. Ia percaya bahwa banyak kerajaan akan dibuka oleh Tuhan untuk menerima sabda-Nya. Kedua tawaran itu merupakan jalan bagi penyebaran iman di Borneo (Kalimantan). Pilihan P. Ventimiglia akhirnya jatuh pada Banjarmasin. Pada saat ini agama Islam dan penyebarannya merupakan tantangan yang berat buat penyebaran agama Katholik.

Akhirnya tanggal 16 Januari 1688 Pater Ventimiglia berangkat dari Macao menuju Banjarmasin. Beliau berangkat tanpa membawa apa-apa kecuali sebuah salib yang dulu pernah dimiliki oleh St. Aloysius Beltrami. Satu keyakinannya bahwa penyelenggaraan Ilahi akan memberikan segalanya. Keyakinan ini sungguh-sungguh terwujud. Jenderal Macao : Andrea Coelo Viera, Aloysius Francesco Cttigno, maupun Kapten Kapal Emmanuelle Araugio Graces, sama-sama ingin menjadi sponsor perjalanan Pater Ventimiglia ke tanah misi. Sempat terjadi pertengkaran, siapa yang menjadi sponsornya. Akhirnya Aloysius Cottigno menjadi sponsor.

Pada saat keberangkatannya beliau berpamitan dengan Pater pimpinan biara St. Agustinus dimana beliau pernah menginap di biara ini. Seluruh umat di Macao merasa kehilangan seorang Bapak rohani yang saleh dan jujur.

Perjalanan menuju Banjarmasin tidaklah mulus. Ada banyak tantangan, antara lain dari Kapten Emmanuele Araugio sendiri yang memaksa Pater Ventimiglia untuk kembali saja ke Macao. Namun rupanya kehendak Tuhan lain. Pater Ventimiglia akhirnya tiba dengan selamat di Banjarmasin pada tanggal 2 Pebruari 1688.

6. Merintis “Misi Borneo”

Pater Ventimiglia segera merasakan tantangan-tantangan penyebaran iman ditanah misi yang belum pernah disentuh oleh pewartaan iman Katolik.

Karena keadaan politik di Kesultanan Banjarmasin tidak aman, maka kapal Portugis yang ditumpangi Pater Ventimiglia tidak diperkenankan berlabuh. Pater Ventimiglia dan seluruh awak kapal tetap tinggal di atas kapal. Dan ketika memasuki pekan suci, Pater Ventimiglia memimpin Ekaristi diatas kapal. Paskah dirayakan dengan meriah. Pada tiang kapal yang paling tinggi dipasang salib besar diapit dengan lilin-lilin.

Pater Ventimiglia berdoa memohon bantuan dari Tuhan agar boleh bertemu langsung dengan penduduk asli. Tidak lama kemudian datanglah beberapa perahu orang Daya Ngaju memasuki pelabuhan untuk berdagang dengan orang-orang Malaka. Keinginan untuk kontak langsung dengan penduduk asli ini akhirnya terkabul, ketika dua orang diantara mereka mendekati kapal Portugis itu. Atas permintaan Pater Ventimiglia, kedua orang ini bisa bertemu dengannya di kapal itu.

Dua orang dari penduduk asli itu akhirnya mendekati kapal, tempat tinggal Pater Ventimiglia. Mereka diperbolehkan naik ke kapal. Setelah pertemuan singkat dengan Pater Ventimiglia, kedua orang Daya Ngaju ini berpamitan dan berjanji akan kembali ke kapal.

Tanggal 3 Mei 1688, pada pesta salib suci kedua orang yang pernah bertemu dengan Pater Ventimiglia datang bersama dua orang teman dari Daya Ngaju dan juga seorang Malaka. Pater Ventimiglia menjelaskan keinginannya untuk tinggal bersama mereka. Sebagai kenang- kenangan, mereka diberi Rosario dan diajari menghormati salib. Orang-orang Ngaju itupun berjanji mau meneladani Pater Ventimiglia. Mereka kemudian kembali ke pedalaman, sedang Pater Ventimiglia masih tetap di kapal.

Setelah pedagang Portugis menyelesaikan urusan dagangnya, kapal Portugis itu kembali ke Macao. Pater Ventimiglia terpaksa kembali ke Macao. Beliau sangat sedih karena tidak diijinkan tinggal bersama orang-orang Daya di daerah itu.

Pater Ventimiglia tiba kembali di Macao pada tanggal 23 Juni 1688, sehari sebelum pesta Yohanes Pembaptis. Di Macao, beliau lebih senang menyepi di tempat sunyi sambil menunggu kembalinya kapal ke Borneo. Banyak orang datang bertemu dengan beliau untuk bimbingan rohani dan mengaku dosa.

7. Kembali lagi ke Borneo

Setelah enam bulan tinggal di Macao, Pater Ventimiglia bersiap untuk kembali lagi ke Banjarmasin. Pada perjalanan yang kedua ini beliau ditemani dua pemuda : Felix seorang Tionghoa dan Lorenzo, pemuda daya Ngaju yang sebelumnya dijual oleh orang Malaka kepada orang Portugis yang bernama Turtuose. Ketika mendengar bahwa Pater Ventimiglia akan ke Borneo, Bapak Turtuose membebaskan budak ini dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pater untuk membantu beliau memasuki daerah Borneo.

Perjalanan kali ini cukup lancar. Tanggal 30 Januari 1689 mereka tiba di Banjarmasin. Pada saat itu suku Ngaju sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin. Sekali lagi Pater Ventimiglia menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Akan tetapi beliau tidak putus asa. Beliau tetap berharap pada Tuhan. Pater Ventimiglia menyewa sebuah perahu kecil dan membuat ruang untuk berdoa diatas perahu itu. Kemudian pada tanggal 23 Pebruari 1689 Pater Ventimiglia pindah dan tinggal lebih dekat dengan sebuah kota ditepi pantai. Kota tersebut tidak jauh dari kota Banjarmasin.

Pada hari-hari pertama di kota itu, Pater Ventimiglia merasa sedih karena Lorenzo ternyata sudah berangkat mengunjungi sanak keluarganya didaerah Ngaju. Beberapa orang datang mengunjungi Pater Ventimiglia namun mereka tidak berani berbicara.

Nahkoda kapal Bapak Emmanuel Araugio Graces kemudian membangun sebuah altar di atas kapalnya. Pada tanggal 10 Mei 1689 mulai diadakan novena khusus kepada santo Yosef, suami Maria. Pada hari kedua Novena, datanglah seorang Bapak, seorang perempuan, keponakan dan seorang ibu muda untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Dalam pertemuan itu, Pater Ventimiglia menyampaikan maksud kedatangannya yakni untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan kekal.

Bapak dan para pengikutnya menyatakan harapannya agar Pater sudi tinggal bersama mereka. Kemudian mereka memberi gelar Tatu yang artinya nenek kepada Pater Ventimiglia, gelar kehormatan bagi suku Ngaju.

8. Masuk ke daerah suku Ngaju

Setelah peristiwa perjumpaan di atas, datang pula Bapak Angha, walikota yang tinggal dekat dengan kapal Pater Ventimiglia. Walikota ini datang bersama anak-anaknya mengunjungi pater diatas kapal. Pater Ventimiglia sangat senang atas kunjungan ini.

Atas usul nahkoda, P. Ventimiglia mengadakan kunjungan balasan. Untuk pertama kalinya Pater Ventimiglia menginjakkan kaki di bumi Borneo. Beliau datang ke kota bersama tiga belas orang dari kapal. Walikota, Bapak Angha dan seluruh penduduk kota sangat bahagia atas kunjungan ini. Bapak Angha menyatakan keinginannya untuk menjadi Katolik, dan ia berjanji untuk menghubungi pangeran-pangeran lain di pedalaman yang bergelar Tomugon dan Daman, keduanya merupakan kepala suku Ngaju di pedalaman.

Untuk kedua kalinya Bapak Angha mengunjungi pater Vantimiglia di kapal. Pada pertemuan kedua ini, pater Ventimiglia berjanji untuk memberikan hadiah kepada kedua pangeran di pedalaman Kalimantan itu melalui Bapak Angha. Hadiah yang diberikan itu berupa cincin, gelang kaca dan bunga-bungaan dari Cina, dua buah gambar yaitu gambar St. Perawan Maria tak ternoda dan St. Kayetanus.

Kedua kepala suku Ngaju itu sangat gembira atas hadiah itu dan mereka sepakat untuk segera mempersiapkan kapal dan 100 buah perahu kecil untuk menjemput Pater Ventimiglia. Akan tetapi situasi politik waktu itu tidak menguntungkan karena sedang terjadi perang antara Sultan Banjarmasin dan suku Ngaju. Orang-orang dari suku Ngaju yang mau menjemput Pater Ventimiglia yang masih berada di perairan Kesultanan Banjarmasin pasti mendapat perlawanan di perbatasan. Maka kedua pangeran itu berniat mengirim utusan secara diam-diam menjemput Pater Ventimiglia. Niat ini akhirnya tidak terlaksana karena tidak diterima oleh Pater Ventimiglia, ketika utusan rahasia itu datang ke kapal.

Beberapa waktu kemudian datang lagi bapak Angha membawa hadiah dari Pangeran Daman, berupa akar wangi yang masih ada tanahnya untuk P. Ventimiglia. Tanah itu mengandung makna bahwa Pater Ventimiglia datang ke suku Ngaju tidak untuk mencari emas dan perak melainkan untuk hidup miskin diantara mereka. Akhirnya merekapun siap menerima kedatangan Pater Ventimiglia sebagai hamba Tuhan.

Pada tanggal 4 Juni 1689 datanglah putra pangeran Tomugon dan Daman bersama paman dan sepuluh orang lain ke kapal Pater Ventimiglia. Mereka bertemu dengan Nahkoda yang menolak permintaan ini karena keadaan masih dalam perang. Namun karena mereka terus mendesak, kapten akhirnya mengijinkan Pater Ventimiglia untuk pergi ke daerah suku Ngaju.

Tibalah hari yang sangat membahagiakan pater Ventimiglia. Pada tanggal 25 Juni 1689 setelah mempersembahkan misa di kapal, Pater bersiap-siap untuk berangkat ke pedalaman, dengan kapal yang telah disiapkan oleh Nahkoda. Ikut pula dalam rombongan ini Lorenzo, dua orang putra Tomugon serta empat pelaut yang siap membantu Nahkoda. Diatas kapal terpancang salib besar dengan tulisan : Lusitanorum Virtus et Gloria yang artinya (salib adalah Kekuatan dan Kemuliaan bangsa Portugis).

Tanggal 26 Juni 1689, rombongan Pater Ventimiglia tiba di muara sungai suku Ngaju. Kapal yang ditumpangi Pater Ventimiglia segera mendekati kapal pangeran Tomugon dan Daman. Rombongan suku Ngaju kemudian memasuki kapal Portugal menemui Nahkoda kapal serta Pater Ventimiglia.

Nahkoda kapal Araugio kemudian menjelaskan bahwa kedatangan Pater ketengahtengah mereka tak lain kecuali mau mengajarkan jalan keselamatan. Kedua kepala suku akhirnya dengan tulus hati mau menerima kedatangan Pater Ventimiglia di tengah-tengah mereka. Merekapun berjanji untuk segera membangun Gereja dan memasang salib pada Gereja itu nanti.

Pater Ventimiglia kemudian pindah ke kapal Daman dimana pada bagian tengah sudah disiapkan tempat secara khusus untuk Tatu (gelar khusus untuk Pater Ventimiglia). Pada buritan kapal itu berkibarlah bendera Portugis dan bendera suku Ngaju. Nahkoda kapal Araugio berpamitan dengan Pater Ventimiglia beserta orang-orang dari suku Ngaju. Sementara Pater Ventimiglia meneruskan perjalanan ke pedalaman.

Hari-hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Pater Ventimiglia. Sedangkan bagi Nahkoda kapal Portugal saat-saat setelah perpisahan dengan Pater Ventimiglia merupakan hari-hari yang penuh dengan kecemasan. Sebab Pater Ventimiglia sebenarnya telah menandatangani sendiri surat hukuman mati bagi dirinya dengan memasuki pedalaman Kalimantan, apalagi tanpa sepengetahuan Sultan Banjarmasin, Said Illah.

Ketika mendengar berita tentang masuknya Nahkoda dan Pater Ventimiglia ke pedalaman, Sultan sangat marah karena merasa ditipu. Secara politis ekonomis, masuknya kapal Portugis ke pedalaman Borneo akan mengurangi pengaruh Sultan Banjarmasin di suku-suku pedalaman tersebut. Banjarmasin akan kehilangan hubungan dagang dengan suku Ngaju. Hal ini merugikan perekonomian Banjarmasin. Sultan Said Illah tidak mau membiarkan hal ini berlarut-larut dan ia berniat untuk membunuh Pater Ventimiglia.

Sesudah tahun 1690 tersiar kabar di Macao bahwa Pater Ventimiglia di bunuh. Berita ini dibawa oleh orang-orang Belanda yang waktu itu menjadi musuh Portugis dan Gereja Katolik. Kapten Luigi Cottigno sebagai seorang sahabat dekat Pater Ventimiglia datang ke Banjarmasin untuk mencari kebenaran berita ini.

Kapal Kapten Luigi berlabuh di muara sungai suku Ngaju dan mengirim surat kepada Pater Ventimiglia agar segera datang ke kapal Portugis. Pater datang dengan 60 orang Ngaju. Menurut pengakuan kapten Luigi, iman orang Daya di pedalaman ini cukup menggembirakan. Pada malam hari mereka bersama-sama berdoa rosario diatas kapal.

9. Surat dari Sungai Banjarmasin

Tiga bulan lamanya, kapten kapal Portugis itu tinggal bersama Pater Ventimiglia. Sesudah pertemuan itu, kapten kembali lagi ke Macao, sementara Pater Ventimiglia kembali lagi kepada orang Daya Ngaju di pedalaman.

Melalui kapten Luigi, Pater Ventimiglia mengirim sepucuk surat untuk Superior di Goa:

Bapak yang sangat saya hormati dalam Kristus.

Pada kakimu aku berlutut. Aku anakmu menulis dari ujung dunia. Anakmu mohon berkat dari Bapak karena sudah memasuki tanah yang belum pernah dikunjungi. Bapak tentu sudah mendengar dari Bapak Perfektus, bahwa semuanya itu berkat penyelenggaraan Ilahi.

Pada bulan Pebruari 1688 saya tiba di Banjarmasin dengan maksud membuka misi baru yang dilakukan pater-pater kita. Namun banyak tantangan menghadang karena di Banjarmasin sudah memeluk agama Islam. Selain orang-orang Banjarmasin, masih ada suku lain yaitu suku Daya Ngaju yang tinggal di pedalaman. Saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka menyembah berhala, karena tak ada yang berani masuk di daerah suku Daya Ngaju karena takut dipenggal kepala.

Saya tertarik untuk masuk ke daerah mereka. Setelah dua tiga kali bertemu dengan beberapa orang dari suku Ngaju di kapal, saya merasa bahwa pada masa yang akan datang akan terjadi sesuatu yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Berhubung tidak diijinkan, saya kembali ke Macao.

Dan pada tahun berikutnya, Januari 1689 saya berlayar kembali ke Banjarmasin dan tiba di Banjarmasin pada bulan Pebruari. Saya mendengar bahwa pangeran Tomugon dan Daman bersedia menerima kedatanganku.

Akhirnya kedua pangeran itu dengan 100 kapal besar dan kecil bersama tokoh masyarakat datang menjemputku. Karena mereka sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin maka rombongan seratus kapal itu tidak melewati batas kedua daerah ini. Mereka menunggu didaerah muara sungai suku Ngaju. Dua bulan lamanya mereka menunggu kedatangan saya dengan kapal Portugis. Saya diberi gelar Tatu yang berarti :Nenek suatu gelar kehormatan.

Demi kemuliaan Tuhan saya menulis ini semua kepada Bapak yang mulia dan kepada Pater Perfektus Misi. Saya melaporkan, Tuhan yang akan dipermuliakan dan agama Katholik akan mendapat peluang besar untuk berkembang di tanah Borneo ini. Ladang ini daerah pedalaman Daya Ngaju, Islam tidak berpengaruh. Sejauh penglihatan saya, Injil belum pernah diwartakan disini. Maka dengan rendah hati saya mohon agar Bapak mengirim bantuan sebelum terlambat. Ladang telah terbuka. Semoga parjurit-prajurit Theatin siap datang. Semoga mereka yang mau datang sungguh-sungguh memiliki kehendak untuk melayani Tuhan dan percaya pada penyelenggaraan Ilahi.

Saya juga tidak dapat melupakan jasa baik Bapak Luigi Franscesco Cottigno yang menjadi alat penyelenggara Ilahi hingga misi baru ini akhirnya terbuka. Ia seorang Portugis yang belum banyak mengenal saya tetapi mau mengantar saya ke Goa dan segala biaya ditanggungnya. Saya mihon Bapak memberikan penghargaan kepadanya sebagai sukarelawan sejati.

Bapak yang mulia, pada kakimu anakmu berlutut. Anakmu siap memasuki kerajaan dimana iman belum pernah diwartakan. Aku pergi sendiri. Tak seorang pater pun menemani. Aku mempunyai hati yang keras. Ya, aku sadari tidak mengerti dari mana datangnya kekuatan itu. Kekuatan itu yang membuat saya tidak takut dengan bahaya yang sangat banyak dan selalu mengancam saya.

Saya tidak mempunyai orang yang menasehati aku dalam kebingungan, seorang yang akan menolong dalam bahaya, seorang yang membantu dalam kesulitan. Saya sangat mengharapkan bantuan dari Goa kendati saya tahu bantuan itu tidak akan datang secepatnya.

Ketaatanlah yang membawa saya dalam pekerjaan yang sangat berat ini. Dan saya percaya, Peneyelenggaraan Ilahi masih melindungi saya dalam kesendirian ini. Saya yakin, yang suci dan kudus akan menopang aku dalam doa. Tetapi hari ini secara khusus saya mohon Bapak membawa aku dalam doa, juga pater-pater lain ikut mendoakan saya.

Akhirnya saya menyampaikan kepada Bapak, aku anakmu yang hina dan berdosa, mempersembahkan karya misi ini dengan perantaraan Bapak kita Kayetanus kepada Kemurnian Santa Perawan Maria. Maka saya mohon agar Bapak meresmikan misi ini dipersembahkan dibawah perlindungan Santa Perawan Maria dan Santo Kayetanus.

Pada kaki Bapak, saya menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku. Sudilah Bapak memberkati, memberi petunjuk dan perintah, apa yang harus saya pikirkan, ucapkan dan lakukan dengan ketaatan yang suci.

Berkatilah saya, Amin.

Dari Sungai Banjarmasin, di Pulau Borneo

13 Juni 1689

Anakmu yang paling hina

Antonio Ventimiglia Ch. Reg

10. Mencari jejak Pater Ventimiglia

Tersebarnya berita tentang kematian Pater Ventimiglia, sesudah tahun 1690, mendorong para pater dari ordo Theatin untuk mencari kebenaran berita itu dan mendapat kepastian. Pada akhir tahun 1690 Pater Gregoria Rauco berangkat dari Macao menuju Borneo. Pada mulanya keberangkatan Pater Rauco ini dipersulit oleh penguasa di Macao. Penguasa dan warga Macao tidak senang dengan perdagangan di pelabuhan Banjarmasin serta kegiatan misi di Borneo. Maka para penguasa di negara Macao memerintahkan semua nahkoda kapal agar tidak membawa seorang pater pun ke Banjarmasin.

Akan tetapi setelah wakil raja di Goa memberi peringatan keras kepada Macao, Pater Rauco diijinkan berangkat ke Banjarmasin. Beliau berangkat bersama nahkoda kapal Kapten Araugio. Rupanya Kapten Araugio takut pada Sultan Banjarmasin. Maka ketika sampai di pelabuhan Banjarmasin, Pater Rauco tidak diijinkan turun dari kapal. Kapten tidak mau mengulangi hal yang sama seperti dilakukan dahulu terhadap Pater Ventimiglia yakni membiarkan Pater masuk ke pedalaman tanpa ijin Sultan.

Pater Rauco terpaksa hanya menulis surat untuk Pater Ventimiglia dan mengirimnya melalui orang Ngaju. Ia kemudian mendapat balasan dari Pater Ventimiglia. Antar lain Pater Ventimiglia meminta agar Pater Rauco datang menemuinya bersama dengan rombongan pengantar surat ini. Pater Ventimiglia juga menceritakan keadaan di pedalaman yang sangat memprihatinkan. Banyak orang Daya yang dulu di baptis kini kembali ke lagi ke agama asli, termasuk Pangeran Daman, kepala suku Daya Ngaju. Dalam bagian surat selanjutnya, Pater Ventimiglia meminta beberapa potong pakaian karena sudah 11 bulan lamanya beliau tidak mengganti pakaian di badan.

Cerita di pedalaman dalam surat Pater Ventimiglia ini sangat mendorong hati Rauco untuk ke pedalaman. Apa boleh buat. Kapten kapal tidak mengijinkan. Maka Pater Rauco terpaksa kembali lagi ke Macao. Pada tahun 1693 ia kembali ke Madras karena sakit. Akhirnya tahun 1695 Pater Rauco kembali ke Eropa dan tak pernah kembali lagi.

Orang kedua yang berusaha menemui Pater Ventimiglia adalah Pater Della Valle. Pater Della Valle berangkat dari Goa atas permintaan Pater Gallo di Goa. Pada bulan Mei 1691 ada kapal yang berlabuh di Goa dan akan meneruskan perjalanan ke Macao. Maka Pater Della Valle ikut dalam pelayaran ini.

Pada awal tahun 1692 Pater Della Valle tiba di Banjarmasin. Beliau berjuang keras untuk mendapat ijin turun dari kapal dan pergi ke pedalaman untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Akan tetapi perjuangan Pater Della Valle sia-sia. Beliau tidak diijinkan turun dari kapal. Nasibnya sama dengan pendahulunya Pater Rauco.

Pater Della Valle kemudian mendengar berita dari orang-orang Melayu bahwa Pater Ventimiglia telah meninggal karena dibunuh oleh orang Daya Ngaju. Akan tetapi orang Daya Ngaju sendiri mengatakan Pater Ventimiglia masih hidup dan tinggal di pedalaman yang tidak jauh dari Banjarmasin. Rupanya Pater Della Valle lebih percaya pada berita dari orang Daya Ngaju sendiri. Beliau yakin Pater Ventimiglia masih hidup. Maka Pater Della Valle mengirim surat dan barang-barang penting untuk Pater Ventimiglia di pedalaman.Setelah tiga bulan menunggu, tidak ada kabar balasan dari Pater Ventimiglia. Akhirnya Pater Della Valle pergi ke Pulau Jawa.

Di Jawa Pater Della Valle berusaha untuk masuk kembali ke Borneo dengan bantuan orang Belanda. Sekali lagi beliau menemui kegagalan. Beliau tetap mendapat kabar yang tidak pasti tentang Pater Ventimiglia.

11. Akhir Hidup yang Penuh Misteri

Usaha mencari jejak Pater Ventimiglia di pedalaman Kalimantan belum menemui hasil yang pasti. Juga mengenai akhir hidupnya, ada banyak pendapat mengenai hal ini.

Versi pertama : Pater Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh Sultan Banjarmasin. Ada dua alasan yang di kemukakan : pertama berkembangnya iman Katholik secara pesat di pedalaman suku Ngaju ; kedua adanya perdagangan langsung antara orang Portugis dengan suku Daya Ngaju di pedalaman, hal mana membahayakan kedudukan dan pengaruh Sultan Banjarmasin. Atas pertimbangan atau alasan ini, maka Sultan memerintahkan agar Pater Ventimiglia ditangkap hidup atau mati.

Seorang Kapten Inggris, Daniel Beckmann, juga mengatakan hal yang sama bahwa Pater Ventimiglia mati terbunuh oleh Sultan Banjarmasin. Dari Batavia juga ada berita yang sama. Orang-orang Belanda mengatakan, Pater Ventimiglia dibunuh Sultan. Dan Dr. M.P.M. Muskens yang menulis sejarah Gereja Katholik, juga berpendapat bahwa Pater Ventimiglia dibunuh Sultan Banjarmasin.

Versi kedua : Pater Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh orang Daya Ngaju sendiri dengan panah beracun. Pendapat ini sulit diterima kebenarannya. Alasan yang dikemukakan anatar lain : Dua Pangeran terkemuka suku Daya Ngaju sudah di baptis dan lima belas suku sudah bertobat dan menjadi Katholik. Suatu hal yang sulit dilakukan apabila mereka membunuh Pater Ventimiglia setelah di baptis menjadi Katholik.

Versi ketiga : Pater Ventimiglia meninggal karena terserang disentri. Berita ini datang dari seorang Cina yang mendengar langsung dari orang Daya Ngaju yang dekat Pater Ventimiglia.

Versi keempat : Pater Ventimiglia meninggal secara wajar. Hal ini dikatakan oleh seorang tahanan yang dibawa ke Macao pada tahun 1693. Menurut pengakuannya, Pater Ventimiglia meninggal secara wajar dan dikuburkan didalam sebuah Gereja yang dibangun atas perintah Kapten Araugio ketika Pater Ventimiglia ke pedalaman.

Sementara itu beberapa orang telah berusaha keras meneliti hidup dan karya Pater Ventimiglia tidak memberikan suatu jawaban yang pasti mengenai akhir hidup perintis misi Borneo ini. Misalnya P. Bart Ferro dalam bukunya “Historis Della Missione De Chierici Regolari Theatin” jilid II tidak berani mengatakan bahwa Pater Ventimiglia mati terbunuh. Pendeta J.W. Gottin juga tidak berani menganggap Pater Ventimiglia sebagai Martir.

Pater Gallo di Goa menentukan tahun 1693 sebagai tahun kematian Pater Ventimiglia dalam usia 51 tahun.

Dan dalam arsip Keuskupan Banjarmasin yang dibuat di Roma tahun 1693, terdapat salinan gambar Pater Ventimiglia. Namun tidak ada satu katapun yang menjelaskan tentang bagaimana akhir hidup Pater Ventimiglia.

12. Beberapa hal yang masih dipertanyakan tentang Karya Pater Ventimiglia di Borneo

a. Dimana Pater Ventimiglia berkarya ?

Sungai “Rio Ngaju” yang disebut-sebut Pater Ventimiglia dalam suratnya, menurut Pater Bart Ferro, adalah Sungai Ngaju. Sedangkan menurut Robert Nicholl, sungai yang dimaksud adalah Sungai Barito. Pelabuhan yang disebut dalam tulisan terletak dekat Banjarmasin di tepi sungai Barito. Pendeta Gottin yang dengan sungguh sungguh meneliti karya Pater Ventimiglia juga yakin bahwa tempat karya Pater Ventimiglia di daerah Barito, bahkan mungkin sampai di Buntok.

Menurut Gottin, tidak mustahil Pater Ventimiglia pergi ke Kuala Kapuas melalui sungai Murung. Akan tetapi Pater Ventimiglia tidak berkarya di sungai Kahayan. Demikian pendapat Gottin, karena waktu itu belum ada terusan dari Kapuas ke Kahayan. Apakah mungkin Pater Ventimiglia ke Sungai Kahayan melalui laut? Dugaan ini sulit diterima karena Pater Ventimiglia sendiri tidak menyinggung hal ini dalam suratnya. Tambahan pula, mengapa Pater Ventimiglia pergi begitu jauh, sementara banyak orang Daya ada didekatnya?

Pada tahun 1981 Pendeta Baier menerima surat dari seorang guru GKE di Kapuas. Guru itu mengungkapkan bahwa didekat kampung Mantangai terdapat kuburan Portugis. Sebagai konfirmasi atas pernyataan ini, Pendeta mengirim surat kepada Mgr. W. Demarteau, MSF. Isi surat itu antara lain mengatakan bahwa ayah Pendeta Baier yang sudah bekerja sebagai Pendeta di Kalimantan Tengah sejak 1924, tahun 1941 mendengar dari pendeta pendahulunya, bahwa di sungai Kapuas di hilir Mantangai, misi Katholik sudah aktif sejak dua ratus tahun yang lalu.

Lain lagi pendapat Pater M. Gloudemans M.S.F. Menurut beliau, tempat karya Pater Ventimiglia dekat Pelaihari, dekat desa Gunung Raya. Ditempat itu pasti terdapat benteng Portugis. Pendeta Gottin yang lebih cenderung memilih daerah tepi sungai Barito mengatakan bahwa kalau tempat di dekat Pelaihari itu digali pasti ditemukan kuburan Portugis dan pondasi Gereja Katholik. Namun daerah tersebut jangan dianggap sebagai tempat karya Pater Ventimiglia.

b. Berapa orang yang dibaptis Pater Ventimiglia ?

Dalam suratnya kepada Pater Gallo di Goa tahun 1690, Pater Ventimiglia menulis telah membaptis 1.800 orang Ngaju, setelah bekerja selama enam bulan ditengah mereka. Kemudian pada tahun 1694, Jacob Janszen de Roy yang saat itu berada di Banjarmasin, mengatakan, sekitar 3.000 orang telah dipermandikan. Mereka memakai salib, tetapi penghayatan imannya belum mandalam.

13. Karya Pater-Pater Theatin di Borneo sesudah Pater Ventimiglia

Dalam uraian diatas (lihat No. 10) sudah dikisahkan nasib beberapa Pater Theatin yang mencoba mencari jejak Pater Ventimiglia mengalami nasib sial. Mereka kembali membawa berita yang tidak pasti.

Namun demikian Kongregasi de Propaganda Fide terus mendukung misi Pater-Pater Theatin di Borneo. Maka pada tanggal 14 Januari 1692, pihak Propaganda de Fide secara resmi menyerahkan seluruh pulau Kalimantan kepada Pater-Pater Theatin dan tertutup bagi ordo lainnya. Pada tanggal yang sama juga diperintahkan pembukaan seminari dan selama tiga tahun Propaganda de Fide akan memberikan dana.

Lima hari sesudah peristiwa ini, tepatnya tanggal 19 Januari 1692, Paus Innocentius XII menetapkan Borneo sebagai Vikariat Apostolik. Pater Antonino Ventimiglia diangkat sebagai Vikaris pertama untuk “The Kingdom of Borneo”.

Berita pengangkatan ini tentu saja tidak sempat diterima Pater Antonino Ventimiglia. Alasan pertama, Surat pengangkatan itu datang terlambat karena beliau sudah meninggal dunia. Alasan kedua, pihak pemerintah Portugis marah dengan keputusan Roma yang dianggap melanggar perjanjian. Barangkali pihak Portugis tidak mau memberikan surat pengangkatan itu (apabila saat itu Pater Ventimiglia masih hiduped).

Sesudah Pater Ventimiglia meninggal Pater-Pater Theatin lain mencoba meneruskan karya pendahulunya di Borneo hingga tahun 1761. Dalam tahun 1706, datanglah Pater Giusseppe Maria Martelli. Beliau datang dari Bengkulu tempat ordo ini berkarya. Pater Martelli tiba di Banjarmasin pada tanggal 5 Desember 1706, dan mencoba menghubungi suku Ngaju. Orang-orang Ngaju mengisahkan bahwa sejak kematian Pater Ventimiglia, tak seorang imam Katolik pun tinggal bersama mereka. Mereka ingin agar Pater Martelli tinggal bersama mereka. Orang Ngaju berjanji untuk datang menjemput. Namun setelah satu bulan menunggu dan tidak ada orang Ngaju yang menjemput, beliau berangkat sendiri ke hulu menurut petunjuk orang Ngaju sebelumnya. Pater Giusseppe Maria Martelli berangkat pada tanggal 3 April 1707 ditemani beberapa orang Ngaju. Menurut cerita, setelah tiga hari perjalanan, Pater ini dibunuh orang Melayu.

Cerita lain mengatakan Pater Martelli dibunuh orang Ngaju karena beliau konflik dengan mereka perihal sumbangan untuk perbaikan Gereja. Pada tahun 1723, Pater Yohanes Rescala, Pater Abert Sadagna dan Pater Wenceslaus Lozek tiba di Banjarmasin. Mereka mengirim berita kepada orang Ngaju untuk membawa Brevir, Salib dan topi milik Pater Ventimiglia. Mereka terpaksa meminta bantuan orang Daya Ngaju untuk mengantar barang milik Pater Ventimiglia ini, karena tidak diijinkan oleh Sultan Banjarmasin untuk turun dari kapal dan masuk pedalaman. Bahkan mereka diancam untuk dibunuh kalau melanggar larangan ini. Setelah tiga bulan, mereka kembali ke Macao.

Pater Ag. Bareto mencoba lagi pergi ke Kalimantan. Namun beliau meninggal dunia dalam perjalanannya di Manila, Philippina pada tanggal 24 Juni 1761.

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN YANG DIHAYATI PATER VENTIMIGLIA

1. Sepuluh Langkah Mewujudkan Kasih

Pater Ventimiglia menghayati kasih sebagai keutamaan yang terpenting. Beliau mengikuti sepuluh langkah yang dijabarkan oleh St. Thomas Aquino untuk mewujudkan kasih itu.

Langkah Pertama: Launquete viriliter : menderita secara ksatria.

Sejak usia muda, Pater Ventimiglia telah diarahkan Tuhan menuju kesempurnaan. Dalam usia 11 tahun ia masuk Biara. Dan sesudah kaul kekal ia pergi mewartakan Injil dan mencurahkan darahnya untuk kesaksian imannya.

Langkah Kedua: Incessanter Quaerere : tiada henti mencari (kehendak Tuhan).

Sepanjang hidupnya, Pater Ventimiglia hanya mencari kehendak Allah yang membuat hatinya tenang dan terhibur.

Langkah Ketiga : Operari indesinenter et maqna propter Deum : bekerja terus-menerus demi semakin besarnya kemuliaan Allah.

Segala-galanya dilakukan Pater Ventimiglia demi kemuliaan Tuhan : membaptis 15 suku, tiap minggu berpuasa. Namun ia tetap merasa dirinya kecil dihadapan Tuhan. Ia merasa kecil agar kemuliaan Tuhan semakin besar.

Langkah Keempat : Sustinete infaticabiliter : bertahanlah tanpa mengenal lelah.

Dalam segala kesusahan, Pater Ventimiglia tetap berjuang dan bersabar demi kemuliaan Tuhan.

Langkah kelima : Appetere impatienter, sponsum permanter habere: kejarlah tanpa henti untuk mendapatkan mempelai yang tetap.

Untuk menemukan Tuhan, mempelainya, Pater Ventimiglia pergi ke tanah orang kafir. Kasih dalam hatinya terus menyala, mengatasi segala rintangan. Pater Ventimiglia pergi ke tanah kafir untuk menjadi Marta : melayani mereka dan mempelainya.

Langkah Keenam: Ad Deum velociter currere: semakin cepat berlari kepada Tuhan.

Pater Ventimiglia pergi dari Barat ke Timur untuk mewartakan Kristus. Dalam waktu singkat banyak orang Ngaju di baptis. Ia tinggal bersama mereka, namun hatinya selalu dekat dengan Kristus.

Langkah Ketujuh: Audere vehementer : dengan berani maju.

Pater Ventimiglia selalu berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa dan dengan berani mengambil resiko dalam melaksanakan tugasnya.

Langkah Kedelapan: Est uniri Deo indissolubiliter : Persatuan dengan Allah yang tak terpisahkan.

Tuhan menjadi sumber hidup Pater Ventimiglia. Ia telah menyatu dengan Tuhan. Allah menunjukkan kepada hambanya apa yang harus dilakukan dan apa yang akan terjadi.

Langkah Kesembilan: Suaviter ardede : Mencintai dengan mesra.

Jiwa Pater Ventimiglia hanya tenang dalam Tuhan yang menjadi pusat hidupnya.

Langkah Kesepuluh: Sponsam totaliter spos assimilari : menyamakan mempelai wanita dengan mempelai pria.

2. Kasih terhadap Sesama dan Perbuatan yang Terpuji

Seluruh perjalanan hidup Pater Ventimiglia ditandai oleh perbuatan kasih terhadap sesama, baik ketika di Goa, Macao maupun di Borneo. Banyak orang bertobat berkat bantuannya. Seorang heretik (= orang yang murtad dari imam Katolik) yang hampir dibakar hidup-hidup oleh pengadilan inquisitio yang dibentuk oleh Paus Paulus IV, bertobat berkat doa dan air mata Pater Ventimiglia.

Di Kalimantan, Pater Ventimiglia menjadi Bapak lima belas suku. Pada waktu itu perdagangan antar suku Melayu dan Daya Ngaju tidak beres sistemnya. Banyak orang pedalaman menderita kekurangan kebutuhan hidupnya yang pokok. Kemiskinan dan kelaparan merajalela.

Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Pater Ventimiglia berdoa di depan tabernakel, memohon petunjuk dari Tuhan : apa yang sebaiknya dilakukan. Tiba-tiba datang bantuan beras bagi umat. Seseorang lalu menyampaikan hal ini pada Pater Ventimiglia. Beliau menjawab : “Ambillah, makanlah dan simpanlah karena Tuhan telah memperhatikan nasibmu dan memberimu makan”. Inilah kesaksian Pater Ferreria dan Bapak Cottigno yang bertemu dengan beberapa orang Ngaju yang ikut makan nasi dari beras itu, ketika mereka melewati Borneo.

Ada kisah lain lagi mengenai bertobatnya seorang ibu karena anaknya yang sudah meninggal hidup kembali berkat doa Pater Ventimiglia. Paeristiwa ini disaksikan oleh Pater Ferreria. Selain Pater Ferreria, masih banyak orang menyaksikan peristiwa ini.

“Benar, benar, benar! Aku bersedia meninggalkan kemuliaan surga sekarang agar aku dapat bekerja di ladang Tuhan sampai akhir dunia, tanpa menuntut upah selain melakukan kehendak Tuhan untuk keselamatan sesamaku”. Itulah ungkapan yang merupakan motto hidupnya.

DEVOSI PATER ANTONIO VENTIMIGLIA

1. Devosi kepada Sengsara Kristus

Pater Ventimiglia sangat mengasihi Kristus terutama karena sengsara dan wafat-Nya di salib. Setiap hari ia merenungkan sengsara Kristus.

Salib merupakan hal yang sangat berharga dan dicintai Pater Ventimiglia, terutama sejak ia memakai salib yang pernah dipakai oleh Santo Aloysius Beltrando. Salib ini memberi semangat untuk berjuang sebagai saksi Kristus.

Dua peristiwa penting yang menakjubkan berhubungan dengan salib ini. Pertama, suatu ketika seorang Kapten kapal hendak menangkapnya. Kapten itu tiba-tiba terkejut dan merasa takut ketika melihat salib itu menjadi terang. Kedua, ketika seorang ibu hendak dibaptis, ia melihat salib itu berubah menjadi daging yang hidup dalam tubuh Pater Ventimiglia. Pater Ventimiglia selalu memanggil salib yang tergantung di lehernya: “O, sahabatku yang terkasih dan manis!”.

Ketika Pater Ventimiglia datang untuk kedua kalinya di Kalimantan, beliau mengadakan novena pada Santo Yoseph. Pada hari terakhir novena, beliau membuat salib besar. Salib itu dihiasi bunga, diletakkan diatas perahu dan diarak, berlayar mengelilingi sungai. Setelah peristiwa itu, datanglah bapak Angha. Dan terjadilah hal yang dinantikan Pater Ventimiglia : beliau akhirnya dapat masuk ke pedalaman. Dalam perjalanan ke pedalaman, salib besar itu didirikan di atas kapal dan di bawah salib tertera tulisan : “Lusitanorum Virtus et Gloria” yang berarti (salib) Kekuatan dan Kemuliaan bangsa Portugal.

2. Devosi kepada Sakramen Mahakudus

Devosi Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus sangat kuat. Sebelum merayakan ekaristi, beliau berdoa berjam-jam di depan Sakramen Mahakudus. Biasanya beliau menggunakan waktu doa pada malam hari agar tidak mengurangi waktu bagi umatnya. Dalam kotbah-kotbahnya, beliau selalu mengajar umat agar mereka senantiasa mencintai Tuhan.

Selama perjalanan menuju tanah misi, Pater Ventimiglia selalu merayakan Ekaristi di Kapal. Itulah semangat kebaktian Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus.

3. Devosi kepada Santa Perawan Maria

Cintanya kepada Santa Perawan Maria tak terhingga. Sebelum berangkat ke Kalimantan, beliau berlutut, berdoa memohon doa Bunda Maria serta menyerahkan misi Borneo dibawah perlindungan Santa Perawan Maria.

Ketika berkarya di Borneo, beliau mempersembahkan sebuah Gereja besar yang pertama kali dibangunnya untuk Perawan Maria. Sebelum merayakan pesta-pesta Santa Maria, beliau selalu berpuasa. Dan pada malam hari beliau sering berdoa di depan patung Bunda Maria.

4. Devosi kepada Santo Kayetanus dan Santo Andreas

Selain ketiga devosi diatas, Pater Ventimiglia juga sangat kuat berdevosi kepada St. Kayetanus, pendiri ordo Theatin dan St. Andreas Avellino.

PENGHAYATAN KETIGA KAUL

1. Kaul Kemiskinan

Pater Ventimiglia sungguh hidup dalam kemiskinan. Dikamarnya hanya terdapat sebuah meja dan sebuah kursi sederhana, tempat tidur dengan kasur yang tak pernah dipakai. Beliau tidur beralaskan tanah. Pater Ventimiglia mau meneladani Kristus yang lahir dan hidup dalam kemiskinan. Bantuan dari raja Don Rodrigo da Costa dan dari Kongregasi Suci sebelum keberangkatannya ke Macao dan Borneo ditolaknya.

Dalam perjalanan beliau hanya membawa pakaian misa, beberapa buku rohani dan beberapa alat devosi untuk diberikan kepada suku Ngaju. Ketika merayakan Kamis Putih di atas kapal di perairan dekat Banjarmasin, banyak orang Tionghoa menyumbang lilin. Juga orang Islam menyumbang lilin dan emas. Beliau menerima lilin dan menolak emas. Dan ketika hidup di tengahtengah orang Ngaju, umat kerap kali memberikan beras, ayam, kayu harum, akar-akar dan rempah. Pada mulanya beliau menolak, namun untuk menyenangkan hati umatnya, pemberian itu diterimanya.

“Aku datang ke pulau ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan diutus Tuhan untuk menunjukkan jalan menuju Surga, jalan menuju keselamatan. Biarlah aku hidup dalam kemiskinan, karena Tuhan telah memanggil aku dalam keadaan seperti ini”. Inilah ungkapan yang sering diucapkan Pater Ventimiglia semasa hidupnya.

2. Kaul Kemurnian

Santo Bernardus pernah menulis : “Vita caelebs vita caeistis, incoruptio facit proximum Deo” (hidup selibater adalah hidup surgawi ; keperawanan mendekatkan pada Tuhan). Sejak usia 11 tahun, Pater Ventimiglia telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam ordo Thetin. Hidupnya diserahkan kepada kehendak Tuhan.

Francesco Xavier de Ecens, seorang Pater Jesuit sering mengatakan Pater Ventimiglia bukan manusia melainkan Malaikat. Sementara Pater Ignatius de Zuleta merasa tidak layak kalau duduk berdampingan dengan Pater Ventimiglia. Pater D. Agustino Gallo memperhatikan kursi mana yang dipakai Pater Ventimiglia. Ia tidak berani duduk di kursi yang telah dipakai Pater Ventimiglia.

3. Kaul Ketaatan

Pater Antonino pernah berkata : “Hatiku keras, saya sendiri tidak dapat menjelaskan. Tak ada sesuatupun menakutkan. Segala penderitaan ini kunilai tak berarti dibandingkan dengan cinta kasih Tuhan terhadapku. Banyak bahaya mengancamku. Tak seorangpun yang menjadi penasihat dan penolongku di kala penderitaan dan kesulitan menimpaku. Aku mengharapkan datangnya bantuan dari Goa. Tetapi aku tetap percaya, ketaatan yang suci tak akan eninggalkan aku sendirian. Penyelenggaraan Ilahi yang hingga saat ini membantu, pasti akan terus membantu pada masa yang akan datang”.

Sebagai seorang Rohaniwan, Pater Ventimiglia sungguh menghayati kaul ketaatannya. Beliau selalu mencari kehendak Allah. “Agar kehendak Allah terjadi, aku menunggu hingga waktunya tiba memasuki Borneo. Biarlah kebaikan Tuhan yang Ilahi mengatur dan memerintah hidupku dalam segala peristiwa hidupku. Aku akan tetap gembira dan senang.” Demikian ungkapan lain Pater Ventimiglia perintis Misi Borneo ini.

KESABARAN DAN KERENDAHAN HATI

1. Kesabaran dan Penyerahan pada Kehendak Tuhan

Santo Thomas Aquino berkata : “Kesabaran merupakan sebagian dari kekuatan”. Sedangkan Santo Cyprianus berpendapat : “Kesabaran adalah ibu keutamaan-keutamaan”.

Pater Antonino Ventimiglia menghayati keduaduanya dalam hidupnya. Ketika Kota Taormina jatuh ke tangan Perancis, keluarga Pater Ventimiglia mengungsi ke Madrid. Kehadiran keluarga ini membuat ia merasa dekat kembali dengan orang-orang yang masih ada ikatan darah. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari segala ikatan, bahkan ikatan darah sekalipun. Kepada Paus Innocentius XII beliau menulis agar dibebaskan dari segala ikatan darah sehingga ia hanya mengabdi kepada Tuhan.

Ia melarikan diri dari Madrid ke Lisabon. Dua tahun lamanya ia bergumul dengan dirinya sendiri : memilih pergi ke tanah misi atau tidak. Akhirnya ia menulis surat untuk Bapa suci dan memohon agar diijinkan pergi ketanah misi.

Dalam segala penderitaan beliau pun sangat sabar. Kakinya terserang tumor hitam. Dalam perjalan dari Lisabon ke Goa yang memakan waktu delapan bulan, beliau banyak menderita. Kakinya kaku, kerap kali sudah berada dalam keadaan sakrat maut, sehingga menerima minyak suci. Di tanah Borneo Pater Ventimiglia mengalami banyak sekali kesulitan. Namun beliau tetap sabar.

Kepada seorang suster di Madrid, Pater Ventimiglia pernah menulis : “Sesuatu yang sangat menggembirakan dan sangat berharga bagiku. Air yang saya minum kotor dan bau. Apalagi makanannya, sangat aneh!”. Inilah tantangan yang dialami Pater Ventimiglia. Dan seluruh hidupnya merupakan perjuangan melawan kecenderungan kecenderungan tubuhnya.

2. Kerendahan Hati

Kerendahan hati merupakan dasar yang kuat bagi ornag-orang kudus. Diatas dasar ini kesempurnaan Kristiani terbentuk. Santo Bernardus menguraikan dua belas langkah kerendahan hati. Pater Ventimiglia sungguh menghayati kedua belas langkah ini.

Langkah-langkah kerendahan hati itu meliputi :

Langkah ke-1 : Menyadari kerendahan hati lahir batin dengan mata yang selalu tertuju ke tanah.

Langkah ke-2 : Tidak banyak bicara, kata yang diucapkan bernada bijaksana dan tidak sombong.

Langkah ke-3 : Memperhatikan kesopanan dan tidak mudah tertawa.

Langkah ke-4 : Diam, tidak bicara jika tidak ditanya.

Langkah ke-5 : Taat pada aturan Biara dan segala hal yang biasa dan sederhana.

Langkah ke-6 : Percaya dan mengakui diri sebagai pendosa.

Langkah ke-7 : Percaya bahwa diri sendiri tidak layak dan kurang berarti.

Langkah ke-8 : Mengakui kesalahan yang sudah dilakukan.

Langkah ke-9 : Selalu memilih yang sulit, dan bermatiraga.

Langkah ke-10 : Dalam semangat ketaatan, merendahkan diri dihadapan Pemimpin (pembesar).

Langkah ke-11 : Menyangkal dan tidak melakukan kehendak sendiri.

Langkah ke-12 : Takwa kepada Tuhan dan ingat akan perintah-perintah-Nya.

Beberapa ungkapan yang menunjukkan kerendahan hati Pater Ventimiglia :

  • “Celakalah aku, orang memperhatikan aku!”
  • “Celakalah aku, orang-orang mencari dan aku tidak mengetahui alasannya”.
  • “Mereka memperhatikan dan mencari aku karena mereka tidak tahu siapa aku!”.
  • “Aku seekor keledai dengan pakaian manusia”.
  • “Aku Antonino, seorang berdosa yang miskin”.
  • “Aku mencium kakimu seribu satu kali!”.
  • “Tuhan memberkati engkau yang merendahkanku!” (kepada seorang gila yang mempermainkannya).
  • “Aku seekor cacing di tanah ini!”.
  • “Tak pernah Santo Kayetanus mempunyai wajah seperti ini!” (kepada seorang pelukis yang membuat gambarnya dengan diam-diam).

KARUNIA KARUNIA KHUSUS

Pater Ventimiglia mendapat karunia istimewa dari Tuhan. Beberapa peristiwa mengungkapkan karunia-karunia istimewa ini. Di Madrid beliau dapat membaca dan membuka isi hati seorang suster. Beliau juga bernubuat tentang seorang suster yang masih akan hidup beberapa tahun lagi. Juga nubuatnya tentang kematian seorang anak dan saudaranya.

Sementara itu semua orang menganggap Pater Ventimiglia sebagai orang kudus. Para suster biara Trinitaris di Madrid menganggap Pater Ventimiglia sebagai orang kudus. Juga umat sering memberi gelar sebagai orang kudus, malaikat yang diutus Allah dan orang yang benarbenar rasul.

Para raja dan ratu berusaha menjumpainya untuk meminta nasihat dan petunjuk. Akhirnya Bapa Suci Innocentius XII mengangkat Pater Ventimiglia sebagai Vikaris Apostolik pertama untuk pulau Borneo.

Di Roma, terdapat gambarnya dan terdapat tulisan sebagai berikut :

“………………………………. , sambil berharap dalam Tuhan, jika kelak para misionaris kami dapat masuk ke Borneo untuk memlihara ladang anggur yang telah ditanamnya dengan banyak penderitaan, mereka dapat menikmati segala kuasanya dengan lebih nyata lagi”.

MUJIZAT MUJIZAT ALLAH DENGAN PERANTARAAN PATER VENTIMIGLIA

Banyak penyembuhan terjadi melalui Pater Ventimiglia. Pater Diego Spadafuor dan Pater D. Bernardus disembuhkannya dengan memeluk dan mencium mereka. Seorang suster dari Biara S. Maria del Calcelliere Palermo sembuh dari penyakit Kanker.

Surat yang ditulis Pater Ventimiglia dan dikirim ke Madrid kepada seorang suster dipergunakan untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit. Setan-setan berteriak-teriak memohon agar surat itu dibuang karena sangat mengganggu. Si iblis mengakui bahwa Pater Ventimiglia banyak melakukan mujizat di tanah misi. Surat Pater Ventimiglia yang disimpan suster itu tetap kering kendati pada suatu ketika tempat disekitar surat itu basah semua.

Berkat doa Pater Antonino Ventimiglia dan pertolongan Santo Kayetanus, seorang ibu yang sudah tiga belas kali melahirkan dan bayinya selalu meninggal, dapat dengan selamat melahirkan bayinya. Peristiwa ini terjadi di Macao.

Dalam perjalan menuju tanah misi, kapal yang membawa Pater Ventimiglia dilanda taufan. Pater Antonino berdoa dan saat itu juga badai pun reda. Di tanah misi, di Borneo, penduduk yang terancam bahaya kelaparan karena musim kering dibebaskan berkat doa Pater Ventimiglia. Tiba-tiba beras turun dari langit seperti hujan. Bila malam tiba, Pater Ventimiglia sering kali berbicara dengan Santa Perawan Maria yang selalu melindunginya dari segala bahaya. Dan salib yang dipakai Pater Antonino tiba-tiba berubah menjadi daging.

Setelah Pater Antonino Ventimiglia meninggal dunia, orang-orang Ngaju menguburkannya di Gereja yang dahulu dibangunnya. Dari berbagai penjuru datanglah orang sakit lumpuh, buta, demam, orang yang kerasukan setan. Mereka berdoa di dekat kubur Pater Antonino dan sembuh. Orang Ngaju menjaga makamnya karena takut jenazah P. Antonino dicuri orang.

Semoga Pater Antonino Ventimiglia sebagai hamba Tuhan, tetap setia pada janji yang diucapkan dalam surat-suratnya. Beliau mendoakan supaya kelak dapat bertemu di Surga

 

Sejarah dari tugu peringatan pahlawan jerman di arca domas, indonesia


Oleh: Herwig Zahorka

Cerita
Pada lereng bukit gunung api Pangrango di Jawa Barat, hampir pada ketinggian 1.000 m, terdapat sepuluh nisan seputih salju. Nisan ini berbentuk Salib Besi. Delapan nisan masih ada dikenal namanya dan sedangkan dua nisan lagi sudah tidak dikenal dan tidak ada namanya. Mereka adalah kuburan yang terakhir dari pelaut muda pada Perang Dunia ke-Dua dari kapal laut yang datang kemari, dalam bentuk petualangan perjalanan dengan menggunakan kapal selam (U-Boote). Mereka dimakamkan di tanah keramat yang bersejarah.

Disini di Jawa Barat pernah ada kerajaan-kerajaan Sunda. Dinasti kerajaan Hindu, dari Tarumanegara sampai Pajajaran, penguasa penganut Hindu pendeta tertinggi selama 1.000 tahun lamanya melalui rakyat Sunda. Selama ratusan tahun, roh dari orang orang Hindu yang sudah meninggal diangkat kepada para dewa di tanah yang disucikan pada lereng pegunungan Pangrango. Empat pohon Beringin keramat (Ficus sp.) mengelilingi tanah keramat yang bertingkat-tingkat tersebut. Batu kuburan yang berukir yang kira-kira berjumlah 800, dan tempat suci ini bernama Arca Domas yang dalam bahasa Sanskerta berarti 800 patung.

Dari tahun 1527 para pejuang Islam di bawah pimpinan Fatahillah menghancurkan Kerajaan Pakuan Pajajaran dan berakibat banyak orang Sunda yang masuk Agama Islam. Banyak Istana dan pura atau candi yang musnah. Para pendeta Hindu mungkin lari ke Pegunungan yang terpencil dan berlindung dari pengaruh luar. Tidak ada orang asing yang diizinkan untuk memasuki wilayah “Kenekes” atau lebih dikenal dengan nama suku “Badui”. Di daerah suku “Badui” ini juga terdapat tanah keramat Arca Domas.

Dengan berjalannya waktu banyak batu dan patung yang digunakan untuk membangun rumah. Pada Litografi pertengahan abad ke 19 tampak patung-patung dengan “gaya Polinesia”. Patung seperti ini juga terdapat di Museum Nasional, Jakarta. Belakangan, lereng ini digunakan untuk lahan pertanian, tetapi pohon-pohon Beringin yang ada masih mengingatkan masyarakat akan tempat suci ini.

Setelah Perang Dunia ke Satu, dua orang Jerman bersaudara, Emil dan Theodor Hellferich membeli tanah di daerah ini seluas 900 hektar dan membangun pabrik dengan keuntungan dari perkebunan teh. Mereka mempunyai pabrik teh pribadi lengkap dengan kabel pengangkut untuk mengangkut daun teh ke pabrik. Gedung yang megah telah dibangun di daerah ini dimana iklim yang sejuk dan nyaman diatas ketinggian 900 m dari permukaan laut. Karena kakak tertua mereka, Karl Helfferich, adalah mantan wakil perdana menteri di bawah Kekaisaran Jerman yang terakhir, mereka membangun sebuah monumen diantara pohon-pohon tua untuk memperingati Deutsch-Ostasiatisches Geschwader (Armada Jerman Asia Tenggara) dari Admiral Graf Spee yang tenggelam oleh tentara Inggris. Pada monumen tersebut terukir kalimat “Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich.” Sebagai penghargaan pada agama tua Jawa, mereka membangun patung Buddha dan patung Ganesha di kedua sisi monumen tersebut.

Peresmian terjadi pada tahun 1926 ketika sebuah kapal penjelajah Jerman dengan nama “Hamburg” melakukan kunjungan pada zaman Kolonial Belanda. Seorang Letnan Kapten muda, Hans Georg von Friedeburg menulis tentang upacara itu dari bukunya dengan judul “Kedalaman 32.000 mil laut pada laut biru”. Kemudian, ia menjadi Jendral Admiral dan mengakhiri hidupnya pada tahun 1945 akibat kapitulasi Jerman. Anak laki – lakinya kemudian menjadi Mentri Pendidikan di Land Hessen, Jerman. Helfferich bersaudara kembali ke Jerman pada tahun 1928 dan meninggalkan Albert Vehring dari Bielefeld untuk tekhnisi manajemen perkebunan teh mereka. Dia sudah berpengalaman tentang perkebunan teh di daerah New Guinea. Namanya akan selalu berkaitan dengan Arca Domas.

Mulainya Perang Dunia ke-Dua 1939 membawa perang Dunia ke-Dua, dan 10 Mei 1940 prajurit Jerman menginvasi Belanda. Masih dalam hari yang sama Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia menahan sebanyak 2.436 orang Jerman untuk ditahan. Kebanyakan dari mereka adalah anggota administrasi kolonial bersama dengan keluarga mereka, ahli budaya, insinyur, dokter, ahli ilmu pegetahuan, ahli minyak bumi. Dan juga diplomat, banyak misionaris, penjual, pelaut, beberapa seniman seperti penemu sekolah lukis Bali yang terkenal, Walter Spies, ada diantaranya. Kamp pengasingan terbesar berada di Sumatera Utara. Para pria diambil dari istri dan anak – anak mereka. Kurang lebih 100 wanita dan anak – anak kemudian dapat berangakat ke Cina dan Jepang melalui perantara dari Helfferichs, juga istri dari Albert Vehring, Ibu Hildegard. Perkebunan Helfferich kemudian diambil alih oleh Belanda.

Tenggelamnya Kapal “VAN IMHOFF” dan Kemerdekaan Republik Nias
Pada tanggal 14 Desember 1941 pasukan Jepang mendarat di Borneo dan pada bulan Februari tahun 1942 di Air Bangis, Sumatra Barat. Orang – orang Jerman tidak boleh jatuh ke tangan tentara Jepang, karena Jerman dan Jepang telah bersekutu. Pemerintah kolonial Belanda meutuskan untuk membawa para tawanan Jerman ke tangan kolonial Inggris India. Dua kapal Belanda dengan tawanan Jerman berangkat dari Sibolga, Sumatera. Dan pada tanggal 18 Januari kapal 3000 ton yang ke tiga berangkat, kapal tersebut bernama KPM “VAN IMHOFF”. Kapten kapal tersebut bernama Bongvani. Setelah beberapa jam berada di lautan, kapal tersebut diperintahkan untuk kembali dan membawa beberapa orang Jerman lagi. 477 orang Jerman pada akhirnnya ditawan pada ketinggian satu meter, dengan kawat berduri mengelilingi mereka, dan diantara mereka juga ada Albert Vehring dan Walter Spies. Belanda mengawasi mereka dengan 62 tentara yang bersenjata. Selanjutnya para kru – krunya kurang lebih memegang 48 orang. Kapal itu tidak menggunakan tanda simbol Palang Merah.

Pada keesokan harinnya, kapal tersebut mendapat serangan dari pesawat tempur Jepang. Dua bom mendarat di laut, tetapi bom yang ke tiga mengenai kapal tersebut. Perwira ke satu mengatakan kepada para tawanan Jerman bahwa kapal tersebut tidak berada dalam keadaan berbahaya, bahkan sudah meminta bala bantuan yang akan segera datang. Orang – orang di belakang kawat berduri itu tidak perlu panik. Tetapi para tawanan Jerman sangat terkejut, ketika mereka melihat orang – orang Belanda menurunkan lima perahu kargo yang ditarik dengan perahu motor penarik. Dengan kapal kargo tersebutlah, orang – orang Belanda meninggalkan kapal dan menuju ke Sumatera. Setiap 5 ton perahu kargo tersebut bisa membawa sekitar 80 orang dan perahu motor penarik yang dapat menampung 60 orang lagi. Beberapa diantara perahu ini hampir kosong.
Para tawanan Jerman tadi akhirnya dapat mengeluarkan diri mereka dari penjara dan mereka menyadari bahwa kapal tersebut akan tenggelam. Mereka menemukan bahwa para orang – orang Belanda telah merghancurkan pompa air dan jaringan komunikasi kapal tersebut. Pada bagian belakang kapal, mereka menemukan sebuah sekoci penolong yang tidak bisa diangkat dari tempatnya oleh orang – orang Belanda sebelumnya. Bahkan dayung dari sekoci tersebut telah dipatahkan oleh orang – orang Belanda. Sekoci tersebut dapat memuat sekitar 42 orang di dalamnya. Beberapa orang Jerman yang kuat dapat mengangkat lalu memindahkan sekoci tersebut ke perairan, kemudian sekitar 53 orang Jerman masuk ke dalam sekoci tersebut. Mereka menggunakan papan sebagai dayung dan menjauh dari kapal yang tenggelam tersebut agar selamat dari arus kapal tersebut. Kira – kira 200 pria sudah meloncat ke air dan berharap datangnya bantuan. Walaupun demikian, bom yang meledak telah membunuh banyak ikan – ikan yang dapat menarik perhatian ikan hiu yang datang dan menyerang orang – orang yang tak terselamatkan tersebut. Beberapa orang diantara mereka memutuskan untuk bunuh diri. Beberapa orang yang kuat diantara mereka mambangun rakit dari kayu – kayu dan tali yang mereka temukan di kapal sebelum tenggelam. Teman dari Albert Vehring menemukan sebuah sampan dayung yang panjangnya 2 atau 3 m di tempat yang tersembunyi. 14 orang masuk ke dalamnya. Vehrings yang memimpin komando sampan dayung tersebut. Pinggiran perahu tersebut hanya kira – kira berjarak 10 cm dari permukaan laut. Ketika perahu dayung mereka telah berjarak 100 m dari kapal, kapal tersebut akhirnya tenggelam dengan seketika. Sekitar 200 orang masih tertinggal di atas kapal yang tenggelam tersebut.

Kedua perahu dan sebuah rakit tersebut berusaha untuk mencapai pulau Nias yang berjarak 55 mil laut dari tempat tenggelamnya kapal. Keesokan harinya, tanggal 20 Januari, sebuah kapal Belanda yang bernama “BOELOENGAN” mendekati kelompok orang – orang Jerman tersebut. Kapal tersebut mendekat kira – kira 100 m dari perahu Vehring. Dari atas kapal ada yang meneriakkan “apa kalian orang Belanda?”. Saat mereka mengetahui bahwa ini adalah kelompok orang Jerman, kapal “BOELOENGAN” berbalik arah lalu menghilang meninggalkan mereka. Oleh karena ini, orang – orang Jerman yang berada di atas rakit tidak dapat kesempatan untuk selamat. Seorang penjual toko emas Yahudi yang telah meninggalkan Nazi Jerman, meloncat ke perairan dan berenang menuju ke kapal “BOELOENGAN”. Walaupun demikian, tanpa kasihan orang – orang Belanda menolaknya dan memaksanya kembali ke perairan. Ini adalah keputusan mati yang tidak layak.
Kemudian pada tanggal 20 Juni 1949, Albert Vehring melaporkan kejadian yang tak dapat terbayangkan itu dengan mengangkat sumpah kepada notaris Jerman, Bernhard Grünewald, di Bielefeld. Dia memberikan penjelasan bahwa pada saat air laut naik, setengah dari awak perahunya keluar dari perahu dan berpergangan pada perahu agar perahu tersebut dapat menjadi lebih ringan. Dan orang – orang yang berada di rakit tidak dapt diselamatkan lagi.

Pada hari ke 4 tepatnya 23 Januari 1942, mereka sampai dalam keadaan kehausan, lapar, kekeringan dan terbakar matahari di pantai menanjak pulau Nias. Perahu yang lebih besar terbalik akibat hempasan. Karenanya, satu orang meninggal dunia. Satu orang tua yang berusia 73 tahun menggantung dirinya karena putus asa. Keesokan paginya, beberapa orang Nias yang bersahabat dan seorang pastur Belanda, Ildefons van Straalen memberikan makanan dan minuman kepada orang – orang yang selamat.

Dalam keberuntungan ini ditemukan 411 orang tentara Jerman yang mati, 20 Protestan dan 18 Katholik misionaris seperti orang yang cerdas artis Walter Spies. 67 orang mencapai Nias dari 65 orang yang masih bertahan. Karena kapal “VAN IMHOFF” kepunyaan dari Belanda KPM dan Belanda menduduki Jerman. Asuransi dari KPM harus membayar kompensasi untuk 4 milion Gilder kepada para keluarga yang mati di Jerman. Satu kali saja perangnya terjadi. Setelah perang tersebut orang tua dari Walter Spies yang mati dimana tinggal di Inggris membuat surat pengaduan di Pengadilan melawan Kapten dari “VAN IMHOFF” namanya Bongovan. Dia hampir kena hukuman mati, tetapi cepat mendapat pengampunan.

Pada keesokan harinya yang hidup di Nias tertangkap oleh orang Belanda dan dibawa ke ibukota Gunung Sitoli. Disana mereka dibawa ke tempat penjara Polisi, penjaganya dari orang Belanda dan polisi Indonesia dari Sumatra Utara. Polisi Indonesia sangat kaget bahwa mereka menjaga orang Jerman karena sebelumnya orang Jerman telah mengalahkan kehidupan Pemerintah Kolonial di Belanda. Albert Vehring bekerjasama bersekongkol dengan polisi Indonesia.

Orang Jerman bersekutu dengan polisi Indonesia dan pada hari Minggu Palem pada tahun 1942 orang Belanda dipenjara. Jepang pada waktu itu sedang mendarat di Sumatra dan Jawa dan mengirim semua orang Belanda ke pengasingan dan dalam takdirnya mereka, sangat ironi sekali. Sekarang sangat tidak percaya apa yang telah terjadi di Nias, membuat kita hari ini tersenyum:
Jerman berproklamasi dengan Nias “Kemerdekaan Republik Nias”. Komisaris perusahan Bosch, Herr Fischer, telah menjadi Perdana Mentri dan Albert Vehring menjadi Mentri Luar Negri. Mereka menjadikan rekan dengan Nias. Nias menjadi senang pada akhirnya mereka bersorak sorai telah mendapat kekuatan. Beberapa minggu kemudian orang Jerman bersama dengan Nias melakuakan perjanjian Pulau Nias. Kemudian Albert Vehring berlayar ke Sumatra untuk membuat kontak dengan orang Jepang. Orang Jepang datang ke Nias pada tanggal 17 April 1942 dan membawa orang Belanda untuk dipenjara, dan dimana ada juga Pastor van Straalen.
Orang Jerman bisa kembali lagi ketempat pertama kali mereka bekerja disana dan “Kemerdekaan Republik Nias” telah melepaskan mereka kembali. Albert Vehring bekerja untuk orang Jepang di hotel, memproduksi senapan dan menjadi Insinyur Kapal di Singapura

Kapal Selam Jerman di Tanjung Priok dan Surabaya

Jerman berusaha lagi dengan barang – barang untuk diimport dengan pendapatan kotor dari pulau pendudukan sekutu Jepang. Tapi akibat blokade sekutu, hanya satu kapal yang dapat mendarat di perairan pendudukan Jerman di Eropa.

Karena itu pada bulan Mei 1943 Angkatan Laut Jerman dimana menguasai dengan persetujuan Angkatan Kepala Jepang detasemen marinir Jerman di Penang, Singapura, Jakarta, dan Surabaya. Orang Jepang memberi nama Jakarta menjadi Batavia. Jerman mendapat undang-undang dan memutuskan mengimport dengan bahan baku dengan menggunakan kapal – kapal selam, yaitu karet, timah, molybdan, wolfram, lemak, kinine, madat, yodium, dan agar – agar, dengan bahan penting untuk warna cat penerbangan. Dengan sekitar 150 ton dalam kapal sangat banyak sehingga menjadi sempit.

Titik Pusat di Jakarta, Mayor Angkatan Laut, Dr. Hermann Kandeler, dimana dia juga seorang Wakil anggota Diplomatik yang mencerminkan pilihan rakyat Deutsches Reich, berkuasa mengadakan perundingan orang Jepang bahwa Villa dari Helfferichs di perkebunan teh Cikopo diatas Bogor dekat Arca Domas diberikan kembali ke pada orang Jerman. Albert Verhing telah dibawa kembali kesini. Tumbuhan tersebut bisa menjadi seperti surgawi para kru kapal-kapal manjadi kelelahan. Dengan tiga atau lima bulan keliling Afrika, didalam bawah laut dan dengan mendirikan tenda datang tersebut dengan kondisi harus diperbaiki. Berlangsungnya perbaikan kapal tersebut orang yang “berseragam biru” mereka bisa menikmati tempat itu tropis surgawi dan mereka bisa melupakan sejenak untuk waktu yang singkat kejamnya perang dan bahayanya pelayaran laut.

Dalam pimpinan Albert Vehring telah menyediakan untuk angatan laut dan menyediakan sayur-sayuran, kentang, dan sepertri gorengan sapi, babi, ayam bakar, karena itu perkebunan itu mendapat julukan “U-Boots-Weide” (padang rumput untuk kapal selam). Malam yang panjang perpisahan telah dirayakan disini dan menyanyikan lagu dari daerah asalnya melewati malam tropis untuk setengahnya sahabat telah menjadi perayaan yang terakhir untuk hidup yang sangat pendek. Selanjutnya dari beberapa orang dari mereka menjadi tempat tinggal yang terakhir.

Pada tahun 1943 dan 1944 bersama dengan 42 kapal selam telah dikirim ke Asia Tenggara. Kapal selam U-180 telah dua kali dikirim. Hanya 13 kapal yang tidak dikirim. 11 dari ini “Monsun boats” telah dilarikan ke Jakarta. Lima dari kapal tersebut tinggal di bawah laut.

Pada tanggal 5 Oktober 1944 U-168 di bawah Kapten Letnan Pich berlayar dari Jakarta ke Surabaya. Pada hari yang sama telah terjadi angin torpedo dari kapal selam Belanda “ZWAARDFIS”. Telah tenggelam 45 m dari dalam dasar laut. 29 kru kapal dari sisi kapal, mati. Dibawah perintah Kapten, 11 kru kapal terhindar dari kematian dalam marabahaya ini. Ketika mereka berada di atas permukaan laut mereka menemukan 16 sahabat yang masih hidup di geledak kapal. Pada akhirnya kapal selam Belanda naik ke atas dan mengambil semua orang dan dibawa ke kapal. Ini merupakan keberanian dari kapten van Goosen karena kapalnya akhirnya telah menjadi musuh dalam laut dan mereka tidak terdampar karena kapal sangat kecil. Keberanian van Goosen dalam bahaya telah mengirim 23 yang telah selamat ke Java dengan perahu lokal. Sebelum mereka bisa bertemu dengan para sahabatnya di Surabaya, tentara Jepang menyangka mereka adalah “mata-mata Amerika”, maka mereka ditangkap dan disiksa. Kapten Belanda van Goosen membawa Kapten Letnan Pich bersama dengan tiga perwiranya dan seorang yang terluka untuk dibawa ke kapal dan dibawa ke Australia untuk dipenjarakan. Beberapa tahun kemudian, komandan marinir Jerman di Singapura, Mayor Angkatan Laut namanya Erhardt, dan van Goosen telah berjabat tangan seperti dua orang sahabat menjadi pengganti wakil dari negaranya, pada latihan perang NATO (North Atlantic Treaty Organisation) dan dengan ini mereka bisa membuktikan tidak masuk akal terjadinya perang.

Akhirnya Perang Dunia ke-Dua

Iklim tropis di Jakarta membuat orang menjadi sakit dan mati. Pada tanggal 15 April 1945 seorang tukang kayu kapal bernama Eduard Onnen meninggal disana. Dia di kuburakan di tempat keramat Arca Domas dengan cara upacara kehormatan militer. Pada tanggal 8 Mei 1945 Jerman menyarah kalah. Oleh karena itu para tentara dari Jerman juga sudah berakhir masa perangnya. Dan pada hari yang sama orang Jepang mengusai tempat yang sama dan tinggal di kapal selam U-195 di Surabaya dan U-215 di Jakarta, karena itu Kepala Pangkalan Jerman dari Jakarta, Mayor Angkatan Laut Dr. Kandeler, menolak tawaran Jepang Admiral Maëda untuk terus perang bersama dengan Jepang atau bersekutu dengan Jepang. Beberapa dari kru telah bersembunyi dari teman wanitanya. Setelah perang usai mereka mencari pasanganya dan pada akhirnya mereka menikah (Martin Mueller).

Kebanyakan tentara marinir dari Kepala Pangkalan Jakarta dan Surabaya telah pindah dengan semua yang mereka miliki yaitu makanan, senapan, kendaraan, untuk pindah dan senang di Perkebunan Teh Cikopo (Tjikopo). Dengan petolongan Albert Vehring mereka mendapat makanan. Seragamnya mereka tanggalkan. Kepala tempat penampungan itu Mayor Angkatan Laut dari U-219 Burghagen, karena telah menang dari perang Dunia ke-Satu dengan kapal selam maka dia telah menjadi seorang perwira yang paling tertua dengan usia 54 tahun.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 akhirnnya Jepang menyerah juga. Sebelum menjadi presiden pertama Sukarno telah membuat Proklamasai untuk Kemerdekaan Indonesia. Pada malam harinya pada tanggal 16 ke 17 Agustus Soekarno dengan Wakil Presiden Moh. Hatta membuat tulisan tangan untuk teks Proklamasi untuk kepastian keamanan, mereka membuatnya di tempat kediaman dari Admiral Maeda. Pada pagi harinnya teks tersebut harus di ketik disana tetapi mesin tik Jepang tidak ada huruf latinnya. Jadi mereka “meminjam” mesin tik Jerman dari tempat kantor Kepala Angkatan Laut Jerman, Mayor Angkatan Laut Dr. Kandeler. Mesin tik tersebut telah diambil dengan Jip Sekretaris Jepang Admiral Maëda, Satzuki Mishima. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Dokumen teks Proklamasi telah dibacakan oleh Soekarno. Dokumen aslinnya telah diketik oleh Sajuti Melik dengan mesin tik angkatan laut Jerman. Mesin tik tersebut sekarang berada di Musium Perumusan Naskah Proklamasi. Dari sini ceritannya juga telah ditemukan banyak keganjilan.

Orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia akhirnya menjadi gerilyawan. Karena hal tersebut orang Jerman kemudian membuat tanda atribut mereka yang telah diambil dari seragamnya untuk dijadikan lambang dengan menggunakan lambang Elang Negaranya dilengan mereka. Ketika orang Indonesia mengenali orang Jerman mereka menjadikan hubungan tersebut menjadi persaudaraan.

Pada awal bulan September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris dibawah komandan perwira orang Skotlandia datang ke Jawa. Tentara ini sangat kaget menemukan tentara Jerman di Cikopo. Komandan resimen bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Burghagen untuk menolong tempat penampungan di Bogor. Di tempat penampungan ini waktu itu tempat Jepang menginternir orang Belanda, kebanyakan orang tua, istri dan anak – anak, serta orang Indo. Mereka harus selamat dari penangkapan gerilyawan. Burghagen menyetujui karena situasi di perkebunan teh lama kelamaan tidak aman. Kemudian Komandan Jendral Inggris menamai orang Jerman bukan tawanan perang tetapi “Displaced Persons”, karena pertemuan tersebut telah selesai pada waktu perang dunia telah berakhir.

Dengan 50 truk Jepang, orang Jerman berikut piano dan peternakannya telah di transportasi ke tempat penampungan di Bogor yang sebelumnya bernama Buitenzorg. Orang Jerman tersebut harus mengenakan seragam mereka lagi dan menggunakan senapan mesin, bren, granat tangan dan mortir. Mereka harus melindungi tempat penampungan yang berada di selatan pada perbatasan Bogor. Pada waktu yang singkat setelah perang dunia berakhir dengan luar biasa. Pada malam hari pertama datang tembakan dari keduanya seperti saling gila menembak. Untungnya dari keduanya tidak ada yang menjadi korban. Kemudian menjadi nyata, orang Indonesia menyangka mungkin bahwa orang Jerman telah tertangkap oleh Sekutu dan mereka berusaha untuk membebaskannya. Suatu situasi yang sangat ganjil.

Pemakaman dari pelaut-pelaut Jerman di Arca Domas

Ternyata terdapat beberapa korban. Letnan Satu Laut Willi Schlummer dan Letnan Insinyur Wilhelm Jens dimana terbunuh di Gedung Jerman di Bogor dari pejuang kemerdekaan Indonesia pada tanggal 12 Oktober 1945 karena kemungkinan mereka telah menyangka orang Belanda. Pada bulan yang sama juga Letnan Laut W. Martens terbunuh ketika dalam perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Bogor. Ketiga nya dimakamkan dengan upacara kemiliteran di Arca Domas. Sebelumnya pada tanggal 29 September Kopral Satu Willi Petschow mati karena sakit di Cikopo, dan Letnan Kapten Herman Tangermann mati juga pada tanggal 23 Agustus karena kecelakaan. Pada tanggal 30 November juga Letnan Satu Laut Friedrich Steinfeld mati, ia juga seorang Komandan U-195 (Surabaya). Semua menemukan tempat peristirahatannya yang terakhir ditengah -tengah pohon suci Beringin di Arca Domas.

Kemungkinan disana ada empat atau lebih pemakaman lagi. Tetapi dasawarsa Tugu Arca Domas kemudian menjadi Tugu Makam Pahlawan, beberapa nama dari palang kayu menjadi lapuk dan tidak bisa di baca. Karena itu dua kuburan telah “Unbekannt” (tidak diketahui). Juga untuk Letnan Satu Dr.Ir. H. Haake telah meminta dikuburkan oleh keluargannya, walaupun kapal selamnya tenggelam di Selat Sunda oleh ranjau pada tanggal 30 November 1944.

Pengasingan, kemerdekaan dari sisi Indonesia dan kembalinya orang -orang yang masih hidup ke Jerman

Sementara itu banyak orang Belanda di tempat penampungan yang mengeluh, karena mereka “di jaga” oleh orang Jerman. Orang Inggris harus menyerahkan kira-kira 260 Jerman. Pada pertengahan Januari 1946 menyerahkan beberapa orang Belanda yang ikut dalam ketentaraan. Orang Belanda memenjarakan orang-orang Jerman di pulau Onrust yang terkenal karena nama yang buruk. Kepunyaan barang pribadi mereka kebanyakan juga diambil. Mereka mendapat nasib yang buruk dan ironi.

Perlakuan yang buruk agak lebih baik ketika Palang Merah dari Swiss datang pada bulan Juli 1946. Tetapi tempat penampunganya mendapat beberapa penyakit seperti amoebiasis, malaria, demam berdarah dan hepatitis karena kurang higienis dan kurang nutrisi. Disini juga ada warga sipil namanya Freitag dia tertembak karena dia mendekat pada pagar.

Dua orang dengan tanpa takut lolos dalam pelarian. Mereka berenang menyebrangi ke pulau yang lain. Salah satunya adalah pilot dari pesawat angkatam laut namanya Werner dan sahabatnya Losche dari U-219. Dalam pelarianya mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Jawa untuk bekerjasama melawan Belanda yang juga ingin mendirikan pemerintahan kolonial yang lama. Sahabat Werner akhirnya meninggal dunia karena ia munkin mencoba untuk merakit pelontar api. Peringatan dari pemerintahan Indonesia untuk kehormatan dari kedua orang Jerman sampai saat ini belum di buat.

Pemulangan orang Jerman dimulai pada tanggal 28 Oktober 1946. Dengan menggunakan taransportasi kapal laut mengangkut pasukan melalui Bombay dan Rotterdam pada awal Desember 1946 di Hamburg. Albert Vehring akhirnya bisa merangkul istrinya. Tetapi tentara Angkatan Laut yang menjadi tawanan perang mereka dibawah kembali ke tempat penampungan tawanan Munsterlager. Mereka menderita kedinginan karena hanya memakai pakaian tropis. Tetapi suatu hari mereka akhirnya dibebaskan.

Organisasi Perawatan Taman Makam Pahlawan Jerman tidak bisa membeli Arca Domas karena peraturan pemerintah Indonesia. Kedutaan Besar Jerman hanya mendapat hak guna untuk Arca Domas. Setiap tahun Hari Pahlawan ada perkumpulan kecil dari orang – orang Jerman datang ketempat ini. Suatu upacara kebaktian oikumene dirayakan untuk memperingati perdamaian dan memperingati korban – korban perang. Duta Besar Jerman bersama pertahanan militer meletakan karangan bunga dekat monumen dan dengan pitanya tertulis “Der Botschafter der Bundesrepublik Deutschland” (Duta Besar dari Republik Federal Jerman). Bunyi sinyal suara trompet yang dimainkan oleh Herwig Zahorka dengan lagu yang berbunyi “Ich hatt’ einen Kameraden….” ( Saya mempunyai Sahabat….). Dari sinyal trompet bergema dari puncak pohon besar suci Beringin. Dengan perlahan melodi sedih itu membuat suasana menjadi terharu bersama dengan atmosfir alam tropis.

Daftar Pustaka dari: Herwig Zahorka “Arca Domas – ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesien”

 

Kehadiran Nazi di Indonesia yang Terlupakan


BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan “kawan sejawatnya”, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa “oleh-oleh” dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.

Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.

Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.

Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami “senjata makan tuan”, dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.

Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.

Dilindungi pribumi

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.

Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.

Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai “warga sipil” di sana.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.

Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.

Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.

Saat itu, menurut dia, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka “dijaga” oleh orang Jerman. “Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata,orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan.Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu,” kata Zahorka.

Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.

Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api

Wawancara dengan Herwig Zahorka
Peperangan Hanya Membawa Kesia-siaan

TAK banyak yang tahu kalau tentara Nazi Jerman pernah datang ke Indonesia. Untuk mengetahui sekelumit sejarahnya, berikut wawancara dengan pengamat sejarah militer Jerman yang tinggal di Indonesia, Herwig Zahorka (72).

Mengapa pasukan Jerman ”berkelana” ke Timur Jauh sampai ke Indonesia?

Asas manfaat, diketahui, saat itu Jerman saling mendukung dengan Jepang dan Italia. Kebetulan, Jerman membutuhkan barang-barang untuk diimpor dengan pendapatan dari pulau yang diduduki Jepang. Repotnya, Asia Tenggara tengah diblokade Armada Sekutu, untuk menembusnya Jerman mengandalkan kapal selam sebagai cara efektif.

Jerman diperbolehkan mengambil bahan-bahan yang diperlukan di Eropa, karet, kina, timah, molybdan, wolfram, lemak, madat, yodium, dan agar-agar, serta bahan penting untuk warna cat penerbangan. Apalagi, banyak perkebunan dan pertambangan di Pulau Jawa, termasuk Jabar, yang dimiliki orang Jerman.

Di tengah tingginya nasionalisme bangsa Indonesia ingin lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang, apakah ada peran secara langsung maupun tak langsung dari pasukan Jerman?

Benar, walau tanpa sengaja. Ini terjadi tanggal 16 Agustus malam, Soekarno dengan Moh. Hatta harus membuat tulisan tangan untuk teks Proklamasi, untuk dibacakan keesokan harinya. Untuk kepastian keamanan, mereka membuatnya di tempat kediaman Laksamana Maeda.

Pagi hari 17 Agustus, teks Proklamasi diketik di sana, namun yang ada hanya mesin tik Jepang yang tak ada huruf latin. Untungnya, di Kantor Komandan Angkatan Laut Jerman di Jakarta yang saat itu masih dipimpin Mayor AL Dr. Kandeler, masih ada mesin tik dengan tombol huruf latin. Segera saja, beberapa orang langsung menuju ke sana dengan menggunakan kendaraan jip milik sekretarisnya Laksamana Maeda, Satzuki Mishima, untuk ”meminjam” mesin tik itu. Alhasil, beberapa jam kemudian, naskah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, telah dibacakan oleh Soekarno.

Dokumen Proklamasi aslinya diketik oleh Sajuti Melik dengan mesin tik Angkatan Laut Jerman. Mesin tik tersebut sekarang berada di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, namun dari sini ceritanya menjadi banyak keganjilan.

Setelah 61 tahun, kehadiran Jerman di Indonesia dapat disaksikan melalui makam di Arca Domas. Apakah pemerintah Jerman menjadikan makam itu sebagai ”aset sejarah bangsa” di luar negeri?

Tentu saja, malahan pemerintah kami sangat memperhatikan keberadaannya. Makam tentara di Arca Domas sebenarnya dapat lebih terawat lagi, karena negara kami memiliki organisasi perawatan taman makam pahlawan Jerman yang berada di seluruh dunia. Sayangnya, karena peraturan pemerintah Indonesia tidak memperbolehkan makam di Arca Domas dapat dibeli.

Adalah rasa kedekatan dengan para pahlawan bangsa kami walau jauh dari tanah air, karena ”kami memiliki sahabat” yang kini sudah menyatu dengan atmosfer alam tropis. Walaupun kemudian, keberadaan makam di Arca Domas menyadarkan banyak pihak, peperangan akhirnya hanya membawa kesia-siaan. (Kodar Solihat/”PR”)***

Arca Domas, Kenangan Tentara Jerman di Indonesia

JIKA ditempuh dari jalan raya Cikopo Selatan, perlu waktu sekira setengah jam untuk sampai ke lokasi makam di Kampung Arca Domas, Desa Sukaresmi, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Akan tetapi, kendaraan harus “berjibaku” dulu menempuh jalan berbatu tanpa aspal dengan jurang di satu sisi.

MAKAM sepuluh orang angkatan laut Nazi Jerman, dua di antaranya awak kapal selam U-195 dan U-196, di Kampung Arca Domas Desa Sukaresmi Kab. Bogor, menjadi saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia pada Perang Dunia II. Anehnya, tidak banyak warga setempat yang tahu keberadaan makam tentara Jerman tersebut. Mereka hanya tahu ada tempat pemakaman di ujung jalan. Padahal, di tempat terpencil itu terbaring jasad sepuluh tentara Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) yang meninggal di Indonesia, sesaat setelah Jepang menyerah pada Sekutu, Agustus 1945.

Luas areal pemakaman yang diteduhi pohon kamboja itu, kira-kira 300 meter persegi. Sekeliling makam ditumbuhi tanaman pagar setinggi satu meter. Pintu masuknya dihalangi pagar bambu. Dekat pintu masuk, berdiri tugu peringatan Deutscher Soldatenfriedhof yang dibangun Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta untuk menghormati prajurit Jerman yang gugur.

Mereka adalah Komandan U-195 Friederich Steinfeld dan awak U-195, Dr Heinz Haake. Lainnya adalah pelaut Jerman, Willi Petschow, W. Martens, Wilhelm Jens, Hermann Tangermann, Willi Schlummer, Schiffszimmermann (tukang kayu kapal laut) Eduard Onnen. Dua nisan terpisah adalah makam tentara tidak dikenal (Unbekannt).

Makam itu terletak di lahan Afdeling Cikopo Selatan II Perkebunan Gunung Mas. Dahulu, makam itu dirawat PT Perkebunan XII (kini PT Perkebunan Nusantara VIII) selaku pengelola Perkebunan Gunung Mas, namun sejak beberapa tahun terakhir perawatan makam dibiayai pemerintah Jerman. Lahan yang bersebelahan dengan makam tadinya areal tanaman teh dan kina. Akan tetapi, tanaman tersebut habis dijarah, beberapa tahun lalu.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka yang dihubungi “PR”, mengatakan, Letnan Friederich Steinfeld meninggal di Surabaya akibat disentri dan kurang gizi saat ditawan Sekutu. Keterangan ini diperoleh dari mantan awak U-195 yang bermukim di Austria, Peter Marl (82tahun) dan mantan awak U-195 lainnya, Martin Mueller yang datang ke makam tahun 1999.

Sedangkan Letnan Satu Laut Willi Schlummer dan Letnan Insinyur Wilhelm Jens, tewas dibunuh pejuang kemerdekaan Indonesia dalam Gedung Jerman di Bogor, 12 Oktober 1945. Kemungkinan, mereka disangka orang Belanda apalagi aksen bahasanya mirip.

Letnan Laut W. Martens terbunuh dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Bogor. Kopral Satu Willi Petschow meninggal 29 September, karena sakit saat di Perkebunan Cikopo, serta Letnan Kapten Herman Tangermann meninggal karena kecelakaan pada 23 Agustus tahun yang sama.

“Kendati saat itu terjadi salah sasaran karena disangka orang Belanda, namun kemudian banyak orang Indonesia mengenali ternyata mereka orang Jerman. Ini kemudian menjadikan hubungan tersebut menjadi persaudaraan,” kata Zahorka, pensiunan direktur kehutanan Jerman, yang bermukim di Bogor dan menikahi wanita Indonesia.

Mengenai keberadaan dua arca di makam tersebut, Zahorka mengatakan, arca-arca itu sengaja disimpan sebagai penghormatan kepada budaya warga setempat.

Warga Kampung Arca Domas, Abah Sa’ad (76 th), seorang saksi hidup peristiwa penguburan tentara Jerman di kampungnya, Oktober 1945. Saat itu, usianya 15 tahun. Ia ingat, prosesi pemakaman dilakukan puluhan tentara Nazi Jerman secara kemiliteran. Peristiwa itu mengundang perhatian warga.

“Waktu itu, masyarakat tidak boleh men-dekat. Dari kejauhan, tampak empat peti mati diusung tentara Jerman, serta sebuah kendi yang katanya berisi abu jenazah. Tentara Jerman itu berpakaian putih, dengan dipimpin seorang yang tampaknya komandan mereka karena menggunakan topi pet,” tuturnya.

Sepengetahuan Abah Sa’ad, mulanya, makam tentara Jerman itu hanya ditandai nisan salib biasa, sampai kemudian ada yang memperbaiki makam itu seperti sekarang.

Keasrian dan kebersihan makam tersebut tidak lepas dari peran penunggu makam, Mak Emma (65) yang dibiayai Kedubes Jerman dua kali setahun. ” Biasanya, setiap tahun ada warga Jerman yang menjenguk makam pahlawan negaranya itu,” ujarnya.

Namun, dia kurang tahu sejarah makam itu karena baru diboyong suaminya (pensiunan karyawan Perkebunan Gunung Mas) 10 tahun lalu. Ia meneruskan pekerjaan suaminya (alm.) menjadi kuncen.

Jakarta Pernah Disinggahi Senjata Nuklir

Reduced: 66% of original size [ 600 x 428 ] – Click to view full image

U-195 dan U-219 Nyaris Ubah Sejarah

DARI berbagai kapal selam Jerman yang beraksi di Indonesia adalah U-195 dan U-219 yang bisa mengubah sejarah di Asia-Pasifik, jika Jerman dan Jepang tidak keburu kalah. Kedua kapal selam itu membawa uranium dan roket Nazi Jerman, V-2, dalam keadaan terpisah ke Jakarta, untuk dikembangkan pada projek senjata nuklir pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Toranouke Kawashima.

Ini merupakan langkah Jerman membantu Jepang, yang berlomba dengan Amerika Serikat dalam membuat senjata nuklir untuk memenangkan Perang Dunia II di Kawasan Asia-Pasifik. Rencananya, projek senjata nuklir Jepang untuk ditembakkan ke wilayah Amerika Serikat.

Kapal selam U-195 tiba di Jakarta pada 28 Desember 1944 dan U-219 pada 11 Desember 1944. Richard Besant dalam bukunya berjudul Stalin’s Silver dan Robert K Wilcox dalam Japan’s Secret War, hanya menyebutkan, kedua kapal selam itu membawa total 12 roket V-2 dan uranium ke Jakarta.

Namun, berbagai catatan tentang diangkutnya uranium dan roket V-2 untuk Jepang itu melalui Indonesia, hanya berhenti sampai ke Jakarta. Seiring menyerahnya Jerman kepada pasukan Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, keberadaannya tidak jelas lagi.

Sementara itu, projek senjata nuklir Jepang di Hungnam, bagian utara Korea, sudah menguji senjata nuklirnya sepekan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun Jepang kesulitan melanjutkan pengembangan, karena untuk material pendukung harus menunggu dari Jerman.

Kapal selam U-195 dan U-219 kemudian dihancurkan pasukan sekutu, saat keduanya sudah berpindah tangan ke Angkatan Laut Jepang. Sebagian awak U- 95 sendiri, ada yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Indonesia.

Kapal U-195 (Type IXD1) dikomandani Friedrich Steinfeld, selama tugasnya sukses menenggelamkan dua kapal sekutu total bobot mati 14.391 GRT dan merusak sebuah kapal lainnya yang berbobot 6.797 GRT. Kapal selam itu kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta pada Mei 1945 dan berubah menjadi I-506 pada 15 Juli 1945. Kapal ini kemudian dirampas Pasukan Sekutu di Surabaya pada Agustus 1945 lalu dihancurkan tahun 1947.

Sedangkan U-219 (Type XB) dikomandani Walter Burghagen, yang selama aksinya belum pernah menenggelamkan kapal musuh. Kapal selam ini kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta, lalu pada 8 Mei 1945 berubah menjadi I-505. Usai Jepang menyerah Agustus 1945, I-505 dirampas Pasukan Sekutu lalu dihancurkan di Selat Sunda oleh Angkatan Laut Inggris pada tahun 1948.

Kisah aksi tugas kapal selam Jerman selama perang Dunia II juga menjadi ilham dibuatnya film berjudul “Das-Boot,” yang dirilis di Jerman tahun 1981. Salah satu nara sumber autentik mengenai kehidupan para awak u-boat, adalah mantan perwira pertama dari U-219, Hans Joachim Krug, yang kemudian menjadi konsultan film itu.

Tak heran, pada film berdurasi 145 menit tersebut, para awak kapal selam Jerman tergambarkan secara autentik. Pergi berpenampilan rapi namun pulang dalam keadaan dekil, maklum saja karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu di dalam air, mereka jarang mandi sehingga janggut, kumis, dan rambut pun cepat tumbuh.

U-234

Sementara itu, pada jalur pelayaran lain, U-234 yang juga dari Type XB berangkat menuju Jepang melalui Lautan Artik menjelang Mei 1945. Kapal selam itu juga mengangkut komponen roket V2 dan 500 kg uranium untuk projek nuklir pasukan Jepang, serta membawa pesawat tempur jet Me262.

Kapal U-234 membawa Jenderal Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), sejumlah rancangan senjata paling mutakhir Jerman saat itu, serta dua orang perwira Jepang. Selama perjalanan, sejumlah kapal perang dan pesawat Sekutu mencoba menenggelamkan U-234.

Usai Jerman menyerah, 8 Mei 1945, sejumlah awak U-234 memutuskan menyerah kepada pasukan Amerika Serikat. Dari sini cerita berkembang, pasukan Amerika mendapati kapal selam itu membawa uranium yang kemudian digunakan untuk projek Manhattan dalam produksi bom nuklir mereka.

Muncul kemudian spekulasi, bom nuklir yang berbahan uranium dari U-234 itu, kemudian digunakan Amerika untuk mengebom Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada Agustus 1945.

Misteri Hilangnya U-196 di Laut Kidul

DARI sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.

Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).

Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.

Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya “mengabarkan” terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.

Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.

Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.

Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.

Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.

Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.

Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.

Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.

Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.

Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah “menggelapkan” kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga Negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196.

Peta Lokasi Tenggelamnya U-Boat Masa PD II

U-168, komandan Helmuth Pich, tenggelamkan dua kapal dagang lawan total 6.568 GRT, 1 kapal perang sekutu berbobot 1.440 GRT, serta merusak kapal lainnya berbobot 9.804 GRT. Nasib akhir tenggelam di Laut Jawa pada 6 Oktober 1944 pada posisi 06.20LS, 111.28BT, akibat torpedo kapal selam Belanda, HrMs Zwaardvisch. Sebanyak 23 awak U-168 tewas dan 27 lainnya selamat, kemudian ditawan di Surabaya dan Australia.

U-183, komandan Fritz Schneewind, tenggelamkan empat kapal lawan total 19.260 GRT, dan satu kapal lawan berbobot 6.993 GRT. Kapal selam ini kemudian tenggelam di Laut Jawa, 23 April 1945, ditorpedo kapal selam Amerika Serikat, USS Besugo. Sebanyak 54 awak U-183 tewas dan hanya seorang yang selamat, yaitu Schneewind. Usai perang, ia tinggal di Padang, Sumbar sampai akhir hayatnya, karena ia lahir di sana 10 April 1917.

U-859, komandan Johann Jebsen, tenggelamkan tiga kapal lawan total 20.853 GRT. Tenggelam di Selat Malaka, 23 September 1944, pada posisi 05.46LT, 100.04BE, ditorpedo kapal selam Inggris, HMS Trenchant. Sebanyak 47 awaknya tewas dan 20 lainnya selamat.

U-537, komandan Peter Schrewe (27 Januari 1943-9 November 1944), tak menenggelamkan kapal musuh. Nasib terakhir, tenggelam bersama seluruh 58 awaknya pada 9 November 1944 di Laut Jawa bagian Timur Surabaya pada posisi 07.13 LS 115.17 BT, akibat serangan torpedo kapal selam AS, USS Flounder.

UIT-23, tadinya kapal selam Italia, Reginaldo Giuliani, diambilalih Jerman di Singapura, 10 September 1943. Dikomandani Werner Striegler, kapal selam ini tenggelam di Selat Malaka, karena ditorpedo kapal selam Inggris, HMS Talluho. Sebanyak 26 awaknya tewas, 14 lainnya selamat, termasuk Striegler yang kemudian mendapat kapal selam baru, U-196.

U-196 dikomandani Werner Striegler, menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total 17.739 GRT. Nasib terakhir, hilang sejak 1 Desember 1944, di sekitar Selat Sunda dan Samudra Hindia Bagian Selatan Pulau Jawa, posisi pasti tak diketahui.

Kapal selam Jerman yang berpangkalan di Jakarta. Berikut u-boat, nama komandan, dan nasibnya:

U-168 Helmut Pich, Jakarta 4/10/1944, tenggelam 6/10/1944
U-181 Kurt Freiwald, Jakarta 19/10/1944, Jakarta 5/01/1945
U-537 Peter Schrewe, Jakarta 8/11/1944, tenggelam 9/11/1944
U-196 Werner Striegler, Jakarta 11/11/1944, tenggelam 30/11/1944
U-510 Alfred Eick, Jakarta 26/11/1944, Jakarta 3/12/1944
U-843 Oskar Herwartz, Jakarta 10/12/1944, Bergen 3/04/1945
U-510 Alfred Eick, Jakarta 11/01/1945, Prancis 24/04/1945
U-532 Ottoheinrich Junker, Jakarta 13/01/1945, menyerah
U-861 Juergen Oesten, Jakarta 14/01/1945, Norwegia 18/04/1945
U-195 Friedrich Steinfeld, Jakarta 17/01/1945, Jakarta 3/03/1945
U-183 Fritz Schneewind, Jakarta 22/04/1945, tenggelam 24/04/1945

Mei 18, 2009 at 8:34 pm Tinggalkan komentar


Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.