Posts filed under ‘MUSIK . MANAGER ARTIS’

MANAGER ARTIS

DIKOLEKSI DARI SINI

Ditulis oleh : Wendi Putranto (untuk majalah Rolling Stone Indonesia edisi September 2007)

copy paste dari : kabardariopa.blogspot.com (http://www.kabardariopa.blogspot.com)

Mengenal figur pengembang dan penjaga karir di industri musik

Saya asumsikan Anda telah memahami pembahasan terdahulu di rubrik Music Biz ini. Anda telah mendaftarkan nama band Anda sebagai merek resmi yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Anda telah menentukan imej yang tepat bagi band Anda dan mengerti dinamika yang terjadi di dalam band.
Anda juga telah memiliki kontrak internal band yang mengatur kerjasama antar personel di dalam sebuah band dan sudah membuat promo kit yang berguna untuk mempromosikan band Anda kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam industri musik. Entah itu label rekaman, manajer artis, penerbit musik, media massa, promotor, booking agency dan sebagainya.
Pembahasan Music Biz kali ini akan menyoroti elemen-elemen yang substansial dan signifikan bagi perkembangan karir musik Anda selanjutnya. Mereka adalah manajer artis. Merupakan elemen penting yang integral sekaligus berfungsi mewakili artis dalam mengelola dan menjaga kepentingan bisnis di dalam industri musik.
Nara sumber kita kali ini adalah figur-figur manajer artis yang secara komersial berhasil membawa klien mereka (artis solo/band) ke puncak kesuksesan di dalam peta industri musik nasional. Mereka adalah:

Andreas Wullur (Manajer Samsons): Mengawali debut profesi manajemen artis di akhir dekade ’90an dengan menjadi manajer bagi band-band rock cadas seperti Stepforward dan Seringai, Andreas Wulur kini dikenal sebagai salah satu figur kunci dibalik kesuksesan Samsons. Dibawah pengelolaannya Samsons kini tercatat dalam sejarah sebagai band dengan penjualan album rekaman terbesar di Indonesia pada tahun 2006. Begitu pula dengan kesuksesannya menjadikan Samsons sebagai ikon berbagai produk bergengsi dengan nilai kontrak kerjasama yang lucrative. Belakangan ia tengah merintis usaha firma manajemen artis baru bersama Vitalia Ramona (eks-manajer RATU).

Dhani Pette (Manajer GIGI): Mengelola manajemen GIGI sejak tahun 1995 hingga sekarang. Sosok Dani Pette merupakan kekuatan kunci dibalik kesuksesan dan bertahan lamanya karir musikal GIGI di industri musik tanahair. Ia merupakan satu dari sedikit manajer artis profesional yang menguasai teknis produksi konser dan mengawali karir dari struktur paling bawah dalam dunia showbiz. Sempat menjadi roadie, kru band, stage manager, artist coordinator hingga kini menjadi pimpinan Pos Entertainment, sebuah entertainment company di Jakarta yang memiliki bidang usaha manajemen artis, event organizing, label rekaman, TV production dan sebagainya. Ia juga tercatat masih menjabat sebagai Ketua Umum AMARI (Asosiasi Manajer Artis Indonesia ).

Anton Kurniawan (Manajer Sheila On 7): Pertama kali menjadi manajer band Sheila On 7 pada tahun 1998 di Yogyakarta. Ia merupakan manajer artis yang sukses mengelola karir musik Sheila On 7 hingga menjadi fenomena baru dalam industri musik nasional pada akhir dekade ’90an. Strategi dan taktik manajemennya membuahkan hasil terjualnya jutaan keping album Sheila On 7 beserta rangkaian tur konser yang ekstensif di seluruh pelosok tanahair. Menurut Anton, ia merupakan “manajer pertama dan mungkin terakhir” bagi Sheila On 7. Sebelumnya selama tiga tahun ia mengawali karirnya di Radio Geronimo, Yogyakarta sebagai A&R bagi program acara ajang “Musikal” (Musisi Lokal).

MANAJEMEN ARTIS

“If anyone was the fifth Beatle, it was Brian Epstein” – Paul McCartney, 1997

Apa yang diungkapkan oleh bassist The Beatles tersebut memang tidak berlebihan. Peran manajer sebagai pemandu karir artis memang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebagian artis malah menganggap manajer sebagai anggota kehormatan band diluar formasi resmi yang diketahui publik. Mengapa peran manajer begitu penting? Tentu saja, karena sebagai artis tugas utama kalian adalah total berkonsentrasi sepenuhnya untuk menciptakan karya musikal dan menampilkannya secara profesional di atas panggung.
Sementara tugas manajer artis secara garis besarnya adalah mengelola karir band hingga menangani sisi bisnis musiknya secara berkesinambungan. Sebenarnya tidak ada pemahaman atau definisi yang baku akan tugas dan fungsi manajemen artis. Masing-masing pihak memiliki pandangan tersendiri akan ruang lingkup mereka sesuai dengan kompleksitas kerja dan tahapan karir dari sang artis sendiri.
Pada umumnya dalam manajemen artis itu kita jumpai tiga jenis manajer dengan ruang lingkup pekerjaan yang berbeda, yaitu, Personal Manager, Business Manager dan Road/Tour Manager. Pada pembahasan kali ini akan lebih kita fokuskan kepada peran seorang personal manager. Tipikal personal manager (atau disingkat manajer) kebanyakan berfungsi sebagai penasihat, sahabat, analis, pengorganisir, pelaku industri hingga menjaga karir artis. Seorang manajer harus mampu melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda dengan artis. Ia juga diharapkan mampu membuat perencanaan karir yang akan diikuti oleh artis guna mencapai tujuan nantinya. Biasanya manajer juga diharapkan mampu membuat keputusan sulit yang tidak bersifat personal.
Pada pekerjaan sehari-harinya seorang personal manager melakukan kegiatan namun tidak terbatas pada hal-hal berikut ini; membuat perencanaan karir, membangun imej band, melakukan publikasi, mencarikan kontrak rekaman dengan label/penerbit musik, membina hubungan dengan jurnalis/media massa, mengatur jadwal konser/tur, rekaman, mengurus lisensi, mencarikan sponsor/ endorsement dan sebagainya.

Andreas Wullur: Tugas manajer itu mencakup semuanya. Mulai dari building image bandnya juga, berfungsi sebagai publicist juga, eksekusi teknis produksi di lapangan, mengelola keuangan,
Anton Kurniawan: Ini berdasar pengalamanku saja ya. Secara fungsional saya lebih mengakomodir dan mengelola kepentingan artis. Bagaimana saya membangun karir artis dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan band ini di industri musik.
Dhani Pette: Kalau menurut gue, di sini tulang punggung sebuah band itu ada di manajer. Pengakuan dan perlakuan terhadap manajer yang disini kurang begitu dihargai sehingga ada beberapa fungsi manajemen yang mengecil, mengerucut. Ada yang bertindak sebagai marketing atau booking agent. Ketika kami memikirkan itu semua apa saja tugas manager, banyak banget. Mengkonsep marketing plan, negosiator, operasional manajemen, membuat perencanaan karir, strategi, taktik, dan sebagainya. Ia juga penanggung jawab dan penjaga eksistensi band.

Kapan waktu yang tepat dalam mencari manajer band?
Andreas Wullur: Semenjak dia membentuk band harus segera memiliki manajer. Artis solo atau band memerlukan manajer untuk membentuk karir Anda.
Anton Kurniawan: Sejak dari awal memang sudah harus ada yang mengelola. Karena tugas artis kan lebih fokus menciptakan musik sementara urusan bisnis akan lebih baik jika ada seseorang yang mengurusnya dengan baik. Idealnya memang sejak band itu terbentuk langkah selanjutnya adalah mencari manajer artis. Dengan begitu konsentrasi mereka tidak akan terpecah-pecah.
Dani Pette: Dari awal band pertama kali terbentuk itu lebih bagus. Sebaiknya memang langsung mencari manajer yang profesional. Gue sering ditawari untuk menjadi manajer band lain biasanya akan gue lihat dulu sebelumnya. Kalau memang naluri gue bilang bagus paling tidak gue sudah memiliki tim manajemen di Pos Entertainment untuk menghandlenya.

Bagaimana mencari manajer artis yang kompeten? Kriteria apa saja?
Andreas Wullur: Kriteria manajer yang pertama adalah jujur. Dengan begitu nggak akan ada hambatan ke depannya nanti. Artisnya juga nggak perlu ikut campur lagi karena manajemennya nanti bisa fokus mengarahkan karir mereka. self motivated juga penting. Orangnya harus bisa menganalisa dan melakukan antisipasi. Gue hanya melihat dari itu saja.
Anton Kurniawan: Tidak setiap band memiliki kriteria manajer yang sama pastinya. Aku ngelihatnya lebih cocok-cocokan saja. Untuk langkah awal lebih bagus figur yang sudah dikenal, tahu karakter orangnya bagaimana. Masalah pengalaman relatif saja. Karena awalnya aku tidak memiliki pengalaman manajerial artis apapun.
Dhani Pette: Basic-nya ia mengerti bagaimana membangun karir band. Dia tahu secara administratif apa saja yang harus dilakukan, mampu membuat perencanaan, menjalankan aktivitas manajemen sekaligus melakukan pengontrolan, melakukan analisa. Kriteria penting lainnya adalah ia harus tahu musik juga. Kalau ia tidak mengerti musik akan susah nantinya. Wawasan dan network bisnis yang luas.

KOMISI MANAJER ARTIS

Tidak ada standar yang baku dalam menentukan komisi bagi manajer artis di Indonesia. Semuanya tergantung negosiasi dan kesepakatan yang dicapai antara pihak artis dengan manajer. Biasanya ada beberapa ketentuan umum yang berlaku di antara: 1) Komisi 15% dari seluruh pemasukan kotor bagi band (gross income) 2) Komisi 15-20% dari seluruh pemasukan bersih bagi band (net income) 3) Komisi yang dipukul sama rata antara artis dengan manajemen.

Andreas Wullur: Kalau dilihat dari persentasenya, umumnya komisi standar adalah 20% dari pendapatan kotor artis ( gross income –Red). Sepintas kalau dilihat memang besar bahkan lebih besar dari komisi personel band. Namun sebenarnya tugas yang diemban manajer sangat berat karena jam kerjanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kapanpun ia ditelepon harus siap. Biasanya di manajemen itu diterapkan pula sistem sliding scale. Ada target pemasukan bagi manajernya. Andaikan dalam sebulan ia menghasilkan Rp 100 juta maka ia berhak menerima komisi 15% namun kalau berhasil melampui target lebih dari itu maka ia berhak meraih komisi 20%. Ini memotivasi manajernya untuk lebih giat mencari job bagi bandnya.
Anton Kurniawan: Kalau di Sheila On 7 kami memakai sistem komisi. Pasti masing-masing band memiliki pembagian persentase yang berbeda-beda. Sementara kalau di Sheila On 7 antara artis dengan manajer mendapat pembagian persentase komisi yang sama. Masing-masing mendapat komisi 20%. Sebelum mereka signed kontrak dengan Sony Music Indonesia mereka menawarkan aku untuk menjadi manajer mereka. Aku waktu itu siap kapan saja untuk men- support Sheila On 7. Saat itu aku malah tidak membicarakan pembagian komisi dan sebagainya, setelah dikontrak major label baru aku membicarakan masalah itu. Waktu itu kami berpikir karena berjuang dari nol secara bersama-sama, akhirnya kami sepakati untuk membagi komisinya pun sama rata.
Dhani Pette: Gue punya pendekatan sendiri untuk hal ini di Pos Entertainment. Idealnya dalam menentukan komisi kita buka-bukaan aja. Misalnya, ada satu artis apply ke perusahaan manajemen gue dan ia menawarkan komisi 20% bagi gue. Katakanlah untuk artist fee sekali show artis itu Rp 40 juta, berarti gue mendapat bagian Rp 8 juta. Nah, dari Rp. 8 juta itu gue tanya apa aja yang artis harapkan dari manajemen gue? Apakah ia mengharapkan manajemen, kru, sound engineer sampai overhead cost dari pihak gue yang menyediakan sekaligus membayarnya? Jika ya kemudian gue rinci budgetnya dan jelaskan ke dia secara apa adanya. Dengan pengeluaran sebesar itu apakah masuk akal kalau komisi yang gue dapat 20%? Biasanya akan terjadi re-negosiasi nantinya. Dengan GIGI sendiri gue menerima komisi 35% dan band 65%. Komisi ini dari pendapatan bersih setelah dipotong cost produksi. Dan nilainya itu kita gariskan. Misalnya, fee sebesar Rp 25-35 juta, jika dibawah Rp 25 juta dipotong biaya operasional dulu dari pendapatan kotor setelah itu komisi baru dibagi rata. Apabila ada pendapatan dari iklan yang rata-rata pembayarannya di belakang artis nggak perlu khawatir karena manajemen akan selalu membayar fee mereka di depan. Biarkan nanti yang berurusan dengan penagihan klien pihak manajemen band.

KONTRAK ARTIS – MANAJEMEN

Idealnya antara pihak artis dengan manajemen sejak awal bekerjasama harus memiliki kontrak resmi yang mengatur pola kerjasama dan segala hal yang relevan dengan manajemen selama periode kurun waktu tertentu. Kontrak itu biasanya memuat hak dan kewajiban, jangka waktu perjanjian, komisi, penalti, sanksi dan sebagainya yang mengatur semuanya. Sebelum menandatangani kontrak manajemen disarankan agar kalian mempelajarinya terlebih dulu atau berkonsultasi dengan pihak yang berpengalaman, misalnya pengacara musik/hiburan atau artis yang memiliki manajemen.
Banyaknya kasus penggelapan uang artis oleh manajer yang sering terjadi belakangan ini biasanya karena kedua belah pihak tidak memiliki kontrak yang mengatur jalannya kerjasama diantara mereka. Disarankan pula untuk tidak menjalin kerjasama dengan manajer yang meng-handle terlalu banyak artis dalam roster-nya namun tidak memiliki tim kerja.
Andreas Wullur: Kontrak perlu untuk membatasi ruang gerak masing-masing fungsi sehingga bisa dipaparkan dengan jelas dalam kontraknya. Pembagian kerjanya menjadi jelas dan mencegah kalau ditengah-tengah kerjasama terjadi sengketa semua sudah diatur secara tertulis. Cuma kalau gue sendiri tidak pernah sign kontrak dengan band manapun. Dengan Samsons sendiri gue nggak ada kontrak. Sejak awal gue bilang ke mereka akan bekerja dengan baik di sini dan tidak akan membebankan mereka dengan kontrak. Kalau misalnya mereka senang dengan pekerjaan gue, kami bisa berteman dan berbisnis selamanya tapi kalau nggak suka dengan pekerjaan gue, ya udah, kita ngopi-ngopi aja dan bisnisnya off.
Anton Kurniawan: Melihat kondisi sekarang ini hal itu sangat perlu, bahkan harus. Karena kehidupan di dunia entertainment dan industri musik sendiri sangat dinamis. Oleh karenanya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik secara resmi, secara tertulis, ada penjelasan yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak. Di Sheila On 7 sendiri hingga sekarang tidak ada kontrak seperti itu. Pertimbangannya di awal karir dulu manajemen band itu termasuk bagian dari keluarga juga, jadi yang kami pegang adalah komitmen lisan saja. Alhamdulilah, sampai sekarang tidak ada hal-hal berat yang mengganggu kerjasama diantara kami.
Dhani Pette: Harus ada kontrak yang mengatur semuanya. Gue nggak setuju kalau nggak ada kontrak antara artis dengan manajemen. Ketika uang berbicara nantinya maka semua hubungan persahabatan bisa pecah. Apa sih susahnya membuat kontrak? Tujuannya kan untuk menata dengan baik kerjasama itu. Ketika manajemen itu telah dibentuk diharapkan juga tidak ada lagi intervensi personel band. Di GIGI tidak pernah ada personel band yang menerima job panggung sendiri, semuanya melalui manajemen.

Apa saja yang harus diatur dalam kontrak?
Andreas Wullur: Sharing-nya harus jelas. Apa saja pemasukan yang diterima oleh artis dan manajer. Apakah royalti dari penjualan fisik kaset dan CD, show, iklan, dan sebagainya. Jangka waktu kontrak dan hak serta kewajiban juga perlu dimasukkan. Kontrak sebaiknya yang membuat pihak manajer.
Dhani Pette: Pertama kerjasama itu untuk bidang apa saja. Misalnya kerjasama dengan label, membuat kontrak show, kontrak iklan, mengelola fan club dan sebagainya. Penjelasan tentang Hak dan Kewajiban masing-masing pihak juga harus dijabarkan dengan rinci berikut sanksi-sanksinya.
Setelah artis memiliki manajer apakah ia harus menyerahkan 100% urusan bisnis band kepada manajer atau menjadi pengawas juga?
Andreas Wullur: Menurut gue seharusnya di dalam kontrak antara artis dengan manajer sudah mengatur hal ini juga. Seharusnya artis memang tidak berada dalam susunan organisasi manajemennya. Seharusnya pula artis bukan pemilik modal dari manajemen bandnya. Manajemen harus independen karena jika tidak nanti akan terjadi kerancuan dalam keputusan-keputusan strategis atau taktis manajemennya. Karena artisnya punya saham juga di band maka mereka otomatis punya hak untuk mengambil keputusan yang bertentangan dengan manajemen. Posisi antara artis dengan manajer seharusnya sejajar. Fungsi masing-masing pun sudah jelas. Dengan adanya kontrak tadi artinya pihak artis telah menunjuk manajemen secara profesional untuk mewakili kepentingan bisnis mereka. Artis sudah paham kapasitas dan kemampuan manajemen mereka. Kalau sudah menunjuk manajer tetapi artis masih ikut mengatur juga lalu untuk apa ada manajer? Mending artisnya aja merangkap sebagai manajer juga.
Anton Kurniawan: Konsep pengawasan tetap harus dilakukan. Kedua belah pihak tidak boleh melepaskan pengawasan bisnis mereka. Lebih baik kedua belah pihak saling mengawasi, saling koordinasi, saling konfirmasi, saling update perkembangan masing-masing.
Dhani Pette: Mereka 100% menyerahkan urusan bisnis ke gue. Sama sekali tidak intervensi. Mengapa? Karena mereka bukan pebisnis yang baik. Yang gue sedih, setiap akhir tahun gue kasih laporan jarang mereka baca, percaya aja, katanya. Lagipula sekarang apa yang ingin dikorupsi di dalam manajemen ini? Kegiatannya itu-itu aja, nilai kontraknya jelas dan sebagainya. Banyak terjadinya kasus manajer melarikan uang artisnya itu karena di awal kerjasama mereka nggak ada kontrak yang mengatur segalanya.

SIFAT HUBUNGAN ARTIS – MANAJEMEN

Hubungan kerjasama antara artis dengan manajer selayaknya tidak hanya menjadi hubungan bisnis profesional semata. Akan lebih baik jika hubungan tersebut juga mencakup hubungan personal atau pertemanan di antara keduanya. Jika Anda telah menemukan kandidat manajer yang potensial cobalah untuk menyusun kontrak kerjasama selama enam bulan terlebih dahulu. Tujuannya untuk melihat apakah masing-masing pihak cocok atau tidak untuk bekerjasama dalam jangka panjang.
Namun patut diingat juga agar tidak merekrut teman, temannya teman atau saudara atau anggota keluarga jika mereka tidak memiliki pengalaman menjadi manajer artis. Umumnya mereka tidak mengerti bagaimana bisnis musik berjalan atau tidak memiliki kontak bisnis di industri musik. Jika Anda terpaksa harus merekrut teman untuk menjadi “manajer artis” pastikan saja itu hanya untuk sementara hingga manajer yang benar-benar profesional ditemukan.

Andreas Wullur: Hubungan artis dengan manajer harus mencakup kedua-duanya, personal dan bisnis. Pintar-pintarnya Anda memposisikan diri aja. Tahu kapan saat berdiri sebagai businessman dan teman. Beda dengan kerja di perusahaan umum. Antara CEO dengan karyawan paling rendah strukturnya pasti jarang bertemu dan tidak saling mengenal. Kalau di band ada ikatan emosional pula di dalamnya. Hampir setiap hari kita pasti bertemu dengan semuanya – artis, kru, manajer.
Anton Kurniawan: Mungkin bisa dibilang hubungan kami 70% sifatnya personal dan sisanya bersifat bisnis. Mungkin karakter hubungan di band ini lebih mengutamakan masalah personalitas. Tetap ada unsur bisnis juga walau tidak dominan. Bisa dibilang sifat hubungannya itu berlandaskan azas kepercayaan dan kekeluargaan.
Dhani Pette: Pertemanan dulu. Pertama kali gue berteman dengan Budjana di band jazz dia. Pada saat gue dipanggil ke GIGI hubungannya bukan pertemanan lagi karena mereka melakukan approach secara profesional. Gue sempat diaudisi. Mereka bilang, “Dan, kalau elo megang GIGI apa yang bakal elo lakukan?,” “Dan, kami punya duit nih apa yang akan elo lakukan?” Gue jabarkan aja semua program gue. Akhirnya semua itu kami bakukan di atas kertas. Gue nggak pernah menempatkan posisi gue di atas atau di bawah artis dalam kerjasama ini. Kami sejajar. Kami sama-sama memiliki kontribusi di band ini. Intinya, hubungan gue dengan GIGI sudah menempuh banyak tahapan. Dari hubungan tidak profesional, profesional sampai sekarang tidak profesional lagi. Sekarang lebih mementingkan ikatan emosional dan personal.

MANAJER ARTIS BUKAN BOOKING AGENT

Dalam menjalankan peran sebagai manajemen artis diharapkan manajer juga memahami perbedaan deskripsi kerja antara manajemen artis dengan booking agent . Yang sering terjadi belakangan adalah ketika manajer melupakan fungsi utamanya dalam melakukan pengelolaan dan pengembangan karir artis dan lebih sibuk memburu job manggung yang seharusnya menjadi porsi kerja booking agent.
Anton Kurniawan: Akan lebih baik jika keduanya dipisah. Fungsi manajerial dan pengembangan karir artisnya akan lebih total nantinya. Mungkin untuk band yang sedang dan sudah maju akan lebih baik memisahkan kedua fungsi itu tapi kalau band yang baru memulai dan belum terlalu sibuk atau repot maka fungsi manajerial bisa digabung dengan booking agent.
Dhani Pette: Manajer di sini kebanyakan belum bisa memisahkan fungsi manajemen makanya semuanya digabung jadi satu. Seharusnya dipisah. Siapa person in charge untuk booking, siapa yang mengurus teknis produksi tur, siapa yang mengelola keuangan dan siapa yang berhak mengeluarkan hingga ke bagian gudang sendiri. Itu semua kan urusan internal manajemen. Kalau di luar negeri manajer band yang mencarikan booking agency yang tepat untuk bandnya.

ARTIS VS MANAJEMEN

Konflik internal antara artis dengan manajer sudah sering kita dengar terjadi di sini. Yang paling umum adalah ketika manajer buron karena melarikan uang sang artis. Hal ini sebenarnya dapat dihindari jika antara artis dengan manajer sejak awal kerjasama memiliki kontrak kerjasama yang mengatur hak dan kewajiban serta fungsi administratif dalam manajemen artis.
Jika terjadi konflik antara artis dengan manajer, apa saja yang harus dilakukan?
Dhani Pette: Gampang. Diteruskan kerjasamanya atau pisah aja secara baik-baik. Yang mengawinkan kan kertas kontrak kerjasama antara artis dengan manajer di awalnya tadi. Kalau terjadi wanprestasi di antara kami ya tinggal dibicarakan aja. Pisah secara baik-baik. Jujur, gue sedikit tersinggung ketika dengar kabar manager ini melarikan uang artis itu. Kenapa bisa terjadi kasus seperti ini? Ternyata setelah ditelusuri hal-hal basic seperti kontrak, pembagian hak dan kewajiban ternyata belum diterapkan. Seharusnya setelah masalah internal beres baru dia keluar menjalankan fungsinya sebagai manajer.

LABEL REKAMAN VS MANAJEMEN ARTIS

Belakangan ini sebuah fenomena yang menarik terjadi di dalam industri rekaman kita. Berbagai label rekaman internasional dan lokal ramai-ramai membuka divisi baru di dalam bisnis mereka: Manajemen Artis. Biasanya dealnya seperti ini: Setiap artis baru yang ditawarkan kontrak rekaman nantinya diwajibkan memberi komisi sekian persen bagi label dari setiap pemasukan yang mereka dapat dari pementasan, merchandise, iklan, sponsorship dan sebagainya. Jika pihak artis menolak untuk menerima klausul seperti ini maka biasanya kerjasama dengan label tidak akan berlanjut.
Mengapa? Karena penjualan fisikal rekaman kaset dan CD turun drastis setiap tahunnya hingga menyebabkan mereka terpaksa mengambil langkah darurat seperti ini untuk menghindar dari kebangkrutan. Seperti diketahui, income utama label rekaman memang sangat tergantung dari penjualan rekaman. Memang begitu model bisnisnya sejak puluhan tahun yang lalu.
Andreas Wullur: Label-label rekaman membuka divisi manajemen artis karena mereka merasa sudah merilis album artis, membesarkan karir artis, itu makanya mereka merasa juga punya hak atas artis tersebut. Ini langkah yang salah karena nantinya pasti akan terjadi conflict of interest. Karena manajer artisnya berada di bawah kendali label rekaman sebagai pihak yang membayar gaji mereka. Apabila terjadi konflik antara label dengan artis maka manajer akan berpihak kemana? Seharusnya fungsi awal manajer kan menjaga kepentingan artisnya. Gue pikir upaya label membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka nggak akan efektif. Nggak akan berjalan dengan baik kinerjanya. Kalau ada artis yang menandatangani kontrak dengan major label berikut hak untuk mengelola manajemen artis maka itu gue rasa bodoh aja. Idealnya label rekaman itu bekerjasama dengan firma-firma manajemen artis untuk hal seperti ini.
Anton Kurniawan: Wah, kalau aku melihat hal itu akan membunuh tugas manajer. Label killed the manager (Tertawa). Mungkin karena tren industrinya sekarang sudah seperti itu. di saat penjualan fisik tidak mencapai target sehingga label harus menyibukkan diri dengan membangun divisi artis manajemen baru karena secara income akan ada pemasukan baru nantinya. Selain itu aku melihat apakah manager yang mengelola artis di label tersebut jumlahnya seimbang atau tidak? Takutnya nanti akan terjadi kecemburuan karena label hanya sibuk mengurusi artis yang laku saja sementara masih ada puluhan artis lain di label tersebut. Tidak akan optimal kerjanya nanti.
Dhani Pette: Gue jujur aja, nggak setuju. Kebanyakan label rekaman itu nggak mengerti bagaimana mengelola manajemen artis. Yang sangat berbahaya mereka membangun manajemen artis hanya untuk menutupi menurunnya pemasukan dari penjualan rekaman fisikal, hanya itu aja yang mereka pikirkan. Karir artisnya nggak diurus sementara mereka terus menerima komisi 25%. Kasihan artisnya, tertindas! Misalnya, ada sebuah band ingin merilis album, sebuat saja nama bandnya The Kiriks. Setelah albumnya rilis label menggandeng kerjasama dengan sebuah produk rokok. Mereka dipromosikan oleh rokok tersebut, label senang karena budget promosi mereka utuh dan sebenarnya manajemen artis tidak ada ikatan dengan rokok. Ketika selesai masa promosi, The Kiriks ingin bekerjasama dengan rokok lain, ternyata nggak bisa. Rokok lain melihat mereka sebelumnya telah menjadi ikon rokok tersebut dan akhirnya tidak mau mendukung band ini.
Apakah akan terjadi conflict of interest nantinya?
Anton Kurniawan: Aku punya contoh kasus tentang hal ini. Jagostu, band barunya Eross, kebetulan manajemen artisnya dipegang label (Sony BMG Music Indonesia –Red). Memang seperti itu kesepakatan di kontrak awalnya. Karena aku tidak memegang Jagostu dan hanya menangani Sheila On 7 akhirnya kami sering konflik mengenai schedule. Karena yang mengatur jadwal Jagostu pihak label, otomatis jadinya sering berbenturan. Sudah beberapa kali hal ini terjadi. Di saat Sheila On 7 ada jadwal ternyata Jagostu juga ada jadwal. Sudah lebih dari tiga kali benturan jadwal ini terjadi. Biasanya karena ada jadwal yang masuk last minute dari Jagostu akhirnya Sheila On 7 mengalah. Kami terpaksa mengalah karena melihat Jagostu memang dalam masa promo album baru. Sheila On 7 sendiri akhirnya memilih tidak jalan show dan tidak menggunakan additional player.

Box I:

APA YANG WAJIB DIKETAHUI DARI CALON MANAJER?

Jangan sekali-kali membeli kucing dalam karung! Begitupula halnya yang berlaku di dalam mencari dan memilih manajer artis yang tepat bagi band Anda. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan sangat berguna dalam misi perburuan manajer artis bagi band Anda nantinya. Direkomendasikan!
• Apakah ia memiliki passion terhadap musik?
• Seberapa berpengalamankah dirinya?
• Siapa saja artis yang sukses setelah ia manajeri?
• Apa latar belakangnya (pendidikan, profesi, pribadi, dsb.)?
• Telah berapa lama ia berkecimpung di industri musik?
• Reputasinya baik atau buruk?
• Apakah ia tipe business manager atau personal manager?
• Apakah ia dapat bekerjasama secara profesional dengan label rekaman?
• Berdomisili dimana (Jakarta, Bandung , Bali, dsb.) ?
• Berapa banyak artis/band yang dimanajeri olehnya?
• Apakah ia tipe manajer yang ambisius demi mencapai sukses komersial?
• Apakah ia memiliki kontak bisnis dengan jaringan promotor/event organizer, booking agency, merchandise, media massa/jurnalis musik, publicist, dsb.?
• Apakah Anda menyukai kepribadiannya?
• Apakah Anda menghormati opini dan selera musiknya?
• Apakah ia bertanggungjawab? Negosiator yang baik? Memiliki tipikal pembuat keputusan?
• Seberapa terorganisirkah dirinya? Memiliki kantor manajemen?
• Apakah ia pernah bekerjasama dengan label rekaman atau penerbit musik (publisher) sebelumnya?
• Berapa usia dirinya?
• Apakah ia serius bergelut di industri musik? Hanya untuk bersenang-senang atau sebagai profesi?
• Apakah ia menyukai musik Anda? Apakah ia mengikuti perkembangan tren musik?
• Kerjasama manajemen seperti apa yang ia inginkan? Untuk berapa lama? Berapa komisinya?

(terima kasih untuk Wendi Putranto atas tulisannya dan untuk Andre James Oscar Sumual a.k.a Opa – manajer The Titans atas ijin copy paste nya dari blog kabardariopa.blogspot.com)

MAJU TERUS MUSIK INDONESIA !!!

[/url]
_________________
Nawang Utomo
T en T musik / PT. Tri Nada Tunggal
Jl. Summagung III blok K 5 / 1 A
Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara 14240

Mei 18, 2009 at 9:07 pm Tinggalkan komentar


Kalender

April 2014
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.