Archive for Mei, 2009

RIWAYAT SANTA MARIA

Kesaksian Penginjil mengenai Yesus dan Maria

 Matius.
Mat 1:1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
Mat 1:2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
Mat 1:3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,
Mat 1:4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,
Mat 1:5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,
Mat 1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
Mat 1:7 Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,
Mat 1:8 Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,
Mat 1:9 Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,
Mat 1:10 Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia,
Mat 1:11 Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel.
Mat 1:12 Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel,
Mat 1:13 Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor,
Mat 1:14 Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud,
Mat 1:15 Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub,
Mat 1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.
Mat 1:17 Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus.

Mat 1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
Mat 1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Mat 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Mat 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”
Mat 1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:
Mat 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” –yang berarti: Allah menyertai
kita.Mat 2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
Mat 2:2 dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Mat 2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
Mat 2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
Mat 2:5 Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
Mat 2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”


Lukas.


Luk 1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
Luk 1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
Luk 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
Luk 1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
Luk 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Luk 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Luk 1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
Luk 1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
Luk 1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”
Luk 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Luk 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
Luk 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
Luk 1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Luk 1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?
Luk 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.
Luk 1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”
Luk 1:46 Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan,
Luk 1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
Luk 1:48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,
Luk 1:49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.
Luk 1:50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Luk 1:51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Luk 1:52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Luk 1:53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa;
Luk 1:54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya,
Luk 1:55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”

Luk 2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud–
Luk 2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
Luk 2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
Luk 2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
Luk 2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
Luk 2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
Luk 2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
Luk 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Luk 2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
Luk 2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
Luk 2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Luk 2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,
Luk 2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”,
Luk 2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Luk 2:25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,
Luk 2:26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Luk 2:27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,
Luk 2:28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:
Luk 2:29 “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,
Luk 2:30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
Luk 2:31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
Luk 2:32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”
Luk 2:33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.
Luk 2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
Luk 2:35 –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Yohanes.
Yoh 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Yoh 1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Yoh 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Yoh 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Yoh 1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Yoh 1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
Yoh 1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
Yoh 1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

Yoh 1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Yoh 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yoh 1:15 Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”
Yoh 1:16 Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
Yoh 1:17 sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
Yoh 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Yoh 1:19 Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”

7 OKTOBER : PESTA SANTA PERAWAN MARIA RATU ROSARIO

Pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang semua pelabuhan Katolik di Eropa. Paus Pius V yang pada waktu itu duduk di Tahta St. Petrus di Roma menyerukan supaya semua orang Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada Turki.

Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari aramada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terus-menerus.

7 Oktober 1571 pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 5.30 sore. Mukjizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit, tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh. Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan sebagai Hari Raya Rosario.

15 JANJI BUNDA MARIA BAGI MEREKA YANG SETIA BERDOA ROSARIO

1. Mereka yang dengan setia mengabdi padaku dengan mendaraskan Rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna.
2. Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi mereka semua yang mendaraskan Rosario.
3. Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan memenaklukkan kesesatan.
4. Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan memperolehkan bagi jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk mendamba hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri mereka dengan sarana ini.
5. Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa Rosario tidak akan binasa.
6. Ia yang mendaraskan rosario dengan khusuk, dengan merenungkan misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan tidak akan menghukumnya dalam keadilan-Nya, ia tidak akan meninggal dunia tanpa persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan rahmat dan layak bagi kehidupan kekal.
7. Mereka yang memiliki devosi sejati kepada Rosario tidak akan meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja.
8. Mereka yang dengan setia mendaraskan Rosario, sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan rahmat Tuhan yang berlimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati ganjaran pada kudus di surga.
9. Aku akan membebaskan mereka, yang setia berdevosi Rosario, dari api penyucian.
10. Putera-puteri Rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang tinggi di surga.
11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan mendaraskan Rosario.
12. Aku akan menolong mereka semua yang menganjurkan Rosario Suci dalam segala kebutuhan mereka.
13. Aku mendapatkan janji dari Putra Ilahiku bahwa segenap penganjur Rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal.
14. Mereka semua yang mendaraskan Rosario adalah anak-anakku, saudara dan saudari Putra tunggalku, Yesus Kristus.
15. Devosi kepada Rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luh

 

Ratu Rosario

“Berdoalah Rosario setiap hari… Berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa… Akulah Ratu Rosario… Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang.”

Pesan Bunda Maria dalam penampakan kepada anak-anak di Fatima

Apa itu Rosario?

Asal-usul Rosario

APA ITU ROSARIO?

Rosario berarti “Mahkota Mawar”. Bunda Maria menyatakan kepada beberapa orang bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka memberinya sekuntum mawar yang indah dan setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya sebuah mahkota mawar. Mawar adalah ratu semua bunga, jadi Rosario adalah ratu dari semua devosi, oleh karenanya rosario adalah devosi yang paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna karena di dalamnya terkandung warta keselamatan yang mengagumkan.

Sesungguhnya, dengan Rosario kita merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih dan mulia dalam kehidupan Yesus dan Maria. Rosario adalah doa yang sederhana, sangat sederhana seperti Maria. Rosario adalah doa yang dapat kita doakan bersama dengan Bunda Maria, Bunda Tuhan. Dengan Salam Maria kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Bunda Maria senantiasa mengabulkan permohonan kita. Ia menyatukan doanya dengan doa kita. Oleh karena itu, rosario menjadi doa yang ampuh sebab apa yang Bunda Maria minta, ia pasti menerimanya. Yesus tidak pernah menolak apa pun yang diminta BundaNya.

Di setiap penampakan, Bunda Surgawi meminta kita untuk mendaraskan Rosario sebagai senjata ampuh melawan kejahatan, dan sarana pembawa damai sejahtera. Dengan doamu digabungkan dengan doa Bunda Surgawi, kamu dapat memperoleh rahmat yang besar untuk menghasilkan pertobatan. Setiap hari, melalui doa, kamu dapat mengusir dari dirimu sendiri dan dari tanah airmu banyak bahaya dan kejahatan. Tampaknya, Rosario hanyalah doa yang diulang-ulang, tetapi sesungguhnya Rosario itu seperti dua orang yang saling mengasihi yang setiap kali saling mengucapkan: “Aku mengasihimu”…

Keseluruhan Rosario terdiri dari lima belas misteri. Dalam satu misteri didaraskan sepuluh Salam Maria untuk menghormati suatu misteri dalam kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria.
Biasanya kita mendaraskan lima misteri sekaligus sambil merenungkan suatu peristiwa.
Misteri-misteri dapat didoakan sebagian untuk kemudian dilanjutkan kembali, hingga satu peristiwa lengkap didaraskan dalam hari yang sama.
Di setiap misteri yang terdiri dari sepuluh Salam Maria, meditasi dapat dilakukan di setiap manik-manik yang mewakili satu Salam Maria.

ASAL USUL ROSARIO

Karena Rosario dirangkai -terutama dan pada hakekatnya- dari Doa Yesus dan Salam Malaikat, yaitu Bapa Kami dan Salam Maria, maka tanpa ragu-ragu kita mengakui doa itu sebagai doa utama sekaligus devosi utama umat beriman. Doa itu telah dipakai berabad-abad lamanya semenjak zaman para rasul dan murid-murid hingga sekarang ini.

Namun baru pada tahun 1214, Gereja menerima dan mengakuinya dalam bentuknya yang sekarang ini, serta mendaraskannya menurut metode yang kita pakai sekarang ini. Doa ini diwariskan kepada Gereja oleh St. Dominikus, pendiri Ordo Para Pengkotbah, yang menerimanya langsung dari Bunda Perawan Terberkati sebagai sarana yang ampuh untuk mempertobatkan kaum bidaah Albigensia dan pendosa-pendosa lainnya. Sehubungan dengan itu saya mau menceritakan kepada anda kisah St. Dominikus menerima Rosario Suci itu. Kisah ini ditemukan di dalam buku termasyhur Beato Alan de la Roche berjudul De Dignitate Psalterii.

Menyadari bahwa gawatnya dosa-dosa umat merintangi pertobatan kaum bidaah Albigensia, Santo Dominikus mengasingkan diri ke sebuah hutan dekat kota Toulouse. Di sana ia berdoa tak henti-hentinya selama tiga hari tiga malam. Selama itu, ia tidak berbuat apa-apa selain berdoa sambil menangis, dan dengan tekun mengusahakan penebusan dosa demi meredakan kemurkaan Allah yang Mahakuasa. Ia berdoa dan bermatiraga dengan pengendalian diri yang sungguh-sungguh sehingga badannya menjadi lemah dan rapuh. Akhirnya ia jatuh sakit parah. Pada saat itulah Bunda Maria, didampingi oleh tiga malaikat, menampakkan diri kepadanya dan berkata: “Dominikus yang terkasih! Tahukah engkau senjata ampuh yang dipakai Tritunggal Mahakudus untuk membaharui dunia ini?” Jawab Santo Dominikus, “Oh, Ibu, engkau tahu senjata itu jauh melebihi saya, karena di samping Puteramu Yesus Kristus, engkau sudah selalu menjadi sarana utama keselamatan kami.” Lalu Bunda Maria menjawab: “Aku mau engkau mengetahui bahwa dalam peperangan semacam ini, alat pelantak yang ampuh itu ialah Salam Malaikat, yang merupakan batu fundasi Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kalau engkau mau menemui jiwa-jiwa kaum beriman yang bersikap keras, dan memenangkan mereka bagi Allah, wartakanlah mazmurku.”

Dominikus merasa terhibur lalu bangun. Terbakar oleh semangatnya untuk mempertobatkan orang-orang di daerah itu, ia mendirikan sebuah katedral. Pada suatu hari, malaikat-malaikat yang tak kelihatan membunyikan lonceng-lonceng untuk mengumpulkan orang-orang di daerah itu. Lalu Dominikus mulai berkhotbah kepada mereka.

Pada awal khotbahnya terdengar letusan halilintar yang menggemparkan, bumi bergoncang, matahari tak bersinar, dan guntur serta halilintar menggelegar sambung-menyambung membuat semua orang ketakutan. Mereka semakin takut tatkala memandang gambar Bunda Maria mengangkat tangannya ke surga sebanyak tiga kali untuk menurunkan murka Allah atas mereka apabila mereka tidak mau bertobat, tidak mau merobah hidup mereka, dan tidak mau mencari perlindungan dari Bunda Allah yang kudus.

Dengan cara ajaib ini Tuhan bermaksud menyebarluaskan devosi baru kepada Rosario Suci, dan membuatnya lebih dikenal oleh semua orang. Karena doa Dominikus, halilintar itu mulai reda berangsur-angsur, sehingga ia dapat melanjutkan kotbahnya. Dengan tegas dan mendesak, ia menjelaskan nilai dan pentingnya rosario suci sehingga hampir semua orang Toulouse memeluknya dan berjanji untuk meninggalkan kepercayaan mereka yang salah. Dalam waktu yang begitu singkat terjadilah perubahan besar di kota itu. Umat mulai menghayati kehidupan Kristiani, dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka.

(Sumber: “Rahasia Rosario”, judul asli: The Secret of the Rosary by St Louis-Marie Grignion de Montfort, diterjemahkan oleh B. Mali, Penerbit Obor)

 

Bunda Pertolongan Orang Kristen

Dalam tahun 1571 sebuah armada Turki yang luar biasa besar berlayar menuju Eropa. Sasarannya menaklukkan Kota Abadi Roma. Dari pihak Eropa dikerahkan sebuah armada gabungan, namun kecil jumlahnya dan sederhana persenjataannya, dipimpin oleh Don Yuan dari Austria.

Dalam tahun 1570, Uskup Agung Montufor dari Meksiko menyuruh dibuatkan reproduksi gambar Bunda Maria Guadalupe yang sebelum dikirim kepada Raja Philip II dari Spanyol disentuhkan pada gambar aslinya. Gambar kecil itu diserahkan kepada Admiral Giovani Doria dan disimpan dalam kabin admiral selama pertempuran yang hebat berlangsung di Lepanto. Ia berkata, “Mari kita panjatkan doa mohon bantuan doa Maria untuk menyelamatkan armada kita dalam pertempuran yang jelas-jelas merupakan kehancuran di pihak Barat.”

Waktu itu Pimpinan Gereja tertinggi adalah Paus Pius V. Beliau menyerukan kepada semua orang Katolik di Eropa untuk memohon bantuan Bunda Allah dengan gelarnya Pertolongan Orang Kristen dengan berdoa rosario tanpa henti. Umat Katolik menanggapi seruan Paus dan berdoa rosario 24 jam terus-menerus.

Dalam saat-saat yang amat kritis, pada saat pertempuran berat sebelah dan armada Kristen tak berdaya, tiba-tiba angin yang amat besar datang dan bertiup menerjang armada Turki. Armada yang kuat itu tenggelam dan hancur berantakan. Semestinya berita itu baru sampai di Roma beberapa hari kemudian, tetapi aneh, Paus tiba-tiba berkata, “Marilah kita mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Allah; kemenangan sudah kita capai!” Kata-kata Paus itu dicatat dan disegel. Dua minggu kemudian utusan Don Yuan tiba di Roma membawa berita gembira tersebut. Isinya mengenai kemenangan tepat pada saat Paus mengumumkannya di Roma yaitu tanggal 7 Oktober 1571.

Satu hari penuh dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria Bunda Segala Kemenangan. Tahun berikutnya 7 Oktober ditetapkan sebagai Pesta Ratu Rosario Yang Tersuci. Pada tahun 1815, seruan Santa Perawan Maria Pertolongan Orang Kristen ditambahkan dalam Litani Bunda Maria dari Loretto.

MIMPI SANTO YOHANES BOSCO

Mengenai Santo Yohanes Bosco, Paus Pius XI pernah menyatakan: “Untuk Don Bosco, hal yang luar biasa menjadi biasa!” Di antara hal-hal luar biasa yang dianugerahkan Allah kepadanya adalah karunia membaca jiwa seseorang, nubuat, serta mimpi-mimpi yang ternyata berupa visiun (penglihatan, penampakan).

Don Bosco mendapat visiunnya yang pertama ketika berusia sembilan tahun dan kemudian banyak visiun-visiun yang diterimanya sepanjang hidupnya sebagai imam. Pada tahun 1844, Bunda Allah menampakkan diri kepada Don Bosco dan minta supaya didirikan sebuah gereja dengan nama Maria Pertolongan Orang Kristen. Bunda berbicara dengannya secara tepat dan mendetail hingga pada konstruksi bangunannya.

Paus Pius IX menyuruh Don Bosco menulis semua mimpinya untuk menyemangati Tarekatnya, Tarekat St. Fransiskus dari Sales, dan seluruh dunia. Dalam buku “Dreams, Visions and Prophecies of Don Bosco” ditemukan “Impian tentang dua tiang utama”. Bagian ini ditulis pada tanggal 30 Mei 1862. Tulisan berikut adalah ringkasan dari teks aslinya:

“Beberapa menit yang lalu, saya bermimpi… Saya melihat suatu samudera yang amat luas. Seluruhnya air yang ditutupi suatu formasi armada kapal-kapal dalam keadaan siap tempur… Semua kapal dilengkapi persenjataan berat dengan meriam, bom pembakar dan macam-macam persenjataan. Ada sebuah kapal yang megah dan lebih agung dari kapal lainnya. Ketika merapat, kapal-kapal lain langsung menghantam, menembakkan api dan menyerangnya habis-habisan. Kapal raksasa yang agung itu dikelilingi sebuah konvoi kapal kecil… Di tengah-tengah lautan yang tak berujung itu, nampak dua tiang besar yang amat kokoh, dalam jarak yang agak jauh, menjulang tinggi ke langit. Tiang yang satu menyangga sebuah patung Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda. Di bawah kakinya terbaca huruf-huruf besar yang jelas: PERTOLONGAN ORANG KRISTEN. Tiang yang lainnya jauh lebih kokoh dan tinggi, menyangga sebuah Hosti dan di bawahnya tertulis: KESELAMATAN BAGI UMAT BERIMAN.

Komandan kapal raksasa ini ialah Paus. Menghadapi serangan yang berbahaya itu Paus segera memanggil kapten-kapten kapal untuk berunding. Namun, ketika mereka sedang merundingkan strategi, sebuah badai yang ganas datang. Mereka harus kembali ke kapal masing-masing. Sambil berdiri di tempat kemudi, Paus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengemudikan kapalnya di antara dua tiang besar itu. Semua armada musuh merapat dan dengan segala daya upaya berusaha menenggelamkan kapal besar itu. Meriam-meriam musuh meledak terus. Tiba-tiba Paus jatuh, terluka parah. Ia segera ditolong tetapi jatuh untuk kedua kalinya dan menghembuskan napasnya yang terakhir. Teriakan kemenangan dan luapan kegembiraan dari kapal-kapal musuh semakin menggila.

Tak lama setelah Paus meninggal, yang lain segera mengambil alih. Dengan segala pertahanannya, Paus yang baru berhasil mengemudikan kapal dengan selamat di antara dua tiang besar itu dan menambatkan kapalnya pada kedua tiang itu; pertama pada tiang dengan Hosti di atasnya, dan kemudian pada tiang dengan patung Bunda Maria di atasnya. Sesuatu yang tak terduga terjadi. Kapal-kapal musuh menjadi panik dan tercerai-berai, saling bertabrakan dan menenggelamkan satu sama lain… Sekarang suatu ketenangan yang besar meliputi seluruh samudera itu.”

Kemudian Don Bosco menjelaskan, “Kapal-kapal musuh melambangkan penganiayaan. Pencobaan yang besar menanti Gereja. Para musuh Gereja dilambangkan oleh kapal-kapal yang menyerang dan berusaha menenggelamkan kapal besar. Hanya dua hal yang dapat menyelamatkan kita pada saat yang kritis itu. Devosi kepada Sakramen Maha Kudus dan Devosi kepada Bunda Allah.”

Mari kita berusaha sekuat tenaga memanfaatkan kedua devosi ini serta menganjurkannya kepada siapa saja, di mana saja untuk melakukan hal yang sama!

sumber : AVE MARIA No. 8 Mei 1997; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia

Bunda Penolong Abadi

27 JULI : PESTA BUNDA PENOLONG ABADI

Dalam sebuah pelayaran mengarungi samudera, sebuah kapal diterpa badai. Semua penumpang panik termasuk kapten kapal dan anak buahnya. Berbagai usaha telah dicoba agar kapal tidak tenggelam, namun tampaknya sia-sia. Seorang penumpang teringat akan bawaannya. Ia buka bungkusnya dan nampaklah sebuah lukisan Bunda Maria. Sambil memperlihatkan lukisan Bunda Maria di tangannya ia berkata kepada semua penumpang kapal, “Mari kita berdoa mohon perlindungan Maria Bintang Laut.”

Tengah mereka berlutut dan berdoa tiba-tiba langit yang tadinya gelap berawan menjadi cerah. Angin yang selama beberapa jam membuat perahu oleng mulai reda. Begitu juga gelombang laut pelan-pelan menjadi teduh. Akhirnya kapal merapat di pelabuhan Roma. Semua penumpang selamat.

Pemilik lukisan langsung menuju ke rumah kawannya. Sayang, usia orang itu tidak lama. Sebelum meninggal ia berpesan kepada kawannya untuk menyerahkan lukisan kepada salah satu gereja di Roma. Kawannya melihat lukisan itu indah, tetapi juga aneh. Tidak sebagaimana lukisan Bunda Maria yang pernah ia lihat, lukisan ini memberi suatu pesan khusus yang sulit dilupakan.

Gambar ajaib itu memperlihatkan Bunda Maria sedang menggendong Kanak-kanak Yesus. Sikap dan wajah Yesus memperlihatkan rasa cemas. Yesus yang masih kecil nampaknya mencari perlindungan pada bunda-Nya. Tangan-Nya yang mungil menggenggam erat-erat tangan Bunda Maria. Mata Yesus menunjukkan rasa cemas. Keterkejutan dan usaha menyelamatkan diri secara tergesa-gesa nampak dari salah satu sandalnya yang tergantung dan hampir terlepas .

Menurut pelukisnya, kemungkinan ia berasal dari pulau Kreta di Eropa Timur, ketika itu Yesus sedang bermain. Tiba-tiba datang dua orang malaikat. Pasti Yesus terkejut. Ia segera lari ke pangkuan bunda-Nya untuk mohon perlindungan. Bunda Maria juga sempat terkejut sebelum mengetahui apa yang terjadi. Ada alasan yang kuat mengapa Yesus kecil terkejut ketika melihat dua malaikat tersebut. Utusan Tuhan itu memperlihatkan secara jelas salib, paku-paku, lembing dan bunga karang yang penuh cuka dan empedu. barang-barang ini, seperti kita ketahui, kelak akan menjadi alat kesengsaraan Yesus ketika Ia memikul salib dan wafat di Kalvari. Sebagai anak kecil Yesus ketakutan. Ia merasa ngeri. Karena itu Ia memeluk Maria. Jari-jari-Nya gemetar dalam genggaman Bunda Maria yang aman. Dengan penuh kasih keibuan, Bunda Maria merapatkan Kanak-kanak Yesus lebih dekat ke tubuhnya. Dalam pelukan Maria, Yesus merasa aman.

Kawan pemilik lukisan sangat menyukai lukisan Bunda Penolong Abadi; ia menyimpannya. Malam hari Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam suatu mimpi. Bunda Maria mengingatkannya untuk melaksanakan pesan kawannya sebelum meninggal, yaitu menyerahkan lukisan kepada gereja. Mimpinya disampaikan kepada isterinya, tetapi mereka masih tetap menyimpannya. Tak lama kemudian ia pun meninggal. Ia telah berpesan kepada isterinya untuk menyerahkan lukisan ke gereja. Namun demikian isterinya bertekad untuk tetap menyimpannya. Bunda Maria kembali mengingatkan keluarga itu melalui anak gadisnya, “Ibu, aku melihat seorang wanita yang amat cantik. Ia berkata kepadaku, ‘katakan kepada ibumu, Bunda Penolong Abadi minta supaya lukisan dirinya ditempatkan di salah satu gereja.’

Akhirnya lukisan diserahkan ke Gereja St. Alfonsus di Roma dan disimpan disana selama kurang lebih 300 tahun. Selama itu pula tempat tersebut menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat yang terjadi. Pada tahun 1798, di jaman Napoleon berkuasa, para imam diusir. Salah seorang imam sempat menyimpan lukisan Bunda Penolong Abadi di sebuah kapel kecil dan lukisan itu pun terlupakan selama 70 tahun.

Seorang bruder tua masih ingat riwayat lukisan itu. Ia menceritakannya kepada seorang anak kecil yang kemudian menjadi seorang imam Redemptoris. Ia menceritakannya pula kepada sesama imam hingga akhirnya berita ini terdengar juga oleh Paus. Paus memerintahkan agar lukisan tersebut diperlihatkan dan dihormati. Pada tahun 1866 lukisan Maria Penolong Abadi ditempatkan kembali secara resmi di Gereja St. Alfonsus, Roma .

Lukisan Maria Penolong Abadi yang asli dilukis di atas kayu. Usianya kira-kira 500 tahun. Paus Pius IX berpesan kepada para imam Redemptoris, “Perkenalkanlah dia ke seluruh dunia”. Sejak itu lukisan Maria Penolong Abadi diperbanyak dan duplikatnya disebarkan ke seluruh dunia. Konsili Vatikan II dalam salah satu butir penghormatan kepada Maria memberikan nama Penolong Abadi (Perpetual Help). Pertimbangannya ialah karena nama itu secara ajaib menonjolkan dan menekankan pengasuhan keibuan yang dilakukan Maria terhadap Gereja yang kini masih berjuang di dunia.

Doa Novena

BUNDA PENOLONG ABADI
DOAKANLAH KAMI

Bunda Penolong Abadi, dengan penuh kepercayaan dan harapan kami berlutut di hadapanmu.
Belum pernah ada orang yang sia-sia mencari perlindunganmu.
Semasa hidupmu sebagai ibu, engkau seringkali memberi pertolongan kepada Yesus Puteramu.
Dengan penuh kasih sayang engkau melindungi dan membimbing-Nya selama masa muda-Nya.
Selama hidup-Nya di muka umum engkau menghibur-Nya dan memberi dorongan kepada-Nya.
Pada saat Dia menderita, engkau mendampingi dan menguatkan-Nya.
Demikian juga jadilah bagi kami seorang ibu yang selalu menolong kami.

Bunda Maria, kami ini juga anakmu.
Di kayu salib, Putera Ilahimu telah memberikan dikau sebagai bunda kami
dan engkau telah menerima kami sebagai anakmu.
Kami tahu engkau memberi anak-anakmu -khususnya mereka yang menghormatimu sebagai
Bunda Penolong Abadi- rahmat dan berkat yang tak terhitung banyaknya untuk jiwa raga mereka.
Dengan penuh syukur kami mengucapkan terima kasih untuk segala perlindungan
bagi kami dan bagi mereka semua.

Bunda Penolong Abadi, jangan biarkan kami sekarang pergi tanpa penghiburanmu.
Kami selalu memerlukan bantuanmu, teristimewa dalam kesulitan yang sekarang ini kami alami …..
Bunda Maria pandanglah kami dengan penuh kebaikan dan kasih sayang.
Jadilah perantara kepada Putera Ilahimu untuk memperoleh anugerah-anugerah ……
yang kami mohon dengan sangat dalam doa ini.
Kami berjanji akan berterima kasih kepadamu selama hidup kami,
sampai kami datang bersyukur kepadamu di surga.

Bunda yang berkuasa, baik bagi kami,
Engkau dapat menolong kami,
Engkau pasti berkenan menolong kami,
Engkau bersedia menolong kami,
O Bunda Penolong Abadi yang setia,
terimalah doa kami. Amin.

 

Santa Perawan Maria Bunda Penolong Abadi

oleh: P. William P. Saunders *

Bagaimanakah kisah yang melatarbelakangi lukisan Bunda Penolong Abadi?
~ seorang pembaca di Reston

Lukisan Bunda Penolong Abadi adalah sebuah ikon, dilukis di atas kayu dan tampaknya berasal dari sekitar abad ketigabelas. Ikon ini (kurang lebih 54 x 41,5 sentimeter) menggambarkan Bunda Maria, di bawah gelar “Bunda Allah,” menggendong Kanak-Kanak Yesus. Malaikat Agung St Mikhael dan Malaikat Agung St Gabriel, melayang di kedua pojok atas, memegang alat-alat Sengsara – St Mikhael (di pojok kiri) memegang tombak, bunga karang yang dicelupkan ke dalam anggur asam dan mahkota duri, sementara St Gabriel (di pojok kanan) memegang salib dan paku-paku. Tujuan dari sang pelukis adalah menggambarkan Kanak-Kanak Yesus menyaksikan penglihatan akan Sengsara-Nya di masa mendatang. Kegentaran yang dirasakan-Nya diperlihatkan melalui terlepasnya salah satu sandal-Nya. Namun demikian, ikon ini juga menyampaikan kemenangan Kristus atas dosa dan maut, yang dilambangkan dengan latar belakang keemasan (lambang kemuliaan kebangkitan) dan dari cara dengan mana para malaikat memegang alat-alat siksa, yaitu bagaikan memegang tanda kenang-kenangan yang dikumpulkan dari Kalvari pada pagi Paskah.

Dengan suatu cara yang amat indah, Kanak-kanak Yesus menggenggam erat tangan Bunda Maria. Ia mencari penghiburan dari BundaNya, sementara Ia melihat alat-alat sengsara-Nya. Posisi tangan Maria – keduanya memeluk Kanak-Kanak Yesus (yang tampak bagaikan seorang dewasa kecil) dan memberikan-Nya kepada kita – menyampaikan realita akan inkarnasi Tuhan kita, bahwa ia adalah sungguh Allah yang juga menjadi sungguh manusia. Dalam ikonografi, Bunda Maria di sini digambarkan sebagai Hodighitria, yaitu dia yang menghantar kita kepada sang Penebus. Ia adalah juga Penolong kita, yang menjadi perantara kita kepada Putranya. Bintang yang terlukis pada kerudung Maria, yang terletak di tengah atas dahinya, menegaskan peran Maria dalam rencana keselamatan baik sebagai Bunda Allah maupun Bunda kita.

Menurut tradisi, seorang saudagar mendapatkan ikon Bunda Penolong Abadi dari pulau Krete dan mengirimkannya ke Roma dengan kapal laut menjelang akhir abad kelimabelas. Dalam perjalanan, mengamuklah suatu badai dahsyat, yang mengancam nyawa mereka semua yang berada dalam kapal. Para penumpang bersama awak kapal berdoa memohon bantuan Bunda Maria, dan mereka diselamatkan.

Begitu tiba di Roma, sang saudagar yang menghadapi ajal, memerintahkan agar lukisan dipertontonkan agar dapat dihormati secara publik. Sahabatnya, yang menahan lukisan tersebut, menerima perintah berikutnya: dalam suatu mimpi kepada gadis kecilnya, Bunda Maria menampakkan diri dan menyatakan keinginannya agar lukisan dihormati di sebuah gereja antara Basilika St Maria Maggiore dan St Yohanes Lateran di Roma. Sebab itu, lukisan ditempatkan di Gereja St Matius, dan kemudian terkenal sebagai “Madonna dari St Matius.” Para peziarah berduyun-duyun datang ke gereja tersebut selama tiga ratus tahun berikutnya, dan rahmat berlimpah dicurahkan atas umat beriman.

Setelah pasukan Napoleon menghancurkan Gereja St Matius pada tahun 1812, lukisan dipindahkan ke Gereja St Maria di Posterula, dan disimpan di sana hingga hampir 40 tahun lamanya. Di sana, lukisan itu kemudian diabaikan dan dilupakan.

Oleh karena penyelenggaraan ilahi, lukisan diketemukan kembali. Pada tahun 1866, Beato Paus Pius IX mempercayakan lukisan kepada kaum Redemptoris, yang baru saja mendirikan Gereja St Alfonsus, tak jauh dari St Maria Maggiore. Semasa kanak-kanak, Bapa Suci berdoa di hadapan lukisan ini di Gereja St Matius. Beliau memerintahkan agar lukisan dipertontonkan kepada publik dan dihormati; beliau juga menetapkan perayaan Santa Perawan Maria Bunda Penolong Abadi pada hari Minggu sebelum Hari Raya Kelahiran St Yohanes Pembaptis. Pada tahun 1867, ketika lukisan sedang dibawa dalam suatu perarakan yang khidmad melalui jalan-jalan, seorang kanak-kanak disembuhkan secara ajaib, yang pertama dari banyak mukjizat yang kemudian dicatat sehubungan dengan Bunda Penolong Abadi.

Hingga hari ini, Gereja St Alfonsus mempertontonkan ikon Bunda Penolong Abadi dan menyambut segenap peziarah yang datang untuk berdoa. Kiranya setiap kita tidak pernah ragu untuk memohon bantuan doa dan perantaraan Bunda Maria kapan saja, teristimewa pada masa kesesakan

 

Santa Perawan Maria Bunda Pengharapan

oleh: P. William P. Saunders *

Mohon penjelasan mengenai latar belakang gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan”
~ seorang pembaca di Sterling

Gelar Bunda Maria sebagai “Bunda Pengharapan,” muncul dari penampakannya kepada beberapa anak di Pontmain, Perancis pada tanggal 17 Januari 1871. Patut dicatat bahwa Bunda Maria telah disebut dengan gelar ini sebelumnya; sebuah madah telah ditulis demi menghormati Bunda Pengharapan oleh Komunitas Agung dari Bunda Pengharapan di Saint-Brieuc, Perancis. Namun demikian, devosi yang paling populer kepada “Bunda Pengharapan” berhubungan dengan penampakan ini. Guna memahami kisah dengan sebaik-baiknya, pertama-tama kita perlu melihat latar belakangnya.

Pada tahun 1861, Kaiser Wilhelm I menduduki tahta Prussia, dan segera menunjuk Otto von Bismark sebagai penasehatnya. Tujuan mereka adalah mempersatukan segenap negeri yang berbahasa Jerman menjadi satu negara. Bersama-sama, mereka mengambil sikap yang agresif dan suka berperang. Guna memaksakan kehendak mereka sekaligus menguji posisi di antara negara-negara sekitarnya, Prussia menyulut tiga perang singkat: pertama, melawan Denmark pada tahun 1864, menguasai Holstein; kedua, melawan Austria pada tahun 1866, menempatkan Prussia di bawah kendali Jerman; dan yang terakhir, melawan Perancis pada tahun 1870.

Pada tanggal 1 Agustus 1870, meriam pertama ditembakkan dan Perang Perancis – Prussia pun dimulai. Pasukan Perancis dengan segera jatuh ke dalam kekuasaan militer Prussia. Pada tanggal 27 Desember, Prussia telah menyerbu Paris. Sekarang mereka mengarah ke provinsi-provinsi barat yaitu Normandy dan Brittany.

Pertengahan Januari 1871, pasukan Prussia hanya beberapa mil saja jauhnya dari kota Pontmain, yang terletak di sebelah kanan dalam garis pertahanan Perancis. Penduduk Pontmain ketakutan. P. Guerin, yang telah menjadi imam paroki selama 35 tahun, meminta anak-anak untuk berdoa kepada Bunda Maria memohon perlindungan.

Pada sore hari Selasa, 17 Januari, Eugene Barbadette yang berusia 12 tahun sedang berjalan meninggalkan kandang ayahnya. Anak laki-laki ini mendongak ke atas ke langit yang berbintang dan melihat seorang Perempuan nan elok berdiri di angkasa, sekitar 20 kaki di atas atap rumah, di antara dua cerobong asap rumah milik Jean dan Augustine Guidecoq yang ada di seberang jalan. Perempuan itu mengenakan gaun berwarna biru tua bertaburan bintang-bintang emas, sebuah kerudung hitam dan sebuah mahkota emas sederhana. Eugene berdiri terpesona di sana dalam dinginnya salju sekitar 15 menit lamanya.

Ayahnya dan saudara laki-lakinya yang berumur sepuluh tahun, Yosef, keluar dari kandang. Eugene berseru, “Lihat di sana! Di atas rumah! Apakah yang kalian lihat?” Yosef menggambarkan Perempuan itu persis sama seperti yang dilihat Eugene. Ayahnya tidak melihat apa-apa, jadi dengan geram ia memerintahkan anak-anak untuk kembali memberi makan kuda-kuda di kandang.

Entah apa alasannya, sejenak kemudian, sang ayah menyuruh kakak beradik itu untuk keluar dan melihat kembali. Mereka melihatnya lagi. Yosef terus-menerus mengatakan, “Alangkah cantiknya dia! Alangkah cantiknya!” Ibu mereka, Victoria Barbadette, sekarang muncul di sana dan menyuruh Yosef diam sebab ia begitu ribut hingga menarik perhatian orang. Tahu bahwa anak-anak itu jujur dan tidak berbohong, ibunya pun mengatakan, “Mungkin itu Santa Perawan yang menampakkan diri kepada kalian. Karena kalian melihatnya, marilah kita mendaraskan lima Bapa Kami dan lima Salam Maria demi menghormatinya.” (Kedua kakak beradik itu amat saleh: mereka memulai hari-hari mereka dengan melayani Misa Kudus, mendaraskan rosario dan mempersembahkan Jalan Salib dengan intensi kakak laki-laki mereka yang bertugas dalam dinas ketentaraan Perancis.)

Setelah mendaraskan doa-doa di dalam kandang agar tak menarik perhatian orang, Nyonya Barbadette bertanya apakah anak-anak masih melihat Perempuan itu. Ketika mereka menjawab, “Ya,” ia pergi mengambil kacamata. Ketika kembali, sang ibu membawa serta saudari mereka, Louise, bersamanya; namun tak seorang pun dari keduanya melihat apa-apa. Perangai sang ibu pun berubah dan ia menuduh kedua anaknya telah berbohong.

Terlintas dalam benak Nyonya Barbadette untuk memanggil para biarawati. Katanya, “Para biarawati lebih saleh dari kalian. Jika kalian melihatnya, tentulah mereka melihatnya juga.” Suster Vitaline juga tahu bahwa anak-anak itu tidak berbohong. Tetapi, ia pun tak dapat melihat Perempuan itu. Suster Vitaline kemudian pergi ke rumah tetangga dan meminta dua gadis kecil, Francoise Richer (berusia 11 tahun) dan Jeanne-Marie Lebosse (berusia 9 tahun) untuk datang bersamanya. Kedua gadis kecil itu menggambarkan sang Perempuan tepat sama seperti kedua anak lainnya.

Sekarang, Suster Marie Edouard telah bergabung dalam kelompok tersebut. Setelah mendengar apa yang dikatakan kedua gadis kecil, ia pergi memanggil P Guerin dan seorang anak lain, Eugene Friteau (berusia 6 setengah tahun). Eugene juga melihat sang Perempuan. Sekarang telah terkumpul suatu himpunan besar sekitar 50 orang warga desa. Augustine Boitin, yang baru berusia 25 bulan, menggapai sang Perempuan dan berseru, “Yesus! Yesus!” Hanya keenam kanak-kanak ini saja yang melihat penampakan Bunda Pengharapan.

P Guerin meminta semua yang hadir untuk berdoa, maka mereka berlutut dan mendaraskan rosario. Suster Marie Edouard memimpin himpunan umat untuk mendaraskan Magnificat. Perlahan-lahan, suatu pesan dalam huruf-huruf emas nampak di langit: “Tetapi, berdoalah anak-anakku.” Semua anak-anak melihat pesan yang sama.

Suster Marie Edouard kemudian memimpin yang lainnya memadahkan Litani Santa Perawan Maria. Pesan selanjutnya disingkapkan, “Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat.”

Datang kabar bahwa pasukan Prussia sekarang telah berada di Laval, sangat dekat dengan Pontmain. Pesan berlanjut, “Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Ketika anak-anak memaklumkan pesan ini, P Guerin meminta khalayak ramai untuk menyanyikan madah pujian. Suster Marie Edouard mengatakan, “Bunda Pengharapan, wahai nama yang begitu manis, lindungilah negeri kami, doakanlah kami, doakanlah kami!” Orang banyak menanggapi, “Jika mereka [Prussia] berada di gerbang masuk desa, kami tidak akan takut lagi sekarang!”

Di akhir madah, pesan menghilang. Himpunan orang banyak kemudian menyanyikan sebuah madah tobat dan silih kepada Yesus. Bunda Maria tampak berduka, ia memegang sebuah salib merah yang besar dengan tulisan “Yesus Kristus.”

Pada pukul 8.30 petang, orang banyak menyanyikan, “Ave, Maris Stella,” dan salib lenyap. Lagi, Bunda tersenyum dan dua salib putih kecil nampak di kedua pundaknya. Ia merentangkan tangannya ke bawah, seperti yang terlihat dalam gambar-gambar Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa. Sebuah selubung putih secara perlahan-lahan menutupi Bunda Maria dari kaki hingga ke mahkota. Sekitar pukul 8.45 petang, anak-anak mengatakan, “Sudah selesai.” Bunda Maria telah menghilang.

Sementara penampakan ini berlangsung, Jenderal Von Schmidt menerima perintah dari Komando Tinggi Prussia untuk menghentikan penyerangan dan mundur. Sepuluh hari kemudian, suatu perjanjian gencatan senjata ditanda-tangani antara Perancis dan Prussia. Perantaraan ajaib Bunda Maria telah menyelamatkan Pontmain.

Karena penampakan ini, devosi kepada Bunda Pengharapan segera tersebar luas. Pesan Bunda Maria adalah pesan pengharapan, “Tetapi, berdoalah anak-anakku. Tuhan akan mendengarkan kalian dalam waktu dekat. Putraku membiarkan DiriNya tergerak oleh belas kasihan.” Sementara kita mendaraskan rosario kita setiap hari memohon pemeliharaan keibuan Bunda Maria, patutlah kita ingat bahwa ia, yang berdiri di kaki salib, yang dipenuhi pengharapan akan pengampunan dosa dan kebangkitan ke hidup yang kekal, memberikan pengharapan kepada kita juga sepanjang perjalanan hidup kita. Bersama Bunda Pengharapan, kita sungguh memiliki jaminan bahwa kita tidak akan pernah ditinggalkan, dan bahwa kita senantiasa memiliki pengharapan akan dipersatukan dengan Tuhan kita sekarang dan selama-lamanya di surga

 

Dukacita Ketujuh

Yesus Dimakamkan

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Ketika seorang ibu berada di samping anaknya yang sedang menderita dan mengalami sakrat maut, tak diragukan lagi ia merasakan dan menanggung segala penderitaan anaknya; tetapi setelah anaknya itu meninggal dunia, sebelum jenazahnya dihantar ke makam, pastilah ibunda yang berduka itu mengucapkan selamat berpisah kepada anaknya; dan kemudian, sungguh, pikiran bahwa ia tak akan pernah melihat anaknya itu lagi merupakan suatu dukacita yang melampaui segala dukacita. Lihatlah pedang dukacita Maria yang terakhir, yang sekarang kita renungkan; setelah menyaksikan wafat Putranya di salib dan memeluk tubuh-Nya yang tak bernyawa untuk terakhir kalinya, Bunda yang terberkati ini harus meninggalkan-Nya di makam, tak akan lagi pernah menikmati kehadiran Putranya yang terkasih di dunia ini.

Agar dapat memahami dengan lebih baik dukacita terakhir ini, kita akan kembali ke Kalvari dan merenungkan Bunda yang berduka, yang masih mendekap tubuh Putranya yang tak bernyawa dalam pelukannya. Oh Putraku, demikian ia berkata dengan kata-kata Ayub, Putraku, “Engkau menjadi kejam terhadap aku.” Ya, oleh sebab segala sifat-Mu yang agung, keanggunan-Mu, perilaku-Mu dan kebajikan-kebajikan-Mu, sikap-Mu yang santun, segala tanda kasih istimewa yang Kau limpahkan kepadaku, karunia-karunia khusus yang Kau anugerahkan kepadaku – semuanya sekarang berubah menjadi dukacita, dan bagaikan begitu banyak anak panah yang menembusi hatiku; semakin semuanya itu memperdalam kasihku kepada-Mu, semakin kejam semuanya itu kini memedihkan hatiku karena kehilangan Engkau. Ah, Putraku terkasih, dengan kehilangan Engkau, aku kehilangan segalanya. St Bernardus berbicara atas nama Bunda Maria, “Oh satu-satunya Allah yang Esa, bagiku Engkau adalah Bapaku, Putraku, Mempelaiku: Engkau adalah jiwaku! Sekarang aku direnggut dari Bapaku, menjadi janda dari Mempelaiku, menjadi Bunda yang tak ber-Putra; yang merana karena kehilangan Putra tunggalku, aku telah kehilangan segalanya.”

Demikianlah Bunda Maria, dengan sang Putra dalam pelukannya, larut dalam dukacita. Para murid yang kudus, khawatir kalau-kalau Bunda yang malang ini wafat karena duka yang mendalam, menghampirinya untuk mengambil jenazah Putranya dari pelukannya untuk dimakamkan. Kekejaman ini mereka lakukan dengan lemah lembut serta penuh hormat, dan sesudah memburat tubuh-Nya dengan rempah-rempah, mereka mengapani-Nya dengan kain lenan yang telah mereka persiapkan. Di atas kain ini, yang hingga kini masih tersimpan di Turin, Kristus berkenan meninggalkan bagi dunia gambar tubuh-Nya yang kudus. Para murid lalu menghantar-Nya ke makam. Pertama-tama mereka mengusung Tubuh Kudus di atas bahu mereka dan kemudian iring-iringan duka itu pun berangkat; paduan suara malaikat dari surga mengiringi mereka; para wanita kudus berjalan mengikuti, dan bersama mereka Bunda yang berduka juga menyertai Putranya ke tempat pemakaman. Setiba mereka di sana, “Oh, betapa senang hati Bunda Maria membiarkan dirinya dikubur hidup-hidup bersama Putranya, andai memang demikian kehendak-Nya!” seperti diungkapkan Bunda Maria sendiri kepada St Brigitta. Tetapi karena bukan demikianlah kehendak Ilahi, banyak penulis mengatakan bahwa ia menghantar tubuh kudus Yesus sampai ke makam, di mana menurut Baronius, para murid juga menyertakan paku-paku dan mahkota duri. Saat hendak menggulingkan batu penutup pintu masuk, para murid sang Juruselamat yang kudus terpaksa menghampiri Bunda Maria dan mengatakan, “Sekarang, ya Bunda, kami harus menutup pintu makam: maafkan kami, tengoklah sekali lagi Putramu dan sampaikanlah salam perpisahan kepada-Nya.” Putraku terkasih (pasti demikianlah Bunda yang berduka berkata); aku tak kan melihat-Mu lagi. Sebab itu, pada kesempatan terakhir aku memandang-Mu ini, terimalah salam perpisahanku, salam perpisahan dari Bunda-Mu terkasih, dan terimalah juga hatiku, yang aku tinggalkan agar dikubur bersama-Mu. St Fulgentius menulis, “Dalam diri Bunda Maria berkobar hasrat agar jiwanya dikuburkan bersama tubuh Kristus.” Bunda Maria mengungkapkan kepada St Brigitta, “Sejujurnya aku katakan bahwa saat pemakaman Putraku, dalam makam yang satu itu seolah-olah terdapat dua jiwa.”

Akhirnya, para murid menggulingkan batu dan menutup makam yang kudus, di mana di dalamnya terbaring tubuh Yesus, harta pusaka yang agung mulia – begitu agung dan mulia hingga tak ada yang lebih agung dan mulia darinya, baik di bumi maupun di surga. Pada bagian ini, ijinkanlah aku sedikit menyimpang dan menegaskan bahwa hati Bunda Maria dikuburkan bersama Yesus, sebab Yesus adalah satu-satunya hartanya, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Dan di manakah gerangan, seandainya kita boleh bertanya, hati kita dikuburkan? Pada makhluk-makhluk ciptaan yang mungkin berkubang dalam lumpur. Dan mengapakah tidak pada Yesus, yang, walaupun telah naik ke surga masih dengan senang hati tinggal di bumi dalam Sakramen Mahakudus di altar, bukankah tepat jika jiwa kita ada bersama-Nya, dan menjadi milik-Nya? Baiklah, kita kembali kepada Bunda Maria. Sebelum meninggalkan makam, menurut St Bonaventura, Bunda Maria memberkati makam kudus yang kini telah tertutup rapat dengan berseru, “Oh, makam yang bahagia, dalam rahimmu sekarang terbaring Tubuh Kudus yang selama sembilan bulan aku kandung dalam rahimku; aku memberkati engkau sembari iri padamu; aku percayakan penjagaan Putraku kepadamu, Putra yang adalah satu-satunya hartaku dan kasihku.” Kemudian, dengan mengangkat segenap hati kepada Bapa yang Kekal, ia berkata, “Ya Bapa, kepada-Mu aku persembahkan Dia – Dia yang adalah PutraMu, yang sekaligus adalah Putraku juga.” Demikianlah Bunda Maria menyampaikan salam perpisahannya kepada Putranya Yesus yang terkasih dan kepada makam di mana tubuh-Nya dibaringkan, lalu ia meninggalkan-Nya dan pulang ke rumah. “Bunda ini,” kata St Bernardus, “pergi dalam keadaan begitu berduka dan sengsara hingga ia menggerakkan banyak orang untuk meneteskan airmata; di manapun ia lewat, semua yang bersua dengannya menangis,” tak kuasa menahan airmata. Ia menambahkan bahwa para murid yang kudus dan perempuan-perempuan yang menyertainya “lebih berdukacita atasnya daripada atas Tuhan mereka.”

St Bonaventura mengatakan bahwa saudari-saudari Bunda Maria menyelubunginya dengan jubah duka, “Saudari-saudari Bunda kita mengerudunginya sebagai janda, hingga hampir menutupi seluruh wajahnya.” Ia juga menambahkan bahwa, saat lewat, dalam perjalanan pulang, di depan salib yang masih basah oleh darah Putranya Yesus, dialah yang pertama-tama memujanya, “O Salib Suci,” serunya, “aku mengecupmu, aku memujamu, sebab kini engkau bukan lagi tiang hukuman yang mengerikan, melainkan tahta kasih dan altar belas kasihan, yang dikuduskan oleh darah Anak Domba Allah, yang di atasmu telah dikurbankan demi keselamatan dunia.” Bunda Maria kemudian meninggalkan salib dan pulang ke rumah. Tiba di sana, Bunda yang berduka mengarahkan pandangan ke sekelilingnya, ia tak lagi melihat Yesus; bukan kehadiran Putranya yang menyenangkan, melainkan kenangan akan hidup-Nya yang kudus dan wafat-Nya yang keji yang hadir di hadapan matanya. Ia terkenang bagaimana ia mendekap Putranya erat-erat ke dadanya di palungan di Betlehem; percakapan-percakapan manis bersama-Nya sepanjang tahun-tahun yang mereka lewatkan bersama di rumah di Nazaret: ia terkenang akan kasih sayang mesra di antara mereka, tatapan kasih mereka, perkataan-perkataan tentang kehidupan kekal yang meluncur dari bibir Ilahi-Nya; dan kemudian terbayang akan peristiwa mengerikan yang ia saksikan pada hari itu, semuanya hadir kembali di hadapannya. Paku-paku itu, mahkota duri, ceceran daging Putranya, luka-luka yang merobek daging-Nya, tulang-tulang yang menyembul, mulut yang ternganga, mata yang tak lagi bercahaya, semuanya hadir kembali di hadapan matanya. Ah, betapa malam itu nerupakan malam yang penuh dukacita bagi Maria! Bunda yang berduka berpaling kepada St Yohanes dan berkata dengan sedih, “Ah Yohanes, katakan, di manakah Guru-mu?” Ia kemudian bertanya kepada Maria Magdalena, “Puteriku, katakan, di manakah kekasih hatimu? Ya Tuhan, siapakah yang telah merenggut-Nya dari kami?” Bunda Maria menangis dan semua yang hadir menangis bersamanya. Dan engkau, wahai jiwaku, tidak meneteskan airmata! Ah, berpalinglah kepada Bunda Maria dan bersama St Bonaventura katakan kepadanya, “Ya, Bundaku yang lemah lembut, ijinkanlah aku menangis; engkau tak berdosa, akulah yang berdosa.” Akhirnya, mohonlah kepadanya untuk menangis bersamanya, “Ijinkanlah aku menangis bersamamu, ya Bunda.” Ia menangis karena cinta, engkau menangis sedih karena dosa-dosamu. Dengan menangis, kiranya engkau beroleh sukacita seperti dia, yang kisahnya kita baca dalam teladan berikut.

TELADAN

Pastor Engelgrave menceriterakan tentang seorang religius yang begitu tersiksa oleh skrupel (= kebimbangan batin) hingga ia terkadang hampir putus asa; tetapi karena ia memiliki devosi mendalam kepada Bunda Dukacita, ia senantiasa mohon perlindungan padanya dalam penderitaan batinnya, dan merasa terhibur sementara ia merenungkan sengsaranya. Ajal menjelang dan iblis menyiksanya jauh lebih hebat dari sebelumnya dengan skrupel, dan berusaha menjatuhkannya dalam keputusasaan. Bunda yang berbelas kasihan, melihat puteranya yang malang menderita demikian rupa, menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Dan engkau, puteraku, mengapakah engkau begitu dikuasai oleh penderitaan? Mengapakah engkau begitu takut? Engkau telah begitu sering menghibur hatiku dengan berbelas kasihan dalam dukacitaku. Sekarang,” Bunda Maria menambahkan, “Yesus mengutusku untuk menghiburmu; maka, tenanglah; bersukacitalah dan marilah bersamaku ke surga.” Mendengar kata-kata penghiburan ini, religius yang saleh itu dengan dipenuhi sukacita dan kepercayaan, menghembuskan napasnya yang terakhir dalam damai.

DOA

Bundaku yang berduka, aku tidak akan membiarkan engkau menangis seorang diri, tidak, aku akan menemanimu dengan airmataku. Ijinkan aku mohon rahmat ini daripadamu: perolehkanlah bagiku rahmat agar senantiasa ada dalam benakku dan senantiasa ada dalam hatiku devosi kepada Sengsara Yesus dan kepada Dukacitamu, agar sisa-sisa hariku boleh aku lewatkan dengan menangisi dukacitamu, ya Bundaku yang lemah lembut, dan menangisi Sengsara Penebus-ku. Penderitaan-penderitaan ini, aku yakin, akan memberiku kepercayaan serta kekuatan yang aku butuhkan di saat ajalku, agar aku tidak jatuh dalam keputusasaan menyadari begitu banyak dosa di mana aku telah menghina Tuhan-ku. Penderitaan-penderitaan ini akan mendatangkan bagiku pengampunan, ketekunan dan surga, yang aku rindu untuk menikmatinya bersama engkau, dan agar dapatlah aku memadahkan belas kasihan Allah yang tak terbatas untuk selama-lamanya. Demikianlah yang aku harapkan, semoga terjadilah demikian. Amin. Amin.

DOA ST BONAVENTURA

Ya Bunda, engkau yang dengan kelemah-lembutanmu menjerat hati umat manusia, sudahkah engkau menjerat hatiku juga? Ya pencuri hati, bilakah engkau memulihkan hatiku? Pimpinlah dan kuasailah hatiku bagaikan milikmu sendiri; simpanlah hatiku dalam Darah Anak Domba dan tempatkanlah di sisi Putramu. Maka, aku akan memperoleh apa yang aku rindukan dan memiliki apa yang aku harapkan, sebab engkaulah harapan kami. Amin

 

Dukacita Keenam

Lambung Yesus Ditikam dan Jenazah-Nya Diturunkan dari Salib

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

“Acuh tak acuhkan kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan Tuhan kepadaku?” Jiwa-jiwa saleh, dengarkanlah apa yang dikatakan Bunda yang berduka hari ini, “Anak-anakku terkasih, aku tidak berharap kalian menghiburku; tidak, sebab jiwaku tak lagi mudah tersentuh oleh penghiburan di dunia ini setelah wafat Putraku Yesus yang terkasih. Jika engkau hendak menyenangkan hatiku, inilah yang aku minta dari kalian; pandanglah aku dan lihatlah adakah kesedihan di dunia ini yang seperti kesedihanku, menyaksikan Dia yang adalah jantung hatiku direnggut dariku dengan keji.” Tetapi, Bunda yang berkuasa, oleh sebab engkau tidak hendak dihibur dan engkau memiliki kerinduan yang begitu besar untuk menderita, harus kukatakan kepadamu, bahwa bahkan dengan wafatnya Putramu, dukacitamu belumlah berakhir. Pada hari ini engkau akan ditembusi oleh pedang dukacita yang lain, sebilah tombak dengan keji akan ditikamkan pada lambung Putramu yang telah wafat, dan engkau akan menerima-Nya dalam pelukanmu setelah jenazah-Nya diturunkan dari salib. Sekarang kita akan merenungkan dukacita keenam yang mendukakan Bunda yang malang ini. Merenunglah dan menangislah. Sampai sekarang dukacita Maria menderanya satu demi satu; pada hari ini seluruh dukacita itu bergabung menjadi satu untuk menyerangnya.

Cukuplah mengatakan kepada seorang ibu bahwa anaknya meninggal dunia untuk menggoncangkan segala kasihnya. Sebagian orang, guna meringankan dukacita seorang ibu, mengingatkannya akan kekecewaan yang suatu ketika dilakukan oleh anaknya yang telah meninggal itu. Tetapi aku, ya Ratuku, akankah aku berharap meringankan dukacitamu atas wafat Yesus? Kekecewaan apakah yang pernah dilakukan-Nya terhadapmu? Sungguh, tidak ada. Ia senantiasa mengasihimu, senantiasa mentaatimu, dan senantiasa menghormatimu. Sekarang engkau telah kehilangan Dia, siapakah yang dapat mengungkapkan kesedihan hatimu? Akankah engkau menjelaskannya, engkau yang mengalaminya. Seorang penulis yang saleh mengatakan bahwa ketika Penebus kita yang terkasih wafat, perhatian utama Bunda yang agung ini adalah menemani dalam roh, jiwa Putranya yang terkudus dan mempersembahkan-Nya kepada Bapa yang Kekal. “Kupersembahkan kepada-Mu, ya Tuhanku,” pastilah Bunda Maria berkata demikian, “jiwa tak berdosa dari PutraMu dan Putraku; Ia taat hingga wafat kepada-Mu; sudilah Engkau menerima-Nya dalam pelukan-Mu. Keadilan-Mu telah dipuaskan sekarang, kehendak-Mu telah digenapi; lihatlah, kurban agung demi kemuliaan-Mu yang kekal telah dikurbankan.” Kemudian, sambil memandangi tubuh Putranya Yesus yang tak bernyawa, ia berkata, “O bilur-bilur, o bilur-bilur cinta, aku menyembahmu, dan dalam engkau aku bersukacita; sebab melalui engkau, keselamatan dianugerahkan kepada dunia. Engkau akan tinggal menganga pada tubuh Putraku, dan menjadi pengungsian bagi mereka yang mohon perlindungan padamu. Oh, betapa banyak jiwa-jiwa, melalui engkau akan beroleh rahmat pengampunan atas dosa-dosa mereka, dan olehmu dikobarkan dalam kasih kepada Allah yang Mahabaik!”

Agar tak mengganggu kegembiraan Sabat Paskah, orang-orang Yahudi menghendaki agar tubuh Yesus diturunkan dari salib; tetapi, karena hal ini tak dapat dilakukan kecuali para terhukum telah mati, para prajurit datang dengan palu besi untuk mematahkan kaki-Nya, seperti yang telah mereka lakukan pada dua penyamun yang disalibkan bersama-Nya. Bunda Maria masih menangisi kematian Putranya saat ia melihat prajurit-prajurit bersenjata ini maju mendekati Yesus. Melihat ini, Bunda gemetar ketakukan, lalu berseru, “Ah, Putraku sudah wafat; berhentilah menganiaya-Nya; janganlah siksa aku lagi, Bunda-Nya yang malang.” Ia mohon pada mereka, tulis St Bonaventura, “untuk tidak mematahkan kaki-Nya.” Tetapi sementara ia berkata, ya Tuhan! Ia melihat seorang prajurit menghunus tombaknya dan menikamkannya pada lambung Yesus, “seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Saat tombak dihujamkan, salib berguncang, dan, seperti yang kemudian dinyatakan kepada St Brigitta, hati Yesus terbelah menjadi dua. Dari sanalah mengalir darah dan air; sebab hanya sedikit tetes-tetes darah itu saja yang masih tersisa, dan bahkan itu pun rela dicurahkan oleh Juruselamat kita agar kita mengerti bahwa tak ada lagi darah-Nya yang masih tersisa yang tak diberikan-Nya kepada kita. Luka akibat tikaman itu menganga pada tubuh Yesus, tetapi Bunda Marialah yang menderita sakitnya. “Kristus,” kata Lanspergius yang saleh, “berbagi sengsara ini dengan Bunda-Nya; Ia yang menerima penghinaan, Bunda-Nya yang menanggung sengsaranya.” Para bapa kudus berpendapat bahwa inilah sesungguhnya pedang yang dinubuatkan Nabi Simeon kepada kepada Santa Perawan: suatu pedang, bukan pedang materiil, melainkan pedang dukacita, yang menembus jiwanya yang terberkati yang tinggal dalam hati Yesus, di mana ia senantiasa tinggal. Dengan demikian, St Bernardus mengatakan, “Tombak yang ditikamkan ke lambung-Nya menembus jiwa Santa Perawan yang tak pernah meninggalkan hati Putranya.” Bunda Allah sendiri mengungkapkan hal yang sama kepada St Brigitta, “Ketika tombak dicabut, ujungnya tampak merah karena darah; melihat hati Putraku terkasih ditikam, aku merasa seakan-akan hatiku sendiri juga ditikam.” Malaikat menyampaikan kepada santa yang sama, “begitu dahsyat dukacita Maria, hingga hanya karena mukjizat penyelenggaraan Ilahi, ia tidak mati.” Dalam dukacitanya yang lain, setidak-tidaknya ada Putranya yang berbelas kasihan kepadanya; tetapi sekarang Ia bahkan tak ada untuk berbelas kasihan kepadanya.

Bunda yang berduka, khawatir kalau-kalau aniaya yang lain masih akan ditimpakan atas Putranya, mohon pada Yusuf dari Arimatea untuk meminta jenazah Yesus Putranya dari Pilatus, hingga setidak-tidaknya setelah Ia wafat, ia dapat menjaga serta melindungi-Nya dari penghinaan lebih lanjut. Yusuf pergi dan menyampaikan kepada Pilatus kesedihan dan harapan Bunda yang berduka ini. St Anselmus yakin bahwa belas kasihan terhadap sang Bunda telah melunakkan hati Pilatus dan menggerakkannya untuk memberikan jenazah Juruselamat kita. Tubuh Yesus kemudian diturunkan dari salib. O Perawan tersuci, setelah engkau memberikan Putramu kepada dunia dengan cinta yang begitu besar demi keselamatan kami, lihatlah, dunia sekarang mengembalikan-Nya kepadamu; tetapi, ya Tuhan, dalam keadaan bagaimanakah engkau menerimanya? Ya dunia, kata Maria, bagaimana engkau mengembalikan-Nya kepadaku? “Putraku berkulit putih kemerah-merahan, tetapi engkau mengembalikan-Nya kepadaku dalam keadaan hitam lebam oleh bilur-bilur dan merah – ya! tetapi merah karena luka-luka yang engkau timpakan atas-Nya. Ia elok dan menawan; tetapi sekarang tak nampak lagi keelokan pada-Nya; tak ada lagi semarak-Nya. Kehadiran-Nya memikat semua orang; sekarang Ia menimbulkan kengerian pada semua yang melihat-Nya.” “Oh, betapa banyak pedang,” kata St Bonaventura, “yang menembusi jiwa Bunda yang malang ini ketika ia menerima jenazah Putranya dari salib! Marilah sejenak membayangkan dukacita mendalam yang dialami ibu manapun ketika menerima tubuh anaknya yang tak bernyawa dalam pelukannya. Dinyatakan kepada St Brigitta bahwa tiga tangga disandarkan pada salib untuk menurunkan Tubuh Kudus; para murid yang kudus pertama-tama mencabut paku-paku dari tangan dan kaki-Nya, dan menurut Metaphrastes, menyerahkan paku-paku itu kepada Maria. Kemudian seorang dari mereka menopang tubuh Yesus bagian atas sementara murid yang lain menopang tubuh Yesus bagian bawah; demikianlah Ia diturunkan dari salib. Bernardinus de Bustis menggambarkan Bunda yang berduka, sementara berdiri, merentangkan kedua tangannya untuk merengkuh Putranya terkasih; ia memeluk-Nya dan kemudian duduk bersimpuh di kaki salib. Mulut-Nya ternganga, mata-Nya tanpa cahaya. Bunda Maria lalu memeriksa daging-Nya yang terkoyak dan tulang-tulang-Nya yang menyembul; ia melepaskan mahkota duri dan memandangi luka-luka mengerikan yang diakibatkan mahkota duri pada kepala-Nya yang kudus; ia mengamati lubang-lubang di tangan dan kaki-Nya seraya berkata kepada-Nya, “Ah, Putraku, seberapa besarnyakah kasih-Mu kepada manusia; kesalahan apakah yang telah Engkau lakukan terhadap mereka hingga mereka menyiksa-Mu demikian keji? Engkau adalah Bapaku,” lanjut Bernardinus de Bustis atas nama Maria, “Engkau adalah saudaraku, mempelaiku, sukacitaku, kemuliaanku; Engkau adalah segala-galanya bagiku.” Putraku, tengoklah dukacitaku, pandanglah aku; hiburlah aku; tetapi tidak, Engkau tak lagi melihatku. Berbicaralah, sepatah kata saja, dan hiburlah aku; tetapi Engkau tak lagi berbicara, sebab Engkau telah wafat. Kemudian, berpaling pada alat-alat siksa yang keji, ia berkata, O mahkota duri yang keji, O paku-paku yang kejam, O tombak yang tak berbelas kasihan, bagaimanakah, bagaimana mungkin kalian menganiaya Pencipta-Mu? Tetapi, mengapakah aku berbicara tentang mahkota duri dan paku? Astaga! Para pendosa, serunya, kalianlah yang telah memperlakukan Putraku begitu keji.

Demikianlah Bunda Maria berbicara dan mengeluh atas kita. Tetapi apakah yang hendak ia katakan sekarang, apakah ia masih dapat tergerak oleh penderitaan? Bagaimanakah kiranya kesedihan hatinya melihat manusia, walaupun Putranya telah wafat bagi mereka, masih terus-menerus menyiksa dan menyalibkan-Nya dengan dosa-dosa mereka! Marilah kita, setidak-tidaknya, berhenti menyiksa Bunda yang berduka ini, dan jika kita sampai sekarang masih mendukakan hatinya dengan dosa-dosa kita, marilah kita, saat ini juga, melakukan segala yang dikehendakinya. Bunda kita berkata, “Kembalilah, kalian yang berdosa, kepada hati Yesus.” Para pendosa, kembalilah kepada hati Yesus yang terluka; kembalilah sebagai seorang peniten, dan Ia akan menyambutmu. “Larilah dari Dia kepada Dia,” ia melanjutkan perkataannya bersama Abbas Guarric, “dari Hakim kepada Penebus, dari Pengadilan kepada Salib.” Bunda Maria sendiri mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa “ia menutup mata Putranya ketika tubuh-Nya diturunkan dari salib, tetapi ia tak dapat menangkupkan tangan-tangan-Nya.” Dengan demikian Yesus Kristus ingin kita mengetahui bahwa Ia rindu tetap dengan tangan-tangan-Nya terbuka menerima semua orang berdosa yang kembali kepada-Nya. “Oh, dunia,” lanjut Bunda Maria, “lihatlah, masamu adalah masa bagi para kekasih.” “Sekarang, setelah Putraku wafat demi menyelamatkanmu, tak akan ada lagi bagimu masa ketakutan, melainkan masa kasih – suatu masa untuk mengasihi-Nya, Ia yang guna menunjukkan kasih-Nya kepadamu rela menanggung sengsara yang begitu hebat.” “Hati Yesus,” kata St Bernardus, “ditikam, agar melalui luka-luka-Nya yang nampak itu, luka-luka kasih-Nya yang tak nampak menjadi kelihatan.” “Jadi, jika,” Bunda Maria menyimpulkan dengan kata-kata Beato Raymond Jordano, “Putraku, oleh karena kasih-Nya yang begitu besar, rela lambung-Nya ditikam, agar Ia dapat memberikan hati-Nya kepada kalian, maka sudah selayaknyalah, jika kalian membalas-Nya dengan juga memberikan hati kalian kepada-Nya.” Dan jika kalian rindu, ya putera-puteri Maria, untuk menemukan tempat dalam hati Yesus, tanpa takut ditolak, “pergilah,” kata Ubertino da Casale, “pergilah bersama Maria; karena ia akan memperolehkan rahmat bagi kalian.” Mengenai hal ini, kalian dapat melihat buktinya melalui teladan indah berikut ini.

TELADAN

Dikisahkan, adalah seorang pendosa malang yang, di antara kejahatan-kejahatan lain yang dilakukannya, telah pula membunuh ayah dan saudara laki-lakinya, dan karena itu ia menjadi seorang pelarian. Suatu hari di Masa Prapaskah, ia mendengarkan khotbah imam tentang Kerahiman Ilahi. Maka, pergilah ia mengakukan dosa-dosanya kepada imam pengkhotbah. Bapa pengakuan, mendengar dosa-dosanya yang luar biasa berat, memintanya pergi ke hadapan SP Maria Bunda Dukacita, agar Bunda Maria dapat memperolehkan baginya rahmat tobat mendalam dan pengampunan atas dosa-dosanya. Orang berdosa itu patuh dan mulai berdoa; ketika, lihatlah, tiba-tiba ia roboh dan tewas seketika karena kesedihan yang sangat mendalam. Keesokan harinya, saat imam, dalam intensi Misa, mengunjukkan doa baginya, seekor merpati putih sekonyong-konyong muncul dalam gereja dan menjatuhkan sehelai kartu di kaki imam. Imam memungutnya dan mendapati tulisan berikut tertera di atasnya, “Jiwa almarhum, saat meninggalkan raganya, langsung menuju surga. Teruslah engkau menyampaikan khotbah tentang Kerahiman Ilahi yang tak terbatas.”

DOA

O Perawan yang berduka! Oh, jiwa yang sarat dengan kebajikan, namun juga sarat dengan dukacita, karena dukacita yang satu dan yang lainnya saling bergantian mendera hatimu yang berkobar-kobar dengan kasih kepada Tuhan, sebab engkau hanya mengasihi Dia saja; ah Bunda, kasihanilah aku, sebab bukannya mengasihi Tuhan, malahan aku menghina-Nya terus-menerus. Dukacitamu, ya Bunda, membangkitkan dalam diriku harapan akan pengampunan. Tetapi ini belumlah cukup; aku rindu mengasihi Tuhan-ku; dan bagaimanakah aku dapat memperoleh kasih ini lebih baik selain melalui engkau, yang adalah Bunda Cinta Kasih? Ah, Bunda Maria, engkau menghibur semua orang, hiburlah aku juga. Amin

 

Dukacita Kelima

Yesus Wafat

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Sekarang kita merenungkan kemartiran Bunda Maria yang lain – seorang ibunda yang diharuskan melihat Putranya yang tak berdosa, dan yang ia cintai dengan segenap kasih sayang jiwanya, disiksa dengan keji dan dijatuhi hukuman mati di depan matanya, “Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya.” St Yohanes yakin bahwa dengan kata-kata tersebut ia telah cukup mengungkapkan kemartiran Maria. Marilah merenungkan Bunda Maria yang berada di kaki salib, menemani Putranya yang meregang nyawa, dan lihatlah, adakah dukacita seperti dukacitanya. Marilah pada hari ini kita tinggal sejenak di Kalvari dan merenungkan pedang dukacita kelima, yang saat wafat Yesus, menembus hati Maria.

Segera setelah Penebus kita yang sengsara tiba di Bukit Kalvari, para algojo menanggalkan pakaian-Nya, dan menembusi tangan-tangan serta kaki-kaki-Nya dengan “bukan paku-paku yang tajam, melainkan paku-paku yang tumpul,” seperti dikatakan St Bernardus, agar lebih menyiksa-Nya, mereka memaku-Nya pada kayu salib. Sesudah menyalibkan-Nya, mereka memancangkan salib lalu membiarkan-Nya mati. Para algojo meninggalkan-Nya, namun tidak demikian dengan Maria. Ia kemudian mendekati salib, agar dapat mendampingi-Nya di saat ajal, “Aku tidak meninggalkan-Nya,” demikian Santa Perawan mengatakan kepada St Brigitta, “melainkan tinggal dekat kaki salib-Nya.” “Tetapi, apakah gunanya bagimu, ya Bunda,” kata St Bonaventura, “pergi ke Kalvari dan menyaksikan Putramu wafat? Tidakkah rasa malu mencegah engkau pergi, sebab aib-Nya adalah aibmu, karena engkau adalah Bunda-Nya. Setidak-tidaknya rasa ngeri yang mencekam menyaksikan kejahatan yang sedemikian, penyaliban Tuhan oleh makhluk ciptaan-Nya sendiri, mencegah engkau pergi ke sana.” Tetapi, santo yang sama menjawab, “Ah, hatimu tidak memikirkan dukacitanya sendiri, melainkan sengsara dan wafat Putramu terkasih,” dan oleh sebab itulah engkau lebih suka hadir, setidaknya untuk berbelas kasihan kepada-Nya. “Ah, Bunda yang sejati,” kata Abbas William, “Bunda yang paling penuh cinta kasih, yang bahkan ngeri kematian tak dapat memisahkanmu dari Putramu terkasih.” Tetapi, ya Tuhan, betapa suatu pemandangan yang memilukan melihat Putra menanggung sengsara di atas salib sementara di kaki salib Bunda yang berduka menanggung segala siksa aniaya yang diderita Putranya! Dengarlah kata-kata yang diungkapkan Bunda Maria kepada St Brigitta mengenai dukacita luar biasa saat menyaksikan Putranya meregang nyawa di salib, “Yesusku terkasih napas-Nya tersengal-sengal, tenaga-Nya terkuras, dan dalam sengsara akhirnya di salib; kedua mata-Nya masuk ke dalam, setengah tertutup dan tak bercahaya; bibir-nya bengkak dan mulut-Nya ternganga; pipinya cekung, wajah-Nya kusut; hidung-Nya patah; raut wajah-Nya sengsara: kepala-Nya lunglai ke dada-Nya, rambut-Nya hitam oleh darah, lambung-Nya kempis ke dalam, kedua tangan dan kaki-Nya kaku, sekujur tubuh-Nya penuh dengan luka dan darah.”

Segala sengsara Yesus ini adalah juga sengsara Maria, “setiap aniaya yang diderita tubuh Yesus,” kata St Hieronimus, “adalah luka di hati Bunda Maria.” “Siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari saat itu,” kata St Yohanes Krisostomus, “akan melihat dua altar di mana dua kurban agung dipersembahkan; yang satu adalah tubuh Yesus, yang lainnya adalah hati Maria.” Tidak, lebih tepat jika kita mengatakannya bersama St Bonaventura, “hanya ada satu altar – yaitu salib Putra, di mana, bersama dengan kurban Anak Domba Allah ini, sang Bunda juga dikurbankan.” Sebab itu, St Bonaventura bertanya kepada sang Bunda, “Oh, Bunda, di manakah gerangan engkau? Di kaki salib? Tidak, melainkan engkau berada di atas salib, disalibkan, mengurbankan diri bersama Putramu.” St Agustinus menegaskan hal yang sama, “Salib dan paku-paku sang Putra adalah juga salib dan paku-paku Bunda-Nya; bersama Yesus Tersalib, disalibkan juga Bunda-Nya.” Ya, seperti dikatakan St Bernardus, “Kasih mengakibatkan dalam hati Maria siksa aniaya yang disebabkan oleh paku-paku yang ditembuskan pada tubuh Yesus.” Begitu dahsyatnya, seperti ditulis St Bernardus, “Pada saat yang sama Putra mengurbankan tubuh-Nya, Bunda mengurbankan jiwa-Nya.”

Para ibu pada umumnya tidak tahan dan menghindarkan diri dari menyaksikan anak-anak mereka mengalami sakrat maut, tetapi apabila seorang ibu harus menghadapi kenyataan yang demikian, ia akan mengusahakan segala daya upaya untuk meringankan penderitaan anaknya; ia merapikan tempat tidurnya agar anaknya merasa lebih nyaman, ia melayani segala kebutuhan anaknya, dengan demikian ibu yang malang itu meringankan penderitanya sendiri. Ah, Bunda yang paling berduka dari segala ibu! Ya Maria, engkau harus menyaksikan sengsara Putramu Yesus yang sedang meregang nyawa; tetapi engkau tak dapat melakukan sesuatu pun guna meringankan penderitaan-Nya. Bunda Maria mendengar Putranya berseru, “Aku haus!” tetapi ia bahkan tak dapat memberikan setetes air pun untuk melegakan dahaga-Nya yang sangat. Ia hanya dapat mengatakan, seperti dikatakan St Vincentius Ferrer, “Nak, ibu-Mu hanya punya airmata.” Ia melihat bahwa di atas pembaringan salib, Putranya, yang digantung dengan tiga paku, tak dapat beristirahat dengan tenang; betapa ingin ia merengkuh-Nya dalam pelukannya guna meringankan penderitaan-Nya, atau setidak-tidaknya Ia boleh menghembuskan napas terakhir-Nya dalam pelukannya, tetapi hal itu tak dapat dilakukannya. “Dengan sia-sia,” kata St Bernardus, “ia merentangkan kedua tangannya, tetapi tangan-tangan itu kembali ke dadanya dengan kosong.” Ia menyaksikan Putranya yang malang, yang dalam lautan sengsara-Nya mencari penghiburan, tetapi sia-sia, seperti dinubuatkan nabi, “Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku!” Tetapi, siapakah di antara manusia yang mau menghibur-Nya, karena mereka semua memusuhi-Nya? Bahkan di atas salib Ia dicela dan dihujat oleh orang-orang di sekitarnya, “orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia …sambil menggelengkan kepala.” Sebagian berkata kepada-Nya, “Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” Yang lain berkata, “Orang lain ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” Lagi, “Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu.” Bunda Maria sendiri mengatakan kepada St Brigitta, “Aku mendengar sebagian orang mengatakan bahwa Putraku seorang penjahat; sebagian lagi mengatakan bahwa Ia seorang penipu; yang lainnya mengatakan bahwa tak ada yang lebih pantas dijatuhi hukuman mati selain daripada Dia; dan setiap kata yang mereka lontarkan merupakan pedang-pedang dukacita baru yang menembusi hatiku.”

Tetapi, yang paling menambah beban duka yang diderita Bunda Maria melalui belas kasihannya terhadap Putranya adalah ketika ia mendengar-Nya mengeluh dari atas salib bahwa bahkan Bapa-Nya yang Kekal telah meninggalkan-Nya, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Kata-kata ini, seperti diungkapkan Bunda Allah kepada St Brigitta, tak pernah dapat, sepanjang hidupnya, lepas dari ingatannya. Jadi, Bunda yang berduka menyaksikan Putranya Yesus menanggung sengsara dari berbagai pihak; ia berhasrat menghiburnya, tetapi tak dapat. Dan yang paling mendukakan hatinya ialah menyadari bahwa dirinya sendiri, kehadiran dan dukacitanya, menambah sengsara Putranya. “Dukacita,” kata St Bernardus, “yang memenuhi hati Maria, bagaikan air bah membanjiri serta melukai hati Yesus.” “Begitu hebatnya,” menurut santo yang sama, “hingga Yesus di atas salib lebih menderita karena belas kasihan-Nya terhadap Bunda-Nya daripada karena sengsara-Nya sendiri.” Kemudian ia berbicara atas nama Bunda Maria, “Aku berdiri dengan mataku terpaku pada-Nya, dan mata-Nya padaku, dan Ia lebih menderita karena aku daripada karena Diri-Nya Sendiri.” Lalu, berbicara mengenai Bunda Maria yang berada di samping Putranya yang meregang nyawa, ia mengatakan, “ia hidup dalam kematian tanpa dapat mati.” “Di kaki salib Kristus, Bunda-Nya berdiri separuh mati; ia tak berbicara, mati sementara ia hidup, dan hidup sementara ia mati; ia tak dapat mati, sebab kematian adalah hidupnya yang sesungguhnya.” Passino menulis bahwa Yesus Kristus Sendiri suatu hari berbicara kepada Beata Baptista Varani dari Camerino, meyakinkannya bahwa saat di atas salib, begitu hebat dukacitanya melihat Bunda-Nya berdiri di kaki salib dalam dukacita yang luar biasa, hingga belas kasihan-Nya terhadapnya menyebabkan Ia wafat tanpa penghiburan; begitu dahsyat dukacita itu hingga Beata Baptista, yang dianugerahi pencerahan ilahi, merasakan luar biasanya sengsara Yesus ini, berseru, “Ya Tuhan, jangan ceritakan lagi sengsara-Mu ini, sebab aku tak mampu lagi menanggungnya.”

“Semua orang,” kata Simon dari Cassia, “yang saat itu menyaksikan Bunda Maria diam seribu bahasa, tanpa sepatah kata pun keluhan, di tengah dukacita yang begitu hebat itu, merasa tercengang.” Tetapi, jika bibirnya tenang, tidak demikian halnya dengan hatinya, sebab tak henti-hentinya Bunda Maria mempersembahkan hidup Putra-Nya kepada Keadilan Ilahi demi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, kita tahu bahwa dengan jasa-jasa dukacitanya, Bunda Maria bekerjasama dengan Allah dalam melahirkan kita ke dalam kehidupan rahmat, dan dengan demikian kita adalah anak-anak dari dukacitanya.

“Kristus,” kata Lanspergius, “bersuka hati bahwa ia, rekan dalam penebusan kita, dan yang telah Ia tetapkan untuk diberikan-Nya kepada kita sebagai Bunda kita, hadir di sana; sebab di kaki saliblah ia ditetapkan untuk melahirkan kita, anak-anaknya.” Jika ada setitik penghiburan yang mampu menembus lautan dukacita dalam hati Bunda Maria, satu-satunya penghiburan itu ialah bahwa ia mengetahui, dengan dukacitanya ia menghantar kita pada keselamatan abadi, seperti yang dinyatakan Yesus Sendiri kepada St Brigitta, “Bunda-Ku Maria, oleh karena belas kasihan dan kasih sayangnya, diangkat menjadi Bunda Seluruh Langit dan Bumi.” Dan sungguh, inilah kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus sebagai salam perpisahan kepada Bunda-Nya sebelum Ia wafat: inilah pesan terakhir-Nya, mempercayakan kita semua kepadanya sebagai anak-anaknya melalui sosok St Yohanes, “Ibu, inilah anakmu!” Sejak saat itu Bunda Maria memulai perannya sebagai Bunda bagi kita; St Petrus Damianus menegaskan, “melalui doa-doa Maria, yang berdiri di kaki salib antara penyamun yang baik dan Putranya, penyamun itu dipertobatkan dan diselamatkan, dan dengan demikian ia membalas kebaikannya di masa lampau.” Sebab, seperti dikisahkan para penulis lainnya juga, penyamun ini telah bermurah hati kepada Yesus dan Bunda Maria dalam pengungsian mereka ke Mesir. Peran yang sama dari Santa Perawan terus berlanjut, dan masih berlanjut, untuk selamanya.

TELADAN

Seorang pemuda di Perugia berjanji kepada iblis, jika iblis membuatnya mampu mendapatkan obyek dosa yang ia dambakan, ia akan mempersembahkan jiwanya; ia menyerahkan perjanjian tertulis kepada iblis yang ditandatangani dengan darahnya. Setelah kejahatan dilakukan, iblis menuntut dipenuhinya janji sang pemuda. Untuk itu, iblis menggiringnya ke tepi sungai yang dalam dan mengancam jika ia tidak menceburkan diri ke dalamnya, iblis akan menyeretnya, tubuh dan jiwa, ke dalam neraka. Pemuda malang ini, berpikir bahwa tidaklah mungkin meloloskan diri dari tangan iblis, naik ke sebuah jembatan kecil di mana ia dapat meloncat; gemetar akan bayangan kematian, ia mengatakan kepada iblis bahwa ia tidak memiliki keberanian untuk meloncat; jika iblis menuntut kematiannya, iblislah yang harus mendorongnya. Pemuda ini mengenakan skapulir SP Maria Berdukacita, sebab itu iblis berkata, “Lepaskan skapulir itu, maka aku akan mendorongmu.” Sang pemuda, menyadari bahwa melalui skapulirnya Bunda Allah masih berkenan memberinya perlindungan, menolak melakukannya. Pada akhirnya, setelah pertengkaran sengit, iblis dengan putus asa pergi; dan si pendosa, penuh rasa syukur kepada Bunda Dukacita, pergi untuk berterima kasih kepadanya dan mengakukan dosa-dosanya. Sesuai nazarnya, sang pemuda mempersembahkan bagi Santa Perawan, di gereja Santa Maria la Nuova di Perugia, sebuah lukisan yang menggambarkan apa yang telah terjadi.

DOA

Ah, Bunda yang paling berduka dari segala ibunda, Putramu telah wafat; Putra yang begitu menawan dan yang begitu mengasihi engkau! Menangislah, sebab engkau punya alasan untuk mengangis. Siapakah gerangan yang mampu menghibur engkau? Hanya pikiran bahwa Yesus dengan wafat-Nya menaklukkan neraka, membuka pintu gerbang surga yang hingga saat itu tertutup bagi manusia, dan memenangkan banyak jiwa-jiwa, yang mampu menghibur engkau. Dari atas tahta salib, Ia akan berkuasa dalam begitu banyak hati, yang, takluk pada kasih-Nya, akan mengabdi-Nya dengan sepenuh hati. Sementara itu, ya Bundaku, janganlah menolak aku, ijinkan aku berada di dekatmu, menangis bersamamu, sebab aku punya banyak alasan untuk mengangisi dosa-dosaku dengan mana aku telah menghina-Nya. Ah, Bunda Belas Kasihan, aku berharap, pertama-tama, melalui wafat Penebus-ku, dan kemudian melalui dukacitamu, untuk memperoleh pengampunan serta keselamatan abadi.

 

Dukacita Keempat

Perjumpaan Bunda Maria dengan Yesus

saat Ia Menjalani Hukuman Mati

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

St Bernardinus mengatakan, agar dapat memperoleh gambaran betapa dahsyat dukacita Maria atas wafat Yesus, patutlah kita merenungkan betapa besar kasih sayang Bunda Maria yang dilimpahkannya kepada Putranya. Semua ibu merasakan penderitaan anak-anak mereka sebagai penderitaan mereka sendiri. Sebab itu, ketika wanita Kanaan memohon kepada Juruselamat kita agar membebaskan puterinya dari setan yang menyiksanya, ia mohon pada-Nya untuk berbelas kasihan kepadanya, sang ibu, daripada puterinya, “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi, adakah ibu yang mengasihi anaknya lebih dari Bunda Maria mengasihi Yesus? Ia adalah Putra tunggalnya, dibesarkan di tengah begitu banyak kesulitan hidup; seorang Putra yang paling menawan, dan mengasihi Bunda-Nya dengan kasih mesra; Putra, yang bukan saja Putranya, melainkan juga Tuhannya, yang telah datang ke dunia guna menyalakan dalam hati semua orang api kasih ilahi, seperti yang Ia Sendiri nyatakan, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!” Marilah kita membayangkan betapa api telah Ia nyalakan dalam hati murni Bunda-Nya yang Tersuci, api kasih yang tidak seperti dari dunia ini. Bunda Maria sendiri mengatakan kepada St Brigitta, kasih itu telah membuat hatinya dan hati Putranya menjadi satu. Leburnya antara Hamba dan Bunda, dengan Putra dan Allah, menciptakan dalam hati Maria api yang terdiri dari ribuan nyala api. Namun demikian, keseluruhan nyala api kasih ini kelak, pada saat sengsara, berubah menjadi lautan dukacita, seperti dinyatakan St Bernardinus, “andaikata segala derita sengsara di seluruh dunia dijadikan satu, masih tidak akan sebanding dengan dukacita Perawan Maria yang mulia.” Ya, sebab, seperti ditulis Richard dari St Laurentius, “semakin lemah lembut Bunda Maria mengasihi, semakin dalamlah ia terluka.” Semakin besar kasihnya kepada-Nya, semakin besar dukacitanya saat sengsara-Nya; teristimewa saat Ia berjumpa dengan Putranya, yang telah dijatuhi hukuman mati, memanggul salib-Nya ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Inilah pedang dukacita keempat yang kita renungkan pada hari ini.

Bunda Maria mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa ketika saat sengsara Kristus semakin dekat, matanya senantiasa bersimbah airmata, sementara pikirannya tak lepas dari Putranya terkasih, yang akan terpisah darinya di dunia ini, dan bayangan akan sengsara yang segera tiba menyebabkannya diliputi ketakutan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Lihat, waktu yang ditetapkan sejak lama telah tiba, dan Yesus, dengan meneteskan airmata, mohon pamit dari Bunda-Nya sebelum Ia menyongsong maut. St Bonaventura, merenungkan Bunda Maria pada malam itu, mengatakan, “Engkau melewatkan malam-malam tanpa terlelap, dan sementara yang lain tertidur pulas, engkau tetap terjaga.” Pagi harinya, para murid Yesus Kristus datang kepada Bunda yang berduka, seorang memberitakan kabar, yang lain membawa kabar yang lain pula; namun semuanya kabar dukacita, membuktikan digenapinya nubuat Yeremia atasnya, “Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis, airmatanya bercucuran di pipi; dari semua kekasihnya, tak ada seorang pun yang menghibur dia.” Sebagian menceritakan kepadanya perlakuan keji terhadap Putranya di rumah Kayafas; yang lain, penghinaan yang Ia terima dari Herodes. Pada akhirnya – aku menghilangkan yang lainnya – St Yohanes datang dan mengabarkan kepada Bunda Maria bahwa Pilatus yang sangat tidak adil telah menjatuhkan hukuman mati disalib atas-Nya. Aku katakan Pilatus yang sangat tidak adil; sebab seperti perkataan St Leo, “Hakim yang tidak adil ini menjatuhkan hukuman mati atas-Nya dengan bibir yang sama yang memaklumkan bahwa Ia tidak bersalah.” “Ah, Bunda yang berduka,” kata St Yohanes, “Putramu telah dijatuhi hukuman mati, Ia telah pergi, memanggul salib-Nya sendiri ke Kalvari,” seperti yang kemudian dikisahkan orang kudus ini dalam Injilnya, “Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.” “Marilah, jika engkau berharap berjumpa dengan-Nya di tengah jalan yang akan dilewati-Nya, dan menyampaikan selamat tinggal.”

Bunda Maria pergi bersama St Yohanes, dan dari darah yang tercecer di tanah, ia tahu bahwa Putranya telah lewat. Hal ini dinyatakan Bunda Maria kepada St Brigitta, “Dari jejak-jejak Putraku, aku tahu di mana Ia telah lewat. Sebab sepanjang perjalanan, tanah dibasahi dengan darah-Nya.” St Bonaventura menggambarkan Bunda yang berduka mengambil jalan pintas, menanti di sudut jalan agar dapat berjumpa dengan Putranya yang sengsara saat Ia lewat. “Bunda yang paling berduka,” kata St Bernardus, “berjuma dengan Putranya yang paling sengsara.” Sementara Bunda Maria menanti di sudut jalan, betapa banyak ia mendengar apa yang dikatakan orang-orang Yahudi, yang segera mengenalinya, segala kata yang menyudutkan Putranya terkasih, dan mungkin bahkan kata-kata yang mencela dirinya juga.

Sungguh malang, betapa adegan duka hadir di hadapannya! paku-paku, palu, tali, alat-alat yang mendatangkan maut bagi Putranya, semuanya di bawa mendahului-Nya. Dan betapa suara terompet yang memaklumkan hukuman mati bagi Putranya itu menyayat hatinya! Tetapi lihatlah, segala alat-alat hukuman mati, peniup terompet, dan para algojo, semuanya telah berlalu; ia mengangkat matanya dan melihat, ya Tuhan! seorang pemuda penuh berlumuran darah dan luka-luka dari ujung kepala hingga ujung kaki, sebuah mahkota duri di sekeliling kepala-Nya, dan dua palang berat di pundak-Nya. Ia memandang pada-Nya, hampir-hampir tak mengenali-Nya, dan berkata bersama Yesaya, “dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia.” Ya, sebab luka-luka, bilur-bilur dan gumpalan-gumpalan darah membuat-Nya tampak seperti seorang kusta: “kita mengira dia kena tulah” sehingga kita tak mengenali-Nya lagi, “ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.” Tetapi, kuasa cinta menyatakan-Nya kepadanya, dan segera setelah ia menyadari bahwa pemuda itu sungguh Putranya, ah betapa cinta dan ngeri menguasai hatinya! demikian dikatakan St Petrus dari Alcantara dalam meditasinya. Di satu pihak, Bunda Maria berhasrat memandang-Nya, namun, di pihak lain ia takut tak dapat menahan hatinya melihat pemandangan yang menyayat hati itu. Pada akhirnya, mereka saling memandang. Sang Putra menyeka gumpalan darah dari mata-Nya, seperti dinyatakan kepada St Brigitta, yang menghalangi penglihatan-Nya, dan memandang Bunda-Nya, dan Sang Ibunda memandang Putranya. Ah, lihatlah betapa dukacita yang pahit, bagaikan begitu banyak anak panah menancap serta menembusi kedua jiwa kudus yang penuh kasih itu. Ketika Margareta, puteri St. Thomas More berjumpa dengan ayahnya dalam perjalanan eksekusinya, ia hanya dapat berseru, “O ayah! Ayah!” dan jatuh pingsan di depan kaki ayahnya. Bunda Maria, berjumpa dengan Putranya dalam perjalanan-Nya ke Kalvari, tidak pingsan, tidak, seperti dikatakan Pastor Suarez, bahwa mestinya Bunda ini telah kehilangn akal; atau pun tewas. Namun demikian Tuhan melindunginya guna menanggung dukacita yang lebih dahsyat; walaupun ia tidak mati, dukacitanya cukup menyebabkannya mati seribu kali.

“Sang Bunda berhasrat memeluk Putranya,” demikian kata St Anselmus, “tetapi para prajurit mendorongnya ke samping dengan kejam dan memaksa Kristus yang menderita melangkah maju; dan Bunda Maria mengikuti-Nya. Ah, Santa Perawan, ke manakah gerangan engkau hendak pergi? Ke Kalvari. Yakinkah engkau bahwa engkau sanggup memandang Dia, yang adalah hidupmu sendiri, tergantung di salib?” Dan hidupmu akan tergantung di hadapanmu. “Ah, berhentilah Bunda-Ku,” kata St Laurentius Giustiniani atas nama sang Putra, “Ke manakah engkau hendak pergi? Dari manakah engkau datang? Jika engkau pergi ke mana Aku pergi, engkau akan tersiksa karena sengsara-Ku, dan Aku karena sengsaramu.” Namun, meskipun menyaksikan Putranya Yesus yang meregang nyawa akan mengakibatkan dukacita yang dahsyat, Bunda Maria yang penuh kasih tak mau meninggalkan-Nya: sang Putra melangkah maju, sementara Bunda mengikuti, agar juga dapat disalibkan bersama Putranya, seperti dikatakan Abbas William, “sang Bunda juga memikul salibnya dan mengikuti Dia untuk disalibkan bersama-Nya.” “Kita bahkan menaruh belas kasihan kepada binatang-binatang liar,” tulis St Yohanes Krisostomus, “melihat seekor induk singa menyaksikan anaknya mati, bukankah kita akan tergerak oleh belas kasihan? Tidakkah kita juga tergerak oleh belas kasihan melihat Bunda Maria mengikuti Anak Dombanya yang tak bercela ke tempat pembantaian? Jadi, marilah kita menaruh belas kasihan kepadanya, dan marilah kita juga menemaninya dan menemani Putranya, dengan memikul dengan tekun salib yang Kristus anugerahkan kepada kita. St Yohanes Krisostomus bertanya, mengapa Yesus Kristus, dalam sengsara-Nya yang lain, lebih suka menanggung sengsara-Nya sendiri, tetapi, dalam memikul salib-Nya Ia membiarkan diri dibantu oleh seorang Kirene? Ia menjawab, “hendaknya kamu mengerti bahwa salib Kristus tidak lengkap tanpamu.”

TELADAN

Juruselamat kita suatu hari menampakkan diri kepada Sr Diomira, seorang biarawati di Florence, dan mengatakan, “Pikirkanlah Aku dan kasihilah Aku, maka Aku akan memikirkan engkau dan mengasihi engkau.” Pada saat yang sama Kristus memberinya seikat bunga dan sebuah salib, dengan cara demikian menyatakan bahwa penghiburan bagi para kudus di dunia ini senantiasa disertai dengan salib. Salib mempersatukan jiwa dengan Tuhan. Beato Hieronimus Emilian, saat masih menjadi seorang tentara dan penuh dosa, dikurung oleh para musuhnya dalam sebuah benteng. Di sana, terdorong oleh kemalangannya, dan memperoleh pencerahan dari Tuhan untuk mengubah hidupnya, ia mohon pertolongan Santa Perawan, dan sejak saat itu, dengan pertolongan Bunda Allah, ia mulai hidup sebagai seorang kudus, begitu saleh hidupnya hingga suatu hari ia beroleh karunia melihat tempat sangat tinggi yang telah Tuhan persiapkan baginya di surga. Ia menjadi pendiri ordo religius Somaschi, wafat sebagai seorang kudus, dan baru-baru ini telah dikanonisasi oleh Gereja yang kudus.

DOA

Bundaku yang berduka, demi dukacita luar biasa yang engkau derita saat menyaksikan Putramu Yesus yang terkasih digiring menuju pembantaian, perolehkanlah bagiku rahmat agar aku juga senantiasa tekun dalam memikul salib-salib yang Tuhan anugerahkan kepadaku. Alangkah bahagianya aku, seandainya aku tahu bagaimana menyertaimu dengan salibku hingga ajal. Engkau bersama Putramu Yesus – kalian berdua yang sama sekali tak berdosa – telah memikul salib yang jauh lebih berat; layakkah aku, seorang pendosa, yang pantas mendapatkan neraka, menolak memikul salibku? Ah, Santa Perawan yang Dikandung Tanpa Dosa, darimu aku berharap memperoleh pertolongan dalam memikul semua salibku dengan tekun. Amin

 

Dukacita Ketiga

Hilangnya Yesus di Bait Allah

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Rasul St Yakobus mengatakan bahwa kesempurnaan dapat dicapai dengan ketekunan. “Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” Kristus memberikan Santa Perawan Maria kepada kita sebagai teladan kesempurnaan, oleh sebab itu perlulah ia ditempa derita agar dalam dia kita dapat mengagumi ketekunannya yang gagah berani dan berusaha meneladaninya. Dukacita yang kita renungkan sekarang ini adalah penderitaan terdahsyat yang harus dialami Bunda Maria dalam hidupnya, kehilangan Putranya di Bait Allah.

Ia, yang terlahir buta, merasa menderita karena tak dapat melihat terang; tetapi ia, yang dulu biasa menikmati terang dan sekarang tak lagi dapat menikmatinya karena menjadi buta, merasa jauh lebih menderita. Demikian juga halnya dengan jiwa-jiwa yang malang, yang dibutakan oleh gemerlapnya dunia ini, hanya sedikit mengenal Tuhan, mereka menderita, tetapi sedikit saja, saat tak dapat menemukan-Nya. Tetapi, sebaliknya, ia yang diterangi oleh terang surgawi, telah menjadi layak karena kasih untuk menikmati kehadiran mesra yang Maha Pengasih. Ya Tuhan, betapa pahit dukacitanya apabila ia mendapati dirinya terpisah daripada-Mu! Sekarang, mari kita lihat betapa pastilah Bunda Maria menderita karena pedang dukacita ketiga yang menembus jiwanya, yaitu saat kehilangan Yesus di Yerusalem selama tiga hari, ia terpisah dari kehadiran-Nya yang amat mempesona, sementara ia biasa menikmatinya.

St Lukas mencatat dalam bab dua Injilnya bahwa Bunda Maria dengan St Yusuf, suaminya, dan Yesus, tiap-tiap tahun biasa pergi ke Bait Allah pada hari raya Paskah. Pada waktu Putranya berusia duabelas tahun, Bunda Maria pergi seperti biasanya, dan Yesus tanpa sepengetahuannya tinggal di Yerusalem. Bunda Maria tidak langsung menyadari hal itu, ia beranggapan bahwa Yesus ada bersama yang lainnya. Setibanya di Nazaret, ia mencari Putranya, tetapi tidak mendapatkan-Nya. Segera ia kembali ke Yerusalem untuk mencari-Nya, dan setelah tiga hari barulah ia mendapatkan-Nya. Sekarang marilah kita merenungkan betapa gelisah Bunda yang berduka ini selama tiga hari sementara ia mencari-cari Putranya. Bersama pengantin dalam Kidung Agung ia bertanya tentang-Nya, “Apakah kamu melihat jantung hatiku?” Tetapi, tak didapatkannya kabar berita tentang-Nya. Oh, sungguhlah besar duka dalam hati Maria, dikuasai rasa letih, namun belum juga menemukan Putranya terkasih, ia mengulang kata-kata Ruben mengenai saudaranya, Yusuf, “Anak itu tidak ada lagi, ke manakah aku ini?” “Yesus-ku tidak ada dan aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk menemukan-Nya; tetapi ke manakah aku hendak pergi tanpa jantung hatiku?” Dengan airmata menetes tak henti, diulanginya kata-kata ini bersama Daud sepanjang tiga hari itu, “Airmataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: `Di mana Allahmu?’” Sebab itu, Pelbart, bukan tanpa alasan mengatakan bahwa `pada malam-malam itu Bunda yang berduka tidak dapat memejamkan mata; terus-menerus ia meneteskan airmata, memohon dengan sangat kepada Tuhan agar Ia menolongnya menemukan Putranya.” Seringkali, selama masa itu, menurut St Bernardus, Bunda Maria memanggil Putranya dengan menggunakan kata-kata pengantin dalam bait ini, “Tunjukkanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana engkau menggembalakan domba, di manakah engkau pada petang hari, agar aku segera pergi mencari.” Putraku, katakan di manakah Engkau berada, agar aku tak lagi berkeliling mencari Engkau dengan sia-sia.

Sebagian orang menegaskan, dan bukan tanpa alasan, bahwa dukacita ini bukan hanya salah satu yang terbesar, melainkan yang paling dahsyat dan paling menyakitkan dari yang lainnya. Sebab, pertama, Bunda Maria dalam dukacitanya yang lain, ada bersama Yesus: ia berduka saat Nabi Simeon menyampaikan nubuat kepadanya di Bait Allah; ia berduka dalam pengungsian ke Mesir, tetapi semuanya itu dilaluinya bersama Yesus. Tetapi, dalam dukacitanya yang ini, Bunda Maria berduka terpisah dari Yesus, bahkan tak tahu di mana Ia berada, “cahaya matakupun lenyap dari padaku.” Sebab itu, sambil menangis ia mengatakan, “Ah, cahaya mataku, Yesus terkasih, tidak lagi bersamaku; Ia jauh dariku dan aku tidak tahu kemanakah gerangan Ia pergi.” Origen mengatakan bahwa karena kasih sayang yang dilimpahkan Bunda Tersuci ini kepada Putranya, “ia menderita jauh lebih hebat atas kehilangan Putranya Yesus daripada yang pernah ditanggung para kudus manapun dalam perpisahan jiwa dari raganya.” Ah, betapa lamanya masa tiga hari itu bagi Maria; serasa tiga abad lamanya, dan seluruhnya kepahitan belaka, oleh sebab tak ada yang mampu menghiburnya. Dan siapakah yang dapat menghiburku, demikian katanya bersama Nabi Yeremia, siapakah yang dapat menenangkan hatiku, sebab Ia seorang, yang dapat melakukannya, berada jauh dariku dan karenanya mataku tak akan pernah cukup mencucurkan air mata. “Karena inilah aku menangis, mataku mencucurkan air; karena jauh dari padaku penghibur yang dapat menyegarkan jiwaku.” Dan bersama Tobit ia mengulang, “Adakah sukacita bagiku yang duduk dalam kegelapan dan tidak melihat cahaya surgawi?”

Alasan kedua, Bunda Maria, dalam semua dukacitanya yang lain, memahami benar bahwa alasannya adalah demi penebusan umat manusia, yaitu kehendak Allah; tetapi dalam dukacitanya yang ini, ia tidak memahami alasan hilangnya Putranya. “Bunda yang berduka,” kata Lanspergius, “bersedih hati atas tiadanya Yesus, sebab dalam kerendahan hatinya, ia menganggap dirinya tak pantas lagi untuk tetap tinggal bersama ataupun merawat-Nya di dunia ini dan menerima tanggung jawab atas harta pusaka yang luar biasa itu.” “Dan siapa tahu,” demikian pikirnya dalam hati, “mungkin aku tidak melayani-Nya seperti yang seharusnya; mungkin aku bersalah karena lalai, sebab itu Ia meninggalkanku.” “Mereka mencari-Nya,” kata Origen, “kalau-kalau sekiranya Ia telah meninggalkan mereka sama sekali.” Suatu hal yang pasti bahwa bagi jiwa yang mengasihi Tuhan, tak ada kesedihan yang lebih besar daripada takut mengecewakan-Nya.

Sebab itu, hanya dalam dukacita ini saja Bunda Maria mengeluh; secara halus ditegurnya Yesus setelah ia menemukan-Nya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Dengan kata-katanya ini Bunda Maria tidak bermaksud mencela Yesus, seperti dituduhkan oleh mereka yang sesat, melainkan hanya bermaksud mengungkapkan kepada-Nya kesedihan, karena kasihnya yang mendalam kepada-Nya, yang ia alami selama ketidakhadiran-Nya. “Bukan suatu celaan,” kata Denis Carthusian, “melainkan suatu protes kasih.” Singkat kata, pedang dukacita ini begitu kejam menembus hati Santa Perawan Tersuci. Beata Benvenuta, rindu suatu hari dapat berbagi duka dengan Bunda Tersuci dalam dukacitanya ini dan memohon kepada Bunda Maria agar kerinduannya dikabulkan. Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dengan Bayi Yesus dalam pelukannya, tetapi sementara Benvenuta menikmati kehadiran Kanak-kanak yang paling menawan hati ini, dalam sekejap ia dipisahkan dari-Nya. Begitu dalam kesedihan Benvenuta hingga ia mohon pertolongan Bunda Maria untuk meringankan penderitaannya, agar dukacitanya itu jangan sampai mengakibatkan kematian. Tiga hari kemudian, Santa Perawan menampakkan diri kembali dan mengatakan, “Ketahuilah, puteriku, penderitaanmu itu hanyalah sebagian kecil dari yang aku derita ketika aku kehilangan Putraku.”

Dukacita Bunda Maria ini, pertama-tama, berguna sebagai penghiburan bagi jiwa-jiwa yang menderita, dan tak lagi menikmati, seperti dulu mereka menikmati, kehadiran mesra Tuhan mereka. Jiwa-jiwa demikian boleh menangis, tetapi sepantasnya mereka menangis dalam damai, seperti Bunda Maria menangisi ketidakhadiran Putranya; dan biarlah jiwa-jiwa itu menimba keberanian, dan bukannya takut bahwa Allah tak berkenan lagi kepada mereka; sebab Tuhan sendiri telah menegaskan keada St Teresa bahwa “tak seorang pun sesat tanpa mengetahuinya; dan tak seorang pun diperdaya tanpa ia sendiri menghendakinya.” Karenanya, jika Tuhan menarik diri dari suatu jiwa yang mengasihi-Nya, Ia tidak sungguh-sunggh meninggalkan jiwa; Tuhan seringkali menyembunyikam Diri dari suatu jiwa agar jiwa mencari-Nya dengan kerinduan yang lebih berkobar dan dengan cinta yang lebih bernyala-nyala. Tetapi, barangsiapa rindu bertemu Yesus, ia harus mencari-Nya, bukan di antara segala kenikmatan dan kesenangan duniawi, melainkan di antara salib-salib dan penyangkalan diri, seperti Bunda Maria mencari-Nya, “aku dengan cemas mencari Engkau,” demikian kata Bunda Maria kepada Putranya. “Jadi, aku belajar dari Maria,” kata Origen, “dalam mencari Yesus.”

Lagipula, di dunia ini Bunda Maria tidak mencari yang lain selain Yesus. Ayub tidak mengutuk ketika ia kehilangan segala miliknya di dunia: kekayaan, anak-anak, kesehatan, kehormatan, dan bahkan diturunkan dari tahta ke atas abu; tetapi karena Tuhan bersamanya, ia tetap menerima keadaannya. St Agustinus menyatakan, “ia telah kehilangan segala apa yang Tuhan berikan kepadanya, tetapi ia masih memiliki Tuhan Sendiri.” Betapa menyedihkan dan menderitanya jiwa-jiwa yang kehilangan Tuhan. Jika Bunda Maria menangisi ketidakhadiran Putranya selama tiga hari, betapa terlebih lagi selayaknya para pendosa menangis, mereka yang telah kehilangan rahmat Allah, dan kepadanya Tuhan mengatakan, “kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu.” Inilah akibat dosa; dosa memisahkan jiwa dari Tuhan, “yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu.” Jadi, jika orang-orang berdosa memiliki segala kekayaan dunia, tetapi kehilangan Tuhan, maka segalanya, bahkan yang ada di dunia ini, menjadi sia-sia dan menjadi sumber penderitaan mereka, seperti diakui Salomo, “lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Tetapi kemalangan terbesar dari jiwa-jiwa yang buta ini adalah, demikian menurut St Agustinus, “apabila mereka kehilangan kapak, pastilah mereka pergi mencarinya; apabila mereka kehiangan domba, pastilah mereka berusaha keras mencarinya; apabila mereka kehilangan binatang beban, mereka tak dapat beristirahat; tetapi ketika mereka kehilangan Tuhan mereka, yang adalah Yang Mahabaik, mereka makan, minum dan beristirahat.”

TELADAN

Dalam Surat-surat Tahunan Serikat Yesus dikisahkan bahwa di India, seorang pemuda meninggalkan kamarnya dengan maksud untuk berbuat dosa, ketika didengarnya suatu suara yang mengatakan, “Berhentilah! kemanakah engkau hendak pergi?” Ia melihat sekeliling dan tampaklah olehnya suatu gambar relief yang melukiskan Bunda Dukacita, sedang mengulurkan pedang yang ada di dadanya, katanya, “Ambillah pedang ini, lebih baiklah engkau menusukkannya ke hatiku daripada melukai Putraku dengan berbuat dosa yang demikian.” Mendengar kata-kata ini, pemuda itu merebahkan diri ke tanah, meledak dalam tangis, penuh sesal mohon pengampunan dari Tuhan dan Bunda Maria.

DOA

Ya Bunda Maria, mengapakah engkau menyiksa dirimu sendiri saat mencari Putramu yang hilang? Adakah karena engkau tidak tahu di mana Ia berada? Tidak tahukah engkau bahwa Ia ada dalam hatimu? Tidak tahukah engkau bahwa Ia menggembala di tengah-tengah bunga bakung? Engkau sendiri mengatakannya, “Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.” Segenap pikiran dan kasih sayangmu, yang bersahaja, murni dan suci, adalah bunga-bunga bakung yang mengundang Mempelai Ilahi untuk tinggal dalam engkau. Ah, Bunda Maria, adakah engkau berkeluh-kesah karena Yesus, satu-satunya jantung hatimu? Berikanlah keluh-kesahmu kepadaku, dan kepada begitu banyak orang berdosa yang tidak mengasihi-Nya, dan yang telah kehilangan Dia karena menghina-Nya. Bundaku yang paling menawan, jika karena dosa-dosaku Putramu belum kembali pada jiwaku, sudilah engkau membantuku agar aku dapat menemukan-Nya. Aku yakin bahwa Ia akan ditemukan oleh mereka yang mencari-Nya, “TUHAN adalah baik bagi jiwa yang mencari Dia” Tetapi, ya Bunda, bantulah aku mencari-Nya seperti yang seharusnya. Engkaulah pintu masuk di mana semua orang dapat menemukan Yesus; melalui engkau, aku juga berharap dapat menemukan Dia. Amin

 

 

Dukacita Kedua

Melarikan Yesus ke Mesir

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Bagaikan seekor rusa yang terluka oleh panah membawa rasa sakit itu bersamanya kemanapun ia pergi, sebab ia membawa sertanya anak panah yang telah melukainya, demikian juga Bunda Allah. Setelah nubuat memilukan Nabi Simeon, seperti yang telah kita renungkan dalam dukacita pertama, Bunda Maria senantiasa membawa dukacita sertanya oleh karena kenangan terus-menerus akan sengsara Putranya. Hailgrino, menjelaskan baris bait ini, “Rambut di kepalamu, berwarna ungu raja, rapi terjalin,” mengatakan bahwa helai-helai rambut berwarna ungu ini adalah kenangan Bunda Maria yang terus-menerus akan sengsara Yesus, di mana darah yang suatu hari nanti memancar dari luka-luka-Nya senantiasa ada di depan matanya, “Dalam benakmu, ya Maria, dan dalam segala pemikiranmu, bayang-bayang darah sengsara Kristus senantiasa meliputimu dengan dukacita, seolah-olah engkau sungguh melihat darah memancar dari luka-luka-Nya.” Dengan demikian, Putranya sendiri merupakan anak panah di hati Maria; semakin menawan Ia di hatinya, semakin amat dalamlah bayangan akan kehilangan Dia oleh kematian yang keji menyengsarakan hatinya.

Sekarang marilah kita merenungkan pedang dukacita kedua yang melukai Maria dalam melarikan Bayi Yesus dari aniaya Herodes ke Mesir. Herodes, mendengar bahwa Mesias yang dinanti-nantikan telah lahir, dalam kebodohannya, ketakutan kalau-kalau Ia akan menggulingkannya dari kerajaan. St. Fulgentius, mencela kebodohan Herodes dengan mengatakan, “Mengapakah engkau gelisah, hai Herodes? Raja yang baru dilahirkan ini datang tidak untuk menaklukan raja-raja dengan pedang, melainkan menaklukkan mereka secara mengagumkan dengan wafat-Nya.” Herodes yang kafir, menanti kabar dari para Majus di mana sang Raja dilahirkan agar ia dapat segera mencabut nyawa-Nya. Sadar bahwa ia ditipu, Herodes memerintahkan agar semua bayi yang didapati di wilayah Betlehem dan sekitarnya dibunuh. Sementara itu, malaikat menampakkan diri dalam mimpi kepada St Yusuf, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir.” Menurut Gerson, St Yusuf segera, pada malam itu juga, menyampaikan perintah ini kepada Maria; dengan membawa Bayi Yesus, mereka memulai perjalanan mereka, seperti dengan jelas dicatat dalam Kitab Suci, “Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir.” “Ya Tuhan,” demikian kata Beato Albertus Agung atas nama Maria, “Haruskah Ia menyingkir dari manusia, Ia yang datang untuk menyelamatkan manusia?” Maka tahulah Bunda yang berduka bahwa nubuat Simeon mengenai Putranya sudah mulai digenapi, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Menyadari bahwa segera sesudah kelahiran-Nya Ia dikejar-kejar untuk dibunuh, tulis St Yohanes Krisostomus, betapa isyarat pengungsian yang kejam atas dirinya dan Putranya itu telah mengakibatkan dukacita dalam hatinya, “Pergi dari para sahabat kepada orang-orang asing, dari Bait Allah ke kuil-kuil berhala. Adakah penderitaan yang lebih besar dari penderitaan seorang bayi yang baru dilahirkan, yang masih menyusu pada ibunya, dan ibundanya pula dalam keadaan miskin papa, dipaksa mengungsi bersamanya?”

Siapa pun dapat membayangkan bagaimana Bunda Maria menderita dalam perjalanan ini. Jarak ke Mesir jauh. Sebagian besar penulis sepakat jaraknya kira-kira 300 mil, suatu perjalanan mendaki selama tigapuluh hari. Jalannya, menurut gambaran St Bonaventura, “tidak rata, tak lazim dan jarang dilewati.” Waktu itu musim dingin, jadi mereka harus berkelana dalam salju, hujan dan angin, melewati jalan-jalan yang becek dan licin. Maria seorang gadis muda belia berusia sekitar limabelas tahun yang lemah lembut, yang tak terbiasa dengan perjalanan yang demikian. Tak ada seorang pun menolong mereka. St Petrus Chrysologus mengatakan, “Yusuf dan Maria tidak mempunyai baik pelayan laki-laki maupun perempuan; mereka sendirilah sekaligus majikan dan pelayan.” Ya Tuhan, pastilah sungguh menyentuh hati melihat Perawan yang lemah lembut, dengan Bayi yang baru lahir dalam pelukannya, berkeliaran di padang dunia! “Tetapi bagaimana,” tanya St Bonaventura, “mereka mendapatkan makanan? Di manakah mereka beristirahat pada malam hari? Adakah tempat menginap bagi mereka? Adakah yang mereka makan selain dari sepotong roti keras, entah bekal yang dibawa St Yusuf atau yang diterimanya sebagai sedekah? Di manakah gerangan mereka dapat tidur dalam perjalanan yang demikian (teristimewa 200 mil padang pasir, di mana tidak ada baik rumah ataupun penginapan), selain di atas pasir atau di bawah pohon di hutan, rentan terhadap cuaca dan bahaya penyamun serta binatang buas, yang sangat banyak terdapat di Mesir. Ah, andai saja ada yang berjumpa dengan tiga pribadi terbesar di dunia ini, yang sudi memberi tumpangan kepada tiga pengelana miskin yang malang.”

Di Mesir, menurut Brocard dan Jansenius, mereka tinggal di daerah yang disebut Maturea; meskipun St Anselmus berpendapat bahwa mereka tinggal di kota Heliopolis, atau di Memphis, yang sekarang disebut Kairo kuno. Sekarang, marilah kita merenungkan kemiskinan sangat yang menurut St Antonius, St Thomas, serta yang lainnya, pastilah mereka alami selama tujuh tahun mereka di sana. Mereka adalah orang asing, tak dikenal, tanpa penghasilan, uang, ataupun sanak saudara, semata-mata bertahan hidup dari perjuangan mereka yang gigih. “Karena mereka melarat,” kata St Basilus, “pastilah mereka berjuang keras guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” Landolph dari Saxony lebih jauh menulis (dan biarlah hal ini menjadi penghiburan bagi kaum miskin), bahwa “Maria tinggal di sana dalam kemiskinan yang sangat hingga terkadang ia bahkan tak mempunyai sebongkah roti pun untuk diberikan kepada Putranya, saat Ia memintanya karena lapar.”

Setelah Herodes mangkat, demikian St Matius mencatat, malaikat menampakkan diri lagi kepada St Yusuf dalam mimpi dan memintanya kembali ke Yudea. St Bonaventura menganggap kepulangan ini menyebabkan penderitaan yang lebih besar bagi Santa Perawan mengingat Yesus telah bertambah besar, usianya sekitar tujuh tahun, demikian menurut orang kudus ini, di mana, “Ia terlalu besar untuk digendong, tetapi belum cukup kuat untuk berjalan jauh sendiri tanpa pertolongan.”

Gambaran akan Yesus dan Maria yang berkelana sebagai pengembara di dunia, mengajarkan kepada kita agar kita pun selayaknya hidup sebagai pengembara di dunia ini, lepas dari keterikatan terhadap barang-barang yang ditawarkan dunia; kita akan segera meninggalkan dunia ini untuk memasuki keabadian, “Yang kita punyai sekarang bukanlah kota abadi, tetapi carilah kota abadi yang akan datang.” St Agustinus menambahkan, “Kalian adalah pengembara; kalian singgah, dan kemudian berlalu.” Hal ini juga mengajarkan kita untuk memeluk salib-salib kita, sebab tanpa salib kita tak dapat hidup di dunia ini. Beata Veronica da Binasco, seorang biarawati Agustinian, dibawa dalam roh untuk menemani Bunda Maria dan Bayi Yesus dalam perjalanan mereka ke Mesir; sesudahnya Bunda Allah mengatakan, “Puteriku, engkau telah melihat betapa dengan susah payah kami mencapai negeri ini; sekarang ketahuilah bahwa tak seorang pun menerima rahmat tanpa penderitaan.” Siapa pun yang berharap untuk merasakan penderitaan hidupnya lebih ringan, hendaknya menyertai Yesus dan Maria, “Ambillah Anak serta Ibu-Nya.” Maka segala beban derita terasa ringan, dan bahkan manis serta menyenangkan bagi dia, yang karena kasihnya menempatkan Putra dan Bunda dalam hatinya. Maka, marilah kita mengasihi Mereka; marilah kita menghibur Bunda Maria dengan menyambut dalam hati kita Putranya, yang bahkan hingga kini masih terus-menerus dianiaya oleh manusia dengan dosa-dosa mereka.

TELADAN

Santa Perawan suatu hari menampakkan diri kepada Beata Koleta, seorang biarawati Fransiskan, serta memperlihatkan kepadanya Bayi Yesus dalam sebuah buaian dalam keadaan terkoyak-koyak, dan mengatakan, “Beginilah para pendosa terus-menerus memperlakukan Putraku, memperbaharui kematian-Nya dan mengoyak hatiku dengan dukacita. Puteriku, berdoalah bagi mereka agar mereka bertobat.” Penampakan serupa dialami Venerabilis Joanna dari Yesus dan Maria, seorang biarawati Fransiskan juga. Suatu hari ia sedang merenungkan Bayi Yesus yang dianiaya Herodes ketika ia mendengar suara amat ribut, seakan-akan prajurit-prajurit bersenjata sedang mengejar seseorang; sekejap kemudian ia melihat di hadapannya seorang Anak yang sungguh elok paras-Nya, yang berlari terengah-engah sambil berseru, “O Joanna-Ku, tolonglah Aku, sembunyikanlah Aku! Aku Yesus dari Nazaret; Aku melarikan diri dari para pendosa yang hendak membunuh-Ku dan menganiaya-Ku seperti yang dilakukan Herodes. Sudikah engkau menyelamatkan Aku?”

DOA

Ya Bunda Maria, bahkan setelah Putramu wafat di tangan orang-orang yang menyiksa-Nya hingga tewas, orang-orang yang tak tahu berterima kasih ini belum juga berhenti menganiaya-Nya dengan dosa-dosa mereka dan terus-menerus mendukakan engkau, ya Bunda yang berduka! Dan, ya Tuhan, aku juga salah seorang dari mereka. Ah, Bundaku yang penuh kasih sayang, perolehkan bagiku airmata guna menangisi sikap tak tahu terima kasihku. Demi sengsara yang engkau derita selama perjalananmu ke Mesir, tolonglah aku dalam perjalanan yang aku lalui sekarang ini menuju keabadian; dengan demikian pada akhirnya aku akan dapat bersatu denganmu dalam mengasihi Juruselamat-ku yang teraniaya dalam Kerajaan Terberkati. Amin

 

Dukacita Pertama

Nubuat Nabi Simeon

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Dalam lembah airmata ini, setiap manusia dilahirkan untuk menangis, dan semua harus menderita, dengan menanggung kemalangan-kemalangan yang adalah peristiwa sehari-hari. Tetapi, alangkah jauh lebih hebatnya penderitaan hidup ini, andai saja kita mengetahui terlebih dahulu kemalangan-kemalangan yang menanti kita! “Betapa malangnya, sungguh, betapa berat penderitaan dia,” kata Seneca, “yang mengetahui kemalangan yang akan datang, sebab ia harus menderita semuanya sementara menanti.” Kristus menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita dalam hal ini. Ia menyembunyikan pencobaan-pencobaan yang menanti kita, sehingga, apa pun pencobaan itu, kita akan menanggungnya sekali saja. Namun demikian, Kristus tidak menunjukkan belas kasihan yang sama terhadap Bunda Maria; sebab dialah yang dikehendaki Tuhan menjadi Ratu Dukacita, dan seperti Putranya, dalam segala hal ia senantiasa telah melihat terlebih dahulu di depan matanya dan dengan demikian terus-menerus menanggung segala sengsara dan penderitaan yang menantinya; penderitaan-pernderitaan itu adalah Sengsara dan Wafat Yesusnya yang terkasih; seperti di Bait Allah Nabi Simeon, sementara menatang Kanak-kanak Yesus dalam tangannya, menubuatkan kepada Maria bahwa Putranya akan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan… untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.” Dan karenanya, sebilah pedang dukacita akan menembus jiwanya, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Bunda Maria sendiri mengungkapkan kepada St. Matilda bahwa pada saat menerima nubuat Nabi Simeon ini, “segala sukacitanya berubah menjadi dukacita.” Sebab, seperti dinyatakan kepada St. Teresa, meskipun Bunda Maria telah mengerti bahwa hidup Putranya akan dikurbankan demi keselamatan dunia, namun demikian ia melihat secara lebih jelas dan lebih detail sengsara dan wafat keji yang menanti Putranya yang malang. Ia tahu bahwa Putranya akan ditolak dalam segala hal. Ditolak dalam ajaran-ajaran-Nya; bukannya dipercaya, Ia malahan dianggap seorang penghujat dengan mengajarkan bahwa Ia adalah Putra Allah; hal ini dimaklumkan oleh Kayafas yang kejam dengan mengatakan, “Ia menghujat Allah. Ia harus dihukum mati!” Ia ditolak dalam status-Nya; Ia seorang bangsawan, bahkan keturunan raja, tetapi dipandang rendah sebagai rakyat jelata, “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?” Ia adalah kebijaksanaan itu sendiri, tetapi diperlakukan sebagai orang dungu, “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!” Dianggap sebagai nabi palsu, “Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia dan menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepadanya: `Hai nabi, siapakah yang memukul Engkau?’” Ia diperlakukan sebagai orang yang tidak waras, “Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?” Sebagai seorang peminum, pelahap dan sahabat orang-orang berdosa, “Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Sebagai tukang sihir, “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Sebagai seorang kafir dan kerasukan setan, “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” Singkat kata, Yesus dianggap amat cemar karena kejahatan-Nya, hingga, seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi kepada Pilatus, pengadilan tak diperlukan lagi untuk menjatuhkan hukuman mati atas-Nya, “Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!” Ia ditolak bahkan dalam jiwa-Nya yang terdalam; oleh sebab Bapa-Nya yang Kekal, demi Keadilan Ilahi, menolak-Nya dengan tidak mengindahkan doa-Nya ketika Ia berdoa, “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku.” Bapa-Nya membiarkan Dia dalam keadaan takut, gelisah dan sedih; hingga Tuhan kita yang sengsara berseru, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya,” dan sengsara batin-Nya itu mengakibatkan-Nya meneteskan keringat darah. Ditolak dan dianiaya, pada tubuh-Nya dan sepanjang hidup-Nya; Ia dianiaya di seluruh anggota tubuh-Nya yang kudus, pada tangan-Nya, kaki-Nya, wajah-Nya, kepala-Nya dan sekujur tubuh-Nya; hingga dengan darah-Nya tercurah habis dan sebagai sasaran olok-olok dan makian, Ia wafat penuh sengsara di atas salib yang hina.

Ketika Daud, di tengah segala kenikmatan dan kemuliaan kerajaannya, mendengar dari Nabi Natan bahwa puteranya harus mati, “Pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati,” ia tidak dapat tenang, melainkan meratap, berpuasa dan berbaring di tanah. Bunda Maria dengan ketenangan yang luar biasa menerima nubuat bahwa Putranya harus mati, dan ia senantiasa berserah diri dalam damai akan hal itu; tetapi alangkah hebat dukacita yang harus terus-menerus dideritanya, melihat Putranya yang menawan ini selalu ada di dekatnya, mendengar dari-Nya sabda-sabda kehidupan kekal dan menyaksikan perilaku-Nya yang kudus! Abraham berduka luar biasa selama tiga hari yang ia lewatkan bersama puteranya, Ishak yang terkasih, setelah mengetahui bahwa ia harus kehilangan puteranya itu. Ya Tuhan, bukan selama tiga hari, melainkan tigapuluh tiga tahun lamanya Bunda Maria harus menanggung dukacita serupa. Serupa, kataku? Tidak, melainkan jauh lebih dahsyat, oleh sebab Putra Maria jauh lebih menawan daripada putera Abraham. Bunda Maria sendiri menampakkan diri kepada St Brigitta, mengatakan bahwa semasa di dunia, tak satu detik pun terlewatkan tanpa dukacita ini mengiris jiwanya. “Seringkali,” kata Bunda Maria, “saat aku memandangi Putraku, saat aku membedung-Nya dalam kain lampin, saat aku mengamati tangan dan kaki-Nya, begitu sering jiwaku larut, demikianlah, dalam dukacita yang pedih, karena pemikiran bagaimana Ia akan disalibkan kelak.” Abbas Rupert merenungkan Bunda Maria menyusui Putranya dan berkata tentang-Nya, “Buah hatiku bagaikan sekantong mur bagiku; Ia akan tinggal di antara buah dadaku.” Ah, Putraku, aku mendekap-Mu dalam pelukanku, sebab Engkau-lah jantung hatiku; tetapi semakin Engkau kukasihi, semakin Engkau menjadi sekantung mur dan dukacita bagiku apabila aku memikirkan sengsara-Mu. “Bunda Maria,” kata St Bernardinus dari Siena, “mencerminkan kekuatan para kudus yang diperas dalam penderitaan; keindahan Firdaus yang hilang pesonanya; Tuhan atas dunia yang diperlakukan sebagai penjahat; Pencipta segala sesuatu yang hitam lebam karena pukulan dan deraan; Hakim atas semua yang dijatuhi hukuman mati; Kemuliaan Surgawi yang dihinakan; Raja segala raja yang dimahkotai duri dan diperlakukan sebagai raja olok-olok.”

Pastor Engelgrave menceritakan, dinyatakan kepada St Brigitta bahwa Bunda yang berduka telah mengetahui Putranya harus menderita sengsara, “saat menyusui-Nya, terbayanglah empedu dan cuka; saat membedung-Nya, terbayanglah tali-tali yang akan membelenggu-Nya, saat membuai-Nya dalam pelukan, terbayanglah salib di mana Ia akan dipakukan; saat melihat-Nya tertidur lelap, terbayanglah kematian-Nya.” Setiap kali mengenakan pakaian pada-Nya, terpikirlah oleh Bunda Maria bahwa akan tiba harinya di mana pakaian akan ditanggalkan dari tubuh-Nya, bahwa Ia akan disalibkan; dan apabila ia memandangi tangan dan kaki-Nya yang kudus, ia membayangkan paku-paku yang suatu hari nanti akan dipalukan menembusinya; dan, seperti yang dikatakan Bunda Maria kepada St Brigitta, “mataku bersimbah airmata, dan hatiku didera dukacita.”

Para penginjil menulis bahwa sementara Yesus Kristus bertambah besar, Ia juga “bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Karena Yesus makin dikasihi manusia, betapa terlebih lagi Ia makin dikasihi Bunda-Nya Maria! Tetapi, ya Tuhan, sementara kasih bertambah dalam hatinya, betapa dukacita jauh lebih bertambah karena bayangan akan kehilangan Dia oleh kematian yang keji; dan semakin dekat saat sengsara Putranya, semakin dalam pedang dukacita, seperti yang dinubuatkan Nabi Simeon, menembus hati Bunda-Nya. Hal ini secara tepat diungkapkan oleh malaikat kepada St Brigitta, “Pedang dukacita itu setiap detik semakin mendekati Santa Perawan sementara saat sengsara Putranya semakin dekat.”

Oleh sebab Yesus, Raja kita, dan Bunda-Nya yang Terkudus, tidak menolak, demi kasih kepada kita, untuk menderita sengsara yang demikian kejam sepanjang hidup mereka, maka pantaslah jika kita, sekurang-kurangnya, tidak mengeluh jika harus menderita sesuatu. Yesus yang tersalib, suatu ketika menampakkan diri kepada Sr Magdalena Orsini, seorang biarawati Dominikan yang telah lama menderita karena suatu pencobaan berat. Yesus memberinya semangat untuk tetap, dengan sarana penderitaannya itu, bersama-Nya di salib. Sr Magdalena menjawab dengan mengeluh, “Ya Tuhan, Engkau menderita sengsara di atas salib hanya selama tiga jam saja, sementara aku menanggung sengsaraku selama bertahun-tahun.” Sang Penebus kemudian menjawab, “Ah, jiwa yang bodoh, apakah yang engkau katakan? sejak saat pertama perkandungan-Ku, Aku menderita dalam hati-Ku segala yang kelak Aku derita sementara Aku meregang nyawa di atas salib.” Maka, jika kita juga menderita dan mengeluh, marilah kita membayangkan Yesus dan Bunda-Nya Maria, sambil mengucapkan kata-kata yang sama kepada diri kita sendiri.

TELADAN

Pastor Roviglione dari Serikat Yesus bercerita tentang seorang pemuda yang memiliki devosi setiap hari mengunjungi patung Bunda Dukacita, di mana Bunda Maria digambarkan dengan tujuh pedang menembusi hatinya. Pemuda malang ini suatu malam melakukan dosa berat. Keesokan harinya, saat mengunjungi Bunda Maria seperti biasanya, ia memperhatikan bahwa bukan lagi tujuh, melainkan delapan pedang yang menembusi hati Bunda Maria. Ia masih tercengang ketika didengarnya suara yang mengatakan bahwa dosanya telah menambahkan pedang kedelapan. Hal itu begitu menyentuh hatinya. Diliputi sesal mendalam, ia segera mengakukan dosanya dan dengan perantaraan Pembelanya ia dipulihkan kembali dalam keadaan rahmat.

DOA

Ya, Bunda Maria, bukan hanya sebilah pedang saja yang aku tikamkan pada hatimu, melainkan aku menikamkannya sebanyak dosa-dosa yang aku lakukan. Ah Bunda, bukan engkau yang tanpa dosa yang seharusnya menanggung segala derita itu, melainkan aku, yang bersalah atas begitu banyak dosa. Tetapi oleh karena engkau senantiasa rela hati menderita begitu banyak demi aku, ya Bunda, demi jasa-jasamu, perolehkanlah bagiku rahmat sesal mendalam atas dosa-dosaku, dan ketekunan dalam menghadapi pencobaan-pencobaan hidup. Rahmat-rahmat itu akan senantiasa menjadi terang bagi segala kelemahan dan kekuranganku; oleh sebab aku seringkali lebih pantas mendapatkan neraka. Amin

 

Tujuh Duka Santa Perawan Maria

Tujuh Duka Santa Perawan Maria

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

dari:

KEMULIAAN MARIA

RISALAT IX

Dukacita Maria

Dukacita Pertama: Nubuat Nabi Simeon

Dukacita Kedua: Melarikan Yesus ke Mesir

Dukacita Ketiga: Hilangnya Yesus di Bait Allah

Dukacita Keempat: Perjumpaan Bunda Maria dengan Yesus saat Ia Menjalani Hukuman Mati

Dukacita Kelima: Yesus Wafat

Dukacita Keenam: Lambung Yesus Ditikam dan Jenazah-Nya Diturunkan dari Salib

Dukacita Ketujuh: Yesus Dimakamkan

sumber : “Of the Dolours of Mary” by St. Alphonsus Liguori; Copyright © 1996 Catholic Information Network (CIN) – February 6, 1996; http://www.cin.org

Diperkenankan mengutip / menyeDukacita Maria

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori

Maria adalah Ratu Para Martir, oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dan lebih dahsyat dari yang diderita semua martir lainnya.

Adakah orang yang sedemikian keras hatinya, yang tidak luluh mendengar peristiwa paling memilukan yang suatu ketika terjadi di dunia? Adalah seorang ibunda yang berbudi luhur dan kudus, yang memiliki seorang Putra Tunggal. Putranya itu adalah putra yang paling menawan hati yang dapat kita bayangkan – tak berdosa, berbudi luhur, menyenangkan, Yang mencintai Bunda-Nya dengan limpahan kasih sayang-Nya; demikian besar kasih-Nya itu hingga tak pernah sekali pun Ia mengecewakan bunda-Nya walau sedikit saja, melainkan senantiasa hormat, taat, dan penuh cinta mesra. Sebab itu bunda-Nya melimpahkan segala kasih sayangnya di dunia ini kepada Putranya. Dengarlah, apa yang kemudian terjadi. Putranya, karena iri hati, dituduh sewenang-wenang oleh para musuh-Nya. Meskipun hakim tahu dan mengakui bahwa Ia tak bersalah, namun karena hakim takut dianggap menghina para musuh-Nya, ia menjatuhkan hukuman mati yang amat keji seperti yang dituntut para musuh-Nya itu. Bunda yang malang ini harus menanggung sengsara menyaksikan Putranya yang menawan dan terkasih itu direnggut darinya secara tidak adil dalam kemekaran usia-Nya dengan kematian yang biadab; dengan dera dan siksa, dengan mencurahkan darah-Nya sehabis-habisnya. Ia dihancurbinasakan hingga wafat di kayu salib yang hina di tempat pelaksanaan hukuman mati di hadapan seluruh rakyat, dan itu semua terjadi di depan matanya. Jiwa-jiwa saleh, apa yang hendak kalian katakan? Tidakkah peristiwa ini, dan tidakkah Bunda yang malang ini layak menerima belas kasihan? Kalian tentu paham tentang siapakah aku berbicara. Putranya itu, yang dihukum mati secara keji adalah Yesus Penebus kita yang terkasih, dan Bunda-Nya adalah Santa Perawan Maria; yang karena cintanya kepada kita, rela menyaksikan Putranya dikurbankan bagi Keadilan Ilahi oleh kebiadaban manusia. Dukacita yang dahsyat ini, yang ditanggung Maria demi kita, – dukacita yang lebih hebat dari dukacita seribu kematian, layak memperoleh baik belas kasihan maupun terima kasih kita. Jika kita tidak dapat membalas cinta yang sedemikian besar itu, setidak-tidaknya marilah menyisihkan sedikit waktu pada hari ini untuk merenungkan betapa dahsyat dukacita yang menjadikan Maria Ratu Para Martir; oleh karena sengsaranya dalam kemartirannya yang hebat ini melampaui sengsara semua martir; karena, pertama-tama, terlama menurut ukuran waktu, dan kedua, terdahsyat menurut ukuran intensitas.

Point pertama. Sama seperti Yesus disebut Raja Sengsara dan Raja Para Martir, sebab sengsara yang diderita-Nya semasa hidup-Nya jauh melampaui sengsara para martir, demikian juga Maria layak disebut Ratu Para Martir. Maria pantas digelari demikian sebab ia menanggung sengsara kemartiran yang paling ngeri sesudah Putranya. Karenanya, tepat jika Richard dari St. Laurensius menyebutnya “Martir dari para martir”; dan kepada Maria dapatlah dikenakan nubuat nabi Yeremia ini, “Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan”, artinya bahwa penderitaan itu sendiri, yang melampaui penderitaan semua martir dijadikan satu, adalah mahkota yang diberikan kepadanya sebagai Ratu Para Martir. Bahwa Maria adalah sungguh seorang martir tak dapat diragukan lagi, seperti yang ditegaskan oleh Denis Carthusian, Pelbart, Catharinus, serta yang lainnya. Merupakan pendapat yang tak dapat disangkal bahwa sengsara yang begitu hebat hingga dapat mengakibatkan kematian merupakan suatu kemartiran, meskipun kematian itu sendiri tidak terjadi. St. Yohanes Penginjil disebut martir, meskipun ia tidak mati ketika diceburkan ke dalam kuali berisi minyak mendidih, melainkan keluar dengan lebih semarak daripada saat ia masuk. St. Thomas mengatakan, “memiliki kemuliaan kemartiran sudah cukup untuk mempraktekkan ketaatan pada tingkatnya yang paling tinggi, yakni, taat sampai mati.” “Bunda Maria adalah seorang martir,” kata St. Bernardus, “bukan oleh pedang algojo, melainkan oleh kegetiran dukacita hatinya.” Tubuhnya tidak terluka oleh tangan algojo, tetapi hatinya yang tak bernoda ditembus dengan pedang dukacita akan sengsara Putranya; dukacita yang cukup hebat untuk mengakibatkan kematiannya, bukan sekali, tetapi beribu kali. Dari sini kita dapat memahami bahwa Bunda Maria bukan saja seorang martir sejati, tetapi bahkan kemartirannya melampaui kemartiran para martir lainnya; karena jangka waktunya lebih lama dari yang lainnya. Seluruh hidupnya dapat dikatakan sebagai suatu kematian yang panjang.

“Sengsara Yesus,” demikian kata St. Bernardus, “dimulai sejak kelahiran-Nya”. Demikian juga Maria, dalam segala hal serupa dengan Putranya, menanggung kemartirannya sepanjang hidupnya. Di antara banyak arti nama Maria, demikian Beato (sekarang Santo) Albertus Agung menegaskan, salah satunya berarti ‘laut pahit’. Jadi, pada Maria berlaku nubuat nabi Yeremia: “luas bagaikan laut reruntuhanmu.” Sama seperti laut seluruhnya pahit dan asin, demikian juga hidup Maria senantiasa dipenuhi kepahitan karena bayangan akan sengsara Sang Penebus yang senantiasa ada di benaknya. “Tak dapat diragukan lagi bahwa dengan penerangan Roh Kudus dalam tingkat yang jauh melampaui segala nabi, Maria, yang jauh lebih unggul dari mereka, memahami nubuat-nubuat yang ditulis para nabi dalam Kitab Suci mengenai Mesias.” Hal ini tepat seperti yang dinyatakan malaikat kepada St. Brigitta. B. Albertus Agung menambahkan, “Santa Perawan, bahkan sebelum menjadi Bunda-Nya, paham bagaimana Sabda Yang Menjadi Daging harus menderita sengsara demi keselamatan manusia. Berbelas kasihan kepada Juruselamat yang tak berdosa ini, yang akan dijatuhi hukuman mati secara keji oleh karena kejahatan-kejahatan yang tidak Ia lakukan, bahkan pada saat itu Maria telah memulai kemartirannya yang hebat.”

Dukacitanya meningkat tak terhingga ketika ia menjadi Bunda Sang Juruselamat. Jadi, bayangan ngeri akan beratnya sengsara yang harus diderita oleh Putranya yang malang, mengakibatkan Maria sungguh menderita suatu kemartiran yang panjang, kemartiran yang berakhir hingga akhir hayatnya. Hal ini dinyatakan dengan sangat jelas kepada Santa Brigitta dalam suatu penglihatan yang dialaminya ketika ia berada di Roma, dalam gereja Saint Mary Major, di mana Santa Perawan Maria bersama St. Simeon, dan seorang malaikat yang membawa sebilah pedang yang amat panjang, yang merah karena noda darah, menampakkan diri kepada St. Brigitta. Dengan cara demikian ditunjukkan kepadanya betapa panjang dan pahitnya dukacita yang menembus hati Bunda Maria sepanjang hidupnya. Maria berkata, “Jiwa-jiwa yang telah ditebus, dan anak-anakku yang terkasih, janganlah berbelas kasihan kepadaku hanya pada jam di mana aku menyaksikan Yesus-ku yang terkasih meregang nyawa di hadapan mataku; oleh sebab pedang dukacita yang dinubuatkan Simeon menembus jiwaku sepanjang hidupku: ketika aku menyusui Putraku, ketika aku menggendong-Nya dalam pelukanku, aku telah melihat kematian ngeri yang menanti-Nya. Bayangkan, betapa panjang dan pilunya sengsara yang harus kuderita.”

Maria dapat berkata menggunakan kata-kata Daud ini, “Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah. Sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita.” “Seluruh hidupku dilewatkan dalam dukacita dan airmata; karena deritaku, yang adalah kasih sayangku kepada Putraku terkasih, tak pernah lepas dari ingatanku. Aku selalu terbayang akan derita sengsara dan kematian yang suatu hari nanti harus ditanggung-Nya.” Bunda Ilahi sendiri mengungkapkan kepada St Brigitta bahwa bahkan sesudah wafat dan kebangkitan Putra-Nya, apa pun yang ia makan atau kerjakan, kenangan akan sengsara-Nya tertanam begitu kuat dalam ingatannya dan selalu segar dalam hatinya yang lembut. Sebab itu, Tauler mengatakan “Bunda Perawan melewatkan sepanjang hidupnya dalam dukacita yang terus-menerus,” karena hatinya senantiasa diliputi dukacita dan sengsara.

Waktu, yang biasanya meringankan dukacita seorang yang dirundung duka, tidak dapat memulihkan Maria; tidak, malahan meningkatkan dukacitanya. Sementara Yesus, di satu pihak, bertambah usianya dan senantiasa tampil semakin menawan serta penuh kasih karunia; demikian juga, di lain pihak, waktu kematian-Nya semakin dekat, dan dukacita senantiasa bertambah dan bertambah di hati Maria, karena bayangan akan kehilangan Dia di dunia ini. Malaikat mengatakan kepada St Brigitta, “Bagaikan mawar tumbuh di antara duri-duri, demikian juga Bunda Allah melewatkan tahun-tahun dalam duka; dan bagai duri-duri bertumbuh seiring dengan bertumbuhnya sang mawar, demikian juga duri-duri dukacita bertambah di hati Maria, mawar pilihan Allah, sementara ia bertambah dalam usia; dan semakin begitu dalam duri-duri itu menembus hatinya.” Setelah merenungkan kesepuluh dukacita Maria dalam hal waktu, mari kita melanjutkan ke point yang kedua – dahsyatnya dukacita Maria dalam hal intensitas.

Point kedua. Ah, Bunda Maria bukan hanya Ratu Para Martir oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dari yang lainnya, tetapi juga karena kemartirannya jauh lebih dahsyat dari segala kemartiran lainnya. Namun demikian, siapa gerangan yang dapat mengukur kedahsyatannya? Nabi Yeremia tampaknya tak dapat menemukan dengan siapa kiranya ia dapat membandingkan Bunda Dukacita ini, ketika ia memikirkan dukacitanya yang begitu hebat saat kematian Putranya, “Apa yang dapat kunyatakan kepadamu, dengan apa aku dapat menyamakan engkau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara, puteri Sion? Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?” Kardinal Hugo, dalam sebuah uraian menanggapi pernyataan tersebut mengatakan “Oh Santa Perawan, bagaikan laut kepahitan melampaui segala kepahitan, demikian juga dukacitamu melampaui segala dukacita.” St. Anselmus menegaskan, “andai saja Tuhan tidak memelihara hidup Maria dengan mukjizat istimewa di setiap saat kehidupannya, dukacitanya yang begitu dahsyat itu pastilah telah mengakibatkan kematiannya”. Bernardinus dari Siena lebih jauh mengatakan, “dukacita Maria demikianlah dahsyat, hingga jika saja dukacita itu dibagi-bagikan di antara manusia, masing-masing bagian sudah cukup untuk menyebabkan kematian seketika.”

Mari kita merenungkan alasan-alasan bagaimana kemartiran Maria jauh melampaui semua martir. Pertama-tama kita perlu ingat bahwa para martir menanggung penderitaan mereka, yang merupakan akibat siksa api dan alat-alat sarana lainnya di tubuh mereka. Bunda Maria menanggung penderitaannya dalam jiwanya, seperti dinubuatkan oleh St. Simeon, “dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri”. Seolah-olah orang tua kudus itu mengatakan, “Oh, Santa Perawan Tersuci, tubuh para martir akan dikoyakkan dengan besi, tetapi jiwamu akan ditembus olehnya, dan engkau akan menjadi martir karena jiwamu oleh Sengsara Putramu sendiri.” Karena jiwa lebih berharga daripada tubuh, betapa jauh lebih hebat penderitaan Maria dibandingkan para martir lainnya. Seperti yang dikatakan Yesus Kristus sendiri kepada St. Katarina dari Siena, “Penderitaan jiwa dan penderitaan badan tidak dapat dibandingkan.” Sementara Abas kudus, Arnoldus dari Chartres mengatakan, “siapa pun yang hadir di Bukit Kalvari, sebagai saksi atas kurban agung Anak Domba Tak Bercela, akan melihat dua altar besar, yang satu adalah Tubuh Yesus, yang lain adalah Hati Maria, karena, di bukit itu, pada saat yang sama Putranya mempersembahkan Tubuh-Nya dengan wafat-Nya, Bunda Maria mempersembahkan jiwanya dengan belas kasihannya.”

Lagi pula, St. Antonius mengatakan, “sementara para martir lain menderita dengan mengurbankan nyawa mereka sendiri, Santa Perawan menderita dengan mengurbankan nyawa Putranya, nyawa yang dikasihinya jauh melampaui nyawanya sendiri. Jadi, tidak saja Maria menderita dalam jiwanya semua yang diderita Putranya di Tubuh-Nya, tetapi lebih dari itu, menyaksikan derita dan sengsara Putranya mendatangkan dukacita yang lebih dahsyat di hatinya daripada jika ia sendiri yang harus menderita segala sengsara itu di tubuhnya.” Tidak seorang pun dapat meragukan bahwa Bunda Maria menderita dalam hatinya segala kekejian yang ia saksikan menimpa Putranya yang terkasih. Siapa pun dapat mengerti bahwa penderitaan anak-anak adalah juga penderitaan para ibu mereka yang menyaksikannya. St. Agustinus, merenungkan dukacita yang harus ditanggung si ibu dalam Kitab Makabe ketika menyaksikan penganiayaan atas putera-puteranya, mengatakan, “Ia, menyaksikan penderitaan mereka, juga menderita bagi setiap puteranya; sebab ia mengasihi mereka semuanya. Ia menderita dalam jiwanya apa yang diderita putera-puteranya dalam tubuh mereka.” Demikian juga, Bunda Maria menanggung segala siksa, aniaya, dera, mahkota duri, paku dan salib yang meremukkan tubuh Yesus yang tak berdosa. Semuanya itu pada saat yang sama meremukkan hati Sang Perawan untuk melengkapi kemartirannya. “Yesus menderita dengan daging-Nya dan Bunda Maria dengan hatinya,” tulis Beato Amadeus. “Begitu dahsyat,” kata St. Laurensius Giustiniani, “hingga hati Maria menjadi serupa cermin Sengsara Sang Putra, di mana dapat dilihat, tergambar dengan tepat dan jelas, ludah, pukulan dan tamparan, luka-luka, serta semuanya yang diderita Yesus.” St. Bonaventura juga mengatakan, “luka-luka itu – yang tersebar di sekujur tubuh Kristus – semuanya dipersatukan dalam hati Maria.”

Demikianlah Santa Perawan, melalui belas kasihan dari hatinya yang lembut kepada Putranya, didera, dimahkotai duri, dihina dan dipakukan pada kayu salib. St. Bonaventura ketika merenungkan Maria di Bukit Kalvari, menyaksikan wafat Sang Putra, bertanya kepadanya: “Oh Bunda, katakanlah kepadaku, di manakah engkau berdiri? Apakah hanya di kaki salib? Ah, jauh lebih dari itu, engkau berada di salib itu sendiri, disalibkan bersama Putramu.” Menanggapi kata-kata Sang Penebus seperti yang disuarakan oleh nabi Yesaya, “Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan, dan dari antara umat-Ku tidak ada yang menemani Aku!”, Richard dari St. Laurensius mengatakan, “Benar demikian, O Tuhan, bahwa dalam karya penebusan manusia Engkau menderita seorang diri, tak ada seorang pun yang berbelas kasihan kepada-Mu dengan pantas; hanya ada seorang wanita menyertai Engkau, dan ia adalah Bunda-Mu sendiri; ia menderita dalam hatinya segala yang Engkau derita dalam Tubuh-Mu.”

Tetapi semua perkataan itu terlalu sedikit untuk mengungkapkan dukacita Maria, sebab sejauh yang saya amati, ia jauh lebih menderita menyaksikan sengsara Putranya terkasih daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala kekejian dan wafat Putranya. Eramus, berbicara tentang para orangtua pada umumnya, mengatakan bahwa para orangtua akan lebih tersiksa menyaksikan penderitaan anak-anak mereka daripada mereka harus menanggung penderitaan itu sendiri. Pendapat tersebut tidak selalu benar, tetapi jelas terbukti dalam diri Bunda Maria. Tak diragukan lagi ia mengasihi Putranya dan hidup-Nya jauh melampaui hidupnya sendiri atau bahkan seribu kali hidupnya sendiri. Beato Amadeus dengan tepat menegaskan, “Bunda Dukacita, menyaksikan dengan pilu derita sengsara Putranya terkasih, menderita lebih dahsyat daripada jika ia sendiri yang harus menanggung segala Sengsara Kristus.” Alasannya jelas, seperti yang dikemukakan St. Bernardus, “jiwa lebih melekat pada yang dicintainya daripada di mana ia tinggal.” Kristus Sendiri telah mengatakan hal yang sama, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Jadi, jika Bunda Maria, oleh karena cintanya, lebih tinggal dalam diri Putranya daripada dalam dirinya sendiri, tentulah ia menanggung dukacita yang jauh lebih dahsyat dalam sengsara dan wafat Putranya daripada jika ia menanggung sengsara itu sendiri. Bunda Maria menanggung kematian paling keji di seluruh dunia yang telah ditimpakan kepadanya.

Kita perlu mempertimbangkan suatu keadaan lain yang menjadikan kemartiran Maria jauh melampaui penderitaaan semua martir lainnya: yaitu, bahwa dalam Sengsara Yesus, Bunda Maria begitu menderita dan berduka, tanpa penghiburan sedikit pun. Para martir menderita karena siksa yang ditimpakan kepada mereka oleh para penganiaya; tetapi cinta Yesus menjadikan penderitaan mereka manis dan menyenangkan. St. Vincentius tubuhnya didera di tiang penderaan, dicabik-cabik dengan sepit, dicap dengan plat besi panas. St. Bonifasius tubuhnya dikoyakkan dengan kait-kait besi; buluh-buluh berujung runcing ditusukkan di antara kuku-kuku dan dagingnya; timah hitam cair dicekokkan ke dalam mulutnya; dan di tengah derita aniaya itu tak henti-hentinya ia berseru “Aku bersyukur kepada-Mu, O Tuhan Yesus Kristus.” St. Markus dan St. Marselinus diikatkan ke sebuah pancang, kaki mereka ditembusi paku; dan ketika penganiaya berkata kepada mereka “Hai orang-orang celaka, lihat keadaanmu kini, selamatkanlah dirimu dari penderitaan ini.” Maka, kedua orang kudus itu menjawab, “Dari siksa apa, penderitaan apakah yang engkau katakan itu? Belum pernah kami menikmati perjamuan begitu mewah seperti pada saat ini, di mana kami menderita dengan penuh sukacita demi cinta kepada Yesus Kristus.” St. Laurensius menderita aniaya; tetapi ketika sedang di panggang di pemanggangan, “api cinta dalam hatinya,” demikian menurut St. Leo, “lebih kuat menghibur jiwanya daripada api yang membakar tubuhnya.” Cinta begitu menguasainya hingga dengan berani St. Laurensius menggoda penganiayanya, “Jika engkau ingin memakan dagingku, sisi sebelah sini sudah matang, baliklah dan makanlah.” Tetapi, bagaimana mungkin, di tengah begitu banyak siksa dan aniaya, ketika meregang nyawa, orang kudus itu bersukacita? “Ah!” jawab St. Agustinus, “mabuk oleh anggur cinta ilahi, ia tidak merasakan baik penderitaan maupun kematian.”

Jadi, semakin para martir kudus itu mencintai Yesus, semakin sedikit mereka merasakan penderitaan dan kematian. Bayangan akan sengsara Yesus yang tersalib saja sudah cukup untuk menjadi penghiburan bagi mereka. Tetapi, apakah Bunda Dukacita kita juga terhibur oleh cintanya kepada Putranya, dan apakah bayangan akan sengsara-Nya menghibur hatinya? Ah, tidak! Justru Putranya yang menderita sengsara itulah yang menjadi sumber dukacitanya, dan cintanya pada Putranya adalah satu-satunya penganiayanya yang paling kejam. Kemartiran Maria sepenuhnya adalah menyaksikan dan berbelas kasihan terhadap Putranya yang terkasih dan yang tak berdosa, yang menderita begitu hebat. Jadi, semakin besar cintanya kepada Putranya, semakin pilu dan tak terhiburkan dukacitanya. “Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu; siapa yang akan memulihkan engkau?” Ah, Ratu Surgawi, cinta telah meringankan penderitaan para martir lainnya serta memulihkan luka-luka mereka; tetapi siapakah gerangan yang akan meringankan dukacitamu yang pahit? Siapakah gerangan yang akan memulihkan luka-luka keji yang mengoyak hatimu? “Siapa yang akan memulihkan engkau?” Sebab, Putra yang dapat menjadi sumber penghiburan bagimu, oleh karena sengsara-Nya, justru telah menjadi sumber dukacitamu, dan cinta kasih yang engkau limpahkan kepada-Nya sepenuhnya merupakan penyebab kemartiranmu. Jadi, seperti para martir lain, demikian menurut Diez, semuanya dilambangkan dengan alat-alat penyiksa mereka – St. Paulus dengan pedang, St. Andreas dengan salib, St. Laurensius dengan alat pemanggang – Maria dilambangkan dengan jenasah Putranya dalam pelukannya. Sebab Yesus Sendiri-lah, dan hanya Ia sendiri, yang menjadi penyebab kemartiran Maria, oleh karena begitu besar kasihnya kepada Putra-nya. Richard dari St. Victor menegaskan dalam beberapa kata segala apa yang telah aku katakan: “Bagi para martir lain, semakin besar cinta mereka kepada Yesus akan semakin meringankan sengsara kemartiran mereka; tetapi bagi Santa Perawan, semakin besar cintanya kepada Yesus, semakin dahsyat sengsaranya dan semakin kejam kemartirannya.”

Benar bahwa semakin kita mencintai sesuatu, semakin besar kesedihan yang harus kita tanggung apabila ketika kita kehilangan dia. Kita lebih berduka atas kematian seorang saudara daripada kematian seekor binatang beban; kita lebih berduka atas kematian seorang putera daripada kematian seorang teman. Kornelius a Lapide mengatakan, “agar dapat memahami dahsyatnya dukacita Maria pada saat wafat Putranya, kita perlu memahami besarnya kasihnya kepada-Nya.” Tetapi siapakah yang dapat mengukur kasih? Beato Amadeus mengatakan, “dalam hati Maria bersatu dua macam kasih bagi Yesus – kasih adikodrati, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Allah-nya, dan kasih kodrati, di mana ia mengasihi-Nya sebagai Putranya.” Begitulah kedua macam kasih ini menyatu, begitu dalam, hingga William dari Paris mengatakan bahwa Santa Perawan “mengasihi-Nya sebanyak yang mungkin dilakukan oleh suatu makhluk yang murni untuk mengasihi-Nya.” Richard dari St. Victor menegaskan, “karena tidak ada kasih seperti kasihnya, maka tidak ada dukacita seperti dukacitanya.” Dan jika kasih Maria terhadap Putranya demikian dahsyat, maka pastilah dahsyat pula dukacitanya saat ia kehilangan Putranya oleh karena wafat-Nya. “Di mana terdapat kasih terbesar,” demikian Beato Albertus Agung, “di sana pula terdapat dukacita terdahsyat.”

Marilah sekarang kita membayangkan Bunda Ilahi berdiri dekat Putra-nya yang sedang meregang nyawa di salib, dan dengan demikian tepatlah dikenakan kepadanya kata-kata nabi Yeremia, “Acuh tak acuhkah kamu sekalian yang berlalu? Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan seperti kesedihan yang ditimpakan TUHAN kepadaku.” O kalian yang melewatkan hari-hari kalian di bumi dan tidak berbelas kasihan terhadap aku, berhentilah sejenak dan pandanglah aku, sekarang aku menyaksikan Putraku terkasih meregang nyawa di hadapanku. Pandanglah dan lihatlah, di antara mereka semua yang berduka dan menderita, adakah dukacita yang seperti dukacitaku? “Tidak, o ibu yang paling menderita di antara segala ibu,” jawab St. Bonaventura, “tidak mungkin ditemukan dukacita yang lebih pilu daripada dukacitamu; sebab tidak mungkin ditemukan putra yang lebih terkasih daripada putramu.” Ah, “tak akan pernah ada putra yang lebih menawan hati di dunia ini daripada Yesus,” kata Richard dari St. Laurentius; “dan juga tidak akan pernah ada ibu yang mengasihi putranya lebih lemah lembut daripada Maria! Jadi, karena di dunia ini tidak pernah ada kasih seperti kasih Maria, bagaimana mungkin dapat ditemukan dukacita seperti dukacita Maria?”

Karena itu St. Ildephonsus tanpa ragu menegaskan, “mengatakan bahwa dukacita Maria jauh melampaui segala penderitaan para martir lainnya digabung menjadi satu, mengungkapkan terlalu sedikit.” Dan St. Anselmus menambahkan, “aniaya paling keji yang menimpa para martir kudus merupakan hal sepele, atau bahkan tak ada artinya sama sekali, jika dibandingkan dengan kemartiran Maria.” St. Basilus dari Seleucia juga menulis, “bagaikan matahari melampaui semua planet lain dalam kemegahannya, demikian juga penderitaan Maria melampaui penderitaan semua martir.” Seorang penulis terpelajar menyimpulkannya dalam suatu pernyataan yang indah. Ia mengatakan bahwa begitu dahsyat dukacita Bunda yang lemah lembut ini dalam Sengsara Yesus, hingga Bunda Maria sendiri berbelas kasihan pada tingkat yang setara dengan wafat Tuhan yang menjadi manusia.

Kepada Santa Perawan, St. Bonaventura bertanya, “Dan mengapakah, O Bunda, engkau juga mengurbankan dirimu sendiri di Kalvari? Tidakkah Tuhan yang Tersalib sudah cukup untuk menebus kami, mengapakah engkau, Bunda-Nya, hendak pula disalibkan bersama-Nya?” Sungguh, wafat Yesus lebih dari cukup untuk menyelamatkan dunia dan mendatangkan kehidupan kekal; akan tetapi Bunda yang amat baik ini, demi kasihnya kepada kita, berharap pula untuk membantu mendatangkan keselamatan bagi kita dengan penderitaannya yang ia persembahkan bagi kita di Kalvari. Sebab itu, Beato Albertus Agung mengatakan, “sama seperti kita berhutang kepada Yesus atas Sengsara yang Ia derita demi cinta-Nya kepada kita, demikian juga kita berhutang kepada Maria, atas kemartiran yang dengan sukarela ia derita demi keselamatan kita dengan wafatnya Putra-nya.” Saya mengatakan sukarela, sebab, seperti yang diungkapkan St. Agnes kepada St. Brigitta, “Bunda kita yang lemah lembut dan penuh belas kasihan lebih suka menderita sengsara daripada membiarkan jiwa-jiwa kita tidak ditebus dan tinggal dalam kebinasaan kekal.” Sungguh, kita dapat mengatakan bahwa satu-satunya kelegaan Maria di tengah dukacitanya yang dahsyat dalam Sengsara Putra-nya adalah melihat dunia yang sesat ini ditebus oleh wafat-Nya dan hubungan manusia dengan Tuhan dipulihkan kembali. “Sementara berduka, Bunda Maria juga bersukacita,” demikian kata Simon dari Cascia, “bahwa satu kurban telah dipersembahkan sebagai tebusan bagi semua orang, dan dengannya murka Tuhan diredakan kembali.”

Cinta Maria yang sedemikian besar pantas mendapatkan terima kasih dari pihak kita. Dan rasa terima kasih itu patut dinyatakan dengan setidak-tidaknya merenungkan dan berbelas kasihan kepadanya dalam dukacitanya. Namun demikian, Bunda Maria mengeluh kepada St. Brigitta bahwa begitu sedikit yang melakukannya dan sebagian besar dunia hidup dengan mengacuhkannya, “Aku melihat berkeliling kepada semua yang tinggal di bumi untuk melihat kalau-kalau ada yang menaruh belas kasihan kepadaku dan merenungkan dukacitaku; aku mendapati hanya sedikit sekali yang melakukannya. Sebab itu, putriku, meskipun aku telah dilupakan banyak orang, setidak-tidaknya engkau janganlah melupakan aku. Renungkanlah sengsaraku, dan teladanilah dukacitaku sebanyak yang engkau mampu.” Untuk memahami betapa menyenangkan bagi Bunda Maria jika kita merenungkan dukacitanya, kita hanya perlu tahu bahwa pada tahun 1239 Santa Perawan menampakkan diri kepada tujuh hambanya yang setia (yang di kemudian hari menjadi para pendiri Ordo Religius Pelayan-pelayan Maria), dengan jubah hitam di tangannya. Bunda Maria menghendaki agar mereka, jika mereka ingin menyenangkan hatinya, seringkali merenungkan dukacitanya. (Jubah hitam dikenakan untuk maksud ini, dan untuk mengingatkan mereka akan dukacitanya). Ia menyatakan keinginannya agar di kemudian hari mereka mengenakan gaun duka itu. Yesus Kristus Sendiri menampakkan diri kepada Beata Veronica da Binasco bahwa Ia, dan selamanya demikian, lebih suka melihat Bunda-Nya yang memperoleh belas kasihan daripada Ia Sendiri. Kata-Nya kepada Veronica, “Puteri-Ku, air mata yang dicurahkan demi Sengsara-Ku menyenangkan Daku; tetapi, karena Aku mencintai Bunda-Ku Maria dengan kasih yang begitu dalam, renungan akan dukacita yang harus dideritanya pada saat wafat-Ku akan lebih menyenangkan Hati-Ku.”

Rahmat-rahmat yang dijanjikan Yesus bagi mereka yang berdevosi kepada dukacita Maria sungguh luar biasa. Pelbert menceritakan bahwa kepada St. Elizabeth dinyatakan, yaitu sesudah Bunda Maria diangkat ke Surga, St. Yohanes Penginjil rindu untuk bertemu dengannya kembali. Kerinduannya itu dipenuhi; Bundanya yang terkasih menampakkan diri kepadanya; dan bersamanya Yesus Kristus juga menampakkan diri. St. Yohanes kemudian mendengar Maria meminta Putra-nya untuk menganugerahkan rahmat-rahmat istimewa bagi mereka yang berdevosi kepada dukacitanya. Yesus berjanji kepada Bunda-Nya untuk menganugerahkan empat rahmat utama:

Pertama, bahwa mereka yang sebelum ajalnya berseru kepada Bunda Ilahi atas nama dukacitanya akan memperoleh tobat sempurna atas dosa-dosanya.

Kedua, Ia akan melindungi mereka semua yang mempraktekan devosi ini dalam pencobaan-pencobaan mereka, dan bahwa Ia akan melindungi mereka secara istimewa pada saat ajal mereka.

Ketiga, Ia akan membangkitkan dalam benak mereka kenangan akan Sengsara-Nya, dan bahwa mereka akan memperoleh ganjaran untuk itu di surga.

Keempat, Ia akan mempercayakan mereka yang dengan setia berdevosi ke dalam tangan Maria, dengan kuasa untuk memberikan kepada mereka apa pun yang ia kehendaki, dan untuk memperolehkan bagi mereka segala rahmat yang ia kehendaki.

Sebagai bukti atas janji-Nya ini, marilah kita lihat contoh berikut ini, bagaimana ampuhnya devosi kepada dukacita Maria dalam membantu jiwa memperoleh keselamatan kekal.

TELADAN

Dalam penampakan-penampakan kepada St. Brigitta kita membaca tentang seorang kaya, seorang keturunan bangsawan, yang jahat dan hidup dalam dosa. Ia memberikan dirinya sebagai budak iblis. Selama enam puluh tahun berikutnya ia mengabdi iblis, hidup dengan cara demikian seperti yang dapat kita bayangkan dan tak pernah sekali pun menerima sakramen-sakramen. Sekarang, bangsawan ini mendekati ajalnya. Yesus Kristus, untuk menunjukkan belas kasihan-Nya, meminta St. Brigitta untuk mengatakan kepada bapa pengakuannya agar pergi mengunjungi sang bangsawan serta mendesaknya untuk mengakukan dosa-dosanya. Imam pergi, tetapi si sakit mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan Sakramen Tobat karena ia telah sering menerimanya. Imam pergi untuk kedua kalinya; tetapi budak neraka yang malang ini bersikukuh pada kekerasan hatinya untuk tidak mengakukan dosa-dosanya. Yesus sekali lagi menyatakan kepada St. Brigitta keinginan-Nya agar imam datang kembali. Imam melakukannya; dan pada kesempatan ketiga ini, imam mengatakan kepada si sakit tentang penglihatan St. Briggita dan bahwa ia telah kembali berulang kali hanya karena Kristus, yang hendak menunjukkan kerahiman-Nya, memerintahkannya demikian. Mendengar ini, orang yang sedang menghadapi ajal ini tersentuh hatinya dan mulai mengangis. “Tetapi, bagaimana,” teriaknya, “aku dapat diselamatkan. Aku, yang selama enam puluh tahun mengabdi iblis sebagai budaknya, dan jiwaku sarat dengan dosa-dosa yang tak terbilang banyaknya?” “Anakku,” jawab imam untuk membesarkan hatinya, “janganlah ragu; jika engkau menyesali dosa-dosamu, sebagai wakil dari pihak Allah, aku menjanjikan pengampunan.” Kemudian, setelah kepercayaan dirinya bangkit kembali, ia berkata kepada imam, “Bapa, aku memandang diriku sendiri sebagai orang yang sesat, dan sudah berputus asa untuk memperoleh keselamatan; tetapi sekarang aku merasakan kesedihan mendalam atas dosa-dosaku, yang meyakinkan aku. Dan karena Tuhan tidak meninggalkan aku, maka aku akan mengakukan dosa-dosaku.” Sesungguhnya, ia mengakukan dosanya empat kali pada hari itu, dengan tanda-tanda sesal dan tobat yang sungguh. Keesokan paginya ia menerima Komuni Kudus. Pada hari keenam, penuh rasa sesal dan pasrah, ia meninggal dunia. Sesudah kematiannya, Yesus Kristus kembali berbicara kepada St. Brigitta dan mengatakan kepadanya bahwa pendosa itu telah diselamatkan; bahwa ia sekarang berada dalam api penyucian, dan bahwa ia berhutang keselamatan jiwanya kepada Santa Perawan Bunda-Nya, sebab almarhum, meskipun hidup sesat dalam kejahatan, senantiasa berdevosi kepada dukacita Maria, dan setiap kali ia merenungkannya, ia berbelas kasihan kepada Sang Bunda.

DOA

O Bundaku yang berdukacita! Ratu para martir dan sengsara, adakah engkau menangisi Putramu dengan pilu, yang wafat demi keselamatanku? Tetapi, apakah gunanya air matamu itu bagiku jika aku sesat? Karenanya, berkat dukacitamu, perolehkanlah bagiku tobat sejati atas dosa-dosaku, dan keteguhan hati untuk mengubah hidupku, bersama dengan belas kasihan yang lembut dan terus-menerus demi sengsara Yesus dan demi dukacitamu. Dan, apabila Yesus dan engkau, yang tak berdosa, telah menderita begitu banyak demi kasih kepadaku, perolehkanlah bagiku agar setidak-tidaknya aku, yang layak menerima hukuman neraka, boleh menderita demi kasih kepada-Mu. O Bunda, bersama St. Bonaventura aku hendak mengatakan, “jika aku telah menghina engkau, demi keadilan lukailah hatiku; jika aku telah melayani engkau, sekarang aku mohon ganjarilah aku dengan luka-luka pula. Sungguh memalukan bagiku melihat Tuhan Yesus-ku penuh luka, dan engkau terluka bersama-Nya, sementara aku sendiri bersih tanpa suatu luka pun.” O Bundaku, melalui dukacita yang engkau derita saat menyaksikan Putra-mu menundukkan kepala-Nya dan wafat di kayu salib dalam siksa sengsara yang begitu keji, aku mohon kepadamu agar memperolehkan bagiku kematian yang bahagia. Ah, janganlah berhenti, O pembela para pendosa, menopang jiwaku yang menderita di tengah pertarungan yang harus dilaluinya dalam perjalanan panjangnya menuju ke keabadian. Dan, sementara mungkin bagiku kehilangan kemampuan berkata-kata, kehilangan kekuatan untuk menyerukan namamu dan Nama Yesus, yang adalah seluruh pengharapanku, maka aku melakukannya sekarang; aku berseru kepada Putramu dan kepadamu untuk menolongku di saat-saat terakhir. Karenanya aku berkata, Yesus dan Bunda Maria, kepada-Mu kuserahkan jiwaku. Amin

 

Santa Perawan Maria Mediatrix

oleh: P. William P. Saunders *

Mengapa Maria digelari sebagai “mediatrix”?
~ seorang pembaca di Lorton

Konsili Vatikan Kedua mempersembahkan bab kedelapan dari “Konstitusi Dogmatis tentang Gereja” mengenai “Santa Perawan Maria Bunda Allah Dalam Misteri Kristus dan Gereja.” Karena Kristus terus melanjutkan karya dan misi penyelamatan-Nya melalui tubuh-Nya, yaitu Gereja, maka para bapa konsili, secara istimewa di bawah bimbingan Paus Paulus VI, memutuskan bahwa sungguh amat tepat menyampaikan peran Bunda Maria di sini sebab “ia dianugerahi kurnia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putera Allah, maka juga menjadi puteri Bapa yang terkasih dan kenisah Roh Kudus” (LG 53). Seluruh Gereja menghormati Maria sebagai anggota Gereja yang mahaunggul dan sangat khusus, dan sebagai teladan dalam iman, harapan dan kasih.

Berdasarkan hal tersebut, Konsili Vatikan II sekali lagi mengulangi gelar-gelar Maria sebagai pengacara (advocata), pembantu (ajutrix), penolong (auxiliatrix), dan perantara (mediatrix) (LG 62). Menurut definisi dasarnya, seorang perantara adalah seorang yang bertindak sebagai penengah antara dua pihak yang berbeda. Seringkali, seorang perantara membantu melerai perbedaan-perbedaan dan membawa pihak-pihak tersebut ke dalam saling pengertian.

Dengan memeriksa keterangan-keterangan mengenai Bunda Maria dalam Kitab Suci, kita akan mendapati peran sebagai “perantara” ini. Bunda Maria, disapa oleh Malaikat Agung Gabriel sebagai yang penuh rahmat di hadapan Tuhan, dan terpuji di antara wanita, mengandung dari kuasa Roh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus; melalui “perantaraannya” Yesus masuk ke dalam dunia ini – sungguh Allah yang menjelma menjadi sungguh manusia. Dalam ayat-ayat Kitab Suci di mana ia disebutkan, Bunda Maria senantiasa menghadirkan Kristus kepada orang-orang lain: para gembala, para Majus, nabi Simeon dan pada pesta perkawinan di Kana. Bunda Maria berdiri di kaki salib, ambil bagian dalam sengsara Kristus, dan pada saat itulah Ia memberikan Bunda-Nya kepada kita sebagai Bunda kita dengan mengatakan kepada St. Yohanes, “Inilah ibumu” (Yoh 19:27). Dan akhirnya, Maria ada bersama para rasul pada saat Pentakosta; ia – yang melahirkan Yesus ke dalam dunia ini – ada di sana pada saat kelahiran Gereja. Di akhir hidupnya, Maria diangkat jiwa dan badannya ke surga, yang merupakan kepenuhan janji akan kehidupan kekal bagi jiwa dan badan yang dijanjikan kepada semua orang percaya. “Kosntitusi Dogmatik tentang Gereja” menggambarkan hidupnya dengan baik dengan menyatakan, “ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juru Selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa” (LG 61).

Dalam merefleksikan peran Maria sebagai Mediatrix, mukjizat yang terjadi dalam pesta perkawinan di Kana sungguh memainkan peran penting (bdk Yoh 2:1-12). Di sini, Maria sebagai seorang ibu menjadi perantara atas nama pasangan yang menikah, yang pestanya dapat berubah menjadi aib karena kekurangan anggur. Meskipun kepentingan yang demikian tampak kecil bagi keseluruhan rencana Injil, Maria datang sebagai penolong atas kebutuhan-kebutuhan manusia, membawanya, seperti diajarkan oleh Paus Yohanes Paulus II, “ke dalam lingkup tugas Kristus sebagai mesias dan kekuatan penyelamatan-Nya.” (Redemptoris Mater 21). Walaupun saatnya belum tiba bagi Kristus untuk melakukan mukjizat pertama-Nya, pada akhirnya Yesus mengubah kerangka waktu ilahi dan melakukannya juga karena kasih-Nya yang tulus kepada Bunda-Nya, Maria. Pikirkan betapa dahsyat kuasa doa-doa Bunda Maria! Bapa Suci kita menyimpulkan, “Jadi dalam hal itu ada suatu kepengantaraan: Maria menempatkan diri antara Puteranya dan umat manusia dalam situasi kekurangan, kebutuhan dan derita mereka. Dia menempatkan diri ‘di tengah-tengah’, yaitu dia berlaku sebagai perantara tidak sebagai orang luar, melainkan dalam kedudukannya sebagai seorang ibu. Maria sadar, bahwa sebagai ibu, dia dapat menyampaikan kepada Sang Putera, kebutuhan manusia dan bahkan, dia ‘berhak’ untuk berbuat demikian. Bahwa Maria berdiri di tengah antara Kristus dan manusia dengan demikian mengandung sifat sebagai pengantara: Maria ‘menjadi perantara’ bagi manusia. Dan itu belum semuanya: Sebagai seorang ibu ia juga menginginkan agar kekuasaan Puteranya sebagai mesias dinyatakan, yaitu kuasa penyelamatan-Nya, yang dimaksudkan untuk menolong manusia dalam kemalangannya, membebaskannya dari yang jahat, yang dalam berbagai bentuk dan taraf membebani hidup manusia.”(Redemptoris Mater No. 22).

Sebab itu, kita dapat memandang Maria sebagai Mediatrix dalam tiga pengertian: Pertama, sebagai bunda penebus, Maria adalah perantara melalui mana Putra Allah masuk ke dalam dunia ini demi menyelamatkan kita dari dosa.

Kedua, dengan kesaksian imannya sendiri dan dengan menghadirkan Kristus kepada yang lain, Maria membantu mendamaikan para pendosa dengan Putranya. Bunda Maria, tanpa dosa, namun demikian memahami sengsara yang diakibatkan dosa, terus-menerus memanggil para pendosa kepada Putranya. Melalui teladannya, ia mendorong kita semua kepada iman, harapan dan kasih yang Tuhan kehendaki kita miliki.

Dan akhirnya, karena ia diangkat ke surga dan karena perannya sebagai bunda bagi kita semua, Bunda Maria berdoa bagi kita, bertindak sebagai perantara atas nama kita seperti yang dulu dilakukannya di Kana, mohon pada Kristus untuk melimpahkan rahmat atas kita seturut kehendak-Nya.

Tetapi, gelar dan peran Mediatrix ini, sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu (LG 60). Pengantaraan Kristus itu yang terutama, mencukupi Diri-Nya Sendiri, dan mutlak diperlukan bagi keselamatan kita, sementara perantaraan Bunda Maria sifatnya sekunder dan sepenuhnya tergantung pada Kristus. Konsili Vatikan menyatakan, “Pengantara kita hanya ada satu, menurut sabda Rasul: ‘Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia’ (1 Tim 2:5-6). Adapun peran keibuan Maria terhadap umat manusia sedikit pun tidak menyuramkan atau mengurangi pengantaraan Kristus yang tunggal itu, melainkan justru menunjukkan kekuatannya. Sebab segala pengaruh Santa Perawan yang menyelamatkan manusia tidak berasal dari suatu keharusan objektif, melainkan dari kebaikan ilahi, pun dari kelimpahan pahala Kristus. Pengaruh itu bertumpu pada pengantaraan-Nya, sama sekali tergantung dari padanya, dan menimba segala kekuatannya dari padanya.” (LG 60). Bahkan dalam pesta perkawinan di Kana, Maria mengatakan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu!” karena ia tahu apa pun yang Kristus hendak lakukan pastilah baik dan benar adanya; Bunda Maria mengucapkan kata-kata yang sama kepada kita sekarang ini.

Marilah mohon dengan sangat bantuan doa Bunda Maria. Semoga teladannya mendorong kita untuk senantiasa berjuang agar penuh rahmat, mohon pengampunan atas dosa serta menghadirkan Kristus kepada sesama melalui perkataan dan perbuatan kita. Dengan demikian, kita pun juga boleh menjadi serupa perantara, membawa orang-orang kepada Kristus melalui kesaksian hidup kita sendiri

 

Perempuan Berselubungkan Matahari

oleh: P. William P. Saunders *

Pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, kita mendengarkan bacaan dari Kitab Wahyu yang mengisahkan seorang perempuan berselubungkan matahari, seorang Anak dan seekor naga. Apakah perempuan yang dimaksud adalah Bunda Maria? Seorang teman Protestan dalam pendalaman Kitab Suci mengatakan bukan.
~ seorang pembaca di Sterling

Pertama-tama, marilah menyegarkan ingatan kita dengan ayat dari Kitab Wahyu 11:19 – 12:6, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya.”

Sejak jaman para bapa Gereja perdana, gambaran akan “perempuan berselubungkan matahari” ini mengandung tiga perlambang: bangsa Israel kuno, Gereja dan Bunda Maria. Mengenai bangsa Israel kuno, Yesaya menggambarkan Israel sebagai, “Seperti perempuan yang mengandung yang sudah dekat waktunya untuk melahirkan, menggeliat sakit, mengerang karena sakit beranak, demikianlah tadinya keadaan kami di hadapan-Mu, ya TUHAN” (Yes 26:17). Tentu saja, kita patut ingat juga bahwa dari bangsa Israel kunolah baik Bunda Maria maupun Mesias berasal.

“Perempuan berselubungkan matahari” dapat juga melambangkan Gereja. Selanjutnya, dalam Kitab Wahyu bab 12 ayat 17, kita membaca, “Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.” “Keturunannya” adalah anak-anak Allah yang telah dibaptis, para anggota Gereja. Paus St. Gregorius menjelaskan, “Matahari melambangkan terang kebenaran, dan bulan melambangkan kefanaan hal-hal yang sementara sifatnya; Gereja yang kudus bagaikan berselubungkan matahari sebab Gereja dilindungi oleh kemuliaan kebenaran ilahi, dan bulan ada di bawah kakinya sebab ia berada di atas segala hal-hal duniawi” (Moralia, 34, 12).

Terakhir, perempuan itu dapat diidentifikasikan sebagai Santa Perawan Maria. Bunda Maria melahirkan Juruselamat kita, Yesus Kristus. St. Bernardus menyatakan pendapatnya, “Matahari mengandung warna dan kemilau yang tetap; sementara cemerlang bulan tidak tetap dan berubah-ubah, tidak pernah sama. Adalah tepat, karenanya, apabila Maria digambarkan sebagai perempuan berselubungkan matahari, sebab ia masuk ke kedalaman kebijaksanaan ilahi, jauh, jauh lebih dalam daripada yang mungkin dapat dipahami manusia” (De B. Virgine, 2).

Dalam mengidentifikasikan gambaran “perempuan berselubungkan matahari” sebagai Bunda Maria, muncullah kepenuhan atas gambaran bangsa Israel kuno dan Gereja. Mari kita berpikir tentang bangsa Israel kuno. Ketika Malaikat Agung Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria, ia memaklumkan (seperti dicatat dalam Kitab Suci), “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1:28). Selanjutnya, ia mengatakan, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Luk 1:30-33). Pernyataan ini merefleksikan nubuat Zefanya mengenai bangsa Israel kuno dan kedatangan Mesias, “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi. Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.” (Zef 3:16). Karena itu, Bunda Maria, Bunda sang Mesias, sebagai “perempuan berselubungkan matahari” mewakili kegenapan nubuat yang disampaikan kepada bangsa Israel.

Demikian pula, Bunda Maria dipandang sebagai “perempuan berselubungkan matahari,” yang dengan tepat melambangkan Gereja, karena Bunda Maria adalah Bunda Gereja. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia menegaskan, “…setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” (4:4-5). Menguraikan hal ini, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) Konsili Vatikan II, mengajarkan, “Sekaligus perawan dan bunda, Maria merupakan simbol dan realisasi paling sempurna dari Gereja: “Gereja … dengan menerima Sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal abadi putera-puteri yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah.” (No. 64). Lagipula, Konsili Vatikan II melanjutkan bahwa dengan diangkat ke surga dalam kemuliaan, Maria “menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang.” (no. 68). Dan yang terakhir, pada akhir sesi ketiga Konsili Vatikan II, pada tanggal 21 November 1964, ketika Lumen Gentium telah diterbitkan, Paus Paulus VI menyatakan, “Kami memaklumkan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja, yaitu, ibu seluruh umat kristiani, baik umat beriman maupun para gembalanya, dan kita menyebutnya Bunda yang paling terkasih.” Sebab itu, Bunda Maria mewakili kegenapan gambaran akan Gereja: ia, yang adalah Bunda sang Juruselamat yang mendirikan Gereja, adalah bunda rohani dari mereka semua yang melalui pembaptisan diangkat sebagai anak-anak Allah dan anggota Gereja.

Baiklah kita mengutip ajaran Paus St. Pius X dalam ensikliknya, Ad Diem Illum Laetissimum (1904): “Setiap orang tahu bahwa perempuan ini adalah Perawan Maria… Yohanes, karenanya, melihat Bunda Allah yang Tersuci telah ada dalam kebahagiaan abadi, namun demikian menderita sakit bersalin dalam suatu persalinan yang misterius. Kelahiran apakah itu? Tentu saja kelahiran kita yang, meskipun masih berada di pembuangan, namun akan dilahirkan ke dalam belas kasih Allah yang sempurna dan ke dalam kebahagiaan kekal” (24).

Ada beberapa alasan penting lainnya dalam mengidentifikasikan “perempuan berselubungkan matahari” sebagai Bunda Maria. Ayat yang dipertanyakan dimulai dengan wahyu akan Surga, Bait Suci, dan Tabut Perjanjian. Patut diingat bahwa dalam Perjanjian Lama, di dalam tabut perjanjian tersimpan loh-loh batu yang bertuliskan Sepuluh Perintah Allah, Hukum Allah dan Sabda Allah. Dalam Tabut Perjanjian juga tersimpan tongkat Harun dan sebuah buli-buli emas berisi segomer penuh manna (Kel 16:33, Bil 17:10, Ibr 9:4). Sementara bangsa Israel mengembara menuju Tanah Perjanjian, suatu awan, yang melambangkan kehadiran Tuhan, akan turun atas atau “menaungi” kemah di mana tabut perjanjian disimpan. Kelak, dalam Bait Suci di Yerusalem, tabut perjanjian disimpan di tempat yang mahakudus, bagian terdalam Bait Suci yang diyakini bangsa Yahudi sebagai tempat di mana Allah tinggal.

Setelah gambaran tentang surga, bait suci dan tabut perjanjian, ayat selanjutnya menggambarkan “perempuan berselubungkan matahari.” Bunda Maria adalah Bunda Yesus, yang dikandungnya dari kuasa Roh Kudus. Seperti dimaklumkan Malaikat Agung Gabriel, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1:35). Hubungan antara Bunda Maria dan Bait Suci, tempat yang mahakudus dan tabut perjanjian menjadi jelas.

Patut diingat juga bahwa ketika St. Yohanes mendapat penglihatan ini, tabut perjanjian telah hilang selama lebih dari 500 tahun. Nabi Yeremia telah menyembunyikannya guna mencegah tabut perjanjian dijarah dan dinajiskan oleh bangsa Babilon, dan menyatakan, “Tempat itu harus tetap rahasia sampai Allah mengumpulkan kembali umat serta mengasihaninya lagi.” (2 Mak 2:7). Dalam penglihatan ini, St. Yohanes melihat tabut perjanjian, dan kemudian ia melihat Bunda Maria. Bunda Maria membawa dalam rahimnya, Kristus, yang adalah Sabda Allah, Imam Agung yang sejati dan Roti Hidup. Sungguh, Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian yang baru dari Perjanjian Baru, di mana Kristus sebagai imam akan menumpahkan darah-Nya dalam kurban salib.

Jika “perempuan berselubungkan matahari” menunjuk pada Bunda Maria, lalu bagaimana dengan sakit bersalin yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu bisa cocok? Karena Bunda Maria bebas dari Dosa Asal, sebab ia dikandung tanpa dosa, Bunda Maria bebas dari sakit bersalin. Sakit itu, karenanya, pastilah menunjuk pada sakit yang ia alami ketika ia berdiri di kaki salib (Yoh 19:25), sakit seperti dinubuatkan oleh Nabi Simeon saat Ia dipersembahkan di Bait Allah, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35). Yang menarik, St. Paulus juga berbicara mengenai “sakit bersalin” dalam mewariskan iman kepada jemaat, “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” (Gal 4:19). Jadi, sakit itu mengandung makna rohani, yaitu sakit dalam ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus, dan sakit dalam menjadi Bunda Gereja dan menghantar yang lain kepada Putranya.

Gambaran Bunda Maria sebagai “perempuan berselubungkan matahari” juga menggambarkan kemuliaannya yang digenapi saat ia diangkat ke surga. Paus Pius XII dalam “Munifentissimus Deus,” maklumat tentang dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, menyatakan bahwa para bapa Gereja perdana memandang “perempuan berselubungkan matahari” ketika menetapkan dasar Perjanjian Baru bagi iman (no. 27). Perlu dicatat, itulah sebabnya mengapa ayat yang dipertanyakan di atas dibacakan pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Lagipula, Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium) mengajarkan, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (No. 59). Perhatikan bahwa dalam mengeluarkan pernyataan ini, Konsili Vatikan II mengacu pada ayat dari Kitab Wahyu seperti ditanyakan di atas.

Satu pokok pikiran terakhir untuk direnungkan: memahami segala uraian di atas mengenai topik ini, kita dapat melihat bagaimana Bunda Maria – peran dan gambarannya dalam ayat-ayat Kitab Wahyu ini – menggenapi Perjanjian Lama. Oleh sebab itu, para bapa Gereja perdana mengidentifikasikan Maria sebagai “Hawa Baru.” Dalam bab ketiga Kitab Kejadian, Hawa pertama jatuh ke dalam pencobaan dengan ingin menjadi serupa dengan Tuhan, melanggar perintah Tuhan dan berbuat dosa. Sebaliknya, Bunda Maria penuh rahmat, bebas dari segala noda dosa. Saat Kabar Sukacita, ia mengatakan kepada Malaikat Agung Gabriel, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah (Luk 1:38).

Melalui Hawa yang pertama, datanglah maut dan pintu gerbang surga ditutup; melalui Maria, datanglah kehidupan kekal yang dimenangkan oleh karya keselamatan Yesus. Hawa pertama disebut “ibu semua yang hidup,” Bunda Maria adalah sungguh Bunda dari mereka semua yang hidup secara rohani dalam keadaan rahmat.

Dan yang terakhir, setelah jatuhnya manusia ke dalam dosa, Tuhan bersabda kepada ular, setan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya ….” (Kej 3;15). Dalam Kitab Wahyu, setan digambarkan sebagai seekor naga. Kata Ibrani `nahash’ yang dipergunakan dalam Kitab Kejadian dapat berarti baik ular maupun naga. Juga, permusuhan antara Maria dan setan, antara keturunannya dan keturunan setan kita temukan dalam Kitab Wahyu. Gambaran Hawa Baru dihadirkan pada masa awal Gereja oleh St. Yustinus Martir, St. Ireneus dari Lyon, Tertulianus, St. Agustinus, St. Yohanes dari Damaskus, sekedar beberapa dari antara mereka, dan juga dipertegas dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Konsili Vatikan II, Bab VIII, yang berjudul, “Santa Perawan Maria Bunda Allah”.

Oleh sebab itu, “perempuan berselubungkan matahari,” seperti dilukiskan dalam Kitab Wahyu jelas merupakan suatu referensi yang indah akan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan.

 

Tetap Perawan Selamanya

Adalah benar bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya dan tidak memiliki anak lain kecuali Yesus. Yesus dikandung dari Kuasa Roh Kudus dalam rahim Perawan Maria yang suci dan tak bernoda. Umat Katolik percaya bahwa Maria tetap perawan sepanjang hidupnya di dunia, tetapi sebagian besar orang Protestan berpendapat bahwa Maria mempunyai anak-anak lain selain Yesus. Kerumitan mengenai masalah tersebut timbul karena adanya kurang lebih 10 ayat dalam Perjanjian Baru di mana digunakan istilah “saudara laki-laki” dan “saudara perempuan” Yesus (misalnya saja dalam Matius 13:55, Markus 3:31-34, Lukas 8:19-20).

Dalam ayat-ayat Injil tersebut, istilah “saudara laki-laki dan saudara perempuan” diterjemahkan dari bahasa Yunani adelphos, adelphe atau adelphoi. Dalam bahasa Yunani istilah tersebut berarti saudara sepupu atau sanak saudara, yaitu mereka semua yang termasuk sanak saudara karena hubungan pernikahan atau hukum, meskipun bukan hubungan langsung. Persoalannya ialah bahasa Ibrani dan bahasa Aram, yaitu bahasa yang digunakan oleh Kristus dan murid-murid-Nya, tidak memiliki istilah khusus untuk menyebut saudara sepupu atau sanak saudara, jadi digunakan istilah “saudara laki-laki” dan “saudara perempuan”. Suatu informasi kecil yang menarik dan amat penting artinya untuk membuktikan bahwa Yesus tidak memiliki saudara dan saudari kandung. Beberapa orang Rasul, St. Yudas Tadeus dan St. Yakobus, adalah saudara Yesus juga, tetapi mereka adalah saudara sepupu.

Suatu bukti lain yang menguatkan bahwa Yesus tidak memiliki saudara dan saudari kandung tampak dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengisahkan saat-saat menjelang ajal-Nya:

Yohanes 19:25-27 “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

Jika saja benar bahwa Yesus memiliki saudara dan saudari kandung, maka sesuai adat orang Yahudi, tentulah Yesus menyerahkan pemeliharaan ibu-Nya kepada mereka. Tetapi yang terjadi ialah Yesus menyerahkan bunda-Nya kepada St. Yohanes Rasul, yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan-Nya. Ini adalah suatu bukti nyata bahwa Yesus tidak memiliki saudara kandung, baik laki-laki maupun perempuan. Karena jika ada saudara dan saudari kandung-Nya, tentulah Yesus meminta mereka untuk merawat bunda-Nya setelah Ia wafat.

Kemurnian amatlah penting artinya bagi Maria. St. Yosef juga menghormati prinsip Maria tersebut sepanjang hidup berkeluarga dengan Maria. St. Maria dan St. Yosef hidup dalam cinta kasih yang tulus suci sebagai saudara. Keduanya adalah teladan kesucian dan kemurnian yang mengagumkan. Kita perlu lebih sering memohon pada mereka untuk menjadi pendoa bagi kita terutama dalam melewati masa remaja kita yang penuh dengan berbagai cobaan dan tantangan agar senantiasa mampu menjaga kemurnian kita masing-masing

 

Diangkat ke Surga
(Maria Assumpta)

15 AGUSTUS : HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

“Yakinlah anakku, bahwa tubuhku ini, yang telah menjadi bejana bagi Sabda yang hidup, telah dihindarkan dari kerusakan makam. Yakinlah juga, bahwa tiga hari setelah kematianku, tubuhku itu dibawa oleh sayap-sayap malaikat menuju tangan kanan Putera Allah, di mana aku memerintah sebagai ratu.”

Pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Antonius dari Padua

Dogma Santa Perawan Maria diangkat ke surga dirayakan untuk menghormati suatu kebenaran, yaitu bahwa setelah akhir hidupnya di dunia, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Dalam Kitab Kejadian 5:24 dan 2 Raja-raja 2:1-12 Kitab Suci menceritakan bagaimana tubuh Henokh dan Elia diangkat ke surga. Jadi hal diangkat ke surga bukanlah hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gereja tidak pernah menegaskan secara resmi apakah Bunda Maria benar-benar meninggal secara jasmani, meskipun banyak ahli yang beranggapan demikian.

Baru-baru ini dalam suatu meditasi mingguan, Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa “Bunda tidak lebih tinggi dari Putera”. Pernyataannya itu memperkuat keyakinan bahwa Maria mengalami kematian jasmani. Karena Yesus sendiri harus wafat, maka logis sekali jika kita beranggapan bahwa Bunda Maria juga wafat secara fisik sebelum ia diangkat ke surga. Karena kita yakin bahwa Bunda Maria dikandung tanpa dosa dan tetap “penuh rahmat” sepanjang hidupnya di dunia, logis juga jika kita beranggapan bahwa tubuh jasmaninya dihindarkan dari kerusakan setelah kematiannya.

Seandainya Maria dimakamkan di suatu tempat di dunia ini, pastilah ada makamnya. Bunda Maria sangat dihormati dan dicintai oleh Gereja Perdana. Jemaat Gereja Perdana dengan cermat sekali menjaga reliqui (Latin = peninggalan, yaitu tulang-belulang, pakaian dll peninggalan para kudus), jenasah serta barang-barang peninggalan para martir gereja. Kita mengetahui lokasi di mana Yesus dilahirkan, lokasi penyaliban, lokasi Yesus naik ke surga, serta banyak tempat-tempat penting lainnya yang berhubungan dengan kehidupan Kristus. Kita dapat mengenali tempat-tempat tersebut karena saudara-saudara kita dari Gereja Perdana meneruskan informasi tersebut kepada kita melalui Tradisi. Reliqui jemaat gereja perdana serta reliqui keduabelas rasul masih ada, demikian juga reliqui Kristus seperti Kain Kafan Turin dan potongan-potongan kayu dari Salib Kristus yang asli.

Seandainya saja Bunda Maria mempunyai makam, tentulah makamnya akan dihargai serta dihormati oleh gereja. Karena, bukankah ia adalah Bunda Allah. Kenyataannya, tidak satu pun kota di mana Bunda Maria pernah tinggal, Efesus atau pun Yerusalem, yang menyatakan memiliki makam Maria. Mengapa demikian? Karena memang tidak ada makamnya di dunia.

Kaum Protestan tidak setuju dengan dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, meskipun mereka percaya bahwa kelak kita semua ‘akan diangkat bersama-sama’ dan ‘menyongsong Tuhan di angkasa’ (1 Tesalonika 4:17). Sebaliknya, umat Katolik percaya bahwa Maria diberi keistimewaan untuk lebih dulu diangkat ke surga. Dan mengapakah ia tidak boleh menerima keistimewaan seperti itu, tubuhnya – yang merupakan bejana kudus bagi bayi Yesus – dihindarkan dari kerusakan duniawi?

Secara sederhana Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tentunya kita masih ingat dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, yaitu bahwa Tuhan menciptakan Maria dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa noda dosa asal. Tuhan menghendaki demikian supaya Maria dapat mengandung Yesus, yang adalah Putera Allah. Pada akhir hidup Maria di dunia, Tuhan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang istimewa baginya. Tubuhnya tidak dimakamkan, tetapi Tuhan mengangkat tubuhnya ke surga. Inilah yang disebut Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria diangkat jiwa dan raganya ke surga agar ia dapat senantiasa bersama dengan Yesus. Sungguh suatu karunia yang amat istimewa yang dianugerahkan Tuhan kepada Maria, karena Tuhan amat mengasihinya. Sekarang Maria adalah Ratu Surga dan Bumi.

Sementara Kitab Suci mengajarkan kita hal-hal yang terpenting, ada banyak keterangan serta informasi yang hanya kita peroleh melalui tradisi gereja karena pada kenyataannya ada banyak hal yang tidak dicatat dalam Kitab Suci:

Yohanes 20:30 “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini.”

2 Tesalonika 2:15 “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis”

Kuasa Gereja untuk menetapkan dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa dan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga datang dari kuasa mengajar yang dilimpahkan Yesus kepada Petrus dan para rasul. Kenyataan mengenai adanya ajaran-ajaran atau pun kejadian-kejadian yang tidak secara khusus dicatat di dalam Kitab Suci tidak berarti bahwa ajaran-ajaran atau pun kejadian-kejadian itu tidak ada. Gereja telah menetapkan dengan cermat dan tegas demi kepentingan kaum beriman karena Yesus telah berjanji kepada kita bahwa Ia akan membimbing dan mengajar Gereja-Nya dengan mutlak (tanpa salah) melalui para pemimpin gereja serta melalui Magisterium Gereja (Kuasa mengajar Gereja: tak dapat sesat dalam hal iman dan susila (moral) karena dilindungi oleh Allah Roh Kudus) sampai akhir zaman

 

Yang Dikandung Tanpa Dosa(
Immaculate Conception)

8 DESEMBER : HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA

“Akulah Yang Dikandung Tanpa Dosa”
“Que Soy Era Immaculada Conceptiou”
“I Am The Immaculate Conception”

Pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Bernadette

Salah satu hal yang khas yang membedakan kita, umat Katolik, dari saudara-saudari kita yang Protestan adalah cinta dan penghormatan yang kita persembahkan kepada Bunda Yesus. Kita percaya bahwa Maria, sebagai Bunda Allah, sudah selayaknya memperoleh penghormatan, devosi dan penghargaan yang sangat tinggi. Salah satu dogma (dogma = ajaran resmi gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus) Gereja Katolik mengenai Bunda Maria adalah Dogma Dikandung Tanpa Dosa. Pestanya dirayakan setiap tanggal 8 Desember. Masih banyak orang Katolik yang belum paham benar mengenai dogma ini. Jika kalian bertanya kepada beberapa orang Katolik, “Apa itu Dogma Dikandung Tanpa Dosa?”, maka sebagian besar dari mereka akan menjawab, “Yaitu bahwa Yesus dikandung dalam rahim Santa Perawan Maria tanpa dosa, atau tanpa seorang bapa manusia.” Jawaban demikian adalah jawaban yang salah yang perlu dibetulkan. Ya, tentu saja Yesus dikandung tanpa dosa karena Ia adalah Allah Manusia. Tetapi Dikandung Tanpa Dosa adalah dogma yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sendiri harus dihindarkan dari dosa asal. Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci – betul-betul”penuh rahmat”. Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam doa Salam Maria, tetapi banyak orang yang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan apa arti sebenarnya kata-kata ini. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini,

Lukas 1:28 “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Kata-kata “penuh rahmat” ketika diterjemahkan dari teks bahasa Yunani, sesungguhnya digunakan sebagai nama yang tepat untuk menyapa Maria. Istilah Yunani yang digunakan menunjukkan bahwa Maria dalam keadaan penuh rahmat atau dalam keadaan rahmat yang sempurna sejak dari ia dikandung sampai sepanjang hayatnya di dunia. Bukankah masuk akal jika Tuhan menghendaki suatu bejana yang kudus, yang tidak bernoda dosa untuk mengandung Putera-Nya yang Tunggal? Bagaimana pun juga, Yesus, ketika hidup di dalam rahim Maria, tumbuh dan berkembang sama seperti bayi-bayi lainnya tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu mereka masing-masing. Ia menerima darah Maria dan menerima makanan untuk pertumbuhan-Nya dari tubuh Maria sendiri.

Sebagian kaum Protestan menolak dogma ini dengan mengatakan bahwa Maria berbicara tentang “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Mengapa Maria memerlukan seorang Juruselamat, tanya mereka, jika ia tanpa noda dosa? Gereja mengajarkan bahwa karena Maria adalah keturunan Adam, maka menurut kodratnya ia mewarisi dosa asal. Hanya oleh karena campur tangan Allah dalam masalah yang unik ini, Maria dibebaskan dari dosa asal. Jadi, sesungguhnya Maria diselamatkan oleh rahmat Kristus, tetapi dengan cara yang sangat istimewa. Rahmat tersebut dilimpahkan ke atasnya sebelum ia dikandung dalam rahim ibunya.

Kaum Protestan juga akan menyanggah dengan mengatakan bahwa dogma ini tidak sesuai dengan ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa” (Roma 3:23). Namun demikian, jika kita mempelajari masalah ini dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan beberapa pengecualian. Kitab Suci juga mengajarkan bahwa meskipun semua orang telah berbuat dosa, Yesus yang adalah sungguh-sungguh manusia tidak berbuat dosa. Logis jika kita melanjutkannya dengan mengatakan bahwa Maria juga tidak berdosa dan dihindarkan dari dosa asal agar ia dapat tetap senantiasa menjadi bejana yang kudus untuk mengandung bayi Yesus.

Secara sederhana Dogma Dikandung Tanpa Dosa dapat dijelaskan sebagai berikut:

Seperti kita ketahui, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka apa saja yang mereka inginkan di Firdaus, Taman Eden. Tetapi Allah berfirman bahwa mereka tidak diperbolehkan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lucifer, raja iblis, datang kepada mereka dan membujuk mereka makan buah pohon tersebut. Adam dan Hawa memakan buah itu; mereka tidak taat kepada Tuhan dan karenanya mereka diusir dari Firdaus. Oleh karena dosa pertama itu, semua manusia yang dilahirkan sesudah Adam dan Hawa mewarisi apa yang disebut “dosa asal”. Itulah sebabnya, ketika seorang bayi lahir, ia segera dibaptis supaya dosa asal itu dibersihan dari jiwanya sehingga ia menjadi kudus dan suci, menjadi anak Allah.

Ketika Tuhan hendak mengutus Putera-Nya, Yesus, ke dunia untuk menyelamatkan kita, Tuhan memerlukan kesediaan seorang perempuan yang kudus untuk mengandung Yesus dalam rahimnya. Tuhan memutuskan bahwa perempuan ini harus dibebaskan dari dosa asal Adam dan Hawa. Ia juga memutuskan bahwa perempuan ini haruslah seseorang yang istimewa serta amat suci dan kudus. Sama halnya seperti jika kalian mempunyai satu termos air jeruk segar, maka kalian tidak akan menuangkannya ke dalam gelas yang kotor untuk meminumnya, ya kan? Kalian akan menuangkan air jeruk segar itu ke dalam gelas yang bersih untuk meminumnya. Demikian juga Tuhan tidak ingin Putera Tunggal-Nya itu ditempatkan dalam rahim seorang perempuan berdosa. Oleh karena itulah, Tuhan membebaskan Maria dari dosa asal sejak Maria hadir dalam rahim ibunya, yaitu Santa Anna. Inilah yang disebut Dogma Dikandung Tanpa Dosa – memang suatu istilah yang sulit, tetapi artinya ialah Maria tidak mewarisi dosa Adam dan Hawa, sehingga Maria dapat menjadi seorang bunda yang kudus yang mengandung Yesus dalam rahimnya.”

 

SP Maria dalam Injil

oleh: Kardinal Yohanes Henry Newman
disampaikan di Katedral St. Chad, 1848

Ada suatu ayat dalam Injil yang mungkin membuat sebagian besar dari kita terperanjat, sehingga diperlukan penjelasan. Ketika Yesus sedang berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” (Luk 11:27). Yesus membenarkan, tetapi bukannya tinggal dalam pujian perempuan ini, Ia lalu mengatakan sesuatu yang lebih jauh. Yesus berbicara tentang kebahagiaan yang lebih besar. Kata-Nya, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Sekarang, perkataan Yesus ini perlu kita pahami dengan baik, sebab banyak orang yang sekarang ini beranggapan bahwa perkataan tersebut dimaksudkan untuk merendahkan kemuliaan dan kebahagiaan Santa Perawan Maria Tersuci; seolah-olah Yesus telah mengatakan, “Bunda-Ku berbahagia, tetapi hamba-hamba-Ku yang sejati lebih berbahagia daripadanya.” Oleh sebab itu, aku akan menyampaikan sedikit komentar atas ayat ini, dan dengan ketepatan yang sepantasnya, sebab kita baru saja melewatkan pesta Bunda Maria, hari raya di mana kita mengenangkan Kabar Sukacita, yaitu, kunjungan Malaikat Gabriel kepadanya, dan perkandungan ajaib Putra Allah, Tuhan dan Juruselamatnya, dalam rahimnya.

Sekarang, sedikit penjelasan saja sudah akan cukup untuk menunjukkan bahwa perkataan Kristus bukanlah untuk meremehkan martabat dan kemuliaan Bunda-Nya, sebagai yang paling unggul dari antara ciptaan dan Ratu dari Semua Orang Kudus. Renungkanlah, Ia mengatakan bahwa lebih berbahagia melakukan perintah-Nya daripada menjadi Bunda-Nya, dan apakah kalian pikir bahwa Bunda Allah yang Tersuci tidak melakukan perintah-perintah Allah? Tentu saja tak seorang pun – bahkan seorang Protestan sekalipun – dapat menyangkal bahwa ia melakukannya. Jadi, jika demikian, apa yang dikatakan Kristus adalah bahwa Santa Perawan lebih berbahagia karena ia melakukan perintah-perintah-Nya daripada karena ia menjadi Bunda-Nya. Dan apakah orang Katolik menyangkal hal ini? Sebaliknya, kita semua mengakuinya. Segenap umat Katolik mengakuinya. Para Bapa Gereja yang kudus mengatakan lagi dan lagi bahwa Bunda Maria lebih berbahagia dalam melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda-Nya. Bunda Maria berbahagia dalam dua hal. Ia berbahagia karena menjadi Bunda-Nya; ia berbahagia karepa dipenuhi dengan semangat iman dan ketaatan. Dan kebahagiaan yang terakhir itu lebih besar dari yang pertama. Aku katakan bahwa para bapa yang kudus menyatakannya dengan begitu jelas. St Agustinus mengatakan, “Bunda Maria lebih berbahagia dalam menerima iman Kristus, daripada dalam menerima daging Kristus.” Serupa dengan itu, St Elisabet mengatakan kepada Bunda Maria saat kunjungannya, “Beata es quee credidisti – berbahagialah ia, yang telah percaya”; dan St Krisostomus lebih jauh mengatakan bahwa ia tak akan berbahagia, meskipun ia mengandung tubuh Kristus dalam tubuhnya, jika ia tidak mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.

Sekarang, aku mempergunakan kalimat “St Krisostomus lebih jauh mengatakan,” bukan berarti bahwa pernyataannya bukanlah suatu kebenaran yang nyata. Aku mengatakan pernyataannya merupakan kebenaran yang nyata bahwa Bunda Maria tidak akan berbahagia, meskipun ia menjadi Bunda Allah, jika ia tidak melakukan kehendak-Nya; tetapi pernyataan tersebut merupakan suatu pernyataan yang ekstrim, dengan mengandaikan sesuatu yang tidak mungkin, dengan mengandaikan bahwa ia dapat demikian dihormati namun tidak dipenuhi dan dirasuki oleh rahmat Allah, padahal malaikat, ketika datang kepadanya, dengan jelas memberinya salam sebagai yang penuh rahmat. “Ave, gratia plena.” Kedua kebahagiaan di atas tak dapat dipisahkan. (Sungguh luar biasa bahwa Bunda Maria sendiri berkesempatan untuk membedakan dan memilahnya, dan bahwa ia memilih untuk melakukan perintah-perintah Tuhan lebih daripada menjadi Bunda-Nya, seandainya saja ia harus memilih salah satu diantaranya). Ia, yang dipilih untuk menjadi Bunda Allah, juga dipilih untuk gratia plena, penuh rahmat. Kalian lihat, inilah penjelasan dari doktrin-doktrin penting yang diterima di antara umat Katolik mengenai kemurnian dan ketakberdosaan Santa Perawan. St Agustinus tidak akan pernah mau mendengarkan gagasan bahwa Bunda Maria pernah melakukan suatu dosa pun, dan Konsili Trente memaklumkan bahwa oleh rahmat istimewa, Bunda Maria sepanjang hidupnya bebas dari segala dosa, bahkan dosa ringan sekali pun. Dan kalian tahu bahwa hal tersebut merupakan keyakinan Gereja Katolik, yaitu bahwa ia dikandung tanpa dosa asal, dan bahwa perkandungannya tanpa noda dosa.

Lalu, darimanakah doktrin-doktrin ini berasal? Doktrin-doktrin tersebut berasal dari prinsip utama yang terkandung dalam perkatan Kristus yang aku komentari ini. Ia mengatakan, “adalah lebih berbahagia melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda Allah.” Jangan katakan bahwa umat Katolik tidak merasakan hal ini secara mendalam – begitu mendalam kita merasakannya hingga kita memperluasnya hingga ke keperawanan, kemurnian, perkandungannya yang tanpa dosa, iman, kerendahan hati dan ketaatannya. Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa umat Katolik melupakan ayat Kitab Suci ini. Setiap kali kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, atau semacamnya, kita memperingatinya karena kita memandang begitu dalam pada kebahagiaan kekudusan. Perempuan di antara orang banyak itu berseru, “berbahagialah rahim dan susu Maria.” Perempuan ini berbicara dalam iman; ia tidak bermaksud menolak kebahagiaan Bunda Maria yang lebih besar, tetapi perkataannya hanya mengarah pada satu maksud saja. Oleh sebab itu, Kristus menyempurnakannya. Dan karena itu, Gereja-Nya sesudah Dia, yang tinggal dalam misteri Inkarnasi-Nya yang agung dan sakral, merasa bahwa ia, yang begitu cepat menanggapinya, pastilah seorang yang terkudus. Dan karenanya, demi menghormati Putra, perempuan itu menyanjung kemuliaan Bunda. Seperti kita memberikan yang terbaik bagi-Nya, sebab segala yang terbaik berasal dari-Nya, seperti di dunia kita menjadikan gereja-gereja kita agung dan indah; seperti ketika Ia dirurunkan dari salib, para hamba-Nya yang saleh membungkus-Nya dengan kain kafan yang baik dan membaringkan-Nya dalam suatu makam yang belum pernah dipakai; seperti tempat kediaman-Nya di surga murni dan tak bernoda, begitu terlebih lagi selayaknya dan begitulah adanya – bahwa tabernakel darimana Ia mengambil rupa daging, di mana Ia terbaring, kudus dan tak bernoda dan ilahi. Sementara tubuh dipersiapkan bagi-Nya, demikian juga wadah bagi tubuh itu dipersiapkan pula. Sebelum Bunda Maria dapat menjadi Bunda Allah, dan guna menjadikannya seorang Bunda, ia disisihkan, dikuduskan, dipenuhi rahmat, dan dibentuk agar layak bagi kehadiran yang Kekal.

Dan para bapa suci mempelajari dengan seksama ketaatan dan ketakberdosaan Bunda Maria dari kisah Kabar Sukacita, saat ia menjadi Bunda Allah. Sebab ketika malaikat menampakkan diri dan memaklumkan kepadanya kehendak Allah, para bapa suci mengatakan bahwa Bunda Maria menunjukkan teristimewa empat karunia – kerendahan hati, iman, ketaatan dan kemurnian. Rahmat-rahmat ini merupakan prasyarat persiapan untuknya dalam menerima penyelenggaraan yang begitu luhur. Jadi, seandainya ia tidak mempunyai iman dan kerendahan hati dan kemurnian dan ketaatan, ia tidak akan memperoleh rahmat untuk menjadi Bunda Allah. Oleh sebab itu wajarlah dikatakan bahwa ia mengandung Kristus dalam benaknya sebelum ia mengandung Kristus dalam tubuhnya, artinya bahwa kebahagiaan iman dan ketaatan mendahului kebahagiaan menjadi seorang Bunda Perawan. Para bapa suci bahkan mengatakan bahwa Tuhan menantikan kesediaannya sebelum Ia datang ke dalam dirinya dan mengambil daging darinya. Sama seperti Ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di suatu tempat sebab mereka tidak memiliki iman, demikian juga mukjizat agung ini, di mana Ia menjadi Putra dari makhluk ciptaan, ditangguhkan hingga ia dicoba dan didapati layak untuk itu – hingga ia taat sepenuhnya.

Ada satu hal lagi yang perlu ditambahkan di sini. Baru saja aku katakan bahwa kedua kebahagiaan tersebut tak dapat dipisahkan, bahwa keduanya itu satu. “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau,” dst.; “Yang berbahagia ialah,” dst. Memang benar demikian, tetapi perhatikanlah ini. Para bapa suci senantiasa mengajarkan bahwa dalam peristiwa Kabar Sukacita, ketika malaikat menampakkan diri kepada Bunda Maria, Santa Perawan menunjukkan bahwa ia memilih apa yang disebut Tuhan sebagai kebahagiaan yang terbesar dari antara kedua kebahagiaan itu. Sebab ketika malaikat memaklumkan kepadanya bahwa ia dipersiapkan untuk memperoleh kebahagiaan yang dirindukan para wanita Yahudi selama berabad-abad, untuk menjadi Bunda dari Kristus yang dinantikan, ia tidak menangkap kabar tersebut seperti yang dilakukan dunia, melainkan ia menanti. Ia menanti hingga dikatakan kepadanya bahwa hal tersebut bersesuaian dengan keadaannya yang perawan. Bunda Maria tidak bersedia menerima kehormatan yang paling mengagumkan ini, tidak bersedia hingga ia dipuaskan dalam hal ini, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Para bapa suci beranggapan bahwa ia telah mengucapkan kaul kemurnian, dan menganggap kesucian lebih tinggi daripada melahirkan Kristus. Demikianlah ajaran Gereja, menunjukkan dengan jelas bagaimana cermatnya Gereja memeriksa doktrin dari ayat Kitab Suci yang aku komentari ini, betapa mendalamnya Gereja memahami bahwa Bunda Maria merasakannya yaitu bahwa meskipun berbahagia rahim yang mengandung Kristus dan susu yang menyusui-Nya, namun demikian lebih berbahagialah jiwa yang memiliki rahim dan susu itu, lebih berbahagialah jiwa yang penuh rahmat, yang karena demikian dipenuhi rahmat diganjari dengan hak istimewa luar biasa dengan menjadi Bunda Allah.

Sekarang, suatu pertanyaan lebih lanjut muncul, yang mungkin patut kita renungkan. Mungkin orang bertanya, mengapa Kristus tampaknya meremehkan kehormatan dan hak istimewa Bunda-Nya? Ketika perempuan itu mengatakan, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau”, dst. Ia sesungguhnya menjawab, “Ya.” Tetapi, Ia mengatakan, “Yang berbahagia ialah …” Dan dalam suatu peristiwa lain, Ia menjawab ketika orang memberitahukan kepada-Nya bahwa ibu-Nya dan saudara-saudaranya berusaha menemui Dia, “Siapa ibu-Ku?” dst. Dan di masa yang lebih awal, ketika Ia mengadakan mukjizat-Nya yang pertama di mana Bunda-Nya mengatakan kepada-Nya bahwa para tamu dalam perjamuan nikah kekurangan anggur, Ia mengatakan: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.” Ayat-ayat ini sepertinya merupakan perkataan yang dingin terhadap Bunda Perawan, meskipun maknanya dapat dijelaskan secara memuaskan. Jika demikian, apa maknanya? Mengapa Ia berbicara demikian?

Sekarang saya akan memaparkan dua alasan sebagai penjelasan:

Pertama, yang segera muncul dari apa yang saya katakan adalah ini: bahwa selama berabad-abad para wanita Yahudi masing-masing mengharapkan untuk menjadi ibunda sang Kristus yang dinantikan, dan tampaknya mereka tidak menghubungkannya dengan kekudusan yang lebih tinggi. Sebab itu, mereka begitu merindukan pernikahan; sebab itu pernikahan dianggap sebagai suatu kehormatan yang istimewa oleh mereka. Sekarang, pernikahan merupakan suatu penetapan Tuhan, dan Kristus menjadikannya suatu sakramen – namun demikian, ada sesuatu yang lebih tinggi, dan orang Yahudi tidak memahaminya. Seluruh gagasan mereka adalah menghubungkan agama dengan kesenangan-kesenangan dunia ini. Mereka tidak tahu, sesungguhnya, apa itu merelakan dunia ini demi yang akan datang. Mereka tidak mengerti bahwa kemiskinan lebih baik dari kekayaan, nama buruk daripada kehormatan, puasa dan matiraga daripada pesta-pora, dan keperawanan daripada perkawinan. Dan karenanya, ketika perempuan dari antara orang banyak itu berseru mengenai kebahagiaan rahim yang telah mengandung dan susu yang telah menyusui-Nya, Ia mengajarkan kepada perempuan itu dan kepada semua yang mendengarkan-Nya bahwa jiwa lebih berharga daripada raga, dan bahwa bersatu dengan-Nya dalam Roh, lebih berharga daripada bersatu dengan-Nya dalam daging.

Itu satu alasan. Alasan yang lain lebih menarik. Kalian tahu bahwa Juruselamat kita selama tigapuluh tahun pertama hidup-Nya di dunia tinggal di bawah satu atap dengan Bunda-Nya. Ketika Ia kembali dari Yerusalem pada usia duabelas tahun dengan Bunda-Nya dan St Yosef, dengan jelas dikatakan dalam Injil bahwa Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Pernyataan ini merupakan pernyataan tegas, tetapi asuhan ini, yang adalah kehidupan keluarga yang lazim, tidak untuk selamanya. Bahkan dalam peristiwa di mana penginjil mengatakan bahwa Ia hidup dalam asuhan mereka, Ia telah mengatakan dan melakukan hal yang dengan tegas menyampaikan kepada mereka bahwa Ia mempunyai tugas kewajiban yang lain. Sebab Ia meninggalkan mereka dan tinggal di Bait Allah di antara para alim ulama, dan ketika mereka menunjukkan ketercengangan mereka, Ia menjawab, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Ini, menurutku, merupakan suatu antisipasi akan masa pewartaan-Nya, saat ketika Ia harus meninggalkan rumah-Nya. Selama tigapuluh tahun Ia tinggal di sana, tetapi sementara Ia dengan tekun menjalankan tugas kewajiban-Nya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung-jawab-Nya, Ia begitu merindukan karya Bapa-Nya, saat ketika tibalah waktu bagi-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa. Ketika saat perutusan-Nya tiba, Ia meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, dan meskipun Ia sangat mengasihinya, Ia tak mengindahkannya.

Dalam Perjanjian Lama, kaum Lewi dipuji karena mereka tidak kenal lagi ayah ataupun ibu mereka ketika tugas dari Tuhan memanggil. Tentang mereka dikatakan sebagai “berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya” (Ulangan 33). Jika demikian perilaku kaum imam di bawah Hukum, betapa terlebih lagi yang dituntut dari Imam agung sejati dari Perjanjian Baru guna memberikan teladan keutamaan tersebut yang didapati serta diganjari dalam diri kaum Lewi. Ia Sendiri juga telah mengatakan: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Dan Ia mengatakan kepada kita bahwa “setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19). Oleh sebab itu, Ia yang menetapkan perintah haruslah memberikan teladan dan seperti telah dikatakan-Nya kepada para pengikut-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki demi Kerajaan Allah, Diri-Nya Sendiri harus melakukan segala yang Ia dapat, meninggalkan segala yang Ia miliki, meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, ketika tiba saatnya Ia harus mewartakan Injil.

Sebab itu, sejak saat awal pewartaan-Nya, Ia meninggalkan Bunda-Nya. Pada saat Ia melakukan mukjizat-Nya yang pertama, Ia menyatakannya. Ia melakukan mukjizat atas permintaan Bunda-Nya, tetapi secara tak langsung atau lebih tepat menyatakan, bahwa saat itulah Ia mulai memisahkan Diri darinya. Kata Yesus, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan?” dan lagi, “Saat-Ku belum tiba”; yakni “akan tiba waktunya di mana Aku akan mengenalimu kembali, oh BundaKu. Akan tiba waktunya ketika engkau dengan sepantasnya dan dalam kuasa akan dipersatukan dengan-Ku. Akan tiba waktunya ketika atas permintaanmu, Aku akan melakukan mukjizat-mukjizat; akan tiba waktunya, tetapi bukan sekarang. Dan hingga tiba waktunya, Mau apakah engkau dari pada-Ku? Aku tidak mengenalmu. Untuk sementara waktu Aku telah melupakan engkau.”

Sejak saat itu, kita tidak mendapati catatan mengenai perjumpaan-Nya dengan Bunda-Nya hingga Ia melihatnya di bawah salib. Ia berpisah dengannya. Satu kali Bunda-Nya berusaha menemui-Nya. Dikisahkan bahwa Ia tidak sendirian. Murid-murid ada di sekeliling-Nya. Bunda Maria tampaknya kurang suka ditinggalkan sendiri. Ia juga pergi mendapatkan-Nya. Pesan disampaikan kepada-Nya bahwa ibunda dan saudara-saudara-Nya berusaha menemui-Nya, tetapi tidak dapat mencapai-Nya karena orang banyak. Kemudian Ia mengatakan perkataan yang serius ini, “Siapakah ibu-Ku?” dst, artinya, seperti tampaknya, Ia telah meninggalkan segalanya demi melayani Tuhan, dan bahwa seperti Ia telah dikandung dan dilahirkan dari Santa Perawan demi kita, demikian pulalah Ia tidak mengindahkan Bunda-Nya yang Perawan demi kita, agar Ia dapat memuliakan Bapa Surgawi-Nya dan melakukan karya-Nya.

Demikianlah perpisahan-Nya dengan Bunda Maria, tetapi ketika di salib Ia berkata, “Sudah selseai.” Saat perpisahan telah berakhir. Dan sebab itu, karena Bunda-Nya telah bergabung dengan-Nya, dan Ia, melihat Bunda-Nya, mengenalinya kembali. Waktunya telah tiba, dan Ia berkata kepadanya tentang St Yohanes, “Perempuan, inilah anakmu!” dan kepada St. Yohanes, “Inilah ibum!”

Dan sekarang, saudara-saudaraku, sebagai kesimpulan aku hanya akan mengatakan satu hal. Aku tidak ingin kata-kata kalian melebihi perasaan kalian yang sesungguhnya. Aku tidak menghendaki kalian mengambil buku-buku berisi puji-pujian kepada Santa Perawan dan mempergunakannya serta menirunya dengan tergesa tanpa merenungkannya. Melainkan, yakinlah akan hal ini, yaitu apabila kalian tidak dapat masuk ke dalam kehangatan buku-buku devosi asing itu, hal itu akan merupakan kelemahan bagimu. Menggunakan kata-kata yang kuat tidak berarti akan menyelesaikan masalah; hal ini merupakan suatu kesalahan yang hanya akan dapat diatasi secara perlahan-lahan, tetapi tetap merupakan suatu kelemahan. Bergantunglah pada cara kalian masuk ke dalam sengsara Putra yang adalah dengan masuk ke dalam sengsara Bunda. Tempatkanlah dirimu di bawah kaki salib, pandanglah Bunda Maria yang berdiri di sana, menengadah ke salib dan dengan jiwanya ditembusi pedang. Bayangkanlah perasaan-perasaan hatinya, jadikan itu perasaan hatimu. Jadikan ia teladanmu yang istimewa. Rasakanlah apa yang ia rasakan dan kalian akan dengan layak menangisi sengsara dan wafat Juruselamatmu dan Juruselamatnya. Teladanilah imannya yang bersahaja dan kalian akan percaya dengan baik. Berdoalah agar dipenuhi rahmat seperti yang dianugerahkan kepadanya. Sayang sekali, kalian pasti akan merasakan banyak perasaan seperti yang tak dimilikinya, perasaan atas dosa pribadi, atas penderitaan pribadi, atas tobat, atas penyangkalan diri, tetapi hal-hal ini dalam diri seorang berdosa pada umumnya akan disertai dengan iman, kerendahan hati, kesahajaan yang adalah perhiasannya yang utama. Menangislah bersama Bunda Maria, berimanlah bersamanya, dan pada akhirnya engkau akan mengalami kebahagiaannya seperti yang dimaksud dalam ayat Kitab Suci. Tak seorang pun sungguh-sungguh dapat memperoleh hak istimewanya yang khusus dengan menjadi Bunda Yang Mahatinggi, tetapi kalian akan ikut ambil bagian dalam kebahagiaanya yang lebih besar, yaitu kebahagiaan dalam melaksanakan kehendak Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya

 

SP Maria dan Gereja

oleh: Beato Isaac dari Stella, Abbas (1100-1169)

Putra Allah adalah putera sulung dari banyak saudara. Meskipun secara manusiawi Ia adalah putra tunggal, tetapi dengan rahmat Ia telah mempersatukan banyak orang kepada Diri-Nya Sendiri dan menjadikan mereka satu dengan-Nya. Sebab, kepada mereka yang menerima-Nya, Ia memberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

Putra Allah menjadi Anak Manusia dan menjadikan manusia anak-anak Allah, mempersatukan mereka kepada Diri-Nya Sendiri dengan kasih dan kuasa-Nya, supaya mereka semua menjadi satu. Dalam diri mereka sendiri, mereka banyak menurut keturunan manusiawi, tetapi dalam Dia, mereka semua satu melalui kelahiran baru yang ilahi.

Kristus yang seluruhnya dan Kristus yang unik – tubuh dan kepala – adalah satu: satu karena dilahirkan dari Allah yang sama di surga, dan dari bunda yang sama di dunia. Ada banyak anak, tetapi satu. Kepala dan anggota adalah satu anak, tetapi banyak; demikian pula halnya, Bunda Maria dan Gereja adalah satu ibu, tetapi lebih dari satu ibu; satu perawan, tetapi lebih dari satu perawan.

Keduanya adalah ibu, keduanya adalah perawan. Masing-masing mengandung dari kuasa Roh yang sama, tanpa noda. Masing-masing melahirkan putera Allah Bapa, tanpa dosa. Tanpa dosa, Bunda Maria melahirkan Kristus, sang Kepala, demi tubuh-Nya. Dengan pengampunan dari segala dosa, Gereja melahirkan tubuh, demi Kepalanya. Masing-masing adalah Bunda Kristus, tetapi tak satu pun melahirkan Kristus seluruhnya tanpa kerjasama dari yang lain.

Dalam Kitab-kitab yang diilhami, apa yang dikatakan secara universal sebagai bunda perawan, Gereja, dipahami secara individual sebagai Perawan Maria, dan apa yang dikatakan secara khusus sebagai bunda perawan Maria dengan tepat dipahami secara general sebagai bunda perawan, Gereja. Entah yang mana yang dibicarakan, maknanya dapat diartikan keduanya, hampir tanpa pengecualian.

Demikian juga, setiap umat Kristiani diyakini sebagai mempelai Sabda Allah, ibu Kristus, puteri-Nya dan saudari-Nya, sekaligus perawan dan dengan banyak anak. Kata-kata ini dipergunakan secara universal sebagai Gereja, secara istimewa sebagai Bunda Maria, dan secara khusus sebagai individu Kristiani. Semuanya dipergunakan oleh pribadi Kebijaksanaan Allah, Sabda Bapa.

Itulah sebabnya mengapa Kitab Suci mengatakan: Aku akan tinggal di rumah Tuhan. Rumah Tuhan adalah, dalam arti general, Gereja; dalam arti istimewa, Bunda Maria, dalam arti individual, umat Kristiani. Kristus tinggal selama sembilan bulan lamanya dalam tabernakel rahim perawan Maria. Ia tinggal hingga akhir abad dalam tabernakel iman Gereja. Ia akan tinggal selama-lamanya dalam benak dan dalam kasih setiap jiwa beriman.

 

SP Maria Bunda Allah & Bunda Kita

oleh: St. Alfonsus Maria de Liguori
dari:KEMULIAAN MARIA

Betapa besar sepantasnya kita menempatkan kepercayaan kita kepada Bunda Maria, sebab ia adalah bunda kita.

BUKAN KEBETULAN ataupun dalam kesia-siaan belaka para hamba Maria menyebutnya Bunda. Tak dapat mereka berseru kepadanya dengan nama lain, dan tak bosan-bosannya mereka menyebutnya bunda: sungguh bunda, sebab ia sungguh bunda kita, bukan menurut daging, melainkan bunda rohani dari jiwa dan keselamatan kira.

Dosa, ketika merenggut rahmat ilahi dari jiwa kita, juga merenggut hidup darinya. Sebab itu, ketika jiwa kita mati dalam dosa dan sengsara, Yesus, Penebus kita, datang dengan kerahiman dan kasih yang tak terhingga, guna memulihkan hidup yang hilang itu bagi kita dengan wafat-Nya di atas salib, seperti yang Ia Sendiri nyatakan, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Dalam segala kelimpahan, sebab, seperti diajarkan para teolog, Yesus Kristus dengan karya penebusan-Nya memperolehkan bagi kita berkat dan rahmat yang jauh lebih besar daripada luka yang ditimbulkan Adam atas kita dengan dosanya; Ia memulihkan hubungan kita dengan Tuhan dan dengan demikian menjadi Bapa bagi jiwa kita, di bawah hukum rahmat yang baru, seperti dinubuatkan nabi Yesaya, “Bapa yang Kekal, Raja Damai” (Yes 9:5).

Jika Yesus adalah Bapa dari jiwa kita, maka Maria adalah bundanya, sebab dengan memberikan Yesus kepada kita, ia memberikan hidup sejati kepada kita, dan dengan mempersembahkan hidup Putranya di atas Kalvari demi keselamatan kita, ia melahirkan kita ke dalam hidup rahmat ilahi.

Dalam dua peristiwa yang berbeda, Bunda Maria menjadi bunda rohani kita. Pertama kali ketika ia didapati layak mengandung Putra Allah dalam rahimnya yang perawan, demikian dikatakan Albertus Magnus. St. Bernardinus dari Siena mengajarkan bahwa ketika Santa Perawan Tersuci, pada waktu malaikat menyampaikan kabar sukacita, menyatakan kesediaannya untuk menjadi bunda dari Sabda yang kekal, kesediaan yang dinantikan-Nya sebelum menjadikan Diri-Nya Putranya, Bunda Maria dengan tindakannya ini memohonkan keselamatan kita kepada Tuhan. Begitu khusuk ia dalam memohonkannya, hingga sejak saat itulah ia, seolah-olah, mengandung kita dalam rahimnya, sebagai seorang bunda yang paling penuh kasih sayang.

Perihal kelahiran Juruselamat kita, St. Lukas mengatakan bahwa Bunda Maria, “melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung” (Luk 2:7). Oleh sebab itu, seperti diungkapkan seorang penulis, jika penulis Injil menegaskan bahwa Maria melahirkan anaknya yang sulung, tidakkah kita beranggapan bahwa sesudahnya ia mempunyai anak-anak yang lain? Tetapi, penulis yang sama menambahkan bahwa jika menurut iman Bunda Maria tidak mempunyai anak-anak lain menurut daging kecuali Yesus, maka pastilah ia mempunyai anak-anak rohani yang lain, yaitu kita. Dan ini menjelaskan apa yang dikatakan tentang Maria dalam Kidung Agung: “Perutmu timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung” (7:2). St. Ambrosius menjelaskan ayat ini, “Walaupun dalam rahim Maria yang murni hanya ada satu biji gandum, yang adalah Yesus Kristus, namun demikian disebut timbunan gandum, sebab dalam biji gandum yang satu itu terkandung mereka semua yang terpilih kepada siapa Maria akan menjadi bundanya.” Maka, tulis William sang Abbas, Bunda Maria ketika melahirkan Yesus, yang adalah Juruselamat kita dan hidup kita, melahirkan kita semua dalam hidup dan keselamatan.

Kedua kalinya Bunda Maria melahirkan kita dalam rahmat adalah ketika di Kalvari ia mempersembahkan kepada Bapa yang kekal dengan dukacita yang begitu pedih di hati, hidup Putranya terkasih demi keselamatan kita. Sebab itu, St. Agustinus menegaskan, dengan bekerjasama dengan Kristus dalam kelahiran umat beriman ke dalam hidup rahmat, ia dengan kerjasamanya ini juga menjadi bunda rohani dari mereka semua yang adalah anggota-anggota Kepala, yaitu Yesus Kristus. Inilah juga makna dari apa yang dikatakan mengenai Santa Perawan dalam Kidung Agung, “aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga” (1:6).

Bunda Maria, demi meyelamatkan jiwa kita, rela mengurbankan hidup Putranya sendiri, demikian dikatakan William sang Abbas. Dan siapakah jiwa sejati Maria, selain daripada Yesus, yang adalah hidupnya dan segenap kasihnya? Maka, St. Simeon menubuatkan kepadanya bahwa jiwanya suatu hari kelak akan ditembus oleh pedang dukacita; yang adalah tombak yang ditikamkan ke lambung Yesus, yang adalah jiwa Maria. Dan kemudian, ia dalam dukacitanya melahirkan kita ke dalam hidup yang kekal, sehingga kita semua dapat menyebut diri kita sebagai anak-anak dari dukacita Maria. Ia, bunda kita yang paling lemah-lembut, senantiasa dan sepenuhnya mempersatukan diri pada kehendak ilahi. Itulah sebabnya St. Bonaventura mengatakan, ketika Maria melihat kasih Bapa yang kekal bagi manusia, yang merelakan Putra-Nya wafat demi keselamatan kita, dan kasih Putra yang bersedia wafat bagi kita, Bunda Maria juga, dengan segenap kesediaannya, mempersembahkan Putranya dan `fiat’-nya bahwa Ia wafat agar kita diselamatkan, memberikan diri dalam ketaatan pada kasih tak terhingga Bapa dan Putra kepada umat manusia.

Oleh sebab itu, bersukacitalah, hai kalian semua putera-puteri Maria. Ingatlah bahwa ia mengambil sebagai anak-anaknya mereka semua yang menghendakinya menjadi bunda mereka. Bersukacitalah: adakah yang engkau takuti ketika tersesat apabila Bunda ini membela serta melindungimu? Dengan demikian, kata St. Bonaventura, siapa pun yang mengasihi bunda yang lemah-lembut ini, selayaknya bersikap berani sembari mengulang dalam hatinya: Adakah yang engkau takuti, wahai jiwaku? Sumber keselamatan kekalmu tak akan hilang, sebab pengadilan terakhir ada dalam tangan Yesus, yang adalah saudaramu, dan Bunda Maria, yang adalah bundamu. Dan St. Anselmus, penuh sukacita atas pemikiran ini, berseru guna membesarkan hati kita, “Oh, sumber kepercayaan yang terberkati! Oh, tempat pengungsian yang aman! Bunda Allah adalah bundaku juga. Betapa yakin kita akan pengharapan kita, sebab keselamatan kita tergantung pada pengadilan seorang saudara yang penuh belas-kasihan dan bunda yang lemah-lembut!”

Sebab itu, dengarkanlah bunda kita yang memanggil kita dan berkata, “Siapa yang tak berpengalaman, singgahlah ke mari” (Ams 9;4). Kata “Mama,” senantiasa ada dalam bibir anak-anak kecil, dan dalam segala bahaya dan dalam segala ketakutan, mereka akan berteriak, “Mama! Mama!” Bunda Maria yang termanis, bunda yang paling penuh kasih sayang, itulah kerinduanmu yang sesungguhnya, yaitu agar kami menjadi anak-anak kecil yang senantiasa menyerukan namamu dalam segala bahaya, serta senantiasa mohon pertolongan darimu, oleh sebab engkau rindu menolong serta menyelamatkan kami, sebagaimana engkau telah menyelamatkan segenap anak-anakmu yang berlindung kepadamu.

 

Santa Perawan Maria Bunda Allah

oleh: Paus Yohanes Paulus II

Audiensi Umum, 27 November 1996

1. Renungan akan misteri kelahiran sang Juruselamat telah menghantar umat Kristiani bukan hanya untuk mengenali Santa Perawan sebagai Bunda Yesus, melainkan juga untuk mengenalinya sebagai Bunda Allah. Kebenaran ini telah ditegaskan serta diterima sebagai harta warisan iman Gereja sejak dari abad-abad awal kekristenan, hingga akhirnya secara resmi dimaklumkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431.

Dalam komunitas Kristiani yang pertama, sementara para murid semakin menyadari bahwa Yesus adalah Putra Allah, menjadi semakin nyatalah bahwa Bunda Maria adalah Theotokos, Bunda Allah. Inilah gelar yang tidak muncul secara eksplisit dalam ayat-ayat Injil, tetapi dalam ayat-ayat tersebut “Bunda Yesus” disebutkan dan ditegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh 20:28; bdk. 5:18; 10:30, 33). Bunda Maria dihadirkan sebagai Bunda Imanuel, yang artinya “Tuhan beserta kita” (bdk. Mat 1:22-23).

Telah sejak dari abad ketiga, seperti dapat disimpulkan dari suatu kesaksian tertulis kuno, umat Kristiani Mesir telah mendaraskan doa ini kepada Bunda Maria, “Kami bergegas datang untuk mohon perlindunganmu, ya Bunda Allah yang kudus, janganlah kiranya engkau mengabaikan permohonan dalam kesesakan kami, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat, ya Santa Perawan yang mulia” (dari Buku Ibadat Harian). Istilah Theotokos muncul secara eksplisit untuk pertama kalinya dalam kesaksian kuno ini.

Dalam mitos kafir, seringkali terjadi bahwa seorang dewi tertentu dihadirkan sebagai ibunda dari beberapa dewa. Sebagai contoh, dewa tertinggi, Zeus, memiliki dewi Rhea sebagai ibundanya. Konteks ini mungkin mendorong umat Kristiani untuk mempergunakan gelar “Theotokos”, “Bunda Allah”, bagi Bunda Yesus. Namun demikian, patut dicatat bahwa gelar ini tidak ada sebelumnya, melainkan diciptakan oleh umat Kristiani guna mengungkapkan suatu keyakinan yang tidak ada hubungannya dengan mitos kafir, yaitu keyakinan akan perkandungan Dia, yang senantiasa adalah Sabda Allah yang kekal, dalam rahim Maria yang perawan.

Konsili Efesus memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah

2. Dalam abad keempat, istilah Theotokos biasa dipergunakan baik di Gereja Timur maupun Barat. Devosi dan teologi merujuk lebih dan lebih banyak lagi pada istilah ini, yang sekarang telah menjadi bagian dari warisan iman Gereja.

Oleh karenanya, orang dapat memahami gerakan protes besar yang muncul dalam abad kelima ketika Nestorius menyatakan keraguannya atas kebenaran gelar “Bunda Allah”. Sesungguhnya, berkeyakinan bahwa Bunda Maria hanyalah bunda dari Yesus manusia, ia bersikukuh bahwa “Bunda Kristus” adalah satu-satunya istilah yang benar secara doktrin. Nestorius dihantar pada kesalahan ini karena ketakmampuannya mengakui keutuhan pribadi Kristus dan karena tafsirannya yang salah dalam membuat pemisahan kedua kodrat – kodrat ilahi dan kodrat manusiawi – yang ada dalam Kristus.

Pada tahun 431, Konsili Efesus mengutuk thesisnya dan, dengan menegaskan kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dalam satu pribadi Putra, memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

3. Sekarang, kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan yang diajukan oleh Nestorius memberi kita kesempatan untuk melakukan refleksi-refleksi yang berguna demi pemahaman dan penafsiran yang benar atas gelar ini. Istilah Theotokos, yang secara harafiah berarti, “ia yang telah melahirkan Allah,” secara sepintas dapat mengejutkan; sesungguhnya malahan membangkitkan pertanyaan seperti, bagaimana mungkin seorang manusia ciptaan melahirkan Allah. Jawaban atas iman Gereja sangat jelas: Keibuan ilahi Bunda Maria mengacu hanya pada kelahiran Putra Allah sebagai manusia, tetapi bukan pada kelahiran ilahi-Nya. Putra Allah dilahirkan dalam kekekalan oleh Allah Bapa, dan sehakikat dengan-Nya. Bunda Maria, tentu saja tidak ambil bagian dalam kelahiran dalam kekekalan ini. Tetapi, Putra Allah mengambil kodrat manusiawi kita 2000 tahun yang lalu dan dikandung serta dilahirkan oleh Perawan Maria.

Dengan memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja bermaksud untuk menegaskan bahwa ia adalah “Bunda dari Inkarnasi Sabda, yang adalah Allah.” Sebab itu, keibuannya tidak diperluas pada keseluruhan pribadi Tritunggal Mahakudus, melainkan hanya pada Pribadi Kedua, Allah Putra, yang dalam berinkarnasi mengambil kodrat manusiawi-Nya dari Maria.

Keibuan merupakan suatu hubungan dari pribadi ke pribadi: seorang ibu bukanlah sekedar ibu ragawi atau ibu secara fisik belaka dari makhluk yang dilahirkan dari rahimnya, melainkan ibu dari pribadi yang dilahirkannya. Karenanya, dengan melahirkan, menurut kodrat manusiawi-Nya, pribadi Yesus, yang adalah pribadi Allah, Bunda Maria adalah Bunda Allah.

Kesediaan Santa Perawan mengawali Peristiwa Inkarnasi

4. Dalam memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja dalam satu ungkapan menyatakan imannya akan Putra dan Bunda. Kesatuan ini telah dilihat dalam Konsili Efesus; dalam mendefinisikan keibuan ilahi Bunda Maria, para Bapa Gereja bermaksud menegaskan keyakinan mereka akan keilahian Kristus. Walau menghadapi banyak keberatan, baik dulu maupun sekarang, mengenai tepat atau tidaknya dalam menggelari Bunda Maria dengan gelar ini, umat Kristiani sepanjang jaman, dengan menafsirkan secara tepat makna keibuan ini, telah mengungkapan secara istimewa iman mereka akan keilahian Kristus dan akan kasih mereka kepada Santa Perawan.

Di satu pihak, Gereja memaklumkan Theotokos sebagai jaminan atas realita Inkarnasi sebab – seperti dinyatakan St Agustinus – “jika Bunda fiktif, maka daging akan juga fiktif … dan merupakan corengan terhadap Kebangkitan” (in evangelium Johannis tractatus, 8, 6-7). Di lain pihak, Gereja juga mengkontemplasikan dengan penuh kekaguman dan merayakannya dengan penghormatan anugerah agung luhur yang dianugerahkan kepada Bunda Maria oleh Ia yang menghendaki untuk menjadi Putranya. Ungkapan “Bunda Allah” juga menunjuk pada Sabda Allah, yang dalam Inkarnasi merendahkan diri dalam rupa manusia guna meninggikan manusia sebagai anak-anak Allah. Tetapi dalam terang martabat luhur yang dianugerahkan kepada Perawan dari Nazaret, gelar ini juga memaklumkan kemuliaan wanita dan panggilannya yang luhur. Sesungguhnya, Tuhan memperlakukan Bunda Maria sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab dan tidak mewujud-nyatakan Inkarnasi PutraNya hingga setelah Ia memperoleh kesediaannya.

Mengikuti teladan umat Kristiani perdana dari Mesir, kiranya umat beriman mempercayakan diri kepada dia yang, sebagai Bunda Allah, dapat memperolehkan dari Putra Ilahinya rahmat pembebasan dari yang jahat dan keselamatan kekal

 

Santa Perawan Maria Bunda Allah

Pada tanggal 1 Januari Gereja Katolik tidak hanya sekedar merayakan Tahun Baru. Kita juga merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah.

Sebagian orang Kristen tidak dapat percaya bahwa seseorang yang dilahirkan di waktu yang silam dapat menjadi “bunda” dari Allah yang kekal. Mereka berpendapat bahwa Bunda Maria adalah Bunda Yesus, yaitu Yesus sebagai manusia, tetapi bukan bunda Yesus sebagai Allah. Muncul masalah dari pernyataan mereka itu, yaitu tampaknya mereka membagi Yesus menjadi dua: Yesus yang Manusia dan Yesus yang Allah. Malahan sebagian orang beranggapan bahwa Yesus adalah manusia yang “dirasuki oleh Allah.”

Gereja Katolik selalu percaya bahwa Bunda Maria adalah sungguh-sungguh Bunda Allah. Karena itu, kita harus memperjuangkan dogma (dogma : ajaran resmi Gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Bapa Paus) ini lebih dari sekali. Sekitar abad ke-4 dan ke-5 terjadi suatu debat yang amat seru. Hampir semua uskup dari seluruh dunia berkumpul bersama di sebuah kota besar di pesisir barat Turki. Nama kota itu adalah “Efesus”. Akhirnya, pada tahun 431 para uskup itu sependapat bahwa tidak ada yang perlu diragukan lagi. Mereka membuat pernyataan resmi bahwa Santa Perawan Maria adalah Theotokos (bahasa Yunani) dan Mater Dei (bahasa Latin), keduanya berarti “Bunda Allah”.

Jadi bagaimana mungkin Bunda Maria menjadi Bunda Allah jika Allah telah ada sebelum Maria ada? Kalian dapat mengatakan bahwa Maria adalah pintu masuk bagi Tuhan untuk memasuki dimensi Ruang dan Waktu. Yesus memiliki dua sifat. Yesus sekaligus adalah Allah dan Manusia. Bunda Maria adalah Bunda dari Manusia yang adalah Allah. Sama seperti sanaknya, Elizabeth, yang adalah bunda dari orang yang menjadi Pembaptis.

Mei 18, 2009 at 9:30 pm Tinggalkan komentar

RIWAYAT SANTO SANTA (2)

Santa Brigitta:
Mengandalkan Kasih Kristus

Kehidupan seorang santa seringkali tak jauh dari kehidupan orang biasa. Ia juga mengalami hal-hal yang dialami setiap manusia lainnya. Bedanya, dalam melakukan pilihannya, ia selalu mendahulukan kehendak Allah. Perilaku inilah yang ditunjukkan St. Brigitta di masa hidupnya. Ia adalah seorang santa dari Swedia yang lahir tahun 1303 dan meninggal 23 Juli 1373. Kehidupannya adalah cermin bagi kita semua yang ingin hidup mengandalkan kasih Kristus semata-mata.

Senang Meditasi

Lahir sebagai anak orang kaya, tak membuat Brigitta mengingkari dirinya sebagai anak Tuhan. Ayahnya, Birger Persson, adalah seorang gubernur dan jaksa di provinsi Uppland. Ibunya, bernama Ingeborg Bengstdotter. Kedua orangtuanya adalah teladan hidup Brigitta dalam menjalani hidup yang suci dan penuh kerja keras. Sang ayah menggunakan setiap hari Jumat untuk melakukan penitensi atas dosa-dosanya. Salah seorang kerabat mereka, Santa Ingrid, adalah seorang suci yang meninggal dua puluh tahun sebelum kelahiran Brigitta. Tak heran jika kehidupan Brigitta sangat religius. Pada usianya yang ke-7, gadis kecil ini menunjukkan tanda-tanda kesucian dan pencerahan spiritual yang luar biasa. Sejak kecil ia senang melakukan meditasi secara khusus untuk penderitaan Kristus.

Seperti juga gadis lain pada zamannya, pada usia 13 tahun, ia dinikahkan dengan Ulf Gudmarrson, seorang bangsawan yang masih berusia 18 tahun. Sang suami yang saleh dan religius juga sangat mempengaruhi Brigitta. Maka tak heran jika satu dari delapan putra-putri pasangan yang diberkati Tuhan ini juga adalah seorang santa, yakni Santa Katarina. Bersama sang suami, Brigitta melakukan ziarah ke Santiago de Compostella. Sekembali mereka ke Swedia, Ulf dengan seizin sang istri masuk biara Cisterciensis (di Indonesia sekarang dikenal sebagai ordo para pertapa, OCSO). Di biara tersebut, ia meninggal dunia di tahun 1344.

Mendirikan Ordo

Kematian sang suami tercinta justru membuat Brigitta semakin mendalami devosinya terhadap Kristus. Penglihatan yang dialaminya sejak masih sangat kecil semakin sering dialaminya dan semakin nyata. Ia yakin bahwa Kristus sendiri yang hadir di hadapannya. Brigitta pun menuliskan rahasia yang menjadi terbuka baginya. Tentu saja penglihatan tentang penderitaan Kristus yang dialaminya menjadikannya sangat terkenal di Abad

Pertengahan, setelah tulisannya tersebut diterjemahkan dalam Bahasa Latin oleh dua teolog dari Linköping, Matthias Magister dan Prior Peter.
Praktek hidup religius dan kegemarannya melakukan meditasi mendorongnya untuk membentuk sebuah kongregasi baru, yakni Brigittines atau yang dikenal dengan Ordo Sang Penyelamat. Pada tahun 1346, Brigitta mendapatkan penghormatan secara langsung oleh Raja Swedia, Raja Magnus dan permaisurinya.
Brigitta adalah seorang religius yang sangat dalam devosinya. Untuk mendapatkan izin berdirinya kongregasinya dan juga semakin memperluas daerah misinya, Brigitta melakukan perjalanan ke Roma pada tahun 1349. Ia berada di Roma hingga meninggal dunia di tahun 1370. Di tahun yang sama Paus Urbanus V memberikan izin resmi berdirinya Ordo Brigittines.
Pada tanggal 7 Oktober 1391, Brigitta mendapatkan kanonisasi sebagai santa oleh Paus Bonivasius IX. Hidupnya yang selalu diarahkan pada Kristus, kasihnya pada sesama manusia dan dorongan yang diberikannya pada oranglain untuk hidup lebih baik, membuat Santa Brigitta patut dianugerahi sebagai ibu kaum beriman.Ia mengajarkan untuk mencintai Yesus yang tersalib. Bagi Brigitta, penderitaan dan kematian-Nya akan membuat manusia memahami cinta Tuhan pada manusia.

 

St. Basilius Agung & St. Gregorius dari Nazianze
Basilius dan Gregorius dilahirkan di Asia Kecil pada tahun 330. Sekarang daerah tersebut dikenal dengan nama Turki. Keluarga Basilius: nenek, ayah, ibu, dua saudara serta seorang saudarinya semuanya adalah orang kudus. Sedangkan orangtua Gregorius adalah St. Nonna dan St. Gregorius Tua. Basilius dan Gregorius saling bertemu dan menjadi sahabat karib di sekolah di Athena, Yunani.
Basilius kemudian menjadi seorang guru yang tersohor. Suatu hari, saudarinya yaitu St. Makrina, menyarankan agar
ia menjadi seorang biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik saudarinya, pergi ke tempat yang sunyi dan di sana mendirikan biaranya yang pertama. Regula (=peraturan biara) yang ditetapkannya bagi para biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja Timur masih menerapkannya hingga saat ini.
Keduanya, Basilius dan Gregorius, menjadi imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan berani berkhotbah menentang bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Ajaran sesat ini membingungkan banyak orang. Ketika menjadi Uskup Konstantinopel, Gregorius mempertobatkan banyak orang dengan khotbah-khotbahnya yang mengagumkan. Hal itu membuatnya hampir saja kehilangan nyawanya. Seorang pemuda berencana untuk membunuhnya. Pada saat-saat terakhir, pemuda tersebut bertobat serta memohon pengampunan dari Gregorius. St. Gregorius sungguh mengampuninya serta membawanya ke jalan yang benar dengan kelemahlembutan serta kebaikan hatinya.
Empatpuluh empat khotbah St. Gregorius, 243 suratnya, serta banyak puisinya kemudian diterbitkan. Buah penanya masih amat penting hingga saat ini. Banyak penulis mendasarkan karya-karya mereka pada buah penanya itu.
Basilius, sahabat Gregorius, seorang yang amat lembut serta murah hati. Ia selalu menyediakan waktu untuk menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong orang-orang miskin itu untuk menolong mereka yang lebih miskin dari mereka sendiri. “Berikanlah makanan terakhirmu kepada pengemis yang mengetuk pintumu,” desaknya, “dan percayalah akan belas kasihan Tuhan.” Basilius menyumbangkan segala miliknya dan membuka sebuah dapur umum. Di sana orang sering melihatnya mengenakan celemek dan melayani mereka yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379 dalam usia empatpuluh sembilan tahun. Sementara Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia enampuluh tahun. Ia dimakamkan di Basilika St. Petrus di Roma.
Kita tidak akan pernah menyesal mempergunakan pengetahuan, waktu, serta bakat-bakat kita untuk membantu orang-orang di sekitar kita semakin dekat dengan Tuhan.

St. Elizabeth Ann Seton (ternyata udah Santa, sorry kemaren dipost cuman Beata, habis bukunya udah tua ehehehehe)
“Moeder Seton” demikianlah orang mengenalnya ketika ia wafat pada tanggal 4 Januari 1821 di Emmitsburg, Maryland. Suatu perjalanan hidup yang penuh dengan kejutan telah menghantarnya untuk menyandang gelar itu.
Elizabeth dilahirkan di kota New York pada tanggal 28 Agustus 1774. Ayahnya, Richard Bayley, adalah seorang dokter yang tersohor. Ibunya, Katarina, meninggal dunia ketika ia masih amat muda. Elizabeth seorang jemaat Episcopal (Gereja Anglikan di Amerika Serikat dan Skotlandia). Semasa remajanya, ia melakukan banyak hal untuk menolong orang-orang miskin. Pada tahun 1794, Elizabeth menikah dengan William Seton. William adalah seorang saudagar kaya-raya yang memiliki suatu armada kapal laut. Elizabeth, William, beserta kelima anak mereka hidup berbahagia. Tetapi, tiba-tiba saja, William jatuh bangkrut dan sakit parah dalam waktu yang singkat. Elizabeth mendengar bahwa cuaca Italia mungkin dapat membuat keadaan suaminya lebih baik. Maka, Elizabeth, William berserta puteri tertua mereka, Anna, melakukan perjalanan ke Italia dengan kapal laut. Tetapi, William meninggal dunia tak lama kemudian. Elizabeth dan Anna untuk sementara waktu tetap tinggal di Italia sebagai tamu keluarga Filicchi. Keluarga Filicchi amat baik hati. Mereka berusaha meringankan penderitaan Elizabeth dan Anna dengan membagikan cinta mereka yang mendalam akan iman Katolik. Elizabeth pulang kembali ke New York dengan tekad bahwa ia akan menjadi seorang Katolik. Keluarga serta teman-temannya menentang Elizabeth. Mereka amat kecewa mendengar keputusannya, tetapi Elizabeth maju terus dengan berani. Ia bergabung dalam Gereja Katolik pada tanggal 4 Maret 1805.
Beberapa tahun kemudian, Elizabeth dimintai tolong untuk datang serta membuka sebuah sekolah putri di Baltimore. Di sanalah Elizabeth memutuskan untuk hidup sebagai seorang biarawati. Banyak wanita yang datang untuk bergabung dengannya, termasuk saudarinya dan juga saudari iparnya. Puteri-puterinya sendiri, Anna dan Katarina, juga bergabung pula. Mereka membentuk Suster-suster Putri Kasih Amerika dan Elizabeth diangkat sebagai pemimpin mereka dan dipanggil “Moeder Seton”. Elizabeth menjadi terkenal. Ia mendirikan banyak sekolah Katolik dan beberapa rumah yatim piatu. Ia juga merencanakan untuk mendirikan sebuah rumah sakit yang kemudian diresmikan setelah wafatnya. Elizabeth suka menulis dan ia juga menerjemahkan beberapa buku pegangan dari bahasa Perancis ke bahasa Inggris. Tetapi, Elizabeth jauh lebih dikenal oleh karena kebiasaannya mengunjungi mereka yang miskin dan sakit. Elizabeth dinyatakan kudus oleh Paus Paulus VI pada tanggal 14 September 1975.
Jika sesuatu yang telah terjadi mengubah hidup kita dari suka menjadi duka, marilah kita berpaling kepada Tuhan seperti yang dilakukan oleh Moeder Seton, serta memohon pertolongan-Nya. Tuhan membantu kita untuk melihat bagaimana saat-saat yang sulit dapat memunculkan bakat-bakat kita yang terpendam. Kemudian kita akan melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya.

St. Yohanes Neumann
Bukan saja Yohanes Neumann itu seorang yang pendiam, ia juga seorang yang pendek dengan tingginya seratus tujuhpuluh lima senti. Sinar matanya amat lembut dan ia banyak tersenyum.
Yohanes dilahirkan pada tanggal 28 Maret 1811 di Bohemia, sekarang bagian dari Republik Czech. orangtuanya adalah Filipus dan Agnes Neumann. Yohanes mempunyai empat orang saudari dan seorang saudara kandung. Setelah lulus dari sekolah, Yohanes masuk seminari. Ketika tiba satnya untuk ditahbiskan, Bapa Uskup jatuh sakit. Sesudahnya, tanggal pentahbisannya tidak pernah ditetapkan lagi karena pada saat itu Bohemia sudah memiliki banyak imam. Yohanes membaca tentang karya-karya misi di Amerika Serikat, jadi ia memutuskan untuk pergi ke Amerika agar dapat ditahbiskan. Dengan berjalan kaki ia menempuh hampir seluruh perjalanannya ke Perancis, lalu menumpang kapal yang menuju Eropa.
Yohanes tiba di Manhattan pada tanggal 9 Juni 1836. Uskup Yohanes Dubois amat gembira menyambut kedatangannya. Hanya ada tigapuluh enam imam untuk melayani dua ratus ribu umat Katolik yang tinggal di negara bagian New York dan sebagian New Jersey. Hanya enambelas hari setelah kedatangannya, Yohanes ditahbiskan sebagai imam dan diutus ke Buffalo. Di sana ia akan membantu Pastor Pax melayani parokinya yang luasnya sembilan ratus meter persegi. Pastor Pax memberinya kebebasan untuk memilih antara kota Buffalo atau daerah pedesaan. Watak Yohanes yang gagah berani mulai kelihatan. Ia memilih yang paling sulit – daerah pedesaan. Ia memutuskan untuk tinggal di sebuah kota kecil dengan sebuah gereja yang belum selesai dibangun. Ketika gereja itu selesai pembangunannya, ia pindah ke kota lain dengan gereja yang dibangun dari balok-balok kayu. Di sana ia mendirikan bagi dirinya sendiri sebuah kamar kecil berdinding kayu. Hampir tidak pernah ia menyalakan api dan seringkali hanya makan roti dan air saja. Ia juga tidur hanya beberapa jam saja setiap malam. Pertanian-pertanian di daerahnya jauh jaraknya antara yang satu dengan yang lain. Yohanes harus berjalan kaki menempuh perjalanan yang panjang agar dapat mengunjungi umatnya. Mereka adalah orang-orang Jerman, Perancis, Irlandia dan Skotlandia. Dahulu di sekolah, Yohanes telah menguasai delapan bahasa. Sekarang ia fasih berbahasa Inggris dan Gaelic pula. Sebelum wafatnya, Yohanes menguasai duabelas macam bahasa.
Yohanes bergabung dengan Kongregasi Pater-Pater Redemptoris dan melanjutkan karya misinya. Ia diangkat menjadi Uskup Philadelphia pada tahun 1852. Uskup Neumann mendirikan lima puluh gereja dan mulai membangun sebuah katedral. Ia mendirikan hampir seratus sekolah dan meningkatkan jumlah murid sekolah paroki dari 500 anak ke 9000 anak. Kesehatan Uskup Neumann tidak pernah prima, namun demikian orang tetap saja amat terkejut mendengar berita kematiannya yang tiba-tiba pada tanggal 5 Januari 1860. Ia sedang berjalan kaki pulang dari suatu pertemuan ketika ia jatuh rebah ke tanah karena stroke. Bapa Uskup segera dibawa ke sebuah rumah terdekat dan wafat di sana pada pukul tiga sore. Bulan Maret berikutnya, akan merupakan hari ulang tahun Uskup Neumann yang keempatpuluh sembilan. Yohanes Neumann dinyatakan kudus oleh Paus Paulus VI pada tanggal 19 Juni 1977.
Mungkin kita tidak sepandai, sehebat, atau seaktif yang kita harapkan. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi Tuhan untuk tetap mencintai kita dan memanggil kita untuk melakukan hal-hal yang mengagumkan. Ketika kita harus melakukan sesuatu yang sulit, kita dapat mohon bantuan doa St. Yohanes Neumann.

B. Andre Bessette
Alfred Bessette dilahirkan pada tanggal 9 Agustus 1845, tidak jauh dari Montreal, Kanada. Ia adalah anak kedelapan dari duabelas bersaudara. Ketika Alfredberusia sembilan tahun, ayahnya – seorang penebang kayu – tewas dalam suatu kecelakaan kerja. Tiga tahun kemudian, ibunya meninggal dunia karena TBC, meninggalkan keduabelas anaknya menjadi yatim piatu. Anak-anak itu kemudian harus berpisah dan ditempatkan di keluarga-keluarga yang berbeda. Alfred tinggal bersama paman serta bibinya.
Oleh karena keluarganya amat miskin dan ia sendiri sering sakit, Alfred hanya mengenyam sedikit pendidikan. Jadi selama tigabelas tahun berikutnya ia belajar berbagai macam ketrampilan seperti bercocok tanam, membuat sepatu dan menjadi tukang roti. Ia bahkan pernah bekerja di sebuah pabrik di Connecticut. Tetapi kesehatannya yang buruk selalu membuat usahanya gagal.
Ketika usianya duapuluh lima tahun, Alfred bergabung dengan Ordo Salib Suci dan memilih nama Broeder Andre. Ia melewatkan empatpuluh tahun berikutnya sebagai pemelihara kebersihan dan pesuruh biara. Tahun-tahun terakhir hidupnya dilewatkannya sebagai penjaga pintu biara. Di sanalah kuasa penyembuhan Broeder Andre mulai dikenal. Ketika orang-orang datang untuk memohon bantuan penyembuhannya, ia akan meminta mereka untuk terlebih dahulu mengucap syukur kepada Tuhan atas penderitaan mereka karena penderitaan itu amatlah berharga. Kemudian ia akan berdoa bersama mereka. Sebagian besar dari mereka disembuhkan. Broeder Andre selalu menolak pujian atau pun balas jasa atas bantuannya itu. Ia bersikeras bahwa itu semua adalah karena iman si sakit dan kuasa St. Yusuf.
Broeder Andre memiliki cinta yang amat mendalam kepada Ekaristi dan kepada St. Yusuf. Di masa mudanya, ia pernah bermimpi melihat sebuah gereja yang besar, tetapi ia tidak dapat mengatakan di mana gereja itu. Perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa Tuhan menghendaki sebuah gereja dibangun untuk menghormati St. Yusuf. Gereja tersebut hendak dibangun di puncak Gunung Royale di Montreal, Kanada. Doa-doa serta pengurbanan-pengurbanan yang dilakukan oleh Broeder Andre beserta banyak orang lainnya berhasil mewujudkan impian tersebut. Gereja yang amat indah untuk menghormati St Yusuf pada akhirnya dibangun. Gereja tersebut menjadi saksi dari iman Broeder Andre yang luar biasa. Para peziarah berdatangan ke Gunung Royale sepanjang tahun dan dari tempat-tempat yang jauh pula. Mereka semua ingin menghormati St. Yusuf. Mereka ingin menunjukkan kepercayaan mereka akan kasih sayang serta pemeliharaan St. Yusuf, seperti yang telah dilakukan oleh Broeder Andre.
Broeder Andre wafat dengan tenang dan damai pada tanggal 6 Januari 1937. Hampir satu juta orang mendaki Gunung Royale dan memenuhi Gereja St. Yusuf untuk menghadiri pemakamannya. Walaupun waktu itu hujan dan turun salju, mereka tetap saja datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada sahabat mereka yang terkasih. Broeder Andre dinyatakan “beato” pada tanggal 23 Mei 1982 oleh Paus Yohanes Paulus II.

St. Raimundus dari Penyafort
Raimundus dilahirkan antara tahun 1175 dan 1180 di sebuah kota kecil dekat Barcelona, Spanyol. Ia bersekolah di sekolah katedral di Barcelona dan menjadi seorang imam. Raimundus menyelesaikan kuliah hukum di Bologna, Italia dan menjadi seorang guru yang terkenal. Ia bergabung dengan Ordo Dominikan pada tahun 1218. Pada tahun 1230, Paus Gregorius IX meminta imam yang penuh pengabdian ini untuk datang ke Roma. Ketika Raimundus tiba, paus memberinya beberapa tugas. Salah satunya adalah mengumpulkan semua surat-surat resmi dari para paus sejak tahun 1150. Raimundus mengumpulkan serta menerbitkan 5 jilid buku. Ia juga ikut ambil bagian dalam menulis hukum Gereja.
Pada tahun 1238, Raimundus dipilih sebagai Superior Jenderal Dominikan. Dengan pengetahuannya dalam bidang hukum, ia memeriksa regula ordo dan memastikan bahwa segala sesuatunya sah secara hukum. Setelah selesai, ia mengundurkan diri dari jabatannya pada tahun 1240. Kini ia dapat sepenuhnya mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk tugas-tugas parokial. Itulah yang sesungguhnya ia inginkan.
Paus hendak menjadikan Raimundus sebagai uskup agung, tetapi Raimundus menolak. Ia mohon diijinkan kembali ke Spanyol dan memang ia kembali ke sana. Ia begitu bersukacita dapat bertugas di paroki. Cinta kasihnya membawa banyak orang kembali kepada Tuhan melalui Sakramen Tobat.
Selama tahun-tahun yang dilewatkannya di Roma, Raimundus sering mendengar tentang kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi para misionaris. Mereka berusaha keras menjangkau orang-orang non-Kristen di Afrika Utara dan Spanyol. Guna membantu para misionaris, Raimundus mendirikan sebuah sekolah yang mengajarkan bahasa serta kebudayaan orang-orang di daerah misi yang dituju. Juga, Pastor Raimundus minta seorang Dominikan terkenal, St. Thomas Aquinas, untuk menulis sebuah buku saku. Buku saku ini dimaksudkan untuk menjelaskan kebenaran iman dengan suatu cara yang dapat dimengerti oleh mereka yang belum beriman.
Raimundus berumur hingga hampir seratus tahun. Ia wafat di Barcelona pada tanggal 6 Januari tahun 1275. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1601 oleh Paus Klemens VIII. Paus yang sama memaklumkannya sebagai santo pelindung ahli hukum Gereja karena pengaruhnya yang besar dalam hukum Gereja.

St. Thorfinn
Kisah hidup St. Thorfinn diketahui lama sesudah wafatnya. Ia wafat pada tahun 1285 di sebuah biara di Belgia. Lima puluh tahun kemudian, kuburnya secara tak sengaja dibongkar karena suatu pekerjaan bangunan. Semua orang dikejutkan oleh bau harum yang kuat yang berasal dari peti matinya. Pemimpin biarabiara mulai menyelidiki hal tersebut. Ia mendapatkan seorang biarawan tua, Walter de Muda, yang mengenal Thorfinn. Sesungguhnya, Pastor Walter, yang begitu terkesan oleh kelemahlembutan dan keteguhan iman Thorfinn, telah menulis sebuah puisi tentangnya. Walter menaruh puisinya itu dalam kubur Thorfinn. Para biarawan pergi mencari puisi tersebut. Mereka menemukan perkamen yang tampak baru dan baik keadannya seperti saat diletakkan di sana.
Para biarawan merasa bahwa ini merupakan tanda bahwa Tuhan menghendaki agar Thorfinn dikenang serta dihormati. Orang mulai mohon bantuan doanya dan mukjizat-mukjizat pun terjadi. Pastor Walter diminta untuk menuliskan apa saja yang dapat diingatnya tentang Thorfinn. Ia menulis bahwa Thorfinn datang dari Norwegia. Sebagai imam, kemungkinan ia melayani di katedral. Tampaknya Thorfinn menandatangani suatu dokumen penting semasa ia bertugas di katedral. Ia juga menjadi saksi atas Perjanjian Tonsberg pada tahun 1277. Perjanjian tersebut adalah perjanjian antara Raja Magnus VI dengan uskup agung untuk membebaskan Gereja dari campur tangan negara. Tetapi, beberapa tahun kemudian, Raja Eric meyangkal perjanjian tersebut. Ia melawan uskup agung serta mereka semua yang mendukungnya. Uskup agung diusir, demikian juga Thorfinn, yang saat itu adalah Uskup Hamar, Norwegia.
Thorfinn memulai perjalanan yang berat ke Flanders. Kapalnya bahkan karam dalam perjalanan. Pada akhirnya, ia tiba dan tinggal di biara di mana akhirnya ia kemudian wafat. Ia mengunjungi Roma, tetapi kembali dalam keadaan sakit parah. Thorfinn tidak punya banyak, tetapi ia membagikan sedikit barang miliknya di antara para anggota keluarga dan kelompok amal kasih. Kemudian ia wafat pada tanggal 8 Januari tahun 1285. Umat Katolik di Hamar, Norwegia, masih menghormati St. Thorfinn dan merayakan pestanya.

St. Julianus & St. Basilissa
St. Julianus dan St. Basilissa adalah pasangan suami isteri. Mereka hidup pada awal abad keempat. Cinta akan iman mendorong mereka melakukan sesuatu yang gagah berani: mereka mengubah rumah mereka menjadi sebuah rumah sakit. Dengan demikian, mereka dapat merawat mereka yang sakit dan miskin yang membutuhkan pertolongan mereka.
St. Julianus merawat pasien pria, sementara St. Basilissa merawat pasien wanita. Pasangan tersebut menemukan Yesus dalam diri orang-orang yang mereka layani. Mereka melakukan apa yang mereka lakukan itu karena cinta, bukan karena uang ataupun maksud-maksud tertentu.
Kita tidak tahu banyak mengenai kehidupan pasangan tersebut. Namun demikian kita tahu, bahwa St. Basilissa wafat setelah mengalami penganiayaan dahsyat karena imannya. Julianus hidup lebih lama. Ia melanjutkan karya pelayanan kasihnya terhadap mereka yang sakit setelah kematian isterinya. Kelak, Julianus juga wafat sebagai martir.
Basilissa dan Julianus melewatkan seluruh hidup mereka dengan menolong sesama dan melayani Tuhan. Mereka menanam benih iman dengan hidup kudus. Mereka menyirami iman itu dan membuatnya tumbuh subur dengan darah mereka yang dicurahkan bagi Yesus yang tersalib.

St. William dari Bourges
St. William berasal dari sebuah keluarga Perancis yang kaya. Sejak masih kanak-kanak, ia tidak suka menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang atau bermalas-malasan. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa setiap hari. Ketika ia bergabung dengan Ordo Cistercian, ia berusaha menjadi seorang biarawan yang baik. Teman-teman biarawan mengaguminya, meskipun ia sendiri tidak berusaha menampilkan kesan yang baik kepada siapa pun.
St. William memiliki devosi yang mendalam kepada Yesus dalam Sakaramen Mahakudus. Ia melakukan mati raga tanpa menunjukkan betapa keras matiraganya itu. Ia selalu tampak gembira. Ketika ia dipilih sebagai pemimpin biara dalam komunitasnya, ia tetap rendah hati. Ketika Uskup Agung Bourges wafat, William dipilih untuk menggantikannya. Ia bersyukur ditahbiskan sebagai uskup, tetapi sedih karena segala perhatian yang akan diterimanya. Ia tetap rendah hati dengan melakukan silih bagi jiwanya sendiri dan bagi pertobatan orang-orang berdosa.
Walaupun William suka sendirian bersama Tuhan dalam Sakramen Mahakudus, ia tahu bahwa merupakan kewajibannya sebagai uskup agung untuk pergi berkeliling ke seluruh wilayah keuskupannya dengan senang hati. Ia merayakan Ekaristi dan mewartakan iman. Ia mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang miskin, menghibur mereka dan membawa mereka kepada Kristus. Uskup Agung William wafat pada tanggal 10 Januari tahun 1209. Ia dimakamkan di Katedral Bourges. Orang yang berdoa di makamnya mulai melaporkan terjadinya mukjizat-mukjizat. William dinyatakan kudus pada tahun 1218 oleh Paus Honorius III.

St. Margareta Bourgeoys
St. Margareta dilahirkan di Troyes, Perancis, pada tanggal 17 April tahun 1620, tetapi melewatkan sebagian besar dari delapan puluh tahun usianya di Montreal, Kanada. Margareta adalah anak keenam dari duabelas bersaudara. Orangtuanya adalah orang-orang yang saleh. Ketika Margareta berumur sembilan belas tahun, ibunya meninggal dunia. Margareta mengambil alih tugas merawat adik-adiknya. Ayahnya meninggal dunia ketika ia berumur duapuluh tujuh tahun. Adik-adiknya kini telah dewasa dan Margareta berdoa mohon bimbingan Tuhan akan apa yang harus dilakukan dalam hidupnya. Gubernur Montreal, Kanada, mengunjungi Perancis. Ia berusaha mendapatkan guru-guru untuk Dunia Baru. Ia mengajak Margareta datang ke Montreal untuk mengajar di sekolah dan di kelas-kelas agama. Margareta setuju.
Margareta memberikan bagian warisan dari orangtuanya kepada para anggota keluarga yang lain. Mereka tidak dapat percaya bahwa Margareta sungguh akan meninggalkan tanah airnya yang beradab untuk pergi ke daerah seberang laut yang masih primitif. Namun demikian, itulah yang ia lakukan. Ia berlayar pada tanggal 20 Juni 1653 dan tiba di Kanada pertengahan November. Margareta memulai pembangunan kapel pada tahun 1657. Kapel itu dipersembahkan bagi Bunda Maria Penolong yang Baik. Pada tahun 1658, ia membuka sekolahnya yang pertama. Margareta sadar akan kebutuhan untuk merekrut lebih banyak pengajar. Ia pulang ke Perancis pada tahun 1659 dan kembali bersama empat orang rekan. Pada tahun 1670, ia pulang lagi ke Perancis dan kembali dengan enam orang rekan. Wanita pemberani ini menjadi biarawati pertama dari Kongregasi Notre Dame.
Ketika terjadi bencana kelaparan, St. Margareta dan para biarawatinya membantu masyarakat di koloni tersebut agar bertahan hidup. Mereka membuka sebuah sekolah ketrampilan dan mengajarkan kepada kaum muda bagaimana mengurus rumah tangga dan pertanian. Kongregasi St. Margareta tumbuh dan berkembang. Pada tahun 1681 ada delapan belas biarawati. Tujuh di antaranya adalah gadis-gadis Kanada. Mereka membuka lebih banyak daerah misi dan dua biarawati ditugaskan mengajar di daerah misi suku Indian. St. Margareta sendiri yang menerima dua wanita Indian pertama yang bergabung dalam kongregasinya.
Pada tahun 1693, Moeder Margareta menyerahkan kongregasinya kepada penerusnya. Superior yang baru adalah Moeder Marie Barbier, gadis Kanada pertama yang bergabung dalam kongregasinya. Regula kongregasi religius St. Margareta diakui oleh gereja pada tahun 1698. Margareta melewatkan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan berdoa dan menulis otobiografi. Pada hari terakhir dalam tahun 1699, seorang biarawati muda terbaring sekarat. Moeder Margareta memohon pada Tuhan untuk mengambil nyawanya sebagai ganti nyawa sang biarawati. Pagi hari tanggal 1 Januari 1700, biarawati muda tersebut sepenuhnya sembuh dari penyakitnya. Sebaliknya, Moeder Margareta menderita demam hebat. Ia menanggung sakit selama dua belas hari lamanya dan wafat ada pada tanggal 12 Januari tahun 1700. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 2 April 1982.

St. Hilarius dari Poitiers
Pada awal abad kekristenan, masih banyak orang yang belum percaya kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa ada banyak allah-allah, yang satu lebih hebat dari yang lain. Orang-orang ini bukan orang-orang jahat; hanya saja mereka belum mengenal Tuhan; mereka masih kafir. Pada tahun 315, Hilarius dilahirkan dalam sebuah keluarga yang demikian di Poitiers, sebuah kota di Perancis. Keluarganya kaya-raya dan termasyhur. Hilarius mendapatkan pendidikan yang baik. Ia menikah dan membina rumah tangga.
Melalui belajar, Hilarius menjadi tahu bahwa seorang haruslah melatih kesabaran, kelemahlembutan, keadilan dan sebanyak mungkin kebajikan-kebajikan lain. Keutamaan-keutamaan ini akan memperoleh ganjaran kelak di kehidupan sesudah mati. Melalui belajar, Hilarius juga yakin bahwa hanya ada satu Allah yang kekal, yang mahakuasa dan mahapengasih. Ia membaca Kitab Suci untuk pertama kalinya. Ketika sampai pada bagian Musa dan semak yang terbakar, Hilarius sungguh amat terkesan dengan Nama bagaimana Tuhan menyebut Diri-Nya Sendiri: AKU ADALAH AKU. Hilarius membaca tulisan-tulisan para nabi juga. Kemudian ia membaca seluruh Perjanjian Baru. Pada saat ia selesai membaca, ia sepenuhnya telah percaya dan dibaptis.
Hilarius hidup mengamalkan imannya dengan taat dan saleh hingga ia dipilih menjadi uskup. Hal ini tidak menjadikan hidupnya bertambah nyaman, sebab kaisar suka mencampuri urusan-urusan Gereja. Ketika Hilarius menentangnya, kaisar membuang Hilarius. Di tempat pembuangannya itulah keutamaan-keutamaan Hilarius, terutama kesabaran dan keberaniannya semakin gemilang. Ia menerima pembuangannya dengan tenang dan mempergunakan waktunya untuk menulis buku-buku tentang iman. Karena ia menjadi semakin termasyhur, musuh-musuh Hilarius meminta kaisar untuk memulangkannya kembali ke kota asalnya. Di kota asalnya ia tidak akan memperoleh banyak perhatian. Maka, Hilarius dipulangkan ke Poitiers pada tahun 360. Ia tetap menulis dan mengajarkan iman kepada banyak orang. Hilarius wafat delapan tahun kemudian, dalam usia lima puluh dua tahun. Buku-bukunya memberikan pengaruh besar kepada Gereja hingga sekarang ini. Itu sebabnya mengapa ia digelari Pujangga Gereja.

“Nyatakan kepada kami makna Kitab Suci dan berikan kami pencerahan untuk memahaminya.” ~ St. Hilarius

St. Makrina
Pada tanggal 2 Januari kita merayakan pesta cucu dari santa yang pestanya kita rayakan pada hari ini. St. Basilius Agung, yang dilahirkan sekitar tahun 329, berasal dari keluarga para kudus. Makrina (biasa disebut St. Makrina Tua untuk membedakannya dari St. Makrina Muda saudari St. Basilius), ibunda dari ayahnya, adalah salah seorang yang sangat dikasihinya. Tampaknya St. Makrina yang membesarkan St. Basilius. Ketika dewasa, St. Basilius memuji neneknya atas segala hal baik yang telah dilakukan untuknya. Teristimewa, St. Basilius berterimakasih secara terbuka kepadanya oleh karena neneknya itu telah mengajarinya cinta akan iman Kristiani semenjak ia masih kecil betul.
Makrina dan suaminya harus membayar mahal kesetiaan mereka pada iman Kristiani mereka. Dalam salah satu masa penganiayaan oleh penguasa Romawi, yaitu Galerius dan Maximinus, kakek nenek Basilius terpaksa harus bersembunyi. Mereka menemukan tempat persembunyian di sebuah hutan dekat rumah mereka. Mereka berhasil lolos dari tangan para penganiaya. Mereka senantiasa diliputi rasa takut dan juga lapar, namun demikian mereka tetap tidak mau mengingkari iman mereka. Sebaliknya, dengan sabar mereka berharap dan berdoa agar penganiayaan segera berakhir. Di hutan, mereka mencari-cari apa yang dapat dimakan dan makan tumbuh-tumbuhan liar hingga berhasil selamat. Masa penganiayaan ini berlangsung hingga tujuh tahun lamanya, St. Gregorius dari Nazianze, yang pestanya dirayakan bersama-sama dengan St. Basilius pada tanggal 2 Januari, mencatat mengenai peristiwa tersebut.
Dalam masa penganiayaan yang lain, segala kekayaan dan harta milik Makrina dan suaminya disita penguasa. Tak ada yang tersisa bagi mereka kecuali iman mereka dan harapan akan kasih penyelenggaraan Tuhan bagi mereka. St. Makrina hidup lebih lama daripada suaminya, tetapi tidak diketemukan catatan tahun kematian mereka yang pasti. Menurut tradisi, St. Makrina wafat sekitar tahun 340. Cucunya, St. Basilius, wafat pada tahun 379.

St. Paulus, pertapa
Ketika St. Paulus wafat dalam usianya yang ke seratus tigabelas tahun, tentunya banyak pengalaman hidup yang telah dilaluinya. Pastilah ia merasakan sukacita dan damai luar biasa saat kematiannya. Inilah sebabnya:
Paulus dilahirkan dalam sebuah keluarga Kristen pada tahun 229. Mereka tinggal di Thebes, Mesir. Dengan cara hidup mereka, orangtuanya menunjukkan kepada Paulus bagaimana mencintai Tuhan dan sujud menyembah kepada-Nya dengan segenap hati. Tentulah Paulus merasa sangat sedih kehilangan kedua orangtuanya ketika usianya baru lima belas tahun. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 250, Kaisar Desius mulai melakukan penganiayaan yang kejam terhadap Gereja. Paulus bersembunyi di rumah seorang sahabat, tetapi ia merasa tidak aman. Kakak iparnya mengincar harta warisannya. Sewaktu-waktu dapat saja saudaranya itu mengkhianatinya serta melaporkannya kepada penguasa. Jadi, Paulus melarikan diri ke padang gurun. Ia menemukan gua dengan sebuah pohon palma dan mata air segar di dekatnya. Di sanalah ia menetap. Ia menjalin dahan-dahan palma dan dijadikannya pakaiannya. Ia makan buah-buahan dan minum air segar.
Paulus bermaksud untuk tinggal di sana hanya sementara waktu saja hingga masa penganiayaan berakhir. Namun demikian, pada saat masa tersebut sudah lewat, ia telah jatuh hati dengan hidup doa. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan. Bagaimana ia dapat melepaskannya? Paulus memutuskan untuk tinggal di padang gurun dan tidak pernah kembali lagi pada pola hidupnya yang mewah. Sebaliknya, ia akan melewatkan sepanjang hidupnya dengan berdoa bagi kepentingan semua orang dan melakukan silih bagi dosa.
Ada seorang pertapa kudus lainnya pada masa itu, namanya Antonius. Antonius beranggapan bahwa hanya ia sendirilah yang bertapa. Tuhan menunjukkan Paulus kepadanya dalam suatu mimpi dan dan menyuruh Antonius untuk pergi mengunjunginya. Paulus sangat gembira bertemu dengan Antonius, sebab ia tahu bahwa ajal akan datang menjemputnya beberapa hari lagi. Antonius merasa sedih sebab ia tidak ingin kehilangan sahabat barunya demikian cepat. Tetapi, seperti telah diramalkan sendiri olehnya, Paulus wafat pada tanggal 15 Januari tahun 342. Antonius menguburkannya dengan jubah yang dulunya adalah milik St. Atanasius. Lalu, Antonius membawa pulang serta menyimpan baik-baik baju dari dahan-dahan pohon palma yang biasa dikenakan Paulus. Tak pernah ia melupakan sahabatnya yang mengagumkan itu.
Meskipun kadang-kadang kita merasa sendirian saja dalam hasrat untuk mengikuti Yesus, namun kita dapat mengandalkan kasih pemeliharaan Tuhan atas kita. Ia akan senantiasa menjamin bahwa kita memiliki kekuatan dan dukungan yang kita butuhkan.

St. Berardus, dkk
Enam biarawan Fransiskan menerima tugas dari St. Fransiskus Asisi untuk pergi ke Maroko. Mereka diutus untuk mewartakan iman Kristiani di tengah masyarakat Muslim. Biarawan Berardus, Petrus, Adjutus, Accursio dan Odo melakukan perjalanan dengan kapal laut pada tahun 1219. Maroko terletak di ujung barat laut Afrika. Perjalanan mereka merupakan perjalanan yang panjang serta berbahaya. Kelompok biarawan tersebut tiba di Seville, Spanyol. Segera mereka mulai berkhotbah di jalan-jalan dan di taman-taman kota. Orang memperlakukan mereka seolah-olah mereka gila dan menangkap mereka. Agar tidak dipulangkan kembali ke negerinya, para biarawan mengatakan bahwa mereka ingin bertemu sultan. Jadi, gubernur Seville mengirim mereka ke Maroko.
Sultan menerima para biarawan serta memberi mereka kebebasan untuk berkhotbah di kota. Tetapi, sebagian orang tidak suka akan hal ini. Mereka melaporkannya kepada penguasa. Sultan berusaha melindungi para biarawan dengan mengirim mereka untuk tinggal di Marrakech, di pesisir barat Maroko. Seorang pangeran Kristen, yang juga sahabat sultan, Dom Pedro Fernandez, menerima mereka di rumahnya. Namun, para biarawan tersebut sadar bahwa misi mereka adalah mewartakan iman. Jadi, mereka kembali ke kota sesering mungkin. Hal ini membuat geram sebagian orang yang tidak suka mendengar pesan yang disampaikan para biarawan. Keluhan dan hasutan mereka membuat sultan murka begitu rupa hingga suatu hari, ketika melihat para biarawan itu sedang berkhotbah, ia memerintahkan para biarawan itu untuk segera berhenti atau pergi meninggalkan negeri. Karena para biarawan tidak hendak melakukan keduanya, para biarawan Fransiskan itu dipenggal kepalanya di sana saat itu juga. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 Januari 1220.
Dom Pedro datang menjemput jenasah para martir. Pada akhirnya, ia mengantarkan relikwi para biarawan ke Gereja Salib Suci di Coimbra, Portugal. Misi para biarawan Fransiskan ke Maroko sangat singkat dan tampaknya gagal. Namun demikian, hasilnya sungguh luar biasa. Kisah para martir yang gagah berani ini membakar semangat para Fransiskan pertama untuk menjadi misionaris dan wafat sebagai martir pula. Kesaksian keenam biarawan Fransiskan inilah yang mendorong seorang pemuda untuk mengabdikan hidupnya kepada Tuhan sebagai seorang imam Fransiskan. Kita mengenalnya sebagai St. Antonius dari Padua.

St. Antonius dari Mesir
St. Antonius dilahirkan pada tahun 251 di sebuah dusun kecil di Mesir. Ketika usianya duapuluh tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Mereka mewariskan kepadanya harta warisan yang besar dan menghendaki agar ia bertanggung jawab atas hidup adik perempuannya. Antonius merasakan belas kasihan Tuhan yang berlimpah atasnya dan datang kepada Tuhan dalam doa. Semakin lama semakin peka ia akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya. Sekitar enam bulan kemudian, ia mendengar kutipan Sabda Yesus dari Kitab Suci: “Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga.” (Mrk 10:21). Antonius menerima sabda tersebut sebagai sapaan pribadi Tuhan dan jawab-Nya atas doanya mohon bimbingan Tuhan. Ia menjual sebagian besar harta miliknya, menyisakan sedikit saja cukup untuk menunjang hidup adiknya dan dirinya sendiri. Kemudian ia membagi-bagikan uangnya kepada mereka yang membutuhkannya.
Saudari Antonius bergabung dengan kelompok wanita yang hidup dalam doa dan kontemplasi. Antonius memutuskan untuk hidup sebagai seorang pertapa. Ia mohon pada seorang pertapa senior untuk memberinya pelajaran hidup rohani. Antonius juga mengunjungi para pertapa lainnya agar ia dapat belajar kebajikan-kebajikan paling utama dalam diri setiap pertapa. Kemudian ia mulai hidupnya sendiri dalam doa dan tobat sendirian hanya dengan Tuhan saja.
Ketika Antonius berusia lima puluh lima tahun, ia mendirikan sebuah biara guna menolong sesama. Banyak orang mendengar tentangnya dan mohon saran serta nasehatnya. Antonius akan memberi mereka nasehat-nasehat praktis, seperti “Setan takut pada kita ketika kita berdoa dan bermatiraga. Setan juga takut ketika kita rendah hati dan lemah lembut. Terutama, setan takut pada kita ketika kita sangat mencintai Yesus. Setan lari terbirit-birit ketika kita membuat Tanda Salib.”
St. Antonius mengunjungi St. Paulus Pertapa. Ia merasa diperkaya dengan teladan hidup St. Paulus yang kudus. Antonius wafat setelah melewatkan hidup yang panjang dalam doa. Usianya mencapai seratus lima tahun. St. Atanasius menulis riwayat hidup St. Antonius dari Mesir yang sangat terkenal.

St. Fabianus & St. Sebastianus
Fabianus adalah seorang paus yang wafat sebagai martir pada tahun 250, yaitu pada masa penganiayaan oleh Kaisar Decius. Dalam catatan dikatakan bahwa Fabianus merupakan seorang yang luar biasa, seorang yang dikenal sangat kudus. Dalam sepucuk surat yang ditulis tak lama sesudah kematian Fabianus, St. Siprianus menjelaskan bagaimana Fabianus terpilih sebagai paus. Kelompok yang berkumpul untuk memilih paus menerima suatu tanda nyata bahwa pilihan harus dijatuhkan kepada Fabianus. Ia adalah orang awam pertama yang menjadi paus. Sebagai uskup dan martir, jenasah Fabianus ditempatkan di Basilika St. Sebastianus. Kedua martir ini, St. Fabianus dan St. Sebastianus, dirayakan pestanya pada hari yang sama.
Sebastianus dikenal luas sejak dari masa Gereja Perdana. Sebagai seorang perwira Romawi, ia dikenal oleh karena kebaikan hatinya dan kegagahannya. Dalam masa penganiayaan oleh Kaisar Diocletian, Sebastianus tidak mau mengingkari iman Kristianinya. Para pemanah membidikkan anak-anak panah ke tubuhnya dan meninggalkannya dalam keadaan hampir mati. Ketika seorang janda yang kudus hendak menguburkan jenasahnya, ia sangat terkejut mendapati bahwa Sebastianus masih hidup. Janda itu membawanya pulang ke rumahnya serta merawat luka-lukanya. Ketika Sebastianus telah sembuh kembali, janda itu berusaha membujuknya untuk meloloskan diri dari penganiayaan oleh bangsa Romawi. Tetapi, Sebastianus adalah seorang ksatria yang gagah berani. Ia tidak hendak melarikan diri. Ia bahkan mendatangi Kaisar Diocletian dan mendesaknya untuk segera menghentikan penganiayaan terhadap umat Kristiani.
Kaisar sangat terperanjat melihat bahwa Sebastianus masih hidup. Ia menolak mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh perwiranya itu. Diocletian memerintahkan agar Sebastianus segera didera hingga tewas. Sebastianus wafat sebagai martir pada tahun 288.

St. Vinsensius dari Saragossa
Vinsensius wafat dimartir di Spanyol pada tahun 304, yaitu tahun yang sama St. Agnes wafat dimartir di Roma. Mereka berdua merupakan korban dari penganiayaan kejam yang dilakukan oleh Kaisar Dacian.
Vinsensius dibesarkan di Saragossa, Spanyol. Ia menerima pendidikan dari Uskup St. Valerius. Bapa Uskup melantik Vinsensius sebagai diakon. Meskipun Vinsensius masih muda, St. Valerius mengenali bakat-bakatnya dan kebaikan hatinya. Uskup Valerius memintanya untuk mewartakan dan mengajarkan tentang Yesus dan Gereja.
Kaisar Dacian menangkap baik Valerius maupun Vinsensius. Ia memenjarakan mereka untuk jangka waktu yang lama. Tetapi, keduanya tidak membiarkan diri berputus asa. Mereka berdua tetap setia kepada Yesus. Kemudian, kaisar mengirim Uskup Valerius ke pembuangan, tetapi Diakon Vinsensius diperintahkannya agar disiksa dengan kejam.
Vinsensius mohon kekuatan dari Roh Kudus. Ia ingin tetap setia kepada Yesus tak peduli betapa dahsyat derita yang akan menimpanya. Tuhan mengabulkan permohonannya dengan memberikan kekuatan yang ia minta. Diakon Vinsensius tetap merasakan kedamaian selama menjalani segala macam siksaan yang dikenakan kepadanya. Ketika aniaya telah berakhir, ia dikembalikan ke penjara di mana ia mempertobatkan penjaga penjara. Pada akhirnya, kaisar menyerah dan mengijinkan orang mengunjungi Vinsensius. Umat Kristiani datang dan merawat luka-lukanya. Mereka berusaha sebaik mungkin agar Vinsensius merasa nyaman. Tak lama kemudian Vinsensius wafat.

St. Fransiskus de Sales
Fransiskus dilahirkan di kastil keluarga de Sales di Savoy, Perancis, pada tanggal 21 Agustus 1567. Keluarganya yang kaya membekalinya dengan pendidikan yang tinggi. Pada usia duapuluh empat tahun, Fransiskus telah meraih gelar Doktor Hukum. Ia kembali ke Savoy dan hidup dengan bekerja keras. Tetapi, kelihatannya Fransiskus tidak tertarik pada kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Di hatinya, Fransiskus mendengar adanya suatu panggilan yang terus-menerus datang bagaikan sebuah gema. Tampaknya seperti suatu undangan dari Tuhan baginya untuk menjadi seorang imam. Pada akhirnya, Fransiskus berusaha menceritakan perjuangan batinnya itu kepada keluarganya. Ayahnya amatlah kecewa. Ia ingin agar Fransiskus menjadi seorang yang tersohor di seluruh dunia. Dengan pengaruh kuat keluarga pastilah impiannya itu akan tercapai. Tetapi, Fransiskus bersikeras dan ditahbiskan imam pada tanggal 18 Desember 1593.
Pastor Fransiskus de Sales hidup pada saat umat Kristiani dilanda perpecahan. Ia menawarkan diri untuk pergi ke daerah yang berbahaya di Perancis untuk membawa kembali orang-orang Katolik yang telah menjadi Protestan. Ayahnya menentangnya dengan keras. Ayahnya mengatakan bahwa sudah merupakan suatu hal yang buruk baginya mengijinkan Fransiskus menjadi seorang imam. Ia tidak akan mengijinkan Fransiskus pergi dan wafat sebagai martir pula. Tetapi, Fransiskus percaya bahwa Tuhan akan melindunginya. Maka ia dan sepupunya, Pastor Louis de Sales, dengan berjalan kaki menempuh perjalanan ke daerah Chablais. Segera saja kedua imam tersebut merasakan bagaimana menderitanya hidup penuh dengan hinaan serta aniaya fisik. Hidup mereka berdua senantiasa ada dalam bahaya. Namun demikian, sedikit demi sedikit, umat kembali ke pelukan Gereja.
St. Fransiskus kemudian diangkat menjadi Uskup Geneva, Swiss. Bersama St. Yohana Fransiska de Chantal, pada tahun 1610 ia membentuk suatu ordo religius bagi para biarawati yang diberi nama Serikat Visitasi. Fransiskus menulis buku-buku yang mengagumkan mengenai kehidupan rohani dan cara untuk menjadi kudus. Buku-bukunya, Tulisan tentang Kasih Allah dan Pengantar kepada Kehidupan Saleh, masih dicetak hingga sekarang. Buku-buku tersebut digolongkan sebagai buku-buku rohani “klasik”.
Uskup de Sales wafat pada tanggal 28 Desember 1622 dalam usia limapuluh enam tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Inosensius X pada tahun 1665. Oleh karena pengabdiannya yang gagah berani bagi Gereja, ia diberi gelar istimewa “Pujangga Gereja”. St. Fransiskus dijadikan pelindung para wartawan.
“Sama seperti kasih ilahi mempercantik jiwa, hal itu disebut rahmat, yang menjadikan kita menyenangkan bagi Allah yang Mahamulia. Demikanlah rahmat tersebut memperkuat kita untuk melakukan kebajikan, hal itu disebut belas kasih.” ~ St. Fransiskus dari Sales

St. Timotius dan St. Titus
Selain menjadi orang kudus dan uskup pada masa Gereja Perdana, St. Timotius dan St. Titus memiliki sesuatu yang istimewa. Mereka berdua menerima karunia iman melalui pewartaan St. Paulus.
Timotius dilahirkan di Listra di Asia Kecil. Ibunya adalah seorang Yahudi dan ayahnya bukan. Ketika St. Paulus datang untuk mewartakan Injil di Listra, Timotius, ibu serta neneknya, semuanya menjadi pengikut Kristus. Beberapa tahun kemudian, Paulus kembali lagi ke Listra dan bertemu dengan Timotius yang sudah tumbuh dewasa. Paulus merasa bahwa Timotius dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi seorang pewarta Injil. Paulus mengajaknya bergabung dengannya untuk mewartakan Injil. Jadi demikianlah, Timotius meninggalkan rumah dan keluarganya untuk mengikuti Paulus. Segera juga ia mengalami penderitaan sama seperti yang dialami oleh Paulus. Mereka berdua merasakan sukacita yang besar dalam mewartakan Sabda Tuhan kepada banyak orang. Timotius adalah murid kesayangan rasul besar ini, sudah seperti anaknya sendiri. Timotius pergi kemana pun Paulus pergi, hingga ia menjadi Uskup Efesus. Timotius tinggal di Efesus untuk menggembalakan jemaat-Nya. Sama seperti St. Paulus, Timotius juga wafat sebagai martir.
Titus adalah seorang bukan Yahudi dan tidak percaya kepada Tuhan. Ia pun juga menjadi murid St. Paulus. Titus seorang yang murah hati dan giat bekerja. Dengan penuh sukacita ia mewartakan Kabar Gembira bersama dengan Paulus dalam perjalanan kerasulan mereka. Oleh karena Titus seorang yang dapat dipercaya, Paulus tanpa ragu mengutusnya dalam banyak “misi” kepada komunitas-komunitas Kristiani. Titus membantu umat memperteguh iman mereka kepada Yesus. Ia juga mampu memulihkan perdamaian apabila terjadi perselisihan di antara jemaat Kristiani. Titus dianugerahi karunia istimewa sebagai pembawa damai. Paulus amat menghargai karunia yang dimiliki Titus ini dan mengenalinya sebagai karya Roh Kudus. Paulus akan mengirim Titus untuk mengatasi persoalan-persoalan yang timbul. Ketika Titus ada di antara suatu kelompok jemaat Kristiani, orang-orang yang bersalah akan menyesali perbuatan mereka. Mereka akan memohon pengampunan dan berusaha memperbaiki apa yang telah mereka lakukan. Ketika damai telah tercapai, Titus akan kembali serta melaporkan hasil baiknya kepada Paulus. Hal ini mendatangkan sukacita bagi Paulus dan jemaat Kristiani yang lain. St. Paulus mengangkat Titus sebagai Uskup di pulau Kreta, di mana ia tinggal hingga akhir hayatnya.
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Timotius 4:2)

St. Angela Merici
Angela dilahirkan di sebuah kota kecil di Italia bernama Desenzano, sekitar tahun 1474. Kedua orangtuanya meninggal dunia ketika ia berusia sepuluh tahun. Ia dan satu-satunya saudari perempuan, yang tiga tahun lebih tua usianya, amat sangat saling mengasihi. Seorang paman yang kaya membawa kedua gadis tersebut masuk dalam keluarganya. Masih belum pulih kesedihannya karena kehilangan orangtuanya, Angela kembali terpukul ketika saudarinya juga meninggal dunia.
Kakak perempuannya itu bahkan meninggal sebelum seorang imam sempat memberinya sakramen terakhir. Angela amat khawatir akan keselamatan jiwa saudarinya itu. Yesus menyatakan kepadanya bahwa saudarinya telah selamat. Angela merasakan suatu perasaan damai memenuhi jiwanya. Ia mengucap syukur kepada Tuhan dalam doa. Angela ingin melakukan sesuatu untuk menyatakan rasa terima kasihnya. Keinginannya itu membuatnya berjanji untuk melewatkan seluruh sisa hidupnya dengan melayani Tuhan sehabis-habisnya.
Ketika berusia sekitar duapuluh tahun, Angela mulai memperhatikan bahwa anak-anak di kotanya sedikit sekali pengetahuannya tentang agama. Angela mengajak beberapa teman perempuan untuk bergabung dengannya memberikan pelajaran agama. Teman-teman Angela dengan penuh semangat membantunya mengajar anak-anak. Pada waktu itu belum ada biarawati dari suatu ordo religius yang memberikan pelajaran. Belum pernah ada yang berpikir tentang hal itu. St. Angela Merici adalah orang pertama yang mengumpulkan sekelompok wanita untuk membuka sekolah bagi anak-anak. Pada tanggal 25 November 1536, duapuluh delapan wanita muda mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan. Itulah yang menjadi asal mula berdirinya Ordo Santa Ursula (OSU). Angela mempercayakan kongregasinya dalam perlindungan St. Ursula. Oleh karena itulah ordo mereka diberi nama sesuai nama santa pelindung mereka. Pada mulanya, para wanita itu tetap tinggal di rumah mereka masing-masing. Oleh karena berbagai macam halangan dan kesulitan, diperlukan waktu yang cukup lama sebelum pada akhirnya mereka dapat hidup bersama dalam sebuah biara. Angela wafat pada tanggal 27 Januari 1540 pada saat kongregasinya masih dalam tahap awal berdiri. Kepercayaannya kepada Tuhan telah banyak kali menolong Angela mengatasi berbagai macam pencobaan berat yang harus ditanggungnya semasa hidupnya. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam hati Angela bahwa Tuhan akan memelihara karya yang baru saja dimulainya. Dan memang demikianlah yang terjadi.
Sekarang, suster-suster Ursulin telah tersebar di berbagai negara di seluruh dunia. Ordo mereka terus melanjutkan karyanya bagi Yesus dan Gereja-Nya, teristimewa dalam bidang pendidikan anak-anak dan remaja. Angela dinyatakan kudus oleh Paus Pius VI pada tahun 1807.

St. Thomas Aquinas
Thomas hidup pada abad ketigabelas. Ia adalah putera dari sebuah keluarga bangsawan di Italia. Thomas seorang yang amat cerdas, tetapi ia tidak pernah menyombongkan kelebihannya itu. Ia tahu bahwa pikirannya itu adalah karunia dari Tuhan. Thomas adalah seorang dari sembilan bersaudara. Orangtuanya berharap agar suatu hari kelak ia menjadi seorang pemimpin biara Benediktin. Kastil keluarganya berada di Rocca Secca, sebelah utara Monte Cassino di mana para biarawan Benediktin tinggal.
Pada usia lima tahun, Thomas dikirim ke biara tersebut untuk memperoleh pendidikan. Ketika usianya delapanbelas tahun, ia pergi ke Naples untuk melanjutkan pendidikannya. Di sana ia bertemu dengan suatu kelompok religius baru yang disebut sebagai Ordo Para Pengkhotbah. Pendiri mereka, St. Dominikus, masih hidup kala itu. Thomas tahu bahwa ia ingin menjadi seorang imam. Ia merasa bahwa ia dipanggil untuk bergabung dengan kelompok tersebut yang kelak lebih dikenal dengan sebutan “Dominikan”. Orangtuanya amat marah kepadanya. Ketika sedang dalam perjalanan ke Paris untuk belajar, saudara-saudaranya menculiknya. Mereka mengurungnya di salah satu kastil keluarga mereka selama lebih dari satu tahun. Selama masa itu, mereka melakukan segala daya upaya untuk membuat Thomas mengubah pendiriannya. Seorang saudarinya juga datang untuk membujuknya agar melupakan panggilannya. Tetapi Thomas berbicara demikian indahnya tentang sukacita melayani Tuhan, sehingga saudarinya itu mengubah pendapatnya. Saudarinya itu bahkan memutuskan untuk mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan sebagai biarawati. Setelah limabelas bulan lamanya, pada akhirnya Thomas diberi kebebasan untuk memenuhi panggilannya.
St. Thomas menulis demikian indah tentang Tuhan sehingga orang-orang dari seluruh dunia telah mempergunakan tulisan-tulisannya selama beratus-ratus tahun. Penjelasannya tentang Tuhan dan tentang iman berasal dari cintanya yang amat mendalam kepada Tuhan. Ia seorang yang apa adanya sebab ia tidak sedang berusaha untuk membangkitkan kesan kepada siapa pun. Yang ia inginkan dengan segenap hatinya adalah mempersembahkan karunia hidupnya kepada Yesus dan kepada Gereja. St. Thomas merupakan salah seorang dari Pujangga Gereja terbesar.
Sekitar akhir tahun 1273, Paus Gregorius X meminta Thomas untuk ambil bagian dalam suatu pertemuan penting Gereja yang disebut Konsili Lyon. Ketika sedang dalam perjalanannya ke sana, Thomas jatuh sakit. Ia harus menghentikan perjalanannya dan tinggal di sebuah biara di Fossanova, Italia, di mana akhirnya ia wafat. Hari itu adalah tanggal 7 Maret 1274. Usianya baru empatpuluh sembilan tahun. St. Thomas dinyatakan kudus pada tahun 1323 oleh Paus Paulus II; Paus Pius V memberinya gelar Pujangga Gereja pada tahun 1567; Paus Leo XIII memberinya gelar mahaguru dari segala doktor akademik pada tahun 1879 dan pelindung semua universitas, perguruan tinggi, dan sekolah pada tahun 1880.

St. Bathildis
Kisahnya berawal sekitar tahun 630. Seorang gadis Inggris Kristen yang ketakutan, tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi atas dirinya. Yang ia tahu hanyalah bahwa ia telah diculik dan sekarang berada dalam sebuah kapal bajak laut. Kemanakah ia akan dibawa? Kepada siapakah ia dapat bertanya? Pada akhirnya, kapal tersebut berlabuh dan ia mendengar orang-orang berbicara bahwa mereka telah berada di Perancis. Bathildis segera dijual sebagai seorang budak kepada pengurus rumah tangga istana Raja Clovis.
Kisah selanjutnya bagaikan sebuah dongeng Cinderela, kecuali bahwa kisah ini sungguh terjadi. Gadis pendiam ini memperhatikan dengan seksama sementara tugas-tugasnya dijelaskan atau ditunjukkan kepadanya. Dari hari ke hari, ia mengerjakan satu tugas ke tugas lainnya dengan sebaik-baiknya. Ia seorang gadis yang pemalu dan lemah lembut, tetapi bahkan Raja Clovis mulai memperhatikannya. Semakin diperhatikannya gadis itu, semakin raja terkesan. Gadis seperti inilah yang akan menjadi seorang istri yang mengagumkan, bahkan bagi seorang raja. Pada tahun 649, Clovis menikahi Bathildis. Gadis budak kecil itu kini menjadi seorang ratu. Raja dan ratu dikaruniai tiga orang putera. Clovis meninggal dunia ketika putera sulung mereka baru berusia lima tahun, jadi Bathildis akan memimpin Perancis hingga putera-puteranya dewasa.
Pastilah sangat mengherankan semua orang karena ternyata Bathildis dapat memerintah dengan amat bijaksana. Ia ingat betul bagaimana rasanya menjadi seorang miskin. Ia juga ingat tahun-tahun yang dilaluinya sebagai seorang budak. Ia dijual begitu saja seolah-olah ia itu “tidak ada artinya sama sekali.” Bathildis ingin agar semua orang mengetahui betapa berharganya mereka di hadapan Tuhan. Bathildis amat mencintai Yesus dan Gereja-Nya. Ia menggunakan kekuasaannya untuk membantu Gereja dalam segala cara yang mampu ia lakukan. Ia tidak menjadi sombong atau pun congkak. Sebaliknya, ia menaruh perhatian kepada para fakir miskin. Ia juga melindungi rakyatnya agar jangan sampai diculik dan diperlakukan sebagai budak. Ia memenuhi Perancis dengan rumah sakit-rumah sakit. Ia mendirikan sebuah seminari bagi pendidikan para imam dan juga sebuah biara untuk para biarawati. Kelak di kemudian hari, Ratu Bathildis sendiri juga masuk biara. Sebagai seorang biarawati, ia melepaskan segala status kerajaannya. Ia menjadi salah seorang dari para biarawati yang sederhana dan taat. Ia tidak pernah menuntut atau bahkan berharap agar orang lain melayaninya. St. Bathildis juga amat lemah lembut serta penuh perhatian kepada mereka yang sakit. Ketika ia sendiri jatuh sakit, ia harus menderita suatu penyakit yang lama serta menyakitkan hingga ia wafat pada tanggal 30 Januari 680.

 

St. Blasius
St. Blasius hidup pada abad keempat. Sebagian mengatakan bahwa ia berasal dari sebuah keluarga kaya dan menerima pendidikan Kristiani. Semasa remaja, Blasius memikirkan tentang segala permasalahan serta penderitaan yang terjadi pada masa itu. Ia mulai menyadari bahwa hanya sukacita rohani saja yang dapat membuat seseorang merasakan kebahagiaan sejati. Blasius menjadi imam dan kemudian diangkat menjadi Uskup Sebaste di Armenia yang sekarang adalah Turki. Dengan segenap hati, Blasius bekerja keras untuk menghantar umatnya menjadi kudus dan bahagia. Ia berdoa dan berkhotbah; ia berusaha menolong semua orang.
Ketika Gubernur Licinius mulai menganiaya umat Kristiani, St. Blasius ditangkap. Ia dibawa untuk dijebloskan ke dalam penjara dan dihukum penggal. Dalam perjalanan, umat berkumpul di sepanjang jalan untuk melihat uskup mereka yang terkasih untuk terakhir kalinya. Blasius memberkati mereka semuanya, bahkan juga orang-orang kafir. Seorang ibu yang malang bergegas datang kepadanya. Ia memohon Blasius agar menyelamatkan anaknya yang hampir tewas tercekik duri ikan yang tertelan di tenggorokannya. Orang kudus itu membisikkan doa dan memberkati sang anak. Mukjizat terjadi, sehingga nyawa anak itu dapat diselamatkan. Oleh karena itulah St. Blasius dimohon bantuan doanya oleh semua orang yang menderita penyakit tenggorokan.
Pada hari pestanya, tenggorokan kita diberkati. Kita mohon bantuannya untuk melindungi kita dari segala macam penyakit tenggorokan.
Dalam penjara, uskup yang kudus ini mempertobatkan banyak orang kafir. Tidak ada siksaan yang dapat membuatnya mengingkari imannya kepada Yesus. St. Blasius dihukum penggal kepalanya pada tahun 316. Sekarang ia ada bersama Yesus untuk selama-lamanya.

St. Katarina dari Ricci
Alexandria dilahirkan pada tahun 1522 dalam keluarga Ricci di Florence, Italia. Pada usia tigabelas tahun, Alexandria masuk biara Dominikan. Sebagai biarawati, ia memilih nama Katarina. Bahkan sejak masih kecil, Katarina memiliki cinta yang mendalam terhadap sengsara Yesus Kristus. Ia seringkali merenungkan sengsara Kristus. Yesus menganugerahinya hak amat istimewa untuk menerima Tanda-tanda Luka-Nya (= Stigmata) di tubuhnya. Dengan gembira Katarina menanggung segala rasa sakit yang timbul oleh karena luka-luka tersebut.
Katarina juga merasakan belas kasihan yang mendalam bagi jiwa-jiwa menderita di api penyucian. Ia memahami betapa mereka rindu untuk berada bersama Tuhan di surga. Ia memahami juga, bahwa masa tinggal di api penyucian ini seakan-akan berlangsung terus-menerus tanpa akhir. St. Katarina berdoa serta melakukan silih bagi mereka. Suatu kali Tuhan mengijinkannya mengetahui bahwa jiwa seseorang tertentu berada di api penyucian. Demikian besar kasihnya sehingga Katarina menawarkan diri untuk menggantikan penderitaan jiwa tersebut. Tuhan mendengar doanya dan Katarina mengalami penderitaan yang amat hebat empatpuluh hari lamanya. Setelah menderita sakit yang demikian lama serta menyakitkan, St. Katarina wafat pada usia enampuluh delapan tahun pada tanggal 2 Februari 1590. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1747 oleh Paus Klemens XII.

 

St. Jane Valois
St. Jane adalah puteri Raja Louis XI dari Perancis. Ia dilahirkan pada tahun 1464. Karena raja menginginkan seorang putera, ia amat kecewa ketika Jane yang lahir. Raja bahkan tidak menghendaki puteri kecilnya itu tinggal di istana karena Jane dilahirkan cacat. Ketika puteri raja baru berusia lima tahun, ia dikirim untuk tinggal bersama orang lain. Meskipun ia diperlakukan demikian oleh ayah kandungnya, Jane adalah seorang puteri yang baik hati serta lemah lembut kepada semua orang. Ia yakin betul bahwa Yesus dan Bunda Maria mengasihinya. Jane juga yakin bahwa Tuhan akan mempergunakannya sebagai alat-Nya untuk melakukan kebajikan demi nama-Nya. Dan memang betul demikian.
Ketika Jane tumbuh dewasa, ia memutuskan untuk tidak menikah. Ia telah mempersembahkan dirinya kepada Yesus dan Bunda Maria. Tetapi ayahnya tidak menghiraukan pilihan hidupnya. Ayahnya memaksa Jane untuk menikah dengan Pangeran Orleans. Jane menjadi seorang isteri yang baik selama duapuluh dua tahun. Namun demikian, sesudah suaminya menjadi raja, suaminya itu mengirim Jane untuk tinggal seorang diri di sebuah kota yang jauh. Hal tersebut tidak menjadikan ratu bersedih dan marah. Malahan, ia bersorak: “Terpujilah Tuhan! Ia telah mengijinkan hal ini terjadi agar aku dapat melayani-Nya lebih baik daripada yang telah kulakukan selama ini.”
Jane menghabiskan waktunya dalam doa. Ia melakukan matiraga dan melaksanakan tindakan belas kasihan. Ia memberikan seluruh uangnya kepada kaum miskin. Ia bahkan juga membentuk suatu ordo para biarawati yang disebut Suster-suster dari Kabar Sukacita Santa Perawan Maria. Jane menghabiskan sisa hidupnya dengan penuh sukacita dalam Yesus dan Bunda-Nya. Ia wafat pada tahun 1505. St. Jane dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1950.

St. Agatha
Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istananya. Ia menghendaki Agatha melakukan dosa melanggar kesuciannya, tetapi Agatha seorang gadis pemberani dan pantang menyerah. “Yesus Kristus, Tuhanku,” ia berdoa, “Engkau melihat hatiku dan Engkau mengetahui kerinduanku. Hanya Engkau saja yang boleh memilikiku, oleh sebab aku sepenuhnya adalah milik-Mu. Selamatkanlah aku dari orang jahat ini. Bantulah aku agar layak untuk menang atas kejahatan.”
Gubernur mencoba mengirim Agatha ke rumah seorang wanita pendosa. Mungkin saja gadis ini akan menjadi jahat pula. Tetapi Agatha menaruh kepercayaan yang besar kepada Tuhan dan berdoa sepanjang waktu. Ia menjaga kesucian dirinya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat jahat wanita dan anak-anak perempuannya itu. Setelah sebulan berlalu, Agatha dibawa kembali kepada gubernur. Sekali lagi gubernur berusaha membujuknya. “Engkau seorang wanita terhormat,” katanya dengan lembut. “Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri dengan menjadi seorang Kristen?” “Meskipun aku seorang terhormat,” jawab Agatha, “aku ini seorang hamba di hadapan Yesus Kristus.” “Jika demikian, apa sesungguhnya arti dari menjadi terhormat?” tanya gubernur. Agatha menjawab, “Artinya, melayani Tuhan.”
Ketika gubernur tahu bahwa Agatha tidak akan mau berbuat dosa, ia menjadi sangat marah. Ia menyuruh orang mencambuk serta menyiksa Agatha. Sementara ia dibawa kembali ke penjara, Agatha berbisik, “Tuhan Allah, Penciptaku, Engkau telah melindungi aku sejak masa kecilku. Engkau telah menjauhkan aku dari cinta duniawi dan memberiku ketabahan untuk menderita. Sekarang, terimalah jiwaku.” Agatha wafat sebagai martir di Catania, Sisilia, pada tahun 250.

S. Paulus Miki dan para martir Nagasaki
Keduapuluh enam martir ini kadang-kadang disebut juga para martir Nagasaki atau para martir Jepang. St. Fransiskus Xaverius mewartakan Kabar Gembira ke Jepang pada tahun 1549. Banyak orang menerima Sabda Tuhan dan dibaptis oleh St. Fransiskus sendiri. Meskipun Fransiskus kemudian melanjutkan perjalanannya dan pada akhirnya wafat dekat pantai Cina, iman Kristiani tumbuh di Jepang. Pada tahun 1587 terdapat lebih dari duaratus ribu orang Katolik di sana. Para misionaris dari berbagai ordo religius juga ada di sana. Para imam Jepang, biarawan-biarawati serta umat awam hidup dalam iman dengan penuh sukacita.
Pada tahun 1597, limapuluh lima tahun setelah kedatangan St. Fransiskus Xaverius, seorang penguasa Jepang yang amat berpengaruh, Hideyoshi, mendengar hasutan seorang pedagang Spanyol. Pedagang itu membisikkan bahwa para misionaris adalah pengkhianat bangsa Jepang. Ia menambahkan bahwa para pengkhianat itu akan mengakibatkan Jepang dikuasai oleh Spanyol dan Portugis. Hasutan itu tidak benar dan tidak masuk akal. Tetapi, Hideyoshi menanggapinya dengan berlebihan, sehingga keduapuluh enam orang itu ditangkap. Kelompok tersebut terdiri dari enam orang biarawan Fransiskan dari Spanyol, Meksiko dan India; tiga orang katekis Yesuit Jepang, termasuk St. Paulus Miki; dan tujuhbelas Katolik awam Jepang, termasuk anak-anak.
Keduapuluh enam orang itu dibawa ke tempat pelaksanaan hukuman mati di luar kota Nagasaki. Mereka diikatkan pada salib masing-masing dengan rantai dan tali dan belenggu besi dipasang disekeliling leher mereka. Masing-masing salib kemudian dikerek dan kaki salib ditancapkan ke sebuah lubang yang telah digali. Tombak ditikamkan kepada masing-masing korban. Mereka wafat pada saat yang hampir bersamaan. Pakaian-pakaian mereka yang ternoda oleh darah disimpan sebagai reliqui yang berharga oleh komunitas Kristiani dan mukjizat-mukjizat terjadi melalui bantuan doa mereka.
Setiap martir adalah suatu persembahan bagi Gereja. St. Paulus Miki, seorang katekis Yesuit, adalah seorang pengkhotbah yang ulung. Khotbah terakhirnya yang gagah berani disampaikannya dari atas salib sementara ia memberi semangat umat Kristiani lainnya agar tetap setia sampai mati. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 5 Februari 1597. St. Paulus Miki dan kawan-kawannya dinyatakan kudus pada tahun 1862 oleh Paus Gregorius XVI.

St. Koleta
Dilahirkan pada tahun 1380, bayi perempuan itu diberi nama Nikoleta untuk menghormati St. Nikolaus dari Myra. Orangtuanya yang penuh kasih sayang memanggilnya Koleta sejak ia masih bayi. Ayah Koleta adalah seorang tukang kayu di sebuah biara di Picardy. Koleta seorang gadis yang pendiam dan rajin bekerja. Ia memberikan banyak bantuan kepada ibunya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. orangtuanya memperhatikan bahwa puteri mereka senang berdoa, ia juga seorang yang peka serta penuh belas kasihan.
Ketika Koleta berusia tujuhbelas tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Gadis itu kemudian diserahkan di bawah asuhan pemimpin biara di mana ayahnya dulu bekerja. Koleta meminta dan mendapatkan sebuah gubug kecil yang dibangun di samping gereja biara. Koleta tinggal di sana. Ia menghabiskan waktunya dengan berdoa dan melakukan silih bagi Gereja Kristus. Semakin lama semakin banyak orang mengetahui perihal gadis kudus ini. Mereka datang kepadanya untuk meminta nasehatnya dalam masalah-masalah penting. Mereka tahu bahwa Koleta seorang yang bijaksana oleh sebab hidupnya dekat dengan Tuhan. Koleta menerima semua orang dengan kelemahlembutan. Di akhir kunjungan, ia akan berdoa agar para tamunya menemukan kedamaian hati.
Koleta adalah anggota Ordo Ketiga St. Fransiskus. Ia tahu bahwa ordo religius bagi para wanita yang mengikuti cara hidup St. Fransiskus adalah Ordo Santa Klara. Ordo tersebut diberi nama sesuai dengan pendiri ordo mereka, St. Klara, yang adalah pengikut St. Fransiskus. Pada masa Koleta hidup, Ordo Santa Klara perlu kembali ke tujuan awal ordo mereka. St. Fransiskus dari Asisi menampakkan diri kepada Koleta serta memintanya untuk mengadakan pembaharuan dalam Ordo St. Klara. Tentu saja Koleta amat terkejut dan takut oleh sebab tugas yang demikian berat itu. Tetapi, ia percaya akan belas kasih Tuhan. Koleta pergi mengunjungi biara-biara St. Klara. Ia membantu para biarawati Klaris untuk hidup lebih sederhana dan meluangkan lebih banyak waktu untuk berdoa. Ordo St. Klara memperoleh semangat dari cara hidup St. Koleta.
St. Koleta memiliki devosi yang mendalam kepada Yesus dalam Ekaristi. Ia juga seringkali mengadakan waktu untuk merenungkan sengsara serta wafat Kristus. Ia amat mencintai Yesus dan panggilan religiusnya.
Koleta tahu dengan pasti kapan dan di mana ia akan meninggal. Ia wafat di salah satu biaranya di Ghent, Flanders, pada tahun 1447 dalam usia enampuluh tujuh tahun. Koleta dinyatakan kudus pada tahun 1807 oleh Paus Pius VI.

 

St. Apolonia dan para martir Alexandria
Seorang perawan kudus, Apolonia, hidup di Alexandria, Mesir, pada abad ketiga. Umat Kristiani mengalami penganiayaan yang hebat di sana, dalam masa pemerintahan Kaisar Philip. Apolonia telah mempergunakan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. Sekarang, walaupun sudah tidak muda lagi, ia tidak juga hendak beristirahat. Dengan berani ia mempertaruhkan nyawanya untuk menghibur umat Kristiani yang menderita di penjara. “Ingatlah, bahwa pencobaanmu tidak akan berlangsung lama,” demikian ia akan berkata. “Tetapi sukacita surgawi akan berlangsung selama-lamanya.” Hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum akhirnya Apolonia sendiri juga ditangkap. Ketika hakim menanyakan namanya, dengan tegas Apolonia menjawab, “Saya seorang Kristen dan saya mengasihi serta melayani Tuhan yang benar.” Rakyat yang marah menyiksa Apolonia, mereka berusaha memaksanya untuk mengingkari imannya. Pertama-tama, semua giginya dihantam dan kemudian dirontokkan. Sungguh sangat aneh, itulah sebabnya mengapa orang seringkali mohon bantuan doa St Apolonia ketika mereka menderita sakit gigi. Namun demikian, siksaan yang amat menyakitkan itu tidak mampu menggoncangkan imannya. Apolonia kemudian diancam, jika ia tidak mengingkari Yesus, ia akan dicampakkan ke dalam api yang berkobar-kobar. Apolonia tidak membiarkan rasa takut menguasai dirinya. Ia lebih memilih mati dalam kobaran api daripada mengingkari imannya kepada Yesus. Ketika orang-orang kafir melihat betapa gagah beraninya Apolonia, banyak diantara mereka yang bertobat. Apolonia wafat sekitar tahun 249.

 

St. Sirilus & St. Metodius
Kedua bersaudara ini berasal dari Tesalonika, Yunani. Metodius dilahirkan pada tahun 815 dan Sirilus pada tahun 827. Keduanya menjadi imam dan memiliki keinginan kudus yang sama untuk mewartakan iman Kristiani. Mereka menjadi misionaris untuk bangsa-bangsa Slav: Moravia, Bohemia dan Bulgaria. Beginilah kisahnya: Pada tahun 862, hanya tujuh tahun sebelum St. Sirilus wafat, pangeran Moravia memohon agar para misionaris diutus ke negaranya untuk mewartakan Kabar Gembira Yesus dan Gereja-Nya. Pangeran menambahkan satu permohonan lagi, yaitu para misionaris tersebut hendaknya berbicara dalam bahasa setempat.
Kedua bersaudara, Sirilus dan Metodius, menawarkan diri untuk menjadi sukarelawan dan diterima. Mereka tahu bahwa mereka akan diminta untuk meninggalkan negeri mereka sendiri, bahasa serta kebudayaan mereka, demi cinta kepada Yesus. Mereka melakukannya dengan suka hati. Sirilus dan Metodius menciptakan abjad Slav. Mereka menerjemahkan Kitab Suci dan liturgi Gereja ke dalam bahasa Slav. Oleh karena jasa mereka, rakyat dapat menerima ajaran Kristiani dalam bahasa yang mereka mengerti.
Pada waktu itu, sebagian orang dalam Gereja tidak setuju dengan penggunaan bahasa setempat dalam liturgi Gereja. Kedua bersaudara itu harus menghadapi kritik serta kecaman. Kemudian, mereka berdua dipanggil ke Roma untuk menghadap Bapa Suci. Orang-orang yang mengecamnya pasti akan terkejut dengan jalannya pertemuan tersebut. Paus Adrianus II menunjukkan rasa kagum serta terima-kasihnya kepada kedua misionaris tersebut. Ia menyetujui cara-cara yang mereka gunakan dalam mewartakan iman dan bahkan mengangkat mereka berdua menjadi uskup. Sirilus, sang pertapa, wafat sebelum ia sempat ditahbiskan menjadi Uskup, sementara Metodius kemudian menjadi uskup. Sirilus wafat pada tanggal 14 Februari 869. Ia dimakamkan di Gereja St. Klemens di Roma. Metodius kembali ke bangsa-bangsa Slav dan melanjutkan karyanya selama lima belas tahun lagi sebelum akhirnya wafat pada tanggal 6 April 885.
Pada tanggal 31 Desember 1980, Paus Yohanes Paulus II mengangkat St. Sirilus dan St. Metodius sebagai pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.

 

St. Onesimus
Onesimus hidup pada abad pertama. Ia adalah seorang hamba yang merampok majikannya lalu melarikan diri ke Roma. Di Roma ia bertemu dengan St. Paulus yang dipenjarakan karena imannya. Paulus menerima Onesimus dengan kelembutan serta kasih sayang seorang ayah. Paulus membantu menyadarkan pemuda tersebut bahwa ia telah berbuat salah dengan mencuri. Lebih dari itu, ia membimbing Onesimus untuk percaya dan menerima iman Kristiani.
Setelah Onesimus menjadi seorang Kristen, Paulus mengirimkannya kembali kepada tuannya, Filemon, yang adalah sahabat Paulus. Tetapi, Paulus tidak mengirim hamba itu kembali seorang diri dan tak berdaya. Ia “mempersenjatai” Onesimus dengan sepucuk surat yang singkat tapi tegas. Paulus berharap agar suratnya dapat menyelesaikan semua masalah Onesimus, sahabat barunya. Kepada Filemon, Paulus menulis: “Aku mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus. Dia kusuruh kembali kepadamu. Dia, yaitu buah hatiku.”
Surat yang menyentuh tersebut dapat ditemukan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Filemon menerima surat dan nasehat Paulus. Ketika Onesimus kembali kepada tuannya, ia dibebaskan. Kemudian, Onesimus kembali kepada St. Paulus dan menjadi penolongnya yang setia.
St. Paulus mengangkat Onesimus menjadi imam dan kemudian uskup. Orang kudus yang dulunya hamba ini membaktikan seluruh sisa hidupnya untuk mewartakan Kabar Gembira yang telah mengubah hidupnya selamanya. Menurut tradisi, pada masa penganiayaan, Onesimus dibelenggu dan dibawa ke Roma lalu dirajam hingga tewas.

 

St. Petrus Damianus
St. Petrus Damianus dilahirkan pada tahun 1007 dan menjadi yatim piatu sejak masih kanak-kanak. Ia diasuh oleh seorang kakaknya yang menganiaya serta membiarkannya kelaparan. Seorang kakaknya yang lain, Damianus, mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Ia membawa Petrus pulang ke rumahnya. Sejak saat itulah hidup Petrus berubah sepenuhnya. Ia diperlakukan dengan penuh cinta, kasih sayang serta perhatian. Begitu bersyukurnya Petrus hingga kelak ketika ia menjadi seorang religius, ia memilih nama Damianus sebagai ungkapan kasih sayang kepada kakaknya. Damianus mendidik Petrus serta memberinya semangat dalam belajar. Petrus kemudian mengajar di perguruan tinggi ketika usianya baru duapuluh tahunan. Ia menjadi seorang guru yang hebat. Tetapi Tuhan membimbingnya ke jalan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Petrus hidup pada masa di mana banyak orang dalam Gereja terlalu dipengaruhi oleh tujuan-tujuan duniawi. Petrus sadar bahwa Gereja adalah ilahi dan Gereja memiliki rahmat dari Yesus Kristus untuk menyelamatkan semua orang. Ia ingin agar Gereja bersinar dengan kemuliaan Kristus. Setelah tujuh tahun lamanya mengajar, Petrus memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan berdoa serta bermati raga. Ia akan berdoa dan melakukan silih agar banyak orang dalam Gereja menjadi kudus. Demikianlah ia pergi ke biara St. Romualdus. Petrus Damianus menulis regula (=peraturan biara) bagi para biarawan. Ia juga menulis riwayat hidup St. Romualdus, pendiri biara mereka yang kudus. Petrus menghasilkan banyak karya tulis dalam bidang teologi untuk membantu umat memperdalam iman mereka. Dua kali pemimpin biara mengirimnya ke biara-biara tetangga. Ia membantu para biarawan untuk memulai pembaharuan yang mendorong mereka untuk hidup lebih dekat dengan Tuhan. Para biarawan amat bersyukur sebab Petrus adalah seorang yang lembut hati serta pantas dihormati.
Petrus pada akhirnya ditarik dari biara. Ia diangkat menjadi Uskup dan kemudian Kardinal. Ia diutus dalam tugas-tugas yang amat penting kepada paus sepanjang hidupnya. St. Petrus Damianus wafat pada tahun 1072 dalam usia enampuluh lima tahun. Oleh karena ia seorang pahlawan kebenaran dan seorang pencinta perdamaian, ia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja pada tahun 1828. Puisi Dante (yang hidup dari tahun 1265 hingga 1321) mengagumi kebesaran St. Petrus Damianus. Dalam puisinya, “Komedi Ilahi” Dante menempatkan Damianus dalam “surga ketujuh”. Itulah tempat bagi orang-orang kudus yang suka merindukan atau merenungkan Tuhan.

St. Polikarpus
Polikarpus dilahirkan antara tahun 75 hingga 80. Ia menjadi seorang Kristen ketika pengikut Kristus masih sedikit jumlahnya. Sesungguhnya, Polikarpus adalah murid dari salah seorang rasul, yaitu St. Yohanes. Apa yang telah dipelajarinya dari St. Yohanes diajarkannya kepada yang lain. Polikarpus menjadi seorang imam dan kemudian Uskup Smyrna yang sekarang adalah Turki. Ia menjadi Uskup Smyrna untuk masa yang cukup lama. Jemaat Kristiani mengenalnya sebagai seorang gembala umat yang kudus serta pemberani.
Pada masa itu, umat Kristen mengalami penganiayaan serta pembantaian dalam masa pemerintahan Kaisar Markus Aurelius. Seseorang mengkhianati Polikarpus dan melaporkannya kepada penguasa. Ketika orang-orang yang hendak menangkapnya datang, Polikarpus terlebih dulu mengundang mereka bersantap bersamanya. Kemudian ia meminta mereka untuk mengijinkannya berdoa sejenak. Hakim berusaha memaksa Uskup Polikarpus menyelamatkan diri dari maut dengan mengutuk Yesus. “Aku telah melayani Yesus seumur hidupku,” jawab orang kudus itu, “dan Ia tidak pernah mengecewakanku. Bagaimana mungkin aku mengutuk Raja-ku yang rela wafat bagiku?”
Para prajurit mengikat kedua belah tangan St. Polikarpus dibelakang punggungnya. Kemudian uskup tua itu ditempatkan diatas api unggun yang disulut hingga berkobar-kobar. Tetapi, api tidak menyakitinya sedikit pun. Salah seorang prajurit kemudian menikamkan sebilah pedang ke lambung uskup. Demikianlah, pada tahun 155, Polikarpus wafat sebagai martir. Ia pergi untuk tinggal selama-lamanya bersama Majikan Ilahi yang telah dilayaninya dengan gagah berani.

 

St. Gabriel dari Bunda Dukacita
Santo yang menarik ini dilahirkan di Asisi, Italia pada tahun 1838. Ia diberi nama Fransiskus pada saat dibaptis untuk menghormati St. Fransiskus dari Asisi. Ibunya meninggal dunia ketika Fransiskus baru berusia empat tahun. Ayahnya mendatangkan seorang pendidik untuk mengasuhnya dan saudara-saudaranya. Fransiskus tumbuh menjadi seorang pemuda yang amat tampan sekaligus menyenangkan. Seringkali ia menjadi orang yang paling menarik perhatian dalam suatu pesta. Fransiskus senang berpesta-pora, tetapi ia mempunyai sisi lain juga. Bahkan pada saat sedang bersenang-senang, ia kadang-kadang merasa bosan. Ia tidak dapat menjelaskan mengapa. Tampaknya, ia merasakan dalam hatinya adanya suatu dorongan kuat kepada Tuhan dan kepada kehidupan rohani yang lebih mendalam.
Dua kali Fransiskus sakit parah hingga hampir kehilangan nyawanya. Setiap kali ia berjanji kepada Bunda Maria bahwa jika Bunda Maria mau mengusahakan kesembuhannyakesembuhannya, ia akan menjadi seorang yang religius. Sungguh, dua kali itu ia sembuh dari penyakitnya, tetapi Fransiskus tidak menepati janjinya.
Suatu hari, Fransiskus melihat lukisan Bunda Dukacita sedang diarak dalam suatu prosesi. Tampak olehnya, Bunda Maria menatap langsung kepadanya. Pada saat yang sama, ia mendengar suatu suara dalam hatinya yang mengatakan, “Fransiskus, dunia ini bukan lagi untukmu.” Dan begitulah. Fransiskus masuk biara Passionis. Usianya delapanbelas tahun. Nama yang dipilihnya adalah Gabriel dari Bunda Dukacita.
Cinta Grabriel yang terdalam ditujukan kepada Ekaristi Kudus dan Maria, Bunda Dukacita. Ia suka menghabiskan waktu dengan merenungkan sengsara Yesus dan betapa Yesus telah banyak menderita untukya. Grabriel juga melatih diri dalam dua keutamaan dengan cara yang istimewa, yaitu kerendahan hati dan ketaatan. Yang menjadi ciri khasnya adalah sukacita. Ia selalu bergembira dan menyebarkan kegembiraan itu kepada mereka yang ada di sekitarnya. Hanya setelah empat tahun tinggal dalam biara Passionis, Gabriel wafat pada tanggal 27 Februari 1862. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1920 oleh Paus Benediktus XV.

St. Romanus dan St. Lupicinus
Kedua santo Perancis ini adalah kakak-beradik yang hidup pada abad kelima. Sebagai seorang pemuda, Romanus dikagumi semua orang oleh karena kebaikan hatinya. Ia memiliki hasrat yang kuat untuk menjadi seorang kudus. Karena ia melihat bahwa di dunia amatlah mudah orang melupakan Tuhan, maka Romanus memutuskan untuk hidup sebagai seorang pertapa. Terlebih dahulu, ia meminta nasehat dari seorang rahib yang kudus dan kemudian berangkat. Ia membawa sebuah buku bersamanya, yaitu Hidup Para Bapa dari Padang Gurun tulisan Cassian. Ia juga membawa serta benih-benih tanaman dan beberapa peralatan. Dengan perlengkapan tersebut, Romanus masuk ke dalam hutan di pegunungan Jura antara Swiss dan Perancis. Ia menemukan sebuah pohon yang amat besar dan tinggal di bawahnya. Romanus melewatkan waktunya dengan berdoa dan membaca bukunya. Ia juga menanami serta merawat kebunnya, dengan tenang menikmati alam sekitarnya. Tak lama kemudian, adiknya – Lupicinus – bergabung dengannya. Romanus dan Lupicinus amat berbeda kepribadiannya. Romanus keras terhadap dirinya sendiri. Tetapi, ia lemah lembut dan penuh pengertian terhadap orang lain. Lupicinus keras serta kasar terhadap dirinya sendiri dan biasanya demikian juga ia menghadapi orang lain. Namun demikian, maksudnya baik. Kedua bersaudara itu saling mengerti satu sama lain dan hidup rukun bersama.
Banyak orang kemudian datang untuk bergabung dengan mereka. Orang-orang itu pun juga ingin menjadi rahib, maka mereka mendirikan dua buah biara. Romanus menjadi pemimpin di biara yang satu dan Lupicinus menjadi pemimpin di biara yang lainnya. Para rahib itu hidup sederhana dan keras. Mereka banyak berdoa dan mempersembahkan kurban-kurban mereka dengan sukacita. Mereka melakukan silih untuk mempererat panggilan hidup mereka. Mereka bekerja keras menanami serta memelihara kebun mereka dan senantiasa hening sepanjang waktu. Mereka memilih untuk hidup demikian oleh sebab perhatian utama mereka adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Cara hidup mereka membantu mereka untuk mencapai tujuan rohani mereka.
St. Romanus wafat pada tahun 460. Adiknya, St. Lupicinus, wafat pada tahun 480. St. Romanus dan St. Lupicinus keduanya adalah kudus, meskipun mereka memiliki kepribadian yang berbeda.

 

 

St. Hieronimus
Hieronimus adalah seorang Kristen Romawi yang hidup pada abad keempat. Ayahnya mengajarkan agama dengan baik kepadanya, tetapi mengirim Hieronimus ke sebuah sekolah kafir yang terkenal. Di sekolah tersebut, Hieronimus mulai menyukai tulisan-tulisan kafir dan cintanya kepada Tuhan mulai luntur. Namun demikian, persahabatannya dengan sekelompok orang-orang Kristiani yang kudus, yang menjadi sahabat-sahabat dekatnya, membuatnya berbalik kembali sepenuhnya kepada Tuhan.
Kemudian, anak muda yang cerdas ini memutuskan untuk tinggal menyendiri di padang gurun. Hieronimus khawatir kalau-kalau kesenangannya akan tulisan-tulisan kafir akan menjauhkannya dari cinta Tuhan. Hieronimus melakukan laku silih yang keras dan membiarkan dirinya terbakar panas terik padang gurun. Meskipun begitu, di sana pun Hieronimus mengalami pencobaan-pencobaan yang hebat. Hiburan-hiburan tak sehat yang diselenggarakan di Roma senantiasa segar dalam bayangan serta pikirannya. Walaupun demikian, Hieronimus pantang menyerah. Ia memperberat laku silihnya serta menangisi dosa-dosanya. Ia juga belajar bahasa Ibrani dengan seorang rahib sebagai gurunya. Hal tersebut dilakukannya untuk menghindarkan diri dari pikiran-pikiran kotor yang menghantui pikirannya. Hieronimus menjadi seorang sarjana Ibrani yang hebat sehingga kelak ia dapat menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin. Oleh karena karyanya itu, banyak orang dapat membaca serta mencintai Kitab Suci.
St. Hieronimus menghabiskan berpuluh tahun hidupnya di sebuah gua kecil di Betlehem, di mana Yesus dilahirkan. Di sana ia berdoa, mempelajari Kitab Suci, serta mengajar banyak orang bagaimana melayani Tuhan. St. Hieronimus menulis banyak surat yang mengagumkan dan bahkan juga buku-buku untuk mempertahankan iman Kristiani dari serangan kaum bidaah.
Perangainya yang cepat marah dan lidahnya yang tajam membuat St. Hieronimus mempunyai banyak musuh. Namun demikian, ia seorang yang amat kudus yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Yesus dengan cara terbaik yang mampu ia lakukan. Jadi, meskipun pemarah, ia menjadi seorang kudus yang besar. St. Hieronimus wafat pada tahun 419 atau 420.

“Menjadi seorang Kristen adalah hal yang luar biasa, bukan hanya seolah-olah tampak luar biasa. Dan oleh karena satu dan lain hal, mereka yang paling menyenangkan bagi dunia adalah mereka yang paling sedikit menyenangkan Kristus …. Kekristenan dibentuk, dan bukan bakat yang diwariskan.”
St. Hieronimus

St. Nikolaus dari Tolentino
Nikolaus dilahirkan pada tahun 1245 di Ancona, Italia. Kedua orangtuanya telah lama mendambakan serta menantikan kehadiran seorang anak. Nikolaus adalah jawaban atas doa-doa mereka dan ziarah mereka ke kapel St. Nikolaus dari Bari. Pasangan tersebut amat berterima kasih atas bantuan doa St. Nikolaus hingga mereka menamakan bayi mereka seturut namanya. Ketika anak itu besar, ia mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang imam. Anak itu suka berdoa dan ingin hidup dekat Tuhan. Teman-teman keluarganya berharap agar ia menjadi imam di suatu paroki yang kaya di mana Nikolaus dapat cepat dipromosikan. Nikolaus tidak banyak bicara, tetapi diam-diam ia mencari dan berdoa. Suatu hari, ia masuk sebuah gereja. Seorang imam Agustinian yang kudus sedang menyampaikan khotbah. Katanya: “Janganlah mencintai dunia atau pun barang-barang duniawi, sebab dunia ini akan segera berlalu.” Nikolaus merenungkan kata-katanya. Ia pergi dengan kata-kata itu terngiang-ngiang di telinganya. Ia tahu bahwa Tuhan telah memakai imam tersebut untuk menyentuh hidupnya. Nikolaus menjadi yakin akan pentingnya mewartakan Sabda Tuhan. Ia memutuskan untuk mohon bergabung dalam ordo yang sama dengan imam tersebut.
Ordo itu adalah Ordo Santo Agustinus (OSA) dan imam itu adalah Pastor Reginald yang kemudian menjadi pembimbing novisnya. Biarawan Nikolaus mengucapkan kaulnya ketika usianya delapan belas tahun. Kemudian ia mulai pendidikannya untuk menjadi imam. Nikolaus ditahbiskan sekitar tahun 1270. Dengan semangat cinta kasih Pastor Nikolaus melaksanakan karya kerasulannya dengan berkotbah di berbagai paroki. Suatu hari, ketika sedang berdoa di sebuah gereja, sekonyong-konyong ia mendengar suara yang mengatakan: “Ke Tolentino, ke Tolentino. Tinggallah di sana.” Segera sesudah peristiwa itu, ia ditugaskan ke kota Tolentino. Ia melewatkan tiga puluh tahun terakhir hidupnya di sana. Pada masa itu terjadi suatu pergolakan politik yang besar di sana. Banyak orang tidak datang ke gereja untuk mendengarkan Sabda Tuhan serta beribadah kepada-Nya. Para biarawan St. Agustinus memutuskan bahwa sangat perlu diadakan khotbah di jalan-jalan. St. Nikolaus dipilih untuk ambil bagian dalam rencana ini. Dengan sukarela ia berkhotbah di tempat-tempat terbuka dan di tempat-tempat di mana banyak orang berkumpul. Orang mendengarkan khotbahnya dan banyak di antaranya yang bertobat atas dosa-dosa mereka dan atas ketidakpedulian mereka. Mereka mulai hidup lebih baik. Pastor Nikolaus melewatkan berjam-jam setiap harinya di daerah-daerah kumuh Tolentino. Ia mengunjungi mereka yang kesepian. Ia memberikan sakramen kepada mereka yang sakit dan menjelang ajal. Ia memberikan perhatian terhadap kebutuhan anak-anak dan ia mengunjungi orang-orang di penjara. Banyak mukjizat dilaporkan terjadi ketika St. Nikolaus masih hidup. Ia menjamah seorang anak yang sakit sambil berkata, “Semoga Allah yang baik menyembuhkanmu,” dan anak itu pun sembuh.
St. Nikolaus dari Tolentino menderita sakit selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya wafat pada tanggal 10 September 1305. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Eugenius IV pada tahun 1446.

St. Yohanes Krisostomus
St. Yohanes Krisostomus dilahirkan di Antiokhia sekitar tahun 344. Ayahnya meninggal ketika ia masih bayi. Ibunya memilih untuk tidak menikah lagi. Ia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk membesarkan putra dan putrinya. Ibunya banyak berkorban agar Yohanes kelak dapat menjadi salah seorang guru yang terbaik. Yohanes seorang anak yang amat cerdas dan kelak pasti dapat menjadi seorang yang hebat. Jika Yohanes bercerita, semua orang senang mendengarkannya. Sesungguhnya, namanya, Krisostomus berarti “Bermulut emas.” Namun demikian, Yohanes ingin memberikan dirinya seutuhnya kepada Tuhan. Ia menjadi seorang imam dan di kemudian hari diangkat menjadi uskup kota besar Konstantinopel.
St. Yohanes adalah seorang uskup yang mengagumkan. Meskipun ia selalu sakit, ia melakukan begitu banyak karya yang mengagumkan. Ia berkhotbah satu atau dua kali sehari, memberi makan fakir miskin serta memberikan perhatian kepada yatim piatu. Ia memperbaiki kebiasaan umat berbuat dosa serta menghentikan pertunjukan-pertunjukkan yang tidak layak dipertontonkan. Ia mengasihi semua orang, namun demikian ia tidak takut untuk menegur mereka, bahkan ratu sekalipun, apabila mereka berbuat salah.
Karena memerangi dosa, St. Yohanes mempunyai banyak musuh – bahkan ratu sendiri. Ratu mengusirnya dari Konstantinopel. Dalam perjalanan, St Yohanes menderita demam yang hebat, kekurangan makan serta kurang istirahat. Meskipun begitu, ia berbahagia dapat menderita bagi Yesus. Sesaat sebelum kematiannya, ia berseru, “Kemuliaan kepada Allah!”
St. Yohanes wafat di Turki pada tanggal 14 September 407. Hujan es dan angin ribut yang dahsyat menyerang Konstantinopel pada saat ia meninggal. Empat hari kemudian, ratu yang jahat itu pun meninggal juga. Puteranya menghormati jenasah St. Yohanes dan menunjukkan betapa ia menyesal atas apa yang telah diperbuat ibunya.

St. Kornelius & St. Siprianus
S. Kornelius Pada pertengahan abad ketiga, Gereja masih mengalami penganiayaan. Penganiayaan yang kejam dalam masa pemerintahan Kaisar Decius telah merenggut nyawa Paus St. Fabianus. Gereja tidak memiliki paus selama hampir satu tahun lamanya. Seorang imam kudus dari Roma, Kornelius, dipilih menjadi Bapa Suci pada tahun 251. Kornelius menerima tugas tersebut, oleh sebab ia sangat mencintai Kristus. Ia rela melayani Gereja sebagai seorang paus, meskipun pelayanannya itu membahayakan jiwanya. Karena itulah Paus Kornelius amat
S. Siprianus
dikagumi di seluruh dunia. Teristimewa para Uskup Afrika secara terang-terangan menyatakan cinta dan kesetiaan mereka kepada paus. Uskup Siprianus dari Kartago mengirimkan kepada bapa suci surat-surat yang membangkitkan semangat serta menyatakan dukungan.
Siprianus dibaptis sebagai pengikut Kristus pada usia empat puluh lima tahun. Ia mengherankan umat Kristiani di Kartago dengan mengucapkan kaul kemurnian sesaat sebelum dibaptis. Beberapa waktu kemudian, Siprianus ditahbiskan sebagai imam dan pada tahun 249 sebagai uskup. Penuh semangat Uskup Siprianus membesarkan hati Paus Kornelius dengan mengingatkannya bahwa selama masa penganiayaan yang sedang berlangsung di Roma itu, tidak ada seorang umat Kristiani pun yang mengingkari imannya. Tulisan-tulisan St. Siprianus menjelaskan tentang kasih yang harus dimiliki umat Kristiani bagi persatuan Gereja. Kasih ini haruslah juga diperuntukkan bagi paus, para uskup serta para imam, baik di keuskupan-keuskupan maupun di paroki-paroki. Siprianus juga menulis sebuah thesis tentang persatuan Gereja. Topik yang diangkatnya itu tetap menjadi topik penting di sepanjang masa, termasuk masa sekarang.
Paus St. Kornelius wafat dalam pengasingan di pelabuhan Roma pada bulan September tahun 253. Oleh sebab ia harus menanggung penderitaan yang luar biasa sebagai seorang paus, maka ia dinyatakan sebagai martir. St. Siprianus wafat lima tahun kemudian dalam masa penganiayaan Valerianus. Ia dipenggal kepalanya di Kartago pada tanggal 14 September 258. Pesta kedua orang kudus ini dirayakan bersama-sama untuk mengingatkan kita akan pentingnya persatuan Gereja. Persatuan Gereja adalah tanda kehadiran Yesus yang adalah Kepala Gereja.

St. Robertus Bellarmino
Robertus dilahirkan di Italia pada tahun 1542. Ketika masih kanak-kanak, ia tidak tertarik untuk bermain. Ia lebih suka menghabiskan waktunya mengulangi khotbah-khotbah yang ia dengar kepada adik-adiknya. Ia juga suka menjelaskan pelajaran-pelajaran katekese kepada anak-anak petani di lingkungan sekitarnya. Sesudah menerima Komuni Pertama, ia biasa menerima Yesus setiap hari Minggu.
Ayah Robertus berharap agar puteranya kelak menjadi seorang yang terkenal. Karena itu, ia menghendaki agar Robertus mempelajari macam-macam bidang studi, termasuk kesenian juga. Setiap kali dalam suatu lagu terdapat kata-kata yang kurang sedap di dengar, maka Robertus akan segera menggantinya dengan kata-kata yang lebih tepat yang dipilihnya sendiri.
Merupakan kerinduannya yang terdalam untuk menjadi seorang imam Yesuit, namun ayahnya mempunyai rencana masa depan yang berbeda untuknya. Selama setahun penuh Robertus berusaha keras untuk membujuk ayahnya. Akhirnya, ketika usianya delapan belas tahun, ia diijinkan juga untuk bergabung dengan Serikat Yesus (SJ). Sebagai biarawan muda Yesuit, Robertus berhasil amat baik dalam pelajarannya. Ia diutus untuk menyampaikan khotbah, bahkan sebelum ia ditabhiskan menjadi seorang imam. Ketika seorang wanita saleh untuk pertama kalinya melihat seorang pemuda yang masih belia, bahkan belum ditahbiskan menjadi imam, naik ke mimbar untuk menyampaikan khotbah, wanita itu berlutut dan berdoa. Ia mohon pada Tuhan untuk membantu anak muda itu agar jangan gemetar dan berhenti di tengah khotbahnya. Ketika Robertus selesai menyampaikan khotbahnya, wanita itu tetap berlutut. Tetapi, kali ini, ia mengucapkan syukur kepada Tuhan atas khotbah yang begitu indah.
St. Robertus Bellarmino menjadi seorang penulis, pengkhotbah dan juga pengajar yang ulung. Ia menulis tiga puluh satu buah buku penting. Ia menghabiskan tiga jam setiap harinya dalam doa. Ia mempunyai pengetahuan mendalam atas hal-hal sakral. Bahkan ketika telah diangkat sebagai kardinal, Robertus selalu beranggapan bahwa katekese demikian penting, hingga ia sendiri yang mengajarkannya kepada umatnya.
Kardinal Bellarmino wafat pada tanggal 17 September 1621. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1930 oleh Paus Pius XI. Pada tahun 1931, paus yang sama memaklumkan St. Robertus Bellarmino sebagai Pujangga Gereja.

“Jika kamu bijaksana, maka kamu tahu bahwa kamu telah diciptakan demi kemuliaan Tuhan dan demi keselamatan kekalmu sendiri. Inilah tujuanmu, inilah pusat hidupmu, inilah harta pusaka hatimu.” ~ St. Robertus Bellarmino

St. Yosef dari Kupertino
Yosef dilahirkan pada tanggal 17 Juni 1603 di sebuah desa kecil di Italia. Ia berasal dari keluarga miskin. Semasa kanak-kanak dan remaja, hidupnya tidak bahagia. Ibunya menganggap Yosef menyusahkannya saja serta memperlakukannya dengan buruk.
Yosef tumbuh menjadi seorang remaja yang amat lamban serta pelupa. Ia sering mengeluyur tanpa arah tujuan. Tetapi ia seorang pemarah juga, jadi ia tidak begitu disenangi. Yosef belajar ketrampilan membuat sepatu, tetapi gagal. Ia minta ijin untuk bergabung menjadi seorang biarawan Fransiskan, tetapi mereka tidak mau menerimanya. Kemudian, Yosef bergabung dengan Ordo Kapusin, tetapi delapan bulan kemudian ia dianjurkan untuk meninggalkan tempat itu. Tampaknya Yosef tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan benar. Ia kerap menjatuhkan tumpukan piring-piring dan terus-menerus lupa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Ibunya sama sekali tidak senang menerima Yosef, yang saat itu berumur delapan belas tahun, pulang kembali ke rumah. Pada akhirnya, ibunya berhasil mencarikan pekerjaan baginya sebagai pesuruh di biara Fransiskan. Yosef diberi jubah Fransiskan untuk dikenakan dan diserahi tugas untuk merawat kuda-kuda.
Pada waktu itu Yosef mulai berubah. Ia menjadi lebih lembut serta rendah hati. Ia lebih berhati-hati dan berhasil dalam pekerjaannya. Ia juga mulai melakukan silih. Pemimpin biara memutuskan bahwa Yosef dapat diterima menjadi anggota Ordo Fransiskan dan dapat segera mulai belajar untuk menjadi seorang imam. Meskipun Yosef seorang pekerja yang tekun, ia mengalami masalah dalam hal belajar. Tetapi Yosef percaya akan pertolongan Tuhan dan akhirnya ditahbiskan juga menjadi seorang imam. Tuhan mulai mengadakan mukjizat-mukjizat melalui Pastor Yosef. Lebih dari tujuh puluh kali orang melihatnya terangkat dari tanah ketika ia sedang mempersembahkan Misa atau sedang berdoa. Ia akan tergantung di langit-langit biara bagaikan bintang di atas puncak pohon Natal. Seringkali ia mengalami ekstasi (=kerasukan Roh Kudus) dan sepenuhnya larut dalam pembicaraan dengan Tuhan. Ia menjadi seorang yang amat kudus. Segala sesuatu yang ia lihat membuatnya berpikir tentang Tuhan.
Yosef dilahirkan pada tanggal 17 Juni 1603 di sebuah desa kecil di Italia. Ia berasal dari keluarga miskin. Semasa kanak-kanak dan remaja, hidupnya tidak bahagia. Ibunya menganggap Yosef menyusahkannya saja serta memperlakukannya dengan buruk.
Yosef tumbuh menjadi seorang remaja yang amat lamban serta pelupa. Ia sering mengeluyur tanpa arah tujuan. Tetapi ia seorang pemarah juga, jadi ia tidak begitu disenangi. Yosef belajar ketrampilan membuat sepatu, tetapi gagal. Ia minta ijin untuk bergabung menjadi seorang biarawan Fransiskan, tetapi mereka tidak mau menerimanya. Kemudian, Yosef bergabung dengan Ordo Kapusin, tetapi delapan bulan kemudian ia dianjurkan untuk meninggalkan tempat itu. Tampaknya Yosef tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan benar. Ia kerap menjatuhkan tumpukan piring-piring dan terus-menerus lupa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Ibunya sama sekali tidak senang menerima Yosef, yang saat itu berumur delapan belas tahun, pulang kembali ke rumah. Pada akhirnya, ibunya berhasil mencarikan pekerjaan baginya sebagai pesuruh di biara Fransiskan. Yosef diberi jubah Fransiskan untuk dikenakan dan diserahi tugas untuk merawat kuda-kuda.
Pada waktu itu Yosef mulai berubah. Ia menjadi lebih lembut serta rendah hati. Ia lebih berhati-hati dan berhasil dalam pekerjaannya. Ia juga mulai melakukan silih. Pemimpin biara memutuskan bahwa Yosef dapat diterima menjadi anggota Ordo Fransiskan dan dapat segera mulai belajar untuk menjadi seorang imam. Meskipun Yosef seorang pekerja yang tekun, ia mengalami masalah dalam hal belajar. Tetapi Yosef percaya akan pertolongan Tuhan dan akhirnya ditahbiskan juga menjadi seorang imam. Tuhan mulai mengadakan mukjizat-mukjizat melalui Pastor Yosef. Lebih dari tujuh puluh kali orang melihatnya terangkat dari tanah ketika ia sedang mempersembahkan Misa atau sedang berdoa. Ia akan tergantung di langit-langit biara bagaikan bintang di atas puncak pohon Natal. Seringkali ia mengalami ekstasi (=kerasukan Roh Kudus) dan sepenuhnya larut dalam pembicaraan dengan Tuhan. Ia menjadi seorang yang amat kudus. Segala sesuatu yang ia lihat membuatnya berpikir tentang Tuhan.
Pastor Yosef menjadi demikian terkenal karena mukjizat-mukjizat yang dilakukannya sehingga ia harus disembunyikan. Hal ini membuatnya merasa berbahagia karena memberinya kesempatan untuk sendiri bersama Kristus yang amat dikasihinya. Yesus tidak pernah meninggalkannya sendiri dan suatu hari Ia datang untuk membawanya serta ke surga. St. Yosef wafat pada tahun 1663 dalam usia enam puluh tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Klemens XIII pada tahun 1767.

St. Andreas Kim Taegon & St. Paulus Chong Hasang
St. Andreas Kim Taegon St. Andreas Kim Taegon adalah seorang imam dan St. Paulus Chong Hasang adalah seorang awam. Kedua martir ini mewakili 113 umat Katolik yang wafat sebagai martir karena iman mereka di Korea. Mereka dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada saat paus mengunjungi Korea pada tahun 1984.
Ajaran Kristen menyebar ke Korea pada abad ketujuhbelas melalui pewartaan kaum awam. Umat yang percaya memilihara iman mereka dengan Sabda Tuhan. Mereka bertumbuh serta berkembang secara diam-diam.
St. Paulus Chong Hasang
Kemudian imam-imam misionaris datang dari Perancis. Umat Korea diperkenalkan kepada Sakramen Gereja. Mereka mengalami penganiayaan dari pemerintah yang pasang surut sepanjang abad kesembilanbelas. Seratus tiga umat Korea wafat sebagai martir antara tahun 1839 hingga tahun 1867. Sepuluh orang anggota Serikat Misi Asing dari Paris juga wafat sebagai martir, yaitu tiga orang uskup beserta tujuh orang imam. Sehingga jumlah mereka seluruhnya yang wafat sebagai martir adalah 113 orang.
St. Andreas Kim Taegon dan St. Paulus Chong Hasang mewakili kemuliaan serta keberanian umat Katolik Korea yang telah membayar mahal cinta mereka kepada Kristus. St. Andreas Kim Taegon adalah imam pertama Korea. Ia wafat sebagai martir pada tanggal 16 September 1846, hanya satu tahun setelah ditahbiskan. Ayah St. Andreas Kim telah mendahuluinya menjadi martir pada tahun 1821. St. Paulus Chong Hasang adalah seorang katekis awam yang pemberani. Ia wafat sebagai martir pada tanggal 22 September 1846. Sekarang Gereja berkembang pesat di Korea. Karunia iman diterima karena kurban persembahan para martir telah menjadi pembuka jalan.

“Kita telah menerima Sakramen Baptis, masuk dalam pelukan Gereja, serta menerima kehormatan disebut sebagai umat Kristiani. Tetapi, apa gunanya semua itu jika kita hanya Kristen dalam nama dan tidak dalam kenyataan?”
St. Andreas Kim

St. Matius
Matius adalah seorang pemungut cukai di kota Kapernaum, kota di mana Yesus tinggal. Matius seorang Yahudi, tetapi ia bekerja untuk kepentingan bangsa Romawi yang menjajah bangsa Yahudi. Oleh sebab itu, orang-orang sebangsanya tidak menyukai Matius. Mereka tidak mau berhubungan dengan “orang-orang berdosa” seperti Matius si pemungut cukai.

Namun, Yesus tidak berpikir demikian terhadap Matius. Suatu hari, Yesus melihat Matius duduk di rumah cukai dan Ia berkata, “Ikutlah Aku.” Seketika itu juga Matius meninggalkan uang serta jabatannya untuk mengikuti Yesus. Yesus kelihatan demikian kudus dan bagaikan seorang raja. Matius mengadakan suatu perjamuan besar bagi-Nya. Ia mengundang teman-teman lain yang seperti dirinya untuk bertemu dengan Yesus serta mendengarkan pengajaran-Nya. Sebagian orang Yahudi menyalahkan Yesus karena makan bersama dengan oang-orang yang mereka anggap orang berdosa. Tetapi, Yesus sudah siap dengan suatu jawaban. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Ketika Yesus kembali ke surga, St. Matius tinggal di Palestina. Ia tetap tinggal di sana beberapa waktu lamanya untuk mewartakan Kristus. Kita mengenal Injil Matius, yang adalah kisah Yesus serta ajaran-ajaran-Nya. St. Matius mewartakan Yesus kepada kaum sebangsanya. Kristus adalah Mesias yang dinubuatkan para nabi akan datang untuk menyelamatkan kita. Setelah mewartakan Injil kepada banyak orang, hidup St. Matius berakhir sebagai seorang martir iman yang jaya.

St. Tekla
Tekla adalah seorang gadis bangsawan kafir yang cantik yang hidup pada abad pertama. Ia berasal dari kota Ikonium di Turki. Tekla telah membaca banyak buku filsafat, namun tak ada satu pun yang dapat memuaskan keingintahuannya tentang Pencipta-nya. Doa Tekla untuk mengenal Allah yang satu dan benar terjawab ketika St. Paulus rasul datang untuk mewartakan Injil Yesus di Ikonium. Dari St. Paulus, Tekla juga mengetahui bahwa seorang wanita dapat menjadi pengantin Kristus apabila ia memilih untuk tidak menikah. Saat itu, Tekla tidak menginginkan yang lain selain dari mempersembahkan dirinya seutuhnya kepada Tuhan.
Orangtua Tekla yang kafir melakukan segala daya upaya agar ia meninggalkan iman Kristiani-nya, tetapi ia tetap teguh. Tunangannya, Thamyris, memohon kepadanya untuk tidak membatalkan pertunangan mereka. Tetapi, tekad Tekla sudah bulat. Ia ingin menjadi pengantin Kristus. Pada akhirnya, karena amat marah, Thamyris mengadukan Tekla ke pengadilan. Tekla tidak juga mau mengingkari cintanya kepada Yesus, karenanya ia dijatuhi hukuman dengan dibakar sampai mati. Gadis cantik tersebut dengan berani menyongsong maut. Namun, dikisahkan bahwa segera setelah api dinyalakan, datanglah badai dari surga untuk memadamkannya. Kemudian Tekla dijatuhi hukuman mati dengan dijadikam mangsa singa-singa yang kelaparan. Namun demikian, sekali lagi Tuhan menyelamatkan nyawa Tekla. Bukannya menerkamnya, binatang-binatang buas itu malahan mendekatinya dengan jinak, berbaring di sisinya, lalu menjilati kaki Tekla, bagaikan anak kucing saja. Pada akhirnya, karena ketakutan, hakim membebaskan Tekla. Tekla mengasingkan diri ke sebuah gua di mana ia tinggal seumur hidupnya. Ia berdoa serta mewartakan Tuhan Yesus kepada orang-orang yang datang mengunjunginya.

St. Kosmas & St. Damianus
Kedua martir yang kita rayakan pestanya pada hari ini adalah sepasang saudara kembar dari Siria yang hidup pada abad keempat. Mereka berdua merupakan siswa-siswa yang sangat terkenal dalam bidang ilmu pengetahuan dan keduanya menjadi dokter yang hebat. Kosmas dan Damianus memandang setiap pasien sebagai saudara dan saudari dalam Kristus. Karena itu, mereka memberikan perhatian besar kepada mereka semua dan melakukan yang terbaik dengan segenap kemampuan mereka. Betapa pun banyaknya perhatian yang harus mereka curahkan terhadap seorang pasien, baik Kosmas maupun Damianus, tidak pernah menerima uang sebagai imbalan atas pelayanan mereka. Sebab itu, mereka diberi nama julukan dalam bahasa Yunani artinya “tanpa uang sepeser pun”.
Setiap ada kesempatan, kedua orang kudus ini akan bercerita kepada para pasiennya tentang Yesus Kristus, Putra Allah. Orang banyak menyukai kedua dokter kembar ini, karenanya dengan senang hati mereka mendengarkan. Kosmas dan Damianus seringkali memulihkan kesehatan, baik jiwa maupun raga, para pasien yang datang mohon bantuan mereka.
Ketika penganiayaan oleh Kaisar Diocletian terhadap umat Kristiani dimulai di kota mereka, kedua dokter ini segera ditangkap. Tak pernah sekali pun mereka berusaha menyembunyikan cinta mereka yang begitu besar terhadap iman Kristiani mereka. Mereka disiksa dan dianiaya, tetapi tak ada yang dapat memaksa mereka untuk mengingkari iman mereka kepada Kristus. Mereka hidup bagi Dia dan menarik begitu banyak orang kepada cinta-Nya. Jadi, pada akhirnya, mereka berdua dijatuhi hukuman mati pada tahun 303.

St. Vinsensius de Paul
Vinsensius, putera seorang petani Perancis yang miskin, dilahirkan pada tahun 1581. Kelak, ketika dewasa dan menjadi terkenal, ia suka sekali bercerita bagaimana ia merawat babi-babi peliharaan ayahnya. Karena ia seorang anak yang cerdas, ayahnya mengirim Vinsensius untuk bersekolah. Setelah menamatkan sekolahnya, Vinsensius menjadi seorang imam.
Awalnya, Vinsesius diberi jabatan penting sebagai guru anak-anak orang kaya, dan ia hidup dengan cukup nyaman. Hingga suatu hari, ia dipanggil untuk memberikan sakramen terakhir kepada seorang petani miskin yang sedang menghadapi ajal. Di hadapan banyak orang, petani tersebut menyatakan betapa buruknya pengakuan-pengakuan dosa yang ia buat di masa silam. Sekonyong-konyong Pastor Vinsensius sadar akan mendesaknya kebutuhan kaum miskin papa Perancis akan pertolongan rohani. Ketika ia mulai berkhotbah kepada mereka, orang berduyun-duyun datang untuk mengaku dosa. Pada akhirnya Pastor Vinsensius memutuskan untuk membentuk suatu kongregasi imam yang secara khusus bekerja di antara pada fakir miskin (dikenal dengan nama Kongregasi Misi atau Lazaris).
Tindakan belas kasih St. Vinsensius de Paul demikianlah banyak sehingga rasanya tidaklah mungkin bagi seseorang untuk melakukan segala hal yang telah ia lakukan. Ia memberikan perhatian kepada para narapidana yang bekerja pada kapal-kapal pelayaran. Ia bersama dengan St. Louise de Marillac mendirikan Kongregasi Suster-suster Putri Kasih, PK. Ia mendirikan rumah-rumah sakit serta wisma-wisma bagi anak-anak yatim piatu serta orang-orang lanjut usia. Ia mengumpulkan sejumlah besar uang untuk disumbangkan ke daerah-daerah miskin, mengirimkan para misionaris ke berbagai negara, serta membeli kembali para tawanan dari kaum Mohammedans. Meskipun ia demikian murah hati, namun demikian, dengan rendah hati ia mengakui bahwa sifat dasarnya tidaklah demikian. “Jika bukan karena kasih karunia Tuhan, aku ini seorang yang keras, kasar serta mudah marah,” katanya. Vinsensius de Paul wafat di Paris pada tanggal 27 September 1660. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1737 oleh Paus Klemens XII.

“Tidaklah cukup bagiku untuk mengasihi Tuhan jika aku tidak mengasihi sesamaku …Aku ini milik Tuhan dan milik kaum miskin.” St. Vinsensius de Paul

St. Mikhael, Gabriel & Rafael (Malaekat Agung)Mikhael, Gabriel dan Rafael disebut “santo” karena mereka kudus. Namun demikian, mereka berbeda dari para kudus lainnya karena mereka bukanlah manusia. Mereka adalah malaikat, mereka melindungi manusia. Kita dapat mengetahui sedikit tentang masing-masing dari mereka dari Kitab Suci.

Nama Mikhael artinya “Siapa dapat menyamai Tuhan?” Tiga kitab dalam Kitab Suci bercerita tentang St. Mikhael, yaitu: Daniel, Wahyu dan Surat Yudas. Dalam Kitab Wahyu bab 12:7-9, kita membaca tentang suatu pertempuran besar yang terjadi di surga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan Satan. Mikhael menjadi pemenang karena setia kepada Tuhan. Kita dapat mohon bantuan St. Mikhael untuk menjadikan kita teguh dalam kasih kepada Yesus dan dalam mempraktekan iman Katolik kita.

Nama Gabriel berarti “Tuhan kemenanganku”. Ia juga disebutkan dalam kitab Daniel. Gabriel kita kenal dengan baik karena ia termasuk salah satu tokoh penting dalam Injil Lukas. Malaikat Agung ini menyampaikan kepada Maria bahwa ia akan menjadi Bunda Juruselamat kita. Gabriel menyampaikan kepada Zakharia bahwa ia dan Elisabet akan dikarunia seorang putera yang akan dinamai Yohanes. Gabriel adalah pembawa warta, utusan Tuhan untuk menyampaikan Kabar Sukacita. Kita dapat mohon bantuan St. Gabriel untuk menjadikan kita pembawa warta, seorang utusan Tuhan seperti dirinya.

Nama Rafael artinya “Tuhan menyembuhkan”. Kita membaca kisah yang menyentuh tentang tugas Rafael dalam kitab Tobit dalam Kitab Suci. Ia memberikan perlindungan serta penyembuhan bagi mata Tobit yang buta. Pada akhir perjalanan, ketika segala sesuatunya telah berakhir, Rafael menyatakan jati dirinya yang sebenarnya. Ia menyebut dirinya sebagai salah satu dari ketujuh malaikat yang melayani di hadapan tahta Allah. Kita dapat mohon bantuan St Rafael untuk melindungi kita dalam perjalanan, bahkan dalam perjalanan yang amat dekat sekali pun, seperti misalnya pergi ke sekolah. Kita juga dapat mohon pertolongannya ketika kita atau seseorang yang kita kasihi diserang penyakit.

 

 

4 September St. Rosa dari Viterbo

Rosa dilahirkan pada tahun 1235 di Viterbo, Italia. Ia hidup pada masa Kaisar Frederick merebut tanah milik Gereja. Misi khusus Rosa adalah menjadikan penduduk kotanya serta penduduk kota-kota sekitarnya tetap setia kepada Bapa Suci. Dan tugas ini ia lakukan ketika ia masih seorang remaja.

Rosa baru berusia delapan tahun ketika Santa Perawan Maria mengatakan kepadanya ketika ia sedang sakit, untuk mengenakan jubah St. Fansiskus. Bunda Maria juga mengatakan kepada Rosa untuk memberikan teladan yang baik kepada sesama dengan kata-kata maupun dengan perbuatannya. Perlahan-lahan kesehatan Roda pulih kembali. Ia mulai merenungkan dan semakin merenungkan betapa Yesus telah menderita bagi kita dan betapa para pendosa telah menyakiti-Nya. Ia berdoa serta melakukan silih untuk menyatakan kepada Yesus betapa ia mengasihi-Nya.

Kemudia, gadis pemberani ini mulai berkhotbah di jalan-jalan kota. Ia mengatakan kepada orang banyak untuk bangkit melawan kaisar yang telah merampas kekayaan gereja. Banyak orang mendengarkan khotbahnya sehingga ayah Rosa menjadi ketakutan. Ia mengancam Rosa bahwa ia akan mencambukinya jika ia tidak berhenti berkhotbah. Rosa, yang saat itu berusia tigabelas tahun, menjawab dengan lembut, “Jika Yesus rela dicambuki demi aku, aku juga rela dicambuki demi Dia. Aku melakukan apa yang Yesus perintahkan kepadaku dan aku tidak mau tidak taat kepada-Nya.”

Dua tahun lamanya Rosa berkhotbah dengan berhasil sehingga musuh-musuh paus menghendaki agar ia dibunuh saja. Pada akhirnya, penguasa mengusir Rosa beserta orangtuanya ke luar kota. Tetapi Rosa mengatakan bahwa kaisar akan segera mangkat, dan memang terjadi demikian. Setelah kembali ke Viterbo, Rosa tidak diijinkan untuk menjadi biarawati, jadi ia pulang ke rumahnya. Di sana ia wafat pada tahun 1252 ketika usianya baru tujuhbelas tahun. Jenasahnya yang masih utuh hingga kini disemayamkan di Viterbo.

“Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” ~ 1 Timotius 4:12

5 September St. Laurensius Giustiniani

Laurensius dilahirkan di Venice, Italia, pada tahun 1381. Ibunya kadang-kadang berpikir bahwa puteranya berkhayal terlalu tinggi. Laurensius selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin menjadi seorang kudus, seorang santo. Ketika usianya sembilanbelas tahun, Laurensius merasa bahwa ia harus melayani Tuhan dengan suatu cara yang istimewa. Ia meminta nasehat kepada pamannya, seorang imam yang kudus dari komunitas St. George. “Apakah kamu memiliki keberanian untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan melewatkan hidupmu dengan melakukan silih?” tanya pamannya. Cukup lama Laurensius tidak menjawab. Kemudian ia menatap salib dan berkata, “Engkau, oh Tuhan, adalah harapanku. Dalam Salib ada ketenteraman serta kekuatan.”

Ibunya menginginkannya untuk menikah, tetapi Laurensius bergabung dengan komunitas St. George. Tugas pertamanya adalah pergi ke kampung-kampung di kotanya untuk meminta derma bagi ordonya. Laurensius tidak malu pergi meminta-minta. Ia tahu bahwa derma uang ataupun barang akan berguna bagi karya Tuhan. Ia bahkan pergi ke depan rumahnya sendiri dan meminta derma. Ibunya berusaha mengisi kantongnya dengan banyak makanan agar Laurensius dapat segera pulang ke biaranya. Tetapi Laurensius hanya menerima dua potong roti dan pergi ke rumah sebelah untuk meminta derma lagi. Dengan demikian, ia belajar bagaimana mempraktekan penyangkalan diri dan semakin bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.

Suatu hari seorang teman datang membujuk Laurensius untuk meninggalkan biaranya. Laurensius menjelaskan kepada temannya itu betapa singkatnya hidup dan betapa bijaksananya untuk melewatkan hidup demi surga. Temannya amat terkesan dan terdorong untuk menjadi seorang religius juga.

Di kemudian hari Laurensius diangkat menjadi Uskup, meskipun ia sendiri kurang senang akan hal itu. Umatnya segera mengetahui betapa lembut hati dan kudusnya Uskup mereka. Orang berbondong-bondong datang kepadanya setiap hari untuk memohon pertolongannya. Menjelang ajalnya, St. Laurensius menolak berbaring di tempat tidur yang nyaman. “Tidak boleh demikian!” serunya dengan rendah hati. “Tuhanku terentang di kayu yang keras serta menyakitkan.” St. Laurensius Giustiniani wafat pada tahun 1455.

Bagaimana kehidupan imanku mendorongku untuk menjadi seorang pemberani?

8 September Kelahiran Santa Perawan Maria

Tidak biasanya kita merayakan hari kelahiran para kudus. Sebaliknya kita merayakan hari mereka wafat, karena pada hari itulah mereka dilahirkan ke dalam sukacita surgawi. Namun, hari kelahiran Maria, Bunda Kita, merupakan suatu pengecualian. Kita merayakan hari kelahirannya karena ia datang ke dunia dalam keadaan penuh rahmat dan karena ia akan menjadi Bunda Yesus.

Kelahiran Bunda Maria bagaikan fajar. Ketika pada waktu pagi cakrawala mulai berwarna merah, kita tahu bahwa matahari akan segera terbit. Demikian juga ketika Maria dilahirkan, ia membawa sukacita yang besar bagi dunia. Kelahirannya berarti bahwa Yesus, Matahari Keadilan, akan segera datang. Maria adalah manusia mengagumkan yang memperoleh hak istimewa untuk membawa Yesus kepada segenap umat manusia.

Jika kita mengasihi Maria, berarti kita mengasihi Yesus. Siapapun yang memiliki devosi yang amat kuat kepada Maria, ia amat dekat di hati Yesus.

Pada hari ini, kita merayakan serta mewartakan dengan sukacita kepada seluruh dunia kelahiran Santa Perawan Maria. Kita selalu dapat datang kepada Maria untuk memohon pertolongannya. Ia amat dekat di hati Yesus. Ujud khusus apakah yang akan aku minta kepada Bunda Maria pada hari ini?

St. Petrus Claver
Imam Spanyol dari Serikat Yesus ini dilahirkan pada tahun 1580. Ia dikenal sebagai “rasul para budak.” Ketika ia masih seorang seminaris di Serikat Yesus, ia merasakan suatu dorongan yang amat kuat untuk pergi ke Amerika Selatan sebagai seorang misionaris. Ia menjadi sukarelawan dan diutus ke pelabuhan Cartagena (Kolumbia). Di sana berdatangan banyak sekali kapal penuh dengan muatan para budak belian yang didatangkan dari Afrika untuk dijual.
Melihat himpunan orang-orang malang itu yang berjubel, sakit serta menderita, hati Petrus tergerak oleh belas kasihan. Ia bertekad untuk menolong mereka serta mewartakan Kabar Sukacita kepada mereka. Begitu sebuah kapal muatan tiba, Petrus akan segera pergi menyongsongnya dan menjumpai ratusan budak yang sakit. Ia memberi mereka makanan serta obat-obatan. Ia membaptis mereka yang sekarat serta membaptis bayi-bayi. Ia merawat yang sakit. Sungguh suatu kerja keras sementara panas menyengat. Seorang yang pernah satu kali menemani St. Petrus melakukan karyanya tidak tahan menyaksikan pemandangan yang memilukan itu. Tetapi Petrus melakukannya selama empat puluh tahun. Ia membaptis sekitar tiga ratus ribu orang. Ia selalu berada di sana ketika kapal-kapalm itu datang. Ia mencurahkan perhatian serta kasih sayangnya kepada mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh masyarakat.
Meskipun majikan para budak itu berusaha mencegahnya, Pastor Claver tetap saja mengajarkan iman kepada para budak belian itu. Suatu pekerjaan yang lamban serta mengecilkan hati. Banyak orang mencelanya dengan mengatakan bahwa segala yang ia lakukan itu hanya sia-sia belaka. Menurut mereka, para budak itu tidak akan pernah memiliki iman. Tetapi St. Petrus seorang yang amat sabar dan ia percaya bahwa Tuhan memberkati para budak tersebut. Ia malahan juga pergi mengunjungi para budak itu setelah mereka meninggalkan Cartagena. Pastor Claver tidak pernah lelah mendesak majikan para budak itu untuk memperhatikan jiwa-jiwa para budak mereka sementara mereka sendiri perlu menjadi umat Kristiani yang lebih baik.
Empat tahun terakhir dalam hidupnya, Pastor Claver menderita sakit yang demikian hebat hingga ia harus tinggal terus dalam kamarnya. Ia bahkan tidak dapat merayakan Misa. Sebagian besar orang telah melupakannya, tetapi Pastor Claver tidak pernah mengeluh. Kemudian, tiba-tiba saja , pada saat wafatnya pada tanggal 8 September 1654, sekonyong-konyong seluruh kota terjaga. Mereka segera sadar bahwa mereka telah kehilangan seorang kudus. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi dilupakan. St. Petrus Claver dinyatakan kudus pada tahun 1888 oleh Paus Leo XIII.

 

B. Charles yang Baik
Pangeran Charles dari Flanders, dijuluki “yang Baik” oleh rakyat dalam kerajaannya. Mereka menyebutnya demikian karena mereka melihat memang demikianlah ia adanya. Charles adalah putera St. Canute, raja Denmark. Ia baru berusia lima tahun ketika ayahnya dibunuh pada tahun 1086. Ketika dewasa, Charles menikah dengan seorang wanita muda yang baik hati bernama Margareta. Charles seorang penguasa yang lembut serta adil. Rakyat percaya kepadanya dan kepada kebijaksanaannya. Charles berusaha untuk menjadi teladan dari apa yang diharapkannya dari rakyatnya.
Sebagian kaum bangsawan menuduh Charles tidak adil dengan memihak kaum miskin dan mengalahkan kepentingan kaum kaya. Charles menjawab dengan bijaksana, “Itu adalah karena aku sungguh menyadari kebutuhan-kebutuhan kaum miskin dan ketidakpedulian kaum kaya.” Kaum miskin dalam kerajaannya mendapatkan makanan setiap hari dari istananya.
Charles memerintahkan untuk menanam bahan makanan dengan berlimpah agar rakyat dapat makan kenyang dengan harga yang pantas. Beberapa pedagang kaya mencoba menimbun panenan agar dapat menjualnya dengan harga yang amat mahal. Charles yang Baik mendengar tentang hal itu serta memaksa mereka untuk segera menjualnya dengan harga yang pantas. Seorang ayah yang berpengaruh beserta anak-anaknya juga telah ditegur oleh Charles karena siasat licik mereka. Maka mereka kemudian bergabung dengan sekelompok kecil musuh yang ingin membunuh Charles.
Pangeran berjalan telanjang kaki setiap pagi untuk menghadiri Misa dan tiba lebih awal di gereja St. Donatian. Ia melakukannya dalam semangat silih. Ia rindu untuk memperdalam kehidupan rohaninya bersama Tuhan. Para musuhnya tahu bahwa ia pergi ke gereja dan tahu juga bahwa ia biasa berdoa sendirian sebelum Misa. Banyak orang yang mengasihi Charles mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Mereka memperingatkannya bahwa perjalanannya ke St. Donation dapat menyebabkannya celaka. Charles menjawab, “Kita senantiasa berada di tengah-tengah bahaya, tetapi kita ini milik Tuhan.” Suatu pagi, sementara ia berdoa sendirian di depan patung Bunda Maria, para penyerangnya membunuh dia. Charles wafat sebagai martir pada tahun 1127.

B. Katharina Drexel
Beata Katharina dilahirkan di Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat pada tanggal 26 November 1858. Ibunya meninggal dunia ketika ia masih bayi. Ayahnya menikah dengan seorang wanita mengagumkan bernama Emma. Emma merawat anak kandungnya sendiri, Louise. Ia juga merawat dengan kasih sayang kedua gadis kecil anak-anak Bapak Drexel dari perkawinannya terdahulu. Gadis-gadis kecil itu adalah Elizabet dan Katharina. Mereka menikmati masa kecil yang indah. Meskipun keluarga mereka kaya, mereka diajar untuk mengasihi sesama. Mereka diajar untuk terutama memberikan perhatian kepada mereka yang miskin. Dengan cara demikian mereka dapat menyatakan cinta mereka kepada Tuhan.
Ketika Katharina tumbuh dewasa, ia menjadi gadis Katolik yang aktif. Ia murah hati dengan waktu, tenaga serta uangnya. Ia sadar bahwa Gereja mempunyai banyak kebutuhan. Ia memberikan tenaga serta hartanya kepada mereka yang miskin, mereka yang terlupakan. Karya kasihnya bagi Yesus dilakukannya di antara orang-orang Afrika Amerika dan pribumi Amerika. Pada tahun 1891, Katharina membentuk suatu komunitas misionaris religius yang disebut Suster-suster dari Sakramen Mahakudus. Sejak itu Katharina dikenal sebagai Moeder Katharina.
Para biarawati dalam ordonya memusatkan hidup mereka pada Yesus dalam Ekaristi. Mereka membaktikan diri, dengan segala cinta serta bakat-bakat mereka, bagi orang-orang Afrika dan pribumi Amerika. Moeder Katharina memperoleh bagian warisan keluarganya. Ia mempergunakan harta yang diperolehnya itu bagi kepentingan karya cinta kasih yang mengagumkan. Ia beserta para biarawatinya membuka sekolah-sekolah, biara-biara serta gereja-gereja misionaris. Pada tahun 1925, mereka mendirikan Universitas Xaverius di New Orleans. Sepanjang hidupnya yang panjang, yang menghasilkan buah-buah melimpah, Moeder Katharina menghabiskan jutaan dollar harta keluarga Drexel bagi karya-karya menakjubkan yang ia serta para biarawatinya lakukan bagi mereka yang miskin. Ia percaya bahwa ia menemukan Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi. Demikian juga, ia menemukan Yesus sungguh hadir dalam orang-orang Afrika dan pribumi Amerika yang dilayaninya dengan penuh kasih.
Moeder Katharina wafat pada tanggal 3 Maret 1955, pada usia sembilanpuluh tujuh tahun. Ia dinyatakan sebagai `beata’ oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 20 November 1988

St. Kasimirus
St. Kasimirus dilahirkan pada tahun 1458, sebagai putera Kasimirus IV, raja Polandia. Kasimirus adalah seorang dari tigabelas bersaudara. Dengan bantuan ibunya yang saleh dan pengabdian gurunya, Kasimir memperoleh pendidikan yang sangat baik.
Ketika usianya tigabelas tahun, Kasimirus mendapat kesempatan untuk menjadi raja di negara tetangga, Hungaria, tetapi ia menolak. Ia menghabiskan sisa hidupnya dengan berusaha mengamalkan nilai-nilai Kristiani. Ia berusaha selalu penuh sukacita dan bersahabat dengan semua orang. Di tengah-tengah kesibukannya, Kasimirus melakukan usaha untuk membantu dirinya sendiri bertumbuh secara rohani. Ia sering kali berpuasa dan tidur di lantai kamarnya sebagai silih. Ia berdoa setiap hari, kadang-kadang bahkan pada waktu tengah malam. Ia suka merenungkan dan berdoa tentang sengsara Yesus. Ia tahu bahwa hal itu adalah cara yang baik untuk memahami kasih Tuhan. Kasimirus juga mengasihi Santa Perawan Maria dengan cinta yang istimewa. Untuk menghormatinya, seringkali ia mendaraskan puji-pujian yang indah. Nama puji-pujian tersebut ialah “Setiap hari, Setiap hari, Bernyanyilah bagi Maria.” Tulisan tangannya mengenai puji-pujian tersebut kelak dikuburkan bersamanya.
Kesehatan Kasimirus tidak pernah prima, namun demikian ia seorang yang pemberani serta kuat pendiriannya. Ia senantiasa melakukan apa yang ia anggap benar. Kadang-kadang ia bahkan memberikan nasehat kepada ayahnya, sang raja, agar memerintah rakyatnya dengan adil. Ia selalu melakukan hal ini dengan rasa hormat yang besar kepada ayahnya sehingga ayahnya mau mendengarkan nasehatnya.
St. Kasimirus amat mencintai serta menghormati kemurnian. Orangtuanya mendapatkan seorang gadis yang cantik serta saleh untuk dinikahkan dengannya. Tetapi, Kasimirus lebih memilih untuk mempersembahkan hatinya kepada Tuhan saja. Ketika sedang berada di Lithuania untuk suatu tugas kenegaraan, Kasimirus terserang penyakit tuberculosis. Ia wafat dalam usia duapuluh enam tahun. Kasimirus dinyatakan kudus oleh Paus Leo X pada tahun 1521.

St. Yohanes Yosef dari Salib
St. Yohanes Yosef dari Salib dilahirkan di Italia selatan pada tahun 1654, pada Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke Surga. Ia seorang pemuda bangsawan, tetapi berpakaian seperti layaknya seorang miskin. Ia melakukan hal tersebut sebab ia ingin menjadi miskin sama seperti Yesus.
Pada usia enambelas tahun, Yohanes Yosef bergabung dengan Ordo Fransiskan. Ia sungguh rindu untuk hidup penuh pengorbanan seperti Yesus. Oleh karenanya, dengan senang hati ia melakukan banyak mati raga. Ia tidur hanya tiga jam saja setiap malam dan menyantap makanan yang sangat sederhana.
Yohanes kemudian ditahbiskan sebagai imam. Pastor Yohanes Yosef diangkat menjadi superior di Santa Lusia di Naples di mana ia menghabiskan sebagian besar masa hidupnya yang panjang. Ia selalu mendesak untuk melakukan pekerjaan yang paling berat. Dengan sukacita ia memilih untuk melakukan tugas-tugas yang tidak dikehendaki oleh yang lain.
St. Yohanes Yosef mempunyai pembawaan yang penuh belas kasih. Namun demikian, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, bukannya menunggu orang lain datang untuk meminta pertolongannya, ia akan terlebih dahulu datang kepada mereka. Semua imam dan frater menganggapnya sebagai seorang imam yang penuh belas kasih. Yohanes juga amat mengasihi Bunda Maria dan berusaha membantu orang-orang lain untuk mengasihi Maria.
Imam yang kudus ini demikian mengasihi Tuhan hingga meskipun ia sedang sakit, ia akan terus bekerja. St. Yohanes Yosef wafat pada tanggal 6 Maret 1734 dalam usia delapanpuluh tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius VIII pada tahun 1839.

St. Perpetua dan St. Felisitas
Perpetua dan Felisitas hidup di Kartago, Afrika Utara, pada abad ketiga. Pada masa itu terjadi penganiayaan yang hebat atas orang-orang Kristen oleh Kaisar Septimus Severus.
Perpetua yang berusia duapuluh dua tahun adalah puteri seorang bangsawan kaya. Semenjak kecilnya ia selalu mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Tetapi ia sadar bahwa ia mengasihi Yesus dan iman Kristianinya jauh lebih berharga dari apa pun yang dapat ditawarkan oleh dunia. Oleh karena imannya itulah ia menjadi seorang tahanan yang siap menghadapi hukuman mati.
Ayah Perpetua adalah seorang kafir. Ia melakukan segala daya upaya untuk membujuk puterinya agar mengingkari iman Kristianinya. Ia berusaha meyakinkan Perpetua akan betapa pentingnya menyelamatkan nyawanya. Tetapi, Perpetua tetap pada pendiriannya, meskipun ia tahu bahwa ia harus meninggalkan suami serta bayinya.
Felisitas, pelayan Perpetua yang Kristen, adalah seorang budak. Ia dan Perpetua bersahabat. Mereka saling berbagi iman dan cinta akan Yesus. Felisitas juga rela kehilangan nyawanya bagi Yesus dan bagi imannya. Oleh sebab itu ia juga menjadi seorang tahanan yang siap menghadapi hukuman mati.
Felisitas adalah seorang isteri. Ketika sedang di penjara karena imannya, ia juga menjadi seorang ibu muda pula. Bayinya diangkat anak oleh seorang wanita Kristen yang baik. Felisitas amat bahagia karena sekarang ia dapat pergi sebagai martir.
Bergandengan tangan, Perpetua dan Felisitas menghadapi kemartiran mereka dengan gagah berani. Mereka dijadikan mangsa binatang-binatang buas dan kemudian dipenggal kepalanya. Mereka berdua wafat sekitar tahun 202.

St. Yohanes a Deo
St. Yohanes dilahirkan di Portugal pada tanggal 8 Maret 1495. Orangtuanya miskin, tetapi mereka adalah orang Kristen yang taat.
Yohanes seorang pemuda yang tidak bisa tenang. Sebentar ia menjadi seorang gembala, sebentar menjadi tentara, dan kemudian menjadi penjaga toko. Ketika dewasa, ia bukanlah seorang yang religius. Ia dan teman-temannya tidak menyadari kehadiran Tuhan. Ketika usianya empatpuluh tahun, Yohanes mulai merasa hampa. Ia merasa sedih akan hidupnya yang telah ia sia-siakan. Di gereja, ia mendengarkan suatu khotbah yang disampaikan oleh seorang misionaris yang kudus, Yohanes dari Avila. Misionaris tersebut memberikan pengaruh yang kuat kepadanya. Yohanes mulai menangis meraung-raung. Hari-hari selanjutnya, St. Yohanes dari Avila membantu Yohanes untuk memulai hidupnya kembali dengan harapan dan keberanian.
Yohanes mengubah hidupnya secara drastis. Ia berdoa serta melakukan mati raga setiap hari. Dikatakan bahwa seorang uskup memberinya nama a Deo (= dari Tuhan) karena ia secara total mengubah hidupnya yang dahulu hanya mementingkan diri sendiri dan kini sepenuhnya menjadi manusia baru yang “dari Tuhan”. Perlahan-lahan Yohanes a Deo menyadari betapa hidup rakyat penuh dengan kemiskinan serta penderitaan. Ia mulai mempergunakan waktunya untuk merawat mereka yang sakit di rumah-rumah sakit dan di tempat-tempat penampungan. Kemudian ia menjadi sadar akan betapa banyaknya orang-orang yang terlalu miskin untuk dapat memperoleh perawatan di rumah sakit. Siapakah yang mau merawat mereka? Yohanes bertekad, demi cintanya kepada Tuhan, ia mau melakukannya.
Ketika usianya empatpuluh lima tahun, Yohanes mendapatkan sebuah rumah untuk merawat para fakir miskin yang sakit. Rumah itu kemudian menjadi sebuah rumah sakit kecil di mana setiap orang yang membutuhkan pertolongan akan diterima dengan baik. Orang-orang yang datang untuk membantu Yohanes mulai membentuk suatu ordo religius untuk mengabdikan diri bagi mereka yang miskin. Ordo mereka disebut Para Broeder St. Yohanes a Deo.
Sebagian orang tentulah bertanya-tanya apakah Yohanes sungguh kudus seperti anggapan orang. Suatu ketika, seorang bangsawan menyamar sebagai seorang pengemis. Ia mengetuk pintu Yohanes untuk meminta-minta. Yohanes dengan suka hati memberikan semua yang ia miliki, yang jumlahnya hanya beberapa dolar saja. Bangsawan tersebut tidak membuka rahasianya saat itu, melainkan segera pergi dengan kesan mendalam. Keesokan harinya, seorang pesuruh tiba di depan pintu Yohanes dengan sepucuk surat penjelasan beserta uang dermanya yang dikembalikan. Di samping itu, sang bangsawan menyertakan 150 keping uang emas. Ia juga mengirimkan roti, daging serta telur yang dikirimkan setiap pagi ke rumah sakit cukup untuk memberi makan segenap pasien dan para pekerja rumah sakit.
Setelah sepuluh tahun bekerja keras bagi rumah sakitnya, St. Yohanes sendiri akhirnya jatuh sakit. Ia wafat pada hari ulang tahunnya pada tahun 1550. Yohanes a Deo dinyatakan kudus oleh Beato Paus Inosensius XI pada tahun 1690.

St. Fina (Seraphina)
Fina dilahirkan di sebuah kota kecil di Italia bernama San Geminiano. Pada mulanya, orangtuanya termasuk golongan berada, tetapi kemudian mereka jatuh miskin. Seraphina, atau Fina, begitu ia biasa dipanggil, adalah puteri mereka. Fina seorang gadis manis yang lincah. Ia seorang yang murah hati. Setiap hari Fina menyisihkan sebagian makanannya untuk diberikan kepada seseorang di kotanya yang lebih miskin darinya. Siang hari ia menjahit serta memintal untuk membantu keluarganya membayar hutang-hutang mereka. Malam hari, ia biasa mempergunakan waktunya untuk berdoa lama kepada Yesus dan Maria.
Ketika masih muda usianya, ayahnya meninggal dunia. Fina terserang suatu penyakit yang menjadikannya cacat serta lumpuh. Ia hampir tidak dapat bergerak sama sekali dan karenanya Fina harus tergolek di atas papan kayu selama enam tahun lamanya. Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Satu-satunya cara bagi Fina agar ia dapat tabah menghadapi penderitaannya adalah dengan merenungkan sengsara Yesus sementara Ia dipaku pada kayu salib. “Aku mempersatukan seluruh penderitaanku dengan penderitaan-Mu, ya Yesus,” demikian ia berbisik. Kadang kala, ketika rasa sakit menyerangnya dengan dahsyat, ia akan berkata, “Ini bukanlah luka-lukaku, tetapi luka-luka-Mu, ya Kristus, yang menyakiti aku.” Fina ditinggalkan seorang diri berjam-jam lamanya setiap hari karena ibunya harus pergi untuk bekerja atau untuk meminta-minta. Para tetangga mengetahui penderitaan Fina, tetapi luka-lukanya mengeluarkan bau amat busuk sehingga mereka memiliki berbagai macam alasan untuk tidak menjenguknya.
Tak disangka, ibunya pun meninggal dunia. Sekarang Fina sebatang kara. Hanya seorang tetangga, yaitu sahabat baiknya yang bernama Beldia, datang untuk merawatnya. Beldia berusaha memberikan perhatian kepada Fina sebanyak yang ia mampu, tetapi pada umumnya Fina ditinggalkan seorang diri. Sudah jelas nyata bahwa ia tidak akan dapat hidup lebih lama lagi. Namun demikian, Fina tidak mau patah semangat. Seseorang menceritakan kepadanya tentang penderitaan hebat yang harus ditanggung oleh St. Gregorius Agung. Fina kemudian berdevosi kepadanya. Konon, suatu hari, sementara ia mengerang kesakitan, St. Gregorius menampakkan diri kepadanya. Dengan lembut ia berkata kepada Fina, “Puteriku, pada hari pestaku Tuhan akan memberimu istirahat.” Menurut penanggalan liturgi lama, pesta St. Gregorius Agung dirayakan pada tanggal 12 Maret karena ia wafat pada tanggal tersebut pada tahun 604. Jadi, pada tanggal 12 Maret 1253, St. Gregorius datang untuk membawa Fina pulang ke surga.

St. Eufrasia
St. Eufrasia dilahirkan pada abad kelima dalam keluarga Kristiani yang amat saleh. Ayahnya, seorang kerabat kaisar, meninggal dunia ketika ia baru berusia satu tahun. Kaisar menjadi wali bagi dia dan ibunya. Ketika Eufrasia berusia tujuh tahun, ibunya membawanya ke Mesir. Di sana mereka tinggal di sebuah rumah yang besar dekat sebuah biara wanita. Eufrasia terpesona dengan cara hidup para biarawati. Ia memohon kepada ibunya agar diijinkan melayani Tuhan dalam biara di mana para biarawati kudus itu tinggal. Ia masih seorang gadis kecil, tetapi ia tidak mau mengubah atau pun melupakan niatnya itu. Tak lama kemudian, ibunya membawa Eufrasia ke biara serta mempercayakan pemeliharaannya kepada pemimpin biara.
Tahun-tahun berlalu. Ketika ibunya meninggal dunia, kaisar mengingatkan Eufrasia bahwa orangtuanya telah mengikat perjanjian pernikahan baginya dengan seorang majelis muda yang kaya. Tentu saja Eufrasia ingin hanya menjadi milik Yesus saja. Jadi, ia menulis sepucuk surat penuh hormat kepada kaisar. Di dalamnya ia menulis, “Saya ini milik Yesus, dan karenanya saya tidak dapat memberikan diri saya kepada yang lain. Satu-satunya kerinduan saya adalah bahwa dunia sepenuhnya melupakan saya. Dengan penuh hormat saya mohon kepada Yang Mulia untuk mengambil alih seluruh harta warisan keluarga saya serta membagi-bagikannya kepada mereka yang miskin. Saya mohon Yang Mulia membebaskan semua budak yang ada dalam keluarga saya. Saya juga mohon agar Baginda menghapuskan semua hutang orang kepada keluarga saya.” Kaisar sangat terharu oleh surat yang begitu indah itu hingga ia membacakannya di hadapan seluruh majelis. Kemudian ia mengabulkan semua permohonan Eufrasia.
Eufrasia menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang biarawati. Ia tidak pernah menyesal bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk menjadi seorang religius. Eufrasia wafat pada tahun 420.

St. Matilda
St. Matilda dilahirkan sekitar tahun 895, sebagai putri dari seorang bangsawan Jerman. Ketika masih muda usianya, orangtuanya telah mengatur pernikahan baginya dengan seorang bangsawan bernama Henry. Segera setelah mereka menikah, Henry menjadi raja Jerman. Sebagai ratu, Matilda hidup sederhana dengan meluangkan banyak waktu untuk berdoa. Setiap orang yang melihatnya akan melihat bagaimana lemah lembut serta baik hatinya ia. Ia berperan lebih sebagai ibu daripada sebagai ratu. Ratu suka mengunjungi serta menghibur mereka yang sakit. Ia menolong orang-orang di penjara. Matilda tidak mau memanjakan dirinya oleh karena kedudukannya, melainkan ia berusaha untuk memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan. Raja Henry menyadari bahwa isterinya adalah seorang yang luar biasa. Berulangkali dikatakan raja kepada isterinya bahwa ia menjadi orang yang lebih baik serta menjadi raja yang lebih baik oleh karena Matilda adalah isterinya. Walaupun perkawinan mereka direncanakan oleh orangtua mereka, namun Henry dan Matilda saling mengasihi satu sama lain.
Matilda diberi kebebasan mempergunakan kekayaan kerajaan untuk karya belas kasihnya dan Henry tidak pernah mempertanyakannya. Sebaliknya, raja menjadi lebih sadar akan kebutuhan rakyatnya. Raja sadar bahwa dengan kedudukannya, ia mempunyai kuasa untuk meringankan beban penderitaan rakyat. Pasangan tersebut hidup berbahagia selama duapuluh tiga tahun. Kemudian Raja Henry meninggal dunia secara tiba-tiba pada tahun 936. Ratu merasa teramat sedih atas kepergian suaminya. Ia kemudian memutuskan untuk hidup bagi Tuhan saja.
Demikianlah ratu meminta imam untuk mempersembahkan Misa bagi keselamatan jiwa Raja Henry. Lalu ratu memberikan seluruh perhiasan yang dikenakannya kepada imam. Dengan berbuat demikian, ia hendak menunjukkan tekadnya untuk sejak saat itu meninggalkan segala urusan duniawi.
Meskipun ia seorang kudus, Matilda juga melakukan suatu kesalahan besar. Ia lebih berpihak kepada puteranya, Henry, daripada puteranya yang lain, Otto, dalam perjuangan mereka memperebutkan tahta kerajaan. Ia menyesal telah melakukan kesalahan seperti itu. Ia berusaha memperbaiki kesalahannya dengan menerima tanpa berkeluh-kesah segala penderitaan yang harus ditanggungnya. Setelah tahun-tahun dilewatinya dengan melakukan karya belas kasih dan silih, St. Matilda wafat dengan tenang pada tahun 968. Ia dimakamkan disamping saminya.

St. Patrick
St. Patrick dilahirkan pada abad ke lima di Inggris. Orangtuanya adalah orang Romawi. Ketika Patrick berusia enambelas tahun, ia diculik oleh para bajak laut dan dibawa ke Irlandia. Di sana, ia dijual sebagai budak belian. Majikannya menyuruh Patrick untuk menjaga kawanan ternaknya di pegunungan. Patrick hanya mendapatkan sedikit makanan dan pakaian. Namun demikian, ia memelihara kawanan ternaknya itu dengan baik, dalam hujan, badai maupun salju. Patrick merasa amat kesepian seorang diri di pegunungan, seringkali ia datang untuk berbicara kepada Yesus dan Bunda Maria dalam doa. Hidup terasa berat dan tidak adil baginya. Semakin lama semakin bertambah kuatlah kepercayaan Patrick kepada Tuhan.
Kemudian, ketika ia berhasil melarikan diri dari Irlandia, Patrick belajar untuk menjadi seorang imam. Ia senantiasa merasa bahwa ia harus kembali ke Irlandia untuk membawa bangsa kafir itu kepada Kristus. Pada akhirnya, keinginannya itu terkabul. Ia menjadi imam dan kemudian diangkat menjadi uskup. Waktu itu, yaitu ketika St. Selestin I memangku jabatan paus, Patrick kembali ke Irlandia. Betapa bahagianya Patrick dapat mewartakan Kabar Gembira Allah yang benar kepada orang-orang yang dahulu memperlakukannya sebagai budak.
Sejak dari awal, Patrick harus mengalami banyak penderitaan. Sanak saudara serta para temannya menghendaki agar ia berhenti mewartakan Injil sebelum bangsa kafir Irlandia membunuhnya. Tetapi, orang kudus itu tetap saja berkhotbah tentang Yesus. Ia berkeliling dari satu desa ke desa yang lain. Ia jarang beristirahat dan melakukan banyak mati raga demi orang-orang yang amat dikasihinya itu. Sebelum ia wafat, seluruh bangsa Irlandia telah menjadi orang-orang Kristen.
Meskipun ia berhasil dengan gemilang, St. Patrick tidak pernah merasa bangga atau pun sombong. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai pendosa dan menyampaikan segala puji-pujian yang diterimanya kepada Tuhan. Patrick wafat pada tahun 461.

St. Sirilus dari Yerusalem
Sirilus dilahirkan sekitar tahun 315 pada saat dimulainya suatu masa baru bagi umat Kristiani. Sebelum masa itu, Gereja mengalami penganiayaan hebat oleh para kaisar. Ribuan umat Kristiani wafat sebagai martir. Pada tahun 315, Kaisar Konstantin mengakui agama Kristen sebagai agama resmi. Hal tersebut memang mengagumkan, tetapi bukanlah akhir dari segala masalah. Sesungguhnya, tahun-tahun setelah Dekrit 315 itu, umat Kristiani menghadapi suatu kesulitan baru. Terjadi kebimbangan tentang apa yang dipercayai serta tidak dipercayai umat Kristiani. Muncul berbagai aliran ajaran sesat yang disebut “bidaah”. Banyak imam serta uskup menjadi pembela ajaran-ajaran Gereja yang gagah berani. Salah seorang di antara mereka adalah Uskup Sirilus dari Yerusalem.
Ketika St. Maximus – uskup Yerusalem – wafat, Sirilus dipilih untuk menggantikan kedudukannya. Sirilus kemudian menjadi uskup Yerusalem selama tigapuluh lima tahun. Enambelas tahun dari masa pengabdiannya itu dilewatkannya dalam pengasingan serta pembuangan. Tiga kali ia diusir dari kota oleh orang-orang berpengaruh yang tidak menghendaki kehadirannya. Mereka berusaha memaksa Sirilus untuk menerima ajaran-ajaran sesat tentang Yesus dan Gereja. Tetapi Sirilus pantang menyerah.
Masa pemerintahan Kaisar Yulianus – seorang kaisar yang ingkar terhadap agama – dimulai pada tahun 361. Yulianus bermaksud hendak membangun kembali Bait Allah di Yerusalem yang terkenal itu. Ia punya suatu tujuan pasti: hendak membuktikan bahwa Yesus salah ketika Ia menyatakan bahwa Bait Allah di Yerusalem tidak akan dibangun kembali. Ia bertekad untuk membuktikannya. Maka ia menghabiskan banyak sekali uang serta mengirimkan segala macam bahan bagi pembangunan Bait Allah yang baru. Banyak orang mendukungnya dengan menyerahkan barang-barang perhiasan serta emas dan perak. Namun demikian, St. Sirilus menghadapi situasi yang sulit tersebut dengan tenang. Ia yakin bahwa Bait Allah tidak akan dapat dibangun kembali oleh sebab Yesus, yang adalah Allah, telah mengatakannya. Bapa uskup melihat seluruh bahan-bahan bangunan tersebut dan berkata, “Aku tahu bahwa usaha ini pasti akan gagal.” Dan memanglah demikian, pertama-tama badai, kemudian gempa bumi, dan yang terakhir kebakaran, yang akhirnya menghentikan usaha kaisar. Pada akhirnya kaisar membiarkan pekerjaan tersebut terbengkalai.
St. Sirilus wafat pada tahun 386 ketika usianya sekitar tujuhpuluh tahun. Uskup yang lemah lembut serta baik hati ini harus mengalami masa-masa penuh pergolakan serta penderitaan selama hidupnya. Tetapi, ia tidak pernah kehilangan semangat oleh karena semua itu demi Yesus. Ia senantiasa setia kepada Kristus sepanjang hidupnya. Sirilus seorang yang gagah berani dalam mengajarkan kebenaran tentang Yesus dan Gereja-Nya.

 

St. Yusuf
St. Yusuf adalah seorang santo besar. Ia adalah bapa asuh Yesus dan suami Santa Perawan Maria. Yusuf memperoleh hak istimewa untuk merawat Putera Allah sendiri, Yesus, serta Bunda-Nya, Maria. Yusuf seorang yang miskin sepanjang hidupnya. Ia harus bekerja keras dalam bengkel tukang kayunya, tetapi ia tidak berkeberatan. Ia bahagia dapat bekerja bagi keluarga kecilnya. Ia amat mengasihi Yesus dan Maria.
Apa pun yang Tuhan ingin ia lakukan, St. Yusuf segera melaksanakannya, tak peduli betapa sulitnya hal tersebut. Ia seorang yang rendah hati serta tulus hati, lemah lembut serta bijaksana. Yesus dan Maria mengasihinya serta taat kepadanya sebab Tuhan telah menjadikannya kepala rumah tangga mereka. Betapa bahagianya St. Yusuf dapat hidup bersama dengan Putera Allah sendiri. Yesus taat kepadanya, membantunya serta mengasihinya. Kita biasa memohon bantuan doa St. Yusuf sebagai pelindung mereka yang sedang menghadapi ajal, sebab kita percaya bahwa St. Yusuf meninggal dunia dengan damai dalam pelukan Yesus dan Bunda Maria.
St. Theresia dari Avila memilih St. Yusuf sebagai pelindung ordonya, ordo para biarawati Karmelit. Ia menaruh pengharapan besar dalam memohon bantuan doa St. Yusuf. “Setiap kali aku meminta sesuatu kepada St. Yusuf,” demikian katanya, “ia selalu mendapatkannya untukku.”
Paus Pius IX menyatakan St. Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal.

St. Cuthbert
St. Cuthbert hidup di Inggris pada abad ketujuh. Ia seorang bocah penggembala miskin yang sangat suka bermain bersama teman-temannya. Ia seorang yang ulung dalam bermain. Salah seorang temannya mencacinya oleh sebab ia terlalu amat suka bermain. Sesungguhnya, teman bermainnya itu mengucapkan kata-kata yang tampaknya bukan berasal dari dirinya sendiri. Katanya, “Cuthbert, bagaimana mungkin engkau menghabiskan waktumu dengan bermain-main saja, padahal engkau telah dipilih untuk menjadi seorang imam dan seorang uskup?” Cuthbert amat terperanjat, dan juga amat terkesan. Ia bertanya-tanya apakah sungguh kelak ia akan menjadi seorang imam dan seorang uskup.
Pada bulan Agustus tahun 651, Cuthbert yang saat itu berusia limabelas tahun memperoleh suatu pengalaman rohani. Ia melihat langit yang hitam pekat. Tiba-tiba, suatu sorotan cahaya yang amat terang melintasi langit. Dalam sorotan cahaya itu tampaklah malaikat-malaikat membawa sebuah bola api ke atas langit. Beberapa waktu kemudian, Cuthbert mengetahui bahwa pada saat yang sama dengan penampakan tersebut, Uskup St. Aiden meninggal dunia. Cuthbert tidak tahu bagaimana semua peristiwa itu mempengaruhi dirinya, tetapi ia telah membulatkan tekadnya untuk memenuhi panggilannya dan masuk biara. Cuthbert kemudian menjadi seorang imam.
St. Cuthbert berkeliling dari desa ke desa, dari rumah ke rumah, dengan menunggang kuda atau pun dengan berjalan kaki. Ia mengunjungi umat untuk membantu mereka secara rohani. Sungguh menguntungkan, Pastor Cuthbert dapat berbicara dalam dialek para petani sebab ia sendiri dulunya adalah seorang penggembala domba yang miskin. St. Cuthbert berbuat kebajikan di mana saja dan membawa banyak orang kepada Tuhan. Ia seorang yang periang serta baik hati. Orang tertarik kepadanya dan tak seorang pun segan kepadanya. Ia seorang yang banyak berdoa, seorang imam yang kudus.
Ketika Cuthbert telah ditahbiskan sebagai uskup, ia tetap bekerja keras seperti sebelumnya untuk membantu umatnya. Ia mengunjungi mereka, tak peduli betapa sukar perjalanannya melewati jalan-jalan yang sulit atau pun betapa buruk cuacanya. Sementara ia terbaring menghadapi ajal, Cuthbert mendesak para imamnya untuk hidup dalam damai serta penuh belas kasihan kepada semua orang. Ia wafat dalam damai pada tahun 687.

St. Deogratias
Kota Kartago di Afrika ditaklukkan oleh pasukan barbar pada tahun 439. Penakluk mereka adalah kaum Vandal. Kaum Vandal menangkap uskup dan para imam serta menempatkan mereka dalam sebuah rakit tua yang besar, lalu menghanyutkannya ke lautan. Sungguh ajaib, mereka berhasil tiba di pelabuhan Naples dan diselamatkan. Tetapi, kota yang mereka tinggalkan tidak lagi memiliki seorang uskup selama empatbelas tahun lamanya. Kaisar Valentinian di Roma meminta kepada Genseric, pemimpin kaum Vandal, untuk mengijinkan seorang uskup lain ditahbiskan bagi Kartago. Genseric setuju dan seorang imam muda dari kota itu dipilih. Imam tersebut disegani oleh para penakluk serta dicintai oleh umat Kristiani. Namanya dalam bahasa Latin adalah “Deogratias,” yang berarti “syukur kepada Allah.” Uskup Deogratias berkarya demi iman serta kesejahteraan seluruh penduduk Kartago.
Kemudian, Genseric menjarah kota Roma. Ia kembali ke Afrika dengan membawa ratusan budak belian, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak. Keluarga-keluarga tersebut ditawan dan dibagi-bagikan di antara kaum Vandal dan Moor. Genseric sama sekali tidak mempedulikan ikatan keluarga. Anggota-anggota keluarga diperjualbelikan secara perorangan serta dipisahkan dari orang-orang yang mereka kasihi.
Uskup Deogratias mendengar tentang tragedi tersebut. Ketika kapal-kapal yang mengangkut para budak tiba di Kartago, ia membeli budak-budak tersebut sebanyak yang ia mampu. Ia memperoleh uangnya dengan menjual peralatan, jubah-jubah serta hiasan-hiasan Gereja. Ia dapat membebaskan banyak keluarga. Ia mendapatkan tempat-tempat penampungan bagi mereka. Ketika rumah-rumah itu telah penuh terisi, ia mempergunakan dua gereja besar untuk menampung orang-orang yang diselamatkannya itu. Uskup membeli selimut serta segala kebutuhan lainnya agar mereka dapat merasa nyaman di lingkungan mereka yang baru.
Uskup Deogratias wafat hanya tiga tahun setelah ia menjabat sebagai uskup Kartago. Tenaganya sepenuhnya terkuras habis demi pengabdian serta pelayanan belas kasihnya. Orang-orang yang ia selamatkan tidak akan pernah melupakannya. Ia wafat pada tahun 457.

B. Didakus Yoseph
Beato Didakus Yoseph dilahirkan pada tanggal 29 Maret tahun 1743 di Cadiz, Spanyol. Ia dibaptis dengan nama Yoseph Fransiskus. Kedua orangtuanya taat beragama serta saleh. Mereka amat senang apabila putera kecil mereka membangun sebuah altar serta menghiasinya. Yoseph kecil akan berlutut dan berdoa kepada Yesus, Bunda Maria dan St. Yusuf.
Ketika Yoseph sudah cukup besar, ia belajar menjadi pelayan altar di gereja Fransiskan Kapusin dekat rumahnya. Yoseph belajar mencintai Misa. Ia biasa bangun pagi-pagi benar agar dapat tiba di gereja setiap pagi menunggu pintu-pintu gereja dibuka. Tak pernah sekali pun ia absen. Salah seorang dari para imam atau broeder Kapusin memberinya sebuah buku tentang kisah hidup para santo Kapusin. Yoseph membacanya dan membacanya lagi. Yoseph membaca setiap cerita dengan seksama. Ia mulai mencintai para kudus yang miskin serta bersahaja seperti Yesus. Tibalah harinya ketika ia mohon agar dapat bergabung dalam Ordo Saudara-Saudara Dina Kapusin (OFMCap). Ia diterima dan pergi ke Seville, Spanyol untuk novisiat (masa percobaan sebagai latihan rohani sebelum mengucapkan kaul biara). Ia memulai hidup baru dengan nama yang baru pula, Frater Didakus.
Setalah melewati tahun-tahun persiapan, Frater Didakus ditahbiskan sebagai imam. Ia diutus untuk mewartakan Injil Yesus. Ia sangat senang akan tugas ini. Homili-homilinya sangatlah jelas serta penuh kasih sehingga orang senang mendengarnya. Mereka bahkan membawa teman-teman mereka untuk mendengarkan khotbahnya juga. Segera saja, gereja biasa menjadi terlalu kecil bagi orang banyak itu. Jika Pastor Didakus berkhotbah, pewartaan tersebut perlu diadakan di lapangan terbuka, biasanya di alun-alun kota atau di pinggir jalan. Pastor Didakus amat senang berkhotbah tentang Tritunggal Mahakudus. Ia juga selalu siap sedia mendengarkan pengakuan dosa. Ia senang apabila umat datang untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Apabila waktunya luang, Pastor Didakus mengunjungi penjara-penjara atau rumah-rumah sakit. Ia juga mengunjungi panti-panti jompo. Pastor Didakus wafat pada tahun 1801 dan dinyatakan sebagai “beato” oleh Paus Leo XIII pada tahun 1894.

St. Ludger
St. Ludger dilahirkan di Eropa utara pada abad kedelapan. Setelah belajar dengan tekun selama beberapa tahun, ia ditahbiskan sebagai imam. Ludger melakukan perjalanan hingga jauh untuk mewartakan Kabar Gembira. Ia amat gembira dapat membagikan apa yang telah ia ketahui tentang Tuhan kepada siapa saja yang mendengarkannya. Orang-orang kafir bertobat dan umat Kristiani memulai cara hidup yang jauh lebih baik. St. Ludger mendirikan banyak gereja serta biara.
Kemudian sekonyong-konyong bangsa barbar yang disebut Saxon menyerang negerinya serta menghalau semua imam. Tampaknya segala kerja keras St. Ludger akan menjadi sia-sia. Tetapi, ia pantang menyerah. Pertama-tama St. Ludger mencari tempat yang aman bagi para muridnya. Kemudian ia pergi ke Roma untuk memohon petunjuk dari Bapa Suci mengenai apa yang harus ia lakukan.
Selama lebih dari tiga tahun Ludger tinggal di sebuah biara Benediktin sebagai seorang rahib yang baik serta kudus. Namun demikian, ia tidak melupakan para murid di negerinya. Begitu ia dapat kembali ke tanah airnya, Ludger segera pulang serta melanjutkan karyanya. Ia bekerja tanpa kenal lelah dan mempertobatkan banyak orang Saxon.
Setelah ditahbiskan menjadi uskup, terlebih lagi Ludger memberikan teladan bagi umatnya dengan kelemah-lembutan serta belas kasihannya. Suatu kali, orang-orang yang iri hati kepadanya menyampaikan hal-hal yang buruk mengenai Ludger kepada Raja Charlemagne. Raja memerintahkan kepada Ludger untuk datang ke istana guna membela diri. Dengan taat Ludger datang ke istana. Keesokan harinya, ketika raja memanggilnya, Ludger mengatakan bahwa ia akan datang segera setelah ia menyelesaikan doa-doanya. Pada mulanya Raja Charlemagne amat marah. Tetapi, St. Ludger menjelaskan kepadanya bahwa meskipun ia mempunyai rasa hormat yang besar kepada raja, ia tahu bahwa Tuhan harus dinomor-satukan. “Baginda tidak akan marah kepada saya,” katanya, “sebab Baginda sendiri yang mengatakan kepada saya untuk selalu menomor-satukan Tuhan.” Mendengar jawaban yang bijaksana itu, raja menjadi sadar bahwa Ludger adalah seorang yang amat kudus. Sejak saat itu, Charlemagne mengagumi serta amat mengasihinya. St. Ludger wafat pada Hari Minggu Sengsara pada tahun 809. Ia melaksanakan segala tugas dan kewajibannya untuk melayani Tuhan, bahkan pada hari wafatnya.

St. Yohanes dari Mesir
St. Yohanes dari Mesir adalah seorang yang merindukan untuk hidup sendiri bersama Tuhan saja, yang kelak menjadi salah seorang dari para pertapa terkenal di masanya. St. Yohanes dari Mesir dilahirkan sekitar tahun 304. Tidak banyak yang diketahui tentang masa mudanya, kecuali bahwa ia belajar ketrampilan seorang tukang kayu. Ketika usianya duapuluh lima tahun, Yohanes memutuskan untuk meninggalkan segala urusan duniawi dan mempergunakan seluruh hidupnya untuk berdoa serta bermatiraga demi Tuhan. Ia kemudian menjadi salah seorang dari para pertapa padang gurun yang terkenal pada masa itu.
Selama sepuluh tahun ia menjadi murid seorang pertapa tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan. Pertapa kudus tersebut mengajarkan kehidupan rohani kepada Yohanes. St. Yohanes menyebutnya sebagai “bapa rohani”-nya. Setelah bapa rohaninya wafat, St. Yohanes melewatkan empat atau lima tahun dalam berbagai biara. Ia ingin lebih mengenal kehidupan doa serta gaya hidup para rahib. Pada akhirnya, Yohanes menemukan sebuah gua yang terletak di atas batu karang yang tinggi. Sekelilingnya tenang serta terlindung dari terik matahari dan angin padang gurun. Ia membagi guanya menjadi tiga bagian: ruang tamu, ruang kerja dan ruang doa. Penduduk daerah tersebut membawakan makanan serta segala keperluan lain untuknya. Banyak juga orang yang datang untuk meminta nasehatnya tentang hal-hal yang penting. Bahkan Kaisar Theodosius I dua kali meminta nasehatnya, yaitu pada tahun 388 dan pada tahun 392. Para kudus terkenal seperti St. Agustinus dan St. Hieronimus menulis tentang kekudusan St. Yohanes. Begitu banyak orang datang mengunjunginya, sebagian di antara mereka tinggal untuk menjadi murid-muridnya. Mereka membangun sebuah pondok. Mereka merawat pondok tersebut dengan baik agar lebih banyak orang dapat datang serta memperoleh manfaat dari kebijaksanaan St. Yohanes. St. Yohanes dapat mengetahui kejadian-kejadian di masa mendatang. Ia dapat membaca jiwa-jiwa mereka yang datang kepadanya. Ia dapat membaca pikiran mereka. Jika ia mengoleskan minyak krisma kepada mereka yang menderita suatu penyakit jasmani, seringkali mereka menjadi sembuh.
Meskipun Yohanes menjadi seorang yang terkenal, ia tetap rendah hati dan tidak mau hidup enak-enakan. Tidak pernah ia makan sebelum matahari terbenam. Jika ia makan, makanannya hanyalah buah-buahan kering serta sayuran. Ia tidak pernah makan daging atau makanan yang dimasak atau pun makanan yang hangat. St. Yohanes percaya bahwa hidup matiraganya membantunya memiliki hubungan yang akrab mesra dengan Tuhan. St. Yohanes wafat dalam damai pada tahun 394 pada usia sembilanpuluh tahun.

St. Yohanes Klimaks
St. Yohanes dilahirkan di Palestina pada abad ketujuh. Kemungkinan besar ia adalah murid dari St. Gregorius dari Nazianze. St. Yohanes mempunyai masa depan gemilang untuk menjadi seorang guru termashyur, namun demikian ia memutuskan untuk melayani Tuhan dengan segenap hatinya. Ia masuk biara di Gunung Sinai ketika usianya enambelas tahun. Kemudian, ia pergi untuk hidup seorang diri saja selama empatpuluh tahun. Ia mempergunakan seluruh waktunya untuk berdoa dan membaca riwayat para kudus.
Pada mulanya, St. Yohanes dicobai oleh iblis. Ia merasakan segala jenis nafsu jahat yang menggodanya untuk jatuh dalam dosa. Tetapi, Yohanes mengandalkan Yesus dan berdoa lebih khusuk dari sebelumnya. Sehingga, godaan-godaan itu tidak berhasil membuatnya jatuh dalam dosa. Malahan, ia menjadi semakin kudus. Yohanes semakin dekat dengan Tuhan dan banyak orang mendengar tentang kekudusannya. Mereka datang kepadanya untuk meminta nasehat.
Tuhan memberi St. Yohanes suatu karunia yang mengagumkan. Ia dapat membawa damai bagi mereka yang tertekan dan yang mengalami godaan. Suatu ketika, seorang laki-laki yang mengalami godaan yang mengerikan datang kepadanya. Ia menceritakan betapa berat baginya untuk melawan godaan-godaan tersebut dan memohon pada St. Yohanes untuk menolongnya. Setelah mereka berdoa bersama, damai segera memenuhi hati laki-laki malang itu. Tidak pernah lagi ia diganggu oleh godaan-godaan tersebut.
Ketika St. Yohanes berusia tujuhpuluh empat tahun, ia dipilih menjadi pemimpin biara di Gunung Sinai. Ia menjadi pemimpin dari semua rahib serta pertapa di negerinya. Seorang pemimpin biara lainnya meminta St. Yohanes untuk menuliskan peraturan-peraturan yang telah diterapkannya sepanjang hidupnya, agar para rahib dapat meneladaninya. Dengan segala kerendahan hati, St. Yohanes menulis sebuah buku berjudul Tangga Kesempurnaan. Dalam bahasa Yunani `tangga’ disebut `klimax’. Oleh sebab itulah ia dijuluki “St. Yohanes Klimaks”. St. Yohanes wafat pada tahun 649.

B. Joan dari Toulouse
Pada tahun 1240, beberapa biarawan Karmelit dari Palestina mendirikan sebuah biara di Toulouse, Perancis. Imam Karmelit yang termasyhur, St. Simon Stock, singgah di Toulouse duapuluh lima tahun kemudian. Seorang wanita saleh mohon bertemu dengannya. Wanita tersebut memperkenalkan diri hanya sebagai Joan. Dengan sungguh-sungguh ia bertanya kepada imam, “Bolehkah saya bergabung dengan Ordo Karmelit sebagai awam?” St. Simon Stock adalah pemimpin ordo. Ia mempunyai wewenang untuk mengabulkan permohonan Joan. Ia mengatakan “ya”. Joan menjadi anggota ordo ketiga (awam) yang pertama. Ia menerima jubah Ordo Karmelit. Di hadapan St. Simon Stock, Joan mengucapkan prasetia kemurnian kekal.
Joan melanjutkan kehidupannya yang tenang serta bersahaja di rumahnya sendiri. Ia berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa mentaati regula (=peraturan-peraturan biara) Karmelit sepanjang hidupnya. Setiap hari Joan ikut ambil bagian dalam Misa dan ibadat-ibadat di gereja Karmel. Sesudah itu, ia mengisi harinya dengan mengunjungi mereka yang miskin, yang sakit serta yang kesepian. Ia melatih para putera altar. Ia memberikan pertolongan kepada mereka yang jompo serta yang tak berdaya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan. Joan berdoa bersama mereka serta membangkitkan semangat banyak orang dengan percakapannya yang riang gembira.
Beata Joan menyimpan gambar Yesus tersalib dalam sakunya. Itulah “buku”-nya. Sewaktu-waktu ia akan mengeluarkan gambar tersebut dari sakunya serta memandanginya. Matanya bersinar-sinar. Orang mengatakan bahwa Joan membaca suatu pelajaran baru yang mengagumkan setiap kali ia memandangi gambarnya.

St. Hugo dari Grenoble
St. Hugo dilahirkan pada tahun 1052 di Perancis. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang tinggi dan tampan, lemah lembut serta penuh sopan santun. Meskipun ia senantiasa mendambakan untuk hidup bagi Tuhan sebagai seorang rahib, ia diberi kedudukan penting yang lain. Ia ditahbiskan sebagai imam dan kemudian sebagai uskup.
Sebagai seorang uskup, Hugo segera meluruskan kebiasaan-kebiasaan dosa sebagian orang dalam keuskupannya. Ia menetapkan rencana-rencana yang bijak, namun bukan itu saja yang ia lakukan. Guna memperoleh belas kasihan Tuhan bagi umatnya, St. Hugo berdoa dengan segenap hati. Ia melakukan mati raga yang keras. Dalam waktu singkat, banyak orang berbalik menjadi saleh dan taat. Hanya sebagian orang dari kaum bangsawan saja yang masih terus menentangnya.
Uskup Hugo masih berangan-angan menjadi seorang rahib. Itulah yang sungguh ia dambakan. Maka, ia mengundurkan diri sebagai Uskup Grenoble dan masuk biara. Pada akhirnya, ia merasakan damai. Namun demikian, bukanlah kehendak Tuhan bahwa St. Hugo menjadi seorang rahib. Setelah setahun lewat, Paus memerintahkannya untuk kembali ke Grenoble. St. Hugo taat. Ia tahu bahwa jauh lebih penting menyenangkan Tuhan daripada menyenangkan diri sendiri.
Selama empatpuluh tahun, bapa uskup hampir selalu sakit. Ia menderita sakit kepala hebat dan juga gangguan pencernaan. Namun demikian, ia memaksakan diri untuk tetap bekerja. Ia mencintai umatnya dan begitu banyak yang harus dilakukan bagi mereka. St. Hugo mengalami pencobaan dan godaan-godaan juga. Tetapi, ia berdoa dengan tekun sehingga tidak jatuh dalam dosa.
St. Hugo wafat pada tanggal 1 April 1132, dua bulan sebelum ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Ia menjadi seorang uskup yang murah hati serta kudus selama lima puluh dua tahun.

St. Fransiskus dari Paola
St. Fransiskus dilahirkan di sebuah dusun kecil di Paola, Italia sekitar tahun 1416. Orangtuanya miskin, tetapi bersahaja dan kudus. Mereka mohon bantuan doa St. Fransiskus dari Asisi agar dikaruniai seorang putera. Ketika ia akhirnya dilahirkan, ia diberi nama Fransiskus. Anak itu tumbuh besar dan pergi ke sekolah di mana para pengajarnya adalah imam-imam Fransiskan. Di sanalah Fransiskus belajar membaca. Ketika berusia limabelas tahun, seijin orangtuanya, Fransiskus tinggal di sebuah gua. Ia ingin menjadi seorang pertapa dan melewatkan hidupnya hanya bersama Tuhan saja.
Ketika usianya duapuluh tahun, pemuda-pemuda lain ikut bergabung dengannya. St. Fransiskus meninggalkan gua kediamannya. Penduduk kota Paola membangun sebuah gereja dan juga biara untuk Fransiskus dan para pengikutnya. Ia menyebut ordo religiusnya yang baru dengan nama “Minims”. “Minims” artinya “yang terkecil dari semuanya.”
Semua orang mengasihi St. Fransiskus. Ia berdoa bagi mereka dan melakukan banyak mukjizat. Ia menasehati para pengikutnya agar senantiasa lemah lembut dan rendah hati, serta melakukan banyak matiraga. Ia sendiri merupakan teladan terbaik dari segala keutamaan yang diajarkannya. Suatu ketika, seorang yang mengunjungi Fransiskus menghinanya. Ketika orang itu selesai berbicara, Fransiskus melakukan sesuatu yang aneh. Dengan tenang diambilnya batu bara panas dari tempat perapian dan digenggamnya dengan erat dalam tangannya. Namun demikian, ia tidak terbakar sedikit pun. “Mari, hangatkanlah dirimu,” katanya dengan lembut kepada pendakwanya. “Engkau gemetar oleh sebab engkau membutuhkan sedikit belas kasihan.” Seketika terjadilah sesuatu yang ajaib, tamu tersebut berubah pandangan mengenai Fransiskus. Sejak saat itu, ia amat mengagumi St. Fransiskus.
Raja Louis XI dari Perancis tidak hidup dengan baik. Ketika raja sedang sekarat, ia meminta St. Fransiskus datang kepadanya. Pikiran akan segera menemui ajalnya telah membuat raja gemetar ketakutan. Ia menghendaki agar Fransiskus melakukan mukjizat dan menyembuhkannya. Sebaliknya, yang dilakukan orang kudus tersebut adalah dengan lemah lembut membantu raja yang ketakutan itu mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar dapat meninggal dengan kudus. Hati raja berubah. Ia menerima kehendak Tuhan dan wafat dengan tenang dalam pelukan Fransiskus.
St. Fransiskus menikmati umur panjang untuk memuliakan serta mengasihi Tuhan. Ia wafat pada hari Jumat Agung pada tahun 1507, dalam usia sembilan puluh satu tahun.

St. Richard dari Chichester
St. Richard dilahirkan di Inggris pada tahun 1197. Ia dan saudaranya menjadi yatim piatu sejak Richard masih kecil. Saudaranya memiliki beberapa tanah pertanian. Richard berhenti sekolah agar dapat membantu kakaknya menyelamatkan sawahnya dari kehancuran. Richard bekerja demikian giat hingga kakaknya yang penuh rasa terima kasih hendak memberikan tanah pertanian itu kepadanya. Tetapi, Richard tidak mau menerimanya. Ia juga memilih untuk tidak menikah, sebab ia ingin pergi belajar di perguruan tinggi untuk memperoleh pendidikan yang baik. Ia tahu bahwa karena uangnya hanya sedikit, ia akan harus bekerja keras untuk membiayai hidup dan sekolahnya.
Richard belajar di Universitas Oxford. Kemudian, ia memperoleh kedudukan penting di universitas. St. Edmund, yang adalah uskup agung Canterbury, memberinya tugas dan tanggung jawab dalam keuskupannya. Ketika St. Edmund wafat, St. Richard mengunjungi Wisma Belajar Dominikan di Perancis. Di sana ia ditahbiskan sebagai seorang imam. Kemudian, ia ditahbiskan sebagai Uskup Chichester, Inggris. Oleh sebab itu ia disebut Richard dari Chichester. Raja Henry III menghendaki seorang lain yang menjadi uskup. Orang tersebut adalah sahabat raja, tetapi tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang uskup. Richard adalah Uskup Chichester yang sesungguhnya. Raja Henry III tidak memperbolehkan Richard menempati katedralnya sendiri. Raja juga mengancam penduduk Chichester dengan hukuman apabila mereka bersikap ramah terhadap Richard. Walaupun demikian, orang-orang yang gagah berani tetap saja menolongnya, seperti pastor Simon dari Tarring – salah seorang imam Chichester. Richard dan Simon kemudian bersahabat karib. Ketika Bapa Suci mengancam akan meng-ekskomunikasi-kannya (= mengucilkan, memutuskan seseorang dari hak-hak sebagai anggota gereja), raja berhenti mencampuri urusan gerejani dan tidak lagi mengganggu bapa uskup.
Sebagai uskup, St. Richard melaksanakan segala tugasnya dengan baik. Ia senantiasa lemah lembut dan murah hati kepada semua orang. Sekali waktu ia bersikap tegas juga. Ia seorang pemberani dan tanpa ragu-ragu menegur umatnya apabila mereka melakukan yang salah dan tidak menyesali perbuatannya.
Dikatakan bahwa ketika St. Richard jatuh sakit, ia tahu saat kematiannya akan tiba, sebab Tuhan telah memberitahukan kepadanya tempat serta waktu yang tepat bilamana ia akan meninggal. Teman-temannya, termasuk Pastor Simon dari Tarring, berada di sisi pembaringannya. St. Richard wafat dalam usia limapuluh lima tahun pada tahun 1253. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Urbanus IV pada tahun 1262.

St. Isidorus
St. Isidorus dilahirkan pada tahun 556. Dua orang kakaknya, Leander dan Fulgentius, adalah uskup dan santo juga. Saudari mereka, Florentina, seorang biarawati dan santa juga. Keluarga Isidorus kemungkinan berasal dari Romawi. Kelak Isidorus ditahbiskan sebagai uskup kota Seville, Spanyol. Dari sanalah ia memberikan pengaruh besar terhadap Gereja pada jamannya. Isidorus menjadi Uskup Seville selama tiga puluh tujuh tahun. Selama masa itu, ia melanjutkan karya uskup sebelumnya, yaitu St. Leander, kakaknya. Kedua kakak-beradik ini mempertobatkan penganut bidaah Visigoth dan membawa mereka ke pangkuan Gereja Katolik.
Pada masa kecilnya, Isidorus memperoleh pendidikan yang amat baik. Kakak-kakaknya bertanggung jawab atas pendidikannya. Ia dibimbing oleh Leander. Isidorus kecil menganggap Leander sebagai orang yang paling kejam di seluruh dunia. Leander terus-menerus menyuruhnya belajar! Tetapi, di kemudian hari Isidorus menyadari bahwa Leander sungguh seorang sahabat yang mengagumkan. Ia mengajarkan kepada Isidorus bahwa kita akan dapat melakukan begitu banyak hal bagi Gereja Yesus apabila kita belajar dengan tekun.
Isidorus hidup jauh sebelum Konsili Trente, di mana baru mulai dibuka seminari-seminari untuk pendidikan imam. Tetapi, Isidorus yakin bahwa di setiap keuskupan haruslah ada sebuah seminari dan sebuah sekolah Katolik sebagai sarana pendidikan lanjutan. Kedua impiannya tersebut kelak terwujud dengan dibukanya perguruan tinggi-perguruan tinggi Katolik dan juga seminari-seminari.
St. Isidorus adalah juga seorang organisator ulung. Ia diminta untuk memimpin dua pertemuan Gereja yang penting yang disebut Sinode. Yang pertama di Seville, Spanyol pada tahun 619 dan sesudahnya di Toledo, Spanyol pada tahun 633. Sinode-sinode tersebut semakin mempererat persekutuan Gereja. St. Isidorus menulis banyak buku. Ia menulis tentang sejarah Goths. Ia menulis tentang pahlawan-pahlawan Kitab Suci. Ia bahkan juga menyusun sebuah kamus.
Uskup Isidorus selalu terbuka bagi umatnya. Kaum miskin di Seville tahu ke mana mereka harus pergi mohon bantuan. Selalu ada antrian panjang sepanjang hari, setiap hari, di tempat kediaman uskup. Isidorus berdoa dan bermatiraga. Ia sungguh seorang yang kudus dan uskup yang amat dicintai. Ia wafat pada tahun 636. St. Isidorus digelari Pujangga Gereja oleh Paus Inosensius XIII pada tahun 1722.

St. Vincentius Ferrer
St. Vincentius Ferrer adalah seorang pahlawan Kristen yang amat mengagumkan. Ia dilahirkan di Valencia, Spanyol pada tahun 1350. Ia berdevosi secara khusus kepada Santa Perawan Maria. Apabila orang berbicara tentang Bunda Maria, ia merasa sangat bahagia. Ketika berusia tujuh belas tahun, Vincentius masuk Ordo Santo Dominikus. Ia seorang yang sangat pandai dan berhasil baik dalam studinya. Vincentius juga seorang yang tampan, tetapi ia tidak pernah sombong ataupun tinggi hati atas semua kelebihan yang dimilikinya.
Pada mulanya, Pastor Vincentius mengajar di berbagai perguruan tinggi. Kemudian ia menjadi seorang pengkhotbah yang termashyur. Ordo Santo Dominikus disebut juga Ordo Para Pengkhotbah. Selama dua puluh tahun, Pastor Vincentius berkhotbah di seluruh Spanyol dan Perancis. Meskipun pada masa itu belum ada mikrofon, suaranya yang lantang dapat terdengar hingga jauh. Banyak orang bertobat hanya dengan mendengarkan khotbahnya. Bahkan seorang rabi terkenal, Paulus dari Burgos, menjadi seorang Katolik pula. Paulus kemudian menjadi seorang imam dan akhirnya Uskup Cartagena, Spanyol. Banyak orang Katolik sangat terkesan dengan khotbah-khotbah dan teladan kekudusan Vinsentius, sehingga mereka menjadi lebih saleh. Umat Katolik yang dulunya tidak mengamalkan iman mereka, sekarang berubah. Mereka menjadi taat dan saleh sepanjang hidup mereka.
St. Vincentius mengandalkan Tuhan. Ia juga minta bantuan doa dan matiraga dari banyak orang demi keberhasilan khotbah-khotbahnya. Ia sadar bahwa bukanlah kata-katanya ataupun bakat-bakatnya yang memenangkan hati banyak orang. Oleh sebab itulah, ia selalu berdoa sebelum berkhotbah. Namun demikian, dikisahkan bahwa suatu ketika, ia tahu bahwa seseorang yang amat penting akan mendengarkan khotbahnya. Ia bekerja lebih keras dari biasanya untuk mempersiapkan khotbahnya, sehingga ia tidak sempat lagi berdoa. Khotbah tersebut, yang telah dipersiapkannya dengan amat seksama, ternyata tidak terlalu mengesankan sang bangsawan. Tuhan membiarkan hal itu terjadi untuk mengajarkan kepada Vincentius agar tidak mengandalkan diri sendiri. Di kemudian hari, bangsawan yang sama datang lagi untuk mendengarkan khotbah Pastor Vincentius. Tetapi, kali ini Pastor Vincentius tidak mengetahuinya. Seperti biasa, ia berdoa serta mengandalkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Sang bangsawan mendengarkan khotbahnya dan sungguh sangat terkesan dengan apa yang telah ia dengar. Ketika Vincentius diberitahu menganai hal tersebut, ia berkata: “Dalam khotbah pertama, Vincentius-lah yang berbicara. Dalam khotbah kedua, Yesus Kristus-lah yang berbicara.”
St. Vincentius wafat pada tahun 1419. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Nikolas V pada tahun 1455.

B. Notker
Biarawan Benediktin ini semasa kecilnya sering sakit-sakitan. Ia juga gagap bicara sepanjang hidupnya. Notker bertekad agar cacatnya itu janganlah menjadi penghalang baginya. Karena tekadnya yang kuat, Notker menjadi seorang yang lebih menyenangkan dari sebelumnya.
Ia dan dua orang sahabatnya, Tutilo dan Radpert, adalah biarawan yang selalu riang gembira. Mereka bertiga saling menguatkan dalam panggilan mereka di biara Santo Gallen di Swiss. Cinta mereka pada Tuhan dan juga cinta mereka pada musik menjadikan mereka bersahabat karib.
Sekali waktu Raja Charles datang berkunjung ke biara. Ia sangat menghormati Notker dan minta nasehat darinya. Sayangnya, ia tidak selalu mengikuti nasehat yang diterimanya. Suatu ketika, Raja Charles mengirimkan utusannya agar bertemu dengan sang biarawan. Notker sedang merawat kebunnya. Ia mengirimkan pesan ini kepada raja: “Rawatlah kebunmu seperti aku merawat kebunku.” Raja Charles mengerti bahwa ia harus lebih baik merawat jiwanya sendiri dan juga kerajaannya.
Penasehat pribadi raja adalah seorang yang terpelajar, tetapi amat sombong. Ia iri hati sebab raja demikian menghargai nasehat Notker. Suatu hari di istana, di hadapan semua orang, ia bertanya kepada Notker, “Karena engkau seorang yang sangat pandai, katakanlah kepadaku apa yang sedang dikerjakan Tuhan saat ini.” Penasehat raja tersenyum sinis kepada Notker, sebab pikirnya pastilah Notker tidak akan dapat menjawab pertanyaannya. Tetapi, sebaliknya Notker segera menjawab, “Saat ini Tuhan sedang mengerjakan apa yang biasa Ia kerjakan. Ia merendahkan mereka yang tinggi hati dan meninggikan mereka yang rendah hati.” Orang banyak mulai tertawa sementara penasehat raja cepat-cepat pergi meninggalkan ruangan.
Beato Notker mempersembahkan seluruh hidupnya bagi panggilan yang telah dipilihnya. Ia melakukan banyak hal-hal kecil yang istimewa, agar kehidupan di biara terasa menyenangkan bagi para biarawan. Bersama sahabat-sahabatnya, Tutilo dan Radpert, ia menggubah musik gerejani yang indah untuk memuji Tuhan.

St. Yohanes Baptista de la Salle
St sangat mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Ia sedang belajar untuk menjadi seorang imam ketika kedua orangtuanya meninggal dunia. Ia harus meninggalkan seminari dan pulang ke rumah untuk mengasuh adik-adiknya. Sementara ia mengajar serta mendidik mereka, ia sendiri tetap terus belajar. Adik-adiknya tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang baik. Ketika pendidikan mereka sudah selesai, Yohanes Baptista ditahbiskan sebagai imam.
Pada masa itu, kaum bangsawan seperti keluarga Pastor de la Salle, mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang baik. Tetapi, rakyat jelata tetap miskin dan terlupakan. Mereka tidak punya kesempatan untuk bersekolah. St. Yohanes Baptista berbelas kasihan kepada anak-anak kaum miskin. Ia bertekad untuk melakukan sesuatu guna mengatasi masalah tersebut. Ia mulai membuka sekolah-sekolah bagi mereka. Agar tersedia pengajar-pengajar bagi anak-anak, ia membentuk suatu ordo baru, Kongregasi Bruder-Bruder Sekolah Kristiani. Meskipun Pastor de la Salle juga. Yohanes Baptista de la Salle dilahirkan di Rheims, Perancis pada tanggal 30 April 1651. Orangtuanya berasal dari kalangan bangsawan. Yohanes biasa hidup mewah. Namun demikian, ia seorang anak yang saleh pula. Ia mengajar anak-anak itu sendiri, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membekali para bruder pengajar. Bagi para brudernya, Pastor de la Salle menuliskan suatu regula dan juga sebuah buku berisi penjelasan mengenai cara terbaik untuk mengajar. St. Yohanes Baptista merupakan salah seorang pendidik terbaik sepanjang masa. Ia mengajar dalam bahasa ibu masyarakat setempat, bukan dalam bahasa Latin, seperti yang biasa dilakukan. Ia mengelompokkan para murid dalam beberapa kelas. Ia menekankan pentingnya suasana tertib dan tenang sementara pelajaran diberikan.
Selang beberapa waktu kemudian, para bruder mendirikan lebih banyak lagi sekolah-sekolah. Mereka mengajar, baik anak-anak dari rakyat jelata maupun dari kaum bangsawan. Banyak kesulitan yang harus dihadapi ordo baru tersebut. Namun, berkat doa serta matiraga St. Yohanes Baptista, Tuhan memberkati segala karya mereka sehingga terus berkembang dan tersebar luas.
Kesehatan Pastor de la Salle tidak pernah prima. Penyakit asma dan radang sendi yang ia derita mengakibatkannya terus merasa sakit. Meskipun demikian, ia tidak pernah mau memanjakan diri. St. Yohanes Baptista wafat pada hari Jumat Agung, 7 April 1719, dalam usia enam puluh delapan tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII pada tahun 1900. Pada tahun 1950, Paus Pius XII mengangkatnya sebagai santo pelindung para pengajar.

St. Waltrudis
Waltrudis dilahirkan di Belgia pada abad ketujuh. Ibunya, ayahnya serta saudarinya, semuanya telah dinyatakan kudus pula. Waltrudis tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Meskipun pada saat bersenang-senang, ia selalu mempunyai cara untuk memberikan kritik membangun kepada orang lain. Beberapa pemuda ingin menikahinya. Pada masa itu, orangtualah yang memilihkan suami bagi puteri mereka. Orangtuanya memilih Pangeran Madelgarius. Tidak ada yang lebih tepat selain dia, sebab ia kelak dinyatakan kudus juga. Ia adalah St. Vincentius Madelgarius. Pasangan tersebut dikaruniai empat orang anak. Menakjubkan, semuanya juga telah dinyatakan kudus!
St. Waltrudis merasa bahagia sebab Tuhan memberinya sebuah keluarga yang luar biasa. Tetapi, ia harus banyak menderita juga sepanjang hidupnya. Para wanita yang iri hati menyebarkan gosip-gosip yang amat jahat mengenainya. Para wanita itu tidak memiliki hati selembut dan semurni hati Waltrudis. Mereka tidak suka orang beranggapan bahwa Waltrudis lebih baik dari mereka. Jadi, mereka mengatakan Waltrudis berdoa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik hanya sebagai suatu cara untuk menutupi dosa-dosa rahasianya yang mengerikan. Tentu saja hal itu tidak benar, tetapi Waltrudis tidak berusaha membela diri. Ia merenungkan bagaimana Yesus harus menderita di salib, dan seturut teladan-Nya, ia mengampuni mereka semua.
Tak berapa lama setelah kelahiran anak mereka yang terakhir, St. Vincentius mengemukakan bahwa ia sungguh ingin hidup sebagai seorang rahib. Sesungguhnya, ia ingin melewatkan seluruh sisa hidupnya dalam biara. Waltrudis mengerti dan memberikan ijin kepada suaminya. St. Vincentius mengatur agar segala kebutuhan keluarganya tercukupi. Pasangan bahagia itu akan saling merindukan satu sama lain. Namun demikian, Waltrudis tidak hendak menahan suaminya. Ia rela berkurban bagi Tuhan.
Dua tahun kemudian, Waltrudis memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Ia banyak berkurban dan bermatiraga, serta murah hati kepada kaum miskin. Orang banyak datang kepadanya memohon nasehat rohani dan sebagian di antaranya disembuhkan. St. Waltrudis wafat pada tahun 688. Setelah kematiannya, banyak orang yang datang ke makam untuk mohon bantuan doanya, disembuhkan dengan cara yang ajaib.

St. Stanislaus
St. Stanislaus dilahirkan dekat Cracow, Polandia pada tahun 1030. Kedua orangtuanya telah berdoa tiga puluh tahun lamanya agar dikarunia seorang anak. Ketika Stanislaus lahir, mereka mempersembahkannya kepada Tuhan oleh sebab mereka amat bersyukur. Ketika dewasa, Stanislaus belajar di Paris, Perancis. Sesudah orangtuanya meninggal dunia, ia memberikan semua harta milik yang diwariskan orangtuanya kepada fakir miskin. Kemudian ia menjadi seorang imam.
Pada tahun 1072, Stanislaus ditahbiskan sebagai Uskup Cracow. (Sebelum menjadi paus, Yohanes Paulus II juga adalah Uskup Cracow, beberapa abad kemudian). Uskup Stanislaus sangat dicintai umatnya. Mereka terutama sekali menghargai caranya memberikan perhatian kepada kaum miskin, para janda dan anak-anak yatim piatu. Seringkali ia sendiri turun tangan melayani mereka.
Pada waktu itu Boleslaus II menjadi raja Polandia. Ia seorang yang kejam dan tidak bermoral. Rakyat takut kepadanya dan juga muak dengan gaya hidupnya. Mula-mula Uskup Stanislaus menasehatinya secara pribadi. Bapa Uskup seorang yang lemah lembut dan disegani. Tetapi, ia juga seorang yang jujur pula, dinyatakannya kepada raja segala perilakunya yang keliru. Tampaknya raja menyesal, namun sebentar saja ia sudah kembali pada cara hidupnya semula. Ia bahkan melakukan lebih banyak dosa yang mengerikan. Bapa Uskup kemudian mengucilkannya dari Gereja. Raja Boleslaus amat murka. Ia ingin membalas dendam, maka diperintahkannya dua orang pengawal untuk membunuh St. Stanislaus. Tiga kali mereka mencoba tetapi gagal. Kemudian raja sendiri dalam angkara murkanya bergegas menuju kapel uskup. Ia membunuh St. Stanislaus saat bapa uskup sedang mempersembahkan Misa. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 11 April 1079.
Tuhan melakukan banyak mukjizat setelah wafatnya St. Stanislaus. Semua orang menyebutnya martir. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Inosensius IV pada tahun 1253.

St. Yoseph Moscati
Kematian saudara laki-lakinya meninggalkan kesan mendalam dalam diri Yoseph. Ia bertanya pada Yesus dalam Ekaristi dan juga pada Bunda Maria mengapa itu harus terjadi. Penderitaan haruslah membawa hikmah. Yoseph segera menyadari akan pentingnya tenaga ahli dalam bidang kesehatan. Dan yang terpenting, ia menyadari bahwa dalam kehidupan ini kita berziarah menuju kehidupan kekal. Tergantung pada kita apakah kita mau menolong serta melayani orang lain selama kita dalam perjalanan. Yoseph bertanya-tanya dan berdoa apakah yang harus ia lakukan dalam hidupnya. Ia memutuskan bahwa ia ingin menolong orang lain dengan membantu menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Yoseph ingin menjadi seorang dokter.
Ketika usianya dua puluh tiga tahun, Dr. Moscati memulai pelayanannya di sebuah rumah sakit bagi pasien yang tak dapat disembuhkan di Naples. Kemudian ia buka praktek sendiri. Semua pasien selalu disambut, tanpa peduli apakah mereka sanggup membayar atau tidak. Dr. Yoseph akan menuliskan resep bagi para pasiennya yang miskin, lalu membayar biaya obat-obatan dari kantong pribadinya. Setiap hari terasa berat dan melelahkan, tetapi Dr. Moscati senantiasa lemah lembut dan penuh belas kasihan. Ia berusaha mendengarkan para pasiennya dengan penuh perhatian. Ia menghibur serta berdoa bagi mereka.
Dr. Moscati bukan hanya seorang dokter ahli, tetapi ia seorang kudus juga. Bagaimana mungkin? Setiap pagi ia pergi mengikuti Misa dan menyempatkan diri untuk berdoa. Kemudian dokter akan mengunjungi para pasiennya yang miskin di kampung-kampung kumuh Naples. Dari sana, ia akan pergi ke rumah sakit dan memulai aktivitasnya. Selama dua puluh empat tahun, Yoseph bekerja dan berdoa bagi para pasiennya. Ia mencurahkan segenap tenaganya bagi panggilan hidupnya. Suatu siang pada tanggal 12 April 1927, Dr. Moscati merasa tidak enak badan, jadi ia pergi ke kantornya dan beristirahat sejenak di kursinya. Di sanalah ia terserang stroke dan meninggal dunia. Usianya empat puluh tujuh tahun.
Dr. Yoseph Moscati dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25 Oktober 1987.

St. Lidwina
Lidwina artinya “penderitaan.” Lidwina seorang gadis Belanda. Ia dilahirkan pada tahun 1380 dan wafat pada tahun 1433. Ketika umurnya lima belas tahun, Lidwina mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Mungkin saja ia akan menjadi seorang biarawati kelak. Tetapi, suatu siang, terjadi peristiwa yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Lidwina pergi bermain sepatu luncur bersama teman-temannya. Salah seorang dari mereka secara tak sengaja menabraknya. Lidwina terpelanting keras ke atas es dan tulang rusuknya patah. Ia amat kesakitan. Kecelakaan itu menimbulkan masalah-masalah lain pula. Hari-hari selanjutnya, Lidwina mengalami sakit kepala yang amat hebat, mual, demam, rasa sakit di sekujur tubuhnya dan rasa haus.
Dengan menangis Lidwina mengatakan kepada ayahnya bahwa ia tidak sanggup lagi menahan sakit. Namun demikian, rasa sakit itu malahan menghebat. Bisul-bisul mulai bermunculan di wajah dan tubuhnya. Satu matanya menjadi buta. Dan pada akhirnya, ia tidak lagi dapat meninggalkan pembaringannya.
Lidwina sangat sedih dan putus asa. Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi padanya? Apa yang Tuhan inginkan darinya? Lagipula, apa yang masih dapat ia persembahkan kepada-Nya? Pastor Yohanes, imam parokinya, datang mengunjungi serta berdoa bersamanya. Pastor membantunya merenungkan segala penderitaan yang harus ditanggung Yesus. Lidwina mulai sadar akan hadiah indah yang akan ia persembahkan kepada Yesus: ia akan menderita bagi-Nya. Ia akan mempersembahkan segala penderitaannya untuk menghibur Dia, yang telah menderita begitu hebat di salib. Penderitaannya dipersembahkannya sebagai suatu doa yang indah kepada Tuhan. Sedikit demi sedikit Lidwina mulai mengerti.
Selama tiga puluh delapan tahun Lidwina menderita. Rasanya mustahil ia dapat bertahan hidup dalam keadaan yang sedemikian parah. Tetapi sungguh, ia bertahan. Tuhan memberinya penghiburan dalam berbagai cara. Lidwina baik hati terhadap semua orang yang datang mengunjunginya di kamar kecilnya yang sederhana. Ia berdoa kepada Tuhan dan rela menderita bagi ujub-ujub para tamunya. Mereka tahu bahwa Tuhan mendengarkan doa-doa Lidwina. Lidwina terutama amat cinta kepada Yesus dalam Ekaristi Kudus. Selama bertahun-tahun, ia hidup hanya dengan menyantap Komuni Kudus.

St. Benediktus Yoseph Labre
Orang kudus dari Perancis yang dilahirkan pada tahun 1748 ini menempuh jalan hidup yang aneh. Ia adalah putera seorang pemilik toko dan memperoleh pendidikan dari pamannya, seorang imam. Ketika imam yang baik itu meninggal dunia, Benediktus berusaha masuk biara. Tetapi, ia ditolak karena masih terlalu muda. Benediktus kemudian mencoba masuk biara lainnya. Ia menyukai kehidupan doa dan mati raga. Namun, ketika ia masuk biara, Benediktus menjadi kurus dan lemah. Maka, dinasehatkan kepadanya agar ia pulang ke rumah dan hidup sebagai seorang Kristen yang baik. Benediktus pulang dan perlahan-lahan kesehatannya pulih kembali. Ia berdoa mohon bantuan Tuhan. Kemudian Benediktus merasa bahwa Tuhan telah menjawab doanya. Ia akan menjadi seorang peziarah, seorang yang mengadakan perjalanan suci dengan berdoa dan bermati raga. Sebagai peziarah, Benediktus akan mengunjungi tempat-tempat suci yang termashyur di Eropa.
Benediktus memulai perjalanannya dengan berjalan kaki. Ia pergi dari satu gereja ke ke gereja lainnya. Ia mengenakan jubah sederhana, sebuah salib di dada dan rosario di lehernya. Ia tidur di emperan jalan. Makanan yang disantapnya hanyalah yang diberikan orang-orang kepadanya. Jika mereka memberinya uang, ia akan memberikannya kepada orang-orang miskin. “Ransel”nya hanyalah sebuah kantong. Di dalamnya ia menyimpan Kitab Suci, juga medali-medali dan buku-buku rohani yang akan dibagikannya kepada orang lain. Perhatian St. Benediktus sama sekali tidak tertuju pada pemandangan indah di daerah-daerah yang ia kunjungi. Satu-satunya yang menarik baginya adalah gereja-gereja di mana Yesus tinggal dalam Sakramen Mahakudus.
Tahun-tahun berlalu, St. Benediktus tampak semakin menyerupai seorang pengemis. Ia compang-camping dan kotor. Ia makan sisa-sisa roti dan kulit kentang. Ia tidak pernah minta sesuatu yang membuatnya merasa lebih nyaman. Di beberapa tempat, anak-anak melemparinya dengan batu serta mengolok-oloknya. Orang-orang yang tidak mengenalnya cenderung menghindarinya. Tetapi, apabila St. Benediktus sudah bersujud di hadapan tabernakel, ia demikian khusuk bagaikan patung. Wajahnya yang pucat dan kuyu menjadi bersinar-sinar. Ia akan berbicara kepada Yesus dan Bunda Maria. Ia berbisik, “Bunda Maria, o Bundaku!” Ia sungguh sangat bahagia ketika bersatu dengan Yesus dan Bunda Maria.
Benediktus wafat pada tahun 1783 dalam usia tiga puluh lima tahun. Kesucian pengemis kudus ini segera tersebar luas. Perjalanannya telah selesai. Ziarahnya telah berakhir dan kini ia tinggal bersama Yesus dan Bunda Maria untuk selamanya. Seabad setelah wafatnya, St. Benediktus Yoseph Labre dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII pada tahun 1883.

B. Maria dari Inkarnasi
Barbara dilahirkan di Perancis pada tahun 1566. Ia menikah dengan Petrus Acarie ketika usianya tujuh belas tahun. Barbara dan suaminya mencintai iman Katolik mereka dan mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Pasangan tersebut dikaruniai enam orang anak dan keluarga mereka hidup bahagia. Barbara berusaha menjadi sorang isteri dan ibu yang baik. Keluarganya belajar dari Barbara bagaimana mencintai doa dan melakukan karya belas kasih. Suatu ketika, suaminya secara tidak adil dituduh melakukan suatu kejahatan. Barbara sendiri datang menyelamatkannya. Ia pergi ke pengadilan, dan seorang diri saja, berhasil membuktikan bahwa suaminya tidak bersalah.
Meskipun Barbara sibuk dengan urusan keluarganya sendiri, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk memberi makan mereka yang kelaparan. Ia mengajarkan iman kepada yang lain. Ia menolong mereka yang sakit dan sekarat. Dengan lemah lembut ia mendorong mereka yang hidup dalam dosa agar berbalik dari cara hidupnya. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya itu adalah karya belas kasih.
Ketika suaminya meninggal dunia, Barbara masuk Ordo Karmelit. Di sanalah ia melewatkan empat tahun sisa hidupnya sebagai seorang biarawati. Ketiga puterinya menjadi biarawati Karmelit juga. Nama yang dipilih Barbara sebagai biarawati adalah Suster Maria dari Inkarnasi. Dengan penuh sukacita ia bekerja di dapur biara di antara periuk dan panci. Ketika puterinya diangkat menjadi pemimpin biara, Beata Maria dengan rela hati taat kepadanya. Demikian besar kerendahan hatinya, hingga menjelang ajalnya ia berkata: “Tuhan mengampuni aku karena teladan buruk yang kutinggalkan bagimu.” Para biarawati tentu saja terperanjat mendengarnya, sebab mereka tahu betapa ia telah berusaha keras untuk hidup kudus. Beata Maria wafat pada tahun 1618 dalam usia lima puluh dua tahun.

St. Agnes dari Montepulciano
S. Agnes dilahirkan dekat kota Montepulciano, Italia, pada tahun 1268. Ketika usianya baru sembilan tahun, ia memohon kepada ayah ibunya untuk diijinkan tinggal di biara dekat tempat tinggal mereka. Agnes amat senang bersama para biarawati. Mereka melewatkan hidup mereka dalam doa dan ketenangan. Mereka bekerja keras juga. Meskipun Agnes masih muda, ia mengerti mengapa para biarawati itu bisa hidup dan berdoa dengan baik. Sebab, mereka ingin bersatu dengan Yesus.
Tahun-tahun berlalu. St. Agnes melewati masa novisiat. Ia seorang biarawati yang baik sehingga para biarawati lainnya senang dengan kehadirannya. Agnes berdoa dengan sepenuh hati. Ia memberikan teladan yang baik kepada para biarawati. Beberapa gadis datang untuk bergabung bersama mereka. Agnes dan para biarawati itu termasuk dalam Ordo Para Pengkhotbah, yang biasa disebut Dominikan.
Beberapa tahun kemudian, Agnes dipilih menjadi pemimpin atau “priorin” biara. Ia berusaha adil dan jujur kepada semua biarawati. Ia selalu mencamkan dalam hati bahwa segala sesuatu ia lakukan bagi Yesus. Ia percaya bahwa Yesus Sendiri yang sesungguhnya mengurus biara. Ia yang memelihara mereka.
Moeder Agnes melakukan mati raga yang keras. Ia senantiasa lemah lembut dan baik hati, meskipun terkadang perasaan hatinya tidak demikian. Tuhan memenuhi Agnes dengan sukacita dan sekali waktu menganugerahinya dengan karunia-karunia rohani. Suatu ketika, Ia bahkan mengijinkan Agnes membopong Kanak-kanak Yesus dalam pelukannya.
Agnes seringkali menderita sakit. Tetapi, ia selalu sabar, bahkan jika penyakitnya amat parah sekalipun. Ia tidak pernah mengeluh ataupun mengasihani diri sendiri. Sebaliknya, ia mempersembahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Menjelang akhir hidupnya, para biarawati tahu bahwa keadaannya tidak akan membaik. Mereka merasa amat sedih. “Jika kalian mengasihi aku, tentulah kalian akan bergembira,” demikian kata Agnes, “sebab aku akan segera masuk dalam kemuliaan Yesus.”
St. Agnes wafat pada tahun 1317 dalam usia empat puluh sembilan tahun. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1726. Makamnya menjadi tempat ziarah. Banyak orang datang mohon bantuan doanya dan mohon pertolongannya. Salah seorang di antara para peziarah adalah St. Katarina dari Siena.

St. Anselmus
Anselmus dilahirkan di Italia utara pada tahun 1033. Dari rumahnya ia dapat melihat pegunungan Alpen. Ketika usianya lima belas tahun, Anselmus mencoba masuk biara di Italia. Tetapi, ayahnya menentangnya. Kemudian Anselmus jatuh sakit. Tak lama sesudah ia sembuh, ibunya meninggal dunia. Anselmus masih muda, ia juga kaya dan pandai. Segera saja ia melupakan niatnya untuk melayani Tuhan. Ia mulai hanya berpikir untuk bersenang-senang.
Tetapi, beberapa waktu kemudian, Anselmus menjadi bosan dengan cara hidupnya. Ia ingin sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih berguna. Ia pergi ke Perancis mengunjungi Abbas (= pemimpin biara) Lanfranc yang kudus dari biara Bec yang terkenal. Anselmus menjadi sahabat karib Lanfranc dan sang abbas menghantarnya kepada Tuhan. Ia juga membantu Anselmus dalam mengambil keputusan menjadi seorang biarawan Benediktin. Pada waktu itu Anselmus berusia dua puluh tujuh tahun.
Anselmus seorang peramah yang sangat mengasihi saudara-saudara sebiaranya. Mereka yang dulunya membencinya, segera menjadi teman-temannya. Anselmus menjadi abbas pada tahun 1078. Ketika ia harus meninggalkan Bec untuk ditahbiskan sebagai Uskup Agung Canterbury di Inggris, ia mengatakan kepada para biarawannya bahwa mereka akan selalu ada di hatinya.
Umat Inggris mengasihi dan menghormati Anselmus. Tetapi, Raja William II menganiayanya. Anselmus harus melarikan diri dalam pengasingan pada tahun 1097 dan juga tahun 1103. Raja William bahkan melarang Anselmus pergi ke Roma untuk memohon nasehat paus. Walaupun demikian, Anselmus pergi juga. Ia tinggal bersama paus hingga raja mangkat. Kemudian, ia kembali ke keuskupannya di Inggris.
Bahkan di tengah-tengah segala kesibukannya, St. Anselmus selalu menyempatkan diri untuk menulis. Buah penanya adalah buku-buku filsafat dan teologi yang amat berharga. Ia juga menuliskan banyak nasehat berguna mengenai Tuhan bagi para biarawan. Para biarawan itu amat gembira menerimanya. St. Anselmus sering mengatakan, “Apakah kamu ingin tahu rahasia hidup bahagia dalam biara? Lupakan dunia dan bergembiralah melupakannya. Biara sungguh merupakan surga di bumi bagi mereka yang hidup hanya bagi Yesus.” St. Anselmus wafat pada tanggal 21 April 1109. Ia dinyatakan sebagai Pujangga atau Doktor Gereja oleh Paus Klemens XI pada tahun 1720.
“Kalian mencari Tuhan, dan kalian mengetahui bahwa Ia adalah Yang Mahatinggi, dan karenanya tidaklah mungkin kalian dapat membayangkan sesuatu yang lebih sempurna dari-Nya. Kalian mengetahui bahwa Yang Mahatinggi itu adalah hidup itu sendiri, terang, kebijaksanaan, kebajikan, kebahagiaan kekal, dan rahmat abadi.” ~ St. Anselmus

St. Georgius
St. Georgius biasa digambarkan sedang membunuh seekor naga untuk menyelamatkan seorang wanita cantik. Naga melambangkan kejahatan. Wanita melambangkan kebenaran Allah yang kudus. St. Georgius membunuh sang naga sebab ia telah memenangkan pertarungan melawan iblis.
Tidak banyak yang diketahui mengenai St. Georgius kecuali bahwa ia seorang martir. Ia adalah seorang prajurit dalam bala tentara Diocletian, seorang kaisar kafir. Diocletian amat benci pada umat Kristiani. Ia membunuh setiap orang Kristen yang dijumpainya.
Dikisahkan bahwa St. Georgius adalah salah seorang prajurit kesayangan Diocletian. Ketika Georgius menjadi seorang Kristen, ia menghadap kaisar dan mengecamnya karena tindakannya yang amat kejam. Kemudian, Georgius melepaskan jabatannya dalam dinas tentara Romawi. St. Georgius membayar keberaniannya itu dengan harga yang amat mahal. Ia disiksa dengan kejam lalu dipenggal kepalanya.
Begitu gagah berani dan begitu penuh sukacita St. Georgius menyatakan imannya hingga orang merasa tergugah semangatnya apabila mendengarkan kisah hidupnya. Banyak lagu dan puisi ditulis untuk mengenang kemartirannya. Para tentara, terutama, selalu berdevosi kepadanya. St. Georgius diangkat sebagai santo pelindung Inggris pada tahun 1222.

St. Fidelis dari Sigmaringen
Namanya ialah Mark Rey. Ia dilahirkan di Jerman pada tahun 1578. Mark menuntut ilmu di Universitas Freigburg yang termashyur untuk menjadi seorang pengacara. Semasa masih mahasiswa, ia sering mengunjungi mereka yang sakit dan yang miskin. Setiap hari ia selalu meluangkan waktu untuk berdoa. Saudaranya memutuskan untuk menjadi seorang imam Fransiskan Kapusin. Sebaliknya, Mark menamatkan kuliahnya dan menjadi seorang pengacara terkenal.
Mark seringkali membela perkara kaum miskin yang tidak memiliki uang untuk membayar. Oleh sebab itulah ia dijuluki, “Pengacara Orang Miskin.” Karena Mark seorang yang jujur, ia menjadi muak dengan ketidakjujuran yang terjadi dalam pengadilan. Ia memutuskan untuk mengikuti jejak saudaranya dan menjadi seorang imam. Mark menerima jubahnya dan memilih nama Fidelis, yang berarti “setia.”
Pastor Fidelis bersukacita ketika ia diutus ke Swiss, di sana banyak orang yang memusuhi iman Katolik. Pastor Fidelis ingin memenangkan jiwa mereka dan membawa mereka kembali ke pangkuan Gereja. Khotbah-khotbahnya membawa hasil yang menakjubkan. Banyak orang bertobat. Musuh Gereja Katolik amat marah dengan keberhasilannya.
St. Fidelis tahu bahwa hidupnya ada dalam bahaya, namun demikian ia terus saja berkhotbah. Suatu hari, tengah ia berkhotbah, sebuah peluru ditembakkan, tetapi meleset. Pastor Fidelis tahu bahwa ia harus meninggalkan kota saat itu juga. Dan ia melakukannya, tetapi, saat ia sedang dalam perjalanan ke kota terdekat, gerombolan orang yang marah menghentikannya. Mereka memerintahkannya untuk mengingkari iman Katolik. St. Fidelis menjawab dengan tegas, “Aku tidak akan mengingkari iman Katolik.” Orang-orang menyerangnya dengan tongkat, pentung dan senjata lainnya.
Dalam keadaan terluka sang imam memaksakan dirinya untuk berlutut. Ia berdoa: “Tuhan, ampunilah musuh-musuhku. Mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tuhan Yesus, kasihanilah aku! Bunda Maria yang kudus, Bundaku, tolonglah aku!” Orang banyak itu kembali menyerangnya hingga mereka yakin bahwa ia sudah tewas.
St. Fidelis wafat sebagai martir pada tahun 1622 dalam usia empat puluh empat tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Benediktus XIV pada tahun 1746.

St. Markus, Pengarang Injil
Markus hidup pada jaman Yesus. Ia bukan salah seorang dari kedua belas rasul Kristus, melainkan saudara sepupu St. Barnabas, rasul. Markus menjadi terkenal karena ia menulis satu dari keempat Injil. Sebab itu ia disebut pengarang Injil. Injil Markus cukup singkat, tetapi memberi banyak keterangan terperinci yang tidak terdapat dalam Injil lainnya. Ketika masih muda, Markus pergi bersama dua rasul besar, Paulus dan Barnabas, dalam suatu perjalanan kerasulan untuk mewartakan ajaran Yesus pada bangsa-bangsa lain. Tetapi, sebelum perjalanan berakhir, tampaknya Markus berselisih dengan St. Paulus. Markus mendadak kembali ke Yerusalem. Paulus dan Markus akhirnya dapat mengatasi perselisihan mereka. Malahan, dari penjara di Roma, Paulus menulis agar Markus datang untuk menghibur serta membantunya.
Markus juga menjadi murid kesayangan St. Petrus, paus pertama. St. Petrus menyebut St. Markus sebagai “anakku.” Karena itu, sebagian orang beranggapan bahwa Petrus hendak mengatakan bahwa dialah yang membaptis Markus. Markus ditahbiskan sebagai uskup dan diutus ke Alexandria, Mesir. Di sana ia mempertobatkan banyak orang. Ia bekerja keras untuk mewartakan kasih bagi Yesus dan Gereja-Nya. Menurut tradisi ia harus mengalami penderitaan yang panjang serta menyakitkan sebelum ia wafat.
Reliqui St. Markus dibawa ke Venesia, Italia. Ia diangkat sebagai santo pelindung kota Venesia. Peziarah pergi ke Basilika St. Markus yang indah untuk menghormatinya serta mohon bantuan doanya.

St. Zita
St. Zita dikenal sebagai santa pelindung para pembantu rumah tangga. Ia dilahirkan di dusun Monte Sagrati, Italia, pada tahun 1218. Orangtuanya sangat saleh dan membesarkan Zita dengan cinta kasih Kristiani. Merupakan tradisi pada waktu itu bahwa keluarga-keluarga miskin akan mengirimkan anak-anak gadis mereka kepada keluarga-keluarga yang terpercaya, yang mampu mempekerjakan mereka. Para gadis itu akan tinggal dalam keluarga tersebut untuk beberapa waktu lamanya dan dipekerjakan untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga. Zita pergi bekerja di rumah keluarga Fatinelli di Lucca ketika usianya dua belas tahun.
Bapak dan Ibu Fatinelli adalah orang yang baik, mereka memiliki beberapa pekerja. Zita senang dapat bekerja dan mengirimkan upahnya kepada orangtuanya. Ia berusaha hidup penuh tanggung jawab. Ia membiasakan diri untuk berdoa di luar jadwal kerjanya. Setiap pagi ia bangun pagi-pagi benar agar dapat ambil bagian dalam perayaan Misa.
Zita seorang pekerja yang rajin. Ia merasa bahwa bekerja adalah bagian dari hidupnya. Tetapi pekerja-pekerja lain iri hati kepadanya. Sedapat mungkin mereka bekerja sedikit saja. Mereka mulai mencari-cari kesalahan Zita serta memusuhinya tanpa sepengetahuan majikan mereka. Zita merasa sedih, tetapi ia berdoa mohon kesabaran. Ia tidak pernah melaporkan mereka. Ia tetap melakukan tugas-tugasnnya sebaik mungkin tanpa peduli pendapat mereka.
Ketika seorang dari para pekerja berusaha menciumnya, Zita melawan. Laki-laki itu meninggalkan ruangan dengan cakaran-cakaran di wajahnya. Bapak Fatinelli menanyai Zita secara pribadi mengenai insiden tersebut. Dengan jujur Zita mengatakan apa yang telah terjadi. Setelah peristiwa itu, Zita diangkat sebagai kepala pengurus rumah tangga. Anak-anak Fatinelli pun dipercayakan kepadanya. Dan yang paling menyenangkan, para pekerja lainnya tidak lagi memusuhinya. Sebagian dari mereka malahan berusaha meniru teladannya.
Zita melewatkan seluruh hidupnya bersama keluarga Fatinelli. Sementara para pekerja lainnya datang dan pergi, ia tetap setia. Ia melayani majikannya dengan cinta kasih. Ia mengasihi mereka seperti ia mengasihi keluarganya sendiri. Dengan teladannya, Zita membantu orang menyadari bahwa bekerja itu menyenangkan apabila dilakukan dengan semangat cinta kasih Kristiani. Zita wafat dengan tenang pada tanggal 27 April 1278 dalam usia enam puluh tahun.

St. Petrus Chanel
St. Petrus Chanel dilahirkan dekat Belley, Perancis pada tahun 1803. Sejak berumur tujuh tahun, ia menggembalakan kawanan domba ayahnya. Meskipun miskin, ia seorang anak yang cerdas dan saleh. Suatu hari, seorang imam paroki yang baik hati berjumpa dengannya. Imam begitu terkesan padanya hingga ia meminta ijin dari orangtuanya agar diperbolehkan menyediakan pendidikan bagi Petrus. Di sekolahnya, dan kelak di seminari, Petrus belajar dengan tekun. Ketika telah ditahbiskan sebagai imam, ia ditugaskan di sebuah paroki di mana hanya ada sedikit umat Katolik yang masih mengamalkan imannya. Pastor Chanel seorang pendoa. Ia baik hati serta lemah lembut pada setiap orang. Hanya dalam waktu tiga tahun, terjadi perubahan besar di paroki. Banyak orang kembali mengasihi Yesus dan Gereja-Nya dengan segenap hati.
St. Petrus sangat ingin menjadi seorang misionaris. Ia bergabung dengan ordo religius Serikat Maria (Misionaris-misionaris Maria). Ia berharap agar diutus untuk mewartakan Injil kepada mereka yang masih belum percaya kepada Tuhan. Beberapa tahun kemudian keinginannya terkabul. Ia dan sekelompok misionaris Maria diutus ke kepulauan Lautan Teduh. Pastor Chanel dan seorang broeder ditugaskan di pulau Futuna. Di sana, penduduk dengan senang hati mendengarkan khotbah Pastor Chanel. “Orang ini mengasihi kita,” demikian kata seorang penduduk. “Dan ia sendiri mengamalkan apa yang ia ajarkan kepada kita.”
Sayang sekali, kepala suku Futuna menjadi iri hati atas keberhasilan sang imam. Ketika puteranya sendiri dibaptis, ia menjadi amat murka. Ia mengirim sepasukan prajurit untuk membunuh sang misionaris. Sementara terbaring sekarat, yang dikatakan imam hanyalah, “Aku baik-baik saja.” St. Petrus Chanel dibunuh pada tanggal 28 April 1841. Tak lama sesudah kemartirannya, seluruh penduduk pulau telah menjadi Kristen. Petrus dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1954.

St. Katarina dari Siena
St. Katarina dilahirkan pada tahun 1347. Santa yang termashyur ini adalah pelindung Italia, tanah airnya. Katarina adalah anak bungsu dalam keluarga yang dikaruniai dua puluh lima anak. Ayah dan ibunya menghendaki agar ia menikah dan hidup bahagia. Tetapi, Katarina hanya ingin menjadi seorang biarawati. Untuk menyatakan tekadnya, ia memotong rambutnya yang panjang dan indah. Ia ingin menjadikan dirinya tidak menarik. Orangtuanya amat jengkel dan seringkali memarahinya. Mereka juga menghukumnya dengan memberinya pekerjaan rumah tangga yang paling berat. Tetapi Katarina pantang menyerah. Pada akhirnya, orangtuanya berhenti menentangnya.
St. Katarina seorang yang amat jujur dan terus terang di hadapan Yesus. Suatu ketika ia bertanya kepada-Nya, “Di manakah Engkau, Tuhan, ketika aku mengalami cobaan yang begitu mengerikan?” Yesus menjawab, “Puteri-Ku, Aku ada dalam hatimu. Aku membuatmu menang dengan rahmat-Ku.” Suatu malam, sebagian besar penduduk Siena ke luar ke jalan-jalan untuk suatu perayaan. Yesus menampakkan diri kepada Katarina yang sedang berdoa seorang diri dalam kamarnya. Bersama Yesus, datang juga Bunda Maria. Bunda Maria memegang tangan Katarina lalu memberikannya kepada Putra-nya. Yesus menyematkan sebentuk cincin di jari tangan Katarina dan ia menjadi pengantin-Nya.
Pada masa itu, Gereja mengalami banyak sekali masalah. Banyak pertikaian terjadi di seluruh Italia. Katarina menulis surat-surat kepada para raja dan ratu. Ia bahkan datang menghadap para penguasa agar berdamai dengan paus dan mencegah peperangan. Katarina meminta paus untuk meninggalkan Avignon, Perancis dan kembali ke Roma untuk memimpin Gereja. Ia mengatakan bahwa itulah yang dikehendaki Allah. Bapa Suci mendengarkan nasehat St. Katarina serta melakukan apa yang dikatakannya.
Katarina tidak pernah lupa bahwa Yesus ada dalam hatinya. Melalui dia, Yesus memelihara orang-orang sakit yang dirawatnya. Melalui dia, Yesus menghibur para tahanan yang dikunjunginya di penjara. Santa besar ini wafat di Roma pada tahun 1380. Usianya baru tiga puluh tiga tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. St. Katarina menerima kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani sepanjang masa hidupnya yang singkat.
“Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu.” ~ St. Katarina dari Siena

S. Pius V
Paus yang kudus ini dilahirkan di Italia pada tahun 1504. Ia dibaptis dengan nama Antonius Ghislieri. Antonius sungguh ingin menjadi seorang imam, tetapi tampaknya angan-angannya itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Orangtuanya miskin. Mereka tidak punya cukup uang untuk menyekolahkannya. Suatu hari, dua orang imam Dominikan datang ke rumahnya dan bertemu dengan Antonius. Para imam itu amat suka kepadanya hingga mereka bersedia mengurus pendidikannya. Demikianlah, pada usia empat belas tahun, Antonius bergabung dalam Ordo Dominikan. Ia memilih nama “Mikhael”. Setelah menamatkan studinya, ia ditahbiskan sebagai imam. Kemudian ia ditahbiskan pula sebagai uskup dan kardinal.
Dengan gagah berani ia mempertahankan ajaran-ajaran Gereja dari mereka yang berusaha menentangnya. Ia senantiasa hidup dengan bermatiraga. Ketika usianya enam puluh satu tahun, ia dipilih menjadi paus. Ia memilih nama Paus Pius V. Dulu ia seorang bocah penggembala domba yang miskin. Sekarang ia adalah pemimpin tertinggi Gereja Katolik di seluruh dunia. Walaupun demikian, paus tetap rendah hati dan sederhana seperti sedia kala. Ia masih mengenakan jubah Dominikan-nya yang putih, jubah tua yang selama ini dikenakannya. Dan tak seorang pun dapat membujuknya untuk menggantinya.
Paus Pius V harus menghadapi banyak tantangan. Ia menimba kekuatan dari salib Yesus. Setiap hari ia merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pada waktu itu, bangsa Turki berusaha menguasai seluruh wilayah Kristen. Mereka mempunyai armada angkatan laut yang hebat di Laut Tengah. Bala tentara Kristen bertempur melawan mereka di suatu wilayah yang disebut Lepanto, dekat Yunani. Sejak saat bala tentaranya keluar untuk berperang, Bapa Suci terus-menerus berdoa rosario. Ia mendorong umatnya untuk melakukan hal yang sama. Puji syukur atas bantuan Bunda Maria, bala tentara Kristen menang mutlak atas musuhnya. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Bunda Maria, St. Pius V menetapkan Pesta SP Maria Ratu Rosario yang kita rayakan setiap tanggal 7 Oktober.
Paus Pius V wafat di Roma pada tanggal 1 Mei 1572. Pestanya dirayakan pada hari ini karena tanggal 1 Mei adalah pesta St. Yusuf Pekerja. Pius V dinyatakan kudus oleh Paus Klemens XI pada tahun 1712.
St. Atanasius
Atanasius dilahirkan sekitar tahun 297 di Alexandria, Mesir. Ia membaktikan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Hal ini amat penting, karena sekelompok orang yang disebut Arian menyangkalnya. Sebelum ia menjadi seorang imam, Atanasius telah banyak membaca buku tentang iman. Oleh sebab itulah dengan mudah ia dapat menunjukkan kelemahan-kelemahan ajaran bidaah Arian.
Atanasius ditahbiskan sebagai Uskup Agung Alexandria ketika usianya masih belum tiga puluh tahun. Selama empat puluh enam tahun, ia menjadi seorang gembala yang menggembalakan umatnya dengan gagah berani. Empat orang kaisar Romawi tidak dapat memaksanya berhenti menuliskan penjelasan-penjelasannya yang terang dan jelas mengenai iman kita yang kudus. Para musuhnya menganiayanya dengan berbagai cara.
Lima kali ia diusir dari keuskupannya sendiri. Pengasingannya yang pertama berlangsung dua tahun lamanya. Ia dibuang ke kota Trier pada tahun 336. Seorang uskup yang baik, St. Maximinius, menyambutnya dengan hangat. Pengasingan-pengasiangan lainnya berlangsung lebih lama. Atanasius dikejar-kejar oleh orang-orang yang hendak membunuh dia. Di salah satu pengasingannya, para rahib menyembunyikannya di padang gurun selama tujuh tahun. Para musuhnya tidak dapat menemukannya.
Suatu ketika, para prajurit kaisar mengejar Atanasius hingga ke Sungai Nil. “Mereka berhasil mengejar kita!” teriak para sahabat uskup. Tetapi, Atanasius sama sekali tidak khawatir. “Putar balik perahu kita,” katanya tenang, “mari menyongsong mereka.” Para prajurit di perahu yang lain berteriak, “Apakah kalian melihat Atanasius?” Jawab mereka: “Kalian tidak jauh darinya!” Perahu musuh melaju sekencang-kencangnya dan Atanasius pun selamatlah.
Umat di Alexandria mengasihi uskup agung mereka yang baik hati itu. Ia seperti seorang bapa bagi mereka. Sementara tahun-tahun berlalu, mereka menghargainya lebih dan lebih lagi, betapa banyak ia telah menderita bagi Yesus dan Gereja. Umatlah yang mengatur serta mengusahakan agar ia dapat hidup dengan tenang. Ia menghabiskan tujuh tahun terakhir hidupnya dengan tenang bersama mereka. Para musuh tetap mengejarnya, namun tak pernah dapat menemukanya. Selama masa itu, St. Atanasius menulis tentang Riwayat Hidup St. Antonius Pertapa. Antonius telah menjadi sahabat dekatnya sejak Atanasius masih muda. St. Atanasius wafat dalam damai pada tanggal 2 Mei 373. Ia tetap menjadi salah seorang santo terbesar dan tergagah sepanjang masa.

St. Filipus & St. Yakobus
Kedua orang kudus ini termasuk dalam kedua belas rasul Yesus. Filipus merupakan salah seorang dari para rasul-Nya yang pertama. Ia dilahirkan di Betsaida, di wilayah Galilea. Tuhan Yesus bertemu dengannya dan berkata, “Ikutlah Aku!” Filipus sangat bersukacita bersama Yesus. Ia ingin membagikan sukacitanya itu kepada sahabatnya, Natanael. “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi,” kata Filipus, “yaitu Yesus dari Nazaret.”
St. Filipus Natanael tidak ikut bergembira. Nazaret hanyalah sebuah St. Yakobus Alfeus
kota kecil, dan bukannya suatu kota besar dan penting seperti Yerusalem. Jadi, kata Natanael, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Tetapi, Filipus tidak marah mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia hanya mengatakan, “Mari dan lihatlah!” Natanael pergi menjumpai Yesus. Setelah berbicara dengan-Nya, Natanael juga menjadi seorang pengikut Kristus yang setia.
St. Yakobus adalah putera Alfeus dan saudara sepupu Yesus. Setelah kenaikan Yesus ke surga, Yakobus menjadi Uskup Yerusalem. Orang banyak sangat menghormatinya dan memberinya julukan “Yakobus si Adil,” yang berarti “Yakobus yang Kudus.” Ia juga dijuluki “Yakobus Muda,” karena ia lebih muda dari seorang rasul lainnya yang juga bernama Yakobus. Yakobus yang lain itu dijuluki “Yakobus Tua” karena ia lebih tua usianya.
St. Yakobus seorang yang lemah lembut dan pemaaf. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk berdoa. Terus-menerus ia memohon kepada Tuhan untuk mengampuni mereka yang menganiaya para pengikut Kristus. Bahkan ketika para penganiaya umat Kristen menjatuhkan hukuman mati atasnya, Yakobus memohonkan ampun bagi mereka kepada Tuhan. St. Yakobus wafat sebagai martir pada tahun 62.

B. Katarina dari St. Agustinus
Katarina dilahirkan pada tanggal 3 Mei 1632 di sebuah desa kecil di Perancis. Ia dibaptis pada hari itu juga. Keluarga Katarina adalah keluarga Katolik yang saleh. Kakek dan neneknya memberikan teladan terutama dalam ketulusan mereka merawat orang-orang miskin. Katarina menyaksikan dengan mata terbelalak sementara neneknya mengajak seorang pengemis cacat masuk ke dalam rumah mereka. Neneknya itu mempersilakan sang pengemis mandi, memberinya pakaian bersih serta menyediakan hidangan lezat. Ketika Katarina dan kakek neneknya duduk bersama sekeliling perapian malam itu, mereka mendaraskan doa Bapa Kami keras-keras. Mereka mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat-Nya.
Karena tidak tersedia rumah sakit di kota mereka yang kecil, orang-orang sakit dirawat hingga sembuh kembali di rumah kakek nenek Katarina. Katarina mulai menyadari bahwa penyakit dan penderitaan membutuhkan kesabaran. Ia masih seorang gadis kecil, tetapi ia berdoa mohon pada Yesus agar mengurangi penderitaan orang-orang. Ketika masih gadis belia, Katarina bergabung dalam ordo baru Biarawati Santo Agustinus. Mereka merawat orang-orang sakit di rumah sakit. Suster Katarina menerima jubahnya pada tanggal 24 Oktober 1646. Pada hari yang sama, kakak perempuannya mengucapkan kaulnya. Pada tahun 1648, Sr Katarina mendengar para imam misionaris meminta para biarawati untuk datang ke Perancis Baru atau Kanada, yang merupakan daerah misi. Saudari Katarina dipilih sebagai salah seorang dari para biarawati pertama dari ordo mereka yang akan pergi sebagai misionaris ke Kanada. Sr Katarina belum genap enambelas tahun usianya, tetapi ia mohon dengan sangat agar diperkenankan ikut serta. Sr Katarina mengucapkan kaulnya pada tanggal 4 Mei 1648. Keesokan harinya ia berlayar ke Kanada, yaitu sehari sebelum ulang tahunnya yang keenambelas.
Perjuangan hidup terasa berat di Quebec, Kanada. Sr Katarina mengasihi masyarakat di sana. Orang-orang Indian sangat berterimakasih atas sikapnya yang riang gembira. Ia memasak dan merawat mereka yang sakit di rumah sakit ordo mereka yang miskin. Tetapi, Sr Katarina merasa takut juga. Orang-orang Indian dari suku Iroquois membantai orang serta membakar desa-desa. Katarina berdoa kepada St. Yohanes Brebeuf, salah seorang dari para imam Yesuit yang belum lama dibunuh oleh suku Iroquois pada tahun 1649. Ia berdoa mohon bantuan St. Brebeuf agar ia setia pada panggilannya. Sr Katarina mendengarnya berbicara dalam hatinya, memintanya untuk tetap tinggal. Sementara itu, makanan mulai sulit didapat dan musim dingin luarbiasa menggigit. Sebagian dari para biarawati tidak tahan menghadapi kehidupan yang keras itu, ditambah lagi rasa takut yang terus-menerus karena ancaman maut. Sayang sekali, mereka kembali ke Perancis. Sr Katarina juga takut. Kadang-kadang ia merasa sungguh sulit berdoa. Dan sementara ia tersenyum kepada semua orang yang ia rawat dengan penuh kasih sayang di bangsal-bangsal rumah sakit, ia merasa sedih. Pada saat itulah, ketika segalanya tampak gelap baginya, ia mengucapkan janji untuk tidak pernah meninggalkan Kanada. Ia berjanji untuk tetap tinggal, melakukan karya belas kasihannya hingga akhir hayat. Saat mengucapkan janjinya, Katarina baru berusia duapuluh dua tahun.
Meskipun orang harus dengan usaha keras merintis kehidupan di koloni Perancis itu, banyak juga pendatang. Gereja berkembang. Tuhan memberkati daerah baru tersebut dengan lebih banyak misionaris. Pada tahun 1665, Sr Katarina menjadi pembimbing novis dalam komunitasnya. Ia tetap membaktikan dirinya dalam doa dan pelayanan rumah sakit hingga akhir hidupnya. Sr Maria Katarina dari St. Agustinus wafat pada tanggal 8 Mei 1668. Usianya tiga puluh enam tahun. Ia dinyatakan sebagai “beata” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.

B. Damianus de Veuster
Yoseph “Jeff” de Veuster dilahirkan pada tahun 1840, putera seorang petani Belgia. Jeff dan saudara laki-lakinya, Pamphile, masuk Kongregasi Hati Kudus Yesus. Para misionaris Hati Kudus Yesus berkarya demi iman Katolik di kepulauan Hawaii. Jeff memilih nama “Damian.” Broeder Damian seorang yang tinggi dan gagah. Tahun-tahun yang dilewatkannya dengan bekerja di pertanian keluarga telah menjadikan tubuhnya sehat dan kuat. Semua orang sayang padanya, sebab ia baik serta murah hati.
Hawaii membutuhkan lebih banyak misionaris berkarya di sana. Jadi, pada tahun 1863, serombongan imam serta broeder Hati Kudus Yesus dipilih untuk diutus ke sana. Pamphile, saudara Damian, termasuk salah seorang di antara mereka. Beberapa saat menjelang keberangkatan, Pamphile terserang demam typhoid. Ia tidak lagi dapat dipertimbangkan untuk diberangkatkan ke daerah misi. Broeder Damian, yang saat itu masih dalam pendidikan untuk menjadi imam, mohon agar diijinkan menggantikan tempatnya. Imam kepala mengabulkan permohonannya. Broeder Damian pulang ke rumah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya. Kemudian ia menumpang kapal dari Belgia ke Hawaii, suatu perjalanan yang memakan waktu delapan belas minggu lamanya. Damian menyelesaikan pendidikannya dan ditahbiskan sebagai imam di Hawaii. Ia berkarya selama delapan tahun di tengah umatnya di tiga daerah. Ia melakukan perjalanan dengan menunggang kuda atau dengan kano (= semacam sampan).
Umat menyayangi imam yang berperawakan tinggi dan murah hati ini. Damian melihat bahwa umatnya senang ikut ambil bagian dalam Misa dan ibadat. Ia menggunakan sedikit uang yang berhasil dikumpulkannya untuk membangun kapel. Ia sendiri bersama umat paroki setempat membangun kapel mereka.
Bagian paling mengagumkan dalam hidup Damian akan segera dimulai. Uskup meminta seorang imam sukarelawan untuk pergi ke pulau Molokai. Nama itu membuat orang bergidik ketakutan. Mereka tahu bahwa bagian dari pulau itu yang disebut Kalawao merupakan “kuburan hidup” bagi orang-orang kusta. Tidak banyak yang diketahui tentang penyakit kusta dan rasa ngeri terjangkiti kusta menyebabkan para penderitanya dikucilkan. Banyak di antara mereka yang hidup putus asa. Tidak ada imam, tidak ada penegak hukum di Molokai, tidak ada fasilitas kesehatan. Pemerintah Hawaii mengirimkan makanan serta obat-obatan, tetapi jumlahnya tidak mencukupi. Lagi pula tidak ada sarana yang dikoordinir untuk membagikan barang-barang tersebut.
Pastor Damian pergi ke Molokai. Ia terguncang melihat kemelaratan, korupsi serta keputusasaan di sana. Walau demikian, ia bertekad bahwa baginya tidak ada kata menyerah. Penduduk Molokai sungguh amat membutuhkan pertolongan. Pastor Damian pergi ke Honolulu guna berhadapan dengan anggota majelis kesehatan. Mereka mengatakan bahwa Pastor Damian tidak diijinkan pulang pergi ke Molokai demi alasan bahaya penularan kusta. Alasan sesungguhnya adalah bahwa mereka tidak menghendaki kehadirannya di Molokai. Ia akan menimbulkan banyak masalah bagi mereka. Jadi, Pastor Damian harus menetapkan pilihan: jika ia kembali ke Molokai, ia tidak akan pernah dapat meninggalkan tempat itu lagi. Para majelis kesehatan itu rupanya belum mengenal Pastor Damian. Ia memilih untuk tinggal di Molokai!
Pastor Damian berkarya delapan belas tahun lamanya hingga wafatnya di Molokai. Dengan bantuan para penderita kusta dan para sukarelawan, Molokai mulai berubah. Kata Molokai mempunyai arti yang sama sekali baru. Pulau Molokai menjadi pulau cinta kasih Kristiani. Lama kelamaan, Pastor Damian juga terjangkit penyakit kusta. Ia wafat pada tangal 15 April 1889 dalam usia empat puluh sembilan tahun dan dimakamkan di sana. Ia dinyatakan “beato” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994.

St. Antoninus
St. Antoninus hidup pada abad kelima belas. Sejak kecil ia telah menunjukkan bahwa ia memiliki kehendak baik serta kemauan keras. Menurut cerita, ketika usianya lima belas tahun, ia mohon diijinkan masuk biara Dominikan. Ia tampak muda dan kecil. Bapa Prior (pemimpin biara) berpikir sejenak dan kemudian berkata, “Aku akan menerimamu apabila kamu telah hapal `Dekret Gratia’ di luar kepala. `Dekret Gratia’ adalah sebuah buku yang tebalnya beberapa ratus halaman. Jadi, dengan kata lain, prior mengatakan “tidak” kepada Antoninus.
Tetapi, Antoninus menerima tantangan itu. Satu tahun kemudian dia kembali. Sulit dibayangkan betapa terperanjatnya Bapa Prior ketika mengetahui bahwa Antoninus telah menghafalkan seluruh dekret! Tak diragukan lagi, seketika itu juga ia diterima. (Namun demikian, bukanlah kemampuannya menghafal yang mengubah pikiran Prior, melainkan karena ia telah membuktikan kesungguhannya dalam menjawab panggilan hidupnya).
Meskipun usianya baru enam belas tahun, Antoninus terus mengejutkan banyak orang dengan cara hidupnya di biara. Sementara ia semakin dewasa, jabatan-jabatan penting silih berganti dipercayakan kepadanya. Antoninus menanamkan pengaruh yang baik kepada para rekan biarawan Dominikan. Mereka mengasihi serta menghormatinya. Hal ini terlihat nyata dalam hidup Beato Antonius Neyrot yang pestanya kita rayakan pada tanggal 10 April.

Pada bulan Maret 1446, Antoninus ditahbiskan sebagai Uskup Agung Florence, Italia. “Bapa kaum miskin” adalah julukan yang diberikan orang kepadanya. Tidak pernah ia menolak untuk memberikan pertolongan kepada siapa pun. Apabila ia tidak lagi mempunyai uang, ia akan memberikan pakaiannya, sepatunya, perabotannya atau satu-satunya keledainya. Berulang kali keledainya itu dijualnya untuk menolong orang lain. Dan berulang kali pula keledai itu ditebus oleh orang-orang kaya dan dikembalikan padanya. Tentu saja, ia akan menjualnya lagi untuk menolong orang-orang yang lain lagi! Seringkali St. Antoninus mengatakan, “Seorang penerus para rasul hendaknya tidak memiliki apa pun kecuali kekayaan kebajikan.” St. Antoninus wafat pada tahun 1459. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1523.

“Seorang penerus para rasul hendaknya tidak memiliki apa pun kecuali kekayaan kebajikan.” ~ St. Antoninus

St. Ignasius dari Laconi
Ignasius adalah putera seorang petani miskin di Laconi, Italia. Ia dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1701. Ketika usianya sekitar tujuh belas tahun, ia sakit parah. Ia berjanji, apabila ia sembuh kembali, ia akan menjadi seorang Fransiskan. Tetapi, ketika ia sungguh sembuh dari sakitnya, ayahnya meyakinkannya untuk menunda janjinya itu. Beberapa tahun kemudian, Ignasius nyaris tewas ketika ia kehilangan kendali atas kudanya. Namun, sekonyong-konyong, kuda itu berhenti berlari dan berderap dengan tenang. Ignasius yakin bahwa Tuhan telah menyelamatkan nyawanya. Ia bertekad untuk segera mengikuti panggilan hidup religiusnya.
Broeder Ignasius tidak pernah menduduki jabatan penting dalam Ordo Fransiskan. Selama lima belas tahun ia bekerja di bangsal anyaman. Kemudian, selama empat puluh tahun lamanya, ia termasuk dalam kelompok biarawan yang pergi meminta sedekah dari satu rumah ke rumah lainnya. Mereka menerima makanan dan derma demi kepentingan biara. Ignasius mengunjungi keluarga-keluarga serta menerima derma mereka. Orang banyak segera menyadari bahwa mereka menerima suatu pemberian pula sebagai balasannya. Broeder Ignasius menghibur mereka yang sakit dan menggembirakan hati mereka yang kesepian. Ia mendamaikan orang-orang yang bermusuhan, mempertobatkan mereka yang keras hati karena dosa, dan juga memberikan nasehat bagi mereka yang ditimpa masalah. Orang banyak mulai menanti-nantikan kunjungannya.
Namun demikian, Broeder Ignasius mengalami saat-saat sulit pula. Kadang-kadang pintu dibanting di mukanya, juga seringkali cuaca buruk menghambat langkahnya. Selalu, bermil-mil jauhnya jarak yang harus ditempuhnya dengan berjalan kaki. Tetapi, Igansius seorang yang penuh pengabdian.
Orang mulai memperhatikan bahwa Ignasius biasa melewatkan suatu rumah tertentu. Pemilik rumah itu adalah seorang lintah darat yang kaya. Ia memaksa orang-orang miskin membayar hutangnya jauh melebihi kemampuan mereka. Lintah darat ini merasa terhina karena Ignasius tidak pernah mengunjungi rumahnya untuk meminta sedekah. Ia melaporkan Broeder Ignatius kepada pemimpin biara. Bapa Prior, yang tidak mengetahui masalah ini, mengutus Ignasius ke rumahnya. Ignasius tidak mengatakan sesuatu pun; ia melakukan seperti yang diperintahkan kepadanya dan kembali dengan satu karung besar makanan. Pada saat itulah Tuhan mengadakan mukjizat. Ketika karung itu dibongkar, darah mulai menetes. “Inilah darah kaum miskin,” kata Ignatius perlahan, “Oleh sebab itulah saya tidak pernah meminta sedekah dari rumah itu.” Kemudian, para rahib pun mulai berdoa demi bertobatnya sang lintah darat.
Broeder Ignatius wafat dalam usia delapan puluh tahun pada tanggal 11 Mei 1781. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1951.

St. Andreas Fournet
St. Andreas Fournet dilahirkan pada tanggal 6 Desember 1752. Ia berasal dari Maille, sebuah kota kecil dekat Poitiers, Perancis. Kedua orangtuanya amat saleh. Ibu Fournet sangat mendambakan agar puteranya kelak menjadi seorang imam. Andreas kecil tidak terlalu peduli dengan keinginan ibunya itu. Suatu kali ia berkata, “Aku seorang anak yang baik, tetapi, tetap saja aku tidak mau menjadi seorang imam atau pun rahib.”
Ketika dewasa, Andreas pergi ke Poitiers untuk belajar di perguruan tinggi. Tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Ia terlalu banyak bersenang-senang. Ibunya menyusul dan mendapatkan pekerjaan-pekerjaan baik untuknya. Tetapi semuanya gagal. Ibunya sangat bingung. Hanya tinggal satu kesempatan yang ada. Ibunya berbicara kepada Andreas agar untuk sementara waktu ia tinggal bersama pamannya, seorang imam. Paroki di mana pamannya bertugas adalah paroki yang miskin, tetapi pamannya seorang yang kudus. Di luar dugaan, Andreas setuju. Itulah saat “Tuhan bertindak.”
Pamannya mengenali sifat-sifat baik dalam diri Andreas. Teladan hidup pamannya telah menyulut sesuatu dalam dirinya sehingga ia merasa tenang. Andreas mulai belajar dengan tekun untuk mengejar ketinggalannya. Kemudian, ia ditahbiskan sebagai imam dan ditugaskan di paroki pamannya. Pada tahun 1781, ia dipindahkan ke paroki kota asalnya di Maille. Ibunya amat bahagia. Andreas menjadi seorang imam yang penuh belas kasih dan tekun berdoa.
Ketika pecah Revolusi Perancis, St. Andreas menolak untuk bersumpah menentang Gereja. Oleh karena itu, ia menjadi buron. Pada tahun 1792, ia terpaksa melarikan diri ke Spanyol. Di sana ia tinggal selama lima tahun. Tetapi, ia khawatir akan umatnya dan kembali lagi ke Perancis. Bahaya masih terus mengancamnya. Pastor Fournet dilindungi oleh umatnya. Beberapa kali ia nyaris tewas. Sementara itu, ia mendengarkan pengakuan dosa, merayakan Ekaristi, dan menerimakan Sakramen Terakhir.
Ketika pada akhirnya Gereja bebas kembali, St. Andreas keluar dari persembunyiannya. Ia senantiasa mendorong umatnya untuk mencintai serta melayani Tuhan. Salah seorang dari para wanita yang baik di sana, St. Elisabet Bichier des Ages, banyak memberikan bantuan kepadanya. Bersama-sama, mereka membentuk suatu ordo bagi para wanita yang diberi nama Kongregasi Puteri-puteri Salib.
St. Andreas wafat pada tanggal 13 Mei 1834, dalam usia delapan puluh dua tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius XI pada tanggal 4 Juni 1933.

St. Matias, Rasul
St. Matias adalah salah seorang dari ketujuh puluh dua murid Kristus. Ia menjadi pengikut Kristus sejak Kristus tampil di hadapan orang banyak. St. Petrus meminta keseratus dua puluh murid untuk bersekutu dalam doa guna memilih seorang rasul untuk menggantikan Yudas. Hal ini amatlah penting karena calon yang terpilih nantinya akan menduduki jabatan uskup, sama seperti para rasul lainnya. Petrus mengatakan bahwa calon haruslah orang yang senantiasa bersama Yesus sejak dari pembaptisan-Nya di Sungai Yordan hingga kebangkitan-Nya.
Bab pertama dalam Kisah Para Rasul mengisahkan bahwa para murid mengusulkan dua nama. Yang satu Matias, dan yang lain Yusuf, yang disebut juga Barsabas atau Yustus. Keduanya, baik Matias maupun Yusuf, amat dihormati oleh para pengikut Kristus. Jadi, sekarang mereka memiliki dua calon untuk menggantikan Yudas; padahal mereka hanya membutuhkan seorang saja. Jika demikian, apa yang harus dilakukan? Sederhana saja. Mereka berdoa dan membuang undi. Matias-lah yang terpilih.
St. Matias adalah seorang rasul yang amat baik. Ia mewartakan Kabar Gembira di wilayah Yudea. Kemudian, ia melanjutkan perjalanannya ke Cappadocia (sekarang Turki). Banyak orang mendengarkan Matias. Mereka percaya akan pesannya yang mengagumkan. Para musuh Kristus amat geram melihat orang banyak mendengarkan Matias. Mereka berusaha menghentikannya. Akhirnya, Matias wafat sebagai martir.

St. Isidorus si Petani
Orang kudus ini dilahirkan pada tahun 1070 di Madrid, Spanyol. Kedua orangtuanya amat saleh. Mereka memberi nama putera mereka: Isidorus, sesuai nama Uskup Agung Seville, Spanyol. Orangtua Isidorus ingin memberikan pendidikan terbaik bagi putera mereka, tetapi mereka tidak mampu. Mereka hanyalah petani penggarap. Putera mereka kelak juga akan melewatkan masa hidupnya dengan mata pencaharian yang sama.
Isidorus bekerja untuk Yohanes de Vargas, seorang tuan tanah yang kaya di Madrid. Ia bekerja untuk Tuan de Vargas sepanjang hidupnya. Isidorus menikah dengan seorang gadis yang baik dari keluarga yang miskin seperti keluarganya. Keduanya saling mengasihi. Mereka mempunyai seorang putera yang meninggal pada waktu masih bayi. Isidorus dan isterinya mempersembahkan kepada Yesus segala kepedihan dan duka mereka oleh karena kepergian putera mereka. Mereka percaya bahwa putera mereka telah berbahagia bersama Tuhan untuk selamanya.
Setiap hari, St. Isidorus memulai harinya dengan merayakan Misa. Kemudian, barulah ia pergi bekerja. Ia selalu bekerja giat, meski terkadang ia merasa kurang bersemangat. Ia membajak, dan menanam, serta berdoa. Ia berseru kepada Bunda Maria, para kudus dan juga malaikat pelindungnya. Mereka membantunya menjadikan hari-harinya yang biasa menjadi hari-hari yang istimewa, penuh sukacita. Dunia iman menjadi amat nyata bagi St. Isidorus, sama nyatanya dengan pertanian Tuan de Vargas. Apabila ia memperoleh hari libur, Isidorus berusaha melewatkan lebih banyak waktu untuk bersembah sujud kepada Yesus di gereja. Kadang-kadang, pada hari-hari libur, Isidorus bersama isterinya pergi mengunjungi beberapa paroki sekitar dalam suatu ziarah doa satu hari.
Suatu ketika, gereja paroki mengadakan pesta. Isidorus datang lebih awal dan masuk dalam gereja untuk berdoa. Ia datang terlambat ke balai paroki. Tetapi, ia tidak sendirian. Ia mengajak serta sekelompok pengemis juga. Umat menjadi kecewa. Bagaimana jika makanan yang tersedia tidak cukup untuk semua pengemis itu? Tetapi, semakin banyak mereka mengisi piring-piring mereka, semakin banyak makanan tersedia bagi semua yang hadir. Dengan lembut St. Isidorus berkata, “Akan senantiasa tersedia cukup makanan bagi orang-orang miskin milik Yesus.”
Cerita-cerita tentang keajaiban yang terjadi lewat petani kudus ini mulai tersiar. Isidorus sama sekali bukan seorang yang mementingkan diri sendiri. Ia seorang yang lemah lembut dan penuh belas kasih. Isidorus adalah salah seorang santo dari Spanyol yang paling populer. Ia wafat pada tanggal 15 Mei 1130. Pada bulan Maret 1622, Paus Gregorius XV mengumumkan kanonisasi atas lima orang kudus yang besar. Mereka adalah St. Ignatius dari Loyola, St. Fransiskus Xaverius, St. Theresia dari Avila, St. Filipus Neri dan St. Isidorus si Petani.

St. Paskalis Baylon
Paskalis, seorang kudus dari Spanyol, dilahirkan pada tahun 1540. Sejak usia tujuh tahun, ia bekerja sebagai gembala. Ia tidak pernah punya kesempatan untuk bersekolah. Namun demikian, ia belajar sendiri membaca dan menulis. Ia bertanya kepada siapa saja yang ia jumpai untuk membantunya belajar. Ia belajar dengan giat, agar supaya ia dapat membaca buku-buku rohani. Ia membisikkan doa-doa sepanjang hari sementara ia menggembalakan dombanya.
Ketika berusia dua puluh empat tahun, bocah gembala itu menjadi seorang broeder Fransiskan. Teman-temannya suka padanya. Paskalis seorang yang mudah bergaul dan juga seorang yang lembut hati. Rekan biarawan memperhatikan bahwa seringkali ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang paling berat dan tidak menyenangkan. Paskalis melakukan mati raga, bahkan lebih keras dari yang ditetapkan dalam peraturan biara. Namun demikian, ia seorang yang senantiasa bersukacita. Dulu, ketika masih seorang gembala, ia merindukan berada di gereja untuk berdoa kepada Yesus. Tetapi, tidak bisa. Sekarang, ia bisa. Jadi, ia sangat senang menemani Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Ia juga diijinkan menjadi pelayan Misa.
Dua hal yang amat dicintai Paskalis adalah: Ekaristi Kudus dan Bunda Maria. Setiap hari Paskalis berdoa rosario dengan cinta yang amat besar. Ia juga menuliskan doa-doa yang indah kepada Bunda Surgawi kita.
St. Paskalis membuat sebuah buku kecil dari kertas-kertas buram. Dalam buku catatannya, ia menuliskan pemikiran-pemikirannya dan doa-doanya yang indah. Setelah ia wafat, pemimpin biaranya menunjukkan buku catatan Paskalis pada uskup agung setempat. Bapa Uskup membacanya dan berkata, “Jiwa-jiwa bersahaja ini telah mencuri surga dari kita!”
Paskalis wafat pada tahun 1592 dalam usia lima puluh dua tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Alexander VIII pada tahun 1690.

St. Selestin V
Petrus di Morone adalah anak kesebelas dari duabelas bersaudara. Ia dilahirkan sekitar tahun 1210 di Isernia, Italia. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Keluarganya miskin, tetapi ibunya membesarkan putera-puterinya dengan cinta yang besar. Ibunya menyekolahkan Petrus karena anak itu menunjukkan niat dan minat yang besar untuk belajar. Suatu ketika, seperti biasa ibunya bertanya, “Siapakah di antara kalian yang akan menjadi seorang santo atau santa?” Petrus kecil, yang kelak menjadi Paus Selestin V, menjawab dengan segenap hati, “Aku, mama! Aku akan menjadi seorang santo!” Dan memang demikian. Tetapi, hal itu tidaklah mudah.
Ketika usianya dua puluh tahun, Petrus menjadi seorang rahib. Ia menghabiskan hari-harinya dengan berdoa, membaca Kitab Suci dan mengerjakan tugas-tugasnya. Para rahib yang lain biasa datang kepadanya untuk meminta nasehat dan bimbingannya. Lama-kelamaan, Petrus membentuk suatu ordo baru bagi para rahib.
Ketika Petrus berusia delapan puluh empat tahun, ia ditahbiskan sebagai paus. Penobatannya melalui seuatu cara yang amat tidak lazim. Selama dua tahun lebih Gereja tidak memiliki paus. Hal ini terjadi karena para kardinal saling tidak sependapat akan calon yang hendak dipilih. Petrus mengirimkan pesan kepada mereka. Ia mengingatkan mereka untuk segera mengambil keputusan, sebab Tuhan tidak akan senang dengan penundaan yang terlalu lama. Para kardinal melakukan nasehatnya. Seketika itu juga mereka memutuskan Petrus sang rahib untuk menjadi paus! Orang tua yang malang itu menangis ketika mendengar keputusan itu. Dengan sedih ia menerimanya dan memilih nama Selestin V. Ia hanya memangku jabatan Paus selama lima bulan saja. Oleh sebab ia begitu rendah hati dan sederhana, banyak orang memanfaatkannya. Ia tidak dapat mengatakan “tidak” kepada siapa pun. Segera saja terjadilah kekacauan. Paus Selestin merasa bertanggung jawab atas semua masalah yang timbul. Ia memutuskan bahwa hal terbaik yang dapat dilakukannya bagi Gereja adalah menyerahkan kembali jabatannya. Dan ia melakukannya. Ia minta maaf karena tidak dapat memimpin Gereja dengan baik.
Hal yang didambakan Selestin hanyalah tinggal di salah satu biaranya dengan tenang dan damai. Tetapi paus yang baru, Paus Bonifasius VIII, beranggapan bahwa akan lebih aman apabila Selestin tinggal di sebuah kamar kecil di salah satu istana Romawi. St. Selestin menghabiskan sepuluh bulan terakhir hidupnya di sebuah sel sederhana. Tetapi, ia membuat dirinya sendiri bergembira. “Yang engkau inginkan hanyalah sebuah sel, Petrus,” demikian katanya berulang kali kepada dirinya sendiri. “Nah, sekarang kau telah mendapatkannya.” St. Selestin wafat pada tanggal 19 Mei 1296. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Klemens VI pada tahun 1313.

St. Bernardinus dari Siena
St. Bernardinus dilahirkan pada tahun 1380 di sebuah kota dekat Siena, Italia. Ia putera seorang gubernur Italia. Kedua orangtuanya meninggal dunia ketika usianya baru tujuh tahun. Kerabatnya mengasihi dia seperti puteranya sendiri. Mereka juga memberikan pendidikan yang baik baginya. Bernardinus tumbuh menjadi seorang pemuda yang tinggi dan tampan. Ia seorang yang menyenangkan, teman-temannya suka padanya. Apabila sedang bersamanya, teman-temannya itu tidak akan berani mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, sebab Bernardinus tidak akan tahan mendengarnya. Dua kali seorang teman berusaha membujuknya berbuat dosa, Bernardinus langsung meninju serta mengusirnya pergi.
Orang kudus kita ini mempunyai cinta yang istimewa pada Bunda Maria. Bunda Maria-lah yang senantiasa menjaganya agar tetap murni. Semenjak ia remaja, Bernardinus berdoa kepadanya seperti seorang anak berbicara kepada ibunya.
Bernardinus seorang yang lembut hati. Ia penuh belas kasihan pada mereka yang miskin. Suatu ketika, bibinya tidak mempunyai makanan lebih untuk diberikan kepada pengemis. Bernardinus kecil menangis, “Aku lebih suka tidak makan daripada membiarkan orang miskin itu pergi dengan tangan kosong.” Ketika suatu wabah menyerang daerahnya pada tahun 1400, Bernardinus dan teman-temannya bekerja sebagai sukarelawan di rumah sakit. Mereka merawat orang-orang yang sakit dan yang menjelang ajal mulai pagi hingga petang, selama enam minggu lamanya hingga wabah berakhir.
Bernardinus bergabung dengan Ordo Fransiskan ketika ia berusia dua puluh dua tahun. Kemudian ia ditahbiskan sebagai imam. Beberapa tahun kemudian, ia ditugaskan pergi ke kota-kota dan desa-desa untuk mewartakan Injil. Umat pelu diingatkan kembali akan cinta Yesus. Pada masa itu, kebiasaan-kebiasaan buruk merusak baik kaum muda maupun tua. “Bagaimana aku dapat menyelamatkan orang-orang ini sendirian?” Bernardinus bertanya pada Tuhan dalam doa. “Dengan senjata apakah aku dapat melawan kejahatan?” Dan Tuhan menjawab, “Nama-Ku yang Kudus sudah cukup bagimu.” Maka, Bernardinus menyebarluaskan devosi kepada Nama Yesus yang Kudus. Berulang kali ia menggunakan Nama-Nya di setiap khotbah. Ia meminta umat untuk menuliskan Nama Yesus di gerbang-gerbang kota, di pintu keluar-masuk, di mana saja. Melalui devosi kepada Nama Yesus yang Kudus dan melalui devosi kepada Bunda Maria, Bernardinus berhasil membawa ribuan orang dari seluruh penjuru Italia kembali ke pangkuan Gereja.
St. Bernardinus melewatkan empat puluh dua tahun dari masa hidupnya sebagai seorang imam Fransiskan. Ia wafat dalam usia enam puluh empat tahun di Aquila, Italia, pada tanggal 20 Mei 1444. Ia dinyatakan kudus hanya enam tahun kemudian, yaitu pada tahun 1450, oleh Paus Nikolas V.

“Apabila engkau berbicara tentang Tuhan, berbicaralah dengan cinta. Apabila engkau berbicara tentang dirimu sendiri, berbicaralah dengan cinta. Berhati-hatilah agar tidak ada yang lain dalam dirimu selain cinta, cinta, dan cinta.” ~ St. Bernardinus dari Siena.

St. Rita dari Cassia
Rita dilahirkan pada tahun 1381 di sebuah dusun kecil di Italia. Kedua orangtuanya sudah tua. Telah lama mereka mohon pada Tuhan agar dikaruniai seorang anak. Ketika Rita lahir, mereka membesarkan Rita dengan kasih sayang. Ketika usianya lima belas tahun, Rita ingin masuk biara, tetapi orangtuanya menetapkan bahwa ia harus berumah tangga. Pria yang mereka pilih menjadi suami Rita ternyata seorang yang kejam serta tidak setia. Perangainya yang kasar membuat semua tetangga takut padanya. Namun demikian, selama delapan belas tahun lamanya, isterinya dengan sabar menanggung segala makian. Berkat doa-doanya, kelembutan serta kebaikan hatinya, pada akhirnya ia dapat melunakkan hati suaminya. Suaminya minta maaf pada Rita atas segala perlakuannya dan bersedia kembali ke jalan Tuhan.
Kebahagiaan Rita atas pertobatan suaminya tidak berlangsung lama. Suatu hari, tak lama kemudian, suaminya dibunuh. Rita terpukul dan putus asa. Ia mengampuni para pembunuhnya dan berusaha agar kedua puteranya juga mau mengampuni mereka. Tetapi, ia melihat tekad kedua puteranya untuk balas dendam atas kematian ayah mereka. Rita berdoa agar kedua puteranya itu lebih baik mati saja daripada membunuh. Dalam beberapa bulan, kedua puteranya sakit parah. Rita merawat mereka dengan kasih sayang. Selama mereka sakit, ia membujuk mereka untuk mengampuni orang lain serta mohon pengampunan Tuhan bagi diri mereka sendiri. Mereka mematuhi nasehat ibunya dan meninggal dalam damai.
Sekarang, suami maupun anak-anaknya telah meninggal dunia. Sebatang kara di dunia, tiga kali Rita berusaha agar dapat diterima di biara di Cassia. Peraturan biara di sana tidak mengijinkan seorang wanita yang telah menikah bergabung bersama mereka, meskipun suaminya telah meninggal dunia. Rita pantang menyerah. Pada akhirnya, para biarawati membuat suatu perkecualian baginya. Di biara, Rita amat menonjol dalam ketaatan dan belas kasihan. Ia memiliki devosi yang amat mendalam kepada Yesus tersalib. Satu ketika, pada saat berdoa, ia mohon pada Yesus agar diijinkan ikut merasakan kepedihan luka-luka-Nya. Suatu duri dari mahkota duri-Nya menusuk keningnya dan menimbulkan luka yang tak pernah dapat disembuhkan. Malahan, luka itu semakin buruk keadaannya dan mengeluarkan bau tak sedap, sehingga St. Rita harus menjauh dari para biarawati lainnya. Ia bahagia dapat menderita sebagai bukti cintanya kepada Yesus.
St. Rita wafat pada tanggal 22 Mei 1457 dalam usia tujuh puluh enam tahun. Sama seperti St. Yudas Tadeus, St. Rita sering dijuluki “Santa atas Hal-hal yang Mustahil.”

St. Yohanes Baptis Rossi
Yohanes Baptis Rossi dilahirkan pada tahun 1698 di sebuah desa dekat Genoa, Italia. Keluarganya amat mengasihinya. Mereka bangga ketika sepasang suami isteri kaya yang mengunjungi desa mereka menawarkan pendidikan bagi Yohanes. Orangtuanya mengenal pasangan tersebut serta percaya kepada mereka. Yohanes amat senang boleh tinggal di rumah mereka di Genoa karena dengan demikian ia dapat bersekolah. Segala sesuatu berjalan lancar. Ia menjadi seorang seminaris di sebuah perguruan tinggi Roma. Pelajarannya dianggapnya mudah dan ia mulai belajar dan belajar lebih banyak lagi.
Yohanes kemudian sakit parah dan harus berhenti belajar untuk beberapa waktu lamanya. Setelah keadaannya cukup baik, ia menyelesaikan segala persiapannya dan ditahbiskan sebagai imam. Meskipun kesehatannya tidak pernah prima, Pastor Rossi melakukan begitu banyak kebajikan bagi umat Roma. Ia tahu bagaimana rasanya tidak sehat, maka Pastor Rossi memberikan perhatian khusus kepada mereka yang sakit. Ia menjadi pengunjung tetap rumah-rumah sakit Roma. Terutama, ia suka menghabiskan waktunya bersama orang-orang miskin di Wisma St. Galla, yaitu tempat penampungan bagi mereka yang miskin dan tak memiliki tempat tinggal. Pastor Rossi menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang memenuhi kebutuhan rohani orang-orang miskin itu. Ia memperhatikan mereka yang membawa kawanan ternak serta dombanya untuk di jual di pasar Roma. Betapa berat hidup mereka. Mereka biasa datang pagi hari dengan kawanan ternaknya. Pastor Rossi akan berjalan bersama mereka dan berhenti serta bercakap-cakap dengan mereka. Apabila memungkinkan, ia akan memberikan pelajaran agama kepada mereka serta menawarkan Sakramen Rekonsiliasi. Pelayanan imamat Pastor Rossi membawa perubahan besar dalam hidup mereka.
Pastor kudus ini juga merasakan belas kasih mendalam kepada para wanita dan gadis-gadis tunawisma. Mereka menyusuri jalan-jalan sepanjang siang dan malam untuk mengemis. Hal ini sangat membahayakan dan juga sangat menyedihkan. Bapa Suci memberikan sejumlah dana kepada Pastor Rossi untuk mendirikan tempat penampungan bagi para wanita tunawisma ini. Tempat penampungan itu terletak dekat Wisma St. Galla. Pastor Rossi menyerahkan tempat penampungannya itu dalam perlindungan salah seorang santo favoritnya, St. Alyosius Gonzaga. Pastor Rossi terkenal oleh karena kebaikan dan kelembutan hatinya, terutama dalam pengakuan dosa. Umat antri dekat kamar pengakuannya serta menunggu giliran mereka dengan sabar. Suatu ketika Pastor Rossi mengatakan kepada seorang temannya bahwa cara terbaik bagi seoang iman untuk mencapai surga adalah dengan menolong umat melalui Sakramen Rekonsiliasi. Tugas favorit lain yang diterimanya dari Paus Benediktus XIV adalah memberikan pelajaran rohani kepada para petugas penjara dan pegawai negeri.
Pastor Rossi terserang stroke pada tahun 1763. Ia tidak pernah sembuh kembali. Ia masih dapat merakayan Misa tetapi dengan penderitaan yang amat sangat. Imam yang mengagumkan ini wafat dalam usia enam puluh enam tahun, pada tanggal 23 Mei 1764. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII pada tahun 1881.

St. David I dari Skotlandia
David dilahirkan pada tahun 1080. Ia adalah putera bungsu St. Margareta, ratu Skotlandia, dan suaminya yang baik, Raja Malcolm. David sendiri diangkat menjadi raja ketika usianya empat puluh tahun. Mereka yang mengenalnya dengan baik tahu betapa sedikit minatnya dalam menerima mahkota kerajaan. Tetapi, begitu ia menjadi raja, ia menjadi seorang raja yang sangat baik bagi rakyatnya.
St. David memerintah kerajaannya dengan adil dan bijaksana. Ia amat murah hati pada kaum miskin. Semua rakyatnya diijinkan menemuinya kapan saja mereka kehendaki. Ia memberikan teladan baik pada semua orang dengan teladan cintanya akan doa. Di bawah pemerintahan raja kudus ini, rakyat Skotlandia semakin bersatu padu sebagai suatu bangsa. Mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih baik. Raja David membentuk keuskupan-keuskupan baru. Ia mendirikan banyak biara-biara baru. Ia menyumbangkan banyak dana bagi Gereja selama dua puluh tahun masa pemerintahannya.
Dua hari sebelum raja mangkat, ia menerima Sakramen Terakhir. Ia menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan berdoa bersama mereka yang menemaninya. Keesokan harinya, mereka mendesak raja untuk beristirahat. Raja David menjawab, “Lebih baik aku memikirkan perkara-perkara Tuhan, agar jiwaku diperkuat dalam perjalanan pulangnya dari pembuangan ke rumah.” Rumah yang dimaksud raja adalah rumah surgawi kita. “Apabila aku berada di hadapan pengadilan Tuhan, kalian tidak akan dapat membelaku,” katanya. “Tak seorang pun akan dapat membebaskanku dari tangan-Nya.” Jadi, ia tetap terus berdoa hingga ajal menjemputnya. St. David wafat pada tanggal 24 Mei 1153.

St. Venerabilis Beda
Imam Inggris ini terkenal sebagai seorang kudus, imam, biarawan, guru, sekaligus penulis sejarah. Ia dilahirkan di Inggris pada tahun 673. Orangtuanya mengirimkannya ke biara Benediktin setempat agar ia memperoleh pendidikan yang baik. Beda begitu mencintai kehidupan biara hingga ia sendiri kelak menjadi seorang biarawan. Ia tinggal di biara yang sama sepanjang hidupnya.
St. Beda amat mencintai Kitab Suci. Ia mengatakan bahwa mempelajari Kitab Suci merupakan sukacita baginya. Ia senang mengajar serta menulis tentangnya. Ketika ia semakin tua, penyakit yang menyerangnya memaksa St. Beda tinggal di tempat tidur. Para murid datang berkumpul di sisi pembaringannya untuk belajar Kitab Suci. Ia tetap mengajar mereka dan juga mengerjakan terjemahan Injil St. Yohanes dari bahasa Latin ke bahasa Inggris. Banyak orang tidak mengerti bahasa Latin. St. Beda ingin agar orang banyak dapat membaca Sabda Yesus dalam bahasa mereka sendiri.
Ketika penyakitnya bertambah parah, St. Beda tahu bahwa ia akan segera pulang kepada Tuhan. Para biarawannya akan sangat kehilangan dia. Ia tetap terus bekerja walaupun sakitnya payah. Akhirnya, anak muda yang menuliskan segala yang didiktekannya berkata kepadanya, “Bapa terkasih, masih ada satu kalimat lagi yang belum diselesaikan.” “Tulislah segera.” jawab Beda. Ketika kemudian pemuda itu berkata, “Sudah selesai”, orang kudus itu menjawab, “Bagus! Kamu benar – sekarang sudah selesai. Sekarang tolong bantu aku bangun. Aku ingin duduk memandang tempat di mana aku biasa berdoa. Aku ingin memanggil Bapa Surgawi-ku.”
St. Beda wafat tak lama kemudian, yaitu pada tanggal 25 Mei 735. Bukunya yang paling terkenal, Sejarah Gereja Inggris, merupakan satu-satunya sumber terlengkap sejarah Inggris di masa lampau. Orang menyebut Beda dengan gelar kehormatan “Venerabilis” (Yang Pantas Dihormati). Ia juga diangkat sebagai Pujangga Gereja.

Kata-kata Venerabilis Beda sendiri juga merupakan sumber inspirasi bagi kita: “Senantiasa merupakan suatu sukacita bagiku untuk belajar, mengajar, dan menulis.” ~ Venerabilis Beda

St. Gregorius VII
Nama asli paus kita ini adalah Hildebrand. Ia dilahirkan di Italia sekitar tahun 1023. Pamannya seorang biarawan di Roma, Hildebrand pergi ke biara di mana pamannya berada untuk memperoleh pendidikan. Kelak, Hildebrand menjadi seorang biarawan Benediktin di Perancis. Tetapi, sebentar saja di sana, ia sudah dipanggil kembali ke Roma. Di Roma ia diserahi kedudukan yang amat penting di bawah beberapa paus hingga ia sendiri akhirnya diangkat sebagai paus.
Selama dua puluh lima tahun, ia menolak untuk dipilih. Tetapi, ketika Paus Alexander II wafat, para kardinal telah bersepakat untuk memilih Hildebrand sebagai paus yang baru. Dengan suara bulat mereka memutuskan: “Hildebrand ditetapkan sebagai penerus St. Petrus!” “Mereka membawaku ke tahta suci,” demikian ditulisnya kelak. “Protes-protesku tidak mereka hiraukan. Kegentaran memenuhi hatiku dan kegelapan sepenuhnya melingkupi aku.” Sebagai paus, Hildebrand memilih nama Gregorius VII.
Masa itu sungguh merupakan masa gelap bagi Gereja Katolik. Para raja dan kaisar ikut campur dalam urusan-urusan gereja. Mereka menetapkan orang-orang yang mereka inginkan menjadi para uskup, kardinal dan bahkan paus. Banyak dari antara mereka yang ditetapkan itu bukanlah orang-orang yang baik. Mereka memberikan teladan yang buruk bagi umat.
Hal pertama yang dilakukan St. Gregorius adalah melewatkan beberapa hari lamanya dalam doa. Ia juga meminta yang lain untuk berdoa baginya. Ia sadar bahwa tanpa doa tak ada sesuatu pun yang dapat diselesaikan dengan baik bagi Tuhan. Sesudah itu, ia mulai bertindak dengan memperbaiki pelayan-pelayan gereja. Ia juga mengambil langkah-langkah yang perlu untuk menghindari campur tangan negara dalam masalah Gereja. Hal ini amatlah sulit mengingat para penguasa semuanya menentang perubahan itu. Namun demikian, beberapa di antara mereka mulai mau bekerjasama.
Seorang penguasa, Kaisar Henri IV dari Jerman, menyebabkan Paus Gregorius banyak menderita. Kaisar muda itu seorang berdosa dan amat rakus terhadap harta. Ia tidak mau berhenti mencampuri urusan gereja. Ia bahkan mengirimkan orang-orangnya untuk menangkap Bapa Suci. Tetapi, penduduk Roma menyelamatkan paus dari penjara. Paus Gregorius mengekskomunikasikan kaisar. Hal itu tidak menghentikan Henry IV. Ia menetapkan pausnya sendiri. Tentu saja orang yang ditetapkannya itu bukanlah paus sesungguhnya. Tetapi Henry berusaha meyakinkan rakyat bahwa paus yang ditetapkannya itulah paus yang benar. Kemudian, sekali lagi, kaisar mengirimkan pasukannya untuk menangkap paus. Bapa Suci dipaksa meninggalkan Roma. St. Gregorius tiba dengan selamat di Salerno di mana akhirnya ia wafat pada tahun 1085. Pesannya yang terakhir adalah, “Aku cinta keadilan dan benci kejahatan. Oleh sebab itulah sekarang aku mati dalam pengasingan.” Paus Gregorius VII dinyatakan kudus oleh Paus Paulus V pada tahun 1606.
Paus Gregorius VII (Hildebrand) dikenal karena keberaniannya yang luar biasa. Ia berdiri tegak membela Yesus dan Gereja-Nya.

St. Maria Magdalena de’Pazzi
Katarina de’Pazzi dilahirkan di Florence, Italia, pada tahun 1566. Ia adalah puteri satu-satunya dari sebuah keluarga kaya raya. Ketika usianya empat belas tahun, Katarina tinggal di asrama sekolah suatu biara. Di sanalah ia mulai mencintai kehidupan religius. Tetapi, setahun kemudian ayahnya menjemputnya pulang. Ayahnya mulai berpikir untuk memilihkan seorang suami kaya baginya. Tetapi, Katarina sudah bertekad untuk menjadi seorang biarawati. Kedua orangtuanya amat terkejut ketika ia mengatakan kepada mereka bahwa ia telah mengucapkan kaul kemurnian. Mereka tidak percaya. Akhirnya, mereka mengijinkan Katarina masuk biara Karmelit. Namun, hanya lima belas hari kemudian, mereka datang menjemputnya pulang. Mereka berharap dapat mengubah pikirannya. Setelah tiga bulan berusaha membujuknya tanpa hasil, mereka akhirnya menyerah. Mereka membiarkannya pergi untuk selamanya dengan restu mereka. Hal itu terjadi pada tahun 1582, tahun wafatnya St. Theresia Avila di Spanyol.
Ketika masih novis, St. Maria Magdalena sakit parah. Para biarawati khawatir kalau-kalau ia meninggal. Sebab itu, ia diijinkan segera mengucapkan kaul religiusnya. Melihat bagimana ia menderita begitu hebat, salah seorang biarawati bertanya kepadanya bagaimana ia dapat menahan rasa sakit tanpa mengeluh sama sekali. Maria Magdalena menunjuk ke arah salib, katanya, “Lihatlah, betapa kasih Tuhan yang demikian besar itu telah menderita bagi keselamatanku. Kasih yang sama melihat segala kelemahanku dan memberiku kekuatan.”
St. Maria Magdalena harus mengalami banyak penderitaan hebat sepanjang hidupnya. Ia juga harus mengalami pencobaan-pencobaan berat akan ketidakmurnian dan keserakahan akan makanan. Ia dapat mengatasi segala pencobaan itu dengan cintanya yang besar kepada Yesus dalam Ekaristi Kudus dan kepada Bunda Maria. Seringkali ia hanya makan roti dan minum air putih saja. Ia juga melakukan latihan-latihan penyangkalan diri yang lain. Cintanya kepada Yesus begitu mendalam hingga ia akan berkata, “Kasih tidak dikasihi, Kasih tidak dikenali oleh makhluk ciptaan-Nya Sendiri.” Dengan bercucuran air mata, ia akan berdoa serta mempersembahkan segala penderitaannya demi silih bagi para pendosa dan orang-orang yang tidak percaya, hingga akhir hayatnya. Suatu ketika ia mengatakan, “O Yesus-ku, andai saja aku mempunyai suara yang cukup kuat dan lantang hingga terdengar ke seluruh penjuru dunia, aku akan berseru-seru agar Engkau dikenal dan dikasihi oleh semua orang!”
St. Maria Magdalena de Pazzi wafat pada tanggal 25 Mei 1607 dalam usia empat puluh satu tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Klemens IX pada tahun 1669.

B. Margareta Pole
Beata Margareta Pole dilahirkan pada tahun 1471. Ia adalah kemenakan dua orang raja Inggris, Edward IV dan Richard III. Henry VII mengatur pernikahannya dengan Sir Reginald Pole. Sir Pole adalah seorang prajurit gagah, sahabat keluarga kerajaan. Pada saat Raja Henry VIII naik tahta, Margareta telah menjadi janda dengan lima orang anak. Raja Henry VIII masih muda dan belum berpengalaman dalam hal mengendalikan kerajaan dan kekuasaan. Ia menyebut Margareta sebagai wanita paling kudus di seluruh Inggris. Ia begitu terkesan pada Margareta hingga ia mengembalikan sebagian harta keluarganya yang hilang di masa lampau. Raja juga memberinya gelar kerajaan.
Raja Henry amat mempercayainya hingga Margareta diberi kepercayaan untuk mendidik Puteri Maria, putri raja dan Ratu Katarina. Tetapi kemudian, Henry berusaha menikahi Anne Boleyn, meskipun ia sudah beristeri. Margareta tidak menyetujui perilaku raja. Karena itu, raja mengusirnya dari istana. Raja menunjukkan bagaimana ia sangat tidak suka kepadanya. Raja bertambah murka ketika seorang putera Margareta, seorang imam, menulis sebuah artikel panjang menentang tuntutan Henry untuk menjadi kepala gereja Inggris (Putera Margareta itu kelak menjadi Kardinal Reginald Pole yang terkenal). Henry tidak dapat mengendalikan diri lagi. Ia menjadi seorang yang kejam serta penuh rasa dengki. Ia mengancam akan membinasakan seluruh keluarga Margareta.
Henry mengutus orang-orangnya untuk menginterogasi Margareta. Mereka harus dapat membuktikan bahwa Margareta adalah seorang pengkhianat. Mereka menginterogasinya mulai pagi hingga petang. Tetapi, tidak pernah sekali pun Margareta berbuat kesalahan. Tidak ada yang disembunyikan olehnya. Kemudian Margareta dikenai tahanan rumah di sebuah kastil seorang bangsawan. Lalu, ia dipindahkan ke sebuah menara besar di London. Ia bahkan tidak diadili sebelum dipenjarakan. Selama musim dingin yang panjang, Margareta menderita kedinginan yang hebat. Tidak ada api dan tidak cukup pakaian hangat baginya.
Akhirnya, pada tanggal 28 Mei 1541, Beata Margereta dihantar keluar dari menara menuju tempat pelaksanaan hukuman mati. Ia lelah dan sakit, tetapi ia berdiri tegak dan gagah untuk mati demi imannya. “Aku bukan seorang pengkhianat,” demikian katanya dengan berani. Margareta dipenggal kepalanya. Usianya tujuh puluh tahun.
St. Yustinus
St. Yustinus berasal dari Samaria. Ia hidup pada abad kedua. Ayahnya membesarkannya tanpa pengenalan akan Tuhan. Ketika masih kanak-kanak, Yustinus membaca puisi, sejarah dan ilmu pengetahuan. Sementara tumbuh dewasa, ia terus belajar. Tujuan utamanya dalam belajar adalah untuk menemukan kebenaran akan Tuhan.
Suatu hari, ketika sedang berjalan menyusuri tepi pantai, Yustinus bertemu dengan seorang tua. Mereka berbincang-bincang. Karena Yustinus kelihatan gelisah, orang tua itu bertanya apa yang menggelisahkan hatinya. Yustinus menjawab bahwa ia bersedih karena tidak menemukan kepastian tentang Tuhan dalam semua buku yang telah dibacanya. Orang tua itu bercerita kepadanya tentang Yesus, Sang Juruselamat. Ia mendorong Yustinus untuk berdoa agar dapat memahami kebenaran Tuhan.
St. Yustinus mulai berdoa dan membaca Sabda Tuhan, yaitu Kitab Suci. Ia jatuh cinta padanya. Ia juga amat terkesan mengetahui betapa beraninya umat Kristiani yang bersedia mati demi iman serta cinta mereka kepada Yesus. Setelah memperdalam pengenalannya tentang agama Kristen, Yustinus menjadi seorang Kristen pula. Kemudian, ia mempergunakan pengetahuannya yang luas itu untuk menjelaskan serta mempertahankan iman dengan banyak tulisannya.
Di kota Roma, St. Yustinus ditangkap karena menjadi seorang pengikut Kristus. Hakim bertanya padanya, “Apakah kamu pikir dengan mati, maka kamu akan masuk surga dan memperoleh ganjaranmu?” “Bukan saja aku berpikir demikian,” orang kudus itu menjawab, “tetapi aku yakin mengenainya!” dan ia pun wafat sebagai martir sekitar tahun 166.

St. Karolus Lwanga, dkk
Kekristenan masih merupakan hal baru di Uganda, Afrika, ketika suatu misi Katolik dimulai di sana pada tahun 1879. Para imam yang diutus adalah para imam Misionaris Afrika. Karena jubah mereka yang putih, mereka lebih dikenal dengan sebutan “Imam-imam Putih”. Raja Mwanga tidak mengerti apa itu Kristen. Tetapi, ia menjadi amat marah ketika seorang Katolik, Yosef Mkasa, menasehatinya untuk memperbaiki cara hidupnya. Raja kemudian membunuh sekelompok orang Kristen dan Uskup Anglikan mereka. Raja Mwanga juga terlibat dalam kehidupan homoseksual. Ia terutama tertarik pada para pemuda pelayan istana. Murka raja Mwanga berubah menjadi rasa benci dan dendam terhadap Yosef Mkasa dan agamanya. Segelintir pejabat istana yang ambisius mengobarkan murka raja dengan dusta mereka. Yosef Mkasa dihukum penggal pada tanggal 18 November 1885. Penganiayaan pun dimulailah. Seratus orang terbunuh, dua puluh dua di antaranya kelak dinyatakan kudus.
Dengan wafatnya Yosef Mkasa, Karolus Lwanga menjadi pemimpin guru agama dari para pelayan istana yang beragama Katolik. Pada tanggal 26 Mei 1886, raja mendapati bahwa sebagian dari para pelayannya telah menjadi Katolik. Ia memanggil Denis Sebuggwawo. Ia bertanya apakah Denis mengajarkan agama kepada pelayan-pelayan istana yang lain. Denis menjawab ya. Raja segera menyambar pedangnya lalu menusukkannya dengan keji ke tenggorokan pemuda itu. Kemudian, raja menyerukan bahwa tidak seorang pun diijinkan meninggalkan istana. Genderang perang ditabuh sepanjang malam. Dalam suatu ruangan tersembunyi, Karolus Lwanga secara sembunyi-sembunyi membaptis empat pelayan istana. Seorang di antaranya adalah St. Kizito, seorang remaja periang serta murah hati yang baru berumur tiga belas tahun. Dialah yang paling muda dalam kelompok mereka. St. Karolus Lwanga telah seringkali menyelamatkan Kizito dari nafsu jahat raja.
Sebagian besar dari keduapuluh dua martir Uganda yang telah dinyatakan kudus itu, wafat dimartir pada tanggal 3 Juni 1886. Mereka dipaksa berjalan tiga puluh tujuh mil jauhnya (± 60 km) ke tempat pelaksanaan hukuman mati. Setelah beberapa hari dipenjara, mereka dilemparkan ke dalam kobaran api. Tujuh belas dari para martir tersebut adalah para pelayan istana. Salah seorang dari remaja yang wafat dimartir adalah St. Mbaga. Ayahnya sendiri yang bertugas sebagai algojo pada hari itu. Seorang martir yang lain, St. Andreas Kagwa, wafat pada tanggal 27 Januari 1887. Ia termasuk salah seorang dari dua puluh dua martir yang dinyatakan kudus oleh Paus Paulus VI pada tahun 1964.

St. Fransiskus Caracciolo
Fransiskus dilahirkan di daerah Abruzzi, Italia pada tanggal 13 Oktober 1563. Ayahnya seorang pangeran Neapolitan. Ibunya menyatakan memiliki hubungan dengan keluarga Aquino darimana St. Thomas Aquinas, seorang kudus dari abad ketiga belas, berasal. Fransiskus menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan. Ia aktif dalam kegiatan olahraga. Kemudian, ketika usianya dua puluh dua tahun, suatu penyakit, sejenis penyakit kusta, menyerangnya hingga hampir membawa kematian. Pada waktu sakit itu, Fransiskus memikirkan hampanya kesenangan-kesenangan duniawi. Ia menjadi sadar bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam sesuatu yang lebih mendalam. Fransiskus berjanji bahwa apabila kesehatannya membaik, ia akan mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan. Penyakitnya tiba-tiba lenyap begitu saja bagaikan suatu mukjizat. Fransiskus menepati janjinya. Ia mulai belajar untuk menjadi seorang imam.
Sebagai seorang imam yang baru ditahbiskan, Pastor Fransiskus bergabung dalam suatu kelompok yang membaktikan diri demi pewartaan bagi orang-orang di penjara. Mereka memberikan perhatian pada para narapidana serta mempersiapkan para hukuman agar dapat meninggal dengan baik. Ia, bersama Pastor Yohanes Agustinus Adorno, membentuk suatu kongregasi religius. Ketika Pastor Adorno wafat, Fransiskus dipilih menjadi pemimpin biara. Ia sama sekali tidak merasa nyaman dengan jabatan barunya itu. St. Fransiskus demikian rendah hati hingga ia menandatangani surat-suratnya dengan, “Fransiskus, orang berdosa”. Ia juga mendapatkan giliran, bersama dengan para imam yang lain, menyapu lantai membersihkan tempat tidur dan mencuci piring.
Pastor Fransiskus acapkali melewatkan nyaris sepanjang malam dengan berdoa di gereja. Ia menghendaki agar semua imam melewatkan sekurang-kurangnya satu jam setiap hari di hadapan Sakramen Mahakudus. St. Fransiskus begitu sering dan begitu fasih berbicara tentang kasih Allah bagi kita, hingga ia dikenal sebagai “pewarta kasih Allah.”
St. Fransiskus tidak berumur panjang. Ia wafat pada tahun 1607 dalam usia empat puluh empat tahun. Menjelang wafatnya, tiba-tia ia berseru, “Mari kita pergi!” “Ke manakah engkau hendak pergi?” tanya imam yang berada di sisi pembaringannya. “Ke surga! Ke surga!” demikian jawabnya dengan suara tegas serta penuh sukacita. Beberapa saat kemudian ia pun wafat. St. Fransiskus Caracciolo dinyatakan kudus oleh Paus Pius VII pada tahun 1807.

St. Bonifasius
Rasul besar Jerman ini dilahirkan di Wessex, Inggris, antara tahun 672 dan 680. Ketika ia masih kecil, beberapa orang misionaris tinggal sementara waktu lamanya di rumahnya. Mereka menceritakan kepada Bonifasius segala sesuatu yang mereka lakukan. Para misionaris itu begitu gembira serta penuh semangat dalam mewartakan Kabar Gembira kepada orang banyak. Dalam hati Bonifasius memutuskan bahwa kelak, apabila telah dewasa, ia pun akan seperti mereka. Ketika masih muda, ia belajar di sebuah sekolah biara. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi seorang guru yang populer. Ketika ditahbiskan sebagai seorang imam, ia menjadi seorang pengkhotbah yang ulung sebab ia begitu penuh semangat.
Bonifasius ingin agar semua orang mempunyai kesempatan untuk mengenal serta mengasihi Yesus dan Gereja-Nya. Ia menjadi seorang misionaris di bagian barat Jerman. Paus St. Gregorius II memberkatinya serta mengutusnya dalam misi tersebut. Bonifasius berkhotbah dan berhasil dengan gemilang. Ia seorang yang lemah lembut serta baik hati. Ia juga seorang yang amat pemberani. Suatu ketika, guna membuktikan bahwa berhala-berhala kafir itu tidak benar, ia melakukan sesuatu yang sangat berani. Adalah suatu pohon oak yang sangat besar yang disebut “Oak Thor”. Orang-orang kafir percaya bahwa pohon itu pohon keramat bagi para dewa mereka. Di hadapan orang banyak, Bonifasius menebas pohon itu beberapa kali dengan sebuah kampak. Pohon besar itu pun tumbang. Orang-orang kafir menjadi sadar bahwa dewa-dewa mereka itu tidak ada ketika tidak suatu pun terjadi atas Bonifasius.
Di mana saja Bonifasius berkhotbah, orang-orang bertobat diterima dalam pangkuan Gereja. Sepanjang hidupnya, ia mempertobatkan sejumlah besar orang. Sebagai ganti patung-patung berhala, Bonifasius mendirikan gereja-gereja dan biara-biara.
Pada tahun 732, Bapa Suci yang baru, St. Gregorius III mentahbiskan Bonifasius sebagai Uskup Agung dan memberinya daerah misi baru. Daerah itu adalah Bavaria, yang sekarang merupakan wilayah negara Jerman. Bersama rekan-rekannya, Bonifasius pergi untuk mengajarkan iman yang benar kepada penduduk di sana. Di Bavaria, uskup yang kudus ini berhasil dengan gemilang pula. Kemudian, suatu hari, Bonifasius sedang mempersiapkan penguatan bagi beberapa orang yang bertobat. Sekelompok prajurit yang ganas menyerang mereka. Bonifasius tidak mengijinkan para pengikutnya berkelahi melawan mereka. “Tuhan kita menghendaki agar kita membalas kejahatan dengan kebaikan,” katanya. “Telah tibalah hari yang telah lama kunanti-nantikan. Percayalah kepada Tuhan dan Ia akan menyelamatkan kita.” Orang-orang barbar itu pun menyerang dan Bonifasius adalah orang pertama yang terbunuh. Ia wafat sebagai martir pada tanggal 5 Juni 754. St. Bonifasius dimakamkan di sebuah biara terkenal yang didirikannya di Fulda, Jerman, seperti yang diinginkannya.

“Marilah kita berdiri tegak mempertahankan kebenaran dan mempersiapkan jiwa-jiwa kita menghadapi pengadilan… hendaknya kita tidak menjadi anjing yang tidak menggonggong atau penonton yang diam membisu atau pun gembala upahan yang melarikan diri menghadapi serigala.” ~ St. Bonifasius

St. Norbertus
Norbertus dilahirkan di Jerman sekitar tahun 1080. Ia seorang anak yang baik semasa kanak-kanak dan remajanya. Kemudian, di istana Kaisar Henry V, Norbertus menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Yang dipikirkannya hanyalah memperoleh kedudukan terhormat. Ia adalah orang pertama yang datang di pesta-pesta serta perayaan-perayaan. Ia sepenuhnya bahagia dengan “hidupnya yang mapan”. Akan tetapi, suatu hari, ia amat ketakutan ketika suatu kilat menyambar dahsyat. Kudanya lari kencang. Norbertus terpelanting ke tanah dan tak sadarkan diri. Ketika sadar, ia mulai memikirkan dengan sungguh-sungguh cara hidupnya selama ini. Tuhan terasa sangat dekat. Norbertus sadar bahwa Tuhan sedang menawarkan kepadanya rahmat untuk mengubah cara hidupnya. Perlahan-lahan ia mulai memikirkan kembali keinginan yang pernah ada dalam benaknya beberapa tahun yang silam. Ia berpikir untuk menjadi seorang imam. Sekarang ia akan memenuhi panggilannya. Norbertus ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1115.
Pastor Norbertus bekerja keras untuk mengubah cara hidup orang banyak yang terpusat pada hal-hal duniawi. Ia memberikan teladan kepada mereka dengan menjual segala harta miliknya serta membagikan uangnya kepada mereka yang miskin. St. Norbertus mendirikan suatu kongregasi untuk menyebarluaskan iman. Kelompoknya terbentuk dengan tiga belas orang hidup bersama dalam suatu komunitas religius. Mereka tinggal di lembah Premontre. Oleh sebab itulah kongregasinya disebut Premon-stratensians. Mereka disebut juga Norbertines, sesuai nama pendirinya.
St. Norbertus ditahbiskan sebagai Uskup Magdeburg. Ia memasuki kota Magdeburg dengan mengenakan pakaian yang sangat sederhana serta tanpa sepatu. Penjaga pintu keuskupan tidak mengenalinya dan tidak mengijinkannya masuk. Ia malahan menyuruh St. Norbertus untuk bergabung dengan kawanan pengemis lainnya. “Tetapi, ia adalah Bapa Uskup kita yang baru!” teriak mereka yang mengenalinya. Penjaga pintu amat terperanjat dan sangat menyesal. “Tidak mengapa, saudaraku terkasih,” kata St. Norbertus dengan lembut. “Kamu menilaiku lebih tepat daripada mereka yang membawaku ke sini.”
St. Norbertus harus berperang melawan suatu bidaah yang menyangkal bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus. Ajarannya yang indah mengenai kehadiran nyata Kristus dalam Sakramen Mahakudus membawa umat kembali pada iman mereka yang kudus. Pada bulan Maret 1133, ia dan sahabatnya, St. Bernardus berjalan beriringan dalam suatu perarakan yang tidak lazim. Mereka bergabung dengan kaisar beserta bala tentaranya untuk mengawal paus yang sesungguhnya, Inosensius II, ke Vatikan dengan selamat.
St. Norbertus wafat pada tahun 1134. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582.

B. Anna dari St. Bartolomeus
Anna adalah puteri keluarga petani. Ia menggembalakan domba hingga usianya dua puluh tahun. Empat mil dari tempat tinggalnya adalah kota Avila, kota dimana St. Theresia dan para biarawati Karmelit tinggal. Anna diterima dalam ordo Karmelit sebagai biarawati biasa, bukan rubiah. Artinya, Sr. Anna dapat pergi ke luar biara untuk mengerjakan segala sesuatu sesuai kepentingan biara.
Tujuh tahun terakhir hidupnya, St. Theresia memilih B. Anna untuk menemaninya dalam perjalanannya. St. Theresia pergi berkeliling untuk mengunjungi komunitas-komunitas biarawati. Kadang-kadang, ia mendirikan biara-biara baru. Kadang-kadang, ia membantu para biarawati untuk lebih bersemangat dalam menjalani panggilan hidup yang mengagumkan yang telah mereka pilih. St. Theresia sangat menghargai B. Anna dan memujinya di hadapan para biarawati lainnya.
Meskipun B. Anna tidak memperoleh kesempatan untuk bersekolah, ia bisa membaca dan menulis. Ia mencatat petualangan perjalanannya dengan St. Theresia yang termashyur itu. B. Anna jugalah yang ada di sampingnya ketika St. Theresia wafat.
Kehidupan B. Anna berlangsung biasa-biasa saja selama enam tahun sesudah St. Theresia wafat. Kemudian, pemimpin biara memutuskan untuk membuka sebuah biara baru di Paris, Perancis. Lima orang biarawati dipilih untuk diutus ke sana, B. Anna termasuk salah seorang di antara mereka. Sementara umat di Paris menyambut kedatangan para biarawati dengan hangat, B. Anna menyelinap masuk ke dapur untuk mempersiapkan hidangan bagi teman-temannya yang lapar. Pada akhirnya, empat dari kelima biarawati tersebut dipindahtugaskan ke Belanda. Anna harus tetap tinggal, sebab ia dipilih menjadi priorin (= pemimpin biara). Anna datang kepada Tuhan dan mengatakan kepada-Nya bahwa sebagian besar dari para wanita Perancis yang bergabung dalam komunitasnya berasal dari keluarga kaya serta keluarga bangsawan, sementara ia sendiri hanyalah seorang gadis penggembala. Dalam hatinya, B. Anna mendengar Tuhan menjawab: “Dengan jerami Aku akan menyalakan api-Ku.”
Anna diutus ke Belanda untuk mendirikan lebih banyak biara-biara baru. Pertama-tama ia pergi ke Mons dan kemudian ke Antwerp. Para wanita yang bergabung dalam Ordo Karmelit menganggap Anna sebagai seorang kudus. Anna wafat di Antwerp pada tahun 1626. Ia dinyatakan sebagai “Beata” oleh Paus Benediktus XV.

St. William dari York
William Fitzherbert dilahirkan di Inggris pada abad keduabelas. Ia adalah kemenakan Raja Stefanus. Pemuda William seorang yang santai dan bahkan sedikit malas. Bagi sebagian orang, ia memberi kesan bahwa ia tidak serius dalam menghadapi tugas dan tanggung-jawab hidupnya. Namun demikian, William amat populer bagi penduduk kota York, kota tempat tinggalnya.
Beberapa tahun kemudian, ketika uskup agung York meninggal dunia, William ditunjuk untuk menduduki jabatan tersebut. Pada masa itu, para raja seringkali ikut campur dalam pemilihan para uskup. Oleh karena itu, banyak imam berpendapat bahwa William tidak ditunjuk secara sah. Sesungguhnya pamannyalah, yaitu raja, yang telah menunjuk William untuk jabatan itu. St. Bernardus membujuk paus agar mengangkat seorang lain sebagai uskup agung York. William diminta mundur karena mereka merasa bahwa pengangkatannya tidak sah. William meninggalkan kediamannya di keuskupan dengan hati terluka dan perasaan terhina. Ia kemudian tinggal bersama seorang pamannya yang lain, seorang uskup. Perlahan-lahan William menjadi seorang yang amat religius. Ia tidak mau menerima segala kenyamanan yang ditawarkan pamannya. Ia berdoa dan melakukan matiraga. Ia mulai menunjukkan perhatiannya yang besar akan iman dan akan Gereja.
Umat York marah mengetahui apa yang terjadi pada uskup agung mereka. Mereka tidak dapat mengerti bagaimana mungkin hal serupa itu dapat terjadi. Maka, terjadilah perkelahian antara mereka yang menghendaki William dan mereka yang tidak. Enam tahun berlalu. William hidup tenang dalam doa di rumah pamannya, sang Uskup. Ia berdoa kepada Tuhan mohon perdamaian bagi keuskupannya. Tidak lagi jadi masalah baginya bahwa ia telah diperlakukan tidak adil. Yang terpenting baginya adalah bahwa umatnya mendapat perhatian yang mereka butuhkan.
Pada akhirnya, doa-doa William terjawab. Ketika uskup agung yang lain itu wafat, paus meminta William kembali ke York. Ia tiba di keuskupannya pada bulan Mei tahun 1154. Umat sangat gembira menyambutnya. Tetapi William telah lanjut usia sekarang, dan kurang lebih sebulan kemudian ia pun wafat. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Honorius III pada tahun 1227.

St. Efrem
Efrem dilahirkan di Mesopotamia sekitar tahun 306. Ia dibaptis ketika usianya delapan belas tahun. Beberapa waktu kemudian, Efrem pergi ke pegunungan dan menjadi seorang pertapa. Ia menemukan sebuah gua dekat kota Edessa di Siria. Bajunya compang-camping dan ia hanya makan makanan hasil bumi.
Efrem cepat sekali naik darah. Perlahan-lahan ia dapat menguasai dirinya. Orang-orang yang berjumpa dengannya menyangka bahwa sudah watak dasarnya ia seorang yang amat sabar. Efrem sering berkhotbah di Edessa. Apabila ia berbicara tentang pengadilan Tuhan, umat yang mendengarnya menangis tersedu-sedu. Ia akan mengatakan kepada mereka bahwa ia adalah seorang pendosa besar. Dan sungguh demikianlah maksudnya, sebab sekali pun ringan, dosa-dosa itu tampak berat baginya. Ketika St. Basilius berjumpa dengannya, ia bertanya, “Engkaukah Efrem, hamba Yesus yang termashyur itu?” Segera Efrem menjawab, “Akulah Efrem yang dengan tidak layak berjalan menuju keselamatan.” Kemudian ia memohon serta menerima nasehat dari St. Basilius mengenai bagaimana bertumbuh dalam hidup rohani.
Efrem menghabiskan waktunya dengan menulis buku-buku rohani. Ia menulis dalam beberapa bahasa: Siria, Yunani, Latin dan Armenia. Karya tulisnya sungguh sangatlah indah dan mendalam hingga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Hingga sekarang orang masih membacanya. Efrem juga menulis kidung-kidung pujian. Lagu-lagunya menjadi sangat populer. Sementara orang menyanyikannya, mereka belajar banyak tentang iman mereka. Itulah sebabnya St. Efrem dijuluki “harpa Roh Kudus”. Ia seorang guru yang hebat, yang mengajar lewat tulisan-tulisannya, karena itulah pada tahun 1920 ia digelari Pujangga Gereja. St. Efrem wafat pada bulan Juni tahun 373.

“Ya Yesus, melalui sakramen-Mu, kami setiap hari memeluk-Mu serta menerima-Mu dalam tubuh kami; jadikan kami layak menikmati kebangkitan yang kami rindukan. Kami telah menyimpan harta pusaka-Mu itu yang tersembunyi dalam diri kami sejak kami menerima rahmat Sakramen Pembaptisan; yang senantiasa diperkaya dengan Sakramen Perjamuan-Mu.” ~ St. Efrem

St. Barnabas
Meskipun bukan salah seorang dari kedua belas rasul Kristus, Barnabas disebut juga sebagai rasul oleh St. Lukas dalam kitab Kisah para Rasul. Hal ini dikarenakan, sama seperti rasul Paulus, Barnabas menerima suatu tugas perutusan khusus dari Tuhan. Barnabas adalah seorang Yahudi kelahiran pulau Siprus. Namanya adalah Yusuf, tetapi para rasul memberinya nama Barnabas, yang artinya “anak penghiburan”.
Segera sesudah menjadi seorang Kristen, St. Barnabas menjual segala harta miliknya dan memberikan uangnya kepada para rasul. Ia seorang yang lembut serta baik hati. Ia penuh semangat dalam membagikan iman dan cintanya kepada Yesus. Barnabas diutus ke kota Antiokhia untuk mewartakan Injil. Antiokhia adalah kota terbesar ketiga dalam Kerajaan Romawi. Di Antiokhia-lah para pengikut Kristus untuk pertama kalinya disebut Kristen. Barnabas menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan. Ia berpikir tentang Paulus dari Tarsus. Ia yakin bahwa pertobatan Paulus tulus adanya. Barnabas-lah yang meyakinkan St. Petrus dan komunitas Kristen. Ia meminta Paulus bergabung dan berkarya bersamanya. Barnabas seorang yang rendah hati, ia tidak khawatir berbagi tugas dan tanggung jawab dengan orang lain. Ia tahu bahwa Paulus juga memperoleh karunia luar biasa untuk dibagikan dan ia ingin agar Paulus memperoleh kesempatan untuk itu.
Beberapa waktu kemudian, Roh Kudus memilih Paulus dan Barnabas untuk suatu tugas khusus. Tak lama sesudahnya, kedua rasul itu pun pergi melaksanakan suatu tugas perutusan yang berani. Mereka menanggung banyak penderitaan dan bahkan harus mempertaruhkan nyawa mereka. Meskipun demikian, pewartaan mereka berhasil memenangkan banyak jiwa bagi Yesus dan Gereja-Nya.
Kelak, St. Barnabas pergi dalam suatu tugas perutusan lain, kali ini bersama Yohanes Markus, sepupunya. Mereka pergi ke Siprus, daerah asal Barnabas. Begitu banyak orang menjadi percaya melalui pewartaannya, hingga Barnabas dijuluki Rasul dari Siprus. Menurut tradisi, orang kudus yang hebat ini dirajam sampai mati pada tahun 61

St. Yohanes dari Sahagun
St. Yohanes dilahirkan di Sahagun, Spanyol, pada abad kelima belas. Ia mendapatkan pendidikan dari para biarawan Benediktin di kotanya. Kemudian, Yohanes menjadi seorang imam paroki. Pastor Yohanes dapat saja hidup nyaman di katedral atau di salah satu paroki yang mapan di keuskupannya. Tetapi, Pastor Yohanes memilih hidup miskin dan sederhana seperti cara hidup Yesus sendiri. Ia memilih untuk bertanggung jawab atas sebuah kapel kecil saja. Di sana ia merayakan Misa, berkhotbah dan mengajar katekese.
Pastor Yohanes merasa perlu mendalami teologi, maka ia belajar di Universitas Katolik Salamanca. Setelah empat tahun belajar dengan tekun, ia menjadi seorang pengkhotbah yang ulung. Sembilan tahun kemudian, ia bergabung dengan para biarawan Agustin. Mereka amat terkesan dengan cara Pastor Yohanes mengamalkan keutamaan-keutamaan Kristiani. Ia taat kepada para atasannya dan rendah hati pula. St. Yohanes terus berkhotbah. Homili atau khotbahnya yang indah berhasil membawa perubahan dalam kehidupan penduduk Salamanca. Mereka saling berkelahi dengan sengit di antara mereka. Sering kali para pemuda bangsawan saling baku hantam untuk balas dendam. St. Yohanes berhasil mengakhiri banyak perkelahian-perkelahian sengit semacam ini. Ia bahkan membujuk mereka untuk saling memaafkan satu sama lain.
St. Yohanes tidak takut meluruskan perbuatan-perbuatan jahat, bahkan ketika pelakunya adalah orang-orang berkuasa yang dapat membalas dendam padanya. Suatu ketika, ia menegur seorang pangeran karena menyebabkan orang-orang miskin menderita. Memang benar apa yang dikatakan imam! Pangeran amat marah, ia mengirim dua orang utusannya untuk membunuh St. Yohanes. Kedua utusan itu pergi mendapatkan sang imam. Pastor Yohanes begitu lemah lembut dan baik hati. Kedua utusan itu pun segera dipenuhi rasa sesal dan mohon pengampunan darinya. Kemudian sang pangeran sakit parah. Berkat doa-doa St. Yohanes, ia menyesali dosa-dosanya dan sembuh dari penyakitnya.
Melalui doa dan Misa Kudus, St. Yohanes menerima rahmat yang memberinya karisma istimewa sebagai seorang pengkhotbah. Ia merayakan Misa Kudus dengan cinta bakti yang amat mendalam. Ia wafat pada tanggal 11 Juni 1479. St. Yohanes dari Sahagun dinyatakan kudus oleh Paus Alexander VIII pada tahun 1690.

St. Metodius
St. Metodius hidup pada abad kesembilan. Ia lahir dan dibesarkan di Sisilia. Metodius mengenyam pendidikan tinggi dan ia menghendaki jabatan yang sesuai untuknya. Sebab itu, ia memutuskan untuk berlayar ke Konstantinopel agar dapat memperoleh kedudukan penting di istana kaisar. Dalam perjalanannya ke sana, ia bertemu dengan seorang biarawan kudus yang berbincang dengannya dalam suatu percakapan yang panjang serta mendalam. Segala pertanyaan tentang Tuhan dan kehidupan abadi bermunculan dalam benak Metodius. Biarawan itu membantunya sadar bahwa guna memperoleh sukacita sejati dalam hidup, ia perlu mempersembahkan dirinya kepada Tuhan dalam hidup religius. Jadi, ketika Metodius tiba di Konstantinopel, ia melewati istana dan menuju sebuah biara.
Umat Kristiani sedang menghadapi masa-masa sulit di Konstantinopel. Sebagian berpendapat bahwa adalah salah memiliki gambar-gambar atau pun ikon-ikon religius. Mereka menyangka bahwa orang berdoa kepada gambar atau patung, dan bukan kepada pribadi yang diwakilinya. Terjadi pertikaian sengit dan kaisar ikut campur di dalamnya. Ia sependapat dengan orang-orang yang beranggapan bahwa gambar dan patung adalah berhala. Sebaliknya, St. Metodius tidak sependapat dengan kaisar. Ia paham betul mengapa umat Kristiani membutuhkan gambar dan patung. Ia dipilih untuk pergi ke Roma dan mohon Bapa Suci untuk menyelesaikan persoalan. Ketika ia kembali, kaisar menjatuhkan hukuman penjara selama tujuh tahun kepadanya. Metodius menderita dalam sel penjara yang gelap serta pengap, namun demikian ia tidak patah semangat. Ia tahu bahwa Yesus akan mempergunakan penderitaannya untuk menyelamatkan Gereja. Akhirnya, pada tahun 842, kaisar wafat. Isterinya, Theodora, menggantikannya karena putera mereka masih bayi. Theodora mempunyai pendapat yang berbeda dari suaminya, sang kaisar. Ia berpendapat bahwa orang seharusnya bebas mempergunakan patung, ikon dan gambar-gambar kudus apabila mereka menghendakinya. Metodius dan mereka yang telah lama menderita menjadi amat gembira. Sekarang mereka telah bebas.
Salah seorang yang membuat St. Metodius paling menderita, dikirim ke pembuangan oleh sang ratu. Kemudian Metodius diangkat menjadi patriarcha (Uskup Gereja Timur) Konstantinopel. Ia amat dikasihi umatnya.
St. Metodius menulis karya-karya indah tentang teologi dan kehidupan rohani. Ia juga menuliskan riwayat hidup para kudus dan juga sajak. Metodius menjadi patriarcha selama empat tahun, lalu wafat pada tanggal 14 Juni 847.

St. Germana dari Pibrac
Pibrac adalah sebuah dusun kecil di Perancis di mana Germana dilahirkan sekitar tahun 1579. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di sana. Germana seorang gadis yang selalu sakit-sakitan. Ia tidak cantik. Tangan kanannya cacat dan tak dapat digunakan. Ayahnya kurang memperhatikannya. Ibu tirinya tidak suka ia berada dekat anak-anaknya yang sehat. Jadi, Germana tidur di kandang bersama domba-dombanya, bahkan pada musim dingin. Bajunya compang-camping dan ia menjadi bahan olok-olok anak-anak lain. Sepanjang hari Germana menjaga kawanan dombanya di padang. Apabila ia pulang ke rumah pada malam hari, ibu tirinya acap kali berteriak padanya dan memukulinya.
Namun demikian, gadis malang ini berbicara kepada Tuhan dan ia ingat bahwa Tuhan senantiasa bersamanya sepanjang waktu. Setiap hari ia selalu ambil bagian dalam Perayaan Misa. Ia meninggalkan kawanan dombanya dalam penjagaan malaikat pelindungnya. Tak pernah sekali pun domba-domba itu keluar melewati batas tongkat gembalanya yang ia tancapkan ke tanah.
Germana seringkali mengumpulkan anak-anak kecil dan mengajarkan iman kepada mereka. Ia ingin agar hati anak-anak itu dipenuhi cinta Tuhan. Semampunya, ia juga berusaha membantu mereka yang miskin. Ia membagi sedikit makanan yang diberikan kepadanya dengan para pengemis. Pada suatu hari di musim dingin, ibu tirinya menuduh Germana mencuri roti. Wanita itu mengejarnya dengan tongkat. Tetapi, yang jatuh dari celemek baju Germana bukanlah roti, melainkan bunga-bunga musim semi.
Sekarang, orang-orang tidak lagi memperoloknya. Malahan, mereka mengasihi dan mengaguminya. Ia boleh tinggal dalam rumah ayahnya, tetapi Germana memilih untuk tetap tidur di kandang. Hingga, suatu hari pada tahun 1601, ketika usianya dua puluh dua tahun, ia ditemukan wafat di atas tempat tidur jeraminya. Hidupnya yang sarat dengan penderitaan sudah berakhir. Tuhan mengadakan mukjizat-mukjizat untuk menunjukkan bahwa ia seorang kudus.

St. Romualdus
Romualdus, seorang bangsawan Italia, dilahirkan sekitar tahun 951 di Ravenna, Italia. Ketika berumur dua puluh tahun, ia terguncang melihat ayahnya membunuh orang dalam suatu duel. Romualdus pergi ke biara Benediktin. Ia ingin hidup benar. Ia juga ingin melakukan silih atas perbuatan ayahnya yang kejam. Alam dan kehidupan biara merupakan hal baru bagi Romualdus. Ia terbiasa hidup mewah dan santai. Pemuda bangsawan itu terkesan dengan teladan hidup para biarawan. Karenanya, ia memutuskan untuk menjadi seorang biarawan pula. Ia mohon pada seorang pertapa yang baik bernama Marinus untuk mengajarkan kepadanya bagaimana menjadi kudus. Keduanya, Marinus dan Romualdus, melewatkan hari-hari mereka dengan memuji dan mencintai Tuhan. Sergius, ayah Romualdus, datang untuk melihat cara hidup baru yang ditempuh puteranya. Ayahnya terperanjat melihat kesederhanaan dan semangat pengangkalan diri. Ia sadar bahwa pastilah terdapat sukacita besar di sana karena puteranya dengan rela memilih untuk tinggal di sana. Itulah yang dikehendakinya. Ia meninggalkan harta kekayaannya lalu mengikuti jejak puteranya dan melewatkan sisa hidupnya sebagai seorang biarawan juga.
Di kemudian hari, Romualdus membentuk Kongregasi Benediktin Kamaldoli (OSB Cam). Ia menjelajah seluruh Italia untuk membentuk pertapaan-pertapaan dan biara-biara. Ke mana pun ia pergi, ia memberikan teladan penyangkalan diri yang mengagumkan bagi para biarawannya. Selama satu tahun penuh, yang menjadi makanannya setiap hari hanyalah sejumput kacang rebus. Kemudian selama tiga tahun, ia hanya makan dari sedikit hasil tanaman yang ia tanam sendiri. Melalui mati raga yang dilakukannya itu, Romualdus semakin dekat dengan Tuhan.
Romualdus wafat pada tanggal 19 Juni 1027 di biara Valdi-Castro. Ia berada sendirian di kamarnya dan wafat dengan tenang, tanpa diragukan lagi dengan membisikkan doa kesukaannya: “Oh, Yesus-ku yang manis! Tuhan hatiku! Sukacita bagi jiwa-jiwa murni! Tujuan dari segala yang aku dambakan!”

B. Michelina
Michelina dilahirkan pada tahun 1300 di Pesaro, Italia. Keluarganya kaya dan ia menikah dengan seorang kaya pula. Michelina punya pembawaan riang gembira. Ia senantiasa tampak seperti tidak punya masalah apa pun. Tetapi, ketika usianya baru dua puluh tahun, suaminya meninggal. Tiba-tiba saja, Michelina merasa sendirian di dunia ini dengan seorang putera kecil untuk dibesarkan.
Ibu muda ini tampak bersemangat menemukan kebahagiaan dari segala yang ada di sekelilingnya. Hidupnya menjadi serangkaian pesta pora, hura-hura dan santapan mewah. Rasanya ia tidak akan pernah puas menikmati segala kesenangan yang ditawarkan dunia. Setelah beberapa waktu berselang, ia sadar bahwa ia harus menyisihkan lebih banyak waktu untuk puteranya. Ia juga harus bertanggung jawab atas cara ia mempergunakan harta dan waktunya. Ia merasa jiwanya kosong. Akhirnya, Michelina mulai tenang dan menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab.
Di Pesaro, tinggallah seorang Fransiskan awam yang kudus bernama Syriaca. Ia tahu bahwa Michelina adalah seorang yang baik yang membutuhkan pertolongan serta bimbingan agar lebih beriman. Syriaca dan Michelina menjadi sahabat. Syriaca memberikan pengaruh yang besar kepada sahabatnya itu. Michelina mulai rajin berdoa. Ia merawat anaknya dan mengurus rumahnya dengan penuh perhatian. Ia melewatkan waktu luangnya untuk melayani mereka yang miskin dan yang membutuhkan pertolongan. Ia mengunjungi mereka yang kesepian dan merawat mereka yang terlalu tua atau terlalu sakit untuk dapat mengurus dirinya sendiri. Pada akhirnya, ia menjadi seorang Fransiskan awam. Awalnya, para sanak saudara khawatir ketika ia meninggalkan baju-baju mewahnya dan mulai makan makanan sederhana. Tetapi kemudian, mereka yakin bahwa Michelina sungguh telah menjadi seorang beriman.
Michelina tinggal di rumah yang sama di Pesaro sepanjang hidupnya. Ia wafat pada tahun 1356 dalam usia lima puluh enam tahun. Untuk mengenangnya, penduduk kota Pesaro memasang sebuah lampu yang senantiasa menyala di rumahnya. Pada tahun 1590, rumah Beata Michelina dibangun menjadi gereja.

St. Aloysius Gonzaga
Aloysius, santo pelindung pemuda pemudi Katolik, dilahirkan pada tanggal 9 Maret 1568. Karena ia begitu penuh semangat hidup, ayahnya berangan-angan agar kelak ia menjadi seorang perwira yang hebat. Ketika Aloysius baru berumur lima tahun, ayahnya mengajaknya ke kemah tentara. Di sana, Aloysius kecil ikut berarak dalam barisan. Suatu hari, ia bahkan berhasil mengisi dan menembakkan senapan ketika pasukan tentara sedang beristirahat. Ia juga belajar umpatan dan kata-kata kasar dari para prajurit. Ketika mengetahui apa arti kata-kata tersebut, Aloysius merasa menyesal bahwa ia telah mengucapkannya.
Pemuda Aloysius dikirim ke istana-istana para raja dan pangeran. Kelicikan, kedengkian dan kecemaran merupakan hal biasa di sana. Tetapi, semuanya itu mempengaruhi St. Aloysius hanya dalam satu hal, yaitu lebih berhati-hati agar tetap hidup sesuai tanggung jawab Kristianinya. Aloysius jatuh sakit. Hal itu memberinya kesempatan untuk mempergunakan lebih banyak waktu untuk berdoa dan membaca buku-buku yang baik. Ketika Aloysius berumur enam belas tahun, ia memutuskan untuk menjadi seorang imam Yesuit. Ayahnya menentang keinginannya itu.
Tetapi, setelah tiga tahun, akhirnya ia mengijinkannya juga. Begitu bergabung dengan Yesuit, Aloysius wajib melakukan pekerjaan-pekerjaan berat dan kasar. Ia melayani di dapur dan mencuci piring-piring kotor. Ia biasa mengatakan, “Aku ini sepotong besi yang bengkok. Aku datang kepada agama agar dijadikan lurus oleh palu penyangkalan diri dan laku tobat.”
Ketika suatu wabah menyerang kota Roma, Aloysius mohon agar diijinkan merawat mereka yang sakit. Dia, yang biasa dilayani oleh pelayan-pelayan, dengan senang hati menyeka mereka yang sakit serta merapikan tempat tidur mereka. Ia melayani orang-orang sakit hingga akhirnya penyakit itu menyerangnya juga.
St. Aloysius baru berusia dua puluh tiga tahun ketika ia wafat pada malam tanggal 20 Juni 1591. Ia hanya mengatakan, “Aku akan pergi ke surga.” Jenazah St. Aloysius Gonzaga disemayamkan di Gereja St. Ignatius di Roma. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1726.

St. Thomas More
Thomas More adalah seorang pengacara dan penulis yang terkenal. Ia dilahirkan di London pada tahun 1477. Ayahnya seorang pengacara dan juga hakim. Thomas amat berterima kasih kepada ayahnya oleh karena ia penuh kasih sayang, namun tidak memanjakannya.
Isteri pertama Thomas, Jane Colt, meninggal dalam usia muda. More ditinggal sendirian bersama keempat anak mereka yang masih kecil. Thomas menikah lagi dengan seorang janda, seorang wanita sederhana yang bahkan tidak dapat membaca dan menulis. Suaminya berusaha mengajarinya dengan sabar. Thomas menjadikan kehidupan rumah tangganya menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, sebab ia seorang yang amat menyenangkan. Pada waktu makan, salah seorang anak akan membacakan Kitab Suci. Kemudian mereka bercakap-cakap dan bersendau gurau. St. Thomas kerap mengundang para tetangga yang miskin untuk bersantap bersama mereka. Ia senantiasa membantu mereka yang miskin selama ia mampu. St. Thomas suka menggembirakan hati para tamunya dengan kejutan-kejutan menyenangkan. Ia bahkan memelihara beberapa ekor monyet lucu di rumahnya.
Sedikit saja yang dapat membayangkan betapa mendalam kehidupan rohaninya. St. Thomas berdoa beberapa jam lamanya tengah malam dan juga melakukan mati raga. Ia sungguh sadar bahwa menjadi seorang Kristen sejati membutuhkan rahmat serta pertolongan dari Tuhan.
Thomas menduduki berbagai jabatan penting dalam pemerintahan. Selama tiga tahun, ia menjabat sebagai penasehat negara, istilah lain bagi perdana menteri. Henry VIII biasa melingkarkan tangannya ke pundak Thomas sebagai tanda kasih kepadanya. Namun demikian, meskipun orang kudus kita ini seorang pejabat negara yang sangat setia, ia menempatkan kesetiaannya kepada Tuhan di atas segala-galanya. Ketika raja mencoba membuatnya melanggar hukum Tuhan, Thomas menolak. Henry ingin menceraikan isterinya agar dapat menikah dengan seorang wanita lain. Tetapi, Bapa Suci tidak dapat memberi ijin seperti itu, karena hal demikian melanggar hukum Tuhan. Raja Henry seorang yang keras kepala, akhirnya ia meninggalkan Gereja. Ia menghendaki semua orang menghormatinya sebagai kepala Gereja di Inggris. Thomas tidak dapat melakukan hal demikian. Ia memilih untuk tetap setia kepada iman Katolik dan kepada Tuhan. Karena itu, St. Thomas dijatuhi hukuman mati. St. Thomas mengampuni para hakim. Ia bahkan mengatakan berharap untuk berjumpa dengan mereka di surga. Dan ia sungguh bermaksud demikian.
Di tempat pelaksanaan hukuman mati, di mana ia akan digantung, St. Thomas mencium pipi algojo. Kemudian ia bergurau, mengatakan bahwa janggutnya janganlah sampai terpotong sebab janggutnya itu tidak bersalah. St. Thomas wafat sebagai martir pada hari Selasa, tanggal 6 Juli 1535, dalam usia lima puluh tujuh tahun. Bersama sahabatnya, Uskup Yohanes Fisher, Sir Thomas More dinyatakan kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1935.

“Tidak suatu pun terjadi apabila bukan kehendak Tuhan. Dan aku sungguh yakin bahwa segala yang terjadi, sungguh pun buruk tampaknya, adalah sungguh benar yang terbaik.” ~ St. Thomas More

St. Yulia Billiart
Maria Rosa Yulia Billiart dilahirkan di Belgia pada tahun 1751. Pamannya, seorang guru desa, mengajarinya membaca dan menulis. Yulia terutama senang sekali belajar katekismus (pelajaran agama). Ketika usianya baru tujuh tahun, ia sudah menerangkan kebenaran iman kepada anak-anak kecil lainnya. Ketika orangtuanya jatuh miskin, Yulia bekerja keras untuk membantu menopang keluarganya. Ia bahkan ikut pergi menuai hasil panenan. Namun demikian, ia selalu menyisihkan waktu untuk berdoa, mengunjungi mereka yang sakit, dan mengajarkan katekese.
Ketika Yulia masih seorang wanita muda, ia menderita sakit parah yang menyebabkannya lumpuh total. St. Yulia tidak lagi dapat bekerja, tetapi ia mempersembahkan doa-doanya kepada Tuhan agar banyak orang dapat menemukan kebahagiaan sejati bersama-Nya. Yulia merasa jauh lebih akrab dengan Tuhan daripada sebelumnya. Ia tetap mengajarkan katekese dari pembaringannya.
Yulia seorang yang penuh dengan Roh Kudus. Banyak orang datang kepadanya untuk meminta nasehat sebab ia dapat membantu mereka mendekatkan diri kepada Yesus dan mengamalkan iman mereka dengan penuh cinta. Ia mendorong semua orang untuk menerima Komuni Kudus sesering mungkin. Kasih Yulia kepada Tuhan membangkitkan semangat banyak wanita muda. Mereka rela mengorbankan waktu serta kekayaan mereka untuk karya amal kasih. Dengan Yulia sebagai pemimpin, mereka membentuk Kongregasi Suster-suster dari Notre Dame de Namur.
Suatu ketika, seorang imam mengadakan misi di kota di mana Yulia tinggal. Ia meminta Yulia untuk melakukan novena bersamanya bagi suatu intensi yang dirahasiakan olehnya. Setelah lima hari, yaitu pada Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, imam berkata: “Moeder, jika anda memiliki iman, majulah satu langkah demi menghormati Hati Yesus Yang Mahakudus.” Moeder Billiart, yang telah lumpuh selama duapuluh dua tahun, berdiri dan disembuhkan!
St. Yulia menghabiskan sisa hidupnya untuk mempersiapkan para gadis yang hendak menjadi biarawati. Ia mengurus kongregasinya. Ia banyak menderita oleh karena mereka yang tidak mengerti karyanya, namun St. Yulia senantiasa mengandalkan Tuhan. Kata-kata kesukaannya ialah: “Betapa baiknya Allah yang baik itu.” Tuhan meyakinkan Yulia bahwa suatu hari kelak, kongregasi religiusnya akan berkembang menjadi amat besar. Dan itulah yang terjadi. Meskipun St. Yulia telah wafat pada tanggal 8 April 1816, saat ini ada banyak suster dari kongregasi St. Yulia yang tersebar di seluruh dunia. Moeder Yulia dinyatakan kudus oleh Paus Paulus VI pada tahun 1969.

S. Yosephus Cafasso
Yosephus Cafasso dilahirkan pada tahun 1811 di Italia utara, dekat kota Turin. Empat tahun kemudian, pada tahun 1815, salah seorang muridnya yang paling terkenal, St. Yohanes Bosco, dilahirkan di kota yang sama. Yosephus berbahagia mempunyai orangtua yang sangat mengasihinya, yang rela berkurban demi pendidikannya. Ia pergi ke Turin agar dapat bersekolah di seminari. Yosephus bertemu Yohanes Bosco pada tahun 1827 ketika Bosco berumur dua belas tahun. Bosco berbicara kepada seminaris Cafasso di gereja dan kemudian lari sepanjang perjalanan pulang ke rumah. “Mama, mama,” teriak Yohanes, “aku bertemu dengannya, aku bertemu dengannya, mama!” “Dengan siapa?” tanya ibunya. “Yosephus Cafasso, mama. Ia seorang kudus, sungguh.” Ibu Bosco tersenyum dan mengangguk dengan lembut.
Pada tahun 1833, Yosephus ditahbiskan sebagai imam. Ia memulai tugas pelayanannya dan diutus belajar di sebuah sekolah teologi yang hebat bagi para imam. Setelah Pastor Cafasso menamatkan pelajarannya, ia menjadi seorang profesor teologi. Ia mengajar banyak imam muda selama bertahun-tahun. Mereka mengatakan bahwa ia sangat mengasihi mereka. Pastor Cafasso dikenal sebagai imam yang percaya akan kelemahlembutan dan belas kasih Allah. Karena ia sendiri begitu lembut hati, ia membangkitkan semangat dan pengharapan pada orang-orang lain juga. Ia membimbing banyak imam, kaum religius dan awam juga. Pastor Cafasso membantu Yohanes Bosco memulai pelayanan kerasulannya yang mengagumkan di antara anak-anak. Ia juga yang membimbing Pastor Bosco memulai ordo religiusnya yang dikenal sebagai Salesian. Pastor Cafasso membimbing yang lain pula membentuk ordo atau kongregasi mereka.
Pada masa Pastor Cafasso, ada begitu banyak kebutuhan sosial. Salah satunya yang paling mendesak adalah sistem penjara. Keadaan penjara amat menjijikkan. Tetapi, yang sungguh menggerakkan hati Pastor Cafasso adalah kebiasaan melaksanakan hukuman gantung bagi para narapidana yang dihukum mati di hadapan masyarakat umum. Pastor Cafasso datang kepada mereka dan menerima pengakuan dosa mereka. Ia mendampingi mereka, mengatakan betapa melimpahnya belas kasih dan kerahiman Tuhan bagi mereka hingga ajal menjemput mereka. Ia membimbing lebih dari enam puluh orang narapidana. Mereka semuanya bertobat dan meninggal dalam damai Kristus. Pastor Cafasso menyebut mereka sebagai “para kudusnya yang digantung”.
Pastor Cafasso juga menjadi pastor di Gereja St. Fransiskus pada tahun 1848. Tak seorang pun sanggup mengatakan betapa besar pengaruhnya bagi masyarakat dan karya-karya Gereja. Pastor Cafasso wafat pada tanggal 23 Juni tahun 1860. Sahabat setianya, St. Yohanes Bosco, yang menyampaikan homili pada saat pemakamannya. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1947.

St. Petrus
Petrus, paus pertama kita, adalah seorang nelayan dari Galilea. Yesus memanggilnya untuk mengikuti Dia, “Aku akan menjadikan engkau penjala manusia.” Petrus adalah seorang sederhana yang giat bekerja. Ia murah hati, jujur dan amat dekat dengan Yesus. Nama asli rasul besar ini adalah Simon, tetapi Yesus mengubahnya menjadi Petrus, yang artinya “batu karang”. “Engkaulah Petrus,” kata Yesus, “dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Petrus adalah pemimpin para rasul.
Ketika Yesus ditangkap, Petrus ketakutan. Saat itulah ia berbuat dosa dengan menyangkal Kristus sebanyak tiga kali. Rasa takut akan keselamatan diri sendiri menguasainya. Tetapi, Petrus menyesali perbuatannya dengan sepenuh hati. Ia mengangisi penyangkalannya sepanjang hidupnya. Yesus mengampuni Petrus. Sesudah kebangkitan-Nya, Ia bertanya tiga kali kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Sesungguhnya, Yesus memang tahu! Petrus benar. Dengan lembut Yesus berkata, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus mengatakan kepada Petrus untuk mengurus Gereja-Nya, sebab Ia akan naik ke surga. Yesus menetapkan Petrus sebagai pemimpin para pengikut-Nya.
Di kemudian hari Petrus pergi dan tinggal di Roma. Roma adalah pusat seluruh Kerajaan Romawi. Di sana, Petrus mempertobatkan banyak orang. Ketika penganiayaan yang kejam terhadap orang-orang Kristen dimulai, umat memohon pada Petrus untuk meninggalkan Roma dan menyelamatkan diri. Menurut tradisi, ia memang sedang dalam perjalanan meninggalkan Roma ketika ia berjumpa dengan Yesus di tengah jalan. Petrus bertanya kepada-Nya, “Tuhan hendak ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Aku datang untuk disalibkan yang kedua kalinya.” Kemudian St. Petrus berbalik dan kembali ke Roma. Ia mengerti bahwa penglihatannya berarti bahwa ia harus menderita dan wafat bagi Yesus. Segera Petrus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Karena ia bukan warganegara Romawi, sama seperti Yesus, ia dapat disalibkan. Kali ini ia tidak menyangkal Kristus. Kali ini ia siap untuk wafat bagi-Nya. Petrus minta agar disalibkan dengan kepalanya di bawah, sebab ia merasa tidak layak menderita seperti Yesus. Para prajurit Romawi tidak merasa aneh akan permintaannya, sebab para budak disalibkan dengan cara demikian. St. Petrus wafat sebagai marrir di Bukit Vatikan sekitar tahun 67. Pada abad keempat, Kaisar Konstantin membangun sebuah gereja besar di atas tempat sakral tersebut. Penemuan-penemuan kepurbakalaan baru-baru ini menegaskan kisah sejarah tersebut.

St. Paulus
Paulus adalah rasul besar yang dulunya menganiaya umat Kristen. Kemudian ia bertobat. Kita merayakan pesta bertobatnya St. Paulus pada tanggal 25 Januari. Pada saat pertobatannya, Yesus mengatakan: “Aku akan menunjukkan kepadanya betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” St. Paulus sungguh amat sangat mengasihi Yesus, buktinya, ia menjadi duplikat hidup Juruselamat kita. Sepanjang hidupnya, dalam sekian banyak perjalanan misinya, St. Paulus menghadapi berbagai macam tantangan dan bahaya. Ia didera, dilempari batu, kapalnya karam, tersesat di laut. Kerap kali dan berulang kali ia kelaparan, haus dan kedinginan. Namun demikian, ia senantiasa teguh percaya pada Tuhan. Tak pernah jera ia berkhotbah. “Cinta Yesus mendorong aku,” demikian katanya. Sebagai ganjaran, Tuhan memberinya penghiburan dan sukacita berlimpah dalam menanggung penderitaannya.
Kita dapat membaca kisah petualangannya yang mengagumkan demi Kristus dalam kitab Kisah Para Rasul yang ditulis oleh St. Lukas, dimulai pada bab sembilan. Tetapi, kisah yang ditulis St. Lukas berakhir ketika Paulus tiba di Roma. Ia berada dalam tahanan rumah, menunggu diadili oleh Kaisar Nero. Seorang penulis Kristen terkenal dari jaman Gereja Purba, Tertullian, mengisahkan bahwa Paulus dibebaskan setelah pengadilannya yang pertama. Tetapi kemudian, ia dijebloskan kembali dalam penjara. Kali ini, ia dijatuhi hukuman mati. Ia wafat sekitar tahun 67, pada masa penganiayaan yang dahsyat terhadap umat Kristen dalam pemerintahan Kaisar Nero.
Paulus menyebut dirinya sebagai rasul orang-orang non-Yahudi. Ia mewartakaan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Hal tersebut menjadikannya terkenal di seluruh dunia. Oleh karena Paulus, kita juga, menerima iman Kristen.

Mei 18, 2009 at 9:19 pm Tinggalkan komentar

RIWAYAT SANTO SANTA (3)

St. Thomas
Thomas adalah salah satu dari keduabelas rasul Yesus. Namanya dalam bahasa Syria berarti “kembar”. St. Thomas sangat mengasihi Yesus, meski pun pada mulanya ia kurang percaya. Ketika Yesus harus pergi menghadapi bahaya mati dibunuh oleh para musuh-Nya, para murid yang lain berusaha mencegah kepergian-Nya. Tetapi, St. Thomas berkata kepada mereka, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”
Ketika Yesus ditangkap, Thomas kehilangan keberaniannya. Ia melarikan diri bersama para rasul yang lain. Hatinya hancur oleh rasa duka atas wafatnya Kristus yang dikasihinya. Kemudian, pada hari Minggu Paskah, Yesus menampakkan diri kepada para rasul-Nya setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Waktu itu Thomas tidak bersama mereka. Begitu ia datang, para rasul yang lain menceritakan padanya dengan penuh sukacita, “Kami telah melihat Tuhan!” Mereka pikir Thomas akan ikut bergembira bersama mereka. Tetapi, Thomas tidak percaya. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya,” demikian katanya, “dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.”
Delapan hari kemudian, Yesus kembali menampakkan diri kepada para rasul. Kali ini, Thomas juga ada bersama mereka. Yesus memanggilnya dan memintanya untuk mencucukkan jarinya ke dalam luka di tangan-Nya dan luka di lambung-Nya. St. Thomas yang malang! Ia jatuh tersungkur di kaki Gurunya sambil berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kemudian kata Yesus, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Sesudah hari raya Pentakosta, Thomas menjadi kuat serta teguh dalam iman dan kepercayaannya kepada Yesus. Menurut tradisi, St. Thomas pergi mewartakan Injil hingga ke India. Setelah mempertobatkan banyak orang, ia wafat sebagai martir di sana.

St. Elizabeth dari Portugal
Elizabeth, seorang puteri Spanyol, dilahirkan pada tahun 1271. Ia dinikahkan dengan Raja Denis dari Portugal pada usia dua belas tahun. Elizabeth seorang puteri yang cantik serta menyenangkan. Ia juga seorang yang taat beragama, ia ikut ambil bagian dalam Misa setiap hari. Elizabeth seorang isteri yang menawan pula. Pada mulanya, suaminya sayang padanya, tetapi tak lama kemudian ia mulai menyebabkan penderitaan besar pada isterinya itu. Meskipun Raja Denis seorang pemimpin yang baik, ia tidak seperti isterinya yang suka berdoa dan melakukan kebajikan. Sesungguhnya, dosa-dosanya yang melanggar kemurnian menjadi skandal heboh di seluruh kerajaannya.
St. Elizabeth berusaha menjadi ibu yang penuh kasih sayang bagi anak-anaknya, Alphonso dan Constance. Ia juga murah hati serta penuh perhatian pada rakyat Portugal. Meskipun suaminya tidak setia, Elizabeth terus berdoa agar suatu hari nanti suaminya itu mengubah perangainya. Elizabeth tidak mau bersedih dan marah. Ia memperdalam kehidupan doanya dan ikut dalam spiritualitas Fransiskan. Lambat-laun, raja mulai tergerak hatinya oleh kesabaran serta teladan hidup isterinya. Ia mulai memperbaiki sikap hidupnya. Ia mohon maaf pada isterinya serta menaruh hormat pada isterinya itu. Di saat-saat terakhir ketika raja terbaring sakit, ratu tidak pernah beranjak dari sisinya kecuali untuk pergi Misa. Raja Denis meninggal pada tanggal 6 Januari 1325. Ia menunjukkan tobat mendalam atas dosa-dosanya dan wafat dalam damai.
Elizabeth hidup hingga sebelas tahun kemudian. Ia melakukan perbuatan-perbuatan amal kasih dan laku tobat. Ia merupakan teladan mengagumkan dalam kebaikan hatinya terhadap orang-orang miskin. Wanita yang lemah lembut ini juga menjadi pendamai dalam perselisihan antar anggota keluarga maupun antar negara.
St. Elizabeth dari Portugal wafat pada tanggal 4 Juli 1336. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Urbanus VIII pada tahun 1626.

St. Antonius Maria Zaccaria
Antonius dilahirkan di Italia pada tahun 1502. Ketika ia masih muda, ayahnya meninggal dunia. Ibunya mendukung Antonius dalam perhatian istimewa yang dimilikinya terhadap penderitaan orang-orang miskin. Ibu Zaccaria mengirim puteranya belajar di Universitas Padua agar kelak ia dapat menjadi seorang dokter. Antonius baru berusia dua puluh dua tahun ketika ia menamatkan pelajarannya.
Dokter yang masih belia itu amat berhasil dalam pekerjaannya. Namun demikian, ia tidak merasa puas. Ia tahu bahwa ia ingin menjadi seorang imam. Antonius mulai belajar teologi. Ia juga tetap merawat mereka yang sakit, menghibur serta memberikan semangat kepada mereka yang menjelang ajal. Antonius mempergunakan seluruh waktu luangnya untuk membaca serta merenungkan surat-surat St. Paulus dalam Kitab Suci. Ia membaca kisah rasul besar Paulus berulang kali dan banyak merenungkan keutamaan-keutamaannya. Sekarang, Antonius terbakar oleh semangat yang menyala-nyala untuk menjadi seorang kudus dan membawa semua orang kepada Yesus.
Setelah ditahbiskan sebagai imam, St. Antonius Maria pindah ke kota besar Milan. Di sana, ia akan dapat membantu lebih banyak orang. Ia juga membentuk suatu ordo para imam yang disebut Pekerja-pekerja Tetap St. Paulus. Orang menyebutnya “Barnabites”, oleh karena ordo mereka berpusat di Gereja St. Barnabas di Milan. Sesuai teladan rasul Paulus, St. Antonius dan para imamnya berkhotbah ke mana-mana. Mereka menyerukan kembali kata-kata dan nasehat-nasehat Paulus. Mereka menerangkan pesan-pesan Paulus dengan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti. Umat menghargainya; mereka merasa senang. St. Antonius juga memiliki cinta mendalam kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Ia memulai Devosi Empat Puluh Jam.
St. Antonius Maria baru berusia tiga puluh tujuh tahun ketika ia wafat pada tanggal 5 Juli tahun 1539. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Leo XIII pada tahun 1897.

St. Felisitas dan ketujuh puteranya
Felisitas adalah seorang wanita Kristen bangsawan dari Roma. Ia hidup pada abad kedua. Sesudah suaminya meninggal dunia, Felisitas mengabdi Tuhan dengan berdoa dan melakukan karya belas kasihan. Teladan baiknya menghantar banyak orang untuk menjadi Kristen pula. Hal ini menyebabkan imam-imam kafir amat marah dan melaporkannya kepada Kaisar Antonius Pius. Mereka mengatakan bahwa Felisitas adalah musuh negara oleh sebab ia membuat dewa-dewa murka. Maka, kaisar memerintahkan agar Felisitas ditangkap. Tujuh orang pemuda ditangkap bersamanya. Mereka adalah ketujuh putera Felisitas. Seperti ibu dalam Kitab Makabe dalam Perjanjian Lama, Felisitas tetap tenang. Gubernur sia-sia saja membujuknya untuk mempersembahkan korban kepada para dewa. Akhirnya Gubernur berseru, “Wanita celaka! Jika engkau ingin mati, matilah! Tetapi, janganlah engkau membinasakan anak-anakmu pula.”
“Putera-puteraku akan hidup selama-lamanya jika mereka, seperti saya, mengutuk dewa-dewa berhala dan mati bagi Tuhan,” jawab Felisitas. Wanita yang gagah berani ini dipaksa menyaksikan putera-puteranya dihukum mati. Seorang mati dicambuk, dua orang didera dengan tongkat, tiga orang dipenggal kepalanya dan seorang lagi tewas ditenggelamkan. Empat bulan kemudian, Felisitas juga dihukum pancung. Kekuatannya yang luar biasa itu bersumber pada pengharapannya yang besar akan kehidupan kekal kelak bersama Tuhan dan putera-puteranya di surga.
Dapat dikatakan, St. Felisitas wafat dimartir delapan kali, sebab ia harus menyaksikan satu demi satu puteranya wafat dimartir hingga akhirnya ia sendiri mempersembahkan nyawanya juga bagi Yesus.

St. Benediktus
Santo Benediktus dilahirkan pada tahun 480. Ia berasal dari keluarga Italia yang kaya. Hidupnya penuh dengan petualangan dan perbuatan-perbuatan hebat. Semasa kanak-kanak, ia dikirim ke Roma untuk belajar di sekolah rakyat. Tumbuh dewasa sebagai seorang pemuda, Benediktus merasa muak dengan gaya hidup korupsi para kafir di Roma. Benediktus meninggalkan kota Roma dan mencari suatu tempat terasing di mana ia dapat menyendiri bersama Tuhan. Ia menemukan tempat yang tepat, yaitu sebuah gua di gunung Subiako. Benediktus mengasingkan diri selama tiga tahun lamanya. Setan sering kali membujuknya untuk kembali ke rumahnya yang mewah dan kehidupannya yang nyaman di sana. Tetapi, Benediktus berhasil mengatasi godaan-godaan tersebut dengan doa dan mati raga. Suatu hari, iblis terus-menerus menggodanya dengan bayangan seorang wanita cantik yang pernah dijumpainya di Roma. Iblis berusaha membujuknya untuk kembali ke kota mencari wanita itu. Hampir saja Benediktus jatuh dalam pencobaan. Kemudian ia merasa sangat menyesal hingga menghempaskan dirinya dalam semak-semak dengan duri-duri yang panjang serta tajam. Ia berguling-guling di atas semak duri hingga seluruh tubuhnya penuh dengan goresan-goresan luka. Sejak saat itu, hidupnya mulai tenang. Ia tidak pernah merasakan godaan yang dahsyat seperti itu lagi.
Setelah tiga tahun, orang-orang mulai datang kepada Benediktus. Mereka ingin belajar bagaimana menjadi kudus. Ia menjadi pemimpin dari sejumlah pria yang mohon bantuannya. Tetapi, ketika Benediktus meminta mereka untuk melakukan mati raga, mereka menjadi marah. Bahkan para pria itu berusaha meracuninya. Benediktus membuat Tanda Salib di atas anggur beracun itu dan gelas anggur tiba-tiba pecah berkeping-keping.
Di kemudian hari, Benediktus menjadi pemimpin dari banyak rahib yang baik. Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal. Di sanalah St. Benediktus menuliskan peraturan-peraturan Ordo Benediktin yang mengagumkan. Ia mengajar para rahibnya untuk berdoa dan bekerja dengan tekun. Terutama sekali, ia mengajarkan mereka untuk senantiasa rendah hati. Benediktus dan para rahibnya banyak menolong masyarakat sekitar pada masa itu. Mereka mengajari orang banyak itu membaca dan menulis, bercocok tanam dan aneka macam ketrampilan dalam berbagai lapangan pekerjaan.
St. Benediktus mampu melakukan hal-hal baik karena ia senantiasa berdoa. Ia wafat pada tanggal 21 Maret tahun 547. Pada tahun 1966, Paus Paulus VI menyatakan St. Benediktus sebagai santo pelindung Eropa. Pada tahun 1980, Paus Yohanes Paulus II menambahkan St. Sirilus dan St. Metodius sebagai santo pelindung Eropa bersama dengan St. Benediktus.

St. Yohanes Gualbertus
St. Yohanes dilahirkan di Florence, Italia, pada akhir abad kesepuluh. Ia dan ayahnya amat terpukul ketika Hugh, satu-satunya saudara lelaki Yohanes, tewas dibunuh. Orang yang dicurigai sebagai pembunuhnya adalah teman Hugh. Atas desakan ayahnya dan juga luapan amarahnya sendiri, Yohanes mulai mencari cara untuk membalas dendam atas kematian saudaranya. Ia merasa kehormatan pribadinya tergantung pada kemampuannya menyelesaikan masalah tersebut.
Pada suatu hari Jumat Agung, ia berhadapan muka dengan pembunuhnya di suatu lorong sempit. Yohanes menghunus pedangnya dan mulai maju menyerang. Pembunuh Hugh jatuh bertekuk lutut. Ia menyilangkan tangannya di dada dan mohon ampun demi kasih Yesus yang telah wafat disalib. Dengan amat berat hati, Yohanes menjatuhkan pedangnya. Ia memeluk musuhnya dan berdua mereka berdampingan menyusuri jalan. Ketika tiba di gereja biara, Yohanes masuk dan berlutut di depan salib. Ia mohon ampun atas dosa-dosanya. Lalu, terjadilah suatu mukjizat! Kristus di atas salib menundukkan kepala-Nya. Seolah-olah Yesus hendak mengatakan kepada Yohanes bahwa Ia merasa senang Yohanes telah mengampuni musuhnya. Yohanes merasa bahwa dosa-dosanya sendiri pun telah diampuni. Seketika, terjadi perubahan besar atas dirinya hingga ia langsung menemui pimpinan biara. Yohanes bertanya apakah ia diperbolehkan bergabung menjadi seorang biarawan.
Ketika ayah Yohanes mendengar berita tersebut, dalam murkanya ia mengatakan akan membumi hanguskan seluruh biara jika puteranya tidak keluar. Para biarawan merasa bingung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Yohanes mengatasi masalah dengan memotong rambutnya dan meminjam sehelai jubah milik seorang biarawan. Ayahnya begitu terkesan hingga membiarkan puteranya tinggal di biara. Di kemudian hari, St. Yohanes pergi untuk menempuh hidup dengan disiplin yang keras. Ia membentuk komunitas para biarawannya sendiri.
Yohanes menjadi teladan dalam menghayati hidup miskin Yesus. Ia juga memberikan perhatian besar kepada semua orang miskin yang datang ke pintu gerbang biara. Tuhan menganugerahinya kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat dan memberinya kebijaksanaan dalam memberikan bimbingan. Bahkan Paus St. Leo IX datang kepada St. Yohanes untuk minta nasehatnya. St. Yohanes wafat pada tanggal 12 Juli 1073. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Selestin III pada tahun 1193.

St. Bonaventura
Bonaventura artinya “untung”. St. Bonaventura dilahirkan pada tahun 1221 di Tuscany, Italia dan dibaptis dengan nama Yohanes. Bonaventura bergabung dengan Ordo Fransiskan (O.F.M. = Ordo Saudara-saudara Dina) yang pada waktu itu masih baru. St. Fransiskus dari Asisi yang mendirikan Ordo Fransiskan hidup antara tahun 1181 hingga 1226. Jadi, St. Fransiskus masih hidup ketika Bonaventura lahir.
Sebagai seorang biarawan muda, Bonaventura harus meninggalkan negerinya untuk belajar di Universitas Paris di Perancis. Ia menjadi seorang penulis tentang hal-hal ketuhanan yang hebat. Kasihnya kepada Tuhan demikian besar sehingga orang memanggilnya dengan sebutan “Doctor Seraphicus”. Seraphicus artinya seperti malaikat.
Salah seorang sahabat Bonaventura yang terkenal ialah St. Thomas Aquinas. Thomas bertanya kepada Bonaventura dari manakah ia mendapatkan semua hal-hal mengagumkan yang ia tulis. Bonaventura membimbing temannya itu ke meja tulisnya. Ia menunjuk sebuah salib besar yang selalu ada di atas mejanya. “Dialah yang mengatakan segalanya kepadaku. Dia-lah satu-satunya Guru-ku.” Di lain waktu, ketika sedang menuliskan kisah hidup St. Fransiskus dari Asisi, Bonaventura menjadi begitu bersemangat sehingga St. Thomas berseru: “Mari kita biarkan seorang kudus menulis tentang seorang kudus.” Bonaventura selalu bersikap rendah hati, meskipun buku-bukunya telah menjadikannya terkenal.
Pada tahun 1265, Paus Klemens IV ingin menjadikan Bonaventura seorang Uskup Agung. Tetapi, Bonaventura menyatakan keberatannya kepada Paus. Bapa Suci menghormati keputusannya. Meskipun menolak diangkat menjadi Uskup Agung, Bonaventura setuju diangkat menjadi pembesar umum Ordo Fransiskan. Tugas berat ini dilaksanakannya selama tujuhbelas tahun.
Pada tahun 1273, Beato Paus Gregorius X mengangkat Bonaventura menjadi Kardinal. Dua orang utusan Paus mendapatkan Bonaventura sedang berada di sebuah bak cuci yang besar. Ia sedang mendapat giliran tugas menggosok setumpuk panci dan wajan. Para utusan Paus menunggunya dengan sabar hingga Bonaventura selesai menggosok pancinya yang terakhir, membasuh serta mengeringkan tangannya. Kemudian para utusan itu dengan khidmat menyerahkan topi merah besar yang melambangkan jabatannya yang baru.
Kardinal Bonaventura memberikan bantuan yang amat besar kepada Paus yang pada tahun 1274 mengadakan Konsili Lyon. Thomas Aquinas wafat dalam perjalanannya menuju Konsili, tetapi Bonaventura berhasil tiba di sana. Ia memberikan pengaruh yang besar pada konsili tersebut. Tetapi, sekonyong-konyong Bonaventura wafat secara mendadak pada tanggal 14 Juli 1274 dalam usia lima puluh tiga tahun. Paus berada di sisinya ketika ia wafat. Bonaventura dinyatakan santo pada tahun 1482 oleh Paus Sixtus IV. Pada tahun 1588, Paus Sixtus V memberinya gelar Pujangga Gereja.

“Jika kamu bertanya bagaimana hal-hal semacam itu dapat terjadi, carilah jawabnya dengan rahmat Tuhan, bukan dengan ajaran; dengan kerinduan hati, bukan dengan pengetahuan, dengan keluh-kesah doa, bukan dengan penyelidikan.” ~ St. Bonaventura

St. Maria Magdalena
Maria Magdalena berasal dari Magdala, dekat Danau Galilea. Sebagian orang mengenalinya sebagai seorang pendosa besar ketika ia pertama kali berjumpa dengan Yesus. Maria Magdalena seorang yang amat cantik dan ia bangga akan kecantikannya itu. Tetapi, setelah berjumpa dengan Yesus, Maria merasakan penyesalan yang mendalam atas hidupnya yang jahat. Ketika Yesus pergi ke rumah seorang kaya bernama Simon untuk suatu perjamuan makan, Maria datang dan menangis di kaki-Nya. Kemudian, dengan rambutnya yang panjang serta indah, ia mengeringkan kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi yang mahal harganya. Orang-orang merasa heran melihat Yesus membiarkan seorang pendosa seperti Maria menyentuh-Nya. Yesus tahu apa sebabnya. Ia dapat melihat ke dalam hati Maria. Yesus berkata, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Kemudian Yesus berkata dengan lembut kepada Maria. “Imanmu telah menyelamatkan kamu. Pergilah dalam damai.”
Sejak saat itu, bersama para wanita kudus lainnya, Maria dengan rendah hati melayani Yesus dan para rasul-Nya. Ketika Yesus disalibkan, Maria ada di sana; di bawah kaki salib. Ia tinggal di sana bersama Santa Perawan Maria dan St. Yohanes tanpa takut akan keselamatannya sendiri. Satu-satunya hal yang dipikirkannya ialah bahwa Tuhan-nya sedang amat menderita. Tidaklah heran jika Yesus berkata tentang Maria: “Ia telah banyak berbuat kasih.” Setelah tubuh Yesus dibaringkan dalam makam, pagi-pagi benar pada hari Minggu Paskah Maria pergi untuk membubuhi tubuh Yesus dengan rempah-rempah. Ia sangat terkejut mendapati bahwa makam telah kosong. Karena tidak menemukan tubuh-Nya yang kudus, Maria mulai menangis. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang disangkanya seorang tukang kebun. Maria bertanya kepadanya apakah ia tahu di mana gerangan tubuh Tuhan-nya yang terkasih diletakkan. Kemudian pria itu berbicara dengan suara yang dikenalnya betul: “Maria!” Dia-lah Yesus, berdiri tepat di hadapannya! Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Dan Ia memilih untuk menyatakan diri-Nya pertama kali kepada Maria. Injil menceritakan bagaimana Maria diutus oleh Tuhan sendiri untuk mewartakan Kabar Gembira kebangkitan kepada Petrus dan para rasul. Di abad-abad pertama Gereja, pesta St. Maria Magdalena dirayakan dengan Misa untuk seorang rasul.

St. Brigitta dari Swedia
Brigitta dilahirkan di Swedia pada tahun 1303. Sejak kanak-kanak, ia memiliki devosi yang kuat kepada Sengsara Yesus. Ketika usianya sepuluh tahun, tampak olehnya Yesus di salib dan ia mendengar Yesus berkata,
“Pandanglah aku, puteri-Ku.”
“Siapakah yang memperlakukan Engkau seperti ini?” tangis Brigitta kecil.
“Mereka yang melecehkan Aku dan menolak kasih-Ku untuk mereka,” jawab Yesus.
Sejak itu Brigitta berupaya untuk mencegah orang menghina dan menyakiti hati Yesus.
Ketika usianya empatbelas tahun, Brigitta dinikahkan dengan Ulf yang berusia delapan belas tahun. Sama seperti Brigitta, Ulf juga memiliki semangat untuk melayani Tuhan. Pasangan tersebut memiliki delapan orang anak, salah seorang di antaranya adalah St. Katarina dari Swedia. Brigitta dan Ulf bekerja dalam istana kerajaan Swedia. Brigitta adalah pengiring ratu. Brigitta berusaha membantu Raja Magnus dan Ratu Blanche untuk hidup lebih baik, walaupun pada umumnya mereka tidak mendengarkan nasehatnya.
Sepanjang hidupnya, Brigitta mendapat anugerah penampakan-penampakan yang luar biasa dan pesan-pesan khusus dari Tuhan. Karena ketaatannya kepada Tuhan, Brigitta menemui banyak pemimpin serta orang-orang penting di Gereja. Dengan rendah hati dijelaskannya apa yang Tuhan kehendaki dari mereka. Setelah suaminya meninggal dunia, Brigitta menanggalkan semua pakaian mewahnya. Ia hidup sebagai seorang biarawati yang miskin. Di kemudian hari, Brigitta membentuk Ordo Sang Penebus yang juga dikenal sebagai Ordo Brigittin. Ia masih tetap melakukan segala kesibukannya, bepergian ke berbagai tempat untuk melakukan perbuatan baik. Dan melalui segala aktivitasnya itu, Yesus terus mengungkapkan banyak rahasia kepadanya. Semuanya itu diterima Brigitta tanpa sedikit pun rasa bangga atau menyombongkan diri.
Menjelang akhir hidupnya, Brigitta berziarah ke Tanah Suci. Di tempat-tempat ziarah di sana, ia mendapat penampakan-penampakan tentang apa yang telah Yesus katakan dan lakukan di tempat-tempat itu. Semua wahyu yang disampaikan kepada Brigitta tentang Sengsara Yesus diterbitkan setelah kematiannya. St. Brigitta wafat di Roma pada tanggal 23 Juli 1373. Ia dinyatakan santa oleh Paus Bonifasius IX pada tahun 1391.

St. Yakobus, Rasul
Yakobus adalah seorang nelayan, sama seperti ayahnya – Zebedeus – dan saudaranya, Yohanes. Yakobus sedang duduk dalam perahu ayahnya memperbaiki jala ketika Yesus lewat. Yesus memanggil mereka masing-masing, Yakobus dan Yohanes, untuk menjadi penjala manusia, untuk mengikuti-Nya mewartakan Kabar Gembira. Zebedeus menyaksikan kedua puteranya meninggalkan perahu mereka dan mengikuti Yesus.
Bersama Petrus dan Yohanes, Yakobus termasuk murid kesayangan Yesus. Bersama mereka, Yakobus beroleh kesempatan menyaksikan apa-apa yang tidak dapat disaksikan para rasul yang lain. Bersama mereka, ia menyaksikan Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus. Bersama mereka, ia mendaki gunung dan menyaksikan Yesus bercahaya seperti matahari dengan jubah-Nya berkilau-kilauan. Peristiwa ini disebut Transfigurasi atau Yesus Dipermuliakan. Pada hari Kamis Putih, yaitu malam sebelum Yesus wafat, Yesus membawa para rasul ke taman Getsemani. Dalam Injil Matius dikisahkan bagaimana Yesus meminta Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk menyertai-Nya ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Mereka menyaksikan bagaimana Wajah Tuhan menjadi pucat karena duka yang amat dalam. Kemudian titik-titik darah mulai menetes dari kening-Nya. Sungguh, saat-saat yang amat memilukan, tetapi para rasul sudah terlalu lelah. Mereka tertidur! Kemudian St. Yakobus lari ketakutan ketika para musuh menangkap Yesus serta membawa-Nya pergi. Dan Yakobus tidak ada di bawah kaki salib pada hari Jumat Agung. Meskipun demikian, Tuhan menemuinya lagi pada sore hari Minggu Paskah di kamar atas. Yesus yang bangkit masuk melalui pintu yang terkunci dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Yakobus dan para rasul yang lain mendapatkan damai yang dijanjikan-Nya itu setelah kedatangan Roh Kudus pada Hari Pentakosta.
St. Yakobus memulai kerasulannya sebagai seorang yang suka menurutkan kata hatinya serta berbicara apa adanya. Tanpa sungkan ia meminta Yesus tempat duduk kehormatan dalam kerajaan-Nya. Ia meminta Yesus menurunkan api atas desa-desa yang tidak mau menerima Tuhan. Tetapi imannya kepada Yesus sungguh besar. Pada akhirnya, Yakobus belajar untuk menjadi rendah hati dan lemah lembut. Dan sungguh, ia menjadi yang “pertama” dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Ia mendapat kehormatan untuk menjadi rasul pertama yang wafat bagi Yesus. Kisah Para Rasul bab 12 mengisahkan bahwa Raja Herodes Agripa menyuruh orang membunuh Yakobus dengan pedang. Dengan wafat sebagai martir, Yakobus memberikan kesaksian yang paling besar dari segala bentuk kesaksian lainnya.

St. Yoakim dan St. Anna
St. Yoakim dan St. Anna adalah orangtua Santa Perawan Maria. Mereka hidup rukun, taat beribadah kepada Tuhan dan melakukan banyak perbuatan baik. Namun demikian, ada satu hal yang membuat mereka sedih; Tuhan belum memberi mereka seorang anak pun. Selama bertahun-tahun, Anna memohon kepada Tuhan untuk memberinya anak. Ia berjanji untuk mempersembahkan anaknya itu kelak kepada Tuhan. Ketika sudah lanjut umurnya, Tuhan menjawab doa Anna dengan cara yang amat luar biasa, yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya. Anak yang lahir bagi St. Yoakim dan St. Anna adalah Santa Perawan Maria Immaculata (=yang Dikandung Tanpa Dosa). Wanita yang paling kudus di antara semua wanita ini akan menjadi Bunda Allah. Anna merawat Maria kecil dengan penuh kasih sayang selama beberapa tahun. Kemudian dipersembahkannya puterinya itu kepada Tuhan, seperti yang telah dijanjikannya. Maria tinggal di Bait Allah di Yerusalem. Yoakim dan Anna melanjutkan kehidupan mereka dengan berdoa hingga tiba saatnya Tuhan memanggil mereka pulang ke rumah Bapa di surga.
Umat Kristiani senantiasa menghormati St. Anna secara istimewa. Banyak gereja indah dibangun untuk menghormatinya. Salah satunya yang mungkin paling terkenal adalah Gereja St. Anne de Beaupre di Kanada. Banyak orang pergi ke sana sepanjang tahun untuk memohon bantuan doa St. Anna dalam menanggung beban hidup mereka.

St. Marta
Marta adalah saudari Maria dan Lazarus. Mereka tinggal di sebuah kota kecil bernama Betania, dekat Yerusalem. Ketiga bersaudara itu adalah sahabat-sahabat Yesus. Yesus seringkali datang mengunjungi mereka. Sesungguhnya, dalam Injil dikatakan: “Yesus mengasihi Marta, dan saudaranya Maria dan Lazarus.” Marta dengan senang hati melayani Yesus apabila Ia datang mengunjungi mereka. Suatu hari, Marta sedang menyiapkan makanan bagi Yesus dan para murid-Nya. Marta yakin bahwa tugasnya akan lebih ringan apabila saudarinya datang membantu. Ia melihat Maria duduk tenang dekat kaki Yesus, asyik mendengarkan Dia. “Tuhan, suruhlah dia membantu aku,” pinta Marta kepada Yesus. Yesus amat senang dengan semua layanan kasih sayang Marta. Tetapi, Ia ingin Marta tahu bahwa mendengarkan Sabda Tuhan dan berdoa jauh lebih penting. Jadi dengan lembut Yesus berkata kepadanya, “Marta, Marta engkau khawatir akan banyak hal, namun hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik.”
Iman Marta yang mendalam kepada Yesus tampak nyata ketika saudaranya, Lazarus, meninggal. Begitu ia mendengar bahwa Yesus sedang dalam perjalanan menuju Betania, Marta pergi menyongsong-Nya. Ia percaya kepada Yesus dan dengan terus terang berkata: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Kemudian Yesus mengatakan kepadanya bahwa Lazarus akan bangkit. Kata-Nya, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Percayakah engkau akan hal ini?” Dan Marta menjawab, “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” Yesus mengadakan suatu mukjizat besar dengan membangkitkan Lazarus dari antara orang mati!
Sesudah kejadian itu, Yesus datang lagi dan makan bersama dengan Lazarus, Marta dan Maria. Seperti biasanya, Marta melayani mereka. Namun demikian, kali ini Marta melayani dengan sikap yang lebih tulus serta penuh kasih. Ia melayani dengan hati yang penuh sukacita.

St. Ignatius dari Loyola
Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.
St. Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan tawa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya.
Ignatius berusia empat puluh tiga tahun ketika ia lulus dari Universitas Paris. Pada tahun 1534, bersama dengan enam orang sahabatnya, ia mengucapkan kaul rohani. Ignatius dan sahabat-sahabatnya, yang pada waktu itu masih belum menjadi imam, ditahbiskan pada tahun 1539. Mereka berikrar untuk melayani Tuhan dengan cara apa pun yang dianggap baik oleh Bapa Suci. Pada tahun 1540 Serikat Yesus secara resmi diakui oleh Paus. Sebelum Ignatius wafat, Serikat Yesus atau Yesuit telah beranggotakan seribu orang. Mereka banyak melakukan perbuatan baik dengan mengajar dan mewartakan Injil. Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Marilah pada hari ini kita berdoa dengan menggunakan kata-kata St. Ignatius dari Loyola, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.”

St. Alfonsus Maria de Liguori
Alfonsus dilahirkan dekat Naples, Italia pada tahun 1732. Ia seorang pelajar yang giat belajar. Ia mendapatkan gelar dalam bidang hukum dan menjadi seorang pengacara terkenal. Suatu kesalahan yang dibuatnya di pengadilan membuat Alfonsus yakin akan apa yang telah ada dalam pikirannya: ia harus meninggalkan pekerjaannya dan menjadi seorang imam. Ayahnya berusaha membujuk Alfonsus agar ia mengurungkan niatnya itu. Tetapi, tekad Alfonsus sudah bulat. Ia menjadi seorang imam.
Kehidupan Alfonsus dipenuhi dengan berbagai macam kegiatan. Ia berkhotbah dan menulis banyak buku. Ia membentuk suatu kongregasi rohani yang disebut “Kongregasi Pater-Pater Redemptoris” (CSsR; Redemptoris artinya Sang Penebus). Alfonsus memberikan pengarahan rohani yang bijaksana dan membawa damai bagi umatnya melalui Sakramen Rekonsiliasi. Ia juga menulis lagu puji-pujian, bermain organ dan melukis. St. Alfonsus menulis enam puluh buah buku. Ini sungguh luar biasa mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang lain amatlah banyak. Ia juga sering menderita sakit. Ia sering sakit kepala, tetapi segera ia akan menempelkan sesuatu yang dingin ke dahinya dan terus tetap bekerja.
Meskipun pada dasarnya ia mempunyai kecenderungan untuk bersikap terburu-buru, Alfonsus berusaha untuk menguasai diri. Ia amatlah rendah hati, hingga ketika pada tahun 1798 Paus Pius VI ingin mengangkatnya menjadi seorang Uskup, dengan lembut ia mengatakan “tidak”. Ketika para utusan paus telah datang secara pribadi untuk menyampaikan keputusan paus kepadanya, mereka menyapa Alfonsus dengan “Tuan yang Termasyhur”. Alfonsus menjawab, “Tolong, jangan memanggilku seperti itu lagi. Sebutan itu akan membuatku mati.” Paus memberikan pengertian kepada Alfonsus bahwa ia sungguh menghendaki Alfonsus menjadi seorang Uskup.
Alfonsus mengutus banyak pengkhotbah ke seluruh wilayah keuskupannya. Umat perlu diingatkan kembali akan cinta kasih Tuhan dan akan pentingnya iman mereka. Alfonsus berpesan kepada para imam untuk menyampaikan khotbah yang sederhana. “Saya tidak pernah menyampaikan khotbah yang tidak dapat dimengerti bahkan oleh nenek tua yang paling lugu yang ada di gereja,” katanya. Dengan semakin bertambahnya usia, Alfonsus menderita berbagai penyakit. Ia menderita radang sendi yang menyiksanya dan menjadikannya lumpuh. Ia kehilangan pendengarannya serta nyaris buta. Ia juga harus mengalami berbagai kekecewaan dan pencobaan. Namun, Alfonsus memiliki devosi yang amat mendalam kepada Santa Perawan Maria, seperti yang dapat kita ketahui melalui bukunya yang terkenal yang berjudul ‘Kemuliaan Maria’. Segala penderitaan dan pencobaan itu berakhir dengan damai dan sukacita serta kematian yang kudus.
Alfonsus wafat pada tahun 1787 pada usia sembilan puluh satu tahun. Paus Gregorius XVI menyatakannya kudus pada tahun 1839. Paus Pius IX memberinya gelar Doktor Gereja pada tahun 1871.

St. Petrus Yulianus Eymard
Pada tahun 1811 Petrus Yulianus Eymard dilahirkan di sebuah kota kecil yang termasuk dalam wilayah keuskupan Grenoble, Perancis. Bersama ayahnya, Petrus bekerja membuat serta memperbaiki pisau hingga usianya delapanbelas tahun. Waktu luangnya dipergunakannya untuk belajar. Ia belajar sendiri bahasa Latin dan menerima bimbingan rohani dari seorang imam yang baik hati. Petrus ingin sekali menjadi seorang imam. Ketika usianya dua puluh tahun, Petrus memulai pelajarannya di Seminari Grenoble. Petrus Yulianus akhirnya ditahbiskan menjadi seorang imam pada tahun 1834 dan selama lima tahun berikutnya ia melayani di dua paroki. Umat menyadari betapa Pastor Eymard telah menjadi berkat bagi mereka semua.
Ketika P. Eymard meminta ijin kepada Bapa Uskup untuk menggabungkan diri dengan suatu ordo baru, yaitu Ordo Marists, Bapa Uskup memberikan persetujuannya. P. Eymard kemudian menjadi direktur rohani bagi para seminaris Marists. Pada tahun 1845, ia diangkat menjadi Superior (= pembesar biara) Lyon, Perancis. Tetapi meskipun P. Eymard melaksanakan begitu banyak tugas yang dibebankan kepadanya dengan giat sepanjang hidupnya, P. Eymard akan selalu dikenang secara istimewa untuk sesuatu yang lain.
P. Eymard mempunyai cinta yang menyala-nyala kepada Ekaristi Kudus. Ia amat terpesona dengan kehadiran Yesus dalam Ekaristi. Ia suka sekali meluangkan waktu setiap hari untuk melakukan adorasi (= sembah sujud) kepada Sakramen Maha Kudus. Pada Pesta Corpus Christi, yaitu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, P. Eymard dianugerahi suatu pengalaman rohani yang amat dahsyat. Sementara ia membawa Hosti Kudus dalam prosesi, ia merasakan kehadiran Yesus, bagaikan suatu kehangatan dari sumber api. Hosti itu serasa menyelebunginya dengan kasih dan cahaya. Dalam hatinya, P. Eymard berdoa kepada Tuhan tentang kebutuhan-kebutuhan rohani dan jasmani umatnya. Ia memohon agar kerahiman dan belas kasih Yesus menyentuh hati setiap orang seperti ia sendiri disentuh melalui Ekaristi.
Pada tahun 1856, P. Eymard mengikuti inspirasi yang telah didoakannya selama bertahun-tahun. Dengan persetujuan dari para pembesarnya, P. Eymard membentuk ordo religius yang beranggotakan para imam yang ber-adorasi kepada Ekaristi Kudus. Mereka dikenal sebagai Para Imam dari Sakramen Maha Kudus, s.s.s. Dua tahun setelah ordo para imam dibentuk, P. Eymard membentuk ordo untuk para biarawati, Abdi Allah dari Sakramen Maha Kudus. Sama seperti para imam, para biarawati juga mempunyai cinta yang istimewa kepada Yesus dalam Ekaristi Kudus. Para imam dan biarawati dari Sakramen Maha Kudus membaktikan hidup mereka dalam adorasi kepada Yesus. P. Eymard juga membentuk kelompok-kelompok dalam gerejanya guna membantu umatnya mempersiapkan diri untuk menyambut Komuni Kudusnya yang Pertama. Ia menulis beberapa buku mengenai Ekaristi yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa. Buku-buku itu masih beredar hingga sekarang.
P. Eymard hidup pada masa yang sama dengan seorang kudus lainnya yang akan kita rayakan pestanya besok, tanggal 4 Agustus, yaitu St. Yohanes Vianney. Mereka berdua bersahabat dan masing-masing saling mengagumi yang lainnya. Pastor Vianney mengatakan bahwa Pastor Eymard adalah seorang kudus dan ia menambahkan, “Adorasi oleh para imam! Betapa baiknya! Aku akan berdoa setiap hari bagi karya Pastor Eymard.”
St. Petrus Yulianus Eymard melewatkan empat tahun terakhir hidupnya dalam penderitaan hebat. Di samping penderitaan jasmani, ia juga harus menderita karena berbagai masalah dan kecaman. Namun P. Eymard tetap setia dalam adorasinya kepada Sakramen Maha Kudus. Kesaksian hidupnya serta pengorbanannya mendorong banyak orang lainnya untuk menjawab panggilan hidup mereka dengan bergabung dalam ordo-ordo religius. P. Eymard wafat pada tanggal 1 Agustus 1868 dalam usia lima puluh tujuh tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes XXIII pada tanggal 9 Desember 1962.

St. Yohanes Maria Vianney
Yohanes Maria Vianney dilahirkan di Lyons, Perancis pada tahun 1786. Ketika masih kanak-kanak, ia menggembalakan domba ayahnya. Ia suka berdoa tetapi juga suka bermain. Ketika Yohanes berumur delapanbelas tahun, ia minta ijin kepada ayahnya untuk menjadi seorang imam. Ayahnya berkeberatan karena tenaganya dibutuhkan untuk mengerjakan pertanian keluarga. Dua tahun kemudian ayahnya memberikan ijin. Pada usia duapuluh tahun, Yohanes belajar di bawah bimbingan Pastor Balley. Pastor Balley seorang imam yang amat sabar, tetapi belajar bahasa Latin merupakan kendala besar bagi Yohanes. Ia menjadi patah semangat. Pada saat itulah ia memutuskan untuk berjalan sejauh 60 mil (±97 km) munuju kapel St. Yohanes Fransiskus Regis, seorang kudus yang populer di Perancis. Yohanes memohon bantuan doa St. Yohanes Regis. Setelah ziarah itu, ia tetap saja mempunyai masalah dalam hal belajar sama seperti sebelumnya. Bedanya ialah ia tidak lagi pernah merasa patah semangat.
Pada akhirnya Yohanes berhasil juga masuk seminari. Belajar merupakan hal yang sulit baginya. Tidak peduli betapa giat ia berusaha, ia tidak pernah berhasil dengan baik. Ketika ujian akhir tiba, ujian dilaksanakan secara lisan, dan bukan secara tertulis. Yohanes harus menghadapi suatu dewan guru dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Yohanes begitu sedih hingga ia menangis saat ujian tengah berlangsung. Namun, karena Yohanes seorang yang kudus, ia sepenuhnya dapat berpikir praktis sesuai pengalaman hidupnya dan ia mengerti apa yang diajarkan Gereja dalam masalah yang diujikan kepadanya. Ia tahu jawaban yang benar pada saat ditanyakan kepadanya apa yang harus dilakukan dalam perkara ini atau itu. Hanya saja ia tidak dapat mengatakan jawabannya itu dengan gaya bahasa sesuai dengan buku pedoman berbahasa Latin yang rumit. Akhirnya Yohanes ditahbiskan juga. Ia mengerti apa itu panggilan imamat dan kebaikan hatinya tak dapat diragukan lagi.
Yohanes diutus ke sebuah gereja kecil yang disebut Ars. Pastor Vianney berpuasa dan melakukan silih yang berat demi umatnya. Ia berusaha keras agar mereka berhenti berbuat dosa. Mereka mabuk-mabukan, bekerja sepanjang hari pada hari Minggu, dan tidak pernah pergi ke gereja. Sebagian besar dari mereka menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Pada akhirnya, kedai-kedai minum mulai tutup satu demi satu karena usaha mereka menurun. Orang mulai berdoa secara rutin setiap hari Minggu dan ambil bagian dalam Misa harian. Sumpah serapah tidak lagi sering diucapkan. Apa yang telah terjadi di Ars? “Pastor kita adalah seorang kudus,” kata mereka, “dan kita wajib taat kepadanya.”
Tuhan memberi Yohanes karunia untuk membaca pikiran orang serta mengetahui masa depan. Karena karunia tersebut, ia mempertobatkan banyak pendosa dan membantu umat menentukan keputusan-keputusan yang tepat. Orang banyak mulai berdatangan ke Ars. Kadang-kadang, ratusan orang dalam satu hari. St. Yohanes Vianney menggunakan dua belas hingga enam belas jam sehari untuk mendengarkan pengakuan mereka. Yohanes amat berharap dapat menghabiskan sisa hidupnya di sebuah biara. Yang terjadi malahan, ia tinggal selama empat puluh dua tahun di Ars dan wafat di sana pada tahun 1859 pada usia tujuh puluh tiga tahun. St. Yohanes Vianney dinyatakan kudus pada tahun 1925 oleh Paus Pius XI.

“Doa pribadi bagaikan jerami yang tercecer di sana sini; jika kamu membakarnya, akan menghasilkan tebaran api kecil-kecil. Tetapi, kumpulkan jerami-jerami itu menjadi satu berkas dan bakarlah, maka kamu akan mendapatkan suatu nyala api yang besar, berkobar bagaikan pancang ke angkasa; doa bersama sama seperti itu.” ~ St. Yohanes Maria Vianney

St. Sixtus II
Para kaisar Romawi yang menganiaya orang-orang Kristen berusaha untuk memusnahkan kepercayaan kepada Yesus dan agama yang mereka benci sekaligus mereka takuti. Meskipun mereka tidak menyadarinya, namun sesungguhnya setiap kali mereka membunuh seorang kudus, mereka semakin memperkuat keyakinan orang-orang Kristen. Dari penganiayaan bangsa Romawi yang banyak menumpahkan darah itu, muncullah para martir. Persembahan para martir kepada Yesus yaitu kesetiaan mereka, bahkan hingga rela mengurbankan nyawa mereka, mendatangkan berkat bagi gereja hingga akhir jaman.
Penganiayaan oleh Kaisar Valerian mengakibatkan kemartiran Paus St. Sixtus II dan keenam diakonnya pada hari yang sama. Penganiayaan dilakukan dengan amat kejam. Banyak orang dari komunitas Kristiani bersembunyi dalam katakomba-katakomba bawah tanah. Mereka ambil bagian dalam Perayaan Misa dan saling menguatkan satu sama lainnya. Sixtus, seorang imam Roma, diangkat menjadi Paus pada tahun 257. Pada tahun yang sama penganiayaan oleh Kaisar Valerian dimulai. Paus Sixtus maju terus dengan berani selama satu tahun, sebagian besar dengan bersembunyi, dan meneguhkan umat Kristen. Dengan kebijaksanaan serta kelemahlembutannya, ia bahkan menyelesaikan masalah-masalah tentang iman Kristiani.
Pada tanggal 6 Agustus 258, para prajurit Romawi menerjang masuk suatu ruangan dalam katakomba di mana Sixtus sedang duduk dengan tenang. Ia sedang menyampaikan khotbahnya tentang cinta kasih dan pengampunan Yesus. Sebagian orang mengatakan bahwa ia langsung di bunuh di tempat itu, di atas kursinya, bersama dengan empat orang dari keenam diakonnya. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia dan para diakonnya dibawa pergi untuk diadili. Kemudian mereka di bawa kembali ke ruangan yang sama dan dibunuh. Dua diakon lainnya dibunuh juga beberapa saat kemudian pada hari yang sama.
Seabad sesudah peristiwa tersebut, Paus St. Damasus menuliskan sebuah prasasti yang indah di makam St. Sixtus yang terletak dalam katakomba St. Kalistus di Roma. St. Sixtus II amat dihargai oleh umat Kristen perdana dan namanya termasuk dalam daftar orang kudus yang dicantumkan dalam Doa Syukur Agung Pertama.
Kita dapat mohon bantuan doa St. Sixtus II agar kita dapat menghargai karunia iman kita dan tumbuh dalam kasih kepada Yesus. Ketika kita takut berdiri tegak menghadapi apa yang Yesus kehendaki dari kita, kita dapat mohon bantuan doa St. Sixtus dan para diakonnya agar kita dikuatkan.

St. Dominikus
Dominikus dilahirkan di Castile, Spanyol pada tahun 1170. Ia adalah putera keluarga Guzman. Ibundanya adalah Beata Yoana dari Aza. Ketika Dominikus berusia tujuh tahun, ia mulai bersekolah. Pamannya, seorang imam, membimbingnya dalam pelajaran. Setelah beberapa tahun lamanya belajar, Dominikus menjadi seorang imam juga. Ia hidup dengan tenang dalam doa dan ketaatan bersama para imam lainnya. Tetapi Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi Dominikus. Ia dipanggil untuk mendirikan suatu ordo religius yang baru. Ordo tersebut diberi nama Ordo Praedicatorum (OP = Ordo Para Pengkhotbah) atau “Ordo Santo Dominikus”, sesuai namanya.
Para imam Dominikan berkhotbah tentang iman. Mereka berusaha meluruskan kembali ajaran-ajaran sesat yang disebut bidaah. Semuanya itu bermula ketika Dominikus sedang dalam perjalanan melewati Perancis Selatan. Ia melihat bahwa bidaah Albigensia telah amat membahayakan orang banyak. Dominikus merasa berbelas kasihan kepada mereka yang bergabung dengan bidaah sesat tersebut. Ia berusaha menyelamatkan mereka. Para imam Dominikan pada akhirnya berhasil mengalahkan bidaah yang amat berbahaya tersebut dengan doa, teristimewa dengan Doa Rosario (baca juga Asal-usul Rosario). Dominikus juga mendorong umatnya untuk bersikap rendah hati dan melakukan silih. Suatu ketika seseorang bertanya kepada St Dominikus buku apakah yang ia pergunakan untuk mempersiapkan khotbah-khotbahnya yang mengagumkan itu. “Satu-satunya buku yang aku pergunakan adalah buku cinta,” katanya. Ia selalu berdoa agar dirinya dipenuhi cinta kasih kepada sesama. Dominikus mendesak para imam Dominikan untuk membaktikan diri pada pendalaman Kitab Suci dan doa. Tidak seorang pun pernah melakukannya lebih dari St. Dominikus dan para pengkhotbahnya dalam menyebarluaskan devosi Rosario yang indah.
St. Dominikus seorang pengkhotbah ulung, sementara St. Fransiskus dari Asisi seorang imam miskin yang rendah hati. Mereka berdua bersahabat erat. Kedua ordo mereka yaitu Dominikan dan Fransiskan membantu umat Kristiani hidup lebih kudus. Para imam Dominikan mendirikan biara-biara di Paris – Perancis, Madrid – Spanyol, Roma dan Bologna – Italia. Semasa hidupnya Dominikus juga melihat ordo yang didirikannya berkembang hingga ke Polandia, Skandinavia dan Palestina. Para imam Dominikan juga pergi ke Canterbury – London, dan Oxford di Inggris.
St. Dominikus wafat di Bologna pada tanggal 7 Agustus 1221. Sahabat dekatnya, Kardinal Ugolino dari Venisia kelak menjadi Paus Gregorius IX. Ia menyatakan Dominikus sebagai orang kudus pada tahun 1234.

St. Klara dari Asisi
Klara dilahirkan sekitar tahun 1193 di Asisi, Italia. Ia hidup pada jaman St. Fransiskus dari Asisi. Klara menjadi pendiri suatu ordo religius para biarawati yang disebut “Ordo Santa Klara (Klaris), OSCl” Ketika Klara berusia delapan belas tahun, ia mendengarkan khotbah St. Fransiskus. Hatinya berkobar dengan suatu hasrat yang kuat untuk meneladaninya. Ia juga ingin hidup miskin serta rendah hati demi Yesus. Jadi suatu malam, ia melarikan diri dari rumahnya. Di sebuah kapel kecil di luar kota Asisi, Klara mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. St. Fransiskus menggunting rambutnya dan memberinya sehelai jubah coklat kasar untuk dikenakannya. Untuk sementara waktu, Klara tinggal bersama para biarawati Benediktin hingga biarawati lainnya bergabung dengannya. Orangtua Klara mengupayakan segala usaha untuk membawanya pulang ke rumah, tetapi Klara tidak mau kembali. Tak lama kemudian Agnes, adiknya yang berusia lima belas tahun, bergabung dengannya. Para gadis yang lain pun ingin pula menjadi pengantin Kristus. Jadi, sebentar saja sudah terbentuklah suatu komunitas religius kecil.
St. Klara dan para biarawatinya tidak mengenakan sepatu. Mereka tidak pernah makan daging. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana dan tidak berbicara hampir sepanjang waktu. Namun demikian, para biarawati itu amat bahagia karena mereka merasa Yesus dekat dengan mereka. Suatu ketika sepasukan tentara yang kasar datang untuk menyerang Asisi. Mereka telah merencanakan untuk menyerang biara terlebih dahulu. Meskipun sedang sakit parah, St. Klara minta untuk dibopong ke altar. Ia menempatkan Sakramen Mahakudus di tempat di mana para prajurit dapat melihat-Nya. Kemudian Klara berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan para biarawati. “Ya Tuhan, sudilah melindungi para biarawati yang saat ini tidak dapat aku lindungi,” doanya. Suatu suara dari hatinya terdengar berbicara: “Aku akan selalu menempatkan mereka dalam perlindungan-Ku.” Bersamaan dengan itu, suatu kegentaran hebat meliputi para prajurit dan mereka segera lari pontang-panting.
St. Klara menjadi priorin (=pemimpin) di biaranya selama empat puluh tahun. Dua puluh sembilan tahun dari masa itu dilewatkannya dengan menderita sakit. Meskipun demikian, St. Klara mengatakan bahwa ia penuh sukacita sebab ia melayani Tuhan. Sebagian orang khawatir para biarawati tersebut menderita sebab mereka teramat miskin. “Kata mereka kita ini terlalu miskin, tetapi dapatkah suatu hati yang memiliki Tuhan yang Maha Kuasa sungguh-sungguh miskin?” St. Klara wafat pada tanggal 11 Agustus 1253. Hanya dua tahun kemudian ia dinyatakan kudus oleh Paus Alexander IV.

“Pergilah dalam damai; engkau telah mengikuti jalan yang benar; pergilah dengan penuh keyakinan, sebab Pencipta-mu telah menguduskanmu, telah memeliharamu terus-menerus, dan telah mengasihimu dengan segala kelembutan bagaikan seorang ibu terhadap anaknya. Oh Tuhan, terberkatilah Engkau karena telah menciptakan aku.” ~ St. Klara

St. Pontianus dan St. Hippolitus
Maximinus menjadi kaisar Roma pada tahun 235. Begitu naik tahta, ia mulai melakukan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Salah satu hukuman yang paling sering dijatuhkan pada para uskup dan imam adalah pembuangan ke daerah-daerah pertambangan yang berbahaya dan tidak sehat di Sardinia, Italia. Penganiayaan inilah yang mempertemukan kedua martir yang pestanya kita rayakan pada hari ini.
St. Pontianus diangkat sebagai paus setelah wafatnya Urbanus I pada tahun 230. Ketika Maximinus menjadi kaisar, Pontianus melayani Gereja dengan penderitaannya di tambang-tambang Sardinia.
St. Hippolitus adalah seorang imam dan sarjana gereja di Roma. Ia menulis banyak karya-karya mengagumkan mengenai teologi. Ia juga seorang guru yang hebat pula. Hippolitus merasa kecewa dengan Paus St. Zephyrinus, yang wafat sebagai martir pada tahun 217. Hippolitus merasa bahwa paus kurang cepat tanggap dalam mencegah orang-orang mengajarkan ajaran-ajaran sesat. Pengganti St. Zephyrinus adalah St. Kalitus I. Hippolitus kurang setuju dengan paus yang baru ini. Hippolitus sendiri mempunyai sejumlah besar pengikut. Para pengikutnya mendesaknya agar ia mau diangkat sebagai paus. Hippolitus setuju. Ia memutuskan hubungan dengan Gereja dan menjadi paus tandingan. Ketika penganiayaan dimulai, ia ditangkap dan dikirim ke Sardinia. Di sana, dalam keadaan sengsara, ketika para musuh umat Kristiani tertawa, suatu karya penyembuhan yang ajaib terjadi.
Paus Pontianus dan Hippolitus saling bertemu di pembuangan. Hippolitus tersentuh dengan semangat kerendahan hati paus. Ia mohon diperbolehkan kembali dalam pelukan Gereja; segera ia merasakan segala amarah dan kecewanya diambil dari hatinya. Paus Pontianus dapat memahami sang imam dan mengasihinya. Bapa Suci tahu bahwa mereka perlu saling membantu serta menguatkan dalam kasih Yesus. Kedua orang kudus tersebut wafat sebagai martir dan untuk selamanya dikenang sebagai saksi pengampunan dan pengharapan Kristiani.

St. Maximilianus Maria Kolbe
Raymond Kolbe dilahirkan di Polandia pada tahun 1894. Ia bergabung dengan Ordo Fransiskan pada tahun 1907 dan memilih nama seperti kita mengenalnya sekarang: Maximilianus. Maximilianus amat mencintai panggilannya dan secara istimewa ia mencintai Santa Perawan Maria. Ia menambahkan nama “Maria” pada namanya ketika ia mengucapkan kaul agungnya pada tahun 1914. Pastor Maximilianus Maria yakin bahwa dunia abad keduapuluh membutuhkan Bunda Surgawi mereka untuk membimbing serta melindunginya. Ia mempergunakan media cetak agar Maria lebih dikenal luas. Ia bersama dengan teman-teman Fransiskannya menerbitkan bulletin yang terbit dua bulan sekali yang segera saja tersebar dan dibaca orang di seluruh dunia.
Bunda Allah memberkati karya Pastor Maximilianus Kolbe. Ia membangun sebuah biara besar di Polandia. Biara tersebut dinamainya “Kota Immaculata”. Pada tahun 1938, delapan ratus biarawan Fransiskan tinggal serta berkarya di sana untuk mewartakan kasih sayang Maria. Pastor Kolbe juga membangun sebuah Kota Immaculata di Nagasaki, Jepang. Dan sebuah lagi dibangunnya di India. Pada tahun 1938, Nazi menyerbu Kota Immaculata Polandia. Mereka menghentikan karya mengagumkan yang berlangsung di sana. Pada tahun 1941, kaum Nazi menangkap Pastor Kolbe. Mereka menjatuhkan hukuman kerja paksa di Auschwitz. Pastor Kolbe telah berada di Auschwitz selama tiga bulan lamanya ketika seorang tahanan berhasil melarikan diri. Para Nazi menghukum tahanan yang tersisa oleh karena tahanan yang melarikan diri tersebut. Mereka memilih secara acak sepuluh orang tahanan untuk dihukum mati dalam bunker kelaparan. Seluruh tahanan berdiri tegang sementara sepuluh orang ditarik keluar dari barisan. Seorang tahanan yang terpilih, seorang pria yang telah menikah dan mempunyai keluarga, merengek serta memohon dengan sangat agar diampuni demi anak-anaknya. Pastor Kolbe, yang tidak terpilih, mendengarnya dan hatinya tergerak oleh belas kasihan yang mendalam untuk menolong tahanan yang menderita itu. Ia maju ke depan dan bertanya kepada komandan apakah ia dapat menggantikan tahanan tersebut. Sang komandan setuju dengan permintaannya.
Pastor Kolbe dan para tahanan yang lain digiring masuk ke dalam bunker kelaparan. Mereka tetap hidup tanpa makanan atau pun air selama beberapa hari. Satu per satu, sementara mereka mati kelaparan, Pastor Kolbe menolong serta menghibur mereka. Ia yang terakhir meninggal. Suatu suntikan carbolic acid mempercepat kematiannya pada tanggal 14 Agustus 1941. Ia dinyatakan kudus dan martir oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982.

“Kebencian bukanlah kekuatan yang membangun. Hanya kasih merupakan kekuatan yang membangun.” ~ St. Maximilianus Kolbe

St. Stefanus dari Hungaria
St. Stefanus dilahirkan sekitar tahun 969 di Hungaria. Nama yang diberikan kepadanya adalah Vaik. Ketika ia menjadi seorang Kristen pada usia sepuluh tahun, ia diberi nama Stefanus. Pada saat yang sama, ayahnya, Pangeran Hungaria, dan juga banyak kaum bangsawan lainnya menjadi Kristen. Namun demikian, ketika Stefanus menjadi raja, di negerinya itu masih banyak orang kafir. Sebagian penduduknya masih suka kekerasan dan kekejian. Jadi, Stefanus memutuskan untuk membangun Gereja yang kokoh di Hungaria. Usahanya itu diberkati Tuhan. Rahasia keberhasilan St. Stefanus dalam membimbing rakyatnya secara gemilang kepada iman Kristiani adalah devosinya kepada Bunda Maria. Ia mempercayakan seluruh kerajaannya dalam perlindungan Bunda Maria dan ia membangun sebuah gereja yang amat indah untuk menghormati Bunda Allah.
Paus Sylvester II mengirimkan sebuah mahkota raja yang indah bagi Stefanus. Pusaka ini kemudian dikenal sebagai Mahkota St. Stefanus. Dalam masa Perang Dunia II, tentara Amerika merampas mahkota tersebut, tetapi akhirnya diserahkan kembali pada Hungaria pada tahun 1978.
Stefanus seorang pemimpin yang tegas serta gagah berani. Ia menerapkan hukum yang adil. Namun demikian, ia juga lemah lembut serta penuh belas kasihan kepada mereka yang miskin. Sebisa-bisanya ia menghindari peperangan. Ia suka memberi bingkisan uang kepada para pengemis tanpa memberitahukan kepada mereka siapa dia sebenarnya. Suatu ketika ia sedang membagikan bingkisan dalam penyamarannya, ketika sekelompok pengemis yang brutal menyerang serta memukulnya. Mereka menarik-narik rambutnya, jenggotnya serta merampas kantong uangnya. Tak pernah terbayangkan oleh mereka bahwa mereka sedang mempermainkan raja mereka. Dan mereka tidak pernah tahu akan hal itu. Raja menerima segala penghinaan itu dengan diam-diam dan dengan rendah hati. Sekuat tenaga ia mengarahkan pikirannya pada Bunda Maria dan berdoa: “Lihatlah, Ratu Surgawi, bagaimana umatmu memperlakukan dia yang engkau jadikan raja. Jika mereka musuh-musuh iman, aku tahu apa yang harus aku lakukan terhadap mereka. Tetapi, karena mereka adalah kesayangan Putera-mu, aku menerima ini semua dengan sukacita. Aku mengucap syukur karenanya.” Malahan, seketika itu juga Raja Stefanus berjanji untuk berderma lebih banyak lagi bagi para pengemis. Stefanus menjadi raja Hungaria selama empat puluh dua tahun. Ia wafat pada tanggal 15 Agustus 1038. St. Stefanus dinyatakan kudus oleh Paus St. Gregorius VII pada tahun 1083.

St. Joan Delanoue
Joan Delanoue dilahirkan pada tahun 1666 sebagai yang bungsu dari dua belas bersaudara. Keluarganya memiliki suatu usaha kecil yang berhasil. Ketika ibunya yang janda meninggal dunia, ibunya mewariskan tokonya kepada Joan. Joan bukan seorang gadis yang jahat, tetapi yang ia pikirkan hanyalah bagaimana mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Ia melakukan banyak dosa kecil untuk itu. Dulu, ia seorang gadis yang saleh, tetapi sekarang hanya tersisa sedikit saja cinta kasih dalam hatinya. Ibunya seorang yang murah hati kepada para pengemis. Sebaliknya, Joan, membeli makanan hanya pada saat menjelang makan malam. Dengan demikian ia dapat mengatakan kepada para pengemis yang mohon belas kasihannya: “Maaf, saya tidak punya apa-apa untukmu.”
Joan tidak bahagia dengan cara hidupnya itu. Ketika usianya dua puluh tujuh tahun, seorang imam yang baik dengan penuh kasih membantunya untuk hidup sesuai dengan imannya. Akhirnya, Joan menyadari bahwa “usaha-nya” adalah untuk mengamalkan uangnya, bukan menumpuknya bagi diri sendiri. Joan mulai memberikan perhatian kepada keluarga-keluarga yang miskin dan juga anak-anak yatim piatu. Di kemudian hari, ia malahan menutup tokonya sama sekali agar dapat mempergunakan seluruh waktunya bagi mereka. Orang menyebut rumahnya yang penuh dengan anak-anak yatim piatu sebagai “Rumah Penyelenggaraan Ilahi”. Ia mempengaruhi para wanita muda lainnya untuk membantu. Mereka membentuk kelompok Suster-suster St. Anna dari Penyelenggaraan Ilahi di Saumur, Perancis, kota tempat tinggal Joan.
Joan hidup dengan mati raga yang keras. Ia juga melakukan tapa silih yang berat. St. Grignon de Montfort bertemu dengan Joan. Pada mulanya ia menyangka bahwa kesombongan hati yang menyebabkan Joan bersikap keras terhadap dirinya sendiri. Tetapi kemudian, St. Montfort segera menyadari bahwa hati Joan sungguh penuh dengan cinta kasih kepada Tuhan. St. Montfort menasehatinya: “Teruskanlah apa yang telah engkau mulai. Roh Tuhan ada padamu. Ikuti suara-Nya dan jangan lagi khawatir.” Joan wafat dalam damai pada tanggal 17 Agustus 1736. Usianya tujuh puluh tahun. Penduduk Saumur mengatakan, “Pemilik toko kecil itu melakukan jauh lebih banyak bagi kaum miskin papa di Saumur daripada seluruh dewan kota. Sungguh seorang wanita yang luar biasa! Dan sungguh seorang yang kudus!” Joan dinyatakan sebagai ‘beata’ oleh Paus Pius XII pada tahun 1947, tahun yang sama St. Grignon de Montfort dinyatakan kudus. Pada tahun 1982, B. Joan Delanoue dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes Paulus II.

St. Yohanes Eudes
Yohanes Eudes dilahirkan di Normandy, Perancis pada tahun 1601. Ia adalah putera sulung seorang petani. Bahkan sejak masih kanak-kanak, Yohanes telah berusaha meniru teladan Yesus dalam memperlakukan keluarga, teman-teman serta para tetangganya. Ketika usianya sembilan tahun, seorang anak lelaki menampar wajahnya. Yohanes merasa amat marah. Tetapi, kemudian ia ingat akan sabda Yesus dalam Injil: berikan pipimu satunya. Jadi, ia melakukannya.
Orangtua Yohanes menghendaki putera mereka menikah dan memiliki keluarga. Dengan lembut tapi tegas, Yohanes meyakinkan mereka bahwa ia dipanggil untuk menjadi seorang imam. Ia masuk biara Ordo Pengkhotbah dan menerima pendidikan calon imam. Setelah ditahbiskan sebagai imam, suatu wabah penyakit menyerang Normandy. Wabah ganas itu mengakibatkan kesengsaraan yang hebat dan juga kematian. Pastor Eudes menawarkan diri untuk menolong mereka yang sakit, merawat baik jiwa maupun raga mereka. Di kemudian hari, Pastor Eudes menjadi seorang pengkhotbah misi yang populer di berbagai paroki. Sesungguhnya, sepanjang hidupnya ia menyampaikan 110 khotbah misi. St. Yohanes juga berperan penting dalam terbentuknya kongregasi-kongregasi religius: Kongregasi Suster-suster dari Maria Bunda Berbelaskasihan (SCMM) dan Kongregasi Suster-suster Gembala Baik (RGS). Pastor Eudes juga membentuk Kongregasi Yesus dan Maria (CJM) bagi para imam. Kongregasi ini bertujuan melatih para pemuda untuk menjadi imam paroki yang baik.
St. Yohanes memiliki devosi yang kuat kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan Hati Maria yang Tak Bernoda. Ia menulis sebuah buku tentang devosi-devosi tersebut. Yohanes jatuh sakit setelah menyampaikan suatu khotbah terbuka dalam cuaca yang amat dingin. Ia tidak pernah sepenuhnya sembuh kembali. Yohanes wafat pada tahun 1680. Ia dinyatakan “beato” oleh Paus St. Pius X pada tahun 1908. Paus menyebut Yohanes Eudes sebagai Rasul Devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus dan kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. St. Yohanes Eudes dinyatakan kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1925.

“Para pengkhotbah memukul semak-semak. Para imam yang menerima pengakuan dosa menangkap burung-burungnya!” ~ St. Yohanes Eudes

St. Bernardus
Bernardus dilahirkan pada tahun 1090 di Dijon, Perancis. Ia dan keenam saudara-saudarinya memperoleh pendidikan yang baik. Hati Bernardus amat sedih ketika ibunya meninggal dunia. Usianya baru tujuhbelas tahun. Hampir-hampir ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan jika saja tidak ada Humbeline, saudarinya yang periang. Humbeline membuatnya gembira dan segera saja Bernardus telah menjadi seorang yang amat populer. Ia tampan dan cerdas, riang gembira dan penuh rasa humor. Siapa saja suka berada di dekatnya.
Suatu hari, Bernardus mencengangkan teman-temannya ketika ia mengatakan bahwa ia akan bergabung dengan Ordo Cistercian yang amat keras. Mereka mengusahakan segala cara agar ia membatalkan rencananya itu. Tetapi pada akhirnya, Bernarduslah yang berhasil meyakinkan saudara-saudaranya, seorang pamannya dan keduapuluh-enam orang temannya untuk bergabung bersamanya. Ketika Bernardus dan saudara-saudaranya hendak meninggalkan rumah mereka, mereka berkata kepada adik mereka, Nivard, yang sedang bermain bersama anak-anak lain: “Selamat tinggal, Nivard kecil. Sekarang semua tanah dan harta benda ini menjadi milikmu.” Tetapi anak itu menjawab: “Apa! Kalian mengambil surga dan menyisakan dunia untukku? Apakah kalian pikir itu adil?” Dan tak lama kemudian, Nivard pun, bergabung dengan saudara-saudaranya di biara. St. Bernardus menjadi seorang biarawan yang baik.
Tiga tahun kemudian, ia diutus untuk mendirikan biara Cistercian yang baru serta menjadi abbas (=pemimpin biara) di sana. Biara tersebut terletak di Lembah Cahaya. Dalam bahasa Perancis, Lembah Cahaya adalah “Clairvaux” Biara baru itu kemudian lebih dikenal dengan nama Clairvaux. Bernardus menjadi abbas di Clairvaux hingga akhir hayatnya. Meskipun ia lebih suka tinggal bekerja dan berdoa dalam biaranya, kadang-kadang ia harus pergi untuk tugas-tugas khusus. Ia berkhotbah, mendamaikan para penguasa, serta memberikan nasehat kepada paus. Ia juga menulis buku-buku rohani yang indah. Ia menjadi seorang yang amat berpengaruh dalam jamannya. Tetapi, terutama yang paling dirindukan Bernardus adalah dekat dengan Tuhan, menjadi seorang biarawan. Ia tidak berusaha untuk menjadi orang terkenal. Bernardus mempunyai devosi yang mendalam kepada Santa Perawan Maria. Dikatakan bahwa ia sering menyapa Bunda Maria dengan sebuah “Salam Maria” ketika ia melewati patungnya. Suatu hari, Bunda Maria membalas salamnya: “Salam, Bernardus!”. Dengan cara demikian Bunda Maria hendak menunjukkan bagaimana cinta Bernardus dan devosinya telah menyenangkan hati Bunda Maria.
St. Bernardus wafat pada tahun 1153. Orang banyak merasa sangat sedih karena mereka kehilangan pengaruhnya yang menakjubkan. St. Bernardus dinyatakan kudus pada tahun 1174 oleh Paus Alexander III. St. Bernardus juga diberi gelar Doktor Gereja pada tahun 1830 oleh Paus Pius VIII.

“Ia yang tidak memiliki rasa kasih sayang terhadap temannya sendiri telah kehilangan rasa takut akan Tuhan.” ~ St. Bernardus

St. Louis (Ludowikus) IX
Louis dilahirkan pada tanggal 25 April 1214. Ayahnya adalah Raja Louis VIII dari Perancis dan ibunya adalah Ratu Blanka. Menurut cerita, ketika Pangeran Louis masih kecil, ibunya memeluknya erat-erat. Katanya, “Aku mengasihimu, puteraku terkasih, dengan cinta kasih sebanyak yang dapat diberikan seorang ibu. Tetapi, aku lebih suka melihatmu mati di bawah kakiku daripada melihatmu melakukan suatu dosa besar.” Louis tidak pernah melupakan kata-kata ibunya itu. Ia menghargai iman Katoliknya juga didikan yang diberikan kepadanya. Ketika usianya dua belas tahun, ayahnya meninggal dunia dan ia menjadi raja. Ratu Blanka memerintah hingga puteranya genap dua puluh satu tahun.

Louis menjadi seorang raja yang mengagumkan. Ia menikah dengan Margaret, puteri seorang pangeran. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Mereka dikarunia sebelas putera puteri. Louis seorang suami dan ayah yang baik. Dan selama ibunya, Ratu Blanka, hidup, ia menunjukkan sikap hormat kepadanya. Bagaimana pun sibuknya dia, Louis selalu menyempatkan diri untuk ikut ambil bagian dalam Misa Harian dan mendaraskan Doa Ofisi. Ia anggota Ordo Ketiga Fransiskan dan hidup sederhana. Ia murah hati serta adil. Ia memerintah rakyatnya dengan bijaksana, belas kasihan dan dengan menerapkan prinsip-prinsip Kristiani sejati. Ia hidup sesuai dengan keyakinannya sebagai seorang Katolik. Ia tahu bagaimana melerai perdebatan dan perselisihan. Ia mendengarkan mereka yang miskin dan terabaikan. Ia menyediakan waktu bagi siapa saja, tidak hanya bagi mereka yang kaya serta berpengaruh. Ia memajukan pendidikan Katolik dan mendirikan biara-biara.
Seorang sejarawan, Joinville, menulis mengenai riwayat hidup St. Louis. Ia mengenang bahwa ia mengabdi raja selama dua puluh dua tahun lamanya. Setiap hari ia ada dekat raja. Dan sepanjang masa itu, ia dapat mengatakan bahwa tidak pernah sekali pun ia mendengar Raja Louis menyumpah atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Demikian juga raja tidak mengijinkan kata-kata demikian diucapkan dalam istananya.
St. Louis merasa bahwa merupakan suatu kewajiban penting baginya menolong umat Kristiani yang menderita di Tanah Suci. Ia ingin ikut ambil bagian dalam Perang Salib. Dua kali ia memimpin pasukan berperang melawan bala tentara Turki. Dalam peperangannya yang pertama, ia tertawan. Tetapi, bahkan dalam penjara sekali pun, ia bersikap sebagai seorang ksatria Kristiani sejati. Ia gagah berani dan berbudi luhur dalam segala sikapnya. Louis kemudian dibebaskan dan kembali ke Perancis untuk mengurus kerajaannya. Tetapi, begitu ada kesempatan, ia mulai berangkat lagi ke medan perang untuk melawan musuh iman. Namun demikian dalam perjalanan, raja yang sangat dicintai rakyatnya itu terjangkit demam tipus. Beberapa jam menjelang kematiannya, ia berdoa, “Tuhan, sebentar lagi aku memasuki rumah-Mu, bersembah sujud di Bait-Mu yang kudus, serta memuliakan Nama-Mu.” St. Louis wafat pada tanggal 25 Agustus tahun 1270. Usianya lima puluh enam tahun. St. Louis dinyatakan kudus oleh Paus Bonifasius VIII pada tahun 1297.

“Bermurah-hatilah terhadap mereka yang miskin, kurang beruntung dan menderita. Berikan kepada mereka bantuan serta penghiburan sebanyak yang kamu mampu.” ~ St. Louis

St. Yosef dari Calasanz
Yosef dilahirkan pada tahun 1556 di kastil ayahnya di Spanyol. Ia kuliah dan menjadi seorang pengacara. Pada usia dua puluh delapan tahun, Yosef ditahbiskan sebagai imam. Pastor Yosef diserahi jabatan-jabatan penting dan ia melaksanakan tugas-tugasnya itu dengan baik. Namun demikian, ia merasa bahwa Tuhan memanggilnya untuk melakukan suatu karya istimewa bagi anak-anak miskin di Roma. Taat pada panggilan Tuhan, Pastor Yosef meninggalkan segala yang ia miliki di Spanyol dan pergi ke Roma. Di sana, hatinya tergerak oleh belas kasihan kepada anak-anak yatim piatu dan anak-anak gelandangan yang ia jumpai di mana-mana. Mereka diacuhkan serta diterlantarkan. Pastor Yosef mulai mengumpulkan mereka dan mengajarkan semua mata pelajaran umum kepada mereka, terutama tentang iman. Para imam yang lain mulai bergabung dengannya. Tak lama kemudian Pastor Yosef telah menjadi pemimpin dari suatu ordo religius baru. Tetapi, ia tak pernah membiarkan tugas-tugasnya sebagai pendiri dan pemimpin biara membuatnya berhenti mengajar anak-anak yang dikasihinya. Ia bahkan menyapu lantai kelas sendiri. Seringkali ia mengantarkan anak-anak yang kecil pulang ke rumah mereka ketika jam pelajaran telah usai.
St. Yosef harus mengalami banyak penderitaan karena ulah beberapa orang yang hendak mengambil alih ordonya. Mereka ingin mengelolanya sesuai dengan cara mereka. Suatu ketika ia bahkan diarak di jalan-jalan bagaikan seorang tahanan. Ia nyaris dijebloskan ke dalam penjara, meskipun imam yang baik ini tidak melakukan kesalahan apapun. Ketika umurnya sembilan puluh tahun, Pastor Yosef menerima kabar yang sangat menyedihkan. Ordonya dilarang terus berkarya. Namun demikan, menanggapi tragedi tersebut Pastor Yosef hanya mengatakan, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil; terpujilah nama-Nya. Karyaku diselenggarakan semata-mata karena cinta kepada Tuhan.”
Dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1648, orang kudus ini wafat dalam tenang dan damai. Usianya sembilan puluh dua tahun. Beberapa tahun sesudah wafatnya, ordonya, Ordo Imam-imam Piaris, diijinkan untuk melanjutkan kembali karya St. Yosef yang mengagumkan. St. Yosef dinyatakan kudus oleh Paus Klemens XIII pada tahun 1767 dan dinyatakan sebagai santo pelindung sekolah-sekolah Kristen pada tahun 1948 oleh Paus Pius XII.

“Siapa yang bertanggung jawab mengajar haruslah dikarunia kasih-sayang yang mendalam, kesabaran yang besar, dan terutama, kerendahan hati yang luar biasa.” ~ St. Yosef dari Calasanz

St. Elizabeth Bichier
Elizabeth dilahirkan pada tahun 1773. Ketika masih kanak-kanak, permainan kesukaannya ialah membuat benteng-benteng di pasir. Bertahun-tahun kemudian, wanita Perancis yang kudus ini memikul tanggung jawab pembangunan biara-biara bagi ordo para biarawati yang didirikannya. “Aku rasa membangun memang dimaksudkan untuk menjadi pekerjaanku,” katanya bergurau, “sebab aku telah memulainya sejak masih kanak-kanak!” Sesungguhnya, hingga tahun 1830, yaitu delapan tahun sebelum wafatnya, Elizabeth telah mendirikan lebih dari enam puluh biara.
Selama masa Revolusi Perancis, keluarga Elizabeth kehilangan segala harta milik mereka. Hal ini terjadi karena kaum republik menyita harta milik para bangsawan. Tetapi, gadis muda berusia sembilan belas tahun yang sangat pandai ini belajar hukum agar dapat memenangkan kasus keluarganya di pengadilan. Ketika Elizabeth berhasil memenangkan perkaranya dan menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, tukang sepatu desa berseru, “Sekarang, satu-satunya hal yang perlu engkau lakukan adalah menikah dengan seorang kaum Republik yang baik!” Namun demikian, Elizabeth tidak memiliki niat untuk menikah dengan siapa pun, entah dari kalangan republik atau pun dari kalangan bangsawan. Di balik sebuah gambar Bunda Maria, ia menulis, “Aku membaktikan serta mempersembahkan diriku kepada Yesus dan Maria untuk selama-lamanya.”
Dengan bantuan St. Andreas Fournet, Elizabeth membentuk suatu ordo religius baru yang diberi nama Putri-putri Salib. Ordo baru ini berkarya dengan mengajar anak-anak dan melayani orang sakit. Elizabeth siap menghadapi segala bahaya demi menolong sesama. Suatu ketika ia mendapati seorang gelandangan terbaring sakit di sebuah gudang. Ia membawanya ke rumah sakit biara dan melakukan segala yang ia mampu untuknya hingga gelandangan itu meninggal dunia. Keesokan paginya, kepala polisi datang memberitahu bahwa ia ditangkap karena melindungi seseorang yang diyakini sebagai seorang penjahat. Elizabeth tidak takut, “Aku hanya melakukan apa yang mungkin engkau sendiri akan lakukan, Tuan,” katanya. “Aku menemukan orang sakit yang malang ini, dan merawatnya hingga ia meninggal. Aku siap untuk mengatakan kepada hakim apa yang telah terjadi.” Tentu saja, kejujuran dan belas kasihan santa kita ini mendapat banyak simpati. Orang banyak mengagumi jawaban-jawabannya yang jujur, tegas dan jelas.
Sahabat yang membantunya mendirikan ordo, St. Andreas Fournet, wafat pada tahun 1834. St. Elizabeth menulis kepada para biarawatinya, “Inilah kehilangan kita yang paling besar dan paling menyedihkan.” St. Elizabeth wafat pada tanggal 26 Agustus 1838. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1947.

St. Gregorius Agung
St. Gregorius dilahirkan pada tahun 540 di Roma. Ayahnya seorang anggota Majelis Tinggi dan ibunya adalah St. Celia. Gregorius belajar filsafat dan ketika masih muda usianya, telah diangkat menjadi Gubernur Roma. Ketika ayahnya meninggal, Gregorius merombak rumahnya yang besar menjadi sebuah biara. Selama beberapa tahun ia hidup sebagai seorang biarawan yang saleh dan kudus. Kemudian Paus Pelagius mengangkatnya menjadi salah seorang dari ketujuh Diakon Roma. Ketika Paus wafat, Gregorius dipilih untuk menggantikannya. Gregorius sama sekali tidak menginginkan kehormatan seperti itu. Tetapi ia seorang yang sangat kudus serta bijaksana, sehingga semua orang tahu bahwa ia akan menjadi seorang paus yang baik. Gregorius berusaha menghindar dengan menyamar dan menyembunyikan diri dalam sebuah gua, tetapi akhirnya mereka menemukannya dan ia diangkat juga menjadi paus.
Selama empatbelas tahun ia memimpin Gereja. Meskipun ia selalu sakit, Gregorius merupakan salah seorang paus terbesar Gereja. Ia menulis banyak buku dan juga merupakan seorang pengkhotbah yang ulung. Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia. Malah sesungguhnya, ia menganggap dirinya sebagai abdi semua orang. Ia adalah paus pertama yang menggunakan gelar “abdi para abdi Tuhan” Semua paus sesudahnya menggunakan gelar ini.
St. Gregorius memberikan perhatian serta cinta kasih istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka dengan makanan yang enak. St. Gregorius juga amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang disebabkan oleh ketidakadilan. Suatu ketika, semasa ia masih seorang biarawan, ia melihat anak-anak kulit putih dijual di pasar budak di Roma. Ia bertanya dari mana anak-anak itu berasal dan diberitahu bahwa mereka berasal dari Inggris. St. Gregorius merasakan suatu keinginan yang kuat untuk pergi ke Inggris untuk mewartakan kasih Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan itu. Setelah ia menjadi paus, salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah mengirimkan beberapa biarawan terbaiknya untuk memperkenalkan Kristus kepada rakyat Inggris.
Tahun-tahun terakhir hidupnya dipenuhi oleh banyak penderitaan, namun demikian ia tetap bekerja untuk Gerejanya yang tercinta hingga akhir hayatnya. St. Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604.

“Aku mengerti dari pengalaman bahwa sebagian besar waktu ketika aku bersama dengan saudara-saudaraku, aku belajar banyak hal tentang Sabda Tuhan yang tidak dapat aku pelajari seorang diri; jadi kalianlah yang memberitahukan kepadaku apa yang harus aku ajarkan.” ~ St. Gregorius Agung

St. Rosa dari Viterbo
Rosa dilahirkan pada tahun 1235 di Viterbo, Italia. Ia hidup pada masa Kaisar Frederick merebut tanah milik Gereja. Misi khusus Rosa adalah menjadikan penduduk kotanya serta penduduk kota-kota sekitarnya tetap setia kepada Bapa Suci. Dan tugas ini ia lakukan ketika ia masih seorang remaja.
Rosa baru berusia delapan tahun ketika Santa Perawan Maria mengatakan kepadanya ketika ia sedang sakit, untuk mengenakan jubah St. Fansiskus. Bunda Maria juga mengatakan kepada Rosa untuk memberikan teladan yang baik kepada sesama dengan kata-kata maupun dengan perbuatannya. Perlahan-lahan kesehatan Roda pulih kembali. Ia mulai merenungkan dan semakin merenungkan betapa Yesus telah menderita bagi kita dan betapa para pendosa telah menyakiti-Nya. Ia berdoa serta melakukan silih untuk menyatakan kepada Yesus betapa ia mengasihi-Nya.
Kemudia, gadis pemberani ini mulai berkhotbah di jalan-jalan kota. Ia mengatakan kepada orang banyak untuk bangkit melawan kaisar yang telah merampas kekayaan gereja. Banyak orang mendengarkan khotbahnya sehingga ayah Rosa menjadi ketakutan. Ia mengancam Rosa bahwa ia akan mencambukinya jika ia tidak berhenti berkhotbah. Rosa, yang saat itu berusia tigabelas tahun, menjawab dengan lembut, “Jika Yesus rela dicambuki demi aku, aku juga rela dicambuki demi Dia. Aku melakukan apa yang Yesus perintahkan kepadaku dan aku tidak mau tidak taat kepada-Nya.”
Dua tahun lamanya Rosa berkhotbah dengan berhasil sehingga musuh-musuh paus menghendaki agar ia dibunuh saja. Pada akhirnya, penguasa mengusir Rosa beserta orangtuanya ke luar kota. Tetapi Rosa mengatakan bahwa kaisar akan segera mangkat, dan memang terjadi demikian. Setelah kembali ke Viterbo, Rosa tidak diijinkan untuk menjadi biarawati, jadi ia pulang ke rumahnya. Di sana ia wafat pada tahun 1252 ketika usianya baru tujuhbelas tahun. Jenasahnya yang masih utuh hingga kini disemayamkan di Viterbo.

St. Laurensius Giustiniani
Laurensius dilahirkan di Venice, Italia, pada tahun 1381. Ibunya kadang-kadang berpikir bahwa puteranya berkhayal terlalu tinggi. Laurensius selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin menjadi seorang kudus, seorang santo. Ketika usianya sembilanbelas tahun, Laurensius merasa bahwa ia harus melayani Tuhan dengan suatu cara yang istimewa. Ia meminta nasehat kepada pamannya, seorang imam yang kudus dari komunitas St. George. “Apakah kamu memiliki keberanian untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan melewatkan hidupmu dengan melakukan silih?” tanya pamannya. Cukup lama Laurensius tidak menjawab. Kemudian ia menatap salib dan berkata, “Engkau, oh Tuhan, adalah harapanku. Dalam Salib ada ketenteraman serta kekuatan.”
Ibunya menginginkannya untuk menikah, tetapi Laurensius bergabung dengan komunitas St. George. Tugas pertamanya adalah pergi ke kampung-kampung di kotanya untuk meminta derma bagi ordonya. Laurensius tidak malu pergi meminta-minta. Ia tahu bahwa derma uang ataupun barang akan berguna bagi karya Tuhan. Ia bahkan pergi ke depan rumahnya sendiri dan meminta derma. Ibunya berusaha mengisi kantongnya dengan banyak makanan agar Laurensius dapat segera pulang ke biaranya. Tetapi Laurensius hanya menerima dua potong roti dan pergi ke rumah sebelah untuk meminta derma lagi. Dengan demikian, ia belajar bagaimana mempraktekan penyangkalan diri dan semakin bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.
Suatu hari seorang teman datang membujuk Laurensius untuk meninggalkan biaranya. Laurensius menjelaskan kepada temannya itu betapa singkatnya hidup dan betapa bijaksananya untuk melewatkan hidup demi surga. Temannya amat terkesan dan terdorong untuk menjadi seorang religius juga.
Di kemudian hari Laurensius diangkat menjadi Uskup, meskipun ia sendiri kurang senang akan hal itu. Umatnya segera mengetahui betapa lembut hati dan kudusnya Uskup mereka. Orang berbondong-bondong datang kepadanya setiap hari untuk memohon pertolongannya. Menjelang ajalnya, St. Laurensius menolak berbaring di tempat tidur yang nyaman. “Tidak boleh demikian!” serunya dengan rendah hati. “Tuhanku terentang di kayu yang keras serta menyakitkan.” St. Laurensius Giustiniani wafat pada tahun 1455.

St. Petrus Claver
Imam Spanyol dari Serikat Yesus ini dilahirkan pada tahun 1580. Ia dikenal sebagai “rasul para budak.” Ketika ia masih seorang seminaris di Serikat Yesus, ia merasakan suatu dorongan yang amat kuat untuk pergi ke Amerika Selatan sebagai seorang misionaris. Ia menjadi sukarelawan dan diutus ke pelabuhan Cartagena (Kolumbia). Di sana berdatangan banyak sekali kapal penuh dengan muatan para budak belian yang didatangkan dari Afrika untuk dijual.
Melihat himpunan orang-orang malang itu yang berjubel, sakit serta menderita, hati Petrus tergerak oleh belas kasihan. Ia bertekad untuk menolong mereka serta mewartakan Kabar Sukacita kepada mereka. Begitu sebuah kapal muatan tiba, Petrus akan segera pergi menyongsongnya dan menjumpai ratusan budak yang sakit. Ia memberi mereka makanan serta obat-obatan. Ia membaptis mereka yang sekarat serta membaptis bayi-bayi. Ia merawat yang sakit. Sungguh suatu kerja keras sementara panas menyengat. Seorang yang pernah satu kali menemani St. Petrus melakukan karyanya tidak tahan menyaksikan pemandangan yang memilukan itu. Tetapi Petrus melakukannya selama empat puluh tahun. Ia membaptis sekitar tiga ratus ribu orang. Ia selalu berada di sana ketika kapal-kapalm itu datang. Ia mencurahkan perhatian serta kasih sayangnya kepada mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh masyarakat.
Meskipun majikan para budak itu berusaha mencegahnya, Pastor Claver tetap saja mengajarkan iman kepada para budak belian itu. Suatu pekerjaan yang lamban serta mengecilkan hati. Banyak orang mencelanya dengan mengatakan bahwa segala yang ia lakukan itu hanya sia-sia belaka. Menurut mereka, para budak itu tidak akan pernah memiliki iman. Tetapi St. Petrus seorang yang amat sabar dan ia percaya bahwa Tuhan memberkati para budak tersebut. Ia malahan juga pergi mengunjungi para budak itu setelah mereka meninggalkan Cartagena. Pastor Claver tidak pernah lelah mendesak majikan para budak itu untuk memperhatikan jiwa-jiwa para budak mereka sementara mereka sendiri perlu menjadi umat Kristiani yang lebih baik.
Empat tahun terakhir dalam hidupnya, Pastor Claver menderita sakit yang demikian hebat hingga ia harus tinggal terus dalam kamarnya. Ia bahkan tidak dapat merayakan Misa. Sebagian besar orang telah melupakannya, tetapi Pastor Claver tidak pernah mengeluh. Kemudian, tiba-tiba saja , pada saat wafatnya pada tanggal 8 September 1654, sekonyong-konyong seluruh kota terjaga. Mereka segera sadar bahwa mereka telah kehilangan seorang kudus. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi dilupakan. St. Petrus Claver dinyatakan kudus pada tahun 1888 oleh Paus Leo XIII

Mei 18, 2009 at 9:15 pm Tinggalkan komentar

MANAGER ARTIS

DIKOLEKSI DARI SINI

Ditulis oleh : Wendi Putranto (untuk majalah Rolling Stone Indonesia edisi September 2007)

copy paste dari : kabardariopa.blogspot.com (http://www.kabardariopa.blogspot.com)

Mengenal figur pengembang dan penjaga karir di industri musik

Saya asumsikan Anda telah memahami pembahasan terdahulu di rubrik Music Biz ini. Anda telah mendaftarkan nama band Anda sebagai merek resmi yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Anda telah menentukan imej yang tepat bagi band Anda dan mengerti dinamika yang terjadi di dalam band.
Anda juga telah memiliki kontrak internal band yang mengatur kerjasama antar personel di dalam sebuah band dan sudah membuat promo kit yang berguna untuk mempromosikan band Anda kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam industri musik. Entah itu label rekaman, manajer artis, penerbit musik, media massa, promotor, booking agency dan sebagainya.
Pembahasan Music Biz kali ini akan menyoroti elemen-elemen yang substansial dan signifikan bagi perkembangan karir musik Anda selanjutnya. Mereka adalah manajer artis. Merupakan elemen penting yang integral sekaligus berfungsi mewakili artis dalam mengelola dan menjaga kepentingan bisnis di dalam industri musik.
Nara sumber kita kali ini adalah figur-figur manajer artis yang secara komersial berhasil membawa klien mereka (artis solo/band) ke puncak kesuksesan di dalam peta industri musik nasional. Mereka adalah:

Andreas Wullur (Manajer Samsons): Mengawali debut profesi manajemen artis di akhir dekade ’90an dengan menjadi manajer bagi band-band rock cadas seperti Stepforward dan Seringai, Andreas Wulur kini dikenal sebagai salah satu figur kunci dibalik kesuksesan Samsons. Dibawah pengelolaannya Samsons kini tercatat dalam sejarah sebagai band dengan penjualan album rekaman terbesar di Indonesia pada tahun 2006. Begitu pula dengan kesuksesannya menjadikan Samsons sebagai ikon berbagai produk bergengsi dengan nilai kontrak kerjasama yang lucrative. Belakangan ia tengah merintis usaha firma manajemen artis baru bersama Vitalia Ramona (eks-manajer RATU).

Dhani Pette (Manajer GIGI): Mengelola manajemen GIGI sejak tahun 1995 hingga sekarang. Sosok Dani Pette merupakan kekuatan kunci dibalik kesuksesan dan bertahan lamanya karir musikal GIGI di industri musik tanahair. Ia merupakan satu dari sedikit manajer artis profesional yang menguasai teknis produksi konser dan mengawali karir dari struktur paling bawah dalam dunia showbiz. Sempat menjadi roadie, kru band, stage manager, artist coordinator hingga kini menjadi pimpinan Pos Entertainment, sebuah entertainment company di Jakarta yang memiliki bidang usaha manajemen artis, event organizing, label rekaman, TV production dan sebagainya. Ia juga tercatat masih menjabat sebagai Ketua Umum AMARI (Asosiasi Manajer Artis Indonesia ).

Anton Kurniawan (Manajer Sheila On 7): Pertama kali menjadi manajer band Sheila On 7 pada tahun 1998 di Yogyakarta. Ia merupakan manajer artis yang sukses mengelola karir musik Sheila On 7 hingga menjadi fenomena baru dalam industri musik nasional pada akhir dekade ’90an. Strategi dan taktik manajemennya membuahkan hasil terjualnya jutaan keping album Sheila On 7 beserta rangkaian tur konser yang ekstensif di seluruh pelosok tanahair. Menurut Anton, ia merupakan “manajer pertama dan mungkin terakhir” bagi Sheila On 7. Sebelumnya selama tiga tahun ia mengawali karirnya di Radio Geronimo, Yogyakarta sebagai A&R bagi program acara ajang “Musikal” (Musisi Lokal).

MANAJEMEN ARTIS

“If anyone was the fifth Beatle, it was Brian Epstein” – Paul McCartney, 1997

Apa yang diungkapkan oleh bassist The Beatles tersebut memang tidak berlebihan. Peran manajer sebagai pemandu karir artis memang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebagian artis malah menganggap manajer sebagai anggota kehormatan band diluar formasi resmi yang diketahui publik. Mengapa peran manajer begitu penting? Tentu saja, karena sebagai artis tugas utama kalian adalah total berkonsentrasi sepenuhnya untuk menciptakan karya musikal dan menampilkannya secara profesional di atas panggung.
Sementara tugas manajer artis secara garis besarnya adalah mengelola karir band hingga menangani sisi bisnis musiknya secara berkesinambungan. Sebenarnya tidak ada pemahaman atau definisi yang baku akan tugas dan fungsi manajemen artis. Masing-masing pihak memiliki pandangan tersendiri akan ruang lingkup mereka sesuai dengan kompleksitas kerja dan tahapan karir dari sang artis sendiri.
Pada umumnya dalam manajemen artis itu kita jumpai tiga jenis manajer dengan ruang lingkup pekerjaan yang berbeda, yaitu, Personal Manager, Business Manager dan Road/Tour Manager. Pada pembahasan kali ini akan lebih kita fokuskan kepada peran seorang personal manager. Tipikal personal manager (atau disingkat manajer) kebanyakan berfungsi sebagai penasihat, sahabat, analis, pengorganisir, pelaku industri hingga menjaga karir artis. Seorang manajer harus mampu melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda dengan artis. Ia juga diharapkan mampu membuat perencanaan karir yang akan diikuti oleh artis guna mencapai tujuan nantinya. Biasanya manajer juga diharapkan mampu membuat keputusan sulit yang tidak bersifat personal.
Pada pekerjaan sehari-harinya seorang personal manager melakukan kegiatan namun tidak terbatas pada hal-hal berikut ini; membuat perencanaan karir, membangun imej band, melakukan publikasi, mencarikan kontrak rekaman dengan label/penerbit musik, membina hubungan dengan jurnalis/media massa, mengatur jadwal konser/tur, rekaman, mengurus lisensi, mencarikan sponsor/ endorsement dan sebagainya.

Andreas Wullur: Tugas manajer itu mencakup semuanya. Mulai dari building image bandnya juga, berfungsi sebagai publicist juga, eksekusi teknis produksi di lapangan, mengelola keuangan,
Anton Kurniawan: Ini berdasar pengalamanku saja ya. Secara fungsional saya lebih mengakomodir dan mengelola kepentingan artis. Bagaimana saya membangun karir artis dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan band ini di industri musik.
Dhani Pette: Kalau menurut gue, di sini tulang punggung sebuah band itu ada di manajer. Pengakuan dan perlakuan terhadap manajer yang disini kurang begitu dihargai sehingga ada beberapa fungsi manajemen yang mengecil, mengerucut. Ada yang bertindak sebagai marketing atau booking agent. Ketika kami memikirkan itu semua apa saja tugas manager, banyak banget. Mengkonsep marketing plan, negosiator, operasional manajemen, membuat perencanaan karir, strategi, taktik, dan sebagainya. Ia juga penanggung jawab dan penjaga eksistensi band.

Kapan waktu yang tepat dalam mencari manajer band?
Andreas Wullur: Semenjak dia membentuk band harus segera memiliki manajer. Artis solo atau band memerlukan manajer untuk membentuk karir Anda.
Anton Kurniawan: Sejak dari awal memang sudah harus ada yang mengelola. Karena tugas artis kan lebih fokus menciptakan musik sementara urusan bisnis akan lebih baik jika ada seseorang yang mengurusnya dengan baik. Idealnya memang sejak band itu terbentuk langkah selanjutnya adalah mencari manajer artis. Dengan begitu konsentrasi mereka tidak akan terpecah-pecah.
Dani Pette: Dari awal band pertama kali terbentuk itu lebih bagus. Sebaiknya memang langsung mencari manajer yang profesional. Gue sering ditawari untuk menjadi manajer band lain biasanya akan gue lihat dulu sebelumnya. Kalau memang naluri gue bilang bagus paling tidak gue sudah memiliki tim manajemen di Pos Entertainment untuk menghandlenya.

Bagaimana mencari manajer artis yang kompeten? Kriteria apa saja?
Andreas Wullur: Kriteria manajer yang pertama adalah jujur. Dengan begitu nggak akan ada hambatan ke depannya nanti. Artisnya juga nggak perlu ikut campur lagi karena manajemennya nanti bisa fokus mengarahkan karir mereka. self motivated juga penting. Orangnya harus bisa menganalisa dan melakukan antisipasi. Gue hanya melihat dari itu saja.
Anton Kurniawan: Tidak setiap band memiliki kriteria manajer yang sama pastinya. Aku ngelihatnya lebih cocok-cocokan saja. Untuk langkah awal lebih bagus figur yang sudah dikenal, tahu karakter orangnya bagaimana. Masalah pengalaman relatif saja. Karena awalnya aku tidak memiliki pengalaman manajerial artis apapun.
Dhani Pette: Basic-nya ia mengerti bagaimana membangun karir band. Dia tahu secara administratif apa saja yang harus dilakukan, mampu membuat perencanaan, menjalankan aktivitas manajemen sekaligus melakukan pengontrolan, melakukan analisa. Kriteria penting lainnya adalah ia harus tahu musik juga. Kalau ia tidak mengerti musik akan susah nantinya. Wawasan dan network bisnis yang luas.

KOMISI MANAJER ARTIS

Tidak ada standar yang baku dalam menentukan komisi bagi manajer artis di Indonesia. Semuanya tergantung negosiasi dan kesepakatan yang dicapai antara pihak artis dengan manajer. Biasanya ada beberapa ketentuan umum yang berlaku di antara: 1) Komisi 15% dari seluruh pemasukan kotor bagi band (gross income) 2) Komisi 15-20% dari seluruh pemasukan bersih bagi band (net income) 3) Komisi yang dipukul sama rata antara artis dengan manajemen.

Andreas Wullur: Kalau dilihat dari persentasenya, umumnya komisi standar adalah 20% dari pendapatan kotor artis ( gross income –Red). Sepintas kalau dilihat memang besar bahkan lebih besar dari komisi personel band. Namun sebenarnya tugas yang diemban manajer sangat berat karena jam kerjanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Kapanpun ia ditelepon harus siap. Biasanya di manajemen itu diterapkan pula sistem sliding scale. Ada target pemasukan bagi manajernya. Andaikan dalam sebulan ia menghasilkan Rp 100 juta maka ia berhak menerima komisi 15% namun kalau berhasil melampui target lebih dari itu maka ia berhak meraih komisi 20%. Ini memotivasi manajernya untuk lebih giat mencari job bagi bandnya.
Anton Kurniawan: Kalau di Sheila On 7 kami memakai sistem komisi. Pasti masing-masing band memiliki pembagian persentase yang berbeda-beda. Sementara kalau di Sheila On 7 antara artis dengan manajer mendapat pembagian persentase komisi yang sama. Masing-masing mendapat komisi 20%. Sebelum mereka signed kontrak dengan Sony Music Indonesia mereka menawarkan aku untuk menjadi manajer mereka. Aku waktu itu siap kapan saja untuk men- support Sheila On 7. Saat itu aku malah tidak membicarakan pembagian komisi dan sebagainya, setelah dikontrak major label baru aku membicarakan masalah itu. Waktu itu kami berpikir karena berjuang dari nol secara bersama-sama, akhirnya kami sepakati untuk membagi komisinya pun sama rata.
Dhani Pette: Gue punya pendekatan sendiri untuk hal ini di Pos Entertainment. Idealnya dalam menentukan komisi kita buka-bukaan aja. Misalnya, ada satu artis apply ke perusahaan manajemen gue dan ia menawarkan komisi 20% bagi gue. Katakanlah untuk artist fee sekali show artis itu Rp 40 juta, berarti gue mendapat bagian Rp 8 juta. Nah, dari Rp. 8 juta itu gue tanya apa aja yang artis harapkan dari manajemen gue? Apakah ia mengharapkan manajemen, kru, sound engineer sampai overhead cost dari pihak gue yang menyediakan sekaligus membayarnya? Jika ya kemudian gue rinci budgetnya dan jelaskan ke dia secara apa adanya. Dengan pengeluaran sebesar itu apakah masuk akal kalau komisi yang gue dapat 20%? Biasanya akan terjadi re-negosiasi nantinya. Dengan GIGI sendiri gue menerima komisi 35% dan band 65%. Komisi ini dari pendapatan bersih setelah dipotong cost produksi. Dan nilainya itu kita gariskan. Misalnya, fee sebesar Rp 25-35 juta, jika dibawah Rp 25 juta dipotong biaya operasional dulu dari pendapatan kotor setelah itu komisi baru dibagi rata. Apabila ada pendapatan dari iklan yang rata-rata pembayarannya di belakang artis nggak perlu khawatir karena manajemen akan selalu membayar fee mereka di depan. Biarkan nanti yang berurusan dengan penagihan klien pihak manajemen band.

KONTRAK ARTIS – MANAJEMEN

Idealnya antara pihak artis dengan manajemen sejak awal bekerjasama harus memiliki kontrak resmi yang mengatur pola kerjasama dan segala hal yang relevan dengan manajemen selama periode kurun waktu tertentu. Kontrak itu biasanya memuat hak dan kewajiban, jangka waktu perjanjian, komisi, penalti, sanksi dan sebagainya yang mengatur semuanya. Sebelum menandatangani kontrak manajemen disarankan agar kalian mempelajarinya terlebih dulu atau berkonsultasi dengan pihak yang berpengalaman, misalnya pengacara musik/hiburan atau artis yang memiliki manajemen.
Banyaknya kasus penggelapan uang artis oleh manajer yang sering terjadi belakangan ini biasanya karena kedua belah pihak tidak memiliki kontrak yang mengatur jalannya kerjasama diantara mereka. Disarankan pula untuk tidak menjalin kerjasama dengan manajer yang meng-handle terlalu banyak artis dalam roster-nya namun tidak memiliki tim kerja.
Andreas Wullur: Kontrak perlu untuk membatasi ruang gerak masing-masing fungsi sehingga bisa dipaparkan dengan jelas dalam kontraknya. Pembagian kerjanya menjadi jelas dan mencegah kalau ditengah-tengah kerjasama terjadi sengketa semua sudah diatur secara tertulis. Cuma kalau gue sendiri tidak pernah sign kontrak dengan band manapun. Dengan Samsons sendiri gue nggak ada kontrak. Sejak awal gue bilang ke mereka akan bekerja dengan baik di sini dan tidak akan membebankan mereka dengan kontrak. Kalau misalnya mereka senang dengan pekerjaan gue, kami bisa berteman dan berbisnis selamanya tapi kalau nggak suka dengan pekerjaan gue, ya udah, kita ngopi-ngopi aja dan bisnisnya off.
Anton Kurniawan: Melihat kondisi sekarang ini hal itu sangat perlu, bahkan harus. Karena kehidupan di dunia entertainment dan industri musik sendiri sangat dinamis. Oleh karenanya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik secara resmi, secara tertulis, ada penjelasan yang mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak. Di Sheila On 7 sendiri hingga sekarang tidak ada kontrak seperti itu. Pertimbangannya di awal karir dulu manajemen band itu termasuk bagian dari keluarga juga, jadi yang kami pegang adalah komitmen lisan saja. Alhamdulilah, sampai sekarang tidak ada hal-hal berat yang mengganggu kerjasama diantara kami.
Dhani Pette: Harus ada kontrak yang mengatur semuanya. Gue nggak setuju kalau nggak ada kontrak antara artis dengan manajemen. Ketika uang berbicara nantinya maka semua hubungan persahabatan bisa pecah. Apa sih susahnya membuat kontrak? Tujuannya kan untuk menata dengan baik kerjasama itu. Ketika manajemen itu telah dibentuk diharapkan juga tidak ada lagi intervensi personel band. Di GIGI tidak pernah ada personel band yang menerima job panggung sendiri, semuanya melalui manajemen.

Apa saja yang harus diatur dalam kontrak?
Andreas Wullur: Sharing-nya harus jelas. Apa saja pemasukan yang diterima oleh artis dan manajer. Apakah royalti dari penjualan fisik kaset dan CD, show, iklan, dan sebagainya. Jangka waktu kontrak dan hak serta kewajiban juga perlu dimasukkan. Kontrak sebaiknya yang membuat pihak manajer.
Dhani Pette: Pertama kerjasama itu untuk bidang apa saja. Misalnya kerjasama dengan label, membuat kontrak show, kontrak iklan, mengelola fan club dan sebagainya. Penjelasan tentang Hak dan Kewajiban masing-masing pihak juga harus dijabarkan dengan rinci berikut sanksi-sanksinya.
Setelah artis memiliki manajer apakah ia harus menyerahkan 100% urusan bisnis band kepada manajer atau menjadi pengawas juga?
Andreas Wullur: Menurut gue seharusnya di dalam kontrak antara artis dengan manajer sudah mengatur hal ini juga. Seharusnya artis memang tidak berada dalam susunan organisasi manajemennya. Seharusnya pula artis bukan pemilik modal dari manajemen bandnya. Manajemen harus independen karena jika tidak nanti akan terjadi kerancuan dalam keputusan-keputusan strategis atau taktis manajemennya. Karena artisnya punya saham juga di band maka mereka otomatis punya hak untuk mengambil keputusan yang bertentangan dengan manajemen. Posisi antara artis dengan manajer seharusnya sejajar. Fungsi masing-masing pun sudah jelas. Dengan adanya kontrak tadi artinya pihak artis telah menunjuk manajemen secara profesional untuk mewakili kepentingan bisnis mereka. Artis sudah paham kapasitas dan kemampuan manajemen mereka. Kalau sudah menunjuk manajer tetapi artis masih ikut mengatur juga lalu untuk apa ada manajer? Mending artisnya aja merangkap sebagai manajer juga.
Anton Kurniawan: Konsep pengawasan tetap harus dilakukan. Kedua belah pihak tidak boleh melepaskan pengawasan bisnis mereka. Lebih baik kedua belah pihak saling mengawasi, saling koordinasi, saling konfirmasi, saling update perkembangan masing-masing.
Dhani Pette: Mereka 100% menyerahkan urusan bisnis ke gue. Sama sekali tidak intervensi. Mengapa? Karena mereka bukan pebisnis yang baik. Yang gue sedih, setiap akhir tahun gue kasih laporan jarang mereka baca, percaya aja, katanya. Lagipula sekarang apa yang ingin dikorupsi di dalam manajemen ini? Kegiatannya itu-itu aja, nilai kontraknya jelas dan sebagainya. Banyak terjadinya kasus manajer melarikan uang artisnya itu karena di awal kerjasama mereka nggak ada kontrak yang mengatur segalanya.

SIFAT HUBUNGAN ARTIS – MANAJEMEN

Hubungan kerjasama antara artis dengan manajer selayaknya tidak hanya menjadi hubungan bisnis profesional semata. Akan lebih baik jika hubungan tersebut juga mencakup hubungan personal atau pertemanan di antara keduanya. Jika Anda telah menemukan kandidat manajer yang potensial cobalah untuk menyusun kontrak kerjasama selama enam bulan terlebih dahulu. Tujuannya untuk melihat apakah masing-masing pihak cocok atau tidak untuk bekerjasama dalam jangka panjang.
Namun patut diingat juga agar tidak merekrut teman, temannya teman atau saudara atau anggota keluarga jika mereka tidak memiliki pengalaman menjadi manajer artis. Umumnya mereka tidak mengerti bagaimana bisnis musik berjalan atau tidak memiliki kontak bisnis di industri musik. Jika Anda terpaksa harus merekrut teman untuk menjadi “manajer artis” pastikan saja itu hanya untuk sementara hingga manajer yang benar-benar profesional ditemukan.

Andreas Wullur: Hubungan artis dengan manajer harus mencakup kedua-duanya, personal dan bisnis. Pintar-pintarnya Anda memposisikan diri aja. Tahu kapan saat berdiri sebagai businessman dan teman. Beda dengan kerja di perusahaan umum. Antara CEO dengan karyawan paling rendah strukturnya pasti jarang bertemu dan tidak saling mengenal. Kalau di band ada ikatan emosional pula di dalamnya. Hampir setiap hari kita pasti bertemu dengan semuanya – artis, kru, manajer.
Anton Kurniawan: Mungkin bisa dibilang hubungan kami 70% sifatnya personal dan sisanya bersifat bisnis. Mungkin karakter hubungan di band ini lebih mengutamakan masalah personalitas. Tetap ada unsur bisnis juga walau tidak dominan. Bisa dibilang sifat hubungannya itu berlandaskan azas kepercayaan dan kekeluargaan.
Dhani Pette: Pertemanan dulu. Pertama kali gue berteman dengan Budjana di band jazz dia. Pada saat gue dipanggil ke GIGI hubungannya bukan pertemanan lagi karena mereka melakukan approach secara profesional. Gue sempat diaudisi. Mereka bilang, “Dan, kalau elo megang GIGI apa yang bakal elo lakukan?,” “Dan, kami punya duit nih apa yang akan elo lakukan?” Gue jabarkan aja semua program gue. Akhirnya semua itu kami bakukan di atas kertas. Gue nggak pernah menempatkan posisi gue di atas atau di bawah artis dalam kerjasama ini. Kami sejajar. Kami sama-sama memiliki kontribusi di band ini. Intinya, hubungan gue dengan GIGI sudah menempuh banyak tahapan. Dari hubungan tidak profesional, profesional sampai sekarang tidak profesional lagi. Sekarang lebih mementingkan ikatan emosional dan personal.

MANAJER ARTIS BUKAN BOOKING AGENT

Dalam menjalankan peran sebagai manajemen artis diharapkan manajer juga memahami perbedaan deskripsi kerja antara manajemen artis dengan booking agent . Yang sering terjadi belakangan adalah ketika manajer melupakan fungsi utamanya dalam melakukan pengelolaan dan pengembangan karir artis dan lebih sibuk memburu job manggung yang seharusnya menjadi porsi kerja booking agent.
Anton Kurniawan: Akan lebih baik jika keduanya dipisah. Fungsi manajerial dan pengembangan karir artisnya akan lebih total nantinya. Mungkin untuk band yang sedang dan sudah maju akan lebih baik memisahkan kedua fungsi itu tapi kalau band yang baru memulai dan belum terlalu sibuk atau repot maka fungsi manajerial bisa digabung dengan booking agent.
Dhani Pette: Manajer di sini kebanyakan belum bisa memisahkan fungsi manajemen makanya semuanya digabung jadi satu. Seharusnya dipisah. Siapa person in charge untuk booking, siapa yang mengurus teknis produksi tur, siapa yang mengelola keuangan dan siapa yang berhak mengeluarkan hingga ke bagian gudang sendiri. Itu semua kan urusan internal manajemen. Kalau di luar negeri manajer band yang mencarikan booking agency yang tepat untuk bandnya.

ARTIS VS MANAJEMEN

Konflik internal antara artis dengan manajer sudah sering kita dengar terjadi di sini. Yang paling umum adalah ketika manajer buron karena melarikan uang sang artis. Hal ini sebenarnya dapat dihindari jika antara artis dengan manajer sejak awal kerjasama memiliki kontrak kerjasama yang mengatur hak dan kewajiban serta fungsi administratif dalam manajemen artis.
Jika terjadi konflik antara artis dengan manajer, apa saja yang harus dilakukan?
Dhani Pette: Gampang. Diteruskan kerjasamanya atau pisah aja secara baik-baik. Yang mengawinkan kan kertas kontrak kerjasama antara artis dengan manajer di awalnya tadi. Kalau terjadi wanprestasi di antara kami ya tinggal dibicarakan aja. Pisah secara baik-baik. Jujur, gue sedikit tersinggung ketika dengar kabar manager ini melarikan uang artis itu. Kenapa bisa terjadi kasus seperti ini? Ternyata setelah ditelusuri hal-hal basic seperti kontrak, pembagian hak dan kewajiban ternyata belum diterapkan. Seharusnya setelah masalah internal beres baru dia keluar menjalankan fungsinya sebagai manajer.

LABEL REKAMAN VS MANAJEMEN ARTIS

Belakangan ini sebuah fenomena yang menarik terjadi di dalam industri rekaman kita. Berbagai label rekaman internasional dan lokal ramai-ramai membuka divisi baru di dalam bisnis mereka: Manajemen Artis. Biasanya dealnya seperti ini: Setiap artis baru yang ditawarkan kontrak rekaman nantinya diwajibkan memberi komisi sekian persen bagi label dari setiap pemasukan yang mereka dapat dari pementasan, merchandise, iklan, sponsorship dan sebagainya. Jika pihak artis menolak untuk menerima klausul seperti ini maka biasanya kerjasama dengan label tidak akan berlanjut.
Mengapa? Karena penjualan fisikal rekaman kaset dan CD turun drastis setiap tahunnya hingga menyebabkan mereka terpaksa mengambil langkah darurat seperti ini untuk menghindar dari kebangkrutan. Seperti diketahui, income utama label rekaman memang sangat tergantung dari penjualan rekaman. Memang begitu model bisnisnya sejak puluhan tahun yang lalu.
Andreas Wullur: Label-label rekaman membuka divisi manajemen artis karena mereka merasa sudah merilis album artis, membesarkan karir artis, itu makanya mereka merasa juga punya hak atas artis tersebut. Ini langkah yang salah karena nantinya pasti akan terjadi conflict of interest. Karena manajer artisnya berada di bawah kendali label rekaman sebagai pihak yang membayar gaji mereka. Apabila terjadi konflik antara label dengan artis maka manajer akan berpihak kemana? Seharusnya fungsi awal manajer kan menjaga kepentingan artisnya. Gue pikir upaya label membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka nggak akan efektif. Nggak akan berjalan dengan baik kinerjanya. Kalau ada artis yang menandatangani kontrak dengan major label berikut hak untuk mengelola manajemen artis maka itu gue rasa bodoh aja. Idealnya label rekaman itu bekerjasama dengan firma-firma manajemen artis untuk hal seperti ini.
Anton Kurniawan: Wah, kalau aku melihat hal itu akan membunuh tugas manajer. Label killed the manager (Tertawa). Mungkin karena tren industrinya sekarang sudah seperti itu. di saat penjualan fisik tidak mencapai target sehingga label harus menyibukkan diri dengan membangun divisi artis manajemen baru karena secara income akan ada pemasukan baru nantinya. Selain itu aku melihat apakah manager yang mengelola artis di label tersebut jumlahnya seimbang atau tidak? Takutnya nanti akan terjadi kecemburuan karena label hanya sibuk mengurusi artis yang laku saja sementara masih ada puluhan artis lain di label tersebut. Tidak akan optimal kerjanya nanti.
Dhani Pette: Gue jujur aja, nggak setuju. Kebanyakan label rekaman itu nggak mengerti bagaimana mengelola manajemen artis. Yang sangat berbahaya mereka membangun manajemen artis hanya untuk menutupi menurunnya pemasukan dari penjualan rekaman fisikal, hanya itu aja yang mereka pikirkan. Karir artisnya nggak diurus sementara mereka terus menerima komisi 25%. Kasihan artisnya, tertindas! Misalnya, ada sebuah band ingin merilis album, sebuat saja nama bandnya The Kiriks. Setelah albumnya rilis label menggandeng kerjasama dengan sebuah produk rokok. Mereka dipromosikan oleh rokok tersebut, label senang karena budget promosi mereka utuh dan sebenarnya manajemen artis tidak ada ikatan dengan rokok. Ketika selesai masa promosi, The Kiriks ingin bekerjasama dengan rokok lain, ternyata nggak bisa. Rokok lain melihat mereka sebelumnya telah menjadi ikon rokok tersebut dan akhirnya tidak mau mendukung band ini.
Apakah akan terjadi conflict of interest nantinya?
Anton Kurniawan: Aku punya contoh kasus tentang hal ini. Jagostu, band barunya Eross, kebetulan manajemen artisnya dipegang label (Sony BMG Music Indonesia –Red). Memang seperti itu kesepakatan di kontrak awalnya. Karena aku tidak memegang Jagostu dan hanya menangani Sheila On 7 akhirnya kami sering konflik mengenai schedule. Karena yang mengatur jadwal Jagostu pihak label, otomatis jadinya sering berbenturan. Sudah beberapa kali hal ini terjadi. Di saat Sheila On 7 ada jadwal ternyata Jagostu juga ada jadwal. Sudah lebih dari tiga kali benturan jadwal ini terjadi. Biasanya karena ada jadwal yang masuk last minute dari Jagostu akhirnya Sheila On 7 mengalah. Kami terpaksa mengalah karena melihat Jagostu memang dalam masa promo album baru. Sheila On 7 sendiri akhirnya memilih tidak jalan show dan tidak menggunakan additional player.

Box I:

APA YANG WAJIB DIKETAHUI DARI CALON MANAJER?

Jangan sekali-kali membeli kucing dalam karung! Begitupula halnya yang berlaku di dalam mencari dan memilih manajer artis yang tepat bagi band Anda. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini akan sangat berguna dalam misi perburuan manajer artis bagi band Anda nantinya. Direkomendasikan!
• Apakah ia memiliki passion terhadap musik?
• Seberapa berpengalamankah dirinya?
• Siapa saja artis yang sukses setelah ia manajeri?
• Apa latar belakangnya (pendidikan, profesi, pribadi, dsb.)?
• Telah berapa lama ia berkecimpung di industri musik?
• Reputasinya baik atau buruk?
• Apakah ia tipe business manager atau personal manager?
• Apakah ia dapat bekerjasama secara profesional dengan label rekaman?
• Berdomisili dimana (Jakarta, Bandung , Bali, dsb.) ?
• Berapa banyak artis/band yang dimanajeri olehnya?
• Apakah ia tipe manajer yang ambisius demi mencapai sukses komersial?
• Apakah ia memiliki kontak bisnis dengan jaringan promotor/event organizer, booking agency, merchandise, media massa/jurnalis musik, publicist, dsb.?
• Apakah Anda menyukai kepribadiannya?
• Apakah Anda menghormati opini dan selera musiknya?
• Apakah ia bertanggungjawab? Negosiator yang baik? Memiliki tipikal pembuat keputusan?
• Seberapa terorganisirkah dirinya? Memiliki kantor manajemen?
• Apakah ia pernah bekerjasama dengan label rekaman atau penerbit musik (publisher) sebelumnya?
• Berapa usia dirinya?
• Apakah ia serius bergelut di industri musik? Hanya untuk bersenang-senang atau sebagai profesi?
• Apakah ia menyukai musik Anda? Apakah ia mengikuti perkembangan tren musik?
• Kerjasama manajemen seperti apa yang ia inginkan? Untuk berapa lama? Berapa komisinya?

(terima kasih untuk Wendi Putranto atas tulisannya dan untuk Andre James Oscar Sumual a.k.a Opa – manajer The Titans atas ijin copy paste nya dari blog kabardariopa.blogspot.com)

MAJU TERUS MUSIK INDONESIA !!!

[/url]
_________________
Nawang Utomo
T en T musik / PT. Tri Nada Tunggal
Jl. Summagung III blok K 5 / 1 A
Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara 14240

Mei 18, 2009 at 9:07 pm Tinggalkan komentar

KOIL

Profil Band

dari sini : http://tvrku.com/content/profil-koil-band.html
berdiri pada tahun 1993, dengan formasi : Otong (vokal), Doni (gitar), Imo (Bass), Leon (Drum). Sejak awal berdiri Koil memutuskan untuk membuat dan memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri. Keputusan ini merupakan hal yang kurang lazim saat itu , karena kebanyakan band saat itu lebih sering membawakan lagu orang lain.

Dengan usaha keras akhirnya Koil berhasil menciptakan beberapa buah lagu dan pada tahun 1994 dengan dana yang minim Koil bisa masuk studio rekaman dan merekam sekitar 8 buah lagu. Kemudian lagu-lagu itu dirilis dalam single yang berjudul “Demo From Nowhere”. Kaset ini hanya diedarkan terbatas, selain karena keterbatasan dana juga karena saat itu Koil kesulitan untuk mendapatkan tempat untuk menjual kaset tersebut. Satu-satunya tempat yang mau memasarkannya adalah Reverse Outfits, sebuah toko kepunyaan Richard Mutter ( ex drummer Pas band)

Pada tahun 1996, seorang produser bernama Budi Soesatio dari label Project Q (label yang mengeluarkan album Slank 1-3) tertarik untuk merilis album Koil dan mengkontrak Koil sebanyak 2 album. Maka pada bulan September 1996 KOIL merilis full albumnya yang pertama yang berjudul “KOIL”, lagu-lagu di album ini sebagian diambil dari single Demo From Nowhere.

Album ini mendapat tanggapan positif dari khalayak musik Indonesia terutama pencinta musik rock, karena musik dan lirik nya dianggap tonggak baru dalam kancah musik rock Indonesia. Musik yang diusung Koil adalah musik rock yang dipenuhi dengan sampling sampling suara . Sampling itu tidak hanya berasal dari instrumen musik tapi juga dari suara-suara yang ada disekitar kita seperti suara air, suara besi dipukul, suara panci dipukul suara-suara binatang, suara orang pidato, dll, yang digarap dengan penggunaan teknik sampling yang apik . Dari segi lirik, penulisan lirik-lirik yang mengekspresian kekosongan hati, kegelapan dan kehampaan cinta yang dituangkan dalam bait-bait lirik berbahasa Indonesia,menjadi suatu nilai plus bagi koil karena lirik bahasa Indonesia masih jarang dipakai untuk jenis musik rock seperti Koil.

Kerjasama Project Q dan Koil sebenarnya masih menyisakan 1 buah album lagi tapi karena dihadang krisis moneter menyebabkan Project Q tidak dapat memproduksi album ke-2 Koil. Akhirnya pada tahun 1998 Koil memutuskan untuk keluar dari Project Q.

Setelah keluar dari Project Q, Koil merilis single Kesepian ini Abadi di bawah label Apocalypse Record. Sebuah label yang dibuat oleh Otong (Koil) dan Adam (Kubik). Kaset single ini pun diedarkan secara indie melalui jaringan distro-distro underground yang saat itu sudah mulai banyak bermunculan di kota-kota besar,

Dirilisnya album ini membuat nama Koil kembali naik ke permukaan ditandai dengan banyaknya tawaran manggung yang datang. Seiring dengan itu, Koil mencoba konsep baru dalam pertunjukannya yaitu dengan memasukan unsur-unsur lain dalam pertunjukannya yaitu fashion dan tarian . Unsur fashion yang mendapat perhatian besar dari Koil adalah penggunaan kostum khusus dalam setiap penampilannya.. Kostum dari kulit, berwarna hitam , penuh asesoris logam , sepatu boots tinggi , membuat penampilan Koil berbeda dengan band-band lainnya. .Ditambah lagi dengan aksi para penari wanita yang berpakaian sexi membuat pertunjukan semakin menarik. Hal ini akhirnya menjadi trademark bagi Koil, sebagai band rock pertama di Indonesia yang memadukan fashion, tari dan musik pada saat manggung,

Setelah merilis single ini, Koil kembali masuk studio rekaman untuk menyelesaikan materi lagu untuk album berikutnya, diselingi juga dengan membantu para musisi lain diantaranya meremix lagu dari Puppen, Burger Kill, Jasad. Lagu-lagu Koil juga masuk di beberapa kompilasi seperti : Best Alternative Indonesia ( prod Aquarius Musikindo), Ticket To Ride ( Spills Record), Kompilasi Viking-Persib.

Pada bulan Februari 2001, setelah melewati perjuangan keras yang penuh tantangan seperti kesulitan dana rekaman, minimnya peralatan musik, teknologi rekaman yang baru , dalam pembuatan album akhirnya Koil merilis full albumnya yang ke-2 yang berjudul : Megaloblast dibawah label Apocalypse Record. Album ini berisikan 10 buah lagu dan berbungkus artwork kover yang sangat apik , berwarna dominan putih bergambar muka seorang wanita.

Pada saat pertama dirilis pendistribusian kaset ini dilakukan hanya lewat jaringan distro-distro underground di Jakarta dan Bandung ,pemesanan melalui pos, dan beberapa toko kaset . Cara ini terpaksa ditempuh oleh Koil yaitu untuk menekan biaya pendistribusian Tapi walaupun dengan cara seperti ini album Megalobalst dapat terjual sekitar 15 ribu kopi (sebuah angka yang cukup besar untuk ukuran indie label dan cara pendistribusian seperti ini ).

Angka penjualan ini didukung oleh promo yang gencar yaitu dengan membuat ribuan poster dan baligo yang di pasang di jalan-jalan utama, untuk melakukan promosi seperti ini Koil dibantu banyak pihak seperti distro-distro, radio, majalah, dan yang mengundang kontroversi adalah bantuan dari Restoran McDonalds Cihampelas Bandung (restoran McDonalds dimusuhi komunitas underground di bandung saat itu). Store Manager restoran McDonalds saat itu adalah Wisnu Aji Nugroho aka Wayank ( pendiri band/clothing citysounds ) kabarnya adalah sahabat koil

Setelah itu untuk menambah tingkat penjualannya, Koil membuat video klip untuk lagu Mendekati Surga dan klip itu dikirim ke MTV , tidak disangka-sangka ternyata klip itu mendapat tanggapan positif dari pihak MTV . (saat itu MTV belum menayangkan klip-klip band indie). Setelah beberapa kali ditayangkangkan, klip ini mendapat respon yang sangat tinggi di MTV, (bahkan menurut pihak MTV melebihi request terhadap lagu Linkin Park) , Hal itu membuat pihak MTV mengundang KOIL untuk tampil dalam acara MTV Musik Award 2003.

Melihat potensi ini, pada bulan Oktober 2003 sebuah label yaitu ALFA RECORD menawarkan kerjasama untuk merilis kembali album Megaloblast dengan pendistribusian yang lebih luas yaitu seluruh Indonesia. Akhirnya pada bulan Desember 2003 album Megaloblast dirilis kembali dengan penambahan 2 buah lagu remix dan perubahan artwork kover album, menjadi berwarna hitam, oleh karena itu album ini sering disebut MEGALOBLACK. Untuk menambah tingkat penjualan, Koil membuat 2 buah video klip lagi yaitu untuk lagu Kita Dapat Diselamatkan dan lagu Dosa Ini Tak Akan Berhenti. Kedua video klip ini di buat oleh rumah produksi “Cerah Hati”.

Peredaran kaset Koil secara nasional membuat orang makin mudah mendapatkan kaset Koil maka dengan sendirinya penjualan kaset Koil terus meningkat. Keadaan ini membuat Koil semakin dikenal di dunia musik Indonesia, sebagai salah satu band indie yang dapat disejajarkan dengan band-band major label. Prestasi Koil ini mendapat perhatian dari majalah Times Asia, sehingga dalam salah satu tulisannya menyebut Koil sebagai salah satu band rock masa depan Indonesia,

Pada tahun 2003-2004 Koil banyak diundang untuk tampil di acara-acara seperti Nescafe Musik Asik, Ulang tahun ke -20 tahun Slank di Stadion Lebak Bulus, Pekan Raya Jakarta dan Pensi-Pensi SMU di Jakarta dan Bandung.

Di pertengahan tahun 2005 sekitar bulan Juni, Koil merilis 2 buah single terbarunya yang berjudul Hiburan Ringan Part 1 dan Hiburan Ringan Part II. Single ini masuk dalam soundtrack film horror berjudul ’12:00 AM’. Masih di bulan yang sama , Koil membuat klip dari lagu Hiburan Ringan Part II. Untuk mempromosikan single terbaru ini Koil tampil di acara PESTA INDOSIAR, Kuta Karnival (Bali) untuk acara Oakley dan The Beat Rock Fest. Kemudian di Jogja pada acara Star On Campus.

Saat ini Koil baru saja menyelesaikan album terakhirnya dan sedang melakukan “KOIL BLACKLIGHTSHINESON TOUR 2008″2008.

ARTIST DETAILS
Nama: KOIL
Tanggal/Tahun Berdiri : 1993
Genre: Rock

Personnel:
1. J.A. Verdijantoro (vokal)
2. Donnijantoro (gitar)
3. Ibrahim Nasution (gitar)
4. F.X. Adam J. a.k.a. Vladvamp (bas)
5. Leon Ray Legoh (drum)

CONTACT
Manager/Contact Person: Santi Y.Z.
Tel.: (022) 4232308
Ponsel.: 081808338055
Fax: (022) 4232308
E-mail: god@koil.tv
Website/Myspace/Friendster:
www.koil.tv
www.myspace.com/koilkarat
koilkarat.multiply.com
Address: Jl. Sultan Agung no. 9, Dago – Bandung

DISKOGRAFI
1. Demons From Nowhere EP
Produser: J. A. Verdijantoro & Donnijantoro
Label: OMU Records
Rilis:1994

2. KOIL
Produser: Budi Soesatio
Label: Project Q
Rilis: September 1996

3. Caligula EP
Produser: J.A. Verdijantoro & Donnijantoro
Label: Apocalypse Records
Rilis: 1998

4. Megaloblast
Produser: J.A. Verdijantoro & Donnijantoro
Label: Apocalypse Records
Rilis: Februari 2001

5. Megaloblast- Repackage
Produser: KOIL & Alfa Records
Label: Alfa Records
Rilis: Desember 2003

6. The Blacklight Shines On
Produser: J.A. Verdijantoro & Donnijantoro
Label: Apocalypse Records
Rilis: September 2007

7. Indonesia Best Alternative (kompilasi)
Lagu: Dengekeun Aing
Label: Target Pro & Aquarius
Rilis: 1997

8. Sampler Ripple Magazine (kompilasi)
Lagu: Tidak Berarti
Label: Spills Records
Rilis: 1999

9. Ticket to Ride (kompilasi)
Lagu: Dosa (remix)
Label: Spills Records
Rilis: 2000

10. Viking (kompilasi)
Lagu: Untuk Kemenangan Kami
Label: Viking Records
Rilis: 2002

11. 12:00 AM (original sound track)
Lagu: Hiburan Ringan Part I, Hiburan Ringan Part II
Label: Explosive Records
Rilis: 2005

12. Rolling Stone Rare & Raw (kompilasi)
Lagu: Breathe With Me
Label: Rolling Stone Indonesia
Rilis: 2006

ADDITIONAL INFOS
Influenced by: Genesis, Pink Floyd, Chris Isaak, Manic Street Preachers, Black Sabbath, etc

Mei 18, 2009 at 8:48 pm Tinggalkan komentar

Fakta tentang Musik Digital

Asia-Pacific Music Forum 2008 Hong Kong

Musik lewat media digital memudahkan dan menjadi pilihan saat ini dan pada masa datang. Inilah oleh-oleh Andra “Forsel” yang ikutan acara seminar itu untuk Hai

Penjualan produk musik dalam hal ini dalam bentuk fisik (CD) akan turun hingga tahun 2011. Penurunan ini udah terendus sejak dua tahun silam.  Tahun 2009 produk fisik ini sangat tipis  ditelan oleh format digital. Faktanya, Jepang boleh jadi contoh, bagaimana sebanyak 500 juta lagu digital telah di-download.  Di Inggris selama kurun 2007 sebanyak 77,6 juta trek dibeli lewat on-line. Dibandingin tahun 2006 terdapat kenaikan sebesar 47%. Pada momentum tertentu seperti Natal, terjadi pelonjakan dua kali lipat. Sekarang ini, di negeri yang masih disebut sebagai kiblat industri musik itu, 90 persen lagu singel telah didigitalkan.
- Marcel Fenez, Global Entertainment & Media Leader, PricewaterhouseCoopers & Chairman
 
Pendapatan musik digital pada tahun silam mencapai angka 2,9 milyar dollar. Padahal empat tahun sebelumnya baru mencapai 20 juta dollar. Dengan kata lain musik digital meraih 15 persen pendapatan industri musik secara keseluruhan. Secara bertahap angka ini semakin bertambah seiring dengan tumbuhnya industri lain yang berbasis digital.
- The International Federation of Phonography Industry (IFPI)

Pada versi kanal mobile, Asia menjadi negeri yang paling subur. IFPI bahkan mencatat Indonesia sebagai negara ketiga pasar ringback tone paling sehat setelah Amerika dan Jepang.
-Lachie Rutherford, President Warner Music Asia Pacific 

Diam-diam, responden ini ternyata lebih menikmati artis lokal ketimbang artis luar negeri. Hal itu karena mereka lebih memahami bahasa sendiri.  Persentase di Indonesia bahkan melebihi 75 persen. “Asia Loving Asia”, orang Asia lebih menikmati lagu-lagu karya bangsanya sendiri.
-Ian Stewart, Senior Vice President, Viacom Brand Solution & MTV Networks International

Kedekatan dan kemiripan bahasa antarbangsa pada akhirnya juga ikut mempengaruhi penyebaran lagu di luar kawasan. “Peterpan, Gigi, Dewa, lebih populer ketimbang artis Malaysia,”. Jadi benarlah bahwa pada skala regional, sebenarnya sangat terbuka bagi pemusik kita untuk dicintai oleh sesama warga Asia. Inilah jawaban, kenapa album artis luar mengalami penurunan.
- Jolyn Thong, wartawan musik Klue, Malaysia

Pertumbuhan musik digital juga ikut menumbuhkan munculnya penyedia layanan musik digital on-line. Mereka “menjajakan” lagu yang berasal dari artis terkenal maupun artis baru. Koleksi lagu-lagu klasik misalnya, sudah ditawarkan oleh sebuah penyedia layanan bernama Deutsche Grammophon sejak November 2007 silam. Sebelumnya ada nama-nama macam Soundbuzz yang sangat nge-top di Asia atau OmniFone yang cukup terkenal di kawasan Eropa. Di Indonesia juga ada Im:port yang dikelola oleh musisi pula. Sampai akhir 2007, IFPI mencatat tak kurang dari 500 situs on-line musik digital yang menawarkan lagu secara legal.
- The International Federation of Phonography Industry (IFPI)

Perusahaan rekaman sekarang harus memposisikan diri sebagai pencari bakat. “Tugas Anda adalah mencari talenta yang begitu banyak di dunia ini.”
-Harvey Goldsmith, promotor superkondang, bos Artiste Management Productions Ltd; dan pernah menggelar konser LiveAid 1986

Independent Artists Club (IAC). Sejak dirilis tahun silam di tujuh negara Asia (termasuk Indonesia), kini tercatat lebih dari 2.000 band anyar tergabung di situ. Karya mereka bisa disimak lewat situs yang bahkan mengajak pengguna internet atau penyuka musik untuk memberikan apresiasi.
- Independent Artists Club (IAC)
Kebiasaan Mendengar Musik
93 % suka musik
86 % mendengar musik lewat komputer
76 % mendengar musik lewat MP3 player
14 % nonton konser secara reguler
74 % lebih suka musik lokal
76 % bakal mengganti MP3 player ke ponsel 
-Riset 2008; MusicMater, responden sebanyak 5.767 orang, berumur 15-34 tahun, di 12 negara Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Mei 18, 2009 at 8:46 pm Tinggalkan komentar

MUSIC PUBLISTIC

Music Publicists : PR

Disebut juga sebagai Publicist, tapi bukan dimaksud seperti para “Purel” yang ada di dunia hiburan malam.
Publicist disini khusus dalam hubungan nya dengan Musik Industri.
Semua artis dan seniman membutuhkan Public Relation ( selanjutnya disingkat PR ), PR yang bagus akan bisa mengangkat karir seorang artis yang sedang merintis jalannya.

Pada dasarnya “Publikasi” dan orang yang menjalankan nya disebut “Publicist” adalah sebuah usaha yang menyiapkan bahan bahan publikasi tentang Artis yang di-wakili nya untuk para Wartawan, Jurnalis dan Broadcaster. Bahan bahan publikasi tersebut disiapkan dengan cara yang menarik serta dengan sudut pandang cerita yang tepat sasaran sehingga akan segera dimuat pada Outlet Outlet Media tersebut.

Pulicist berada didalam naungan “Promosi” yang jangkauan nya lebih luas, mencakup hal hal diluar Media seperti : pembuatan dan penyebaran Poster dan Pamflet, mengirim Mailing List secara surat ataupun Email berdasarkan data base fans list, administrasi MySpace.com dan lain lain.

Publicist mengurusi informasi mengenai Artis nya, ibaratnya seorang Sales Agent bagi Artis nya itu. Menentukan berita yang penting bagi sang Artis ( story angle/ sudut pandang cerita ) dan membungkusnya secara semenarik mungkin. Para Editor majalah, wartawan dan Broadcaster TV dimana Publicist memberikan bahan bahan nya adalah sebenarnya pihak tengah dari target sebenarnya yaitu para pendengar, pemirsa atau pembaca yang akan membeli CD dan menonton Konser Artis nya tersebut.

Peran Publicist betul betul diperlukan jika sang Artis telah memiliki CD yang beredar secara National, agar bisa lebih cepat menapak ke level yang berikutnya. Peran Publicist juga bisa dilakukan oleh sang Artis nya sendiri tapi akan sangat merepotkan.Juga wajib disadari bahwa Media sangat menyadari profesionalisme didalam menerima material publikasi dari seorang Artis. Press Release yang ditulis dengan baik, bahan bahan promosi yang design nya senada. Kemudian “follow-up” yang sopan dari Publicist akan menarik minat mereka untuk membantu sang Artis.
Untuk itu Publicist wajib bekerja secara intense dan aktif dengan Artis nya dan begitu juga sebaliknya, agar terhindar dari kesalahan yang memalukan dalam mempersembahkan publikasi untuk Media.

Tugas dari Publicist adalah memiliki data base dari contact person yang berasal dari seluruh stasiun radio, koran koran lokal maupun Nasional dan majalah majalah. Contact person ini wajib nya harus up to date dan aktual, bukan nya seorang contact yang sudah lama sekali keluar dari perusahan nya. Sehingga data base ini harus selalu di Update dengan informasi terbaru. Membangun data base ini adalah modal utama dari seorang Publicist disamping kemampuan social skill nya yang piawai didalam menjaga hubungan baik serta mampu menjual Artis nya kepada Media.

Alat utama pendukung kerja seorang Publicist adalah Telephone dan Internet, jadi siapkan dana khusus untuk pos pengeluaran ini.
Juga transportasi sangat penting karena seringnya harus bertemu dengan para Media contact.

Hindari kesan membesar besarkan atau melebih lebihkan status Artis yang diwakili nya, jika tanpa adanya dukungan fakta maka hanya akan membuat suatu hasil yang negative. Jika musik yang diproduksi itu bagus maka biarkan musik itu berbicara dengan sendirinya.

Paling penting disediakan adalah semua informasi penting mengenai Artis ( biografi ) dan Album nya juga team pendukung serta semua info info yang berkaitan dengan Artis tersebut.
Misalnya alamat dan nomor kontak serta Website atau mySpace dan Email. Terakhir jangan lupa CD nya !

Semua publikasi tidak akan membuat seorang artis jadi Top seketika, tapi jika si Artis nya sendiri membangun dukungan fans dengan konser konser yang konsisten serta musik yang bagus maka semua bisa dicapai. Publicist yang bagus disamping itu akan sangat membantu percepatan karir sang Artis.

Tujuan utama dari Publikasi adalah bukan untuk menjual sang Artis seperti halnya Iklan Kecap, tapi mendapatkan Fans yang menginginkan musik si Artis serta mengerti misi serta apa siapa diri dan musik sang Artis tersebut.

Kerja team/ Team Work yang erat dari semua pihak pihak yang terlibat seperti Produser/Label, Advertising Agency, promotor, booking agent dll, akan membuat suatu hasil yang nyata.

Mei 18, 2009 at 8:35 pm Tinggalkan komentar

RIWAYAT SANTO SANTA

Santo santa pembantu yang lazimnya dimohon pertolongannya oleh orang dalam kesuliatan / keadaan tertentu.

Anak sakit keras : Kunigude
Barang yang hilang : Antonius dari Padua, Nikolas
Beban berat : Yudas Tadeus
Buta : Lusia
Cacat perang : Sebastianus
Cuaca buruk : Markus
Fitnahan : Pankrasius, St. Yoanes Nepomuk
Gadis yang ingin menikah : Katarina dari Alexandria, Martin de Porres
Gigitan anjing gila : Hubertus
Gigitan ular berbisa : Hubertus, Paternus, Paulus
Godaan nafsu : Aloisius, Margaretha
Godaan setan : Malaikat Mikael, Patrisius
Godaan setan dalam sakrat maut : Siriakus
Halilintar : Klemens
Hama tikus : Gerud dari Nivelles
Hanyut : Yoanes Nepomuk
Hatinya gelisah : Dionisius dari Paris, Yudas Tadeus

Riwayat Hidup Santo Dionysius

Dionysius a Natitivitate, yang sebelumnya bernama Pierre Berthelot lahir di Honfleur, Perancis pada tahun 1600 sedangkan Redemptus a Cruce, sebelumnya bernama Thomas Rodrgues da Cunha, lahir di Paredes, Spanyol pada tahun 1598. Kata “Redemptus” sendiri dapat diartikan “sebagai yang ditebus”. Keduanya adalah biarawan Karmel dan merupakan martir yang mati di tanah rencong, Aceh, Indonesia pada bulan November 1638 dan diberi gelar sebagai “yang bahagia” atau Beato pada tahun 1900. Pesta Beato Dionysius dan Beato Redemptus dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 1 Desember menurut penanggalan liturgi yang disusun oleh Komisi Liturgi KWI.

Pierre Berthelot adalah anak seorang dokter yang sekaligus bekerja sebagai seorang nakhoda kapal. Sejak umur 12 tahun Pierre mewarisi darah ayahnya sebagai pelaut dan selalu mengikuti ayahnya berlayar. Pada umur 19 tahun, Pierre muda sudah menjadi seorang pelaut yang ulung. Setelah merasa mempunyai cukup pengetahuan dan pengalaman di bidang kelautan, Pierre kemudian memasuki dinas perusahaan dagang Perancis. Pernah pada suatu masa kapal dagang Perancis yang dinaiki Pierre sampai di Indonesia, tepatnya di Banten, namun karena adanya perselisihan dengan VOC, perusahaan dagang Belanda, maka kedua maskapai perdagangan ini melakukan peperangan sampai akhirnya kapal dagang Pierre dibakar. Perlu diketahui hampir seluruh wilayah Indonesia pada saat itu dikuasai oleh VOC yang didukung oleh Pemerintah Belanda. Dalam bidang kelautan, Pierre sangat berpengalaman dalam hal pembuatan peta laut dan dia juga mahir dalam memberikan petunjuk jalan. Pengalamannya sebagai pelaut yang handal membawanya sampai ke Madagaskar bahkan Sulawesi. Setelah itu Pierre bekerja di angkatan laut Portugis di Goa, India.

Walau Pierre sudah mempunyai kedudukan dan berpengalaman sebagai pelaut pada kapal dagang dan di angkatan laut Portugis, tetapi hal ini tidak membuatnya puas. Pierre pada saat itu masih merasakan bahwa hidupnya hampa dan masih ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Ia merasakan ada keresahan dalam dirinya. Hatinya selalu terusik untuk mencari jawaban tersebut. Pierre selalu merenungkan dan mencari apa yang masih kurang dari dirinya dan ia ingin mengetahui dan mencari arti hidup yang sebenarnya bagi dia dan ingin lebih mendalaminya.

Pada tahun 1635, saat berumur 35 tahun, Pierre mendaftarkan diri masuk biara. Ia masuk Biara Karmel di Goa, India. Pada suatu ketika Pemerintah Portugal meminta Pierre yang sudah masuk biara untuk menjadi penunjuk jalan ke Sumatra. Pembesar Karmel pada saat itu setuju dan sekaligus mentahbiskan Pierre menjadi imam. Di biara karmel ini Pierre yang sudah berubah nama menjadi Dionysius a Nativitate bertemu Bruder Redemptus a Cruce, yang adalah bekas tentara Portugis.

Nama Redemptus sebelum masuk di Ordo Karmel adalah Thomas Rodguez da Cunha. Redemptus mempunyai tujuan yang sama dengan Dionysius, yaitu ingin hidup lebih dekat dengan Tuhan. Di dalam biara, pekerjaan Redemptus sangat sederhana, ia harus menjaga pintu biara. Sebagai penjaga pintu Bruder Redemptus adalah seorang biarawan yang bertugas menerima tamu dan selain itu ia juga bekerja sebagai pengajar untuk anak-anak yang tinggal di sekitar biara. Karena begitu besar cintanya kepada Yesus Kristus, Redemptus seringkali tanpa diminta melakukan pekerjaan-pekerjaan berat diluar tugasnya sendiri. Oleh karena itu atasannya kerap melarangnya bekerja di luar batas.

Keutamaan dan Teladan Hidup Beato Dionysius & Beato Redemptus

Ketika Dionysius dan Redemptus yang sudah menjadi frater di Biara Karmel di Goa, India, Raja Goa meminta kepada Kepala Biara untuk menugaskan Dionysius pergi ke Aceh, Indonesia. Saat itu abad ke-17, dan hubungan Kerajaan Goa dengan Kerajaan Aceh sedang tidak baik, sehingga Raja Goa berinisiatif untuk menjalin persahabatan dengan Raja Aceh. Oleh karena Pater Dionysius adalah seorang yang ahli dalam bidang kelautan dan bidang bahasa maka raja meminta Dionysius untuk membantu kerajaan sebagai salah satu tim inti Kerajaan Goa untuk pergi ke Kerajaan Samudera Pasai di Aceh.

Dionysius dan Redemptus adalah pribadi-pribadi yang rendah hati

Sejak menginjak remaja sebagai seorang pelaut yang ulung, Dionysius sudah mewarisi kehidupan keagamaan ayahnya. Dionysius muda sudah mempunyai pribadi yang mengesankan. Ia mempunyai kerendahan hati, kekuatan iman, kemurnian, dan kesediaan untuk berkorban. Demikian juga dengan Redemptus yang selalu dengan rendah hati dan taat menjalankan tugas-tugasnya yang sederhana. Walaupun demikian keduanya menjalankan tugas-tugas yang diembannya dengan penuh syukur. Dionysius tidak malu untuk membersihkan galangan kapal walau nakhoda kapal adalah ayahnya dan demikian juga dengan Redemptus yang menjadi penjaga pintu Biara Karmel. Bagi mereka pekerjaan sekecil apa pun kalau ditujukan untuk kemulian-Nya maka itu akan sangat berarti bagi mereka.

Dionysius dan Redemptus adalah pribadi-pribadi yang berani dan hidup berlandaskan Iman Kristiani

Ketika sudah menjadi biarawan, Dionysius masih beberapa kali menyumbangkan keahliannya untuk Pemerintah Portugal. Biasanya Dionysius membantu di kapal dengan kemahirannya yaitu dengan menggambar peta atau sebagai penunjuk jalan, bahkan kadang-kadang Dionysius mengangkat senjata untuk melawan Kongsi Dagang Belanda di Goa, dan salah satu pertempuran yang pernah dia alami terjadi pada tahun 1636. Dionysius bertemu dengan Redemptus di suatu biara di Goa dan keduanya mempunyai cita-cita yang sama yakni berdua ingin mencari kehidupan yang lebih dekat dengan Tuhan Allah.

Dionysius dan Redemptus sering berpuasa dan mati raga demi meneguhkan niat mereka sebagai tentara Kristus. Pada saat Pater Dionysius ditunjuk menjadi juru bahasa dan pandu laut bagi utusan Kerajaan Goa ke Aceh – Kerajaan Samudra Pasai – maka mengetahui adanya peluang untuk mewartakan karya keselamatan, Bruder Redemptus mengajukan diri untuk menjadi asisten bagi Pater Dionysius. Bagi keduanya pergi diutus ke berbagai tempat untuk mewartakan karya keselamatan sudah tidak menjadi masalah untuk mereka. Pater Dionysius dan Bruder Redemptus sudah tidak lagi memikirkan di mana dan kapan, serta bahaya besar yang akan mereka hadapi. Mereka telah meneladani perbuatan Tuhan Yesus yang tersurat dalam Injil Lukas 9: 58, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Begitu besar keyakinan dan kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus karena bagi mereka berdua Yesus Kristus adalah terang dunia. Seperti ditulis dalam Injil Yohanes 5:12b, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

Redemptus yang telah mengajukan diri sebagai asisten bagi Dionysius akhirnya disetujui oleh atasannya yang berada di Biara Karmel, di Goa untuk mendampingi Dionysius pergi ke Aceh. Selain mengadakan dan memulai kunjungan persahabatan bagi Kerajaan Goa, salah satu alasan Redemptus pergi ke Aceh adalah bahwa “dia ingin menjadi seorang martir”. Begitu mulia dan beraninya hati Redemptus di dalam menjalankan misinya. Dia tahu bahwa Tuhan akan bersertanya sampai hayat di kandung badan. Selama perjalanan menuju ke Aceh, pihak Belanda yang telah mulai menjajah Indonesia mengadakan pendekatan kepada Sultan Iskandar Thani dan mengatakan bahwa utusan Kerajaan Goa dan utusan Portugis yang terdiri dari 2 orang biarawan dan 60 orang misi “perdamaian” tersebut datang ke Aceh hendak meng-katolik-kan Kerjaan Samudera Pasai. Hasutan pihak Belanda ini berhasil. Oleh karenanya setelah mereka tiba di Aceh, Pater Dionysius, Bruder Redemptus, dan 60 orang utusan Kerajaan Goa ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Selama sebulan di penjara, Dionysius, Redemptus, dan 60 orang anggota utusan perdamaian dari Kerajaan Goa disiksa. Mereka disiksa agar mau mengingkari iman mereka, iman kepada Yesus Kristus atau iman Katolik. Perjuangan mereka di penjara begitu berat karena siksaan-siksaan yang mereka alami, sampai akhirnya ada beberapa dari anggota utusan yang murtad dan beralih dari agama yang mereka imani, namun yang tetap teguh tetap mengalami siksaan. Mengapa mereka begitu kuat menahan siksaan di penjara? Tidak lain dan tidak bukan karena peneguhan dan pengaruh yang kuat yang diberikan oleh 2 orang rahib dari Biara Karmel ini. Selama di penjara para tawanan ini terus berdoa kepada Tuhan Allah supaya mereka lebih dikuatkan dan tidak beralih dari keyakinan yang mereka imani dan menjadi pengkhianat bagi Kristus.

Setelah satu bulan lamanya akhirnya Sultan Iskandar Thani memberi maklumat hukuman untuk menghukum mati seluruh utusan yang tidak mau pindah dari pengikut Kristus ini. Menurut Dionysius yang ahli bahasa ketika menterjemahkan isi maklumat tersebut kepada para temannya bahwa mereka akan dihukum mati bukan karena berkebangsaan Portugis tetapi karena mereka menganut agama Katolik – pengikut Kristus. Hukuman mati yang akan dilaksanakan adalah membawa seluruh tawanan ke pesisir pantai dan memanah mereka. Sebelum acara hukuman dilaksanakan, Dionysius bersama seluruh tawanan melakukan doa bersama dan mereka memohon kepada Kristus Yesus untuk memaafkan dosa-dosa mereka. Sebagai absolusi terakhir, Dionysius mengeluarkan sebuah salib, dan memberkati teman-temannya satu persatu seraya memberikan semangat kepada mereka untuk tidak mundur karena Kristus Yesus akan memberikan kehidupan kekal kepada mereka dan mereka tidak akan mati dengan sia-sia karena bersedia mengorbankan nyawa mereka untuk Kristus Yesus yang mereka imani. Akhirnya mereka satu persatu mati ditembus oleh anak panah, termasuk juga Redemptus, dan selama proses hukuman mereka terus mengucapkan nama Yesus. Tuhan memang menjanjikan kehidupan yang lebih hakiki bagi, seperti tertulis di dalam Mazmur 31: 6-9: “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia. Engkau benci kepada orang-orang yang memuja berhala yang sia-sia, tetapi aku percaya kepada Tuhan. Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku, dan tidak menyerahkan aku ke tangan musuh, tetapi menegakkan kakiku di tempat yang lapang.”

Proses hukuman anak panah belum selesai, namun Pater Dionysius belum mati juga, bahkan dia masih dapat memberikan khotbah tentang Kristus Yesus di depan para pengawal kerajaan dan penduduk yang melihat proses hukuman ini. Karena Pater Dionysius tak henti-hentinya berkhotbah maka penduduk makin membencinya, segera pengawal tidak hanya menancapkan tombak dan menghunus pedang untuk membunuh Pater Dionysius, namun seperti ada mujizat karena ada tenaga yang menahan para pengawal sehingga mereka tidak dapat menyentuh Pater Dionysius. Beberapa pengawal akhirnya pergi ke kerajaan untuk memberitahu kepada Raja Iskandar Thani perihal masalah Pater Dionysius dan juga memohon tambahan bantuan. Pater Dionysius mengetahui bahwa Tuhan Yesus Kristus turut campur tangan dalam proses kematiannya, maka dia memohon kepada-Nya untuk dapat mati sebagai martir. Doanya dikabulkan oleh Tuhan, seorang algojo pertama kali memukul kepala Pater Dionysius, kemudian sebuah pedang menebas kepala dan tubuh Pater Dionysius. Seorang martir dari Biara Karmel telah mati dengan tidak sia-sia untuk Kekasih-Nya. “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!” (Mazmur 116: 16) Seluruh mayat para martir termasuk Pater Dionysius dan Bruder Redemptus kemudian dibuang ke laut namun mayat Pater Dionysius setelah dibuang ke laut kembali lagi ke tempat dia dibunuh pertama kali. Mayatnya kemudian dibuang tidak hanya ke laut tetapi juga ke hutan dan tetap saja mayatnya kembali lagi ke tempat dia terakhir menjadi martir. Tuhan Yesus Kristus Maha Besar karena mayat Pater Dionysius juga tidak membusuk bahkan setelah tujuh bulan. Akhirnya mayatnya dimakamkan di Pulau Dien yaitu pulau pembuangan para tawanan sebelum kemudian diangkat kembali dan untuk terakhir kalinya dimakamkan di Goa, India.

Berdasarkan pada pengalaman iman yang kita dapat dari Pater Dionysius dan Bruder Redemptus, maka kita dapat melihat bahwa mereka berdua mengandalkan pada kekuatan Yesus Kristus, kekuatan yang meneguhkan mereka berdua untuk mengatasi tidak hanya pada masalah horizontal, yaitu bagaimana mereka menghadapi hubungan mereka dengan pribadi-pribadi tetapi juga pada masalah vertikal, yaitu bagaimana mereka berdua mengabdi dan meyakini iman Kristiani mereka. Tidak perlu disangkal lagi bahwa Pater Dionysius dan Bruder Redemptus mempunyai karunia-karunia yang membantu mereka dalam mengatasi masalah berkehidupan dan segala hal yang berhubungan dengan kebajikan yang diekspresikan dari kepribadian mereka yang matang, rendah hati, berani membela kebenaran, mau mengampuni, dan besar hati. Renungan singkat dari Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengenai kematian dapat menjadi suatu persembahan yang membuat kemartiran bagi setiap pengikut Kristus Yesus adalah suatu usaha dan pengorbanan yang tidak akan pernah sia-sia: “Dalam hatiku ada ketenangan seperti danau yang teduh atau udara yang cerah; aku tidak mengeluh mengenai kehidupan di dunia ini; hatiku mendambakan air kehidupan kekal. Sebentar lagi maka jiwaku akan meninggalkan bumi, akan berakhirlah masa pembuangannya, akan selesailah perjuangannya. Aku naik ke surga, sampai di tanah air, mendapatkan palma kemenangan! Sebentar lagi aku akan memasuki kediaman para terpilih, aku akan memandang keindahan yang tak pernah ditatap mata manusia, aku akan mendengar lagu selaras yang tak pernah didengar telinga, aku akan merasakan kegembiraan yang tak pernah timbul dalam hati . . . Inilah aku tiba di saat ini. Aku sekuntum bunga yang dipetik Juru Taman sesuka hatiNya. Kita semua adalah bunga yang ditanam di dunia ini dan dipetik Allah pada waktunya: ada yang sedikit lebih dahulu, ada yang kemudian. Suatu hari kita akan bertemu di Firdaus dan merasakan kebahagiaan sejati.” >

Sharing :

* Para martir adalah orang-orang yang mempunyai cinta yang begitu besar kepada Kristus, sehingga rela mati demi Kristus. Bagaimana dengan Anda sendiri, sebesar apakah cinta yang Anda miliki bagi Kristus? Relakah Anda memberikan hidup bagi Kristus? Sharingkanlah dengan teman-teman dalam sel

* Menjadi martir tidak selalu harus dengan darah yang tertumpah, kita dapat juga menjadi martir putih, martir dalam cintakasih. Sudahkah Anda melakukannya? Bagaimana perjuangan Anda untuk menjadi martir? Sharingkanlah pengalaman Anda dalam sel

Oleh : Septo

 

Ternyata riwayat hidup Pastor Ventimiglia sangat menarik. Dengan membaca riwayat hidup itu, kita dapat mempunyai gambaran mengenai sejarah masuknya agama Katolik di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Riwayat hidup itu juga melukiskan bagaimana seseorang menyikapi panggilan yang ia terima, dan menggunakan karunia yang ia peroleh untuk membantu melaksanakan panggilan tersebut. Mgr. Demarteau MSF gembira jika riwayat hidup ini dapat dibaca oleh lebih banyak umat. Selamat membaca !

Extractta dari “Istoria Delle Misioni” De Chierici Regolari TEATINI Tomo Secundo Dell Indie Orientali E. Borneo & s.

Pengantar

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1312 datanglah di pulau Kalimantan seorang Pater Fransiskan yakni P. Olderico de Pordenone. Tidak ada berita yang pasti mengenai tempat di mana beliau berkarya. Tiga ratus tahun kemudian, tepatnya tanggal 2 Pebruari 1688, Pater Antonio Ventimiglia menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Pater Antonio adalah imam pertama dari ordo “Rohaniwan Regulir Penyelenggaraan Ilahi” yang merintis “Misi Borneo”.

Perintis Misi Borneo ini kemudian diangkat oleh Paus Innocentius XII sebagai Vikaris Apostolik pertama untuk seluruh pulau Kalimantan. Sayang sekali bahwa jabatan Vikaris ini tidak dijalani karena beliau sudah meninggal dunia pada tahun 1692.

Untuk memperingati perintis Misi Borneo ini, kami persembahkan tulisan mengenai hidup dan karyanya.

+Mgr. Wilhelmus Johanes Demarteau MSF

Uskup Emeritus Banjarmasin

RIWAYAT HIDUP P. ANTONIO VENTIMIGLIA

1.Putra Bangsawan dari Palermo

Antonino Ventimiglia lahir tahun 1642 sebagai seorang bangsawan di kota Palermo, pulau Sisilia, sebelah selatan semenanjung Italia. Beliau masuk biara St. Yosef milik pater-pater ordo “Rohaniwan regulir Penyelenggaraan Ilahi” yang berpusat di kota Theate, Italia. Oleh karena itu para pater dari ordo ini lebih dikenal dengan nama : “Pater-pater Theatin”.

Antonino kemudian mengikrarkan kaul kekal pada usianya yang masih sangat muda remaja, membulatkan tekad untuk menjadi biarawan. Biarawan yang masih muda ini sangat rindu untuk menjadi misionaris di daerah Timur jauh.

Setelah ditahbiskan imam, Pater Antonino Ventimiglia diutus ke Madrid, Spanyol untuk memimpin Novisiat Biara Theatin St. Maria del Favore.

2. Dari Madrid ke Goa

Tahun 1680, pater Jendral Theatin mengeluarkan edaran berisi tawaran bagi anggota ordo untuk menjadi misionaris di Timur Jauh. Dengan senang hati P. Ventimiglia menerima tawaran ini. Banyak orang termasuk sanak keluarga melarang P. Ventimiglia, akan tetapi beliau tetap pada pendiriannya.

Secara diam-diam P. Ventimiglia menulis surat kepada Paus Innocentius XI memohon restu.

Setelah mendapat restu dari Bapa Suci, beliau berangkat dari Madrid menuju Goa (India) pada tanggal 13 Januari 1683. Kapal yang ditumpangi P. Ventiglia berlabuh di Goa pada tanggal 19 September 1683. Beliau berkarya selama kurang lebih empat tahun di Goa.

3.Dari Goa ke Macao

Setelah empat tahun berkarya di Goa, India, P. Ventimiglia ditunjuk untuk menjadi missionaris di Borneo (Kalimantan). P. Antonino berangkat dari Goa tanggal 5 Mei 1687, dan tiba di Malaka, pelabuhan milik Belanda pada tanggal 12 Juni 1687. Kemudian beliau berangkat lagi ke Macao tanggal 12 Juni, dan tiba di Macao tanggal 13 Juli 1687.

Perjalanan menuju Macao mau tidak mau harus melewati teluk Aynan yang terkenal ganas. Banyak kapal yang tenggelam di teluk ini. Setelah melewati tempat berbahaya ini, P. Antonino boleh bergembira, karena dapat melihat pulau “Santo Yohannes” atau Pulau Sancian. Dipulau inilah Santo Fransiskus Xaverius menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanannya menuju Cina. Pater Vintimiglia ingin sekali singgah di pulau ini namun tidak diperbolehkan.

Tanggal 13 Juli 1687 P. Antonino tiba di Macao bersama dengan teman seperjalannya, Bapak Luigi Francesco Cottigno yang banyak membantu beliau. Untuk sementara beliau menginap di rumah Bapak Luigi.

4. Enam bulan di Macao

Enam bulan lamanya P. Antonino menunggu kapal yang berlayar menuju Borneo. Selama waktu ini P. Antonino mengisinya dengan retret Agung, matiraga dan berpuasa di sebuah tempat yang sepi. Karena kesalehannya, banyak orang Macao datang meminta bantuan, berkat dan bimbingan dari beliau. Dalam kesempatan seperti ini P. Antonino selalu berdoa kepada Santo Kayetanus, pendiri ordo Theatin.

Dalam masa penantian ini, P. Antonino mendengar kabar tentang tanah misi yang akan dikunjungi yakni Borneo. Orang-orang menceritakan bahwa orang-orang di Borneo masih sangat primitif dan masih sangat ganas. Sementara itu seorang uskup dari Perancis yang kebetulan singgah di Macao mengajak P. Ventimiglia untuk berkarya didaerahnya tetapi dengan syarat setiap tahun Pater Ventimiglia harus mencari uang sebesar seratus patache (mata uang Spanyol yang nilainya cukup mahal), sebagai jaminan hidup.

Mendengar kata-kata uskup itu, Pater Ventimiglia terkejut dan menjawab : “Orang yang menjalani tugas perutusan didaerah misi bersandar pada Tuhan demi keselamatan jiwa dan bukan pada hal-hal duniawi”. Kemudian beliau menceritakan semangat ordo Theatin yang hanya mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi kepada Bapak Uskup.

Pater Ventimiglia teringat akan kata-kata St. Agustinus :

“Perfectus servus Christi nihil praetur Christum habet” (= seorang pelayan Kristus yang tulen tidak memiliki apa-apa selain Kristus).

Orang-orang Portugispun melarang keras agar Pater Ventimiglia tidak usah ke Borneo. Mereka khawatir kalau P. Ventimiglia akan membuka misi sambil berdagang di sana. Pihak Portugis pasti akan mengalami kerugian. Nampak lagi motivasi manusia yang hanya mengejar kepentingan duniawi. Bagi mereka tidak ada kesempatan untuk mewartakan keselamatan dan pertobatan kepada bangsa-bangsa.

Selain berita tentang penduduk di Borneo yang masih primitif dan ganas, datang pula berita yang mengejutkan. Semua misionaris yang tidak berasal dari Portugis dilarang untuk berkarya didaerah jajahan Portugis. P.Ventimiglia tidak takut dengan keputusan itu dan beliau bersedia untuk meninggalkan Asia. Maka sambil memegang buku Brevir dan mengenakan salib di leher, Pater Ventimiglia naik ke Kapal. Beliau mau menunjukkan bahwa beliau datang dengan kemiskinan ke Asia ini dan akan kembali dengan kemiskinan pula. Syukurlah bahwa keputusan ini akhirnya tidak terlaksana dan Pater Theatin itu tetap diizinkan untuk berkarya di daerah jajahan Portugis.

5. Undangan dari Tanah Misi (Borneo)

Ketika P. Ventimiglia masih di Macao, tersebarlah berita bahwa Kaisar Jepang yang sangat anti agama Kristen sudah meninggal dan pengganti kaisar itu cukup toleran dengan agama Kristen. Pater Ventimiglia lalu berpikir untuk minta izin pimpinan agar boleh berangkat ke Jepang.

Pada saat yang hampir bersamaan datanglah tawaran dari Banjarmasin dan Sukadana (Kalimantan Barat). Tawaran dari Sukadana ini berupa berita bahwa Raja Sukadana sangat menginginkan kehadiran seorang pastor di wilayah kerajaannya. Berita ini disampaikan oleh seorang ibu yang menerima Pater Ventimiglia sebagai Bapak Pengakuan. Menurut ibu ini, Raja Sukadana berjanji akan mengijinkan Pater itu untuk membangun Gereja dan apa saja yang dikehendakinya.

Pada waktu yang sama datang pula kapal dari Banjarmasin. Dalam kapal itu terdapat pula orang-orang Melayu. Dari merekalah Pater Ventimiglia mendapat berita bahwa Sultan Banjarmasin mau menjalin hubungan dagang dengan orang Portugis. Sultan berjanji untuk membagi tanah kepada orang Portugis guna membangun benteng. Sultan juga mengijinkan orang Portugis datang membawa seorang Pastor.

Berita ini sangat menggembirakan Pater Ventimiglia. Ia percaya bahwa banyak kerajaan akan dibuka oleh Tuhan untuk menerima sabda-Nya. Kedua tawaran itu merupakan jalan bagi penyebaran iman di Borneo (Kalimantan). Pilihan P. Ventimiglia akhirnya jatuh pada Banjarmasin. Pada saat ini agama Islam dan penyebarannya merupakan tantangan yang berat buat penyebaran agama Katholik.

Akhirnya tanggal 16 Januari 1688 Pater Ventimiglia berangkat dari Macao menuju Banjarmasin. Beliau berangkat tanpa membawa apa-apa kecuali sebuah salib yang dulu pernah dimiliki oleh St. Aloysius Beltrami. Satu keyakinannya bahwa penyelenggaraan Ilahi akan memberikan segalanya. Keyakinan ini sungguh-sungguh terwujud. Jenderal Macao : Andrea Coelo Viera, Aloysius Francesco Cttigno, maupun Kapten Kapal Emmanuelle Araugio Graces, sama-sama ingin menjadi sponsor perjalanan Pater Ventimiglia ke tanah misi. Sempat terjadi pertengkaran, siapa yang menjadi sponsornya. Akhirnya Aloysius Cottigno menjadi sponsor.

Pada saat keberangkatannya beliau berpamitan dengan Pater pimpinan biara St. Agustinus dimana beliau pernah menginap di biara ini. Seluruh umat di Macao merasa kehilangan seorang Bapak rohani yang saleh dan jujur.

Perjalanan menuju Banjarmasin tidaklah mulus. Ada banyak tantangan, antara lain dari Kapten Emmanuele Araugio sendiri yang memaksa Pater Ventimiglia untuk kembali saja ke Macao. Namun rupanya kehendak Tuhan lain. Pater Ventimiglia akhirnya tiba dengan selamat di Banjarmasin pada tanggal 2 Pebruari 1688.

6. Merintis “Misi Borneo”

Pater Ventimiglia segera merasakan tantangan-tantangan penyebaran iman ditanah misi yang belum pernah disentuh oleh pewartaan iman Katolik.

Karena keadaan politik di Kesultanan Banjarmasin tidak aman, maka kapal Portugis yang ditumpangi Pater Ventimiglia tidak diperkenankan berlabuh. Pater Ventimiglia dan seluruh awak kapal tetap tinggal di atas kapal. Dan ketika memasuki pekan suci, Pater Ventimiglia memimpin Ekaristi diatas kapal. Paskah dirayakan dengan meriah. Pada tiang kapal yang paling tinggi dipasang salib besar diapit dengan lilin-lilin.

Pater Ventimiglia berdoa memohon bantuan dari Tuhan agar boleh bertemu langsung dengan penduduk asli. Tidak lama kemudian datanglah beberapa perahu orang Daya Ngaju memasuki pelabuhan untuk berdagang dengan orang-orang Malaka. Keinginan untuk kontak langsung dengan penduduk asli ini akhirnya terkabul, ketika dua orang diantara mereka mendekati kapal Portugis itu. Atas permintaan Pater Ventimiglia, kedua orang ini bisa bertemu dengannya di kapal itu.

Dua orang dari penduduk asli itu akhirnya mendekati kapal, tempat tinggal Pater Ventimiglia. Mereka diperbolehkan naik ke kapal. Setelah pertemuan singkat dengan Pater Ventimiglia, kedua orang Daya Ngaju ini berpamitan dan berjanji akan kembali ke kapal.

Tanggal 3 Mei 1688, pada pesta salib suci kedua orang yang pernah bertemu dengan Pater Ventimiglia datang bersama dua orang teman dari Daya Ngaju dan juga seorang Malaka. Pater Ventimiglia menjelaskan keinginannya untuk tinggal bersama mereka. Sebagai kenang- kenangan, mereka diberi Rosario dan diajari menghormati salib. Orang-orang Ngaju itupun berjanji mau meneladani Pater Ventimiglia. Mereka kemudian kembali ke pedalaman, sedang Pater Ventimiglia masih tetap di kapal.

Setelah pedagang Portugis menyelesaikan urusan dagangnya, kapal Portugis itu kembali ke Macao. Pater Ventimiglia terpaksa kembali ke Macao. Beliau sangat sedih karena tidak diijinkan tinggal bersama orang-orang Daya di daerah itu.

Pater Ventimiglia tiba kembali di Macao pada tanggal 23 Juni 1688, sehari sebelum pesta Yohanes Pembaptis. Di Macao, beliau lebih senang menyepi di tempat sunyi sambil menunggu kembalinya kapal ke Borneo. Banyak orang datang bertemu dengan beliau untuk bimbingan rohani dan mengaku dosa.

7. Kembali lagi ke Borneo

Setelah enam bulan tinggal di Macao, Pater Ventimiglia bersiap untuk kembali lagi ke Banjarmasin. Pada perjalanan yang kedua ini beliau ditemani dua pemuda : Felix seorang Tionghoa dan Lorenzo, pemuda daya Ngaju yang sebelumnya dijual oleh orang Malaka kepada orang Portugis yang bernama Turtuose. Ketika mendengar bahwa Pater Ventimiglia akan ke Borneo, Bapak Turtuose membebaskan budak ini dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pater untuk membantu beliau memasuki daerah Borneo.

Perjalanan kali ini cukup lancar. Tanggal 30 Januari 1689 mereka tiba di Banjarmasin. Pada saat itu suku Ngaju sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin. Sekali lagi Pater Ventimiglia menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Akan tetapi beliau tidak putus asa. Beliau tetap berharap pada Tuhan. Pater Ventimiglia menyewa sebuah perahu kecil dan membuat ruang untuk berdoa diatas perahu itu. Kemudian pada tanggal 23 Pebruari 1689 Pater Ventimiglia pindah dan tinggal lebih dekat dengan sebuah kota ditepi pantai. Kota tersebut tidak jauh dari kota Banjarmasin.

Pada hari-hari pertama di kota itu, Pater Ventimiglia merasa sedih karena Lorenzo ternyata sudah berangkat mengunjungi sanak keluarganya didaerah Ngaju. Beberapa orang datang mengunjungi Pater Ventimiglia namun mereka tidak berani berbicara.

Nahkoda kapal Bapak Emmanuel Araugio Graces kemudian membangun sebuah altar di atas kapalnya. Pada tanggal 10 Mei 1689 mulai diadakan novena khusus kepada santo Yosef, suami Maria. Pada hari kedua Novena, datanglah seorang Bapak, seorang perempuan, keponakan dan seorang ibu muda untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Dalam pertemuan itu, Pater Ventimiglia menyampaikan maksud kedatangannya yakni untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan kekal.

Bapak dan para pengikutnya menyatakan harapannya agar Pater sudi tinggal bersama mereka. Kemudian mereka memberi gelar Tatu yang artinya nenek kepada Pater Ventimiglia, gelar kehormatan bagi suku Ngaju.

8. Masuk ke daerah suku Ngaju

Setelah peristiwa perjumpaan di atas, datang pula Bapak Angha, walikota yang tinggal dekat dengan kapal Pater Ventimiglia. Walikota ini datang bersama anak-anaknya mengunjungi pater diatas kapal. Pater Ventimiglia sangat senang atas kunjungan ini.

Atas usul nahkoda, P. Ventimiglia mengadakan kunjungan balasan. Untuk pertama kalinya Pater Ventimiglia menginjakkan kaki di bumi Borneo. Beliau datang ke kota bersama tiga belas orang dari kapal. Walikota, Bapak Angha dan seluruh penduduk kota sangat bahagia atas kunjungan ini. Bapak Angha menyatakan keinginannya untuk menjadi Katolik, dan ia berjanji untuk menghubungi pangeran-pangeran lain di pedalaman yang bergelar Tomugon dan Daman, keduanya merupakan kepala suku Ngaju di pedalaman.

Untuk kedua kalinya Bapak Angha mengunjungi pater Vantimiglia di kapal. Pada pertemuan kedua ini, pater Ventimiglia berjanji untuk memberikan hadiah kepada kedua pangeran di pedalaman Kalimantan itu melalui Bapak Angha. Hadiah yang diberikan itu berupa cincin, gelang kaca dan bunga-bungaan dari Cina, dua buah gambar yaitu gambar St. Perawan Maria tak ternoda dan St. Kayetanus.

Kedua kepala suku Ngaju itu sangat gembira atas hadiah itu dan mereka sepakat untuk segera mempersiapkan kapal dan 100 buah perahu kecil untuk menjemput Pater Ventimiglia. Akan tetapi situasi politik waktu itu tidak menguntungkan karena sedang terjadi perang antara Sultan Banjarmasin dan suku Ngaju. Orang-orang dari suku Ngaju yang mau menjemput Pater Ventimiglia yang masih berada di perairan Kesultanan Banjarmasin pasti mendapat perlawanan di perbatasan. Maka kedua pangeran itu berniat mengirim utusan secara diam-diam menjemput Pater Ventimiglia. Niat ini akhirnya tidak terlaksana karena tidak diterima oleh Pater Ventimiglia, ketika utusan rahasia itu datang ke kapal.

Beberapa waktu kemudian datang lagi bapak Angha membawa hadiah dari Pangeran Daman, berupa akar wangi yang masih ada tanahnya untuk P. Ventimiglia. Tanah itu mengandung makna bahwa Pater Ventimiglia datang ke suku Ngaju tidak untuk mencari emas dan perak melainkan untuk hidup miskin diantara mereka. Akhirnya merekapun siap menerima kedatangan Pater Ventimiglia sebagai hamba Tuhan.

Pada tanggal 4 Juni 1689 datanglah putra pangeran Tomugon dan Daman bersama paman dan sepuluh orang lain ke kapal Pater Ventimiglia. Mereka bertemu dengan Nahkoda yang menolak permintaan ini karena keadaan masih dalam perang. Namun karena mereka terus mendesak, kapten akhirnya mengijinkan Pater Ventimiglia untuk pergi ke daerah suku Ngaju.

Tibalah hari yang sangat membahagiakan pater Ventimiglia. Pada tanggal 25 Juni 1689 setelah mempersembahkan misa di kapal, Pater bersiap-siap untuk berangkat ke pedalaman, dengan kapal yang telah disiapkan oleh Nahkoda. Ikut pula dalam rombongan ini Lorenzo, dua orang putra Tomugon serta empat pelaut yang siap membantu Nahkoda. Diatas kapal terpancang salib besar dengan tulisan : Lusitanorum Virtus et Gloria yang artinya (salib adalah Kekuatan dan Kemuliaan bangsa Portugis).

Tanggal 26 Juni 1689, rombongan Pater Ventimiglia tiba di muara sungai suku Ngaju. Kapal yang ditumpangi Pater Ventimiglia segera mendekati kapal pangeran Tomugon dan Daman. Rombongan suku Ngaju kemudian memasuki kapal Portugal menemui Nahkoda kapal serta Pater Ventimiglia.

Nahkoda kapal Araugio kemudian menjelaskan bahwa kedatangan Pater ketengahtengah mereka tak lain kecuali mau mengajarkan jalan keselamatan. Kedua kepala suku akhirnya dengan tulus hati mau menerima kedatangan Pater Ventimiglia di tengah-tengah mereka. Merekapun berjanji untuk segera membangun Gereja dan memasang salib pada Gereja itu nanti.

Pater Ventimiglia kemudian pindah ke kapal Daman dimana pada bagian tengah sudah disiapkan tempat secara khusus untuk Tatu (gelar khusus untuk Pater Ventimiglia). Pada buritan kapal itu berkibarlah bendera Portugis dan bendera suku Ngaju. Nahkoda kapal Araugio berpamitan dengan Pater Ventimiglia beserta orang-orang dari suku Ngaju. Sementara Pater Ventimiglia meneruskan perjalanan ke pedalaman.

Hari-hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Pater Ventimiglia. Sedangkan bagi Nahkoda kapal Portugal saat-saat setelah perpisahan dengan Pater Ventimiglia merupakan hari-hari yang penuh dengan kecemasan. Sebab Pater Ventimiglia sebenarnya telah menandatangani sendiri surat hukuman mati bagi dirinya dengan memasuki pedalaman Kalimantan, apalagi tanpa sepengetahuan Sultan Banjarmasin, Said Illah.

Ketika mendengar berita tentang masuknya Nahkoda dan Pater Ventimiglia ke pedalaman, Sultan sangat marah karena merasa ditipu. Secara politis ekonomis, masuknya kapal Portugis ke pedalaman Borneo akan mengurangi pengaruh Sultan Banjarmasin di suku-suku pedalaman tersebut. Banjarmasin akan kehilangan hubungan dagang dengan suku Ngaju. Hal ini merugikan perekonomian Banjarmasin. Sultan Said Illah tidak mau membiarkan hal ini berlarut-larut dan ia berniat untuk membunuh Pater Ventimiglia.

Sesudah tahun 1690 tersiar kabar di Macao bahwa Pater Ventimiglia di bunuh. Berita ini dibawa oleh orang-orang Belanda yang waktu itu menjadi musuh Portugis dan Gereja Katolik. Kapten Luigi Cottigno sebagai seorang sahabat dekat Pater Ventimiglia datang ke Banjarmasin untuk mencari kebenaran berita ini.

Kapal Kapten Luigi berlabuh di muara sungai suku Ngaju dan mengirim surat kepada Pater Ventimiglia agar segera datang ke kapal Portugis. Pater datang dengan 60 orang Ngaju. Menurut pengakuan kapten Luigi, iman orang Daya di pedalaman ini cukup menggembirakan. Pada malam hari mereka bersama-sama berdoa rosario diatas kapal.

9. Surat dari Sungai Banjarmasin

Tiga bulan lamanya, kapten kapal Portugis itu tinggal bersama Pater Ventimiglia. Sesudah pertemuan itu, kapten kembali lagi ke Macao, sementara Pater Ventimiglia kembali lagi kepada orang Daya Ngaju di pedalaman.

Melalui kapten Luigi, Pater Ventimiglia mengirim sepucuk surat untuk Superior di Goa:

Bapak yang sangat saya hormati dalam Kristus.

Pada kakimu aku berlutut. Aku anakmu menulis dari ujung dunia. Anakmu mohon berkat dari Bapak karena sudah memasuki tanah yang belum pernah dikunjungi. Bapak tentu sudah mendengar dari Bapak Perfektus, bahwa semuanya itu berkat penyelenggaraan Ilahi.

Pada bulan Pebruari 1688 saya tiba di Banjarmasin dengan maksud membuka misi baru yang dilakukan pater-pater kita. Namun banyak tantangan menghadang karena di Banjarmasin sudah memeluk agama Islam. Selain orang-orang Banjarmasin, masih ada suku lain yaitu suku Daya Ngaju yang tinggal di pedalaman. Saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka menyembah berhala, karena tak ada yang berani masuk di daerah suku Daya Ngaju karena takut dipenggal kepala.

Saya tertarik untuk masuk ke daerah mereka. Setelah dua tiga kali bertemu dengan beberapa orang dari suku Ngaju di kapal, saya merasa bahwa pada masa yang akan datang akan terjadi sesuatu yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Berhubung tidak diijinkan, saya kembali ke Macao.

Dan pada tahun berikutnya, Januari 1689 saya berlayar kembali ke Banjarmasin dan tiba di Banjarmasin pada bulan Pebruari. Saya mendengar bahwa pangeran Tomugon dan Daman bersedia menerima kedatanganku.

Akhirnya kedua pangeran itu dengan 100 kapal besar dan kecil bersama tokoh masyarakat datang menjemputku. Karena mereka sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin maka rombongan seratus kapal itu tidak melewati batas kedua daerah ini. Mereka menunggu didaerah muara sungai suku Ngaju. Dua bulan lamanya mereka menunggu kedatangan saya dengan kapal Portugis. Saya diberi gelar Tatu yang berarti :Nenek suatu gelar kehormatan.

Demi kemuliaan Tuhan saya menulis ini semua kepada Bapak yang mulia dan kepada Pater Perfektus Misi. Saya melaporkan, Tuhan yang akan dipermuliakan dan agama Katholik akan mendapat peluang besar untuk berkembang di tanah Borneo ini. Ladang ini daerah pedalaman Daya Ngaju, Islam tidak berpengaruh. Sejauh penglihatan saya, Injil belum pernah diwartakan disini. Maka dengan rendah hati saya mohon agar Bapak mengirim bantuan sebelum terlambat. Ladang telah terbuka. Semoga parjurit-prajurit Theatin siap datang. Semoga mereka yang mau datang sungguh-sungguh memiliki kehendak untuk melayani Tuhan dan percaya pada penyelenggaraan Ilahi.

Saya juga tidak dapat melupakan jasa baik Bapak Luigi Franscesco Cottigno yang menjadi alat penyelenggara Ilahi hingga misi baru ini akhirnya terbuka. Ia seorang Portugis yang belum banyak mengenal saya tetapi mau mengantar saya ke Goa dan segala biaya ditanggungnya. Saya mihon Bapak memberikan penghargaan kepadanya sebagai sukarelawan sejati.

Bapak yang mulia, pada kakimu anakmu berlutut. Anakmu siap memasuki kerajaan dimana iman belum pernah diwartakan. Aku pergi sendiri. Tak seorang pater pun menemani. Aku mempunyai hati yang keras. Ya, aku sadari tidak mengerti dari mana datangnya kekuatan itu. Kekuatan itu yang membuat saya tidak takut dengan bahaya yang sangat banyak dan selalu mengancam saya.

Saya tidak mempunyai orang yang menasehati aku dalam kebingungan, seorang yang akan menolong dalam bahaya, seorang yang membantu dalam kesulitan. Saya sangat mengharapkan bantuan dari Goa kendati saya tahu bantuan itu tidak akan datang secepatnya.

Ketaatanlah yang membawa saya dalam pekerjaan yang sangat berat ini. Dan saya percaya, Peneyelenggaraan Ilahi masih melindungi saya dalam kesendirian ini. Saya yakin, yang suci dan kudus akan menopang aku dalam doa. Tetapi hari ini secara khusus saya mohon Bapak membawa aku dalam doa, juga pater-pater lain ikut mendoakan saya.

Akhirnya saya menyampaikan kepada Bapak, aku anakmu yang hina dan berdosa, mempersembahkan karya misi ini dengan perantaraan Bapak kita Kayetanus kepada Kemurnian Santa Perawan Maria. Maka saya mohon agar Bapak meresmikan misi ini dipersembahkan dibawah perlindungan Santa Perawan Maria dan Santo Kayetanus.

Pada kaki Bapak, saya menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku. Sudilah Bapak memberkati, memberi petunjuk dan perintah, apa yang harus saya pikirkan, ucapkan dan lakukan dengan ketaatan yang suci.

Berkatilah saya, Amin.

Dari Sungai Banjarmasin, di Pulau Borneo

13 Juni 1689

Anakmu yang paling hina

Antonio Ventimiglia Ch. Reg

10. Mencari jejak Pater Ventimiglia

Tersebarnya berita tentang kematian Pater Ventimiglia, sesudah tahun 1690, mendorong para pater dari ordo Theatin untuk mencari kebenaran berita itu dan mendapat kepastian. Pada akhir tahun 1690 Pater Gregoria Rauco berangkat dari Macao menuju Borneo. Pada mulanya keberangkatan Pater Rauco ini dipersulit oleh penguasa di Macao. Penguasa dan warga Macao tidak senang dengan perdagangan di pelabuhan Banjarmasin serta kegiatan misi di Borneo. Maka para penguasa di negara Macao memerintahkan semua nahkoda kapal agar tidak membawa seorang pater pun ke Banjarmasin.

Akan tetapi setelah wakil raja di Goa memberi peringatan keras kepada Macao, Pater Rauco diijinkan berangkat ke Banjarmasin. Beliau berangkat bersama nahkoda kapal Kapten Araugio. Rupanya Kapten Araugio takut pada Sultan Banjarmasin. Maka ketika sampai di pelabuhan Banjarmasin, Pater Rauco tidak diijinkan turun dari kapal. Kapten tidak mau mengulangi hal yang sama seperti dilakukan dahulu terhadap Pater Ventimiglia yakni membiarkan Pater masuk ke pedalaman tanpa ijin Sultan.

Pater Rauco terpaksa hanya menulis surat untuk Pater Ventimiglia dan mengirimnya melalui orang Ngaju. Ia kemudian mendapat balasan dari Pater Ventimiglia. Antar lain Pater Ventimiglia meminta agar Pater Rauco datang menemuinya bersama dengan rombongan pengantar surat ini. Pater Ventimiglia juga menceritakan keadaan di pedalaman yang sangat memprihatinkan. Banyak orang Daya yang dulu di baptis kini kembali ke lagi ke agama asli, termasuk Pangeran Daman, kepala suku Daya Ngaju. Dalam bagian surat selanjutnya, Pater Ventimiglia meminta beberapa potong pakaian karena sudah 11 bulan lamanya beliau tidak mengganti pakaian di badan.

Cerita di pedalaman dalam surat Pater Ventimiglia ini sangat mendorong hati Rauco untuk ke pedalaman. Apa boleh buat. Kapten kapal tidak mengijinkan. Maka Pater Rauco terpaksa kembali lagi ke Macao. Pada tahun 1693 ia kembali ke Madras karena sakit. Akhirnya tahun 1695 Pater Rauco kembali ke Eropa dan tak pernah kembali lagi.

Orang kedua yang berusaha menemui Pater Ventimiglia adalah Pater Della Valle. Pater Della Valle berangkat dari Goa atas permintaan Pater Gallo di Goa. Pada bulan Mei 1691 ada kapal yang berlabuh di Goa dan akan meneruskan perjalanan ke Macao. Maka Pater Della Valle ikut dalam pelayaran ini.

Pada awal tahun 1692 Pater Della Valle tiba di Banjarmasin. Beliau berjuang keras untuk mendapat ijin turun dari kapal dan pergi ke pedalaman untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Akan tetapi perjuangan Pater Della Valle sia-sia. Beliau tidak diijinkan turun dari kapal. Nasibnya sama dengan pendahulunya Pater Rauco.

Pater Della Valle kemudian mendengar berita dari orang-orang Melayu bahwa Pater Ventimiglia telah meninggal karena dibunuh oleh orang Daya Ngaju. Akan tetapi orang Daya Ngaju sendiri mengatakan Pater Ventimiglia masih hidup dan tinggal di pedalaman yang tidak jauh dari Banjarmasin. Rupanya Pater Della Valle lebih percaya pada berita dari orang Daya Ngaju sendiri. Beliau yakin Pater Ventimiglia masih hidup. Maka Pater Della Valle mengirim surat dan barang-barang penting untuk Pater Ventimiglia di pedalaman.Setelah tiga bulan menunggu, tidak ada kabar balasan dari Pater Ventimiglia. Akhirnya Pater Della Valle pergi ke Pulau Jawa.

Di Jawa Pater Della Valle berusaha untuk masuk kembali ke Borneo dengan bantuan orang Belanda. Sekali lagi beliau menemui kegagalan. Beliau tetap mendapat kabar yang tidak pasti tentang Pater Ventimiglia.

11. Akhir Hidup yang Penuh Misteri

Usaha mencari jejak Pater Ventimiglia di pedalaman Kalimantan belum menemui hasil yang pasti. Juga mengenai akhir hidupnya, ada banyak pendapat mengenai hal ini.

Versi pertama : Pater Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh Sultan Banjarmasin. Ada dua alasan yang di kemukakan : pertama berkembangnya iman Katholik secara pesat di pedalaman suku Ngaju ; kedua adanya perdagangan langsung antara orang Portugis dengan suku Daya Ngaju di pedalaman, hal mana membahayakan kedudukan dan pengaruh Sultan Banjarmasin. Atas pertimbangan atau alasan ini, maka Sultan memerintahkan agar Pater Ventimiglia ditangkap hidup atau mati.

Seorang Kapten Inggris, Daniel Beckmann, juga mengatakan hal yang sama bahwa Pater Ventimiglia mati terbunuh oleh Sultan Banjarmasin. Dari Batavia juga ada berita yang sama. Orang-orang Belanda mengatakan, Pater Ventimiglia dibunuh Sultan. Dan Dr. M.P.M. Muskens yang menulis sejarah Gereja Katholik, juga berpendapat bahwa Pater Ventimiglia dibunuh Sultan Banjarmasin.

Versi kedua : Pater Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh orang Daya Ngaju sendiri dengan panah beracun. Pendapat ini sulit diterima kebenarannya. Alasan yang dikemukakan anatar lain : Dua Pangeran terkemuka suku Daya Ngaju sudah di baptis dan lima belas suku sudah bertobat dan menjadi Katholik. Suatu hal yang sulit dilakukan apabila mereka membunuh Pater Ventimiglia setelah di baptis menjadi Katholik.

Versi ketiga : Pater Ventimiglia meninggal karena terserang disentri. Berita ini datang dari seorang Cina yang mendengar langsung dari orang Daya Ngaju yang dekat Pater Ventimiglia.

Versi keempat : Pater Ventimiglia meninggal secara wajar. Hal ini dikatakan oleh seorang tahanan yang dibawa ke Macao pada tahun 1693. Menurut pengakuannya, Pater Ventimiglia meninggal secara wajar dan dikuburkan didalam sebuah Gereja yang dibangun atas perintah Kapten Araugio ketika Pater Ventimiglia ke pedalaman.

Sementara itu beberapa orang telah berusaha keras meneliti hidup dan karya Pater Ventimiglia tidak memberikan suatu jawaban yang pasti mengenai akhir hidup perintis misi Borneo ini. Misalnya P. Bart Ferro dalam bukunya “Historis Della Missione De Chierici Regolari Theatin” jilid II tidak berani mengatakan bahwa Pater Ventimiglia mati terbunuh. Pendeta J.W. Gottin juga tidak berani menganggap Pater Ventimiglia sebagai Martir.

Pater Gallo di Goa menentukan tahun 1693 sebagai tahun kematian Pater Ventimiglia dalam usia 51 tahun.

Dan dalam arsip Keuskupan Banjarmasin yang dibuat di Roma tahun 1693, terdapat salinan gambar Pater Ventimiglia. Namun tidak ada satu katapun yang menjelaskan tentang bagaimana akhir hidup Pater Ventimiglia.

12. Beberapa hal yang masih dipertanyakan tentang Karya Pater Ventimiglia di Borneo

a. Dimana Pater Ventimiglia berkarya ?

Sungai “Rio Ngaju” yang disebut-sebut Pater Ventimiglia dalam suratnya, menurut Pater Bart Ferro, adalah Sungai Ngaju. Sedangkan menurut Robert Nicholl, sungai yang dimaksud adalah Sungai Barito. Pelabuhan yang disebut dalam tulisan terletak dekat Banjarmasin di tepi sungai Barito. Pendeta Gottin yang dengan sungguh sungguh meneliti karya Pater Ventimiglia juga yakin bahwa tempat karya Pater Ventimiglia di daerah Barito, bahkan mungkin sampai di Buntok.

Menurut Gottin, tidak mustahil Pater Ventimiglia pergi ke Kuala Kapuas melalui sungai Murung. Akan tetapi Pater Ventimiglia tidak berkarya di sungai Kahayan. Demikian pendapat Gottin, karena waktu itu belum ada terusan dari Kapuas ke Kahayan. Apakah mungkin Pater Ventimiglia ke Sungai Kahayan melalui laut? Dugaan ini sulit diterima karena Pater Ventimiglia sendiri tidak menyinggung hal ini dalam suratnya. Tambahan pula, mengapa Pater Ventimiglia pergi begitu jauh, sementara banyak orang Daya ada didekatnya?

Pada tahun 1981 Pendeta Baier menerima surat dari seorang guru GKE di Kapuas. Guru itu mengungkapkan bahwa didekat kampung Mantangai terdapat kuburan Portugis. Sebagai konfirmasi atas pernyataan ini, Pendeta mengirim surat kepada Mgr. W. Demarteau, MSF. Isi surat itu antara lain mengatakan bahwa ayah Pendeta Baier yang sudah bekerja sebagai Pendeta di Kalimantan Tengah sejak 1924, tahun 1941 mendengar dari pendeta pendahulunya, bahwa di sungai Kapuas di hilir Mantangai, misi Katholik sudah aktif sejak dua ratus tahun yang lalu.

Lain lagi pendapat Pater M. Gloudemans M.S.F. Menurut beliau, tempat karya Pater Ventimiglia dekat Pelaihari, dekat desa Gunung Raya. Ditempat itu pasti terdapat benteng Portugis. Pendeta Gottin yang lebih cenderung memilih daerah tepi sungai Barito mengatakan bahwa kalau tempat di dekat Pelaihari itu digali pasti ditemukan kuburan Portugis dan pondasi Gereja Katholik. Namun daerah tersebut jangan dianggap sebagai tempat karya Pater Ventimiglia.

b. Berapa orang yang dibaptis Pater Ventimiglia ?

Dalam suratnya kepada Pater Gallo di Goa tahun 1690, Pater Ventimiglia menulis telah membaptis 1.800 orang Ngaju, setelah bekerja selama enam bulan ditengah mereka. Kemudian pada tahun 1694, Jacob Janszen de Roy yang saat itu berada di Banjarmasin, mengatakan, sekitar 3.000 orang telah dipermandikan. Mereka memakai salib, tetapi penghayatan imannya belum mandalam.

13. Karya Pater-Pater Theatin di Borneo sesudah Pater Ventimiglia

Dalam uraian diatas (lihat No. 10) sudah dikisahkan nasib beberapa Pater Theatin yang mencoba mencari jejak Pater Ventimiglia mengalami nasib sial. Mereka kembali membawa berita yang tidak pasti.

Namun demikian Kongregasi de Propaganda Fide terus mendukung misi Pater-Pater Theatin di Borneo. Maka pada tanggal 14 Januari 1692, pihak Propaganda de Fide secara resmi menyerahkan seluruh pulau Kalimantan kepada Pater-Pater Theatin dan tertutup bagi ordo lainnya. Pada tanggal yang sama juga diperintahkan pembukaan seminari dan selama tiga tahun Propaganda de Fide akan memberikan dana.

Lima hari sesudah peristiwa ini, tepatnya tanggal 19 Januari 1692, Paus Innocentius XII menetapkan Borneo sebagai Vikariat Apostolik. Pater Antonino Ventimiglia diangkat sebagai Vikaris pertama untuk “The Kingdom of Borneo”.

Berita pengangkatan ini tentu saja tidak sempat diterima Pater Antonino Ventimiglia. Alasan pertama, Surat pengangkatan itu datang terlambat karena beliau sudah meninggal dunia. Alasan kedua, pihak pemerintah Portugis marah dengan keputusan Roma yang dianggap melanggar perjanjian. Barangkali pihak Portugis tidak mau memberikan surat pengangkatan itu (apabila saat itu Pater Ventimiglia masih hiduped).

Sesudah Pater Ventimiglia meninggal Pater-Pater Theatin lain mencoba meneruskan karya pendahulunya di Borneo hingga tahun 1761. Dalam tahun 1706, datanglah Pater Giusseppe Maria Martelli. Beliau datang dari Bengkulu tempat ordo ini berkarya. Pater Martelli tiba di Banjarmasin pada tanggal 5 Desember 1706, dan mencoba menghubungi suku Ngaju. Orang-orang Ngaju mengisahkan bahwa sejak kematian Pater Ventimiglia, tak seorang imam Katolik pun tinggal bersama mereka. Mereka ingin agar Pater Martelli tinggal bersama mereka. Orang Ngaju berjanji untuk datang menjemput. Namun setelah satu bulan menunggu dan tidak ada orang Ngaju yang menjemput, beliau berangkat sendiri ke hulu menurut petunjuk orang Ngaju sebelumnya. Pater Giusseppe Maria Martelli berangkat pada tanggal 3 April 1707 ditemani beberapa orang Ngaju. Menurut cerita, setelah tiga hari perjalanan, Pater ini dibunuh orang Melayu.

Cerita lain mengatakan Pater Martelli dibunuh orang Ngaju karena beliau konflik dengan mereka perihal sumbangan untuk perbaikan Gereja. Pada tahun 1723, Pater Yohanes Rescala, Pater Abert Sadagna dan Pater Wenceslaus Lozek tiba di Banjarmasin. Mereka mengirim berita kepada orang Ngaju untuk membawa Brevir, Salib dan topi milik Pater Ventimiglia. Mereka terpaksa meminta bantuan orang Daya Ngaju untuk mengantar barang milik Pater Ventimiglia ini, karena tidak diijinkan oleh Sultan Banjarmasin untuk turun dari kapal dan masuk pedalaman. Bahkan mereka diancam untuk dibunuh kalau melanggar larangan ini. Setelah tiga bulan, mereka kembali ke Macao.

Pater Ag. Bareto mencoba lagi pergi ke Kalimantan. Namun beliau meninggal dunia dalam perjalanannya di Manila, Philippina pada tanggal 24 Juni 1761.

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN YANG DIHAYATI PATER VENTIMIGLIA

1. Sepuluh Langkah Mewujudkan Kasih

Pater Ventimiglia menghayati kasih sebagai keutamaan yang terpenting. Beliau mengikuti sepuluh langkah yang dijabarkan oleh St. Thomas Aquino untuk mewujudkan kasih itu.

Langkah Pertama: Launquete viriliter : menderita secara ksatria.

Sejak usia muda, Pater Ventimiglia telah diarahkan Tuhan menuju kesempurnaan. Dalam usia 11 tahun ia masuk Biara. Dan sesudah kaul kekal ia pergi mewartakan Injil dan mencurahkan darahnya untuk kesaksian imannya.

Langkah Kedua: Incessanter Quaerere : tiada henti mencari (kehendak Tuhan).

Sepanjang hidupnya, Pater Ventimiglia hanya mencari kehendak Allah yang membuat hatinya tenang dan terhibur.

Langkah Ketiga : Operari indesinenter et maqna propter Deum : bekerja terus-menerus demi semakin besarnya kemuliaan Allah.

Segala-galanya dilakukan Pater Ventimiglia demi kemuliaan Tuhan : membaptis 15 suku, tiap minggu berpuasa. Namun ia tetap merasa dirinya kecil dihadapan Tuhan. Ia merasa kecil agar kemuliaan Tuhan semakin besar.

Langkah Keempat : Sustinete infaticabiliter : bertahanlah tanpa mengenal lelah.

Dalam segala kesusahan, Pater Ventimiglia tetap berjuang dan bersabar demi kemuliaan Tuhan.

Langkah kelima : Appetere impatienter, sponsum permanter habere: kejarlah tanpa henti untuk mendapatkan mempelai yang tetap.

Untuk menemukan Tuhan, mempelainya, Pater Ventimiglia pergi ke tanah orang kafir. Kasih dalam hatinya terus menyala, mengatasi segala rintangan. Pater Ventimiglia pergi ke tanah kafir untuk menjadi Marta : melayani mereka dan mempelainya.

Langkah Keenam: Ad Deum velociter currere: semakin cepat berlari kepada Tuhan.

Pater Ventimiglia pergi dari Barat ke Timur untuk mewartakan Kristus. Dalam waktu singkat banyak orang Ngaju di baptis. Ia tinggal bersama mereka, namun hatinya selalu dekat dengan Kristus.

Langkah Ketujuh: Audere vehementer : dengan berani maju.

Pater Ventimiglia selalu berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa dan dengan berani mengambil resiko dalam melaksanakan tugasnya.

Langkah Kedelapan: Est uniri Deo indissolubiliter : Persatuan dengan Allah yang tak terpisahkan.

Tuhan menjadi sumber hidup Pater Ventimiglia. Ia telah menyatu dengan Tuhan. Allah menunjukkan kepada hambanya apa yang harus dilakukan dan apa yang akan terjadi.

Langkah Kesembilan: Suaviter ardede : Mencintai dengan mesra.

Jiwa Pater Ventimiglia hanya tenang dalam Tuhan yang menjadi pusat hidupnya.

Langkah Kesepuluh: Sponsam totaliter spos assimilari : menyamakan mempelai wanita dengan mempelai pria.

2. Kasih terhadap Sesama dan Perbuatan yang Terpuji

Seluruh perjalanan hidup Pater Ventimiglia ditandai oleh perbuatan kasih terhadap sesama, baik ketika di Goa, Macao maupun di Borneo. Banyak orang bertobat berkat bantuannya. Seorang heretik (= orang yang murtad dari imam Katolik) yang hampir dibakar hidup-hidup oleh pengadilan inquisitio yang dibentuk oleh Paus Paulus IV, bertobat berkat doa dan air mata Pater Ventimiglia.

Di Kalimantan, Pater Ventimiglia menjadi Bapak lima belas suku. Pada waktu itu perdagangan antar suku Melayu dan Daya Ngaju tidak beres sistemnya. Banyak orang pedalaman menderita kekurangan kebutuhan hidupnya yang pokok. Kemiskinan dan kelaparan merajalela.

Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Pater Ventimiglia berdoa di depan tabernakel, memohon petunjuk dari Tuhan : apa yang sebaiknya dilakukan. Tiba-tiba datang bantuan beras bagi umat. Seseorang lalu menyampaikan hal ini pada Pater Ventimiglia. Beliau menjawab : “Ambillah, makanlah dan simpanlah karena Tuhan telah memperhatikan nasibmu dan memberimu makan”. Inilah kesaksian Pater Ferreria dan Bapak Cottigno yang bertemu dengan beberapa orang Ngaju yang ikut makan nasi dari beras itu, ketika mereka melewati Borneo.

Ada kisah lain lagi mengenai bertobatnya seorang ibu karena anaknya yang sudah meninggal hidup kembali berkat doa Pater Ventimiglia. Paeristiwa ini disaksikan oleh Pater Ferreria. Selain Pater Ferreria, masih banyak orang menyaksikan peristiwa ini.

“Benar, benar, benar! Aku bersedia meninggalkan kemuliaan surga sekarang agar aku dapat bekerja di ladang Tuhan sampai akhir dunia, tanpa menuntut upah selain melakukan kehendak Tuhan untuk keselamatan sesamaku”. Itulah ungkapan yang merupakan motto hidupnya.

DEVOSI PATER ANTONIO VENTIMIGLIA

1. Devosi kepada Sengsara Kristus

Pater Ventimiglia sangat mengasihi Kristus terutama karena sengsara dan wafat-Nya di salib. Setiap hari ia merenungkan sengsara Kristus.

Salib merupakan hal yang sangat berharga dan dicintai Pater Ventimiglia, terutama sejak ia memakai salib yang pernah dipakai oleh Santo Aloysius Beltrando. Salib ini memberi semangat untuk berjuang sebagai saksi Kristus.

Dua peristiwa penting yang menakjubkan berhubungan dengan salib ini. Pertama, suatu ketika seorang Kapten kapal hendak menangkapnya. Kapten itu tiba-tiba terkejut dan merasa takut ketika melihat salib itu menjadi terang. Kedua, ketika seorang ibu hendak dibaptis, ia melihat salib itu berubah menjadi daging yang hidup dalam tubuh Pater Ventimiglia. Pater Ventimiglia selalu memanggil salib yang tergantung di lehernya: “O, sahabatku yang terkasih dan manis!”.

Ketika Pater Ventimiglia datang untuk kedua kalinya di Kalimantan, beliau mengadakan novena pada Santo Yoseph. Pada hari terakhir novena, beliau membuat salib besar. Salib itu dihiasi bunga, diletakkan diatas perahu dan diarak, berlayar mengelilingi sungai. Setelah peristiwa itu, datanglah bapak Angha. Dan terjadilah hal yang dinantikan Pater Ventimiglia : beliau akhirnya dapat masuk ke pedalaman. Dalam perjalanan ke pedalaman, salib besar itu didirikan di atas kapal dan di bawah salib tertera tulisan : “Lusitanorum Virtus et Gloria” yang berarti (salib) Kekuatan dan Kemuliaan bangsa Portugal.

2. Devosi kepada Sakramen Mahakudus

Devosi Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus sangat kuat. Sebelum merayakan ekaristi, beliau berdoa berjam-jam di depan Sakramen Mahakudus. Biasanya beliau menggunakan waktu doa pada malam hari agar tidak mengurangi waktu bagi umatnya. Dalam kotbah-kotbahnya, beliau selalu mengajar umat agar mereka senantiasa mencintai Tuhan.

Selama perjalanan menuju tanah misi, Pater Ventimiglia selalu merayakan Ekaristi di Kapal. Itulah semangat kebaktian Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus.

3. Devosi kepada Santa Perawan Maria

Cintanya kepada Santa Perawan Maria tak terhingga. Sebelum berangkat ke Kalimantan, beliau berlutut, berdoa memohon doa Bunda Maria serta menyerahkan misi Borneo dibawah perlindungan Santa Perawan Maria.

Ketika berkarya di Borneo, beliau mempersembahkan sebuah Gereja besar yang pertama kali dibangunnya untuk Perawan Maria. Sebelum merayakan pesta-pesta Santa Maria, beliau selalu berpuasa. Dan pada malam hari beliau sering berdoa di depan patung Bunda Maria.

4. Devosi kepada Santo Kayetanus dan Santo Andreas

Selain ketiga devosi diatas, Pater Ventimiglia juga sangat kuat berdevosi kepada St. Kayetanus, pendiri ordo Theatin dan St. Andreas Avellino.

PENGHAYATAN KETIGA KAUL

1. Kaul Kemiskinan

Pater Ventimiglia sungguh hidup dalam kemiskinan. Dikamarnya hanya terdapat sebuah meja dan sebuah kursi sederhana, tempat tidur dengan kasur yang tak pernah dipakai. Beliau tidur beralaskan tanah. Pater Ventimiglia mau meneladani Kristus yang lahir dan hidup dalam kemiskinan. Bantuan dari raja Don Rodrigo da Costa dan dari Kongregasi Suci sebelum keberangkatannya ke Macao dan Borneo ditolaknya.

Dalam perjalanan beliau hanya membawa pakaian misa, beberapa buku rohani dan beberapa alat devosi untuk diberikan kepada suku Ngaju. Ketika merayakan Kamis Putih di atas kapal di perairan dekat Banjarmasin, banyak orang Tionghoa menyumbang lilin. Juga orang Islam menyumbang lilin dan emas. Beliau menerima lilin dan menolak emas. Dan ketika hidup di tengahtengah orang Ngaju, umat kerap kali memberikan beras, ayam, kayu harum, akar-akar dan rempah. Pada mulanya beliau menolak, namun untuk menyenangkan hati umatnya, pemberian itu diterimanya.

“Aku datang ke pulau ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan diutus Tuhan untuk menunjukkan jalan menuju Surga, jalan menuju keselamatan. Biarlah aku hidup dalam kemiskinan, karena Tuhan telah memanggil aku dalam keadaan seperti ini”. Inilah ungkapan yang sering diucapkan Pater Ventimiglia semasa hidupnya.

2. Kaul Kemurnian

Santo Bernardus pernah menulis : “Vita caelebs vita caeistis, incoruptio facit proximum Deo” (hidup selibater adalah hidup surgawi ; keperawanan mendekatkan pada Tuhan). Sejak usia 11 tahun, Pater Ventimiglia telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam ordo Thetin. Hidupnya diserahkan kepada kehendak Tuhan.

Francesco Xavier de Ecens, seorang Pater Jesuit sering mengatakan Pater Ventimiglia bukan manusia melainkan Malaikat. Sementara Pater Ignatius de Zuleta merasa tidak layak kalau duduk berdampingan dengan Pater Ventimiglia. Pater D. Agustino Gallo memperhatikan kursi mana yang dipakai Pater Ventimiglia. Ia tidak berani duduk di kursi yang telah dipakai Pater Ventimiglia.

3. Kaul Ketaatan

Pater Antonino pernah berkata : “Hatiku keras, saya sendiri tidak dapat menjelaskan. Tak ada sesuatupun menakutkan. Segala penderitaan ini kunilai tak berarti dibandingkan dengan cinta kasih Tuhan terhadapku. Banyak bahaya mengancamku. Tak seorangpun yang menjadi penasihat dan penolongku di kala penderitaan dan kesulitan menimpaku. Aku mengharapkan datangnya bantuan dari Goa. Tetapi aku tetap percaya, ketaatan yang suci tak akan eninggalkan aku sendirian. Penyelenggaraan Ilahi yang hingga saat ini membantu, pasti akan terus membantu pada masa yang akan datang”.

Sebagai seorang Rohaniwan, Pater Ventimiglia sungguh menghayati kaul ketaatannya. Beliau selalu mencari kehendak Allah. “Agar kehendak Allah terjadi, aku menunggu hingga waktunya tiba memasuki Borneo. Biarlah kebaikan Tuhan yang Ilahi mengatur dan memerintah hidupku dalam segala peristiwa hidupku. Aku akan tetap gembira dan senang.” Demikian ungkapan lain Pater Ventimiglia perintis Misi Borneo ini.

KESABARAN DAN KERENDAHAN HATI

1. Kesabaran dan Penyerahan pada Kehendak Tuhan

Santo Thomas Aquino berkata : “Kesabaran merupakan sebagian dari kekuatan”. Sedangkan Santo Cyprianus berpendapat : “Kesabaran adalah ibu keutamaan-keutamaan”.

Pater Antonino Ventimiglia menghayati keduaduanya dalam hidupnya. Ketika Kota Taormina jatuh ke tangan Perancis, keluarga Pater Ventimiglia mengungsi ke Madrid. Kehadiran keluarga ini membuat ia merasa dekat kembali dengan orang-orang yang masih ada ikatan darah. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari segala ikatan, bahkan ikatan darah sekalipun. Kepada Paus Innocentius XII beliau menulis agar dibebaskan dari segala ikatan darah sehingga ia hanya mengabdi kepada Tuhan.

Ia melarikan diri dari Madrid ke Lisabon. Dua tahun lamanya ia bergumul dengan dirinya sendiri : memilih pergi ke tanah misi atau tidak. Akhirnya ia menulis surat untuk Bapa suci dan memohon agar diijinkan pergi ketanah misi.

Dalam segala penderitaan beliau pun sangat sabar. Kakinya terserang tumor hitam. Dalam perjalan dari Lisabon ke Goa yang memakan waktu delapan bulan, beliau banyak menderita. Kakinya kaku, kerap kali sudah berada dalam keadaan sakrat maut, sehingga menerima minyak suci. Di tanah Borneo Pater Ventimiglia mengalami banyak sekali kesulitan. Namun beliau tetap sabar.

Kepada seorang suster di Madrid, Pater Ventimiglia pernah menulis : “Sesuatu yang sangat menggembirakan dan sangat berharga bagiku. Air yang saya minum kotor dan bau. Apalagi makanannya, sangat aneh!”. Inilah tantangan yang dialami Pater Ventimiglia. Dan seluruh hidupnya merupakan perjuangan melawan kecenderungan kecenderungan tubuhnya.

2. Kerendahan Hati

Kerendahan hati merupakan dasar yang kuat bagi ornag-orang kudus. Diatas dasar ini kesempurnaan Kristiani terbentuk. Santo Bernardus menguraikan dua belas langkah kerendahan hati. Pater Ventimiglia sungguh menghayati kedua belas langkah ini.

Langkah-langkah kerendahan hati itu meliputi :

Langkah ke-1 : Menyadari kerendahan hati lahir batin dengan mata yang selalu tertuju ke tanah.

Langkah ke-2 : Tidak banyak bicara, kata yang diucapkan bernada bijaksana dan tidak sombong.

Langkah ke-3 : Memperhatikan kesopanan dan tidak mudah tertawa.

Langkah ke-4 : Diam, tidak bicara jika tidak ditanya.

Langkah ke-5 : Taat pada aturan Biara dan segala hal yang biasa dan sederhana.

Langkah ke-6 : Percaya dan mengakui diri sebagai pendosa.

Langkah ke-7 : Percaya bahwa diri sendiri tidak layak dan kurang berarti.

Langkah ke-8 : Mengakui kesalahan yang sudah dilakukan.

Langkah ke-9 : Selalu memilih yang sulit, dan bermatiraga.

Langkah ke-10 : Dalam semangat ketaatan, merendahkan diri dihadapan Pemimpin (pembesar).

Langkah ke-11 : Menyangkal dan tidak melakukan kehendak sendiri.

Langkah ke-12 : Takwa kepada Tuhan dan ingat akan perintah-perintah-Nya.

Beberapa ungkapan yang menunjukkan kerendahan hati Pater Ventimiglia :

  • “Celakalah aku, orang memperhatikan aku!”
  • “Celakalah aku, orang-orang mencari dan aku tidak mengetahui alasannya”.
  • “Mereka memperhatikan dan mencari aku karena mereka tidak tahu siapa aku!”.
  • “Aku seekor keledai dengan pakaian manusia”.
  • “Aku Antonino, seorang berdosa yang miskin”.
  • “Aku mencium kakimu seribu satu kali!”.
  • “Tuhan memberkati engkau yang merendahkanku!” (kepada seorang gila yang mempermainkannya).
  • “Aku seekor cacing di tanah ini!”.
  • “Tak pernah Santo Kayetanus mempunyai wajah seperti ini!” (kepada seorang pelukis yang membuat gambarnya dengan diam-diam).

KARUNIA KARUNIA KHUSUS

Pater Ventimiglia mendapat karunia istimewa dari Tuhan. Beberapa peristiwa mengungkapkan karunia-karunia istimewa ini. Di Madrid beliau dapat membaca dan membuka isi hati seorang suster. Beliau juga bernubuat tentang seorang suster yang masih akan hidup beberapa tahun lagi. Juga nubuatnya tentang kematian seorang anak dan saudaranya.

Sementara itu semua orang menganggap Pater Ventimiglia sebagai orang kudus. Para suster biara Trinitaris di Madrid menganggap Pater Ventimiglia sebagai orang kudus. Juga umat sering memberi gelar sebagai orang kudus, malaikat yang diutus Allah dan orang yang benarbenar rasul.

Para raja dan ratu berusaha menjumpainya untuk meminta nasihat dan petunjuk. Akhirnya Bapa Suci Innocentius XII mengangkat Pater Ventimiglia sebagai Vikaris Apostolik pertama untuk pulau Borneo.

Di Roma, terdapat gambarnya dan terdapat tulisan sebagai berikut :

“………………………………. , sambil berharap dalam Tuhan, jika kelak para misionaris kami dapat masuk ke Borneo untuk memlihara ladang anggur yang telah ditanamnya dengan banyak penderitaan, mereka dapat menikmati segala kuasanya dengan lebih nyata lagi”.

MUJIZAT MUJIZAT ALLAH DENGAN PERANTARAAN PATER VENTIMIGLIA

Banyak penyembuhan terjadi melalui Pater Ventimiglia. Pater Diego Spadafuor dan Pater D. Bernardus disembuhkannya dengan memeluk dan mencium mereka. Seorang suster dari Biara S. Maria del Calcelliere Palermo sembuh dari penyakit Kanker.

Surat yang ditulis Pater Ventimiglia dan dikirim ke Madrid kepada seorang suster dipergunakan untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit. Setan-setan berteriak-teriak memohon agar surat itu dibuang karena sangat mengganggu. Si iblis mengakui bahwa Pater Ventimiglia banyak melakukan mujizat di tanah misi. Surat Pater Ventimiglia yang disimpan suster itu tetap kering kendati pada suatu ketika tempat disekitar surat itu basah semua.

Berkat doa Pater Antonino Ventimiglia dan pertolongan Santo Kayetanus, seorang ibu yang sudah tiga belas kali melahirkan dan bayinya selalu meninggal, dapat dengan selamat melahirkan bayinya. Peristiwa ini terjadi di Macao.

Dalam perjalan menuju tanah misi, kapal yang membawa Pater Ventimiglia dilanda taufan. Pater Antonino berdoa dan saat itu juga badai pun reda. Di tanah misi, di Borneo, penduduk yang terancam bahaya kelaparan karena musim kering dibebaskan berkat doa Pater Ventimiglia. Tiba-tiba beras turun dari langit seperti hujan. Bila malam tiba, Pater Ventimiglia sering kali berbicara dengan Santa Perawan Maria yang selalu melindunginya dari segala bahaya. Dan salib yang dipakai Pater Antonino tiba-tiba berubah menjadi daging.

Setelah Pater Antonino Ventimiglia meninggal dunia, orang-orang Ngaju menguburkannya di Gereja yang dahulu dibangunnya. Dari berbagai penjuru datanglah orang sakit lumpuh, buta, demam, orang yang kerasukan setan. Mereka berdoa di dekat kubur Pater Antonino dan sembuh. Orang Ngaju menjaga makamnya karena takut jenazah P. Antonino dicuri orang.

Semoga Pater Antonino Ventimiglia sebagai hamba Tuhan, tetap setia pada janji yang diucapkan dalam surat-suratnya. Beliau mendoakan supaya kelak dapat bertemu di Surga

 

Sejarah dari tugu peringatan pahlawan jerman di arca domas, indonesia


Oleh: Herwig Zahorka

Cerita
Pada lereng bukit gunung api Pangrango di Jawa Barat, hampir pada ketinggian 1.000 m, terdapat sepuluh nisan seputih salju. Nisan ini berbentuk Salib Besi. Delapan nisan masih ada dikenal namanya dan sedangkan dua nisan lagi sudah tidak dikenal dan tidak ada namanya. Mereka adalah kuburan yang terakhir dari pelaut muda pada Perang Dunia ke-Dua dari kapal laut yang datang kemari, dalam bentuk petualangan perjalanan dengan menggunakan kapal selam (U-Boote). Mereka dimakamkan di tanah keramat yang bersejarah.

Disini di Jawa Barat pernah ada kerajaan-kerajaan Sunda. Dinasti kerajaan Hindu, dari Tarumanegara sampai Pajajaran, penguasa penganut Hindu pendeta tertinggi selama 1.000 tahun lamanya melalui rakyat Sunda. Selama ratusan tahun, roh dari orang orang Hindu yang sudah meninggal diangkat kepada para dewa di tanah yang disucikan pada lereng pegunungan Pangrango. Empat pohon Beringin keramat (Ficus sp.) mengelilingi tanah keramat yang bertingkat-tingkat tersebut. Batu kuburan yang berukir yang kira-kira berjumlah 800, dan tempat suci ini bernama Arca Domas yang dalam bahasa Sanskerta berarti 800 patung.

Dari tahun 1527 para pejuang Islam di bawah pimpinan Fatahillah menghancurkan Kerajaan Pakuan Pajajaran dan berakibat banyak orang Sunda yang masuk Agama Islam. Banyak Istana dan pura atau candi yang musnah. Para pendeta Hindu mungkin lari ke Pegunungan yang terpencil dan berlindung dari pengaruh luar. Tidak ada orang asing yang diizinkan untuk memasuki wilayah “Kenekes” atau lebih dikenal dengan nama suku “Badui”. Di daerah suku “Badui” ini juga terdapat tanah keramat Arca Domas.

Dengan berjalannya waktu banyak batu dan patung yang digunakan untuk membangun rumah. Pada Litografi pertengahan abad ke 19 tampak patung-patung dengan “gaya Polinesia”. Patung seperti ini juga terdapat di Museum Nasional, Jakarta. Belakangan, lereng ini digunakan untuk lahan pertanian, tetapi pohon-pohon Beringin yang ada masih mengingatkan masyarakat akan tempat suci ini.

Setelah Perang Dunia ke Satu, dua orang Jerman bersaudara, Emil dan Theodor Hellferich membeli tanah di daerah ini seluas 900 hektar dan membangun pabrik dengan keuntungan dari perkebunan teh. Mereka mempunyai pabrik teh pribadi lengkap dengan kabel pengangkut untuk mengangkut daun teh ke pabrik. Gedung yang megah telah dibangun di daerah ini dimana iklim yang sejuk dan nyaman diatas ketinggian 900 m dari permukaan laut. Karena kakak tertua mereka, Karl Helfferich, adalah mantan wakil perdana menteri di bawah Kekaisaran Jerman yang terakhir, mereka membangun sebuah monumen diantara pohon-pohon tua untuk memperingati Deutsch-Ostasiatisches Geschwader (Armada Jerman Asia Tenggara) dari Admiral Graf Spee yang tenggelam oleh tentara Inggris. Pada monumen tersebut terukir kalimat “Untuk para awak Armada Jerman Asia Tenggara yang pemberani 1914. Dibangun oleh Emil dan Theodor Helfferich.” Sebagai penghargaan pada agama tua Jawa, mereka membangun patung Buddha dan patung Ganesha di kedua sisi monumen tersebut.

Peresmian terjadi pada tahun 1926 ketika sebuah kapal penjelajah Jerman dengan nama “Hamburg” melakukan kunjungan pada zaman Kolonial Belanda. Seorang Letnan Kapten muda, Hans Georg von Friedeburg menulis tentang upacara itu dari bukunya dengan judul “Kedalaman 32.000 mil laut pada laut biru”. Kemudian, ia menjadi Jendral Admiral dan mengakhiri hidupnya pada tahun 1945 akibat kapitulasi Jerman. Anak laki – lakinya kemudian menjadi Mentri Pendidikan di Land Hessen, Jerman. Helfferich bersaudara kembali ke Jerman pada tahun 1928 dan meninggalkan Albert Vehring dari Bielefeld untuk tekhnisi manajemen perkebunan teh mereka. Dia sudah berpengalaman tentang perkebunan teh di daerah New Guinea. Namanya akan selalu berkaitan dengan Arca Domas.

Mulainya Perang Dunia ke-Dua 1939 membawa perang Dunia ke-Dua, dan 10 Mei 1940 prajurit Jerman menginvasi Belanda. Masih dalam hari yang sama Pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia menahan sebanyak 2.436 orang Jerman untuk ditahan. Kebanyakan dari mereka adalah anggota administrasi kolonial bersama dengan keluarga mereka, ahli budaya, insinyur, dokter, ahli ilmu pegetahuan, ahli minyak bumi. Dan juga diplomat, banyak misionaris, penjual, pelaut, beberapa seniman seperti penemu sekolah lukis Bali yang terkenal, Walter Spies, ada diantaranya. Kamp pengasingan terbesar berada di Sumatera Utara. Para pria diambil dari istri dan anak – anak mereka. Kurang lebih 100 wanita dan anak – anak kemudian dapat berangakat ke Cina dan Jepang melalui perantara dari Helfferichs, juga istri dari Albert Vehring, Ibu Hildegard. Perkebunan Helfferich kemudian diambil alih oleh Belanda.

Tenggelamnya Kapal “VAN IMHOFF” dan Kemerdekaan Republik Nias
Pada tanggal 14 Desember 1941 pasukan Jepang mendarat di Borneo dan pada bulan Februari tahun 1942 di Air Bangis, Sumatra Barat. Orang – orang Jerman tidak boleh jatuh ke tangan tentara Jepang, karena Jerman dan Jepang telah bersekutu. Pemerintah kolonial Belanda meutuskan untuk membawa para tawanan Jerman ke tangan kolonial Inggris India. Dua kapal Belanda dengan tawanan Jerman berangkat dari Sibolga, Sumatera. Dan pada tanggal 18 Januari kapal 3000 ton yang ke tiga berangkat, kapal tersebut bernama KPM “VAN IMHOFF”. Kapten kapal tersebut bernama Bongvani. Setelah beberapa jam berada di lautan, kapal tersebut diperintahkan untuk kembali dan membawa beberapa orang Jerman lagi. 477 orang Jerman pada akhirnnya ditawan pada ketinggian satu meter, dengan kawat berduri mengelilingi mereka, dan diantara mereka juga ada Albert Vehring dan Walter Spies. Belanda mengawasi mereka dengan 62 tentara yang bersenjata. Selanjutnya para kru – krunya kurang lebih memegang 48 orang. Kapal itu tidak menggunakan tanda simbol Palang Merah.

Pada keesokan harinnya, kapal tersebut mendapat serangan dari pesawat tempur Jepang. Dua bom mendarat di laut, tetapi bom yang ke tiga mengenai kapal tersebut. Perwira ke satu mengatakan kepada para tawanan Jerman bahwa kapal tersebut tidak berada dalam keadaan berbahaya, bahkan sudah meminta bala bantuan yang akan segera datang. Orang – orang di belakang kawat berduri itu tidak perlu panik. Tetapi para tawanan Jerman sangat terkejut, ketika mereka melihat orang – orang Belanda menurunkan lima perahu kargo yang ditarik dengan perahu motor penarik. Dengan kapal kargo tersebutlah, orang – orang Belanda meninggalkan kapal dan menuju ke Sumatera. Setiap 5 ton perahu kargo tersebut bisa membawa sekitar 80 orang dan perahu motor penarik yang dapat menampung 60 orang lagi. Beberapa diantara perahu ini hampir kosong.
Para tawanan Jerman tadi akhirnya dapat mengeluarkan diri mereka dari penjara dan mereka menyadari bahwa kapal tersebut akan tenggelam. Mereka menemukan bahwa para orang – orang Belanda telah merghancurkan pompa air dan jaringan komunikasi kapal tersebut. Pada bagian belakang kapal, mereka menemukan sebuah sekoci penolong yang tidak bisa diangkat dari tempatnya oleh orang – orang Belanda sebelumnya. Bahkan dayung dari sekoci tersebut telah dipatahkan oleh orang – orang Belanda. Sekoci tersebut dapat memuat sekitar 42 orang di dalamnya. Beberapa orang Jerman yang kuat dapat mengangkat lalu memindahkan sekoci tersebut ke perairan, kemudian sekitar 53 orang Jerman masuk ke dalam sekoci tersebut. Mereka menggunakan papan sebagai dayung dan menjauh dari kapal yang tenggelam tersebut agar selamat dari arus kapal tersebut. Kira – kira 200 pria sudah meloncat ke air dan berharap datangnya bantuan. Walaupun demikian, bom yang meledak telah membunuh banyak ikan – ikan yang dapat menarik perhatian ikan hiu yang datang dan menyerang orang – orang yang tak terselamatkan tersebut. Beberapa orang diantara mereka memutuskan untuk bunuh diri. Beberapa orang yang kuat diantara mereka mambangun rakit dari kayu – kayu dan tali yang mereka temukan di kapal sebelum tenggelam. Teman dari Albert Vehring menemukan sebuah sampan dayung yang panjangnya 2 atau 3 m di tempat yang tersembunyi. 14 orang masuk ke dalamnya. Vehrings yang memimpin komando sampan dayung tersebut. Pinggiran perahu tersebut hanya kira – kira berjarak 10 cm dari permukaan laut. Ketika perahu dayung mereka telah berjarak 100 m dari kapal, kapal tersebut akhirnya tenggelam dengan seketika. Sekitar 200 orang masih tertinggal di atas kapal yang tenggelam tersebut.

Kedua perahu dan sebuah rakit tersebut berusaha untuk mencapai pulau Nias yang berjarak 55 mil laut dari tempat tenggelamnya kapal. Keesokan harinya, tanggal 20 Januari, sebuah kapal Belanda yang bernama “BOELOENGAN” mendekati kelompok orang – orang Jerman tersebut. Kapal tersebut mendekat kira – kira 100 m dari perahu Vehring. Dari atas kapal ada yang meneriakkan “apa kalian orang Belanda?”. Saat mereka mengetahui bahwa ini adalah kelompok orang Jerman, kapal “BOELOENGAN” berbalik arah lalu menghilang meninggalkan mereka. Oleh karena ini, orang – orang Jerman yang berada di atas rakit tidak dapat kesempatan untuk selamat. Seorang penjual toko emas Yahudi yang telah meninggalkan Nazi Jerman, meloncat ke perairan dan berenang menuju ke kapal “BOELOENGAN”. Walaupun demikian, tanpa kasihan orang – orang Belanda menolaknya dan memaksanya kembali ke perairan. Ini adalah keputusan mati yang tidak layak.
Kemudian pada tanggal 20 Juni 1949, Albert Vehring melaporkan kejadian yang tak dapat terbayangkan itu dengan mengangkat sumpah kepada notaris Jerman, Bernhard Grünewald, di Bielefeld. Dia memberikan penjelasan bahwa pada saat air laut naik, setengah dari awak perahunya keluar dari perahu dan berpergangan pada perahu agar perahu tersebut dapat menjadi lebih ringan. Dan orang – orang yang berada di rakit tidak dapt diselamatkan lagi.

Pada hari ke 4 tepatnya 23 Januari 1942, mereka sampai dalam keadaan kehausan, lapar, kekeringan dan terbakar matahari di pantai menanjak pulau Nias. Perahu yang lebih besar terbalik akibat hempasan. Karenanya, satu orang meninggal dunia. Satu orang tua yang berusia 73 tahun menggantung dirinya karena putus asa. Keesokan paginya, beberapa orang Nias yang bersahabat dan seorang pastur Belanda, Ildefons van Straalen memberikan makanan dan minuman kepada orang – orang yang selamat.

Dalam keberuntungan ini ditemukan 411 orang tentara Jerman yang mati, 20 Protestan dan 18 Katholik misionaris seperti orang yang cerdas artis Walter Spies. 67 orang mencapai Nias dari 65 orang yang masih bertahan. Karena kapal “VAN IMHOFF” kepunyaan dari Belanda KPM dan Belanda menduduki Jerman. Asuransi dari KPM harus membayar kompensasi untuk 4 milion Gilder kepada para keluarga yang mati di Jerman. Satu kali saja perangnya terjadi. Setelah perang tersebut orang tua dari Walter Spies yang mati dimana tinggal di Inggris membuat surat pengaduan di Pengadilan melawan Kapten dari “VAN IMHOFF” namanya Bongovan. Dia hampir kena hukuman mati, tetapi cepat mendapat pengampunan.

Pada keesokan harinya yang hidup di Nias tertangkap oleh orang Belanda dan dibawa ke ibukota Gunung Sitoli. Disana mereka dibawa ke tempat penjara Polisi, penjaganya dari orang Belanda dan polisi Indonesia dari Sumatra Utara. Polisi Indonesia sangat kaget bahwa mereka menjaga orang Jerman karena sebelumnya orang Jerman telah mengalahkan kehidupan Pemerintah Kolonial di Belanda. Albert Vehring bekerjasama bersekongkol dengan polisi Indonesia.

Orang Jerman bersekutu dengan polisi Indonesia dan pada hari Minggu Palem pada tahun 1942 orang Belanda dipenjara. Jepang pada waktu itu sedang mendarat di Sumatra dan Jawa dan mengirim semua orang Belanda ke pengasingan dan dalam takdirnya mereka, sangat ironi sekali. Sekarang sangat tidak percaya apa yang telah terjadi di Nias, membuat kita hari ini tersenyum:
Jerman berproklamasi dengan Nias “Kemerdekaan Republik Nias”. Komisaris perusahan Bosch, Herr Fischer, telah menjadi Perdana Mentri dan Albert Vehring menjadi Mentri Luar Negri. Mereka menjadikan rekan dengan Nias. Nias menjadi senang pada akhirnya mereka bersorak sorai telah mendapat kekuatan. Beberapa minggu kemudian orang Jerman bersama dengan Nias melakuakan perjanjian Pulau Nias. Kemudian Albert Vehring berlayar ke Sumatra untuk membuat kontak dengan orang Jepang. Orang Jepang datang ke Nias pada tanggal 17 April 1942 dan membawa orang Belanda untuk dipenjara, dan dimana ada juga Pastor van Straalen.
Orang Jerman bisa kembali lagi ketempat pertama kali mereka bekerja disana dan “Kemerdekaan Republik Nias” telah melepaskan mereka kembali. Albert Vehring bekerja untuk orang Jepang di hotel, memproduksi senapan dan menjadi Insinyur Kapal di Singapura

Kapal Selam Jerman di Tanjung Priok dan Surabaya

Jerman berusaha lagi dengan barang – barang untuk diimport dengan pendapatan kotor dari pulau pendudukan sekutu Jepang. Tapi akibat blokade sekutu, hanya satu kapal yang dapat mendarat di perairan pendudukan Jerman di Eropa.

Karena itu pada bulan Mei 1943 Angkatan Laut Jerman dimana menguasai dengan persetujuan Angkatan Kepala Jepang detasemen marinir Jerman di Penang, Singapura, Jakarta, dan Surabaya. Orang Jepang memberi nama Jakarta menjadi Batavia. Jerman mendapat undang-undang dan memutuskan mengimport dengan bahan baku dengan menggunakan kapal – kapal selam, yaitu karet, timah, molybdan, wolfram, lemak, kinine, madat, yodium, dan agar – agar, dengan bahan penting untuk warna cat penerbangan. Dengan sekitar 150 ton dalam kapal sangat banyak sehingga menjadi sempit.

Titik Pusat di Jakarta, Mayor Angkatan Laut, Dr. Hermann Kandeler, dimana dia juga seorang Wakil anggota Diplomatik yang mencerminkan pilihan rakyat Deutsches Reich, berkuasa mengadakan perundingan orang Jepang bahwa Villa dari Helfferichs di perkebunan teh Cikopo diatas Bogor dekat Arca Domas diberikan kembali ke pada orang Jerman. Albert Verhing telah dibawa kembali kesini. Tumbuhan tersebut bisa menjadi seperti surgawi para kru kapal-kapal manjadi kelelahan. Dengan tiga atau lima bulan keliling Afrika, didalam bawah laut dan dengan mendirikan tenda datang tersebut dengan kondisi harus diperbaiki. Berlangsungnya perbaikan kapal tersebut orang yang “berseragam biru” mereka bisa menikmati tempat itu tropis surgawi dan mereka bisa melupakan sejenak untuk waktu yang singkat kejamnya perang dan bahayanya pelayaran laut.

Dalam pimpinan Albert Vehring telah menyediakan untuk angatan laut dan menyediakan sayur-sayuran, kentang, dan sepertri gorengan sapi, babi, ayam bakar, karena itu perkebunan itu mendapat julukan “U-Boots-Weide” (padang rumput untuk kapal selam). Malam yang panjang perpisahan telah dirayakan disini dan menyanyikan lagu dari daerah asalnya melewati malam tropis untuk setengahnya sahabat telah menjadi perayaan yang terakhir untuk hidup yang sangat pendek. Selanjutnya dari beberapa orang dari mereka menjadi tempat tinggal yang terakhir.

Pada tahun 1943 dan 1944 bersama dengan 42 kapal selam telah dikirim ke Asia Tenggara. Kapal selam U-180 telah dua kali dikirim. Hanya 13 kapal yang tidak dikirim. 11 dari ini “Monsun boats” telah dilarikan ke Jakarta. Lima dari kapal tersebut tinggal di bawah laut.

Pada tanggal 5 Oktober 1944 U-168 di bawah Kapten Letnan Pich berlayar dari Jakarta ke Surabaya. Pada hari yang sama telah terjadi angin torpedo dari kapal selam Belanda “ZWAARDFIS”. Telah tenggelam 45 m dari dalam dasar laut. 29 kru kapal dari sisi kapal, mati. Dibawah perintah Kapten, 11 kru kapal terhindar dari kematian dalam marabahaya ini. Ketika mereka berada di atas permukaan laut mereka menemukan 16 sahabat yang masih hidup di geledak kapal. Pada akhirnya kapal selam Belanda naik ke atas dan mengambil semua orang dan dibawa ke kapal. Ini merupakan keberanian dari kapten van Goosen karena kapalnya akhirnya telah menjadi musuh dalam laut dan mereka tidak terdampar karena kapal sangat kecil. Keberanian van Goosen dalam bahaya telah mengirim 23 yang telah selamat ke Java dengan perahu lokal. Sebelum mereka bisa bertemu dengan para sahabatnya di Surabaya, tentara Jepang menyangka mereka adalah “mata-mata Amerika”, maka mereka ditangkap dan disiksa. Kapten Belanda van Goosen membawa Kapten Letnan Pich bersama dengan tiga perwiranya dan seorang yang terluka untuk dibawa ke kapal dan dibawa ke Australia untuk dipenjarakan. Beberapa tahun kemudian, komandan marinir Jerman di Singapura, Mayor Angkatan Laut namanya Erhardt, dan van Goosen telah berjabat tangan seperti dua orang sahabat menjadi pengganti wakil dari negaranya, pada latihan perang NATO (North Atlantic Treaty Organisation) dan dengan ini mereka bisa membuktikan tidak masuk akal terjadinya perang.

Akhirnya Perang Dunia ke-Dua

Iklim tropis di Jakarta membuat orang menjadi sakit dan mati. Pada tanggal 15 April 1945 seorang tukang kayu kapal bernama Eduard Onnen meninggal disana. Dia di kuburakan di tempat keramat Arca Domas dengan cara upacara kehormatan militer. Pada tanggal 8 Mei 1945 Jerman menyarah kalah. Oleh karena itu para tentara dari Jerman juga sudah berakhir masa perangnya. Dan pada hari yang sama orang Jepang mengusai tempat yang sama dan tinggal di kapal selam U-195 di Surabaya dan U-215 di Jakarta, karena itu Kepala Pangkalan Jerman dari Jakarta, Mayor Angkatan Laut Dr. Kandeler, menolak tawaran Jepang Admiral Maëda untuk terus perang bersama dengan Jepang atau bersekutu dengan Jepang. Beberapa dari kru telah bersembunyi dari teman wanitanya. Setelah perang usai mereka mencari pasanganya dan pada akhirnya mereka menikah (Martin Mueller).

Kebanyakan tentara marinir dari Kepala Pangkalan Jakarta dan Surabaya telah pindah dengan semua yang mereka miliki yaitu makanan, senapan, kendaraan, untuk pindah dan senang di Perkebunan Teh Cikopo (Tjikopo). Dengan petolongan Albert Vehring mereka mendapat makanan. Seragamnya mereka tanggalkan. Kepala tempat penampungan itu Mayor Angkatan Laut dari U-219 Burghagen, karena telah menang dari perang Dunia ke-Satu dengan kapal selam maka dia telah menjadi seorang perwira yang paling tertua dengan usia 54 tahun.

Pada tanggal 15 Agustus 1945 akhirnnya Jepang menyerah juga. Sebelum menjadi presiden pertama Sukarno telah membuat Proklamasai untuk Kemerdekaan Indonesia. Pada malam harinya pada tanggal 16 ke 17 Agustus Soekarno dengan Wakil Presiden Moh. Hatta membuat tulisan tangan untuk teks Proklamasi untuk kepastian keamanan, mereka membuatnya di tempat kediaman dari Admiral Maeda. Pada pagi harinnya teks tersebut harus di ketik disana tetapi mesin tik Jepang tidak ada huruf latinnya. Jadi mereka “meminjam” mesin tik Jerman dari tempat kantor Kepala Angkatan Laut Jerman, Mayor Angkatan Laut Dr. Kandeler. Mesin tik tersebut telah diambil dengan Jip Sekretaris Jepang Admiral Maëda, Satzuki Mishima. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Dokumen teks Proklamasi telah dibacakan oleh Soekarno. Dokumen aslinnya telah diketik oleh Sajuti Melik dengan mesin tik angkatan laut Jerman. Mesin tik tersebut sekarang berada di Musium Perumusan Naskah Proklamasi. Dari sini ceritannya juga telah ditemukan banyak keganjilan.

Orang Belanda yang masih tinggal di Indonesia akhirnya menjadi gerilyawan. Karena hal tersebut orang Jerman kemudian membuat tanda atribut mereka yang telah diambil dari seragamnya untuk dijadikan lambang dengan menggunakan lambang Elang Negaranya dilengan mereka. Ketika orang Indonesia mengenali orang Jerman mereka menjadikan hubungan tersebut menjadi persaudaraan.

Pada awal bulan September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris dibawah komandan perwira orang Skotlandia datang ke Jawa. Tentara ini sangat kaget menemukan tentara Jerman di Cikopo. Komandan resimen bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Burghagen untuk menolong tempat penampungan di Bogor. Di tempat penampungan ini waktu itu tempat Jepang menginternir orang Belanda, kebanyakan orang tua, istri dan anak – anak, serta orang Indo. Mereka harus selamat dari penangkapan gerilyawan. Burghagen menyetujui karena situasi di perkebunan teh lama kelamaan tidak aman. Kemudian Komandan Jendral Inggris menamai orang Jerman bukan tawanan perang tetapi “Displaced Persons”, karena pertemuan tersebut telah selesai pada waktu perang dunia telah berakhir.

Dengan 50 truk Jepang, orang Jerman berikut piano dan peternakannya telah di transportasi ke tempat penampungan di Bogor yang sebelumnya bernama Buitenzorg. Orang Jerman tersebut harus mengenakan seragam mereka lagi dan menggunakan senapan mesin, bren, granat tangan dan mortir. Mereka harus melindungi tempat penampungan yang berada di selatan pada perbatasan Bogor. Pada waktu yang singkat setelah perang dunia berakhir dengan luar biasa. Pada malam hari pertama datang tembakan dari keduanya seperti saling gila menembak. Untungnya dari keduanya tidak ada yang menjadi korban. Kemudian menjadi nyata, orang Indonesia menyangka mungkin bahwa orang Jerman telah tertangkap oleh Sekutu dan mereka berusaha untuk membebaskannya. Suatu situasi yang sangat ganjil.

Pemakaman dari pelaut-pelaut Jerman di Arca Domas

Ternyata terdapat beberapa korban. Letnan Satu Laut Willi Schlummer dan Letnan Insinyur Wilhelm Jens dimana terbunuh di Gedung Jerman di Bogor dari pejuang kemerdekaan Indonesia pada tanggal 12 Oktober 1945 karena kemungkinan mereka telah menyangka orang Belanda. Pada bulan yang sama juga Letnan Laut W. Martens terbunuh ketika dalam perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Bogor. Ketiga nya dimakamkan dengan upacara kemiliteran di Arca Domas. Sebelumnya pada tanggal 29 September Kopral Satu Willi Petschow mati karena sakit di Cikopo, dan Letnan Kapten Herman Tangermann mati juga pada tanggal 23 Agustus karena kecelakaan. Pada tanggal 30 November juga Letnan Satu Laut Friedrich Steinfeld mati, ia juga seorang Komandan U-195 (Surabaya). Semua menemukan tempat peristirahatannya yang terakhir ditengah -tengah pohon suci Beringin di Arca Domas.

Kemungkinan disana ada empat atau lebih pemakaman lagi. Tetapi dasawarsa Tugu Arca Domas kemudian menjadi Tugu Makam Pahlawan, beberapa nama dari palang kayu menjadi lapuk dan tidak bisa di baca. Karena itu dua kuburan telah “Unbekannt” (tidak diketahui). Juga untuk Letnan Satu Dr.Ir. H. Haake telah meminta dikuburkan oleh keluargannya, walaupun kapal selamnya tenggelam di Selat Sunda oleh ranjau pada tanggal 30 November 1944.

Pengasingan, kemerdekaan dari sisi Indonesia dan kembalinya orang -orang yang masih hidup ke Jerman

Sementara itu banyak orang Belanda di tempat penampungan yang mengeluh, karena mereka “di jaga” oleh orang Jerman. Orang Inggris harus menyerahkan kira-kira 260 Jerman. Pada pertengahan Januari 1946 menyerahkan beberapa orang Belanda yang ikut dalam ketentaraan. Orang Belanda memenjarakan orang-orang Jerman di pulau Onrust yang terkenal karena nama yang buruk. Kepunyaan barang pribadi mereka kebanyakan juga diambil. Mereka mendapat nasib yang buruk dan ironi.

Perlakuan yang buruk agak lebih baik ketika Palang Merah dari Swiss datang pada bulan Juli 1946. Tetapi tempat penampunganya mendapat beberapa penyakit seperti amoebiasis, malaria, demam berdarah dan hepatitis karena kurang higienis dan kurang nutrisi. Disini juga ada warga sipil namanya Freitag dia tertembak karena dia mendekat pada pagar.

Dua orang dengan tanpa takut lolos dalam pelarian. Mereka berenang menyebrangi ke pulau yang lain. Salah satunya adalah pilot dari pesawat angkatam laut namanya Werner dan sahabatnya Losche dari U-219. Dalam pelarianya mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Jawa untuk bekerjasama melawan Belanda yang juga ingin mendirikan pemerintahan kolonial yang lama. Sahabat Werner akhirnya meninggal dunia karena ia munkin mencoba untuk merakit pelontar api. Peringatan dari pemerintahan Indonesia untuk kehormatan dari kedua orang Jerman sampai saat ini belum di buat.

Pemulangan orang Jerman dimulai pada tanggal 28 Oktober 1946. Dengan menggunakan taransportasi kapal laut mengangkut pasukan melalui Bombay dan Rotterdam pada awal Desember 1946 di Hamburg. Albert Vehring akhirnya bisa merangkul istrinya. Tetapi tentara Angkatan Laut yang menjadi tawanan perang mereka dibawah kembali ke tempat penampungan tawanan Munsterlager. Mereka menderita kedinginan karena hanya memakai pakaian tropis. Tetapi suatu hari mereka akhirnya dibebaskan.

Organisasi Perawatan Taman Makam Pahlawan Jerman tidak bisa membeli Arca Domas karena peraturan pemerintah Indonesia. Kedutaan Besar Jerman hanya mendapat hak guna untuk Arca Domas. Setiap tahun Hari Pahlawan ada perkumpulan kecil dari orang – orang Jerman datang ketempat ini. Suatu upacara kebaktian oikumene dirayakan untuk memperingati perdamaian dan memperingati korban – korban perang. Duta Besar Jerman bersama pertahanan militer meletakan karangan bunga dekat monumen dan dengan pitanya tertulis “Der Botschafter der Bundesrepublik Deutschland” (Duta Besar dari Republik Federal Jerman). Bunyi sinyal suara trompet yang dimainkan oleh Herwig Zahorka dengan lagu yang berbunyi “Ich hatt’ einen Kameraden….” ( Saya mempunyai Sahabat….). Dari sinyal trompet bergema dari puncak pohon besar suci Beringin. Dengan perlahan melodi sedih itu membuat suasana menjadi terharu bersama dengan atmosfir alam tropis.

Daftar Pustaka dari: Herwig Zahorka “Arca Domas – ein deutscher Soldatenfriedhof in Indonesien”

 

Kehadiran Nazi di Indonesia yang Terlupakan


BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan “kawan sejawatnya”, Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa “oleh-oleh” dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.

Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.

Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.

Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami “senjata makan tuan”, dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.

Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.

Dilindungi pribumi

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.

Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.

Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai “warga sipil” di sana.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.

Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.

Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.

Saat itu, menurut dia, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka “dijaga” oleh orang Jerman. “Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata,orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan.Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu,” kata Zahorka.

Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.

Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api

Wawancara dengan Herwig Zahorka
Peperangan Hanya Membawa Kesia-siaan

TAK banyak yang tahu kalau tentara Nazi Jerman pernah datang ke Indonesia. Untuk mengetahui sekelumit sejarahnya, berikut wawancara dengan pengamat sejarah militer Jerman yang tinggal di Indonesia, Herwig Zahorka (72).

Mengapa pasukan Jerman ”berkelana” ke Timur Jauh sampai ke Indonesia?

Asas manfaat, diketahui, saat itu Jerman saling mendukung dengan Jepang dan Italia. Kebetulan, Jerman membutuhkan barang-barang untuk diimpor dengan pendapatan dari pulau yang diduduki Jepang. Repotnya, Asia Tenggara tengah diblokade Armada Sekutu, untuk menembusnya Jerman mengandalkan kapal selam sebagai cara efektif.

Jerman diperbolehkan mengambil bahan-bahan yang diperlukan di Eropa, karet, kina, timah, molybdan, wolfram, lemak, madat, yodium, dan agar-agar, serta bahan penting untuk warna cat penerbangan. Apalagi, banyak perkebunan dan pertambangan di Pulau Jawa, termasuk Jabar, yang dimiliki orang Jerman.

Di tengah tingginya nasionalisme bangsa Indonesia ingin lepas dari penjajahan Belanda dan Jepang, apakah ada peran secara langsung maupun tak langsung dari pasukan Jerman?

Benar, walau tanpa sengaja. Ini terjadi tanggal 16 Agustus malam, Soekarno dengan Moh. Hatta harus membuat tulisan tangan untuk teks Proklamasi, untuk dibacakan keesokan harinya. Untuk kepastian keamanan, mereka membuatnya di tempat kediaman Laksamana Maeda.

Pagi hari 17 Agustus, teks Proklamasi diketik di sana, namun yang ada hanya mesin tik Jepang yang tak ada huruf latin. Untungnya, di Kantor Komandan Angkatan Laut Jerman di Jakarta yang saat itu masih dipimpin Mayor AL Dr. Kandeler, masih ada mesin tik dengan tombol huruf latin. Segera saja, beberapa orang langsung menuju ke sana dengan menggunakan kendaraan jip milik sekretarisnya Laksamana Maeda, Satzuki Mishima, untuk ”meminjam” mesin tik itu. Alhasil, beberapa jam kemudian, naskah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, telah dibacakan oleh Soekarno.

Dokumen Proklamasi aslinya diketik oleh Sajuti Melik dengan mesin tik Angkatan Laut Jerman. Mesin tik tersebut sekarang berada di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, namun dari sini ceritanya menjadi banyak keganjilan.

Setelah 61 tahun, kehadiran Jerman di Indonesia dapat disaksikan melalui makam di Arca Domas. Apakah pemerintah Jerman menjadikan makam itu sebagai ”aset sejarah bangsa” di luar negeri?

Tentu saja, malahan pemerintah kami sangat memperhatikan keberadaannya. Makam tentara di Arca Domas sebenarnya dapat lebih terawat lagi, karena negara kami memiliki organisasi perawatan taman makam pahlawan Jerman yang berada di seluruh dunia. Sayangnya, karena peraturan pemerintah Indonesia tidak memperbolehkan makam di Arca Domas dapat dibeli.

Adalah rasa kedekatan dengan para pahlawan bangsa kami walau jauh dari tanah air, karena ”kami memiliki sahabat” yang kini sudah menyatu dengan atmosfer alam tropis. Walaupun kemudian, keberadaan makam di Arca Domas menyadarkan banyak pihak, peperangan akhirnya hanya membawa kesia-siaan. (Kodar Solihat/”PR”)***

Arca Domas, Kenangan Tentara Jerman di Indonesia

JIKA ditempuh dari jalan raya Cikopo Selatan, perlu waktu sekira setengah jam untuk sampai ke lokasi makam di Kampung Arca Domas, Desa Sukaresmi, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Akan tetapi, kendaraan harus “berjibaku” dulu menempuh jalan berbatu tanpa aspal dengan jurang di satu sisi.

MAKAM sepuluh orang angkatan laut Nazi Jerman, dua di antaranya awak kapal selam U-195 dan U-196, di Kampung Arca Domas Desa Sukaresmi Kab. Bogor, menjadi saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia pada Perang Dunia II. Anehnya, tidak banyak warga setempat yang tahu keberadaan makam tentara Jerman tersebut. Mereka hanya tahu ada tempat pemakaman di ujung jalan. Padahal, di tempat terpencil itu terbaring jasad sepuluh tentara Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) yang meninggal di Indonesia, sesaat setelah Jepang menyerah pada Sekutu, Agustus 1945.

Luas areal pemakaman yang diteduhi pohon kamboja itu, kira-kira 300 meter persegi. Sekeliling makam ditumbuhi tanaman pagar setinggi satu meter. Pintu masuknya dihalangi pagar bambu. Dekat pintu masuk, berdiri tugu peringatan Deutscher Soldatenfriedhof yang dibangun Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta untuk menghormati prajurit Jerman yang gugur.

Mereka adalah Komandan U-195 Friederich Steinfeld dan awak U-195, Dr Heinz Haake. Lainnya adalah pelaut Jerman, Willi Petschow, W. Martens, Wilhelm Jens, Hermann Tangermann, Willi Schlummer, Schiffszimmermann (tukang kayu kapal laut) Eduard Onnen. Dua nisan terpisah adalah makam tentara tidak dikenal (Unbekannt).

Makam itu terletak di lahan Afdeling Cikopo Selatan II Perkebunan Gunung Mas. Dahulu, makam itu dirawat PT Perkebunan XII (kini PT Perkebunan Nusantara VIII) selaku pengelola Perkebunan Gunung Mas, namun sejak beberapa tahun terakhir perawatan makam dibiayai pemerintah Jerman. Lahan yang bersebelahan dengan makam tadinya areal tanaman teh dan kina. Akan tetapi, tanaman tersebut habis dijarah, beberapa tahun lalu.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka yang dihubungi “PR”, mengatakan, Letnan Friederich Steinfeld meninggal di Surabaya akibat disentri dan kurang gizi saat ditawan Sekutu. Keterangan ini diperoleh dari mantan awak U-195 yang bermukim di Austria, Peter Marl (82tahun) dan mantan awak U-195 lainnya, Martin Mueller yang datang ke makam tahun 1999.

Sedangkan Letnan Satu Laut Willi Schlummer dan Letnan Insinyur Wilhelm Jens, tewas dibunuh pejuang kemerdekaan Indonesia dalam Gedung Jerman di Bogor, 12 Oktober 1945. Kemungkinan, mereka disangka orang Belanda apalagi aksen bahasanya mirip.

Letnan Laut W. Martens terbunuh dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Bogor. Kopral Satu Willi Petschow meninggal 29 September, karena sakit saat di Perkebunan Cikopo, serta Letnan Kapten Herman Tangermann meninggal karena kecelakaan pada 23 Agustus tahun yang sama.

“Kendati saat itu terjadi salah sasaran karena disangka orang Belanda, namun kemudian banyak orang Indonesia mengenali ternyata mereka orang Jerman. Ini kemudian menjadikan hubungan tersebut menjadi persaudaraan,” kata Zahorka, pensiunan direktur kehutanan Jerman, yang bermukim di Bogor dan menikahi wanita Indonesia.

Mengenai keberadaan dua arca di makam tersebut, Zahorka mengatakan, arca-arca itu sengaja disimpan sebagai penghormatan kepada budaya warga setempat.

Warga Kampung Arca Domas, Abah Sa’ad (76 th), seorang saksi hidup peristiwa penguburan tentara Jerman di kampungnya, Oktober 1945. Saat itu, usianya 15 tahun. Ia ingat, prosesi pemakaman dilakukan puluhan tentara Nazi Jerman secara kemiliteran. Peristiwa itu mengundang perhatian warga.

“Waktu itu, masyarakat tidak boleh men-dekat. Dari kejauhan, tampak empat peti mati diusung tentara Jerman, serta sebuah kendi yang katanya berisi abu jenazah. Tentara Jerman itu berpakaian putih, dengan dipimpin seorang yang tampaknya komandan mereka karena menggunakan topi pet,” tuturnya.

Sepengetahuan Abah Sa’ad, mulanya, makam tentara Jerman itu hanya ditandai nisan salib biasa, sampai kemudian ada yang memperbaiki makam itu seperti sekarang.

Keasrian dan kebersihan makam tersebut tidak lepas dari peran penunggu makam, Mak Emma (65) yang dibiayai Kedubes Jerman dua kali setahun. ” Biasanya, setiap tahun ada warga Jerman yang menjenguk makam pahlawan negaranya itu,” ujarnya.

Namun, dia kurang tahu sejarah makam itu karena baru diboyong suaminya (pensiunan karyawan Perkebunan Gunung Mas) 10 tahun lalu. Ia meneruskan pekerjaan suaminya (alm.) menjadi kuncen.

Jakarta Pernah Disinggahi Senjata Nuklir

Reduced: 66% of original size [ 600 x 428 ] – Click to view full image

U-195 dan U-219 Nyaris Ubah Sejarah

DARI berbagai kapal selam Jerman yang beraksi di Indonesia adalah U-195 dan U-219 yang bisa mengubah sejarah di Asia-Pasifik, jika Jerman dan Jepang tidak keburu kalah. Kedua kapal selam itu membawa uranium dan roket Nazi Jerman, V-2, dalam keadaan terpisah ke Jakarta, untuk dikembangkan pada projek senjata nuklir pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Toranouke Kawashima.

Ini merupakan langkah Jerman membantu Jepang, yang berlomba dengan Amerika Serikat dalam membuat senjata nuklir untuk memenangkan Perang Dunia II di Kawasan Asia-Pasifik. Rencananya, projek senjata nuklir Jepang untuk ditembakkan ke wilayah Amerika Serikat.

Kapal selam U-195 tiba di Jakarta pada 28 Desember 1944 dan U-219 pada 11 Desember 1944. Richard Besant dalam bukunya berjudul Stalin’s Silver dan Robert K Wilcox dalam Japan’s Secret War, hanya menyebutkan, kedua kapal selam itu membawa total 12 roket V-2 dan uranium ke Jakarta.

Namun, berbagai catatan tentang diangkutnya uranium dan roket V-2 untuk Jepang itu melalui Indonesia, hanya berhenti sampai ke Jakarta. Seiring menyerahnya Jerman kepada pasukan Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, keberadaannya tidak jelas lagi.

Sementara itu, projek senjata nuklir Jepang di Hungnam, bagian utara Korea, sudah menguji senjata nuklirnya sepekan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun Jepang kesulitan melanjutkan pengembangan, karena untuk material pendukung harus menunggu dari Jerman.

Kapal selam U-195 dan U-219 kemudian dihancurkan pasukan sekutu, saat keduanya sudah berpindah tangan ke Angkatan Laut Jepang. Sebagian awak U- 95 sendiri, ada yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Indonesia.

Kapal U-195 (Type IXD1) dikomandani Friedrich Steinfeld, selama tugasnya sukses menenggelamkan dua kapal sekutu total bobot mati 14.391 GRT dan merusak sebuah kapal lainnya yang berbobot 6.797 GRT. Kapal selam itu kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta pada Mei 1945 dan berubah menjadi I-506 pada 15 Juli 1945. Kapal ini kemudian dirampas Pasukan Sekutu di Surabaya pada Agustus 1945 lalu dihancurkan tahun 1947.

Sedangkan U-219 (Type XB) dikomandani Walter Burghagen, yang selama aksinya belum pernah menenggelamkan kapal musuh. Kapal selam ini kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta, lalu pada 8 Mei 1945 berubah menjadi I-505. Usai Jepang menyerah Agustus 1945, I-505 dirampas Pasukan Sekutu lalu dihancurkan di Selat Sunda oleh Angkatan Laut Inggris pada tahun 1948.

Kisah aksi tugas kapal selam Jerman selama perang Dunia II juga menjadi ilham dibuatnya film berjudul “Das-Boot,” yang dirilis di Jerman tahun 1981. Salah satu nara sumber autentik mengenai kehidupan para awak u-boat, adalah mantan perwira pertama dari U-219, Hans Joachim Krug, yang kemudian menjadi konsultan film itu.

Tak heran, pada film berdurasi 145 menit tersebut, para awak kapal selam Jerman tergambarkan secara autentik. Pergi berpenampilan rapi namun pulang dalam keadaan dekil, maklum saja karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu di dalam air, mereka jarang mandi sehingga janggut, kumis, dan rambut pun cepat tumbuh.

U-234

Sementara itu, pada jalur pelayaran lain, U-234 yang juga dari Type XB berangkat menuju Jepang melalui Lautan Artik menjelang Mei 1945. Kapal selam itu juga mengangkut komponen roket V2 dan 500 kg uranium untuk projek nuklir pasukan Jepang, serta membawa pesawat tempur jet Me262.

Kapal U-234 membawa Jenderal Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), sejumlah rancangan senjata paling mutakhir Jerman saat itu, serta dua orang perwira Jepang. Selama perjalanan, sejumlah kapal perang dan pesawat Sekutu mencoba menenggelamkan U-234.

Usai Jerman menyerah, 8 Mei 1945, sejumlah awak U-234 memutuskan menyerah kepada pasukan Amerika Serikat. Dari sini cerita berkembang, pasukan Amerika mendapati kapal selam itu membawa uranium yang kemudian digunakan untuk projek Manhattan dalam produksi bom nuklir mereka.

Muncul kemudian spekulasi, bom nuklir yang berbahan uranium dari U-234 itu, kemudian digunakan Amerika untuk mengebom Nagasaki dan Hiroshima Jepang pada Agustus 1945.

Misteri Hilangnya U-196 di Laut Kidul

DARI sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.

Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).

Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.

Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya “mengabarkan” terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.

Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.

Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.

Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.

Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.

Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.

Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.

Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.

Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.

Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah “menggelapkan” kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga Negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196.

Peta Lokasi Tenggelamnya U-Boat Masa PD II

U-168, komandan Helmuth Pich, tenggelamkan dua kapal dagang lawan total 6.568 GRT, 1 kapal perang sekutu berbobot 1.440 GRT, serta merusak kapal lainnya berbobot 9.804 GRT. Nasib akhir tenggelam di Laut Jawa pada 6 Oktober 1944 pada posisi 06.20LS, 111.28BT, akibat torpedo kapal selam Belanda, HrMs Zwaardvisch. Sebanyak 23 awak U-168 tewas dan 27 lainnya selamat, kemudian ditawan di Surabaya dan Australia.

U-183, komandan Fritz Schneewind, tenggelamkan empat kapal lawan total 19.260 GRT, dan satu kapal lawan berbobot 6.993 GRT. Kapal selam ini kemudian tenggelam di Laut Jawa, 23 April 1945, ditorpedo kapal selam Amerika Serikat, USS Besugo. Sebanyak 54 awak U-183 tewas dan hanya seorang yang selamat, yaitu Schneewind. Usai perang, ia tinggal di Padang, Sumbar sampai akhir hayatnya, karena ia lahir di sana 10 April 1917.

U-859, komandan Johann Jebsen, tenggelamkan tiga kapal lawan total 20.853 GRT. Tenggelam di Selat Malaka, 23 September 1944, pada posisi 05.46LT, 100.04BE, ditorpedo kapal selam Inggris, HMS Trenchant. Sebanyak 47 awaknya tewas dan 20 lainnya selamat.

U-537, komandan Peter Schrewe (27 Januari 1943-9 November 1944), tak menenggelamkan kapal musuh. Nasib terakhir, tenggelam bersama seluruh 58 awaknya pada 9 November 1944 di Laut Jawa bagian Timur Surabaya pada posisi 07.13 LS 115.17 BT, akibat serangan torpedo kapal selam AS, USS Flounder.

UIT-23, tadinya kapal selam Italia, Reginaldo Giuliani, diambilalih Jerman di Singapura, 10 September 1943. Dikomandani Werner Striegler, kapal selam ini tenggelam di Selat Malaka, karena ditorpedo kapal selam Inggris, HMS Talluho. Sebanyak 26 awaknya tewas, 14 lainnya selamat, termasuk Striegler yang kemudian mendapat kapal selam baru, U-196.

U-196 dikomandani Werner Striegler, menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total 17.739 GRT. Nasib terakhir, hilang sejak 1 Desember 1944, di sekitar Selat Sunda dan Samudra Hindia Bagian Selatan Pulau Jawa, posisi pasti tak diketahui.

Kapal selam Jerman yang berpangkalan di Jakarta. Berikut u-boat, nama komandan, dan nasibnya:

U-168 Helmut Pich, Jakarta 4/10/1944, tenggelam 6/10/1944
U-181 Kurt Freiwald, Jakarta 19/10/1944, Jakarta 5/01/1945
U-537 Peter Schrewe, Jakarta 8/11/1944, tenggelam 9/11/1944
U-196 Werner Striegler, Jakarta 11/11/1944, tenggelam 30/11/1944
U-510 Alfred Eick, Jakarta 26/11/1944, Jakarta 3/12/1944
U-843 Oskar Herwartz, Jakarta 10/12/1944, Bergen 3/04/1945
U-510 Alfred Eick, Jakarta 11/01/1945, Prancis 24/04/1945
U-532 Ottoheinrich Junker, Jakarta 13/01/1945, menyerah
U-861 Juergen Oesten, Jakarta 14/01/1945, Norwegia 18/04/1945
U-195 Friedrich Steinfeld, Jakarta 17/01/1945, Jakarta 3/03/1945
U-183 Fritz Schneewind, Jakarta 22/04/1945, tenggelam 24/04/1945

Mei 18, 2009 at 8:34 pm Tinggalkan komentar

ALAMAT-ALAMAT MAJALAH

Majalah anak-anak:

1. Bobo
Jl. Panjang no. 8a kebon jeruk Jakarta Barat 11530
telp. 5330150 – 5330170
imel: bobonet@gramedia-majalah.com

2. GIRLS
alamat/telpon sama dengan Bobo
imel: girls@gramedia-majalah.com

3. Aku Anak Saleh (majalah anak muslim)
Alamat: Jl. Dewi sartika no.357 Jakarta 13630 telp. 8013215

4. Kompas anak Minggu
Alamat: Lihat kompas

5. Ino
Jl. M. Saidi no. 34A Petukangan selatan Jkarta 12270
Imel: inomajalah@yahoo.com telp. 73690979

Majalah/ Tabloid Remaja

1. Majalah Hai
Alamat sama dengan Bobo
Imel: hai_magazine@gramedia-majalah.com

2. Cerita Kita
Imel: ceritakita@indosat.net.id

3. Kawanku
Alamat sama dengan Bobo
Imel: fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com

4. Muslimah (majalah Islami)
Telp. 84936038
Imel: majalah_muslimah@yahoo.co.id

5. teen
Jl. Prof Dr Satrio kav 3-5 Jakarta 12940
Telp. 5276325 Imel: tabloid.teen@mail.com

6. Aneka
Jl. Salemba tengah no. 58 Jakarta Pusat 10440
Telp. 230-6188 Imel: aneka@indosat.net.id

7. Keren beken
Alamat sama dengan Aneka

8. Gadis
Telp. 5209370 Jl. Rasuna said Jakarta

9. Gaul
Jl. Tanjung duren barat I no. 11C jakarta 11470
telp. 56964539, 56964630

REPUBLIKA
Jl. Warung Buncit Raya no. 37 Jakarta Selatan12510

MEDIA INDONESIA
Kompleks Delta Kedoya,
Jl. Pilar Raya Kav. A-D Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat

SUARA PEMBARUAN
Jl. Dewi sartika no.136 D Jakarta 13630

KOMPAS/KOMPAS ANAK
Jl. Palmerah Selatan no. 26-28 Jak Sel 10270

KORAN TEMPO
Kebayoran Center Blok A11-A15
Jl. Kebayoran Baru, Mayestik, Jakarta 12240

JAWA POS
Graha Pena, Jl. Ahmad Yani 88 Surabaya

MINGGU PAGI YOGYA
Jl. Solo KM 11 Sleman 55573

KEDAULATAN RAKYAT
Jl. Raden Mangkubumi 40-42 Yogyakarta 55232

SINAR PAGI
Kompleks Duta mas Blok B1 no. 19-20-21
Jl. RS Fatmawati, Jak Sel

SUARA MERDEKA

SINAR HARAPAN

JAKARTA POST

SUARA KARYA
Jl. Bangka Raya 2 Kebayoran Baru, Jak Sel

KAWANKU
Jln. Panjang no. 38 Kebon Jeruk, Jakarta 11530

FEMINA/GADIS
Jl. HR Rasuna Said Blok B Kav. 32-33 Jak Sel 12910

ANEKA YESS
Jl. Salemba Tengah no. 58 Jak Pus 10440

MAJALAH UMMI
Jl. Mede no. 42 Utan Kayu Jakarta Timur 13120

MAJALAH AMANAH
Gedung Persaudaraan Haji
Jl. Tegalan No. 1C lt.4 Matraman, Jakarta 13140

MAJALAH LISA
Jl. K.H. Wahid Hasyim no. 31B Menteng, Jakarta Pusat 10350

WANITA INDONESIA
Jl. Tebet Barat Raya no. 52 Jakarta Selatan 12810

ANNIDA
Jl. Mede no. 42 Utan Kayu Jakarta Timur 13120

BOBO/ KREATIVA
Jl. Palmerah Selatan no. 22 Jakarta 10270

MAJALAH KARTINI
Jl. Garuda no. 80A Jakarta Pusat

MAJALAH PARAS
Kota Wisata Cibubur, Senkom Amsterdam blok B
Jl. Transyogy km 6, Cibubur 16968

NOVA
Gedung Gramedia Pustaka Utama Lt. 6
Jl. Palmerah Barat 33-37 Jakarta 10270

MAJALAH MUSLIMAH
Senkom Amsterdam blok B, Kota Wisata
Jl. Transyogy km 6, Cileungsi 16968

MAJALAH NOOR
Kawasan Industri Pulogadung
Jl. Rawa Gelam I no.4 Jakarta Timur 13930

MAJALAH MOMBI

MAJALAH SABILI
Jl. Cipinang Cempedak III/11A Polonia Jakarta Timur 13340

MAJALAH Aku Anak Saleh
Jl. Dewi Sartika no. 357 Jakarta 13630

Mei 18, 2009 at 8:22 pm Tinggalkan komentar

IRON MAIDEN DISCOGRAFI :

- 2 A.M.

- 2 Minutes to Midnight

- 22, Acacia Avenue(the continuing saga of Charlotte the Harlot)

- Aces High

- Age of Innocence

- Alexander The Great {356 – 323 BC}

- Another Life

- Back in the Village

- Blood Brothers

- Blood on the World’s Hands

- Brave New World

- Bring Your Daughter … to The Slaughter

- Can I Play with Madness

- Caught Somewhere In Time

- Children of the Damned

- Cross-Eyed Mary

- Dance of Death

- Déjà vu

- Die With Your Boots On

- Dream of Mirrors

- Drifter

- Edge of Darkness

- Face in The Sand

- Fear Of The Dark

- Flash of the Blade

- Flight Of Icarus

- Fortunes of War

- Futureal

- Gangland                                        – Paschendale

- Gates of Tomorrow                        – Phantom of the Opera

- Ghost of The Navigator                 – Powerslave

- Hallowed Be Thy Name                  – Prodigal Son

- Heaven Can Wait                           – Prowler

- Holy Smoke                                    – Purgatory

- I’m a Mover                                   – Quest For Fire

- I’ve Got the Fire                            – Rainbow’s Gold

- Infinite Dreams                              – Rainmaker

- Innocent Exile                                – Reach Out

- Invaders                                        – Remember Tomorrow

- Iron Maiden                                    – Revelations

- Journeyman                                   – Rime of the Ancient Mariner

- Juanita                                           – Run to the Hills

- Judgement Of Heaven                   – Running Free

- Kill Me Ce Soir                                – Sanctuary

- Killers                                             – Sea Of Madness

- King Of Twilight                    – Seventh Son Of A Seventh Son

- Look for the Truth                         – Sheriff Of Huddersfield

- Lord of the Flies                             – Sign of the Cross

- Man on the Edge                            – Space Station #5

- Massacre                                        – Still Life

- Montsegur                                      – Strange World

- Moonchild                                       – Stranger In A Strange Land

- Murders In The Rue Morgue          – Sun and Steel

- New Frontier                                  – That Girl

- No More Lies                                  – The Aftermath

- Only The Good Die Young              – The Clairvoyant

- The Duellists

- Out of The Silent Planet               

- The Evil That Men Do

- The Fallen Angel

- The Loneliness Of The Long Distance Runner

- The Nomad

- The Number of the Beast

- The Prisoner

- The Prophecy

- The Thin Line Between Love And Hate

- The Trooper

-  The Unbeliever

- The Wicker Man

- To Tame a Land

- Total Eclipse

- Twilight Zone

- Virus

- Wasted Years

- Where Eagles Dare

- Wildest Dreams

- Women in Uniform

- Wrathchild

 

Mei 18, 2009 at 8:14 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama Pos-pos Lebih Baru


Kalender

Mei 2009
S S R K J S M
     
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Posts by Month

Posts by Category


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.